Aku pura-pura tidur, dan pukul 23.30 aku mendengarnya di balkon membicarakan tanda tanganku. Saat penglihatanku perlahan memburuk karena smoothie yang selalu dia siapkan, dia justru bersulang bersama kekasihnya.

Avatar penulis
Cerita 04
22 menit baca 67 tayangan
Aku pura-pura tidur, dan pukul 23.30 aku mendengarnya di balkon membicarakan tanda tanganku. Saat penglihatanku perlahan memburuk karena smoothie yang selalu dia siapkan, dia justru bersulang bersama kekasihnya.
Indeks

Aku pura-pura tidur, dan pukul 23.30 aku mendengarnya di balkon membicarakan tanda tanganku. Saat penglihatanku perlahan memburuk karena smoothie yang selalu dia siapkan, dia justru bersulang bersama kekasihnya.

“Begitu dia menandatangani surat kuasa yang baru, kita bisa mengakhiri semuanya.”

Aku tidak berteriak.

Aku tidak menghadapinya.

Aku pergi hanya dengan satu koper dan menghubungi polisi.

Namun sebelum meninggalkan rumah, aku menemukan sebuah map dengan namaku di sampulnya… dan sebuah tanggal untuk bulan depan.

Aku pura-pura tidur, dan pukul 23.30 aku mendengarnya di balkon membicarakan tanda tanganku. Saat penglihatanku perlahan memburuk karena smoothie yang selalu dia siapkan, dia justru bersulang bersama kekasihnya.

BAGIAN 1

Seorang gadis kecil menempelkan telapak tangannya ke dahi pengusaha itu, lalu mengatakan sesuatu yang membuat wajah istrinya seketika pucat.

“Om sebenarnya tidak sedang menjadi buta. Ada seseorang yang sengaja membuat mata Om bermasalah.”

Raka Pratama, 44 tahun, sudah hampir enam bulan berpindah dari satu dokter spesialis ke dokter lainnya di Jakarta dan Bandung tanpa mendapatkan jawaban yang benar-benar meyakinkan.

Ada hari-hari ketika ia hampir tidak mampu mengenali wajah orang yang berdiri beberapa meter di depannya.

Pada hari lain, ia masih bisa membaca tulisan berukuran besar selama beberapa menit sebelum semuanya perlahan berubah menjadi kabut putih.

Istrinya, Selina Wijaya, telah mengambil alih hampir seluruh kehidupannya.

Selina menyiapkan sarapan.

Selina mengatur jadwal pemeriksaan.

Selina menyimpan obat-obatannya.

Bahkan Selina tidak mengizinkan siapa pun mengubah terapi yang menurutnya direkomendasikan oleh seorang dokter spesialis ternama.

Awalnya Raka menganggap perhatian itu sebagai bentuk kasih sayang.

Mereka sudah menikah selama 12 tahun.

Selina selalu berada di sampingnya setiap kali penglihatannya memburuk.

Ketika Raka mulai kesulitan membaca dokumen perusahaan, Selina pula yang menawarkan diri membantu memeriksa surat-surat sebelum ia menandatanganinya.

Raka tidak pernah curiga.

Sampai pagi itu.

Mereka sedang berjalan santai di Kebun Raya Bogor.

Udara masih sejuk setelah hujan malam sebelumnya. Raka mengenakan kacamata hitam dan berjalan perlahan sambil memegang lengan Selina.

Di dekat sebuah kolam, seorang gadis berusia sekitar 10 tahun tiba-tiba mendekati mereka.

Ia mengenakan hoodie ungu, sepatu kets sederhana yang terlihat bersih, dan sebuah ransel biru yang tampak terlalu besar untuk tubuh kecilnya.

Gadis itu menatap Raka cukup lama.

Lalu ia bertanya,

“Om… mata Om biasanya terasa panas setelah sarapan?”

Langkah Raka berhenti.

Selina langsung berdiri di antara mereka.

“Jangan mengganggu. Suami saya sedang sakit.”

Namun gadis itu tidak pergi.

Matanya justru beralih kepada Selina.

Tatapannya membuat perempuan itu terlihat tidak nyaman.

“Ayo, Raka.”

Selina menarik lengan suaminya.

Saat itu ponselnya berdering.

Selina berjalan beberapa langkah menjauh untuk menjawab telepon.

Gadis kecil tadi segera mendekati Raka.

Suaranya berubah menjadi sangat pelan.

“Lihat apa yang istri Om masukkan ke smoothie Om setiap pagi.”

Raka membeku.

“Apa?”

Tetapi gadis itu sudah mundur.

Sebelum pergi, ia hanya berkata,

“Jangan bilang ke dia kalau saya yang memberi tahu.”

Kemudian ia berlari menyusuri jalan setapak dan menghilang di antara para pengunjung.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah mereka di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Raka hampir tidak berbicara.

Selina beberapa kali bertanya apakah kepalanya sakit.

Raka hanya menjawab bahwa ia lelah.

Namun satu kalimat terus berputar di pikirannya.

Lihat apa yang istri Om masukkan ke smoothie Om.

Keesokan paginya, untuk pertama kalinya dalam enam bulan, Raka memperhatikan setiap gerakan istrinya di dapur.

Selina memasukkan pisang, stroberi, yoghurt, dan sedikit madu ke dalam blender.

Semuanya terlihat normal.

Kemudian ia mengambil satu kemasan suplemen bubuk.

Raka mengenalinya.

Selina selalu mengatakan bahwa suplemen itu direkomendasikan oleh dokter.

Namun setelah memasukkan bubuk tersebut, Selina membuka lemari kecil di atas meja dapur.

Ia mengambil botol mungil berwarna gelap.

Raka menyipitkan mata.

Selina meneteskan beberapa tetes cairan ke dalam blender.

Kemudian botol itu kembali disembunyikan.

Raka merasakan tengkuknya dingin.

“Apa itu?”

Selina menoleh.

Untuk sepersekian detik, ekspresinya berubah.

Namun senyumnya segera kembali.

“Vitamin tambahan.”

“Dokter yang menyuruh?”

“Tentu saja.”

“Dokter siapa?”

Selina tertawa kecil.

“Kamu kenapa pagi-pagi jadi interogasi begini?”

Raka tersenyum.

“Cuma penasaran.”

Selina meletakkan segelas smoothie di depannya.

“Minum. Nanti kita terlambat ke kantor.”

Raka mengangkat gelas itu.

Ia berpura-pura meneguk beberapa kali.

Ketika Selina pergi ke kamar untuk mengambil tas, Raka berdiri dan menuangkan hampir seluruh isi gelas ke wastafel.

Ia menyisakan sedikit di dasar gelas.

Malam itu, ia juga tidak menggunakan obat tetes mata yang biasanya diberikan Selina sebelum tidur.

Raka mengatakan matanya terlalu perih.

Selina tidak memaksa.

Namun sekitar pukul 06.20 keesokan paginya, Raka terbangun dan meraih ponselnya.

Ia menekan tombol layar.

06.20.

Raka terdiam.

Ia bisa membaca angka itu.

Tanpa mendekatkan ponsel ke wajah.

Tanpa menyipitkan mata.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, angka-angka tersebut terlihat cukup jelas.

Jantungnya berdetak keras.

Raka duduk di tepi ranjang.

Ketakutan perlahan menggantikan kebingungan yang selama ini ia rasakan.

Bagaimana mungkin kondisinya membaik hanya karena satu hari ia tidak meminum smoothie dan tidak menggunakan obat tetes?

Ia tidak mengatakan apa pun kepada Selina.

Dua hari kemudian, Raka kembali ke Kebun Raya Bogor sendirian.

Ia berharap gadis kecil itu berada di sana.

Hampir satu jam ia mencari.

Kemudian ia melihat hoodie ungu di dekat sebuah bangku.

Gadis itu sedang duduk sambil membaca buku.

Raka mendekatinya.

“Kamu.”

Gadis itu mengangkat wajah.

“Saya pikir Om tidak akan datang.”

“Siapa namamu?”

“Alya.”

“Alya siapa?”

“Alya Prameswari.”

Raka duduk beberapa langkah darinya.

“Bagaimana kamu tahu soal minumanku?”

Alya menutup bukunya.

“Saya tinggal sama Tante Nuria di daerah Tebet. Tante saya bekerja sebagai petugas kebersihan di beberapa kantor.”

Raka masih menunggu.

Alya kemudian mengatakan sesuatu yang membuat tubuhnya menegang.

“Saya pernah melihat istri Om membeli botol yang sama di sebuah apotek kecil di daerah Jakarta Timur.”

“Kamu mengenal istriku?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu memperhatikannya?”

Alya menunduk.

“Karena dulu saya pernah melihat sesuatu yang mirip di rumah saya sendiri.”

Raka tidak langsung bertanya.

Beberapa detik kemudian, Alya melanjutkan.

Ayahnya pernah sakit bertahun-tahun sebelumnya.

Awalnya hanya keluhan ringan.

Namun kondisinya terus memburuk.

Ibunya menjadi orang yang mengatur seluruh obat, dokumen, dan pemeriksaan.

Pada saat bersamaan, muncul persoalan mengenai polis asuransi dan beberapa dokumen keuangan keluarga.

Kemudian kedua orang tua Alya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Polisi menyimpulkan itu kecelakaan biasa.

Tidak ada bukti yang cukup untuk menyatakan sebaliknya.

Sejak saat itu Alya tinggal bersama tantenya.

“Tante Nuria bilang saya terlalu banyak memikirkan masa lalu,” katanya pelan. “Mungkin dia benar.”

“Kenapa kamu memperingatkanku?”

Alya menatapnya.

“Karena ekspresi istri Om waktu memberikan obat itu sama seperti ekspresi seseorang yang pernah saya lihat dulu.”

Raka merasakan sesuatu seperti es mengalir di punggungnya.

Sore itu juga ia mendatangi apotek yang disebut Alya.

Pemilik apotek awalnya menolak menjawab pertanyaan.

Namun Raka menunjukkan identitasnya dan menjelaskan bahwa beberapa produk diduga dibeli menggunakan informasi medis atas namanya.

Pria itu akhirnya terlihat gugup.

“Pak… saya tidak tahu kalau Bapak tidak mengetahui pembelian itu.”

“Pembelian apa?”

Pemilik apotek menarik napas.

Ia menjelaskan bahwa Selina datang beberapa kali selama beberapa bulan terakhir untuk membeli suatu produk tertentu.

Produk itu bukan obat untuk membuat seseorang buta secara permanen.

Namun penggunaan yang tidak tepat dan berulang dapat menyebabkan iritasi serius serta gangguan penglihatan dan sensitivitas terhadap cahaya.

Raka merasa lututnya melemas.

“Kenapa Anda menjualnya?”

“Ibu Selina mengatakan produk tersebut bagian dari terapi yang sudah dikonsultasikan dengan dokter.”

“Dokter siapa?”

Pria itu menyebut sebuah nama.

Dr. Adrian Santoso.

Raka mengenal nama itu.

Selina sudah berminggu-minggu mengatakan bahwa Adrian adalah dokter spesialis yang akan membantu mengatur “tahap berikutnya” dari perawatannya.

Namun ada satu masalah.

Raka belum pernah bertemu langsung dengannya.

Semua komunikasi selalu melalui Selina.

Raka meninggalkan apotek dengan kepala penuh pertanyaan.

Ia tidak langsung pulang.

Ia pergi ke sebuah laboratorium swasta dan menyerahkan sampel sisa smoothie yang diam-diam disimpannya.

Setelah itu ia menghubungi pengacaranya.

Bukan pengacara perusahaan.

Bukan pula orang yang dikenal Selina.

Ia menghubungi seorang teman lama yang sudah hampir delapan tahun tidak pernah ia temui.

Raka hanya mengatakan satu hal.

“Besok aku perlu bicara. Jangan hubungi nomor utamaku.”

Malamnya ia pulang seperti biasa.

Ia makan malam.

Mengeluh bahwa penglihatannya semakin buruk.

Bahkan sengaja menabrak sisi meja ketika berjalan.

Selina memegang tangannya dengan lembut.

“Kamu harus lebih percaya padaku.”

Kalimat itu hampir membuat Raka kehilangan kendali.

Namun ia hanya mengangguk.

Malam semakin larut.

Raka masuk ke kamar lebih dulu.

Ia berbaring dan berpura-pura tidur.

Sekitar pukul 23.30, ia mendengar pintu balkon dibuka.

Selina keluar sambil membawa segelas minuman.

Beberapa detik kemudian ia mulai berbicara melalui telepon.

Suaranya rendah.

Raka menahan napas.

“Kondisinya membaik sedikit.”

Hening.

“Iya, aku tahu.”

Hening lagi.

“Kita tidak bisa menunggu terlalu lama.”

Raka merasakan jantungnya menghantam dada.

Kemudian Selina berkata,

“Besok aku akan meyakinkan Raka untuk menemui Adrian.”

Raka memejamkan mata lebih rapat.

Lalu terdengar tawa kecil dari balkon.

Bukan tawa seorang istri yang khawatir suaminya kehilangan penglihatan.

Itu tawa seseorang yang sedang membicarakan rencana.

Selina kemudian mengucapkan kalimat yang mengubah kecurigaan Raka menjadi ketakutan.

“Begitu dia menandatangani surat kuasa yang baru, kita bisa mengakhiri semuanya.”

Raka tidak bergerak.

Tidak berteriak.

Tidak keluar untuk menghadapi istrinya.

Ia menunggu.

Beberapa menit kemudian Selina masuk kembali ke kamar.

Raka tetap berpura-pura tidur.

Ketika napas istrinya akhirnya terdengar teratur, ia membuka mata.

Untuk pertama kalinya, Raka menyadari bahwa membaiknya penglihatannya justru membuatnya melihat sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia sadari.

Perempuan yang tidur di sebelahnya mungkin bukan sedang merawatnya.

Ia sedang mempersiapkan sesuatu.

Pukul 04.10, Raka bangun tanpa suara.

Ia mengambil satu koper kecil.

Paspor.

Laptop.

Beberapa pakaian.

Dokumen identitas.

Ia lalu membuka lemari kerja Selina untuk mencari botol yang selama ini digunakan dalam smoothie.

Botol itu tidak ada.

Namun di belakang sebuah kotak sepatu, tangannya menyentuh sesuatu.

Sebuah map cokelat.

Di bagian depan tertulis namanya:

RAKA PRATAMA.

Tangannya gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya ada salinan data perusahaan, rancangan surat kuasa, dokumen kepemilikan aset, dan beberapa formulir yang belum ditandatangani.

Namun bukan itu yang membuat Raka berhenti bernapas.

Di halaman terakhir terdapat sebuah tanggal.

Tanggal bulan depan.

Di bawahnya tertulis jadwal sebuah pertemuan dengan notaris.

Dan tepat di sebelah nama Raka terdapat ruang untuk tanda tangannya.

Sementara di bagian penerima kuasa tertulis satu nama yang sama sekali tidak ia duga.

Bukan Selina.

Bukan Dr. Adrian Santoso.

Melainkan seseorang yang seharusnya sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

Raka memotret seluruh dokumen.

Ia memasukkan satu salinan ke dalam koper.

Kemudian meninggalkan rumah sebelum matahari terbit.

Dari dalam taksi, ia menghubungi polisi.

Tetapi ketika petugas menanyakan nama yang tercantum dalam dokumen itu, Raka terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

Karena akhirnya ia mengerti mengapa Alya bisa mengetahui begitu banyak tentang apa yang sedang terjadi kepadanya.

Nama yang tertulis di surat kuasa itu memiliki nama keluarga yang sama dengan gadis kecil tersebut.

Prameswari.

Dan saat itulah Raka sadar bahwa pertemuannya dengan Alya di Kebun Raya Bogor mungkin sama sekali bukan sebuah kebetulan.

 

BAGIAN 2

Raka menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya menjawab pertanyaan polisi.

“Nama penerima kuasa itu… Damar Prameswari.”

Petugas di ujung telepon meminta Raka mengulanginya.

“Damar Prameswari.”

Raka tidak tahu mengapa nama itu terasa begitu mengganggu.

Namun ketika taksi berhenti di lampu merah, ia membuka foto dokumen yang baru saja diambilnya dan memperbesar bagian tanda tangan.

PENERIMA KUASA: DAMAR PRAMESWARI.

Di bawahnya tercantum nomor identitas, alamat lama di Jakarta Timur, serta beberapa informasi administratif.

Raka mengetik nama itu di mesin pencarian.

Hasil pertama membuat darahnya terasa dingin.

Damar Prameswari dan istrinya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas delapan tahun lalu. Putri mereka yang masih kecil selamat karena malam itu dititipkan kepada kerabat.

Raka membaca artikel tersebut dua kali.

Lalu tiga kali.

Foto lama yang menyertai berita itu memperlihatkan seorang pria berusia sekitar 30-an bersama seorang perempuan dan seorang anak kecil.

Anak itu mungkin baru berusia dua tahun.

Namun matanya…

Raka mengenali mata itu.

Alya.

Tangannya langsung meraih ponsel.

Ia menelepon nomor yang diberikan Alya kepadanya sehari sebelumnya.

Tidak aktif.

Raka mencoba lagi.

Tetap sama.

Saat itu ia menyadari sesuatu yang lebih menakutkan.

Bagaimana mungkin seorang anak berusia 10 tahun mengetahui begitu banyak tentang produk yang digunakan Selina?

Bagaimana ia bisa mengenali botolnya?

Dan mengapa nama ayahnya yang sudah meninggal tercantum sebagai penerima kuasa atas aset Raka?

Pagi itu Raka tidak pulang.

Ia pergi ke kantor pengacara lamanya, Farhan Aditya, di kawasan Kuningan.

Farhan sudah menunggu.

Begitu pintu ruangannya tertutup, Raka meletakkan ponsel di meja.

“Aku mungkin sedang diracuni.”

Farhan tidak tertawa.

Ia juga tidak langsung bertanya.

Raka menceritakan semuanya.

Gangguan penglihatan.

Smoothie.

Botol kecil.

Apotek.

Dr. Adrian Santoso.

Percakapan Selina di balkon.

Surat kuasa.

Dan akhirnya nama Damar Prameswari.

Farhan membaca foto dokumen itu dengan wajah semakin serius.

“Ada yang aneh.”

“Apa?”

“Kalau mereka hanya ingin mengambil alih asetmu, kenapa memakai identitas orang mati?”

Raka menggeleng.

Farhan memperbesar halaman lain.

“Dan lihat ini.”

Ia menunjuk salah satu klausul.

Surat kuasa itu bukan hanya memberikan wewenang untuk mengelola rekening.

Dokumen tersebut memungkinkan penerima kuasa mengalihkan saham Raka di PT Ferrata Nusantara, perusahaan logistik dan properti yang ia bangun selama hampir 18 tahun.

Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

Namun Farhan menemukan sesuatu yang lebih penting.

“Dokumen ini tidak akan berlaku hanya dengan tanda tanganmu.”

“Kenapa?”

“Karena untuk beberapa pengalihan saham tertentu diperlukan verifikasi tambahan. Mereka membutuhkan notaris dan saksi.”

Raka langsung teringat kalimat Selina.

Besok aku akan meyakinkan Raka untuk menemui Adrian.

“Mungkin Adrian bukan hanya dokter.”

Farhan menatapnya.

“Cari tahu.”

Mereka melakukannya.

Dan satu jam kemudian, jawabannya muncul.

Dr. Adrian Santoso memang pernah memiliki izin praktik.

Tetapi izin tersebut telah dicabut hampir tiga tahun sebelumnya setelah muncul kasus pemalsuan dokumen medis.

Raka berdiri dari kursinya.

“Selama enam bulan aku mengikuti rekomendasi orang yang bahkan sudah tidak boleh praktik?”

“Lebih buruk,” jawab Farhan. “Aku tidak menemukan bukti bahwa dia pernah memeriksamu secara resmi.”

Raka merasa mual.

Selina selalu mengatakan bahwa hasil pemeriksaannya dikirim kepada Adrian.

Selina selalu menerima instruksi.

Selina selalu membawa obat.

Selina selalu berdiri di antara Raka dan dokter lain.

Selama enam bulan, Raka mengira ia kehilangan penglihatan.

Sekarang ia mulai memahami bahwa yang sebenarnya hampir hilang adalah kendali atas hidupnya.

Siang itu hasil awal laboratorium datang.

Sampel smoothie mengandung zat yang tidak seharusnya berada di dalam minuman tersebut.

Dalam jumlah kecil mungkin tidak langsung menyebabkan kerusakan permanen.

Namun penggunaan berulang dapat memicu gangguan penglihatan, sakit kepala, iritasi, dan kebingungan.

Farhan langsung meminta Raka menyerahkan seluruh bukti kepada polisi.

Petugas menyarankan satu hal:

Jangan kembali ke rumah sendirian.

Namun Raka meminta waktu.

“Aku harus menemukan Alya.”


Alamat yang pernah disebut Alya membawa Raka ke sebuah rumah kontrakan sederhana di Tebet.

Pintu dibuka oleh perempuan berusia sekitar 40 tahun.

“Bu Nuria?”

Perempuan itu langsung pucat.

“Bapak siapa?”

“Saya Raka.”

Nuria mencoba menutup pintu.

Raka menahannya dengan telapak tangan.

“Saya tidak akan menyakiti siapa pun. Saya hanya ingin tahu kenapa nama Damar Prameswari ada di dokumen saya.”

Tubuh Nuria membeku.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Kemudian terdengar suara kecil dari dalam rumah.

“Tante?”

Alya muncul dari balik pintu kamar.

Begitu melihat Raka, wajahnya berubah.

“Om Raka…”

Nuria langsung menarik Alya ke belakang tubuhnya.

“Masuk kamar.”

“Tapi, Tante—”

“Sekarang.”

Alya tidak bergerak.

Raka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto dokumen.

“Damar Prameswari ayahmu?”

Mata Alya berkaca-kaca.

Ia mengangguk.

“Kenapa namanya ada di sini?”

Nuria akhirnya menyerah.

Ia membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Di ruang tamu kecil itu, Nuria mengeluarkan sebuah kotak plastik tua dari lemari.

Di dalamnya terdapat dokumen, foto, kartu identitas lama, serta sebuah flashdisk.

Nuria mengambil satu foto.

Raka melihat Damar.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda.

Namun bukan ibu Alya.

Perempuan itu adalah Selina.

Jauh lebih muda.

Tetapi jelas Selina.

Raka merasa seluruh ruangan seperti bergeser.

“Mereka saling kenal?”

Nuria tertawa getir.

“Lebih dari sekadar kenal.”

Damar pernah bekerja sebagai kepala keuangan di salah satu perusahaan yang kemudian diakuisisi oleh Raka.

Saat itu Selina bekerja di bagian legal.

Keduanya terlibat dalam pengurusan beberapa aset perusahaan.

Nuria menjelaskan bahwa bertahun-tahun lalu Damar menemukan transaksi mencurigakan.

Ada uang perusahaan yang dialihkan melalui beberapa rekening.

Ada dokumen yang menggunakan identitas orang lain.

Damar berniat melaporkannya.

Namun sebelum sempat melakukan itu, ia dan istrinya meninggal dalam kecelakaan.

“Polisi bilang kecelakaan biasa,” kata Nuria.

“Dan Anda tidak percaya?”

“Saya tidak punya bukti untuk tidak percaya.”

Nuria kemudian menunjuk flashdisk.

“Damar menitipkan ini kepada saya tiga hari sebelum kecelakaan.”

“Isinya?”

“Saya tidak tahu. File-nya dikunci.”

“Kenapa tidak diberikan ke polisi?”

“Saya berikan salinannya. Mereka bilang tidak bisa membuktikan apa pun tanpa kata sandi.”

Raka menatap Alya.

“Lalu bagaimana Alya tahu soal Selina?”

Nuria terdiam.

Alya yang menjawab.

“Karena saya melihat fotonya.”

Ia mengambil foto lama itu.

“Beberapa bulan lalu saya melihat Tante membaca berita tentang Om. Ada foto Om sama Tante Selina.”

Alya mengenali wajah Selina dari koleksi foto ayahnya.

Kemudian, secara kebetulan, Alya melihat Selina keluar dari sebuah apotek ketika ia sedang bersama Nuria di Jakarta Timur.

Ia memperhatikan botol yang dibawa Selina.

Bentuknya mirip dengan botol-botol yang pernah ditemukan Nuria di antara barang lama milik ayah Alya.

“Jadi kamu mengikutinya?”

Alya menunduk.

“Hanya dua kali.”

Nuria langsung menatapnya.

“Kamu bilang cuma sekali.”

Alya menggigit bibir.

Raka hampir tersenyum meskipun situasinya menakutkan.

Namun ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

“Kenapa nama Damar dipakai sebagai penerima kuasa?”

Nuria menggeleng.

“Saya juga tidak tahu.”

Saat itulah Alya berkata,

“Mungkin bukan nama Ayah yang mereka butuhkan.”

Semua mata beralih kepadanya.

“Maksudmu?”

Alya menunjuk nomor identitas pada dokumen.

“Itu bukan nomor Ayah.”

Raka membeku.

Nuria mengambil dokumen tersebut.

Ia membandingkannya dengan kartu identitas lama Damar.

Benar.

Nama sama.

Tanggal lahir sama.

Tetapi nomor identitas berbeda.

Farhan, yang ikut bersama Raka, langsung memahami.

“Identitas sintetis.”

Seseorang sedang membangun identitas baru menggunakan data orang mati.

Nama Damar hanya topeng.

Pertanyaannya:

Siapa yang berada di balik topeng itu?


Jawabannya datang dua hari kemudian.

Polisi menelusuri nomor rekening yang tercantum dalam rancangan dokumen.

Salah satunya mengarah pada sebuah perusahaan konsultasi kecil.

Direkturnya bernama Damar Prameswari.

Namun kamera CCTV bank menunjukkan orang yang berbeda saat rekening dibuka.

Dr. Adrian Santoso.

Adrian adalah “Damar”.

Rencana mereka ternyata jauh lebih besar daripada yang Raka bayangkan.

Setelah Raka menandatangani surat kuasa, saham akan dialihkan secara bertahap kepada perusahaan yang dikendalikan Adrian.

Selina akan tetap terlihat bersih.

Dan jika kondisi kesehatan Raka semakin memburuk, ia bisa dinyatakan tidak mampu mengurus bisnisnya sendiri.

Tetapi satu pertanyaan membuat Raka tidak bisa tidur.

Mengapa menggunakan nama ayah Alya?

Jawabannya ternyata tersimpan di flashdisk.

Farhan membawa perangkat itu kepada ahli digital.

Setelah beberapa hari, mereka berhasil membuka sebagian file menggunakan petunjuk tanggal lahir Alya.

Isinya membuat Nuria menangis.

Damar telah mengumpulkan bukti transaksi ilegal bertahun-tahun lalu.

Namun ada satu rekaman audio.

Suara Selina terdengar jelas.

Ia sedang bertengkar dengan Adrian.

Mereka ternyata sudah saling mengenal bahkan sebelum Selina menikah dengan Raka.

Damar menemukan hubungan mereka sekaligus aliran dana yang mereka sembunyikan.

Ia mengancam akan melapor.

Adrian membalas:

“Kalau kamu menghancurkan hidup kami, aku akan menggunakan namamu sampai semua orang mengira kamu yang melakukan semuanya.”

Kalimat itu direkam delapan tahun lalu.

Raka memejamkan mata.

Mereka benar-benar melakukannya.

Bahkan setelah Damar meninggal, Adrian terus menggunakan identitasnya dalam jaringan perusahaan palsu.

Orang mati tidak bisa membantah.


Polisi kemudian meminta Raka melakukan sesuatu yang sangat sulit.

Pulang.

Bukan untuk tinggal.

Untuk membuat Selina percaya bahwa rencananya masih berjalan.

Raka kembali ke Pondok Indah pada Jumat sore.

Ia memakai kacamata hitam dan berjalan dengan tongkat.

Selina langsung memeluknya.

“Kamu ke mana saja?”

“Aku panik.”

“Kamu membuatku takut.”

Raka hampir tertawa mendengarnya.

Namun ia menahan diri.

“Aku siap menemui Adrian.”

Wajah Selina berubah sangat sedikit.

Tetapi cukup.

Keesokan harinya mereka bertemu Adrian di sebuah kantor privat di Jakarta Selatan.

Seorang notaris sudah menunggu.

Dokumen diletakkan di depan Raka.

Adrian berbicara dengan suara tenang.

“Pak Raka, ini hanya supaya Ibu Selina bisa membantu mengelola urusan perusahaan selama kondisi penglihatan Bapak belum stabil.”

Raka meraba meja seolah kesulitan melihat.

“Di mana saya tanda tangan?”

Selina menyentuh bahunya.

“Di sini, Sayang.”

Raka mengambil pena.

Ujungnya hampir menyentuh kertas.

Lalu ia berhenti.

Ia melepaskan kacamata hitam.

Menatap langsung mata Adrian.

“Aneh.”

Adrian menegang.

“Apa?”

“Penglihatanku jauh lebih bagus sejak aku berhenti minum smoothie buatan istriku.”

Wajah Selina kehilangan warna.

Raka melanjutkan.

“Dan jauh lebih bagus lagi setelah aku berhenti menggunakan obat yang katanya kau resepkan.”

Adrian berdiri.

Pintu ruangan terbuka.

Beberapa petugas masuk.

Selina mundur.

“Raka, dengarkan aku—”

“Selama enam bulan aku mendengarkanmu.”

Suara Raka bergetar.

“Sekarang giliran kamu mendengarkan.”

Ia meletakkan salinan foto Damar di atas meja.

“Aku tahu siapa Damar Prameswari.”

Adrian langsung melihat pintu lain.

Namun petugas sudah berdiri di sana.

Selina mulai menangis.

“Semua ini bukan seperti yang kamu pikir.”

“Benarkah?”

Raka menatap perempuan yang telah tidur di sebelahnya selama 12 tahun.

“Lalu bagaimana seharusnya aku memikirkan seorang istri yang membuat suaminya percaya bahwa dia sedang kehilangan penglihatan?”

Selina tidak menjawab.

Petugas membawa Adrian lebih dulu.

Ketika tangan Selina hendak diborgol, ia tiba-tiba berkata,

“Raka, tunggu.”

Raka menatapnya.

“Ada sesuatu yang belum kamu tahu tentang Alya.”

Semua orang berhenti.

Selina tersenyum pahit.

“Kenapa menurutmu Damar menyimpan semua bukti itu?”

“Karena dia ingin membongkar kalian.”

“Bukan hanya itu.”

Selina menatap Raka.

“Dia sedang melindungi anaknya.”

“Alya?”

“Ya.”

Lalu Selina mengatakan kalimat yang membuat Raka kehilangan suara.

“Karena Damar bukan ayah kandung Alya.”


Tes DNA dilakukan beberapa minggu kemudian.

Raka menjalani tes itu hanya karena polisi menemukan satu dokumen tambahan dalam file Damar.

Sebuah hasil pemeriksaan lama.

Nama ayah biologis sengaja disamarkan.

Namun tanggalnya cocok.

Sebelas tahun sebelumnya, sebelum menikahi Selina, Raka pernah menjalin hubungan singkat dengan seorang perempuan bernama Maya.

Hubungan itu berakhir ketika Maya mengatakan ia akan menikah dengan Damar, sahabat yang telah mencintainya sejak lama.

Raka tidak pernah mengetahui Maya sedang hamil.

Damar mengetahuinya.

Dan memilih membesarkan anak itu sebagai putrinya sendiri.

Hasil DNA keluar.

99,99%.

Raka duduk hampir lima menit tanpa bicara.

Farhan meletakkan tangan di bahunya.

“Raka…”

Namun Raka hanya menatap angka itu.

Gadis kecil yang menghentikannya di Kebun Raya Bogor.

Gadis yang memperingatkannya.

Gadis yang tanpa sengaja menyelamatkan hidupnya.

Adalah putrinya.


Raka menemui Alya di taman yang sama.

Ia duduk di bangku dekat kolam.

Alya datang bersama Nuria.

Raka tidak tahu bagaimana memulai.

Ia sudah memimpin rapat dengan ratusan orang.

Bernegosiasi dengan investor.

Menghadapi polisi.

Menghadapi perempuan yang mencoba menghancurkan hidupnya.

Namun di depan anak berusia 10 tahun itu, ia tidak bisa menemukan kata-kata.

Alya akhirnya bertanya,

“Om kenapa menangis?”

Raka tertawa kecil sambil menghapus air matanya.

“Ada sesuatu yang harus Om ceritakan.”

Nuria duduk beberapa meter dari mereka.

Raka menjelaskan perlahan.

Tentang Maya.

Tentang Damar.

Tentang hasil tes.

Alya tidak langsung bereaksi.

Ia hanya memandang air kolam.

Kemudian bertanya,

“Kalau begitu… Ayah Damar bukan ayah saya?”

Raka langsung menggeleng.

“Jangan pernah mengatakan begitu.”

Alya menatapnya.

“Damar tetap ayahmu. Dia membesarkanmu. Dia melindungimu. Bahkan ketika dia tahu siapa ayah biologismu, dia memilih mencintaimu.”

Raka menarik napas.

“Tidak ada tes DNA yang bisa mengambil itu darinya.”

Air mata Alya akhirnya jatuh.

“Terus Om siapa?”

Pertanyaan itu menghancurkan pertahanan terakhir Raka.

Ia berlutut agar sejajar dengan Alya.

“Kalau kamu mengizinkan… Om ingin belajar menjadi ayahmu juga.”

Alya menangis.

Namun ia tidak langsung memeluknya.

Ia bertanya sesuatu yang jauh lebih sederhana.

“Om bisa jemput saya dari sekolah?”

Raka tertawa di tengah air mata.

“Bisa.”

“Kalau hujan?”

“Bisa.”

“Kalau Om sibuk?”

Raka terdiam.

Selama bertahun-tahun ia selalu menganggap perusahaan sebagai hal paling penting dalam hidupnya.

Sekarang seorang anak hanya meminta satu hal.

Hadir.

“Kalau Om sibuk,” katanya, “Om tetap datang.”

Barulah Alya memeluknya.


Enam bulan kemudian, penglihatan Raka hampir sepenuhnya pulih.

Dokter memastikan tidak terjadi kerusakan permanen yang berat.

Kasus Selina dan Adrian berjalan di pengadilan dengan bukti dokumen, rekaman, transaksi keuangan, serta hasil pemeriksaan laboratorium.

Penyelidikan atas kecelakaan Damar dan Maya juga dibuka kembali. Tidak semua pertanyaan dari masa lalu langsung mendapatkan jawaban, tetapi untuk pertama kalinya, nama Damar tidak lagi tercatat hanya sebagai korban kecelakaan.

Bukti yang ia simpan akhirnya berbicara untuknya.

Raka tidak mengambil Alya dari Nuria.

Justru itu keputusan pertama yang membuat Nuria benar-benar mempercayainya.

“Dia sudah kehilangan terlalu banyak orang,” kata Raka. “Aku tidak akan membuatnya kehilangan Tante juga.”

Mereka akhirnya mengatur kehidupan Alya bersama.

Nuria tetap menjadi rumah yang dikenalnya.

Raka menjadi ayah yang perlahan hadir dalam kehidupannya.

Bukan dengan mobil mahal.

Bukan dengan hadiah.

Tetapi dengan menunggu di depan sekolah.

Membantu pekerjaan rumah.

Datang ke pertunjukan kelas.

Dan belajar bahwa anak berusia 10 tahun bisa mengajukan lebih banyak pertanyaan daripada seluruh jajaran direksi perusahaannya.

Suatu sore, mereka kembali ke Kebun Raya Bogor.

Raka duduk di bangku yang sama tempat ia pertama kali berbicara dengan Alya.

Penglihatannya sudah jelas.

Alya duduk di sebelahnya sambil makan es krim.

Tiba-tiba Raka bertanya,

“Alya.”

“Hm?”

“Waktu pertama kali melihat Om, kenapa kamu berani memperingatkan orang asing?”

Alya berpikir sebentar.

Kemudian menjawab,

“Karena Ayah Damar pernah bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau kita tahu seseorang sedang berjalan menuju bahaya, jangan diam cuma karena kita belum mengenalnya.”

Raka menunduk.

Matanya kembali panas.

Selama berbulan-bulan ia mengira kisah hidupnya adalah tentang seorang istri yang mencoba membuatnya kehilangan penglihatan demi harta.

Ternyata bukan.

Itu adalah kisah tentang seorang pria yang telah meninggal delapan tahun sebelumnya tetapi masih berhasil melindungi dua orang sekaligus.

Putri yang dibesarkannya.

Dan ayah biologis putri itu.

Damar meninggalkan bukti bukan untuk membalas dendam.

Ia meninggalkannya agar suatu hari Alya mengetahui bahwa dirinya tidak pernah ditinggalkan.

Sebelum meninggal, Damar bahkan menyimpan sebuah surat terakhir di dalam flashdisk.

Surat itu hanya terdiri dari beberapa paragraf.

Bagian terakhir ditujukan kepada Raka.

“Kalau suatu hari kamu membaca ini, mungkin aku sudah tidak bisa menjaga Alya. Jangan merasa bersalah karena tidak tahu. Maya yang memilih merahasiakannya, dan aku menyetujuinya karena aku ingin menjadi ayah anak ini. Aku tidak menyesal. Tapi kalau suatu hari dia menemukanmu, jangan gantikan aku. Cukup cintai dia dari tempat yang tidak lagi bisa kutempati.”

Raka membaca surat itu berkali-kali.

Dan untuk pertama kalinya ia memahami sesuatu.

Menjadi ayah bukan soal siapa yang datang lebih dulu.

Bukan pula siapa yang memiliki hubungan darah.

Terkadang seorang anak bisa memiliki dua ayah:

satu yang memberinya kehidupan,

dan satu lagi yang mengajarinya bagaimana menjalani kehidupan itu.

Raka tidak pernah meminta Alya memanggilnya “Ayah”.

Ia membiarkan gadis itu memilih sendiri.

Hingga suatu Senin pagi, hampir setahun setelah pertemuan pertama mereka, Raka mengantar Alya ke sekolah.

Alya turun dari mobil, memasang ranselnya, lalu berlari menuju gerbang.

Tiba-tiba ia berhenti.

Ia berbalik.

“Yah!”

Raka refleks menoleh.

Alya tersenyum.

“Nanti jangan lupa jemput aku.”

Raka tidak mampu menjawab selama beberapa detik.

Ia hanya mengangguk sambil tersenyum dengan mata basah.

Alya berlari masuk.

Raka tetap duduk di dalam mobil.

Di tangannya ada kacamata hitam yang dulu selalu ia gunakan ketika dunia di depannya berubah menjadi kabut.

Ia memandang kacamata itu sebentar.

Kemudian memasukkannya ke laci dashboard.

Ia tidak membutuhkannya lagi.

Karena perempuan yang paling ia percaya pernah mencoba membuat dunianya gelap.

Namun seorang gadis kecil yang sama sekali tidak dikenalnya justru datang dan membuatnya melihat semuanya dengan jelas.

Bukan hanya dengan matanya.

Tetapi dengan hidupnya.

TAMAT

Kisah ini merupakan cerita fiksi yang dibuat untuk tujuan hiburan.