Pintu kamar rumah sakit baru saja terbuka ketika semua orang menoleh bersamaan.
Seorang pria muda berdiri di ambang pintu. Usianya sekitar dua puluh tujuh tahun.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang berwarna gelap. Di tangannya ada sebuah tas dokumen berwarna hitam.
Namun yang membuatku tercekat bukan usianya.
Melainkan wajahnya.
Hidung itu.
Mata itu.
Bahkan cara dia sedikit mengernyit ketika menatap pria yang terbaring di ranjang.
Semuanya sangat mirip dengan Luthfi, suamiku.
Suamiku juga melihatnya.
Hanya dalam beberapa detik, wajahnya langsung pucat.
“Tidak…”
Satu kata yang sangat pelan keluar dari tenggorokannya.
Pria muda itu melangkah masuk.
Dia tidak langsung melihatku.
Dia menatap pria yang terbaring di ranjang.
“Ayah.”
Dada suamiku langsung naik turun dengan cepat.
Dua kata itu sebenarnya sama seperti ketika Arga memanggilnya ayah tadi.
Namun kali ini, reaksinya benar-benar berbeda.
Dia tidak menangis.
Tidak tersenyum.
Dia justru panik.
“Kamu… kenapa datang ke sini?”
Pria muda itu meletakkan tas dokumennya di atas meja.
“Karena Ibu menyuruhku datang.”
Aku menatapnya.
“Siapa namamu?”
Dia menoleh kepadaku.
Ada rasa hormat yang aneh di matanya.
“Nama saya Dimas.”
Aku mengangguk pelan.
Dimas.
Dua puluh tujuh tahun lalu, ketika aku meninggalkan rumah sakit sambil menggendong seorang bayi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa nama itu tidak akan pernah muncul di hadapan Luthfi.
Aku menepati janji itu.
Selama dua puluh tujuh tahun.
Namun aku tidak pernah menyangka suatu hari aku sendiri yang harus membawa anakku kembali ke ruangan ini.
Dimas menatapku.
“Ibu, aku sudah melakukan seperti yang Ibu minta.”
Semua orang terdiam.
Ibu mertuaku bahkan mundur satu langkah.
Satu panggilan sederhana.
“Ibu.”
Namun cukup untuk membuat seluruh wajahnya berubah.
Arga menatap Dimas.
Kemudian menatapku.
“Dia…”
Dimas tidak menjawab.
Aku melangkah ke meja.
“Benar.”
Aku menatap Luthfi.
“Dia anakku.”
Luthfi membuka mulut, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara.
Aku melanjutkan,
“Dan dia juga anakmu.”
Ruangan itu seketika sunyi.
Aku bahkan bisa mendengar suara mesin pemantau detak jantung.
Ibu mertuaku tiba-tiba menangis.
“Tidak mungkin!”
Dia menunjuk Dimas.
“Luthfi hanya punya satu anak!”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
“Dia punya dua.”
Aku menoleh kepada Arga.
“Hanya saja, selama dua puluh delapan tahun terakhir, dia hanya tahu tentang satu anak.”
Arga berdiri kaku.
Dimas membuka tas dokumen.
Di dalamnya ada akta kelahiran, dokumen pengakuan anak, dan hasil tes hubungan biologis yang dilakukan beberapa waktu lalu.
Aku tidak ingin menggunakan dokumen itu untuk balas dendam.
Aku hanya ingin kebenaran diletakkan di atas meja.
Dimas berkata,
“Aku tidak datang untuk berebut harta dengan siapa pun.”
Aku menatap anakku.
Dia benar.
Itulah yang selalu kuajarkan sejak kecil.
Uang bukan alasan seseorang disebut anak.
Dan hubungan darah bukan satu-satunya alasan seseorang bisa disebut keluarga.
Aku membesarkan Dimas sendirian.
Aku tidak pernah menjelek-jelekkan ayahnya.
Aku hanya berkata,
“Jadilah orang baik ketika kamu dewasa. Jangan biarkan kesalahan orang lain membuatmu menjadi orang seperti mereka.”
Mungkin karena itulah hari ini Dimas tetap tenang.
Dia tidak melangkah maju untuk merebut apa pun.
Dia hanya meletakkan satu map lagi di atas meja.
“Ini dokumen tentang sebelas properti.”
Pengacara langsung mengangkat kepala.
Dimas berkata,
“Sebelas vila dari enam belas vila itu dibeli selama Ayah dan Ibu menikah.”
Ibu mertuaku langsung membantah.
“Tapi semuanya atas nama Luthfi!”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Pengacara mengambil map tersebut.
Dia membuka lembar demi lembar.
Semakin lama membaca, wajahnya semakin berubah.
“Ada bukti transfer…”
“Ada perjanjian jual beli…”
“Ada bukti sumber dana…”
Dia menatapku.
“Sebagian besar pembayaran awal berasal dari rekening Ibu Maya.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku menatap suamiku.
Dua puluh delapan tahun.
Akhirnya angka-angka berbicara menggantikanku.
Dulu, ketika kami baru menikah, Luthfi hampir tidak memiliki apa-apa.
Aku menjual salah satu toko kecil peninggalan orang tuaku untuk membantunya melunasi utang.
Toko yang satunya lagi tetap kupertahankan dan keuntungannya kugunakan untuk berinvestasi.
Kami membeli rumah pertama bersama.
Lalu rumah kedua.
Kemudian properti ketiga.
Setiap kali membeli aset, aku selalu mengira semuanya adalah milik keluarga.
Aku tidak pernah membayangkan suatu hari keluarga itu justru mengatakan bahwa aku tidak punya hak.
Luthfi menatapku.
“Maya…”
Aku tidak menjawab.
Dia berkata dengan susah payah,
“Aku… tidak tahu…”
Aku tersenyum tipis.
“Kamu memang tidak tahu banyak hal.”
“Tapi aku tahu.”
“Aku tahu kamu punya seorang anak.”
“Aku tahu kamu diam-diam membiayai hidupnya.”
“Aku juga tahu kamu menggunakan uang keluarga untuk membeli sebagian besar aset itu.”
Dia menatapku dengan ketakutan.
“Kamu tahu sejak kapan?”
“Sejak dua puluh tujuh tahun lalu.”
Jawaban itu membuatnya memejamkan mata.
Ibu mertuaku menatapku seperti melihat orang asing.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?”
Aku diam beberapa detik.
Kemudian menjawab,
“Karena saat itu aku berpikir dia akan berubah.”
“Dan karena aku tidak ingin seorang anak membayar kesalahan orang dewasa.”
Dimas menundukkan kepala.
Aku memandangnya.
Pada saat itu, aku tahu aku tidak salah karena menyimpan rahasia selama bertahun-tahun.
Meskipun harga yang harus kubayar sangat mahal.
Luthfi mulai bernapas dengan susah payah.
Dia menatap Dimas.
“Apakah kamu… membenci Ayah?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Beberapa saat kemudian, dia berkata,
“Aku pernah membenci.”
“Tapi Ibu tidak membiarkanku tumbuh dengan kebencian.”
Luthfi menutup mata.
Satu air mata mengalir dari sudut matanya.
“Ayah minta maaf.”
Dimas tetap berdiri di tempatnya.
Dia tidak memeluk.
Tidak menyalahkan.
Hanya berkata,
“Aku datang bukan untuk mendengar permintaan maaf.”
“Aku datang karena Ibu menyuruhku datang.”
Aku menatap anakku.
Dimas menoleh kepadaku.
“Ibu bilang, kalau suatu hari dia terbaring di ranjang sakit dan mencoba menggunakan uang untuk menentukan nasib semua orang, aku harus datang.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu masih ingat?”
“Aku ingat semuanya.”
Aku kembali menatap Luthfi.
“Sekarang kamu sudah tahu.”
“Aku tidak membutuhkan enam belas vila itu darimu.”
“Aku hanya ingin kamu berhenti menggunakan surat wasiat untuk mengubah dua puluh delapan tahun hidup kita menjadi sebuah lelucon.”
Dia menatapku.
“Lalu apa yang kamu inginkan?”
Aku melihat ke luar jendela.
Hujan turun di luar sana.
Aku berkata,
“Aku ingin kamu mengubah surat wasiat itu.”
Pengacara mengangkat kepala.
“Bukan supaya aku mendapatkan semuanya.”
“Tapi supaya setiap orang menerima bagian yang memang menjadi haknya.”
Arga tiba-tiba berkata,
“Bagaimana dengan saya?”
Aku menatapnya.
“Kamu juga.”
Dia terdiam.
Aku berkata,
“Kamu tidak bersalah karena dilahirkan.”
“Kamu juga tidak bersalah karena ayahmu menyembunyikan keberadaanmu dariku.”
“Tapi kamu berhak mengetahui kebenaran.”
Arga menundukkan kepala.
Mungkin untuk pertama kalinya dia memahami bahwa masalah ini bukan sekadar perebutan enam belas vila.
Ini tentang orang-orang dewasa yang menggunakan kebohongan dan diam untuk menyembunyikan terlalu banyak hal.
Dan akhirnya anak-anaklah yang harus tumbuh dengan akibatnya.
Aku menoleh kepada pengacara.
“Besok, siapkan semua dokumen baru.”
Luthfi menatapku.
“Besok?”
Aku mengangguk.
“Kamu masih punya waktu.”
Dia tersenyum pahit.
“Kamu masih berpikir aku punya waktu?”
Aku menatap pria yang telah hidup bersamaku selama dua puluh delapan tahun.
“Sampai napas terakhir, kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki satu hal.”
“Yaitu mengatakan kebenaran.”
Malam itu, untuk pertama kalinya selama dua puluh delapan tahun, tidak ada seorang pun di keluarga itu yang membicarakan uang.
Namun tidak ada yang tahu bahwa…
Keesokan paginya, sebuah kebenaran yang jauh lebih besar daripada fakta bahwa Dimas adalah anak kandung Luthfi akan terbuka.
Dan kali ini, orang pertama yang menangis…
Justru Arga.
