BAGIAN 3 — SAHAM YANG DICURI KEMBALI KE TANGANKU, DAN AKU MEMILIH KEHIDUPAN BARU TANPA MENUNGGU PENYESALANNYA
Aku tidak jadi meninggalkan rumah malam itu.
Bukan karena berubah pikiran tentang perceraian.
Aku hanya menyadari bahwa sebelum pergi, ada sesuatu yang harus kuambil kembali.
Bukan suamiku.
Bukan pernikahan kami.
Melainkan hak yang selama enam tahun diam-diam dirampas dariku.
Keesokan paginya, aku datang ke kantor bersama pengacara independen.
Suamiku sudah menunggu di ruang rapat bersama Dimas dan ibu mertua.
Tidak seorang pun berani menatapku.
Pengacaraku meletakkan dokumen pendirian asli di meja.
Enam tahun lalu, modal awal perusahaan berasal dari tiga sumber. Tabungan suamiku, hasil penjualan mobilku, serta uang pinjaman yang kudapat dengan jaminan aset milik keluargaku.
Berdasarkan perjanjian awal, aku memiliki empat puluh sembilan persen saham.
Namun beberapa bulan kemudian, saat perusahaan melakukan perubahan struktur, sebuah dokumen baru muncul.
Di sana kepemilikanku berubah menjadi lima persen.
Tanda tanganku tercantum di bawahnya.
Masalahnya sederhana.
Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Pengacara menunjuk halaman terakhir.
—Kami sudah meminta pemeriksaan awal. Ada indikasi kuat tanda tangan ini bukan dibuat oleh klien saya.
Suamiku menunduk.
Aku bertanya:
—Siapa yang melakukannya?
Tidak ada jawaban.
—Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu.
Akhirnya dia berkata lirih:
—Aku.
Ibu mertua langsung menangis.
—Waktu itu perusahaan baru mulai berkembang. Kami takut kalau suatu hari kalian bercerai, perusahaan akan terbagi!
Aku menoleh kepadanya.
—Jadi enam tahun lalu, saat saya bekerja sampai tengah malam untuk perusahaan ini, kalian sudah mempersiapkan cara mengambil hak saya?
—Bukan begitu…
—Lalu bagaimana?
Ruangan kembali sunyi.
Aku tidak marah.
Mungkin karena kekecewaanku sudah melewati batas tempat kemarahan masih berguna.
Proses berikutnya berlangsung berbulan-bulan.
Aku mengajukan gugatan untuk mengembalikan hak kepemilikan saham sekaligus menyelesaikan perceraian.
Audit lengkap juga dilanjutkan.
Dimas akhirnya mengakui bahwa sebagian dana perusahaan memang digunakan untuk menutup kerugian investasinya. Ia diwajibkan mengembalikan dana dan kehilangan seluruh jabatannya.
Ibu mertua harus melepaskan kepemilikan atas perusahaan-perusahaan cangkang yang menggunakan namanya.
Maya menyerahkan bukti bahwa beberapa tanda tangannya dipalsukan. Dia tidak meminta apa pun dariku. Sebelum pergi setelah salah satu pertemuan dengan pengacara, dia menghampiriku.
—Aku minta maaf.
Aku menatapnya.
—Untuk apa?
Matanya memerah.
—Aku tahu dia sudah memiliki pasangan ketika hubungan kami dimulai.
Aku terdiam.
—Kalau begitu, permintaan maafmu memang pantas kuterima.
Dia menunduk.
Aku melanjutkan:
—Tapi aku tidak akan menghabiskan hidupku membencimu. Kamu bertanggung jawab atas pilihanmu. Dia bertanggung jawab atas pilihannya. Dan aku bertanggung jawab menentukan apa yang kulakukan setelah mengetahui semuanya.
Maya menangis.
Aku hanya melihat Raka yang menunggunya di ujung lorong.
Anak itu tidak bersalah.
—Rawat anakmu dengan baik.
Itulah kalimat terakhirku kepadanya.
Empat bulan kemudian, hasil pemeriksaan dokumen keluar.
Hak kepemilikanku dikembalikan.
Empat puluh sembilan persen.
Namun perusahaan sudah berada dalam kondisi buruk. Reputasinya terguncang, beberapa mitra membatalkan kontrak, dan bank memperketat seluruh fasilitas kredit.
Suamiku mendatangiku malam sebelum rapat pemegang saham.
Dia terlihat jauh lebih kurus.
—Kita bisa memperbaikinya bersama.
Aku menatapnya.
—Kita?
—Kamu memahami perusahaan ini lebih baik daripada siapa pun. Kalau kamu kembali menjadi direktur keuangan, aku yakin kita bisa menyelamatkannya.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku bertahan.
Sekarang aku hanya bertanya:
—Kalau audit tidak pernah terjadi, kapan kamu akan mengembalikan sahamku?
Dia terdiam.
—Kalau rekening rahasia tidak ditemukan, kapan kamu akan memberitahuku tentang Raka?
Tetap diam.
—Kalau aku menandatangani jaminan rumah hari itu, apakah kamu akan mengatakan yang sebenarnya?
Matanya memerah.
—Aku takut kehilanganmu.
Aku tersenyum tipis.
—Tidak. Kamu takut kehilangan semua yang kuberikan kepadamu.
Keesokan harinya, dalam rapat pemegang saham, aku membuat keputusan yang mengejutkan semua orang.
Aku tidak merebut posisi direktur utama.
Aku juga tidak menghancurkan perusahaan.
Aku meminta restrukturisasi.
Seluruh transaksi keluarga harus diawasi pihak independen. Jabatan tidak boleh lagi diberikan berdasarkan hubungan darah. Keuangan perusahaan harus diaudit rutin. Dan suamiku harus mundur dari kendali operasional selama proses pemulihan.
Beberapa pemegang saham lain mendukungku.
Usulan itu disetujui.
Setelah rapat, aku menjual sebagian sahamku kepada investor baru dengan harga yang cukup untuk memulai hidup tanpa bergantung kepada siapa pun.
Sebagian sisanya tetap kusimpan.
Bukan untuk membalas dendam.
Aku hanya tidak akan lagi menyerahkan sesuatu yang menjadi hakku karena cinta.
Perceraian kami selesai tiga bulan kemudian.
Hari keluar dari kantor hukum, mantan suamiku berdiri di tangga dan memanggilku.
Aku berhenti.
—Aku menyesal.
Aku mengangguk.
—Aku tahu.
—Apa kamu pernah menyesal menikah denganku?
Aku memikirkan pertanyaan itu cukup lama.
—Tidak.
Dia terlihat terkejut.
—Kenapa?
—Karena delapan tahun itu mengajariku sesuatu yang mungkin tidak akan kupahami dengan cara lain. Mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan seluruh hidup kita kepadanya.
Aku kemudian pergi.
Setahun setelah perceraian, aku mendirikan perusahaan konsultasi keuangan kecil.
Aku menyewa sebuah ruangan sederhana di lantai dua sebuah gedung komersial. Awalnya hanya ada tiga meja, empat kursi, dan sebuah mesin kopi murah yang sering rusak.
Klien pertamaku adalah sebuah usaha keluarga yang hampir bangkrut karena pencatatan keuangannya berantakan.
Aku membantu mereka melakukan restrukturisasi.
Lalu datang klien kedua.
Ketiga.
Kesepuluh.
Dalam waktu kurang dari dua tahun, timku berkembang menjadi lebih dari tiga puluh orang.
Aku membuat satu aturan yang selalu kubacakan kepada setiap karyawan baru:
—Di sini, kepercayaan tidak menggantikan sistem. Hubungan keluarga tidak menggantikan tanggung jawab. Dan tidak ada seorang pun yang boleh kehilangan haknya hanya karena takut mengecewakan orang yang dicintai.
Suatu sore, sekretarisku masuk sambil membawa sebuah undangan.
Perusahaan lamaku akan merayakan ulang tahun kesepuluh.
Aku hampir membuang undangan itu.
Namun akhirnya aku datang.
Bukan sebagai istri pendiri.
Bukan pula sebagai mantan direktur keuangan.
Aku datang sebagai pemegang saham dan pemilik perusahaan konsultasi yang baru saja mendapatkan penghargaan industri.
Di lobi, beberapa karyawan lama mengenaliku.
Mereka menghampiri dan menyapaku dengan hangat.
Dimas tidak lagi bekerja di sana.
Ibu mertua juga tidak pernah terlibat lagi dalam urusan perusahaan.
Sedangkan mantan suamiku masih menjadi pemegang saham, tetapi tidak lagi memegang kendali penuh.
Ketika acara hampir selesai, dia menghampiriku.
—Kamu terlihat bahagia.
Aku tersenyum.
—Memang.
Dia melihat cincin sederhana di jariku.
—Kamu menikah lagi?
Aku tertawa kecil.
—Tidak. Itu hadiah untuk diriku sendiri setelah perusahaan baruku mendapatkan kontrak besar pertama.
Untuk pertama kalinya, dia ikut tersenyum tanpa kepahitan.
—Selamat.
—Terima kasih.
Kami berdiri beberapa detik dalam keheningan.
Kemudian seorang perempuan muda dari timku berlari menghampiri.
—Bu, klien dari luar kota sudah mengonfirmasi kontraknya! Mereka setuju dengan seluruh proposal kita!
Aku menatap layar ponselnya.
Nilai kontraknya lebih besar daripada tender pertama yang pernah kuperjuangkan bertahun-tahun lalu.
Aku tersenyum.
—Balas mereka. Besok pagi kita mulai.
Aku berjalan menuju pintu keluar.
Mantan suamiku tidak mengejar.
Aku juga tidak menoleh lagi.
Di luar gedung, matahari sore masih terang.
Aku berdiri sebentar di anak tangga, mengingat perempuan yang dahulu menjual mobilnya, bekerja sampai dini hari, lalu merasa harus terus bertahan hanya karena takut semua pengorbanannya menjadi sia-sia.
Sekarang aku akhirnya memahami sesuatu.
Pengorbanan tidak menjadi sia-sia hanya karena sebuah hubungan berakhir.
Kadang-kadang, semua yang kita lalui justru menjadi harga yang harus dibayar untuk mengetahui nilai diri sendiri.
Ponselku kembali berbunyi.
Pesan dari tim masuk satu demi satu.
Aku memasukkannya ke dalam tas lalu berjalan menuju mobil.
Tidak ada lagi seseorang yang harus kutunggu.
Tidak ada keluarga yang harus kubuktikan bahwa aku pantas dianggap sebagai bagian dari mereka.
Tidak ada rumah yang harus kupertahankan demi sebuah pernikahan yang sudah kosong.
Aku memiliki pekerjaanku.
Aku memiliki hak atas hasil jerih payahku.
Aku memiliki orang-orang yang menghormatiku bukan karena aku istri siapa, melainkan karena kemampuan dan pilihanku sendiri.
Dan yang paling penting, aku akhirnya memiliki kembali diriku sendiri.
Dulu aku mengira akhir bahagia berarti orang yang menyakitiku menyesal lalu kembali memintaku pulang.
Sekarang aku tahu aku salah.
Akhir bahagia yang sesungguhnya adalah ketika dia berdiri di belakangmu, tetapi kamu tidak lagi ingin menoleh.
Aku membuka pintu mobil.
Sebelum masuk, aku memandang langit yang perlahan berubah keemasan.
Kemudian aku tersenyum.
Delapan tahun lalu, aku membantu seorang pria membangun perusahaannya dari nol.
Hari ini, aku akan membangun masa depanku sendiri.
Dan kali ini, namaku tidak akan pernah lagi dihapus dari halaman terakhir.
