Bagian 3 — Aku Tidak Mengejar Perempuan Itu, Aku Membuka Rekening Keluarga, dan Satu Sidang Membuat Seluruh Rencana Mereka Runtuh Seketika di Depan Semua Orang
Aku menatap Bu Ratna cukup lama sampai perempuan itu akhirnya mengalihkan wajah.
“Tanggung jawab terhadap kedua anaknya?”
Suaraku begitu pelan sampai Arga terlihat lebih takut daripada jika aku berteriak.
“Bu, dengarkan saya baik-baik. Anak saya bukan alasan untuk mengambil rumah saya. Anak perempuan lain itu juga bukan alasan untuk mencuri uang perusahaan saya.”
“Jangan pakai kata mencuri,” sela Pak Hendra.
Aku menoleh kepadanya.
“Kalau mengambil Rp642 juta tanpa izin dari rekening perusahaan bukan mencuri, Bapak ingin menyebutnya apa?”
Pak Hendra bungkam.
Arga mencoba mengambil laptop.
Aku menutupnya lebih dulu.
“Keluar.”
Ia mengerutkan kening.
“Din.”
“Bawa orang tuamu. Keluar dari rumah saya.”
Bu Ratna langsung berdiri.
“Kamu lupa ini rumah tangga kalian berdua?”
“Rumahnya atas nama saya.”
“Kamu istri Arga!”
Aku mengangguk.
“Benar. Dan malam ini saya baru mengetahui suami saya memiliki anak dengan perempuan lain, mengambil ratusan juta dari perusahaan saya, serta menyiapkan tanda tangan palsu untuk menjaminkan rumah yang saya beli sebelum menikah.”
Aku menunjuk pintu.
“Sekarang keluar.”
Bu Ratna masih ingin berdebat.
Namun seseorang berdiri di belakangku.
Ibu.
Selama hampir empat bulan, aku selalu melihat Ibu sebagai perempuan kecil yang mudah meminta maaf.
Malam itu tubuhnya tetap kecil.
Tetapi suaranya tidak.
“Dari tadi saya diam karena saya pikir urusan suami istri sebaiknya diselesaikan anak-anak sendiri.”
Ibu melepas celemek.
“Sekarang sudah bukan urusan suami istri.”
Ia menatap Arga.
“Kamu tidak datang ketika anak saya masuk ruang operasi.”
Arga menunduk.
“Saya tidak pernah menuntut.”
“Kamu tidak menemaninya ketika luka operasinya bernanah.”
“Saya juga tidak pernah menelepon orang tuamu meminta bantuan.”
“Kamu tidak pernah bangun menggendong Alya ketika cucumu demam.”
Ia menarik napas panjang.
“Sekarang setelah empat bulan, keluarga kamu datang bukan membawa bantuan, tetapi membawa rencana mengambil rumahnya?”
Tidak ada satu orang pun menjawab.
Ibu membuka pintu.
“Kamar hotel sudah dibayar Dinda.”
“Silakan.”
Mereka akhirnya pergi pukul sebelas lewat dua puluh menit.
Arga menjadi orang terakhir di pintu.
Ia menatapku.
“Besok kita bicara.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Dinda…”
“Kita bicara melalui pengacara.”
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat ketakutan sungguhan.
Setelah pintu tertutup, lututku langsung lemas.
Aku duduk di lantai.
Tidak menangis keras.
Air mataku hanya jatuh begitu saja.
Ibu ikut duduk.
Ia tidak mengatakan, “Ibu sudah bilang.”
Tidak mengatakan, “Laki-laki memang begitu.”
Tidak juga menyuruhku mempertahankan pernikahan demi anak.
Ia hanya memelukku.
“Besok kita pikirkan,” bisiknya.
“Sekarang kamu tidur.”
Tetapi aku tidak tidur.
Setelah Alya terlelap, aku kembali membuka laptop.
Aku menyimpan setiap dokumen.
Mutasi rekening.
Email.
Draft pengajuan kredit.
Percakapan WhatsApp Web Arga dengan ibunya.
Bukti pembayaran apartemen.
Bukti belanja bayi.
Aku mengirim semuanya ke dua alamat email berbeda dan sebuah penyimpanan cloud baru.
Kemudian aku mengganti kata sandi rekening perusahaan yang menjadi tanggung jawabku sebagai pemilik.
Aku juga menghubungi manajer keuangan Luma Little.
Namanya Maya.
Pukul dua belas malam.
Aku hanya menulis satu pesan.
“Mbak, mulai malam ini jangan izinkan transaksi apa pun menggunakan otorisasi Arga. Besok pagi blokir seluruh aksesnya. Jangan hubungi dia sebelum saya datang.”
Maya langsung menelepon.
Aku tidak menjelaskan semuanya.
“Masalah internal,” kataku. “Saya akan membawa bukti.”
Pukul satu dini hari aku menghubungi bank melalui layanan darurat dan meminta catatan keamanan tambahan atas rekening serta properti yang tercatat atas namaku.
Aku tidak bisa menghentikan semua proses hanya dengan satu telepon.
Tetapi aku bisa membuat siapa pun yang mencoba bergerak diam-diam harus melewati verifikasi tambahan.
Setelah itu barulah aku tidur.
Dua jam.
Pagi Idulfitri tahun itu adalah pagi paling sunyi sepanjang hidupku.
Biasanya Ibu sudah menyiapkan kue dan memutar lagu lama.
Kali ini kami hanya duduk berdua setelah salat.
Aku meminta maaf.
“Ibu datang ke sini buat jaga aku. Malah dapat masalah.”
Ibu menepuk tanganku.
“Jangan bodoh.”
Ia tersenyum tipis.
“Ibu datang untuk jaga anak Ibu. Ya memang begini tugasnya.”
Kalimat itu membuatku menangis untuk pertama kalinya.
Siang hari, ponselku penuh pesan.
Bukan dari Arga.
Dari grup keluarga besar.
Bu Ratna sudah lebih dulu membangun ceritanya.
Menurutnya aku mengusir mertua pada malam Lebaran karena tidak suka mereka datang.
Menurutnya aku mempermalukan suami.
Menurutnya aku terlalu sibuk bekerja sampai rumah tangga “kurang harmonis”.
Aku membaca semuanya.
Lalu menutup aplikasi.
Aku tidak membela diri.
Setidaknya belum.
Dua hari setelah Lebaran, aku menemui pengacara keluarga sekaligus konsultan perusahaan bernama Pak Bima.
Ia membaca dokumen selama hampir dua jam.
Sesekali ia melepas kacamatanya.
Terakhir, ia bertanya:
“Semua file asli masih ada?”
“Ada.”
“Sertifikat rumah?”
“Ada di safe deposit box atas nama saya.”
“Arga punya akses?”
“Tidak.”
“Bagus.”
Kemudian ia menunjuk transaksi perusahaan.
“Ini yang lebih serius.”
Audit dimulai.
Aku mengira Rp642 juta adalah seluruhnya.
Ternyata tidak.
Dalam sebelas bulan terakhir, Arga membuat beberapa pembayaran melalui vendor yang kelihatannya normal.
Biaya logistik.
Renovasi gudang.
Konsultan distribusi.
Sewa kendaraan.
Setelah diverifikasi satu per satu, enam vendor ternyata memiliki alamat dan nomor telepon yang saling berkaitan.
Uang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mencapai Rp781.400.000.
Aku menatap angka itu lama sekali.
Hampir delapan ratus juta rupiah.
Uang yang seharusnya digunakan untuk gaji karyawan.
Untuk produksi.
Untuk membangun bisnis yang kumulai dari menjual baju bayi melalui live streaming di kamar kontrakan.
Sementara aku menghitung biaya popok Alya agar tidak terlalu boros, suamiku membayar apartemen perempuan lain menggunakan uang perusahaan.
Aku pikir itu adalah titik terendah.
Ternyata belum.
Tiga hari kemudian nomor tak dikenal menghubungiku.
“Halo, Mbak Dinda?”
Suara perempuan.
“Iya.”
“Nama saya Siska.”
Tubuhku langsung kaku.
Aku hampir menutup telepon.
Namun kalimat berikutnya membuatku berhenti.
“Saya baru tahu Mbak masih menjadi istri sah Mas Arga.”
Aku tidak percaya.
“Kamu punya anak dengannya.”
“Iya.”
“Kamu tidak tahu dia menikah?”
Di seberang telepon terdengar tangisan bayi.
Kemudian suara Siska.
“Saya tahu dia pernah menikah.”
Aku menahan napas.
“Pernah?”
“Dia bilang proses cerainya sudah berjalan sejak tahun lalu.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Siska mulai menangis.
Bukan tangis dramatis.
Justru terdengar seperti orang yang sudah tiga hari tidak tidur.
“Mas Arga bilang kalian tinggal satu rumah karena Mbak sedang hamil dan keluarga ingin menjaga nama baik sampai perceraian selesai.”
Aku menutup mata.
Ternyata Arga tidak hanya membohongiku.
Ia membangun kehidupan kedua menggunakan kebohongan yang berbeda.
Siska mengirimkan tangkapan layar.
Ratusan.
Dalam percakapan itu, Arga mengatakan aku sudah setuju bercerai.
Bahwa kami tidak tidur sekamar.
Bahwa anak yang kukandung akan tetap menjadi tanggung jawabnya.
Yang paling membuatku mual adalah satu percakapan antara Siska dan Bu Ratna.
Siska pernah bertanya:
“Bu, apa benar Mbak Dinda sudah tahu tentang saya?”
Bu Ratna menjawab:
“Sudah. Dia hanya belum siap menerima. Kamu jangan khawatir, setelah Lebaran semuanya selesai.”
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Jadi perempuan itu juga ditipu.
Aku bertanya satu hal kepadanya.
“Apakah kamu tahu uang untuk apartemen dan kebutuhanmu berasal dari perusahaan saya?”
Siska langsung diam.
“Perusahaan Mbak?”
“Luma Little.”
Suara napasnya berubah.
“Mas Arga bilang itu perusahaan dia.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Kadang tubuh manusia mengeluarkan suara aneh ketika terlalu marah untuk menangis.
Siska kemudian mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Saya mau bantu.”
“Bantu apa?”
“Saya punya semua percakapan, bukti transfer, dan rekaman suara dia.”
Ia terdiam.
“Kemarin dia meminta saya jangan mengangkat telepon Mbak.”
“Kenapa?”
“Karena katanya Mbak sedang berusaha mengambil seluruh hartanya.”
Aku memandang rumahku.
Rumah yang dibeli dari peninggalan ayahku.
Bisnis yang kubangun sebelum menikah.
Rekening yang ia kosongkan sedikit demi sedikit.
Lalu aku berkata:
“Siska, saya tidak akan menyerang kamu.”
Ia diam.
“Anakmu juga tidak salah.”
Tangisnya pecah.
Mungkin ia menunggu makian.
Kutukan.
Ancaman.
Aku tidak punya energi untuk itu.
Musuhku bukan perempuan yang ditipu dengan cerita lain.
Musuhku adalah laki-laki yang berdiri di tengah kami sambil menciptakan dua versi kehidupan.
Seminggu kemudian, kami bertemu di kantor pengacara.
Siska datang membawa bayi kecil dalam gendongan.
Usianya tujuh puluh tiga hari.
Aku melihat anak itu sekali.
Hanya sekali.
Wajahnya damai.
Aku langsung teringat Alya.
Dua bayi.
Dua ibu yang sama-sama dijadikan figuran dalam kebohongan seorang laki-laki.
Siska menyerahkan sebuah flash drive.
Di dalamnya terdapat bukti yang bahkan tidak kumiliki.
Rekaman suara Arga membicarakan rencana rumah Sentul.
Ia berkata:
“Dinda gampang. Nanti Mama yang bicara. Kalau keluargaku sudah datang saat Lebaran, dia pasti sungkan menolak.”
Lalu suara lain terdengar.
Bu Ratna.
“Yang penting sertifikatnya keluar dulu. Siska jangan tahu rumahnya pakai jaminan rumah Dinda. Nanti ribut lagi.”
Aku menghentikan rekaman.
Pak Bima menatapku.
Aku hanya berkata:
“Simpan semuanya.”
Setelah itu aku tidak lagi menjawab satu pun telepon Arga.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Perusahaan secara resmi memberhentikannya dari posisi direktur operasional.
Audit dilanjutkan.
Akses rekening dicabut.
Kartu perusahaan diblokir.
Surat somasi dikirim mengenai pengembalian dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Barulah Arga panik.
Ia datang ke rumah.
Satpam tidak mengizinkannya masuk.
Ia menunggu tiga jam di gerbang kompleks.
Mengirim empat puluh tujuh pesan.
Aku tidak membalas.
Esok harinya Bu Ratna datang bersama dua orang kerabat.
Mereka meminta “musyawarah keluarga”.
Aku menerima mereka di kantor pengacara.
Bukan di rumah.
Bu Ratna masuk dengan wajah sembap.
Tidak ada lagi suara keras.
Tidak ada lagi kalimat tentang kewajiban menantu.
“Dinda,” katanya, “bagaimanapun Arga ayah Alya.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Jangan sampai dia masuk penjara.”
Aku memandangnya.
“Waktu Ibu membantu menyiapkan dokumen palsu untuk menjaminkan rumah saya, apakah Ibu pernah berpikir Alya bisa kehilangan tempat tinggal?”
Ia langsung diam.
Pak Hendra mengambil alih.
“Kami akan mengganti uangnya.”
“Berapa?”
Ia menyebut Rp300 juta.
Aku hampir tersenyum.
Pak Bima mendorong hasil audit ke depan.
“Kerugian sementara Rp781,4 juta. Itu belum termasuk beberapa transaksi yang masih diverifikasi.”
Pak Hendra memucat.
Mereka meminta waktu.
Aku memberikannya sesuai prosedur hukum.
Bukan karena kasihan.
Karena aku ingin semuanya tercatat.
Dalam dua bulan, keluarga Arga menjual satu bidang tanah warisan di Cirebon dan sebuah mobil SUV yang biasa dipamerkan Bu Ratna setiap acara keluarga.
Sebagian uang dikembalikan.
Arga menjual mobilnya sendiri.
Tetap belum cukup.
Ia menandatangani perjanjian pengembalian sisa kerugian dengan jaminan aset miliknya.
Namun masalah tanda tangan palsu dan dokumen pengajuan kredit berjalan sebagai perkara terpisah.
Tidak semua kesalahan bisa dibayar dengan menjual mobil.
Sidang perceraian dimulai empat bulan kemudian.
Hari pertama, Arga terlihat jauh lebih kurus.
Ia mencoba mendekatiku di lorong.
“Din.”
Aku berjalan terus.
“Tolong.”
Aku berhenti.
Bukan karena iba.
Aku hanya ingin mendengar.
“Aku kehilangan semuanya.”
Aku menatapnya.
“Kamu tidak kehilangan semuanya.”
Ia menatapku berharap.
Aku melanjutkan:
“Kamu membuang semuanya.”
Wajahnya berubah.
“Aku khilaf.”
“Khilaf itu satu keputusan buruk.”
Aku menatap matanya.
“Kamu membuat ratusan keputusan.”
“Kamu berbohong saat aku hamil.”
“Kamu berbohong ketika anak kita lahir.”
“Kamu membuat vendor palsu.”
“Kamu menyewa apartemen.”
“Kamu membeli perlengkapan bayi.”
“Kamu meminta ibumu membantu.”
“Kamu menyalin tanda tanganku.”
“Kamu merencanakan mengambil rumahku.”
Aku menggeleng.
“Jangan sebut rangkaian keputusan selama setahun sebagai khilaf.”
Aku meninggalkannya.
Di ruang sidang, bukti-bukti berbicara lebih keras daripada siapa pun.
Riwayat transaksi.
Percakapan.
Dokumen.
Pengakuan.
Kesaksian.
Tidak ada ruang tersisa untuk cerita bahwa aku “istri yang terlalu sibuk”.
Perceraian kami dikabulkan.
Hak pengasuhan utama Alya berada padaku, dengan akses bagi Arga sesuai ketentuan yang ditetapkan dan kewajiban nafkah yang jelas.
Aku tidak melarang Alya mengenal ayahnya.
Aku hanya menolak membiarkan kebohongan kembali masuk ke rumah kami.
Proses perkara dokumen palsu berjalan lebih lama.
Hampir setahun.
Pada akhirnya pengadilan menyatakan Arga terbukti melakukan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan yang berkaitan dengan transaksi perusahaan.
Ia dijatuhi hukuman pidana.
Aku tidak datang untuk melihatnya dibawa pergi.
Aku sudah selesai jauh sebelum hari itu.
Bu Ratna pernah mengirimiku pesan panjang.
Ia meminta maaf.
Mengatakan ia hanya ingin melindungi anak laki-lakinya.
Aku membalas satu kali.
“Ibu melindungi Arga dari konsekuensi sampai dia merasa boleh menghancurkan hidup orang lain. Itu bukan perlindungan.”
Setelah itu aku memblokir nomornya.
Aneh sekali.
Dulu aku pikir kemenangan akan terasa seperti melihat mereka menangis.
Ternyata tidak.
Kemenangan datang dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.
Aku bisa tidur.
Aku tidak lagi memeriksa ponsel pukul dua pagi bertanya-tanya Arga berada di kota mana.
Aku tidak lagi menunggu suara mobilnya.
Aku tidak lagi mengajari diriku sendiri menerima alasan.
Luma Little sempat terguncang karena kehilangan uang.
Namun enam bulan kemudian keuangan mulai pulih.
Maya menggantikan posisi operasional yang dulu dipegang Arga.
Aku membuat sistem persetujuan transaksi berlapis.
Tidak ada lagi satu orang yang bisa memindahkan dana besar sendirian.
Kami membuka gudang baru yang lebih kecil tetapi sepenuhnya dibayar dari arus kas sehat.
Aku bahkan membuat satu aturan baru.
Setiap karyawan perempuan yang baru melahirkan mendapat fleksibilitas kerja lebih panjang.
Mungkin karena aku tahu bagaimana rasanya duduk dengan luka operasi sementara dunia tetap menuntut kita bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
Siska memilih pindah dari apartemen yang dibayar Arga.
Ia kembali tinggal bersama kakaknya di Bogor dan mencari pekerjaan.
Kami tidak menjadi sahabat.
Hidup tidak harus berubah menjadi cerita manis seperti itu.
Tetapi beberapa kali ia mengirim kabar mengenai Naufal.
Aku menjawab seperlunya.
Kami punya satu kesepakatan sederhana.
Anak-anak tidak menanggung dosa orang dewasa.
Lebaran berikutnya datang jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Pagi itu rumahku penuh aroma opor.
Ibu masih tinggal bersamaku, tetapi sekarang bukan karena aku tidak mampu sendiri.
Aku memang memintanya.
Kesehatan lututnya membaik setelah menjalani fisioterapi rutin.
Dengan keuntungan bisnis yang mulai pulih, aku membelikannya tiket perjalanan yang sejak lama ia inginkan.
Bukan barang mewah.
Bukan perhiasan.
Ibu hanya ingin melihat laut di Lombok.
“Sayang uangnya,” protesnya.
Aku tertawa.
“Waktu aku melahirkan, Ibu habiskan empat bulan hidup Ibu buat aku.”
“Itu beda.”
“Kenapa semua orang di keluarga ini suka bilang ‘itu beda’?”
Ibu tertawa sampai matanya berair.
Alya yang sudah belajar berjalan berpegangan pada meja sambil ikut tertawa meskipun tidak mengerti apa pun.
Setelah salat Id, kami makan bertiga.
Tidak ada meja besar.
Tidak ada keluarga yang pura-pura harmonis.
Tidak ada orang yang mengukur nilai seorang ibu dari seberapa banyak ia bersedia mengalah.
Di sudut dapur masih ada vas bunga lama.
Vas yang dulu berisi bunga dari Arga setelah aku melahirkan.
Ibu masih menggunakannya untuk menanam daun bawang.
Aku pernah bertanya kenapa tidak dibuang.
Ibu menjawab:
“Vasnya tidak salah.”
Aku tertawa ketika mendengarnya.
Mungkin benar.
Tidak semua benda yang datang dari masa buruk harus dibuang.
Beberapa bisa diberi fungsi baru.
Seperti rumah ini.
Dulu aku mengingatnya sebagai tempat aku menunggu suami pulang.
Sekarang rumah ini adalah tempat Alya belajar berjalan.
Tempat Ibu tidur tanpa takut seseorang menyeret kopernya ke pintu.
Tempat aku belajar bahwa mempertahankan keluarga tidak selalu berarti mempertahankan pernikahan.
Kadang-kadang keluarga justru baru bisa diselamatkan setelah kita berani menutup pintu bagi orang yang terus melukainya.
Menjelang siang, Ibu membawa sebuah kotak kecil.
“Apa ini?”
“Buka.”
Di dalamnya ada foto lama.
Foto malam ketika aku pulang dari rumah sakit setelah melahirkan.
Wajahku pucat.
Rambut berantakan.
Ibu berdiri di sampingku sambil menggendong Alya.
Arga tidak ada di foto itu.
Aku menatapnya lama.
Dulu setiap kali melihat foto itu aku merasa sedih karena suamiku tidak hadir.
Sekarang aku baru menyadari sesuatu.
Orang yang benar-benar mencintaiku sebenarnya sudah ada di sana.
Sejak awal.
Aku memeluk Ibu.
“Terima kasih.”
Ibu mengernyit.
“Buat apa?”
“Buat seratus sembilan belas hari itu.”
Ia terdiam beberapa detik.
Kemudian memukul lenganku pelan.
“Dasar anak aneh.”
Alya melihat kami lalu ikut merentangkan kedua tangannya.
Kami tertawa dan memeluknya bersama-sama.
Di luar, suara anak-anak berlarian membawa balon Lebaran.
Aku memandang pintu depan.
Setahun sebelumnya, di tempat yang sama, sebuah koper hampir diseret keluar.
Saat itu aku merasa rumah tanggaku sedang hancur.
Sekarang aku mengerti.
Yang hancur malam itu bukan keluargaku.
Yang hancur hanyalah kebohongan yang selama ini menyamar sebagai keluarga.
Dan setelah semuanya runtuh, yang tersisa justru orang-orang yang benar-benar memilih untuk tinggal.
Ibu.
Alya.
Dan diriku sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, itu sudah lebih dari cukup.

