Bagian 3 – Audit Perusahaan Membongkar Kebohongan di Balik Tuntutan Mereka, dan Pada Hari Pernikahan yang Batal, Satu Keputusan Mengembalikan Harga Diriku Sepenuhnya

Avatar penulis
Cerita 02
15 menit baca 1,727 tayangan
Bagian 3 – Audit Perusahaan Membongkar Kebohongan di Balik Tuntutan Mereka, dan Pada Hari Pernikahan yang Batal, Satu Keputusan Mengembalikan Harga Diriku Sepenuhnya
Indeks

Bagian 3 – Audit Perusahaan Membongkar Kebohongan di Balik Tuntutan Mereka, dan Pada Hari Pernikahan yang Batal, Satu Keputusan Mengembalikan Harga Diriku Sepenuhnya

Aku pernah membayangkan banyak alasan yang mungkin keluar dari mulut kakakku.

Mungkin ia akan mengatakan dokumen itu salah.

Mungkin ruko itu memang untuk perusahaan.

Mungkin semua transfer tersebut hanyalah kesalahan staf keuangan.

Apa pun.

Tetapi Raka hanya berdiri di depan meja dengan wajah pucat.

Ayah menunggu hampir satu menit.

“Jawab.”

Raka menarik napas panjang.

“Ruko itu… untuk unit bisnis baru.”

“Bisnis siapa?”

“Bisnisku.”

Ayah mengangguk pelan.

“Pakai uang siapa?”

Raka diam.

Ayah mengulangi.

“Pakai uang siapa?”

“Perusahaan.”

Dua kata itu seperti menutup semua pintu.

Keisya langsung menoleh.

“Mas, jangan bicara sembarangan.”

Raka menatapnya.

“Apa lagi yang mau ditutupi?”

“Aku tidak menyuruhmu melakukan semua itu!”

“Tidak?”

Raka tertawa pahit.

“Siapa yang mengenalkan Denny?”

Keisya langsung terdiam.

“Siapa yang bilang kalau kita terus bekerja di bawah Ayah, sampai umur empat puluh pun aku cuma akan jadi anak pemilik perusahaan?”

Keisya menggigit bibir.

“Siapa yang menyuruh Mama kamu menerima transfer supaya tidak langsung terlihat berasal dari vendor?”

Bu Mirna berdiri.

“Raka! Jangan seret-seret saya!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Ayah menoleh kepada Ibu.

“Sudah berapa lama kamu tahu?”

“Curiga sekitar tiga bulan.”

Aku memandang Ibu.

Ia menjelaskan bahwa bagian keuangan mulai melihat pola pembayaran tidak biasa sejak awal tahun.

Vendor baru mendapat nilai kontrak besar.

Invoice datang selalu mendekati akhir bulan.

Beberapa pembayaran mendapat persetujuan langsung dari Raka tanpa tanda tangan kepala pengadaan.

Karena Raka adalah anak pemilik perusahaan sekaligus direktur operasional, tidak banyak pegawai berani bertanya.

Sampai seorang staf senior bernama Pak Herman mendatangi Ibu.

Diam-diam.

Bukan karena ia membenci Raka.

Justru karena ia sudah bekerja bersama Ayah lebih dari dua puluh tahun.

Ia takut perusahaan yang dibangun dari satu truk bekas itu rusak karena tidak ada yang berani menegur anak pemiliknya.

Ibu tidak langsung menuduh.

Ia menyewa auditor eksternal.

Mereka memeriksa vendor.

Mengecek nomor polisi kendaraan.

Mengonfirmasi faktur.

Membandingkan rekening.

Semakin diperiksa, semakin banyak yang tidak masuk akal.

Total transaksi mencurigakan mencapai Rp7,8 miliar.

Tidak semuanya hilang.

Sebagian masih bisa ditelusuri.

Tetapi setidaknya Rp5,1 miliar sudah keluar dari jalur bisnis normal.

Ruko.

Deposit kendaraan palsu.

Uang muka lahan yang tidak pernah disewa.

Pembayaran “konsultan” kepada orang-orang yang ternyata memiliki hubungan dengan keluarga Keisya.

Raka menjatuhkan tubuh ke sofa.

“Aku akan mengembalikan semuanya.”

Ayah menatapnya dingin.

“Dengan uang apa?”

Raka tidak menjawab.

Ayah melanjutkan.

“Saham lima belas persen yang saya berikan?”

Raka mengangkat kepala.

Aku terkejut.

Aku tahu Raka punya saham.

Tapi aku tidak tahu jumlahnya sebesar itu.

Ayah rupanya sudah memberikan lima belas persen kepemilikan perusahaan kepada kakakku ketika ia berusia dua puluh tujuh tahun.

Selain itu, Raka juga sudah menerima satu rumah di Surabaya Barat sebagai hadiah ketika diangkat menjadi direktur operasional.

Aku menatap Keisya.

Jadi semua omongannya tentang Raka yang “tidak pernah mendapat apa-apa” ternyata omong kosong.

Ibu menyandarkan tubuh.

“Keisya tadi mengatakan kami memberikan semuanya kepada Alya.”

Ia menatap Raka.

“Padahal nilai aset dan saham yang sudah kalian nikmati jauh lebih besar daripada apartemen Alya.”

Keisya membalas,

“Tapi Raka bekerja di perusahaan.”

“Alya juga belum meminta bagian perusahaan.”

Keisya terdiam.

Ibu melanjutkan.

“Apartemen itu hadiah pendidikan. Sama seperti rumah yang kami berikan kepada Raka ketika ia mulai memegang tanggung jawab besar.”

Aku baru sadar sesuatu.

Sejak tadi, Keisya bukan marah karena aku mendapat terlalu banyak.

Ia marah karena apa pun yang diberikan kepadaku dianggap mengurangi sesuatu yang menurutnya seharusnya menjadi milik mereka.

Tidak peduli berapa banyak yang sudah mereka punya.

Ayah bangkit.

“Mulai besok, Raka dinonaktifkan sebagai direktur operasional.”

Kakakku langsung berdiri.

“Yah!”

“Semua akses rekening dicabut.”

“Dengar dulu—”

“Laptop perusahaan, token bank, kartu perusahaan, dan dokumen kontrak kamu serahkan sebelum pukul sepuluh.”

Wajah Raka merah.

“Ayah memecat anak sendiri karena uang?”

Ayah langsung membalas.

“Justru karena kamu anak saya, saya memberi kamu kesempatan bicara di rumah sebelum saya bicara di ruang rapat.”

Ruangan kembali sunyi.

“Kalau direktur lain melakukan hal yang sama, malam ini juga bagian hukum sudah bekerja.”

Raka menunduk.

Bu Mirna tiba-tiba bersuara.

“Jangan ancam anak-anak.”

Ayah menoleh.

“Saya belum mengancam siapa pun.”

“Ini masalah keluarga.”

“Ketika uang perusahaan masuk ke rekening Ibu, ini bukan lagi sekadar masalah keluarga.”

Bu Mirna kehilangan warna wajah.

Ibu mengambil satu dokumen.

“Kami memberi waktu tujuh hari untuk mengembalikan seluruh dana yang masih dapat dikembalikan.”

“Kalau tidak?”

Keisya bertanya.

Ibu menjawab,

“Kuasa hukum perusahaan akan mengambil langkah formal.”

Keisya menatap Raka.

“Mas, bilang sesuatu!”

Raka justru bertanya,

“Berapa uang yang masih ada di rekening Mama?”

Bu Mirna langsung tersinggung.

“Kamu menuduh saya?”

“Ma.”

Keisya memegang tangan ibunya.

Tetapi Raka mengulang.

“Berapa?”

Bu Mirna akhirnya duduk kembali.

Dari Rp1,9 miliar yang masuk ke rekeningnya, sekitar Rp1,1 miliar masih ada.

Sisanya sudah digunakan sebagai uang muka dua ruko, biaya renovasi sebuah rumah, dan membayar beberapa utang keluarga.

Keisya mulai menangis.

“Semua ini tidak akan terjadi kalau kalian mendukung Raka sejak awal.”

Aku tidak tahan lagi.

“Mbak.”

Ia menoleh kepadaku.

“Jangan salahkan kami.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku bicara tanpa berusaha sopan.

“Mas Raka punya rumah.”

“Punya saham.”

“Punya jabatan.”

“Punya gaji.”

“Punya akses perusahaan.”

Aku menunjuk dokumen di meja.

“Lalu kalian masih mengambil uang yang bukan milik kalian.”

Keisya menatapku penuh kebencian.

Aku melanjutkan.

“Dan ketika aku mendapat satu apartemen karena berhasil masuk UI, Mbak datang ke rumah ini dan memperlakukanku seperti pencuri.”

Mataku mulai panas.

“Padahal ternyata yang sedang mencuri bukan aku.”

Raka langsung menegur.

“Alya.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kenapa?”

Ia terdiam.

“Mas masih mau bilang aku harus mengalah?”

Tidak ada jawaban.

Aku masuk kamar malam itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Aku marah.

Kecewa.

Tetapi yang paling menyakitkan bukan Keisya.

Melainkan Raka.

Ia kakakku.

Orang yang dulu mengajariku naik sepeda.

Orang yang pernah menunggu tiga jam di IGD ketika tanganku patah saat SMP.

Orang yang membelikanku laptop dari gaji pertamanya.

Aku tidak mengerti kapan hubungan kami berubah menjadi seperti neraca keuangan.

Kapan kebahagiaanku mulai dianggap kerugian baginya.

Tiga hari berikutnya rumah kami terasa seperti kantor hukum.

Auditor datang.

Pengacara datang.

Pak Herman membawa salinan kontrak.

Ayah hampir tidak keluar dari ruang kerja.

Raka menyerahkan laptop perusahaan tanpa bicara banyak.

Keisya pulang bersama ibunya.

Pernikahan yang awalnya dijadwalkan dua bulan lagi resmi ditunda.

Keluarga besar mulai bertanya.

Ayah tidak memberikan cerita macam-macam.

Ia hanya mengatakan ada persoalan internal yang harus diselesaikan lebih dulu.

Seminggu kemudian, audit tahap pertama selesai.

Angkanya bahkan lebih buruk daripada perkiraan.

Sebanyak Rp5,36 miliar terbukti dialihkan tanpa prosedur yang benar.

Sebagian memang masih berupa aset.

Dua ruko.

Satu kendaraan.

Deposit.

Sejumlah uang tunai.

Namun semuanya sengaja disusun agar keluar dari jalur perusahaan.

Yang membuat Ayah paling marah adalah satu fakta lain.

Raka sudah merencanakan perusahaan baru.

PT Langit Timur Distribusi.

Dokumen pendiriannya sudah dibuat.

Direktur utamanya: Raka.

Komisarisnya: Keisya.

Dan menurut salinan proposal yang ditemukan auditor, perusahaan itu nantinya akan mengambil beberapa klien lama milik perusahaan Ayah.

Aku membaca bagian itu dua kali.

“Jadi mereka mau bikin perusahaan saingan?”

Ibu mengangguk.

“Begitu kelihatannya.”

“Pakai uang perusahaan kita?”

“Sebagai modal awal.”

Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Belakangan Raka mengakui rencananya.

Awalnya ia merasa hanya ingin punya sesuatu yang benar-benar miliknya.

Keisya terus mengatakan bahwa selama ia bekerja di bawah Ayah, semua keberhasilannya akan dianggap hasil nama keluarga.

Lalu muncul ide membuat perusahaan sendiri.

Masalahnya, Raka tidak punya cukup modal tunai.

Ia tidak mau menjual saham.

Tidak mau menjaminkan rumah.

Jadi mereka membuat “jalan sementara”.

Mengalihkan sebagian uang melalui vendor.

Raka bersikeras berniat mengembalikannya setelah bisnis baru mendapat investor.

Namun Ayah hanya menjawab,

“Semua orang yang mengambil uang orang lain selalu punya cerita tentang bagaimana mereka berniat mengembalikannya.”

Pada hari kedelapan, Bu Mirna datang.

Tidak lagi dengan pakaian mencolok seperti malam pertama.

Ia membawa pengacara.

Dua ruko yang dibeli menggunakan aliran dana perusahaan diserahkan sebagai bagian pengembalian aset.

Sisa saldo Rp1,1 miliar juga dikembalikan.

Satu mobil yang dibeli Denny menggunakan dana vendor ditarik dan dijual.

Denny menandatangani pernyataan mengenai transaksi CV Mahardika Supply.

Ternyata ia memang menerima komisi.

Tetapi sebagian besar keputusan pembayaran berasal dari Raka.

Dengan bukti sebanyak itu, posisi kakakku nyaris tidak punya ruang untuk berkelit.

Ayah menawarkan dua pilihan.

Pertama, perusahaan menempuh seluruh jalur hukum dan pemulihan aset.

Kedua, Raka menandatangani perjanjian pengembalian penuh, melepaskan jabatan direktur, dan menjaminkan sebagian dividen sahamnya sampai kewajibannya selesai.

Pengacara tetap menangani transaksi yang melibatkan pihak luar.

Tidak ada lagi perlakuan khusus.

Raka memilih pilihan kedua untuk tanggung jawab internalnya.

Ayah tidak mengambil sahamnya.

Ia mengatakan kepemilikan dan jabatan adalah dua hal berbeda.

“Kamu tetap anak saya.”

“Tapi perusahaan bukan dompet anak saya.”

Aku tidak pernah melupakan kalimat itu.

Seminggu setelahnya, Keisya kembali ke rumah kami.

Sendirian.

Perutnya belum terlihat jelas.

Wajahnya jauh lebih kurus.

Ia meminta bicara dengan Raka.

Kami memberi mereka ruang di teras belakang.

Namun rumah begitu sunyi sampai beberapa kalimat masih terdengar.

“Kita masih bisa menikah.”

Keisya bicara sambil menangis.

“Aku tidak peduli pesta dibatalkan.”

Raka tidak langsung menjawab.

“Aku juga tidak akan menuntut apa-apa dari Mama Papa.”

Masih sunyi.

“Yang penting anak kita lahir dengan keluarga lengkap.”

Raka akhirnya bicara.

“Kalau malam itu audit tidak keluar, kamu benar-benar mau membuat Alya kehilangan apartemennya?”

Keisya terdiam.

“Aku sedang emosi.”

“Dan ancaman soal anak?”

“Aku takut.”

“Kamu bilang kalau orang tuaku tetap memberi Alya hadiah, mereka tidak akan melihat cucunya.”

“Aku tidak akan benar-benar melakukan itu.”

Raka tertawa pendek.

“Itulah masalahnya.”

Keisya mulai menangis lebih keras.

“Apa?”

“Semua kalimatmu sekarang berubah jadi ‘aku tidak benar-benar bermaksud’ setelah cara itu gagal.”

Keisya tidak menjawab.

Raka melanjutkan.

“Aku salah.”

“Aku yang menyetujui transfer.”

“Aku yang menandatangani.”

“Aku yang merasa punya hak mengambil uang perusahaan karena suatu hari perusahaan itu mungkin akan jadi tanggung jawabku.”

“Tapi kamu terus membuat keserakahan itu terasa masuk akal.”

Keisya marah.

“Jadi semua salahku?”

“Tidak.”

Raka menjawab cepat.

“Justru untuk pertama kalinya aku tidak mau melempar salah ke siapa-siapa.”

Aku mendengar kursi bergeser.

“Kalau kita menikah sekarang hanya karena bayi, kita akan mengulang kebohongan yang sama.”

Keisya menangis.

“Terus anak kita bagaimana?”

“Aku tetap ayahnya.”

Nada suara Raka berubah.

“Aku akan bertanggung jawab atas kehamilan, biaya medis, kelahiran, dan kebutuhan anak.”

“Tapi pernikahan kita batal.”

Aku menutup mata.

Aku tidak merasa senang.

Ada bayi yang tidak bersalah di tengah semuanya.

Ada dua keluarga yang sudah merencanakan pernikahan.

Ada kakakku yang menghancurkan kariernya sendiri.

Tidak ada yang benar-benar menang.

Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya, seseorang berhenti menggunakan bayi itu sebagai alasan untuk membenarkan semuanya.

Keisya pergi sore itu.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada barang dilempar.

Ia hanya masuk mobil dengan wajah basah.

Raka berdiri di teras cukup lama setelah mobilnya hilang dari ujung jalan.

Aku hampir kembali ke kamar ketika ia memanggil.

“Alya.”

Aku berhenti.

Ia berjalan mendekat.

Tidak ada lagi jas kantor.

Tidak ada lagi jam mahal.

Hanya kaus hitam dan wajah seseorang yang sudah beberapa hari tidak tidur nyenyak.

“Maaf.”

Aku menatapnya.

Dulu mungkin aku akan langsung menangis dan memeluknya.

Tapi kali ini tidak.

“Aku tidak bisa langsung bilang nggak apa-apa.”

Raka mengangguk.

“Aku tahu.”

“Mas bukan cuma diam waktu dia menghina aku.”

“Aku tahu.”

“Mas benar-benar minta aku menyerahkan sesuatu yang Ayah Ibu siapkan untukku hanya supaya dia berhenti marah.”

Ia menunduk.

“Aku tahu.”

Aku menahan air mata.

“Yang bikin sakit itu bukan apartemennya.”

Raka mengangkat kepala.

“Aku bisa hidup tanpa apartemen.”

“Tapi malam itu aku sadar, kalau harus memilih siapa yang kecewa, Mas lebih rela aku yang kecewa.”

Mata Raka merah.

Tidak ada jawaban yang bisa memperbaikinya.

Jadi ia tidak mencoba.

Ia hanya berkata,

“Aku akan memperbaiki bagian yang masih bisa diperbaiki.”

Hubungan kami tidak pulih dalam satu hari.

Dan aku senang tidak ada yang memaksanya.

Beberapa luka memang tidak butuh pidato.

Butuh waktu.

Butuh perilaku baru.

Sebulan kemudian, aku dan Ibu kembali ke Depok.

Apartemen yang kupilih sudah selesai proses administrasinya.

Sertifikat dan dokumen kepemilikannya dibuat atas namaku sesuai rencana.

Ketika menerima kunci, aku berdiri lama di ruang tamu kosong.

Matahari sore masuk dari jendela.

Dari sana aku bisa melihat deretan bangunan dan jalan yang akan menjadi bagian hidupku selama kuliah.

Ibu berdiri di belakangku.

“Masih suka?”

Aku tertawa.

“Suka.”

“Kemarin sempat kepikiran batal?”

Aku menoleh.

Ibu menggeleng.

“Tidak pernah.”

Aku memeluknya.

“Kenapa Ibu bisa tenang banget malam itu?”

Ia tertawa kecil.

“Karena kalau orang datang membawa ancaman, biasanya dia berharap kita takut kehilangan sesuatu.”

“Jadi?”

“Jangan buru-buru menunjukkan ketakutanmu.”

Ibu menatap kunci di tanganku.

“Lihat dulu sebenarnya siapa yang paling takut kehilangan.”

Tiga bulan kemudian, aku resmi memulai kuliah.

Aku tidak membawa mobil setiap hari.

Kadang naik kendaraan umum.

Kadang ikut teman.

Kadang berjalan terlalu jauh sampai sepatu membuat kakiku lecet.

Ternyata hidup sebagai mahasiswa tetap melelahkan meski punya apartemen.

Tetapi aku menyukainya.

Untuk pertama kalinya aku tinggal sendiri.

Belajar mengatur uang.

Membersihkan kamar mandi.

Memasak nasi terlalu lembek.

Lupa membeli deterjen.

Panik karena alarm kebakaran berbunyi hanya gara-gara roti gosong.

Hidupku akhirnya benar-benar milikku.

Raka tidak kembali menjadi direktur.

Ayah menempatkannya sebagai penasihat proyek tanpa akses ke rekening selama proses pengembalian berjalan.

Gajinya turun drastis.

Mobil perusahaan ditarik.

Bonus tahunannya dihentikan.

Dividen sahamnya digunakan sebagian untuk menutup kewajiban sesuai perjanjian.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja, ia harus merasakan konsekuensi dari keputusan tanpa ada jabatan keluarga yang melindunginya.

Anehnya, justru setelah itu hubungan kami perlahan membaik.

Ia mulai mengirim pesan.

Bukan pesan panjang.

Kadang hanya:

“Ujian anatomi gimana?”

Atau:

“Jangan lupa makan.”

Aku tidak selalu membalas cepat.

Tapi aku membalas.

Enam bulan kemudian, Keisya melahirkan.

Bayi perempuan.

Sehat.

Beratnya sedikit di atas tiga kilogram.

Ketika Raka mengirim foto bayi itu ke grup keluarga, tidak ada seorang pun menyinggung kebohongan tentang “cucu laki-laki”.

Ibu hanya menulis:

“Alhamdulillah. Semoga sehat dan tumbuh jadi anak baik.”

Ayah menambahkan emoji jempol yang sangat khas dirinya.

Aku tertawa melihatnya.

Namanya Kirana.

Raka tetap menjalankan tanggung jawab sebagai ayah.

Hubungannya dengan Keisya hanya sebatas urusan anak.

Mereka tidak kembali bersama.

Anehnya, setelah Kirana lahir, Keisya juga berubah lebih tenang.

Mungkin karena kenyataan akhirnya datang tanpa semua permainan status, warisan, dan “penerus keluarga” yang dulu ia gunakan.

Suatu hari ketika aku pulang libur semester, Keisya datang mengantar Kirana bertemu Raka.

Kami berpapasan di ruang depan.

Ia terlihat canggung.

“Alya.”

Aku berhenti.

“Ya?”

Ia memandangku beberapa detik.

“Maaf soal waktu itu.”

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Hanya itu.

Aku mengangguk.

“Aku dengar.”

Ia seperti berharap aku mengatakan aku sudah memaafkan semuanya.

Aku belum bisa.

Jadi aku tidak berbohong.

“Tapi aku belum lupa.”

Keisya menunduk.

“Aku mengerti.”

Ia pergi setelah itu.

Dan anehnya, aku merasa jauh lebih lega daripada kalau aku memaksakan diri mengatakan semua sudah baik-baik saja.

Setahun setelah kejadian tersebut, aku pulang saat ulang tahun Ayah.

Kami kembali makan di meja yang sama.

Meja tempat semuanya pernah pecah.

Raka datang lebih awal membawa kue.

Kirana duduk di kursi bayi sambil memukul-mukul sendok plastik.

Ibu mengomel karena Ayah memberinya krim terlalu banyak.

Aku tertawa melihat mereka.

Di tengah makan, Ayah tiba-tiba bertanya,

“Alya, apartemen masih mau dipertahankan setelah lulus nanti?”

Aku mengangguk.

“Kalau bisa.”

“Bagus.”

Raka bercanda.

“Jangan diberikan ke calon suami nanti. Nanti ada yang bilang aset keluarga dibawa keluar.”

Meja langsung sunyi setengah detik.

Lalu ia sendiri mengangkat tangan.

“Ya, ya. Bercanda buruk.”

Aku menatapnya.

Lalu tertawa.

Ibu juga tertawa.

Bahkan Ayah akhirnya ikut.

Untuk pertama kalinya, kenangan malam itu terasa tidak lagi seperti luka terbuka.

Setelah makan, aku berdiri di balkon bersama Ibu.

Lampu-lampu Surabaya terlihat jauh.

Aku bertanya sesuatu yang selama ini masih mengganjal.

“Bu.”

“Hm?”

“Kalau malam itu Raka tidak ketahuan soal uang perusahaan, Ibu tetap akan membela apartemenku?”

Ibu langsung menoleh.

“Kenapa kamu masih menanyakan itu?”

“Aku cuma mau tahu.”

Ia menggenggam tanganku.

“Alya.”

“Ayah dan Ibu memberi kakakmu rumah bukan karena dia laki-laki.”

“Memberimu apartemen juga bukan karena kamu perempuan.”

“Kami memberi kalian bekal sesuai tahap hidup masing-masing.”

Ia berhenti sebentar.

“Yang salah adalah ketika seseorang mulai menghitung kasih sayang seperti pembagian warisan, lalu merasa kebahagiaan orang lain pasti mengurangi bagian dirinya.”

Aku menunduk.

Ibu melanjutkan.

“Rumah bisa dibeli lagi.”

“Mobil bisa dijual.”

“Perusahaan bahkan bisa bangkrut.”

“Tapi kalau malam itu kami mengajarimu bahwa hakmu boleh diambil hanya karena seseorang membawa ancaman, pelajaran itu akan tinggal di kepalamu seumur hidup.”

Dadaku mendadak sesak.

Bukan karena sedih.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah apartemen.

Malam ketika Keisya meletakkan hasil tes kehamilan di meja, aku kira kami sedang memperebutkan uang.

Ternyata bukan.

Kami sedang menentukan batas.

Apakah seorang anak perempuan harus mundur hanya supaya orang lain merasa lebih penting.

Apakah hubungan keluarga berarti seseorang boleh menekan kita dengan rasa bersalah.

Apakah seorang cucu boleh dijadikan alat tukar.

Dan apakah kasih sayang harus dibuktikan dengan mengorbankan satu anggota keluarga demi menyenangkan anggota lainnya.

Jawaban Ibu malam itu sebenarnya sudah sangat jelas.

Tidak.

Apartemen itu akhirnya tetap menjadi milikku.

Raka harus mengembalikan uang yang ia salahgunakan dan kehilangan jabatan yang dulu ia anggap pasti menjadi miliknya.

Keisya kehilangan pernikahan yang ia coba pertahankan dengan ancaman.

Bu Mirna harus mengembalikan aset yang dibeli dari uang perusahaan.

Perusahaan selamat.

Kirana lahir sehat dan tumbuh tanpa pernah dibebani gelar “pewaris” yang dulu ditempelkan kepadanya bahkan sebelum ia lahir.

Dan aku?

Aku masuk kamar malam itu, membuka laptop, lalu melihat jadwal kuliah semester berikutnya.

Masih ada ujian.

Masih ada praktikum.

Masih ada jalan panjang sebelum aku menjadi dokter.

Tetapi kali ini, ketika melihat namaku sendiri di layar, aku tidak lagi memikirkan berapa harga apartemenku.

Aku hanya teringat satu kalimat Ibu.

Hak seseorang tidak menjadi lebih kecil hanya karena orang lain datang membawa ancaman yang lebih besar.

Aku tersenyum.

Di ruang sebelah, Kirana tertawa keras karena Ayah kembali diam-diam memberinya es krim.

Ibu langsung berteriak memarahi Ayah.

Raka tertawa.

Rumah itu kembali berisik.

Tapi bukan lagi karena perebutan uang.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa keluarga kami benar-benar sedang belajar menjadi keluarga lagi.