Bagian 3 — Jejak Transfer Membawa Saya Pulang kepada Orang-Orang yang Paling Saya Percayai
Malam itu saya tidak bisa tidur.
Di sebelah saya, Budi mendengkur seperti biasa.
Laki-laki itu tidur sangat tenang.
Sesekali tubuhnya berbalik, punggungnya menghadap saya, seolah rumah kami tidak sedang menyimpan sebuah rahasia yang bisa menghancurkan tiga puluh empat tahun pernikahan.
Saya menatap langit-langit sampai pukul dua pagi.
Saya ingin membangunkannya.
Saya ingin melempar semua bukti ke wajahnya.
Saya ingin bertanya bagaimana seorang suami bisa duduk makan masakan istrinya setiap hari sementara diam-diam membantu anak dan menantunya mengambil uang pensiun istrinya.
Tetapi saya teringat nasihat Bu Lilis.
Jangan beri tahu mereka bahwa saya sudah tahu.
Jadi saya diam.
Pagi-pagi sekali, sebelum Budi bangun, saya memasukkan sertifikat rumah warisan di Salatiga, buku tabungan lama, akta kelahiran, surat pensiun, serta beberapa dokumen penting lain ke tas.
Rumah kecil di Salatiga itu bukan rumah tempat kami tinggal.
Itu rumah peninggalan orang tua saya.
Luas tanahnya tidak sampai dua ratus meter persegi, tetapi lokasinya sekarang cukup strategis. Selama ini rumah tersebut disewakan kepada keluarga seorang guru.
Nilainya mungkin sekitar Rp500 juta.
Saya tidak pernah berniat menjualnya.
Bagi saya, rumah itu satu-satunya peninggalan yang masih menyimpan suara ibu saya.
Setelah Budi pergi ke warung kopi, saya membawa semua dokumen asli ke sebuah tempat penyimpanan aman milik kerabat yang saya percaya.
Kemudian saya pergi ke kantor BPJS Ketenagakerjaan.
Kali ini saya tidak datang hanya membawa keluhan.
Saya membawa bukti perubahan rekening.
Mutasi Bank Mandiri.
Surat pengaduan bank.
Dan foto dokumen surat kuasa yang dibawa Dinda.
Petugas yang menemui saya bernama Pak Andri.
Awalnya dia mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.
“Status manfaat pensiun Ibu memang aktif.”
Saya mendorong mutasi rekening ke arahnya.
“Betul. Aktif. Tapi masuk ke rekening yang dibuka memakai identitas saya tanpa saya memahami prosesnya.”
Pak Andri langsung berhenti mengetik.
Saya menjelaskan semuanya.
Tentang Dinda yang meminta saya melakukan verifikasi wajah dengan alasan pembaruan BPJS.
Tentang OTP.
Tentang rekening 7712.
Tentang uang yang mengalir ke Arif.
Tentang surat kuasa.
Wajah Pak Andri berubah.
Dia memanggil seorang supervisor.
Mereka memeriksa data selama hampir satu jam.
Akhirnya supervisor itu berkata,
“Bu Ratna, kami akan pasang catatan khusus pada akun Ibu dan proses perubahan rekening kembali ke rekening yang benar setelah verifikasi. Tetapi ada satu hal yang harus kami konfirmasi.”
“Apa?”
Dia menatap layar.
“Apakah Ibu sudah mengajukan pencairan Jaminan Hari Tua?”
Saya merasa dada saya langsung kosong.
“Belum.”
Supervisor itu menatap rekannya.
Lalu kembali kepada saya.
“Di sistem ada permohonan klaim awal yang dibuat kemarin sore.”
Saya memegang ujung meja.
“Berapa?”
“Estimasi saldonya sekitar Rp218 juta.”
Saya hampir tidak mendengar suara apa pun setelah angka itu disebutkan.
Dua ratus delapan belas juta rupiah.
Itu adalah uang yang terkumpul selama puluhan tahun saya bekerja.
Uang yang rencananya tidak akan saya sentuh sembarangan.
Saya ingin menyimpannya untuk biaya kesehatan ketika tua, memperbaiki rumah, dan mungkin sekali saja pergi umrah bersama kakak perempuan saya kalau kondisi memungkinkan.
Ternyata seseorang sedang mencoba mengambilnya.
“Sudah cair?”
“Belum.”
Saya mengembuskan napas panjang.
“Bisa dihentikan?”
“Kami bisa melakukan penandaan sengketa identitas dan menunda proses sambil meminta verifikasi tambahan.”
“Lakukan.”
Supervisor memberikan formulir.
Saya menandatangani setiap halaman dengan tangan yang sedikit gemetar.
Saat itulah saya sadar.
Kalau saya marah dua hari lebih cepat, mungkin mereka akan mempercepat pencairan.
Kalau saya percaya ucapan Dinda dan menandatangani map biru kemarin, mungkin hari ini Rp218 juta itu sudah berpindah tangan.
Setelah dari BPJS, saya menemui seorang pengacara bantuan hukum yang direkomendasikan Bu Lilis.
Namanya Maya Prasetyo.
Usianya lebih muda dari Dinda, tetapi cara bicaranya tenang dan tajam.
Dia membaca semua bukti.
“Bu Ratna, pertama, jangan tandatangani apa pun.”
“Saya tahu.”
“Kedua, ubah PIN semua rekening, email, dan nomor telepon yang berkaitan dengan layanan keuangan.”
“Saya lakukan hari ini.”
“Ketiga, simpan dokumen asli di tempat yang tidak bisa mereka akses.”
“Sudah.”
Maya mengangguk.
Kemudian dia menunjuk foto surat kuasa.
“Ini yang paling mengkhawatirkan.”
“Karena dana pensiun?”
“Bukan hanya itu.”
Dia memperbesar halaman paling belakang.
Ada nama sebuah kantor notaris di Ungaran.
Saya tidak memperhatikannya sebelumnya.
Maya menelepon kantor itu di depan saya.
Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa kliennya diduga menjadi korban penyalahgunaan identitas, dia meminta konfirmasi apakah ada proses dokumen atas nama Ratna Wulandari.
Kami tidak mendapatkan rincian lengkap melalui telepon.
Namun staf kantor notaris mengatakan satu hal yang cukup membuat saya mual.
Memang ada janji konsultasi tiga hari kemudian.
Pemohon membawa fotokopi sertifikat sebuah rumah di Salatiga.
Nama pemilik sertifikat:
Ratna Wulandari.
Saya langsung teringat kejadian sebulan lalu.
Dinda datang ke rumah dan berkata printer di kantornya rusak.
Dia meminjam beberapa dokumen untuk “scan sebentar”, termasuk map berisi fotokopi sertifikat rumah.
Saya tidak pernah curiga.
Dia anak saya.
Anak satu-satunya.
Kalau anak sendiri meminta fotokopi dokumen, ibu mana yang pertama-tama berpikir bahwa anaknya sedang menyiapkan sesuatu di belakangnya?
Sore itu saya membuat laporan resmi ke pihak berwenang dengan pendampingan Maya.
Saya menyerahkan kronologi.
Bukti rekening.
Mutasi transfer.
Nomor telepon.
Tangkapan layar percakapan.
Foto dokumen.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada polisi langsung datang memborgol siapa pun.
Hanya banyak pertanyaan.
Banyak formulir.
Dan banyak hal yang harus saya ingat dengan tepat.
Jam berapa Dinda datang?
Kapan verifikasi wajah dilakukan?
Apakah saya membacakan OTP?
Apakah saya pernah mengizinkan pembukaan rekening?
Apakah uang Rp3,5 juta yang masuk ke Arif mungkin merupakan pembayaran utang?
Saya menjawab semuanya.
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Malamnya saya pulang seperti biasa.
Budi sedang mengupas mangga di dapur.
“Kok pulangnya sore?”
“Ketemu teman kantor.”
“Siapa?”
“Bu Lilis.”
Pisau di tangannya berhenti sepersekian detik.
Kemudian bergerak lagi.
“Oh.”
Hanya satu kata.
Tetapi saya melihat perubahan kecil di wajahnya.
Dia gugup.
Saya duduk di meja makan.
“Mas.”
“Hmm?”
“Kalau nanti uang JHT saya cair, menurutmu sebaiknya diapakan?”
Pisau itu kembali berhenti.
Budi menatap saya.
“Mau dicairkan?”
“Belum tahu.”
Dia meletakkan mangga.
“Kalau menurutku, jangan semuanya disimpan. Dinda kan masih nyicil apartemen. Kita bantu anak sendiri tidak salah.”
Saya hampir tertawa.
Jadi beginilah cara orang menguji batas.
Pertama dia mengatakan saya pelupa.
Kemudian dia menyarankan uang saya untuk anak.
Besok mungkin dia akan mengatakan semuanya memang hak keluarga.
Saya menjawab pelan,
“Nanti saya pikirkan.”
Tiga hari berikutnya saya bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
Saya memasak.
Menyapu.
Pergi ke pasar.
Menonton sinetron bersama Budi.
Tetapi diam-diam saya mencatat setiap percakapan penting.
Bank mengonfirmasi rekening 7712 sudah diberi pembatasan pengamanan sementara karena sengketa.
BPJS mengonfirmasi proses JHT ditunda.
Nomor telepon dan email saya diperbaiki.
Kemudian satu hal yang tidak saya duga terjadi.
Arif datang sendiri ke rumah.
Dinda masih bekerja.
Budi sedang keluar.
Arif membawa dua kotak martabak.
“Buat Mama.”
Saya mempersilahkannya masuk.
Dia duduk di ruang tamu sambil tersenyum.
“Ma, soal surat kemarin…”
“Kenapa?”
“Mama tanda tangan saja.”
“Saya belum sempat baca.”
“Tidak usah terlalu dipikirkan.”
Saya menatapnya.
“Kalau tidak perlu dipikirkan, kenapa harus tanda tangan?”
Senyumnya menghilang sedikit.
“Maksud saya, itu cuma supaya Dinda bisa bantu Mama.”
“Saya masih bisa mengurus diri sendiri.”
Arif tertawa pendek.
“Ya sekarang bisa. Nanti bagaimana?”
Saya tidak menjawab.
Dia mencondongkan tubuh.
“Ma, kami ini keluarga. Jangan terlalu perhitungan soal uang.”
Saya langsung teringat Rp7.280.000.
Uang yang masuk ke rekeningnya.
Saya bertanya,
“Kalau uang keluarga, berarti semua orang boleh ambil tanpa bilang?”
Arif menatap saya beberapa detik.
Untuk pertama kalinya wajahnya tidak ramah.
“Mama ngomong apa?”
“Saya cuma tanya.”
Dia bangkit.
“Saya pulang dulu.”
Setelah pintu tertutup, saya sadar tangan saya dingin.
Dua puluh menit kemudian Dinda menelepon.
“Mama ngomong apa ke Arif?”
“Memangnya dia bilang apa?”
“Mama jangan bikin suasana aneh.”
Saya menahan diri.
“Kamu sedang kerja. Fokus kerja saja.”
Dia langsung menutup telepon.
Malamnya Dinda dan Arif datang bersama.
Tidak membawa martabak.
Tidak tersenyum.
Begitu masuk, Dinda langsung berkata,
“Mama pergi ke bank?”
Saya menatapnya.
Budi yang sedang duduk di ruang tengah ikut menoleh.
Jadi akhirnya mereka tahu.
Saya tidak menjawab.
Dinda maju satu langkah.
“Mama blokir rekening itu?”
Saya memandang wajah anak saya.
“Rekening apa?”
Ruangan langsung sunyi.
Dinda menyadari kesalahannya terlambat.
Budi berdiri.
“Sudah.”
Dia menatap Dinda.
Kemudian menatap saya.
“Ratna, kita bicara baik-baik.”
Saya tertawa kecil.
“Jadi Mas juga tahu?”
Budi mengusap wajah.
“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”
“Kalimat itu biasanya dipakai orang ketika kenyataannya persis seperti yang dipikirkan.”
Dinda mulai menangis.
“Ma, aku terpaksa.”
“Terpaksa membuka rekening memakai identitas saya?”
“Kami cuma pinjam.”
“Pinjam?”
Suara saya naik untuk pertama kalinya.
“Kalau pinjam, orang minta izin.”
Arif ikut bicara.
“Kami berniat mengembalikan.”
“Dari mana?”
Dia diam.
Saya mengeluarkan salinan mutasi rekening dari tas.
“Rp3.500.000 ke rekeningmu. Rp3.600.000 untuk booking unit apartemen.”
Wajah Dinda pucat.
Budi berkata,
“Ratna, Dinda cuma butuh bantuan uang muka.”
“Lalu kenapa tidak bilang kepada saya?”
“Karena kamu pasti tidak setuju.”
Saya menatap suami saya.
Dia baru saja memberikan jawaban paling jujur malam itu.
Mereka tidak meminta izin karena tahu saya akan menolak.
Bukan karena lupa.
Bukan karena keadaan darurat.
Mereka memang sengaja melewati saya.
Saya mengeluarkan foto surat kuasa.
“Kalau ini?”
Tidak ada yang menjawab.
“JHT Rp218 juta juga cuma mau ‘dipinjam’?”
Dinda menutup mulut.
Arif menatap Budi dengan marah.
Budi langsung membentak,
“Kamu sudah sampai BPJS?”
Saya tersenyum pahit.
“Kenapa? Takut?”
Budi menunjuk saya.
“Kamu jangan bikin masalah besar dari urusan keluarga!”
Saya berdiri.
“Yang membuka rekening diam-diam siapa?”
“Yang mengambil uang siapa?”
“Yang menyiapkan surat kuasa siapa?”
“Yang sekarang bikin masalah siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Lalu saya mengucapkan satu kata.
“Salatiga.”
Wajah Arif berubah.
Saya tahu saat itu juga.
Dia tahu soal rumah itu.
Budi menghampiri saya.
“Ratna, dengar dulu.”
“Tidak perlu.”
“Itu cuma rencana.”
“Rencana apa?”
Dinda tiba-tiba berteriak,
“Karena apartemen kami hampir batal!”
Saya menoleh.
Air matanya mengalir.
“Arif sudah bayar booking. Ada cicilan. Ada utang. Kalau tidak diteruskan semua uang hilang!”
“Lalu?”
“Mama punya rumah kosong!”
Saya sampai tidak bisa langsung bicara.
Rumah kosong.
Begitulah anak saya menyebut rumah tempat ibunya dibesarkan.
Saya berkata sangat pelan,
“Jadi kalian mau menjualnya?”
Dinda menangis semakin keras.
“Nanti kalau kondisi kami sudah baik, kami ganti!”
Saya hampir menjawab.
Tetapi ponsel saya tiba-tiba berdering.
Nomor kantor bank.
Saya mengangkat.
Petugas keamanan transaksi berbicara cepat.
“Bu Ratna, kami ingin mengonfirmasi aktivitas mencurigakan pada rekening yang sedang dalam sengketa. Sekitar lima belas menit lalu ada upaya aktivasi ulang melalui perangkat baru.”
Saya menatap Dinda.
Kemudian Arif.
Petugas melanjutkan,
“Selain itu ada unggahan dokumen surat kuasa baru untuk permintaan pencairan dana.”
Saya merasa seluruh ruangan seperti berhenti bergerak.
“Saya sedang bersama keluarga saya sekarang.”
“Baik, Bu. Apakah Ibu mengenali permintaan tersebut?”
“Tidak.”
“Kalau begitu kami lanjutkan pemblokiran keamanan.”
Telepon saya tutup.
Saya mengangkat kepala.
“Siapa yang mencoba lima belas menit lalu?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar bunyi kecil dari saku celana Arif.
Sebuah notifikasi.
Saya melihat wajahnya.
Dia langsung merogoh ponsel.
Dan saat itulah saya mengerti sesuatu yang jauh lebih buruk daripada uang yang sudah diambil.
Bahkan setelah tahu saya menemukan semuanya, mereka masih mencoba melanjutkan.
