Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Hanya Akan Mempermalukan Mereka, Padahal Aku Datang dengan Bukti, Saksi, dan Keputusan yang Mengubah Hidup Kami Semua Selamanya

Avatar penulis
Cerita 02
12 menit baca 388 tayangan
Auto Draft
Indeks

Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Hanya Akan Mempermalukan Mereka, Padahal Aku Datang dengan Bukti, Saksi, dan Keputusan yang Mengubah Hidup Kami Semua Selamanya

Aku tidak langsung mengumumkan angka Rp74,6 miliar.

Bukan karena aku ingin melindungi Raka.

Aku hanya tidak mau mengubah sebuah proses audit menjadi tontonan balas dendam.

Aku menutup tablet.

Kemudian berkata kepada mikrofon, “Informasi tambahan baru diterima. Demi melindungi kepentingan karyawan, kreditur, dan pemegang saham PT Mahendra Infrastruktur, detail selanjutnya akan disampaikan melalui prosedur resmi.”

Raka terlihat sedikit lega.

Ia salah mengartikannya sebagai kesempatan.

Begitu sesi selesai, ia langsung mendatangiku di belakang panggung.

“Nadira.”

Tangannya hampir menyentuh lenganku sebelum salah satu staf keamanan berdiri di antara kami.

Raka memandang pria itu tidak percaya.

“Itu istri saya.”

Aku menjawab, “Jangan sentuh aku.”

Kalimat sederhana itu menghentikannya.

Maya berdiri sekitar tiga meter di belakangnya.

Ratih dan Tania juga sudah datang.

Ratih yang pertama bicara.

“Kamu keterlaluan.”

Aku menatapnya.

“Maaf?”

“Kamu sengaja mempermalukan suamimu di depan orang banyak.”

Aku hampir tidak percaya bahkan setelah apa yang baru saja tampil di layar, hal pertama yang dipikirkannya tetap reputasi Raka.

“Bu Ratih,” kataku, “yang muncul di layar bukan kehidupan pribadi kami. Itu transaksi perusahaan.”

“Raka pasti punya alasan.”

“Ada Rp74,6 miliar yang sedang diperiksa.”

Ratih terdiam.

Tania menatap kakaknya.

“Berapa?”

Raka langsung menyela.

“Jangan percaya begitu saja. Angka itu belum final.”

Pak Arman keluar dari holding room membawa dua orang dari firma audit independen.

Salah satunya perempuan bernama Lestari Wibowo, partner senior yang memimpin pemeriksaan.

Ia berkata, “Pak Raka benar dalam satu hal. Pemeriksaan belum final.”

Raka seperti mendapat napas baru.

Lestari melanjutkan, “Karena kami masih menemukan transaksi tambahan.”

Wajahnya kembali pucat.

Kami pindah ke sebuah ruang rapat kecil agar tidak menarik perhatian tamu.

Di dalam ruangan terdapat aku, Pak Arman, dua auditor, Raka, Maya, seorang penasihat hukum Arunika, serta dua komisaris independen PT Mahendra Infrastruktur yang kebetulan juga hadir di gala.

Ratih mencoba ikut masuk.

Salah satu komisaris meminta ia menunggu di luar.

Untuk pertama kalinya malam itu, ibu mertuaku tidak bisa memerintah siapa pun.

Pintu ditutup.

Lestari membuka laptop.

“Pemeriksaan awal dimulai karena adanya ketidaksesuaian antara laporan arus kas dengan perkembangan fisik proyek Bekasi.”

Sebuah tabel muncul.

Raka menyilangkan tangan.

“Biaya konstruksi naik.”

“Benar,” jawab Lestari. “Tetapi kenaikan material tidak menjelaskan pembayaran konsultasi Rp12,4 miliar kepada perusahaan yang tidak memiliki pegawai tetap.”

Maya menelan ludah.

Lestari membuka dokumen berikutnya.

PT Lintas Prima Konsultan ternyata didaftarkan dua tahun sebelumnya.

Alamat kantornya sebuah ruko kecil di Tangerang.

Pemilik manfaatnya adalah Dimas Adinata, kakak Maya.

Perusahaan itu menerima pembayaran untuk “strategi pemasaran, komunikasi krisis, dan akuisisi lahan”.

Masalahnya, beberapa pekerjaan yang ditagihkan ternyata sudah dilakukan oleh divisi internal perusahaan Raka.

Artinya ada pembayaran ganda.

Lebih buruk lagi, sebagian pembayaran kemudian berpindah ke dua rekening lain.

Salah satunya milik sebuah perusahaan perjalanan.

Yang satu lagi perusahaan penyewaan kendaraan.

“Keduanya juga terhubung dengan keluarga Adinata,” kata Lestari.

Raka memukul meja.

“Aku tidak tahu itu.”

Maya langsung menoleh.

“Kamu tanda tangan semua pembayaran!”

“Aku tanda tangan karena kamu bilang dokumennya sudah diperiksa!”

“Jangan lempar semuanya kepadaku.”

Mereka mulai saling menyalahkan.

Aku duduk diam.

Delapan tahun aku sering mendengar Raka berkata seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas semua keputusan.

Malam itu, ketika keputusan buruknya muncul satu per satu, ia bahkan tidak sanggup bertanggung jawab atas tanda tangannya sendiri.

Salah satu komisaris, Pak Gunawan, bertanya, “Apakah ada indikasi dana kembali kepada direksi?”

Lestari mengangguk pelan.

“Kami menemukan satu jalur transaksi yang sedang diverifikasi.”

Raka langsung berdiri.

“Ini fitnah.”

“Duduk,” kata Pak Gunawan.

Nada suaranya berubah.

Raka duduk kembali.

Lestari menunjukkan tabel lain.

Beberapa minggu setelah PT Lintas Prima menerima pembayaran besar, sebuah perusahaan penyewaan kendaraan membayar cicilan mobil mewah yang digunakan Maya.

Ada juga pembayaran hotel di Bali, Singapura, dan Surabaya.

Nama reservasi berbeda-beda.

Namun dua nama tamunya sama.

Raka Mahendra.

Maya Adinata.

Ruangan sunyi.

Aku sudah mengetahui perselingkuhan mereka beberapa hari sebelumnya.

Bukan dari auditor.

Dari pesan yang kulihat secara tidak sengaja ketika tablet keluarga tersinkronisasi dengan akun Raka.

Aku tidak pernah berniat membawanya ke urusan investasi.

Tetapi ternyata sebagian perjalanan mereka dibayar dari uang perusahaan.

Sekarang masalah pribadi dan bisnis memang bertemu di tempat yang sama.

Raka menatapku.

“Nadira, dengarkan aku.”

Aku tidak menjawab.

“Hubunganku dengan Maya tidak ada hubungannya dengan—”

“Berapa lama?”

Maya menutup mata.

Raka diam.

Aku bertanya lagi.

“Berapa lama?”

“Tujuh bulan.”

Maya tertawa pahit.

“Sebelas.”

Raka langsung menoleh kepadanya.

Aku bahkan tidak marah lagi.

Ada titik ketika rasa kecewa terlalu besar untuk terasa panas.

Ia justru menjadi dingin.

“Sebelas bulan,” ulangku.

Raka mengusap wajah.

“Aku melakukan kesalahan.”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Salah kirim email itu kesalahan. Lupa ulang tahun itu kesalahan. Sebelas bulan menyewa kamar hotel, berbohong soal perjalanan bisnis, lalu membiarkan istrimu menyiapkan makan malam untuk ibumu sementara kamu menjemput perempuan lain bukan satu kesalahan.”

Ia tidak punya jawaban.

Pak Gunawan memotong.

“Kita kembali ke perusahaan.”

Itulah kalimat yang akhirnya menghancurkan sisa kendali Raka.

Karena ia sadar persoalan terbesar malam itu bukan apakah aku akan memaafkannya.

Persoalan terbesar adalah apakah ia masih punya perusahaan besok pagi.

Dua komisaris keluar sebentar untuk menelepon anggota dewan lain.

Sekitar dua puluh menit kemudian mereka kembali.

Pak Gunawan meletakkan sebuah dokumen di depan Raka.

“Mulai malam ini, dewan komisaris menonaktifkan sementara Anda dari seluruh kewenangan operasional sampai pemeriksaan selesai.”

“Apa?”

“Akses perbankan perusahaan dibekukan untuk transaksi di atas batas tertentu. Direktur keuangan mengambil alih operasional harian.”

Raka bangkit.

“Perusahaan itu aku yang bangun!”

Pak Gunawan menjawab tenang.

“Dan justru karena itu Anda seharusnya menjaganya.”

Raka menunjuk kepadaku.

“Ini karena dia!”

Aku menggeleng.

“Tidak. Ini karena tanda tanganmu.”

Maya mencoba meninggalkan ruangan.

Penasihat hukum menghentikannya.

“Bu Maya, kami tidak menahan Anda. Tetapi perusahaan akan mengirim surat resmi malam ini agar seluruh perangkat dan dokumen kerja diamankan untuk kepentingan audit.”

“Aku mengundurkan diri.”

Pak Gunawan menjawab, “Silakan ajukan. Kewajiban memberikan keterangan tetap ada.”

Satu jam kemudian, keputusan investasi Arunika resmi diterbitkan.

DITOLAK.

Bukan karena aku istri Raka.

Justru aku meminta seluruh anggota komite selain diriku melakukan voting agar tidak ada konflik kepentingan.

Lima suara menolak.

Tidak ada yang menerima.

Aku bahkan tidak ikut memilih.

Alasan keputusan itu sederhana:

risiko tata kelola terlalu tinggi.

Ketika kami akhirnya keluar dari ruang rapat, sebagian besar tamu sudah pulang.

Ratih langsung menghampiri Raka.

“Apa yang mereka lakukan?”

Raka tidak menjawab.

Ratih memandangku.

“Nadira, kamu bisa memperbaiki ini.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana?”

“Kamu pemilik Arunika, kan? Setujui saja investasinya.”

Saat itulah aku benar-benar memahami perempuan di depanku.

Bahkan setelah tahu anaknya berselingkuh.

Bahkan setelah tahu ada puluhan miliar rupiah yang sedang diperiksa.

Ia masih percaya tugasku adalah menyelamatkan Raka.

“Aku tidak akan mempertaruhkan uang investor, dana pensiun mitra, dan masa depan ratusan pekerja hanya untuk melindungi suamiku dari akibat keputusannya sendiri.”

Ratih merendahkan suara.

“Tapi kalian keluarga.”

“Justru keluarga seharusnya tidak meminta seseorang ikut menutup kesalahan.”

Ia menatapku dengan kebencian yang tidak lagi berusaha disembunyikan.

“Kamu memang menunggu kesempatan ini, ya?”

Aku mengangkat tangan yang tadi terluka.

Plester masih menempel di jariku.

“Tiga jam lalu saya berdiri di dapur rumah saya dengan tangan berdarah. Ibu menyuruh saya mencuci piring. Anak Ibu membawa perempuan lain sebagai pasangannya dan mengatakan saya tidak cukup pantas berdiri di sampingnya.”

Ratih tidak menjawab.

“Kalau saya benar-benar merencanakan balas dendam, Bu, saya tidak perlu menunggu delapan tahun.”

Aku meninggalkan hotel pukul satu lewat dua belas malam.

Aku tidak pulang ke Pondok Indah.

Aku menginap di apartemen kecil milikku di Kuningan yang selama ini kupakai jika rapat selesai terlalu malam.

Pukul tujuh pagi, Raka menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Pukul tujuh lewat lima.

Ia menelepon lagi.

Kemudian pesan mulai masuk.

Kita harus bicara.

Aku bisa menjelaskan semuanya.

Jangan ambil keputusan saat emosi.

Pesan terakhir membuatku tersenyum miris.

Delapan tahun aku menahan diri agar tidak dianggap emosional.

Sekarang, setelah aku akhirnya membuat keputusan, ia masih mencoba menjelaskan keputusan itu sebagai ledakan perasaan.

Aku menghubungi pengacara.

“Siapkan permohonan perceraian.”

Ada jeda di ujung telepon.

“Sudah yakin?”

“Sudah.”

Kami memiliki perjanjian perkawinan pemisahan harta yang dibuat sebelum menikah karena struktur kepemilikan perusahaan keluargaku.

Dulu Ratih bahkan mengejek perjanjian itu.

Katanya keluargaku terlalu paranoid seolah memiliki kerajaan bisnis.

Pagi itu, dokumen yang pernah ia tertawakan justru membuat segalanya jauh lebih sederhana.

Rumah Pondok Indah dibeli bersama setelah pernikahan.

Bagian kepemilikanku tercatat jelas.

Aset perusahaanku tetap milikku.

Saham perusahaan Raka tetap miliknya.

Utangnya juga tidak otomatis menjadi milikku.

Aku tidak mengambil sesuatu yang bukan hakku.

Aku hanya berhenti membiarkan orang lain hidup seolah semua milikku adalah milik mereka.

Tiga hari kemudian, audit forensik resmi dimulai.

Kabar penonaktifan Raka menyebar di media bisnis.

Aku tidak memberikan wawancara tentang pernikahan kami.

Ketika wartawan bertanya, pernyataanku hanya satu:

“Urusan keluarga diselesaikan secara pribadi. Urusan tata kelola perusahaan harus diselesaikan berdasarkan dokumen.”

Maya mengundurkan diri.

Kakaknya diperiksa oleh auditor dan penasihat hukum perusahaan.

Sebagian pembayaran kepada vendor akhirnya dinyatakan tidak memiliki dasar pekerjaan yang memadai.

PT Mahendra Infrastruktur mengajukan tuntutan pemulihan dana terhadap beberapa pihak terkait.

Beberapa minggu kemudian, laporan juga disampaikan kepada aparat berwenang terkait dugaan transaksi yang dinilai perlu diperiksa lebih lanjut.

Aku tidak mengumumkan bahwa siapa pun bersalah.

Itu bukan wewenangku.

Tetapi dokumen berbicara cukup keras.

Dua bulan kemudian, dewan perusahaan menyelesaikan pemeriksaan internal.

Raka dicopot dari jabatan direktur utama.

Ia masih memiliki saham.

Namun ia kehilangan kekuasaan operasional.

Perusahaan memilih direktur profesional baru dan menyusun restrukturisasi utang.

Proyek Bekasi tidak langsung mati.

Justru setelah pergantian manajemen, para kreditur bersedia membuka kembali pembicaraan.

Ada satu syarat penting:

operasional harus transparan dan pembayaran pekerja diprioritaskan.

Arunika tidak masuk sebagai investor.

Kami tidak berubah pikiran.

Namun perusahaan lain akhirnya menawarkan pembiayaan terbatas setelah enam bulan perbaikan tata kelola.

Hal pertama yang dilakukan manajemen baru adalah membayar tunggakan upah pekerja.

Saat aku membaca kabar itu, itulah satu-satunya bagian dari seluruh kekacauan yang membuatku benar-benar lega.

Para pekerja tidak seharusnya membayar harga dari kesombongan atasannya.

Perceraianku dengan Raka berjalan lebih buruk secara emosional daripada secara hukum.

Di mediasi pertama, ia masih mencoba berbicara seolah kami bisa kembali.

“Aku kehilangan arah,” katanya.

Aku duduk di seberang meja.

“Aku juga pernah kehilangan arah.”

Ia mengangkat wajah.

“Bedanya, aku tidak tidur dengan direktur komunikasiku.”

Ia menunduk.

“Nadira…”

“Aku tidak membencimu, Raka.”

Itu benar.

Kebencian membutuhkan terlalu banyak tenaga.

“Aku hanya tidak mau lagi hidup bersama seseorang yang baru menghargai aku setelah tahu berapa nilai saham yang kumiliki.”

Wajahnya berubah.

“Aku tidak pernah peduli soal uangmu.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu mungkin tidak peduli ketika mengira aku tidak punya banyak.”

Ia tidak menjawab.

Di luar ruang mediasi, Ratih menungguku.

Ia terlihat lebih tua dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Untuk sesaat kupikir ia akan kembali menyalahkanku.

Ternyata tidak.

“Saya seharusnya tidak memperlakukan kamu seperti itu.”

Aku tidak mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Karena tidak.

Aku juga tidak memeluknya.

Beberapa luka tidak perlu dibalas.

Tetapi luka juga tidak wajib dianggap tidak pernah terjadi.

“Semoga Ibu baik-baik saja,” jawabku.

Hanya itu.

Kami berjalan ke arah yang berbeda.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.

Rumah Pondok Indah dijual.

Bagian masing-masing dibagi sesuai kesepakatan hukum.

Aku membeli rumah yang lebih kecil di Jakarta Selatan.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada tangga marmer.

Tidak ada dapur sebesar restoran.

Tetapi setiap benda di rumah itu terasa seperti milikku sendiri.

Pada Minggu pertama setelah pindah, aku membeli satu set gelas biasa dari toko rumah tangga.

Bukan kristal.

Bukan barang mewah.

Hanya gelas sederhana.

Saat mencucinya, salah satu hampir terlepas dari tanganku.

Aku refleks menangkapnya.

Kemudian tertawa sendirian.

Tidak ada yang berteriak.

Tidak ada yang memanggilku ceroboh.

Tidak ada yang menyuruhku membersihkan rumah sebelum mereka pergi bersenang-senang.

Rumah itu sunyi.

Dan untuk pertama kalinya, sunyi tidak terasa seperti hukuman.

Sunyi terasa seperti kebebasan.

Setahun setelah gala tersebut, Arunika mengadakan pertemuan tahunan di hotel yang sama.

Aku hampir menolak hadir.

Lalu aku berubah pikiran.

Bukan karena ingin membuktikan sesuatu.

Aku hanya tidak ingin satu malam buruk memiliki kuasa atas sebuah tempat selama sisa hidupku.

Ketika aku memasuki ballroom, Pak Arman mendekat.

“Masih ingat malam tahun lalu?”

“Sayangnya.”

Ia tertawa.

“Tahun ini lebih tenang.”

“Semoga saja.”

Dalam presentasiku malam itu, aku membahas satu program baru.

Arunika membentuk dana pembiayaan untuk kontraktor menengah yang bersedia menjalankan sistem pembayaran langsung kepada pekerja dan pemasok kecil.

Program itu lahir karena apa yang kulihat dalam kasus Mahendra Infrastruktur.

Aku belajar satu hal dari kehancuran rumah tanggaku:

uang bukan hanya angka.

Di belakang satu transfer ada gaji seseorang.

Biaya sekolah seorang anak.

Obat orang tua.

Cicilan rumah.

Makanan di meja.

Ketika orang berkuasa mempermainkan angka, biasanya ada orang yang tidak punya kuasa yang menanggung akibatnya.

Selesai acara, seorang perempuan muda dari salah satu perusahaan portofolio menghampiriku.

“Bu Nadira?”

“Ya?”

“Saya boleh tanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Bagaimana Ibu bisa tetap tenang ketika semuanya terjadi?”

Aku tersenyum.

“Aku tidak tenang.”

Ia terlihat bingung.

“Aku marah. Aku takut. Aku malu. Aku sedih.”

“Lalu?”

“Aku hanya belajar bahwa perasaan tidak harus menentukan tindakanku.”

Aku melihat ballroom yang setahun sebelumnya menjadi tempat pernikahanku runtuh.

“Kadang-kadang kita tidak perlu berteriak supaya didengar.”

Perempuan itu mengangguk.

Setelah ia pergi, aku berdiri sebentar di dekat jendela.

Jakarta berkilau di bawah.

Ponselku bergetar.

Bukan pesan dari Raka.

Bukan berita audit.

Bukan telepon dari pengacara.

Pesan itu dari ibuku di Semarang.

Pulang akhir pekan ini? Ibu bikin lumpia.

Aku tersenyum.

Pulang.

Tidak lama kemudian aku meninggalkan ballroom.

Sendirian.

Tetapi tidak kesepian.

Aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.

Kemenangan terbesarku bukan ketika ratusan orang mengetahui bahwa aku mengendalikan perusahaan yang desperately ingin didekati Raka.

Bukan ketika namanya muncul di layar audit.

Bukan ketika dewan mencopotnya.

Bukan ketika Maya meninggalkannya setelah hubungan mereka ikut runtuh di bawah tekanan penyelidikan.

Bahkan bukan ketika perceraian selesai.

Kemenangan terbesarku terjadi jauh lebih sederhana.

Pada malam ketika jariku berdarah di dapur itu, aku akhirnya berhenti bertanya:

“Apa lagi yang harus kulakukan supaya mereka menghargai aku?”

Dan mulai bertanya:

“Mengapa aku terus tinggal di tempat yang membuatku harus memohon untuk dihargai?”

Raka kehilangan jabatan karena keputusannya sendiri.

Maya kehilangan kariernya karena tindakannya sendiri.

Ratih kehilangan kendali atas diriku karena aku akhirnya memberinya batas.

Sedangkan aku?

Aku tidak mengambil kerajaan mereka.

Aku tidak menghancurkan hidup siapa pun.

Aku hanya mengambil kembali hidupku sendiri.

Dan ternyata—

itulah satu-satunya kemenangan yang benar-benar kubutuhkan.