Bagian 3 — Saat Ayah Menyebut Semua Itu Sekadar Menolong, Ibu Membuka Rekening Pendidikan, Catatan Sekolah, dan Satu Persatu Kebohongannya di Meja Mediasi

Avatar penulis
Cerita 02
15 menit baca 1,407 tayangan
Bagian 3 — Saat Ayah Menyebut Semua Itu Sekadar Menolong, Ibu Membuka Rekening Pendidikan, Catatan Sekolah, dan Satu Persatu Kebohongannya di Meja Mediasi
Indeks

Bagian 3 — Saat Ayah Menyebut Semua Itu Sekadar Menolong, Ibu Membuka Rekening Pendidikan, Catatan Sekolah, dan Satu Persatu Kebohongannya di Meja Mediasi

Malam itu kami benar-benar pergi.

Eyang tinggal sekitar empat puluh menit dari rumah kami, di kawasan Antapani. Sepanjang perjalanan aku duduk di kursi belakang sambil memeluk ransel sekolah. Tidak ada yang berbicara.

Ibu beberapa kali mengusap wajahnya ketika berhenti di lampu merah.

Aku tahu beliau menangis.

Hanya saja beliau tidak mau aku melihatnya.

Ketika kami sampai, Eyang Putri langsung membuka pintu. Beliau tidak bertanya banyak setelah melihat koper kami. Eyang hanya memeluk Ibu, kemudian membawaku ke kamar yang biasanya kupakai saat menginap.

Malam itu aku tidur di sebelah Ibu.

Sebelum lampu dimatikan, aku bertanya,

“Bu, Ayah akan tinggal sama Caca sekarang?”

Ibu menoleh.

“Tidak ada yang tahu Ayah akan memilih tinggal dengan siapa.”

“Kalau Ayah mau tinggal sama mereka, tidak apa-apa.”

Aku menarik selimut sampai ke dagu.

“Asal jangan suruh aku menunggu lagi.”

Ibu tidak menjawab cukup lama.

Kemudian tangannya memelukku.

“Mulai sekarang, Ibu tidak akan membuat Naya menunggu seseorang yang terus-menerus tidak datang.”

Keesokan harinya Ayah mengirim banyak pesan.

Awalnya beliau meminta maaf.

Kemudian menjelaskan.

Setelah itu menyalahkan Ibu.

Menjelang siang, nada pesannya berubah lagi menjadi marah.

Katanya Ibu terlalu sensitif.

Katanya rumah tangga tidak seharusnya dihancurkan hanya karena “beberapa bantuan”.

Katanya semua uang yang diberikan kepada Tante Rina akan dikembalikan.

Katanya aku masih terlalu kecil sehingga Ibu seharusnya tidak melibatkan emosiku dalam masalah orang dewasa.

Ibu tidak membalas satu pun.

Beliau hanya membuat sebuah folder baru di laptop.

Namanya:

NAYA.

Di dalamnya Ibu menyimpan seluruh bukti.

Mutasi rekening.

Tangkapan layar percakapan.

Jadwal penjemputanku.

Pesan dari tempat kursus ketika Ayah terlambat.

Catatan sekolah.

Pesan Bu Siska tentang pergantian susunan pentas.

Bahkan foto-foto yang selama berbulan-bulan dikirim Ayah ke grup keluarga.

Baru setelah dikumpulkan, polanya terlihat sangat jelas.

Ayah sering mengatakan sedang bekerja.

Namun pada tanggal-tanggal tertentu beliau ternyata berada bersama Tante Rina dan Caca.

Mengantar ke dokter gigi.

Membantu pindahan.

Membeli meja belajar.

Mengurus pendaftaran sekolah.

Menghadiri bazar.

Bahkan datang ke acara “Hari Keluarga” di tempat kursus menggambar Caca.

Sementara pada hari yang sama, aku pernah menunggu beliau meneleponku karena Ayah berjanji akan melihat hasil gambar yang kubuat di kelas seni.

Telepon itu tidak pernah datang.

Yang paling menyakitkan justru sebuah foto.

Di foto tersebut Caca sedang memegang piala kecil.

Ayah berdiri di sebelahnya.

Tante Rina di sisi lain.

Mereka bertiga tersenyum ke kamera.

Di belakang mereka ada tulisan besar:

KELUARGA ADALAH TEMPAT PULANG.

Foto itu diambil tepat pada hari ulang tahunku yang keenam.

Hari ketika Ayah datang terlambat hampir tiga jam karena katanya ada klien mendadak.

Aku tidak menangis ketika melihat foto itu.

Aku hanya bertanya,

“Ini sebelum Ayah datang bawa kue?”

Ibu menutup laptop.

“Iya.”

“Berarti waktu aku tunggu, Ayah ada di sini?”

“Iya.”

Aku mengangguk.

Setelah itu aku turun dari kursi.

“Aku mau gambar.”

Mungkin karena aku tidak menangis, Ibu justru terlihat lebih sedih.

Dua hari kemudian Tante Rina datang ke rumah Eyang.

Beliau datang sendirian.

Ibu tidak ingin menerimanya, tetapi Eyang berkata lebih baik semua hal jelas sekarang daripada muncul cerita lain nanti.

Aku diminta bermain di kamar.

Namun rumah Eyang tidak besar.

Aku tetap bisa mendengar suara mereka.

“Saya sungguh minta maaf, Bu Maya.”

Suara Tante Rina bergetar.

“Saya tidak pernah berniat mengambil suami Ibu.”

Ibu menjawab datar.

“Masalah saya bukan apakah Anda mengambil suami saya atau tidak. Suami saya bukan barang yang bisa diambil kalau dia sendiri tidak berjalan ke sana.”

Tante Rina terdiam.

“Saya memang menerima bantuannya,” lanjutnya. “Saya salah. Awalnya cuma saat Caca sakit. Lalu biaya kontrakan. Setelah itu Mas Ardi menawarkan membantu sekolah.”

“Apakah Anda tahu uang sekolah itu diambil dari tabungan Naya?”

“Tidak.”

“Apakah Anda tahu suami saya membatalkan janji dengan anaknya berkali-kali untuk menemani kalian?”

Kali ini Tante Rina tidak langsung menjawab.

“Ada beberapa kali saya tahu.”

“Lalu Anda tetap menerima?”

“Saya pikir urusan keluarga kalian sudah dibicarakan.”

Ibu tertawa pendek.

“Semua orang rupanya mengira sudah dibicarakan, kecuali istri dan anaknya.”

Tante Rina kemudian mengatakan sesuatu yang bahkan tidak diketahui Ibu.

Selama lima bulan terakhir, Ayah tidak hanya membantu uang.

Beliau juga mulai memperkenalkan diri kepada beberapa orang di sekolah Caca sebagai “orang yang bisa dihubungi kalau ada apa-apa”.

Ketika sekolah meminta dua kontak darurat, Ayah memberikan nomornya sendiri.

Ketika ada pertemuan orang tua yang tidak bisa dihadiri Tante Rina, Ayah yang datang.

Bahkan ketika Caca mengalami konflik kecil dengan temannya, Ayah pernah datang menemui wali kelas.

Sementara ketika aku demam di sekolah beberapa bulan sebelumnya, petugas UKS menelepon Ayah tiga kali tanpa jawaban.

Ibu akhirnya meninggalkan rapat kantor dan menjemputku.

Aku masih ingat hari itu.

Saat pulang, Ayah hanya berkata,

“Maaf, ponsel Ayah silent.”

Ternyata pada jam yang sama beliau sedang membantu Tante Rina memperpanjang kontrakan.

Sebelum pulang, Tante Rina mengeluarkan amplop.

Di dalamnya ada uang Rp4.000.000.

“Saya baru bisa mengembalikan segini.”

Ibu mendorong amplop itu kembali.

“Transfer ke rekening yang sama dan tulis keterangannya. Saya ingin semuanya tercatat.”

Tante Rina mengangguk.

“Bu Maya…”

“Ada satu hal lagi.”

Suara Ibu berubah tegas.

“Mulai hari ini jangan meminta bantuan apa pun kepada Ardi yang berkaitan dengan anak saya, uang saya, jadwal keluarga saya, atau rumah saya. Apa pun hubungan kalian setelah ini, saya tidak peduli. Tapi jangan pernah lagi menjadikan Naya sebagai orang yang harus mengalah supaya kalian merasa hidup kalian lebih ringan.”

Tante Rina menunduk.

“Saya mengerti.”

Setelah beliau pergi, aku keluar dari kamar.

Ibu langsung melihatku.

“Kamu dengar?”

“Sedikit.”

Ibu menarikku duduk di sampingnya.

“Naya, Tante Rina bukan alasan Ayah melakukan semua ini.”

Aku bingung.

“Kenapa?”

“Karena orang dewasa bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kalau Ayah berkata iya, itu pilihan Ayah. Kalau Ayah mengambil uang, itu pilihan Ayah. Kalau Ayah membatalkan janji, itu juga pilihan Ayah.”

Aku berpikir sebentar.

“Jadi bukan karena Caca?”

“Bukan.”

Aku merasa sedikit lega.

Aku sebenarnya tidak pernah membenci Caca.

Aku hanya benci melihat Ayah tersenyum kepadanya dengan cara yang dulu selalu kutunggu.

Seminggu kemudian Ayah datang ke rumah Eyang.

Beliau membawa boneka.

Aku sedang menyusun puzzle di ruang tamu.

Ayah duduk beberapa langkah dariku.

“Naya.”

Aku mengangkat kepala.

“Ayah boleh bicara?”

Aku tidak menjawab.

Ayah menaruh boneka itu di sofa.

“Ayah minta maaf soal pentas sekolah.”

Aku kembali melihat puzzle.

“Ayah juga minta maaf soal taman edukasi.”

Aku memasang satu potongan.

“Dan soal uang sekolah.”

Aku berhenti.

“Ayah pakai uangku?”

Beliau terlihat kaget.

Mungkin Ayah tidak menyangka aku sudah tahu.

“Ayah cuma pinjam.”

“Kalau pinjam harus bilang dulu.”

“Iya.”

“Kalau ambil diam-diam namanya bukan pinjam.”

Ayah tidak menjawab.

Aku hanya mengulang kalimat yang sering kudengar dari Bu Guru ketika ada anak mengambil pensil temannya.

“Kalau bukan milik kita, harus minta izin.”

Wajah Ayah memerah.

Untuk sesaat aku merasa beliau akan marah.

Namun di belakangku Eyang sedang duduk membaca koran.

Ibu juga berdiri di dekat dapur.

Akhirnya Ayah menunduk.

“Kamu benar.”

Hari itu Ayah ingin membawaku makan es krim.

Aku menolak.

Beliau menawarkan toko mainan.

Aku menolak lagi.

Kemudian Ayah bertanya apa yang kuinginkan.

Aku berkata,

“Aku ingin Ayah pulang.”

Wajahnya langsung berubah cerah.

Namun aku melanjutkan,

“Bukan pulang ke rumah. Pulang saja sekarang. Aku mau main sama Ibu.”

Senyum itu mati.

Aku merasa bersalah selama beberapa detik.

Tetapi kemudian aku teringat semua waktu ketika aku menunggu Ayah dan beliau tidak merasa bersalah memilih tempat lain.

Untuk pertama kalinya, aku tidak memaksa diriku menjaga perasaan orang dewasa.

Beberapa minggu setelah itu, Ibu mengajukan proses perceraian.

Ayah marah besar ketika mengetahui keputusan tersebut.

Beliau datang ke kantor Ibu.

Menelepon Eyang.

Mengirim pesan panjang.

Ayah berkali-kali berkata,

“Aku tidak selingkuh.”

Ibu selalu menjawab hal yang sama.

“Aku tidak pernah bilang kamu selingkuh.”

“Lalu kenapa harus bercerai?”

“Karena aku tidak mau tinggal dengan seseorang yang menganggap keluarganya sebagai sumber daya yang boleh dipakai untuk membangun citra sebagai penyelamat di depan orang lain.”

Ayah menyebut Ibu kejam.

Ibu tidak membalas.

Ayah mengatakan beliau hanya mempunyai rasa empati tinggi.

Ibu menjawab,

“Empati yang dibayar dengan hak anak sendiri bukan empati. Itu ego.”

Kalimat itu membuat Ayah diam.

Dalam sesi mediasi pertama, Ayah masih mencoba menjelaskan semuanya sebagai kesalahpahaman.

Beliau mengatakan tidak pernah berniat meninggalkan keluarga.

Beliau mengatakan setiap bantuan kepada Tante Rina semata-mata karena merasa kasihan.

Kemudian mediator bertanya satu pertanyaan sederhana.

“Kalau semua ini bantuan biasa, mengapa bantuan tersebut harus disembunyikan dari istri Anda?”

Ayah tidak langsung menjawab.

Ibu membuka map.

Beliau tidak berteriak.

Tidak menangis.

Tidak menghina siapa pun.

Ibu hanya meletakkan bukti satu per satu.

Tujuh transfer.

Empat jadwal penjemputan yang dilewatkan.

Tiga acara keluargaku yang dibatalkan.

Dua acara sekolah Caca yang dihadiri Ayah.

Satu perubahan susunan pentas tanpa persetujuan guru.

Dan formulir sekolah yang mencantumkan nomor Ayah sebagai wali pendamping Caca.

Kemudian Ibu meletakkan foto dari hari ulang tahunku.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

“Pada hari foto ini diambil,” kata Ibu, “anak kami menunggu ayahnya meniup lilin sejak pukul lima sore.”

Ayah menatap foto itu lama sekali.

Beliau akhirnya berkata,

“Aku datang.”

“Pukul delapan kurang dua puluh.”

“Aku tetap datang.”

Ibu mengangguk.

“Ya. Kamu selalu datang setelah selesai menjadi penting di tempat lain.”

Aku tidak ikut ke ruang mediasi.

Namun malamnya Ibu menceritakan bagian itu setelah aku bertanya kenapa mata beliau bengkak.

Beberapa hari kemudian ada kejadian lain.

Tante Rina menghubungi Ibu.

Bukan untuk meminta uang.

Beliau memberi tahu bahwa dirinya sudah menghapus nomor Ayah dari seluruh formulir sekolah Caca.

Tante Rina juga memutuskan tidak lagi menerima bantuan langsung dari Ayah.

Mantan suaminya ternyata mulai kembali membayar nafkah anak melalui kesepakatan keluarga mereka, sementara Tante Rina mendapat pekerjaan administrasi di sebuah klinik.

Tidak semuanya langsung mudah.

Tetapi beliau memilih mengurus hidupnya tanpa menjadikan Ayah penyangga utama.

Ayah marah kepada Tante Rina.

Katanya setelah semua yang beliau lakukan, Tante Rina justru menjauh saat rumah tangganya bermasalah.

Saat itulah Ibu semakin yakin bahwa masalah terbesar Ayah memang bukan cinta.

Ayah kecanduan perasaan dibutuhkan.

Di rumah sendiri, menjadi ayah berarti bangun pagi, menjemput tepat waktu, mendengarkan cerita anak, mengingat jadwal dokter, memegang janji, dan melakukan hal kecil tanpa tepuk tangan.

Tidak ada yang memuji.

Tidak ada yang menyebut beliau pahlawan.

Tapi di depan Tante Rina dan Caca, setiap pertolongannya mendapat ucapan terima kasih.

Setiap uang yang dikeluarkan membuat beliau dianggap penyelamat.

Setiap kehadirannya membuat seseorang berkata,

“Untung ada Mas Ardi.”

Ayah menyukai kalimat itu.

Dan demi terus mendengarnya, beliau mengambil waktu dari kami.

Uang dari kami.

Bahkan hakku untuk berdiri di tengah panggung pada hari yang sudah kutunggu tiga minggu.

Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.

Ibu tidak pernah melarangku bertemu Ayah.

Tetapi jadwalnya dibuat jelas.

Ayah tidak boleh lagi datang tiba-tiba lalu berharap semua orang membatalkan rencana hanya karena beliau sedang ingin menjadi ayah.

Jika Sabtu adalah jadwal bertemu, Ayah harus datang tepat waktu.

Kalau terlambat terlalu lama tanpa alasan jelas, aku tetap menjalankan kegiatan lain.

Pada pertemuan pertama, beliau terlambat empat puluh menit.

Dulu aku pasti menunggu.

Hari itu tidak.

Aku masuk kelas melukis sesuai jadwal.

Ketika Ayah tiba, aku sudah berada di dalam ruangan.

Beliau marah kepada Ibu.

“Kenapa tidak tunggu sebentar?”

Ibu hanya berkata,

“Karena hidup Naya tidak berhenti ketika kamu terlambat.”

Minggu berikutnya Ayah datang sepuluh menit lebih awal.

Kemudian beliau mulai berubah perlahan.

Bukan berubah seperti dalam film.

Tidak ada satu permintaan maaf besar yang langsung memperbaiki semuanya.

Kadang Ayah masih defensif.

Kadang beliau masih berkata bahwa Ibu membesar-besarkan masalah.

Namun setiap kali itu terjadi, aku hanya diam.

Aku tidak lagi berusaha membuat Ayah memahami perasaanku.

Aneh sekali.

Ketika aku berhenti mengejar, justru Ayah yang mulai belajar mendekat dengan benar.

Beliau tidak lagi membawa boneka setiap bertemu.

Suatu Sabtu, beliau datang hanya membawa dua botol air minum.

“Naya mau ke taman?”

Aku bertanya,

“Cuma kita?”

“Iya.”

“Kalau nanti ada orang telepon?”

“Ayah selesaikan setelah kita pulang.”

Kami pergi.

Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, ponsel Ayah tetap berada di tas.

Beliau tidak memotretku terus-menerus.

Tidak mengunggah apa pun.

Tidak menunjukkan kepada orang lain bahwa beliau sedang menjadi ayah yang baik.

Kami hanya berjalan.

Aku bercerita tentang teman baruku.

Ayah mendengarkan.

Itu terasa lebih berharga daripada semua boneka yang pernah beliau beli.

Namun kepercayaan tetap tidak kembali sekaligus.

Ibu juga tidak membatalkan perceraian.

Ketika Ayah meminta kesempatan kedua untuk rumah tangga, Ibu menolak.

“Aku berharap kamu bisa menjadi ayah yang lebih baik,” katanya, “tetapi aku tidak wajib kembali menjadi istrimu untuk membuktikan kamu sudah berubah.”

Ayah akhirnya menerima.

Sebagai bagian dari kesepakatan keuangan mereka, seluruh uang pendidikan yang sebelumnya diambil harus dikembalikan.

Tante Rina mengembalikan sebagian melalui cicilan.

Sisanya menjadi tanggung jawab Ayah.

Beliau menjual motor besar yang selama ini dipakai untuk hobi akhir pekan dan memasukkan uangnya kembali ke rekening pendidikanku.

Ketika transfer terakhir masuk, Ibu menunjukkan kepadaku angka di aplikasi.

“Nah. Sudah kembali.”

Aku bertanya,

“Berarti uang sekolahku aman?”

“Aman.”

“Ayah sedih motornya dijual?”

“Mungkin.”

Aku berpikir sebentar.

“Tidak apa-apa. Aku dulu juga sedih laguku diambil.”

Ibu memandangku.

Kemudian beliau tertawa untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

Enam bulan kemudian aku pindah ke SD baru.

Di sekolah itu ada klub musik.

Saat guru bertanya siapa yang ingin mencoba audisi vokal, aku tidak mengangkat tangan.

Aku takut.

Aku takut kalau sudah berlatih keras, seseorang akan mengambil tempatku lagi.

Ibu tidak memaksa.

Beliau hanya berkata,

“Kalau belum siap, tidak apa-apa.”

Malam itu aku memikirkan mikrofon kecil di TK.

Aku memikirkan kartu namaku yang pernah dipasangkan kepada orang lain.

Lalu aku sadar sesuatu.

Yang mengambil kesempatanku waktu itu adalah Ayah.

Bukan musik.

Bukan panggung.

Bukan suaraku.

Keesokan harinya aku mendaftar.

Aku tidak langsung mendapat solo.

Guru memilih anak kelas dua.

Anehnya aku tidak sedih.

Karena kali ini keputusan itu dibuat setelah audisi.

Tidak ada yang mencabut namaku beberapa menit sebelum tampil.

Aku mendapat bagian dua kalimat dalam lagu kedua.

Aku latihan hampir setiap malam.

Pada hari pentas, Ibu duduk di barisan ketiga.

Eyang di sebelahnya.

Aku tidak tahu apakah Ayah akan datang.

Beliau bilang punya perjalanan kerja dan mungkin terlambat.

Dulu aku pasti terus melihat pintu.

Hari itu aku tidak.

Aku berdiri di panggung ketika musik dimulai.

Saat giliranku tiba, aku maju setengah langkah dan menyanyikan dua kalimatku.

Aku tidak gemetar.

Ketika lagu selesai, tepuk tangan memenuhi aula.

Baru saat membungkuk aku melihat seseorang berdiri di dekat pintu belakang.

Ayah.

Kemejanya sedikit kusut.

Tas kerja masih tergantung di bahu.

Beliau rupanya datang langsung dari luar kota.

Ayah tidak menerobos ke depan.

Tidak melambaikan tangan berlebihan.

Tidak merekam sambil berteriak memanggil namaku.

Beliau hanya berdiri di belakang dan bertepuk tangan.

Setelah acara selesai, Ayah menungguku di halaman.

“Naya.”

Aku berhenti.

“Bagus sekali.”

“Makasih.”

Ayah menatapku beberapa detik.

“Ayah boleh peluk?”

Dulu aku pasti langsung berlari kepadanya.

Sekarang aku berpikir dulu.

Kemudian aku menggeleng.

“Belum.”

Wajah Ayah berubah sedikit.

Tapi beliau mengangguk.

“Baik.”

Aku menatap tangannya.

Kemudian aku berkata,

“Tapi Ayah boleh datang lagi kalau aku tampil.”

Beliau tersenyum kecil.

“Ayah akan datang kalau Naya mengizinkan.”

Aku mengangguk.

Lalu berlari menuju Ibu.

Ibu tidak bertanya kenapa aku tidak memeluk Ayah.

Beliau hanya menggandeng tanganku.

Di mobil, aku membuka bekal kecil yang dibuat Eyang.

Ada potongan buah, roti keju, dan satu cokelat.

Ibu bertanya,

“Senang?”

Aku mengangguk.

“Senang.”

“Kamu lihat Ayah datang?”

“Lihat.”

“Gimana perasaanmu?”

Aku memikirkan jawabannya cukup lama.

“Biasa saja.”

Ibu tersenyum.

Aku buru-buru menjelaskan,

“Bukan berarti aku tidak sayang.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma tidak mau menunggu Ayah lagi.”

Ibu mengangguk.

“Itu juga tidak apa-apa.”

Aku memandang keluar jendela.

Dulu aku selalu berpikir menjadi anak baik berarti harus mengalah.

Memberikan tempat.

Menyerahkan sesuatu.

Tidak marah.

Tidak membuat orang dewasa malu.

Tetapi sekarang aku tahu, anak baik juga boleh berkata tidak.

Anak baik boleh sedih ketika janjinya dilanggar.

Anak baik tidak wajib kehilangan sesuatu hanya karena orang lain memiliki hidup yang lebih sulit.

Dan seorang ayah tidak menjadi baik karena seluruh dunia memujinya sebagai orang yang suka membantu.

Seorang ayah menjadi baik ketika anaknya tahu satu hal sederhana:

Kalau Ayah berjanji datang, Ayah akan datang.

Beberapa tahun mungkin dibutuhkan sebelum aku bisa percaya penuh kepada Ayah lagi.

Mungkin suatu hari aku akan memeluknya tanpa perlu berpikir.

Mungkin tidak dalam waktu dekat.

Tapi sekarang aku tidak lagi takut kehilangan beliau.

Karena ternyata hal yang paling membuatku takut dulu bukan kehilangan Ayah.

Melainkan terus memiliki seorang ayah yang selalu membuatku merasa aku harus kalah agar pantas disebut anak baik.

Sekarang hidupku berbeda.

Ibu dan aku tinggal di apartemen kecil dekat sekolah.

Tidak sebesar rumah lama kami.

Tapi di pintu kulkas ada jadwalku.

Kelas musik.

Hari berenang.

Waktu bersama Eyang.

Dan dua Sabtu dalam sebulan untuk bertemu Ayah.

Tidak ada jadwal yang tiba-tiba dicoret hanya karena seseorang menelepon meminta bantuan.

Tidak ada barangku yang diberikan kepada orang lain tanpa izin.

Tidak ada janji yang sengaja dibuat hanya untuk menenangkan tangisku.

Di meja belajarku ada satu kartu nama lama.

Kartu yang dulu dipakai pada pentas TK.

Tulisan NAYA — VOKAL PEMBUKA sudah agak pudar.

Ibu pernah bertanya kenapa aku masih menyimpannya.

Aku menjawab,

“Supaya aku ingat.”

“Ingat apa?”

Aku memasukkan kartu itu kembali ke laci.

“Kalau namaku dicopot orang lain, bukan berarti tempatku memang milik mereka.”

Ibu menatapku lama.

Kemudian beliau mencium keningku.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan bermula, aku tidur tanpa bertanya-tanya besok Ayah akan memilih siapa.

Karena sekarang aku sudah tahu.

Apa pun pilihan Ayah nanti, aku tidak akan kehilangan diriku sendiri lagi.