Bagian 3 — Saat Keluarganya Datang Menuntut Uangku Kembali, Aku Membawa Bukti ke Pertemuan Pernikahan dan Membiarkan Kebohongan Mereka Runtuh Sendiri di Depan Semua

Avatar penulis
Cerita 02
16 menit baca 3,565 tayangan
Auto Draft
Indeks

Bagian 3 — Saat Keluarganya Datang Menuntut Uangku Kembali, Aku Membawa Bukti ke Pertemuan Pernikahan dan Membiarkan Kebohongan Mereka Runtuh Sendiri di Depan Semua

Aku tidak pulang ke apartemen baruku malam itu.

Aku pulang ke rumah Ayah dan Ibu.

Begitu melihat wajahku, Ibu tidak bertanya apakah aku bertengkar dengan Faris.

Dia hanya berkata,

“Kamu sudah makan?”

Aku menggeleng.

Ibu menyuruhku duduk.

Ayah keluar dari ruang kerja sambil membawa kacamatanya.

“Apartemennya jadi?”

“Jadi.”

“Bagus.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Pernikahannya mungkin tidak.”

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Kemudian kutaruh ponsel di meja.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang Faris yang datang mengamuk.

Tentang formulir developer.

Tentang nama Nadira.

Tentang perubahan pengaturan rekening.

Tentang suara Bu Ratna.

Dan terakhir, tentang surat pernikahan agama yang dikirim Nadira.

Ibu memejamkan mata.

Ayah tidak marah.

Justru itu yang membuat suasana terasa lebih berat.

Dia meminta melihat semua bukti satu per satu.

Setelah selesai, Ayah menyandarkan tubuh ke kursi.

“Kamu masih ingin menikah?”

Aku menjawab tanpa berpikir.

“Tidak.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Ayah mengangguk.

“Kalau begitu kita selesaikan dengan bersih. Jangan terburu-buru, jangan menghina siapa pun, dan jangan menghapus bukti apa pun.”

Malam itu juga aku mengganti PIN, kata sandi e-mail, mobile banking, dan nomor pemulihan akun.

Aku memutus seluruh perangkat yang pernah masuk.

Keesokan paginya aku datang langsung ke bank.

Dari bagian layanan keamanan, aku mendapat penjelasan bahwa ada perubahan pengaturan notifikasi yang diproses melalui perangkatku sendiri ketika ponsel berada di tangan Faris.

Bank tidak menyimpulkan siapa yang menekan tombol.

Aku juga tidak meminta mereka melakukan itu.

Aku hanya meminta semua catatan perubahan diamankan dan rekening diberi perlindungan tambahan.

Setelah itu aku pergi ke gerai operator untuk meminta rekaman administrasi pergantian SIM.

Semua kulakukan dengan tenang.

Aku tidak menulis apa pun di Facebook.

Tidak membuat status sindiran.

Tidak mengunggah nama Nadira.

Karena semakin banyak bukti yang kukumpulkan, semakin jelas satu hal.

Nadira bukan perempuan yang sedang merebut calon suamiku.

Dia juga sedang ditipu.

Siang itu kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat Jalan HR Muhammad.

Aku datang lebih dulu.

Ketika Nadira masuk, aku hampir tidak mengenalinya.

Aku pernah melihat wajahnya sekali pada acara pertunangan.

Saat itu Bu Ratna memperkenalkannya sebagai “anak teman lama Mama”.

Nadira berusia sekitar dua puluh delapan tahun.

Dia duduk di depanku tanpa memesan apa-apa.

“Aku minta maaf,” katanya.

“Aku belum tahu apakah kamu perlu meminta maaf.”

Matanya merah.

“Aku tahu tentang kamu.”

Kalimat itu membuatku diam.

“Tapi Faris bilang hubungan kalian sudah berakhir sejak lama. Katanya pertunangan tetap dijalankan karena ayahmu dan ayahnya punya hubungan bisnis.”

Aku tertawa kecil.

“Ayahku bahkan tidak punya bisnis dengan ayahnya.”

Wajah Nadira berubah.

“Dia bilang kamu yang menolak membatalkan karena keluargamu malu.”

“Dia masih mengantarku memilih undangan dua minggu lalu.”

Nadira menutup wajah.

Kami kemudian menyusun seluruh cerita dari dua sisi.

Aku mengenal Faris lima tahun.

Nadira mengenalnya hampir dua tahun.

Sebelas bulan lalu mereka melakukan pernikahan agama secara diam-diam.

Faris berjanji akan mengurus pencatatan resmi setelah keadaan keluarganya “lebih stabil”.

Bu Ratna hadir.

Bahkan dialah yang membantu mencari saksi.

Nadira mengaku beberapa kali mempertanyakan keberadaanku setelah melihat foto pertunangan di media sosial keluarga.

Faris menjawab bahwa pertunangan itu hanya formalitas.

Dia mengatakan Ayahku telah berjanji memberi aset besar setelah pernikahan, dan setelah aset itu diterima dia akan menyelesaikan semuanya.

“Dia bilang rumah yang akan dibeli adalah jaminan supaya aku tidak dirugikan,” kata Nadira.

“Dengan uangku.”

Nadira menunduk.

“Aku tidak tahu itu uang pribadi yang diberikan orang tuamu.”

“Lalu menurutmu uang siapa?”

“Faris bilang itu dana gabungan keluarga setelah kalian menikah.”

Aku menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, kemarahanku berubah bentuk.

Bukan lagi api.

Lebih mirip es.

Dingin.

Jernih.

Dan membuatku bisa melihat semuanya.

“Kenapa rumah itu harus atas namamu?”

Nadira mengeluarkan ponselnya.

Dia menunjukkan percakapan dengan Faris.

Salah satu pesan berbunyi:

Kalau pakai namaku susah karena ada urusan kredit lama. Atas nama kamu saja. Setelah uang Alya cair, kita lunasi.

Pesan lain datang dari Bu Ratna.

Kamu sabar. Yang penting aset jangan sampai atas nama Alya. Kalau semua masuk namanya, nanti Faris tidak punya pegangan.

Aku meminta Nadira mengirim salinannya kepadaku.

Dia mengangguk.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang belum kuketahui.

Keluarga Faris ternyata sedang punya masalah keuangan.

Usaha distribusi bahan bangunan milik ayah Faris kehilangan dua proyek besar.

Mereka masih terlihat mapan karena rumah besar, mobil, dan pesta keluarga.

Namun beberapa aset telah diagunkan.

Adik Faris juga sedang mempersiapkan pernikahan sambil membawa utang bisnis hampir Rp900 juta.

Rp7,2 miliar dari orang tuaku bukan sekadar “uang tambahan”.

Itu adalah jalan keluar yang sudah mereka tunggu.

Rencana mereka sederhana.

Setelah aku menikah dengan Faris, mereka akan membujukku membeli rumah.

Sebagian uang masuk ke rumah atas nama Nadira.

Sebagian lagi, sekitar Rp350 juta, akan “dipinjam sementara” untuk bisnis adiknya.

Sisanya disimpan sebagai dana keluarga yang pengelolaannya berada di rekening Faris.

Aku sampai harus meminta Nadira mengulanginya.

“Jadi mereka sudah membagi uang itu?”

“Bu Ratna pernah mengirim tabel.”

“Tabel?”

Nadira membuka galeri.

Sebuah tangkapan layar muncul.

Ada empat baris.

Rumah Nadira.

Modal usaha Dimas.

Pelunasan utang supplier.

Cadangan pendidikan anak.

Di bagian paling bawah:

Sumber: dana Alya.

Aku menatap layar hampir satu menit.

Mereka bahkan belum menerimaku sebagai menantu.

Tapi uangku sudah dibuat seperti anggaran perusahaan.

“Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Faris,” kata Nadira.

“Itu keputusanmu.”

“Aku tidak ingin ikut mengambil uangmu.”

“Aku percaya.”

Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu ingin ikut mengambil uangku, kamu tidak akan mengirim rekaman itu.”

Kami berpisah sore hari.

Tidak sebagai teman.

Belum.

Tetapi juga bukan sebagai dua perempuan yang harus saling membenci demi seorang laki-laki yang berbohong kepada kami berdua.

Malamnya Faris datang ke rumah orang tuaku.

Bersama Bu Ratna.

Dan Dimas, adiknya.

Aku sudah memperkirakan mereka akan datang.

Yang tidak kuduga adalah Bu Ratna membawa map undangan pernikahan.

Begitu masuk, dia langsung meletakkannya di meja.

“Kita selesaikan masalah ini malam ini.”

Ayah duduk di ruang tamu.

Ibu di sampingku.

Aku menyalakan perekam suara di ponsel dan meletakkannya terbalik di meja.

Bu Ratna melihatku.

“Kamu tidak perlu membuat semuanya seperti sidang.”

Aku menjawab,

“Kalau pembicaraan dilakukan baik-baik, tidak ada yang perlu takut direkam.”

Faris tampak tidak tidur semalaman.

“Alya, aku sudah jelaskan lewat chat.”

“Kamu mengirim empat puluh tujuh pesan. Tidak satu pun menjelaskan kenapa ada rencana membeli rumah memakai uangku atas nama perempuan yang kamu nikahi secara agama.”

Dimas terkejut.

Dia menoleh kepada kakaknya.

“Menikah?”

Bu Ratna langsung memotong.

“Itu bukan pernikahan resmi.”

Aku menatapnya.

“Jadi Ibu tahu?”

Ruangan seketika diam.

Bu Ratna baru sadar kalimatnya sendiri telah membuka pintu yang tidak bisa ditutup kembali.

Dia mengusap kening.

“Dengar dulu. Faris waktu itu melakukan kesalahan.”

“Menikahi perempuan disebut kesalahan?”

“Hubungan mereka rumit.”

“Tapi Ibu hadir.”

Faris masuk.

“Alya, aku memang salah. Tapi aku mau memperbaiki semuanya.”

“Caranya?”

“Kita tetap menikah.”

Aku hampir tidak percaya.

Dia benar-benar mengatakannya.

Dengan wajah serius.

“Kita tetap menikah,” ulangnya. “Setelah itu aku selesaikan hubunganku dengan Nadira.”

Aku menatap laki-laki itu.

“Kemarin kepada Nadira kamu mengatakan setelah menikah denganku kamu akan tetap tinggal bersamanya.”

Wajah Faris berubah.

“Nadira bicara denganmu?”

Bu Ratna langsung menyela.

“Perempuan itu sengaja mengadu domba.”

Aku membuka laptop.

“Kalau begitu kita dengar bersama.”

Aku memutar pesan suara Bu Ratna.

Suara itu memenuhi ruang tamu.

Biarkan dia menikahi Alya seperti rencana keluarga. Setelah uang dari orang tuanya aman, rumah atas namamu akan dibeli. Yang penting Alya jangan tahu sebelum akad.

Tidak ada seorang pun bergerak.

Bahkan Dimas tampak pucat.

Bu Ratna bangkit.

“Itu dipotong!”

“Ada file lengkap enam menit.”

“Dia merekam saya tanpa izin!”

“Apakah isi pembicaraannya palsu?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Aku kemudian membuka tangkapan layar tabel anggaran.

“Ini juga palsu?”

Faris berdiri.

“Alya, cukup.”

“Belum.”

Aku membacakan satu per satu.

“Rumah Nadira, Rp6,85 miliar.”

“Modal usaha Dimas, Rp350 juta.”

“Pelunasan supplier, Rp400 juta.”

“Dana cadangan.”

Aku menoleh kepada Dimas.

“Kamu tahu namamu ada di sini?”

Dia menggeleng pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku yakin Dimas benar-benar tidak tahu seluruh rencana.

Bu Ratna mengambil map dari meja.

“Kalau kamu terus memperbesar masalah, dua keluarga akan hancur.”

Ayah akhirnya berbicara.

Suaranya tidak keras.

“Bu Ratna.”

Dia menatap ayahku.

“Yang merencanakan memakai uang anak saya tanpa izinnya bukan keluarga kami.”

Bu Ratna langsung berubah nada.

“Pak Mahendra, kita sudah hampir menjadi besan. Semua masih bisa dibicarakan.”

Ayah mengangguk.

“Betul. Karena itu kami bicara sekarang.”

Dia mengambil sebuah amplop.

“Kontrak gedung pernikahan atas nama saya. Saya sudah menghubungi pihak hotel pagi tadi.”

Faris menatap kami.

“Maksud Om?”

“Acara bulan depan dibatalkan.”

Faris langsung berdiri.

“Om tidak bisa memutuskan sendiri!”

Aku menjawab,

“Bisa. Karena aku yang akan menikah. Dan aku mengatakan tidak.”

Faris menatapku seolah baru memahami bahwa ancamannya kemarin tidak berhasil.

“Alya.”

“Ya?”

“Kamu mau membuang hubungan lima tahun begitu saja?”

“Tidak.”

Aku menatap matanya.

“Kamu yang membuangnya ketika menikahi perempuan lain sebelas bulan lalu.”

Dia kehilangan kata-kata.

Bu Ratna mulai menangis.

Tangis yang kemarin mungkin akan membuatku merasa bersalah.

Hari itu tidak.

“Kalau pernikahan dibatalkan,” katanya, “kami harus jawab apa kepada seluruh keluarga?”

“Jawab yang benar.”

“Apa kamu mau mempermalukan Faris?”

“Saya tidak akan menyebarkan detail pribadi siapa pun. Saya hanya akan memberi tahu bahwa pernikahan dibatalkan karena masalah kepercayaan yang tidak dapat diselesaikan.”

Bu Ratna menghentikan tangisnya.

“Lalu uang muka dekorasi? Katering? Undangan?”

Aku membuka satu folder lagi.

Selama persiapan menikah, Ibu menyimpan seluruh kuitansi.

“Gedung dibayar Ayah.”

“Katering dibayar keluarga kami.”

“Undangan dibagi dua.”

“Dekorasi dibayar saya.”

Aku mendorong salinan perhitungan ke meja.

“Bagian yang menjadi tanggung jawab saya akan saya selesaikan sendiri. Bagian keluarga Ibu, silakan diselesaikan keluarga Ibu.”

Faris memandangku tajam.

“Kamu sudah merencanakan semua ini?”

“Sejak kemarin.”

“Secepat itu?”

“Karena buktinya cukup.”

Bu Ratna kemudian mengatakan kalimat yang akhirnya menghapus sisa keraguanku.

“Kalau kamu masih punya hati, setidaknya apartemen itu nanti bisa dipakai Faris setelah kalian menikah.”

Aku tertawa.

Bukan sinis.

Aku benar-benar tertawa karena tidak percaya.

“Bu, tadi saya sudah bilang pernikahan batal.”

“Kalian sedang emosi.”

“Saya tidak emosi.”

Aku mengambil kunci apartemen dari tas.

“Kunci ini milik saya.”

Lalu kumasukkan kembali.

“Dan akan tetap milik saya.”

Faris keluar malam itu dengan wajah yang tidak pernah kulihat selama lima tahun.

Bukan marah.

Takut.

Karena untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun pintu menuju uangku yang tersisa.

Namun masalah belum selesai.

Dua hari kemudian, sebuah pesan masuk dari Bu Ratna.

Kalau kamu tetap membatalkan pernikahan, kembalikan semua hadiah pertunangan dari keluarga kami.

Aku membalas singkat.

Silakan buat daftar dan bawa bukti pembelian. Barang yang memang milik keluarga Ibu akan saya kembalikan.

Daftar datang malam itu.

Di dalamnya ada jam tangan, tas, cincin pertunangan, seperangkat perhiasan, biaya makan keluarga, bahkan biaya bensin Faris setiap kali mengunjungiku.

Aku membaca bagian terakhir dua kali.

Ibu sampai tertawa.

Aku tidak membalas dengan makian.

Aku membuat spreadsheet.

Jam tangan: hadiah ulang tahun dari Faris dua tahun lalu, bukan hadiah pertunangan.

Tas: dibeli sendiri.

Cincin: akan kukembalikan.

Perhiasan: hanya satu gelang berasal dari Bu Ratna.

Biaya makan keluarga: sebagian besar dibayar Ayah.

Biaya bensin: kutandai dengan kalimat tidak relevan.

Aku mengirim hasilnya.

Setelah itu Bu Ratna tidak membalas selama tiga hari.

Sementara itu, Nadira membuat keputusan sendiri.

Dia mendatangi keluarganya dan menceritakan semuanya.

Ayahnya marah bukan kepadaku, tetapi kepada Faris karena putrinya diminta menunggu pencatatan pernikahan sambil tetap disembunyikan.

Dengan bantuan pendamping hukum keluarga, Nadira mulai mencari cara terbaik untuk menyelesaikan status hubungannya dan melindungi hak-haknya.

Aku tidak ikut campur.

Aku hanya menyerahkan salinan percakapan yang menyangkut diriku jika dia membutuhkannya.

Faris berkali-kali menghubungiku.

Aku tidak memblokirnya pada awalnya karena masih ada barang dan urusan vendor yang harus dibereskan.

Pesannya berubah setiap hari.

Hari pertama:

Aku cuma takut kehilangan kamu.

Hari kedua:

Mama yang terlalu ikut campur.

Hari ketiga:

Nadira yang memaksaku nikah agama.

Hari keempat:

Kamu juga salah karena diam-diam membeli apartemen.

Pada pesan terakhir aku akhirnya membalas.

Membeli aset dengan uangku sendiri tidak sama dengan menikahi perempuan lain dan merencanakan penggunaan uangku tanpa sepengetahuanku. Tolong jangan hubungi saya lagi kecuali mengenai pengembalian barang atau kewajiban vendor.

Setelah semua urusan selesai, aku memblokir nomornya.

Yang paling ramai justru terjadi seminggu sebelum tanggal pernikahan yang seharusnya.

Keluarga besar kami sudah dijadwalkan mengadakan rapat final di rumah tanteku.

Awalnya aku ingin membatalkannya.

Ayah justru berkata,

“Datang. Tutup semuanya dengan jelas supaya tidak ada cerita berbeda ke setiap orang.”

Aku setuju.

Di ruang keluarga itu ada sekitar dua puluh orang.

Paman.

Bibi.

Sepupu yang membantu acara.

Perwakilan keluarga Faris.

Tidak ada Nadira.

Aku memang tidak ingin menjadikan hidupnya tontonan.

Bu Ratna datang paling akhir.

Faris tidak ikut.

Begitu semua duduk, salah satu pamannya berbicara.

“Kami dengar ini hanya kesalahpahaman soal uang.”

Aku menatap Bu Ratna.

Ternyata narasi mereka sudah mulai.

Aku membuka map.

“Bukan.”

Ruangan diam.

Aku berdiri.

“Saya tidak akan menceritakan hal pribadi yang tidak perlu. Tapi karena pembatalan pernikahan ini mulai dijelaskan sebagai saya marah karena masalah rumah, saya perlu meluruskan satu hal.”

Aku menunjukkan formulir developer.

Nama Faris.

Anggaran Rp7,2 miliar.

Sumber dana keluarga calon perempuan.

Nama pemilik: Nadira.

Kemudian kutunjukkan bukti bahwa Faris telah membuat hubungan serius lain tanpa sepengetahuanku.

Tidak semua dokumen kubuka.

Cukup untuk membuat keluarga mengerti.

Lalu aku memutar bagian penting pesan suara Bu Ratna.

Hanya dua puluh detik.

Dua puluh detik itu menghancurkan seluruh cerita yang mereka bangun.

Salah satu tante Faris berdiri.

“Ratna, kamu tahu semua ini?”

Bu Ratna menangis.

“Saya cuma mau melindungi masa depan anak saya.”

Pamannya menatapnya.

“Dengan uang anak orang?”

“Uang itu nanti juga jadi uang keluarga!”

Aku menyela.

“Tidak pernah.”

Suara Bu Ratna meninggi.

“Kalau sudah menikah, apa kamu mau hidup hitung-hitungan terus?”

Aku menjawab tenang.

“Batas bukan berarti hitung-hitungan. Kejujuran bukan berarti pelit.”

Tidak ada yang membela Bu Ratna setelah itu.

Bukan karena aku menang berdebat.

Tetapi karena tidak ada satu pun penjelasan yang dapat mengubah fakta bahwa mereka sudah menyusun rencana terhadap aset orang lain sebelum pernikahan terjadi.

Rapat selesai kurang dari satu jam.

Dua hari kemudian kami mengirim pemberitahuan pembatalan kepada tamu.

Tidak ada cerita panjang.

Tidak ada tuduhan.

Hanya:

Dengan mempertimbangkan keadaan pribadi dan keputusan kedua keluarga, acara pernikahan Alya dan Faris yang sebelumnya dijadwalkan bulan ini dibatalkan. Kami memohon maaf atas perubahan tersebut dan berterima kasih atas pengertian semua pihak.

Aku kehilangan sebagian uang dekorasi.

Beberapa pembayaran tidak dapat dikembalikan.

Ayah bilang anggap sebagai biaya keluar dari masalah yang jauh lebih mahal.

Dia benar.

Rp35 juta terasa besar.

Tetapi dibandingkan menikah dengan keluarga yang sudah menghitung Rp7,2 miliar milikku sebelum akad, itu adalah harga yang sangat murah.

Sementara booking unit yang pernah diajukan Faris juga tidak pernah berlanjut.

Dia kehilangan uang tanda jadi yang sebelumnya dia bayarkan sendiri.

Developer tidak memberi tahu detailnya kepadaku.

Aku juga tidak bertanya.

Itu bukan lagi urusanku.

Tiga bulan kemudian aku pindah ke apartemen.

Ibu membantuku memilih meja makan.

Ayah sibuk memeriksa keran, pintu balkon, panel listrik, dan AC seperti seorang inspektur bangunan.

Kamar ketiga kuubah menjadi ruang kerja.

Di balkon aku menaruh dua kursi kecil.

Pada malam pertama setelah semua kardus selesai dibuka, aku duduk di sana bersama Ibu.

Lampu Surabaya terlihat seperti barisan titik kecil di kejauhan.

Ibu bertanya,

“Menyesal uangnya dipakai membeli rumah?”

Aku berpikir sebentar.

“Tidak.”

“Menyesal lima tahun?”

Pertanyaan itu lebih sulit.

Aku menatap gelas teh di tanganku.

“Sedikit.”

Ibu tertawa kecil.

Aku ikut tersenyum.

“Tapi mungkin bukan karena lima tahunnya hilang. Aku menyesal karena beberapa kali sebenarnya aku sudah melihat tanda-tandanya.”

“Tanda apa?”

“Dia selalu bilang aku terlalu mandiri kalau mengambil keputusan sendiri. Ibunya selalu menyebut tabunganku sebagai uang keluarga. Aku cuma berpikir nanti setelah menikah semuanya akan membaik.”

Ibu menepuk tanganku.

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu pernikahan tidak memperbaiki karakter seseorang.”

Beberapa minggu kemudian Nadira menghubungiku.

Bukan tentang Faris.

Dia mengirim foto sebuah kamar kos kecil yang baru disewanya.

Hanya ada kasur, meja plastik, dan kipas angin.

Pesannya pendek.

Aku mulai dari nol. Tapi setidaknya yang ini hidupku sendiri.

Aku membalas:

Itu sudah lebih dari cukup untuk memulai.

Kami tidak menjadi sahabat.

Tidak harus.

Tetapi sesekali kami masih saling berkabar.

Dari dia aku mengetahui Faris beberapa kali mencoba kembali.

Pertama kepada Nadira.

Setelah ditolak, dia mencoba menghubungiku melalui e-mail.

Isi suratnya panjang.

Dia mengatakan telah berubah.

Mengatakan semua orang melakukan kesalahan.

Mengatakan lima tahun terlalu berharga untuk dibuang.

Aku membaca sampai selesai.

Kemudian menghapusnya.

Bukan karena aku masih marah.

Justru karena aku sudah tidak merasa perlu membuktikan apa pun.

Enam bulan setelah pernikahan batal, aku bertemu Faris secara tidak sengaja di lobi sebuah gedung perkantoran.

Dia terlihat lebih kurus.

Kami saling mengenali.

Dia berjalan mendekat.

“Alya.”

Aku berhenti.

“Apa kabar?”

“Baik.”

Dia melihat cincin di jariku.

Bukan cincin pertunangan.

Hanya cincin perak yang kubeli sendiri.

“Kamu sudah punya orang baru?”

Aku hampir tersenyum.

“Belum.”

“Oh.”

Ada kelegaan kecil di wajahnya.

Aku menambahkan,

“Dan itu bukan sesuatu yang sedang kukejar.”

Wajahnya kembali kaku.

Dia menatapku beberapa detik.

“Kalau waktu itu kamu tidak membeli apartemen…”

Aku memotong.

“Aku mungkin baru tahu semuanya setelah menikah.”

Faris menunduk.

“Aku benar-benar menyesal.”

Aku percaya dia menyesal.

Hanya saja penyesalan bukan mesin waktu.

Dan penyesalan seseorang tidak menciptakan kewajiban bagi orang yang dilukainya untuk kembali.

“Aku harap kamu belajar sesuatu dari semua ini.”

Dia menatapku.

“Kamu benar-benar tidak bisa kasih kesempatan lagi?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Karena Nadira?”

“Bukan.”

“Karena Mama?”

“Bukan juga.”

“Lalu karena apa?”

Aku menatap laki-laki yang dulu kukira akan menjadi ayah dari anak-anakku.

“Karena ketika kamu melihat uang yang diberikan orang tuaku kepadaku, hal pertama yang kamu pikirkan bukan bagaimana kita membangun kehidupan bersama.”

Aku berhenti sebentar.

“Kamu langsung berpikir bagaimana membaginya tanpa aku.”

Faris tidak mengatakan apa-apa.

Aku pergi.

Tidak menoleh lagi.

Malamnya, aku pulang ke apartemen yang dulu membuatnya mengamuk.

Aku membuka pintu.

Menyalakan lampu.

Meletakkan tas di kursi.

Di ruang tamu ada foto Ayah dan Ibu saat pertama kali datang membantu pindahan.

Di meja terdapat tanaman kecil yang kubeli sendiri.

Tidak ada rumah tangga sempurna.

Tidak ada pernikahan megah.

Tidak ada suami.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada pula seseorang yang diam-diam membuat keputusan atas namaku.

Aku berdiri di depan jendela besar dan melihat lampu kota.

Dulu Bu Ratna pernah berkata perempuan yang menikah harus belajar menyerahkan kendali agar keluarga tetap utuh.

Sekarang aku mengerti sesuatu.

Keluarga yang hanya bisa tetap utuh setelah satu orang kehilangan hak atas hidupnya sendiri bukanlah keluarga.

Itu hanya sebuah sistem yang membutuhkan seseorang untuk terus mengalah.

Aku hampir menjadi orang itu.

Hampir.

Untungnya, Rp7,2 miliar masuk ke rekeningku beberapa minggu lebih cepat daripada hari pernikahan.

Untungnya aku melakukan satu hal yang mereka anggap egois.

Aku membeli rumah atas namaku sendiri.

Dan ternyata, rumah itu bukan cuma menyelamatkan uangku.

Rumah itu membongkar siapa saja yang sejak awal menganggap uang tersebut sudah menjadi milik mereka.