Bagian 3: Saya Berhenti Menjadi Istri Penurut dan Mulai Mengumpulkan Semua Bukti Pengkhianatan Mereka

Avatar penulis
Cerita 02
8 menit baca 572 tayangan
Indeks

Bagian 3: Saya Berhenti Menjadi Istri Penurut dan Mulai Mengumpulkan Semua Bukti Pengkhianatan Mereka

Saya membaca kata itu berkali-kali.

Pasangan.

Bukan teman lama.

Bukan orang yang kebetulan membantu.

Bukan mantan yang sedang sakit.

Pasangan.

Saya langsung mematikan layar.

Bukan karena tidak sanggup melihatnya.

Justru karena tiba-tiba saya merasa sangat tenang.

Ada titik tertentu ketika sakit hati terlalu besar sehingga tubuh berhenti menangis.

Yang tersisa hanya hitungan.

Tanggal.

Transfer.

Percakapan.

Dokumen.

Saya menghubungi nomor perawat tadi.

“Boleh saya telepon?”

Balasannya datang cepat.

“Boleh, Mbak. Tapi saya tidak bisa kasih data medis resmi.”

“Saya tidak akan minta.”

Namanya Siska.

Dia mengenali Dimas karena hampir setiap bulan datang bersama Rania.

Pertama kali enam bulan lalu.

Saat itu Rania masuk IGD karena pendarahan.

Dimas datang beberapa menit setelahnya.

Bu Mira juga menyusul.

“Saya tidak tahu hubungan mereka,” kata Siska. “Tapi waktu administrasi, Pak Dimas sendiri yang mengisi formulir.”

Saya bertanya,

“Enam bulan lalu tepatnya kapan?”

Siska menyebut tanggal.

Saya langsung membuka kalender.

Hari itu Dimas memberi tahu saya bahwa dia harus menginap di Cirebon karena proyek hotel.

Bahkan mengirim foto kamar.

Sekarang saya baru paham.

Foto itu mungkin diambil pada perjalanan lain.

Atau mungkin dia memang hanya singgah lalu kembali.

Yang jelas, malam itu saya menelepon hampir sebelas kali.

Ponselnya mati.

Paginya dia berkata sinyal hotel buruk.

Saya ingat betapa bodohnya saya meminta maaf karena sempat curiga.

Siska melanjutkan,

“Setelah keguguran, beberapa kali mereka konsultasi. Kemarin sepertinya membahas pemeriksaan kesuburan.”

Saya menahan napas.

“Apakah Bu Mira pernah ikut?”

“Dua kali.”

Saya mengucapkan terima kasih.

Lalu saya menutup telepon.

Saat itulah saya akhirnya menangis.

Bukan karena Rania.

Bukan karena Dimas.

Melainkan karena Bu Mira.

Perempuan yang tinggal satu rumah dengan saya.

Yang setiap pagi melihat saya muntah.

Yang pernah mengambil vitamin saya dari meja dan berkata saya terlalu manja.

Yang minggu lalu menyentuh perut saya sambil berkata,

“Mudah-mudahan cucu laki-laki.”

Ternyata selama itu dia juga menemani perempuan lain menjalani pemeriksaan untuk bisa hamil lagi dari anak laki-lakinya.

Saya masuk kamar mandi.

Mencuci wajah.

Kemudian menelepon seorang pengacara bernama Mbak Farah yang dulu pernah membantu perusahaan ayah.

Saya menjelaskan semuanya.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada keluhan.

Saya hanya berkata,

“Saya mau tahu tiga hal. Posisi saham saya. Posisi pinjaman ayah saya. Dan apa yang perlu saya siapkan kalau saya menggugat cerai.”

Farah tidak bertanya kenapa.

Dia hanya berkata,

“Kirim semua dokumen.”

Dalam dua jam, dia menemukan sesuatu yang bahkan tidak saya sadari.

Selama delapan bulan terakhir, perusahaan Dimas melakukan pembayaran rutin ke rekening sebuah klinik, apartemen di Setiabudi, dan sebuah dealer mobil.

Totalnya hampir dua ratus tiga puluh juta rupiah.

Sebagian dicatat sebagai “biaya relasi klien”.

Sebagian “akomodasi proyek”.

Nama penerima apartemen bukan Rania.

Tetapi nomor telepon penyewanya sama dengan nomor yang disimpan Dimas sebagai “Pak Anton Proyek”.

Farah berkata,

“Kalau ini uang perusahaan untuk kebutuhan pribadi, pemegang saham punya hak mempertanyakan.”

“Kalau dia bilang itu biaya proyek?”

“Kita minta bukti proyeknya.”

Saya menatap layar laptop.

“Kalau tidak ada?”

“Berarti masalahnya bukan cuma rumah tangga.”

Kalimat itu menyalakan sesuatu dalam diri saya.

Selama ini saya selalu takut membuat Dimas malu.

Takut rumah tangga kami jadi bahan pembicaraan.

Takut dianggap istri gagal.

Ternyata ketakutan itu justru dipakai untuk membuat saya diam.

Siang itu Bu Mira menelepon.

“Nisa, nanti sore datang ke rumah Ibu.”

“Saya kan tinggal serumah, Bu.”

Dia terdiam sebentar.

“Maksud Ibu turun ke ruang keluarga. Ada yang mau dibicarakan.”

“Dimas pulang?”

“Iya.”

“Rania juga?”

Hening.

Saya tersenyum sendiri.

“Nanti saya turun.”

Pukul lima, saya sudah siap.

Saya mengenakan gamis sederhana warna krem.

Rambut saya ikat rapi.

Hasil USG saya masukkan ke map biru bersama salinan transfer, tangkapan layar, dokumen saham, dan laporan rekening.

Saya juga memindahkan pakaian penting ke koper kecil lalu menitipkannya kepada sopir ayah yang menunggu dua gang dari rumah.

Saya tidak berniat tidur di rumah itu lagi.

Ketika turun, Dimas sudah duduk di ruang tengah.

Bu Mira di sofa.

Bapak mertuaku, Pak Hendra, duduk sambil memegang tasbih kecil.

Dan di ujung sofa ada Rania.

Perempuan itu lebih kurus daripada di foto-foto lamanya.

Rambut sebahu.

Blus putih.

Wajah pucat.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya.

Di samping kakinya ada tas kerja Dimas.

Seolah-olah mereka datang bersama.

Saya duduk.

“Lengkap sekali.”

Dimas mengembuskan napas.

“Nisa, kita bicara baik-baik.”

Saya mengangguk.

“Silakan.”

Bu Mira langsung mengambil alih.

“Rania datang supaya tidak ada salah paham.”

Saya menoleh kepada Rania.

“Kalau begitu mungkin dia bisa mulai dari menjelaskan sejak kapan dia kembali berhubungan dengan suami saya.”

Rania menunduk.

Dimas berkata,

“Tidak perlu menyerang dia.”

Saya tertawa pendek.

“Saya belum menyerang.”

“Nada bicaramu.”

“Saya baru tahu suami saya enam bulan lalu menemani perempuan lain keguguran. Saya rasa nada suara saya masih sangat sopan.”

Pak Hendra langsung menoleh kepada istrinya.

“Keguguran?”

Bu Mira cepat-cepat berkata,

“Hendra, nanti dulu.”

Saya baru sadar.

Ayah mertua saya tidak tahu.

Menarik.

Saya membuka map.

“Jadi ternyata rahasia ini tidak dibagikan ke semua anggota keluarga.”

Dimas berdiri.

“Sudah. Jangan buat sandiwara.”

Saya memandangnya.

“Duduk.”

Entah karena nada suara saya atau ekspresi wajah saya, dia benar-benar duduk kembali.

Saya mengeluarkan satu foto tangkapan layar.

“Enam bulan lalu, Rania keguguran. Benar?”

Rania mulai menangis.

Dimas berkata,

“Benar.”

“Anaknya siapa?”

Bu Mira memotong,

“Apa gunanya membahas—”

Saya menghantamkan telapak tangan ke meja.

“ANAKNYA SIAPA?”

Ruangan langsung diam.

Rania menutup wajah.

Dimas menggertakkan gigi.

Lalu dia berkata,

“Anakku.”

Saya merasa seperti mendengar sesuatu pecah.

Anehnya, bukan hati saya.

Hati saya mungkin sudah pecah kemarin.

Yang pecah sekarang adalah harapan terakhir bahwa mungkin ada penjelasan lain.

Pak Hendra berdiri.

“Dimas!”

Dimas menjawab cepat,

“Waktu itu aku sedang kacau.”

Saya hampir tertawa.

“Enam tahun pacaran, setelah menikah masih tidur bersama, lalu hamil. Itu disebut sedang kacau?”

“Nisa—”

“Kapan hubungan kalian mulai lagi?”

Rania akhirnya bicara.

“Tidak lama setelah kalian menikah.”

Saya menoleh kepadanya.

“Berapa lama?”

Bibirnya bergetar.

“Hampir… setahun.”

Saya mengangguk.

Lalu bertanya lagi,

“Setelah dia tahu saya hamil, kalian berhenti?”

Rania menatap Dimas.

Itu saja sudah jawabannya.

Saya membuka ponsel.

Memutar pesan suara yang saya rekam dari WhatsApp tadi malam.

Suara Rania memenuhi ruang tamu.

“Setelah anak kalian lahir semuanya akan dibicarakan…”

Wajah Bu Mira langsung putih.

Dimas berdiri cepat.

“Kamu buka ponselku?”

Saya mengangkat alis.

“Yang membuatmu marah justru itu?”

Dia menunjuk saya.

“Itu pelanggaran privasi.”

Saya tertawa.

“Dan punya hubungan dengan perempuan lain sampai hamil itu apa? Program keluarga berencana?”

Pak Hendra memukul meja.

“Cukup!”

Tapi saya belum selesai.

Saya menaruh foto dokumen saham di meja.

“Sekarang soal ini.”

Bu Mira langsung menatap Dimas.

Saya melihat tatapan panik di antara mereka.

“Kenapa setelah saya melahirkan kalian mau memindahkan saham saya?”

Pak Hendra kembali memandang istrinya.

“Saham apa?”

Saya menyerahkan salinan kepada beliau.

“Pak, saya memegang tiga puluh lima persen perusahaan Dimas. Delapan ratus juta modal awal dari ayah saya juga bukan hadiah. Itu pinjaman pemegang saham.”

Dimas mendekat.

“Nisa, ini urusan perusahaan.”

“Benar.”

Saya menatapnya lurus.

“Makanya besok saya urus sebagai urusan perusahaan.”

Bu Mira bangkit.

“Kamu mau menghancurkan suamimu sendiri?”

“Saya?”

Saya menunjuk Rania.

“Yang punya hubungan di belakang istri, siapa?”

Saya menunjuk Dimas.

“Yang memakai uang perusahaan membayar apartemen perempuan lain, siapa?”

Wajah Dimas membeku.

Saya meletakkan laporan rekening.

“Dua ratus tiga puluh juta.”

Rania menatap Dimas.

Bu Mira kehilangan kata-kata.

Saya melanjutkan,

“Apartemen Setiabudi. Rumah sakit. Mobil. Semua sebagian dibayar dari rekening perusahaan.”

Dimas meraih kertas itu.

“Ini bisa dijelaskan.”

“Besok jelaskan kepada pengacara saya.”

“Kamu pakai pengacara?”

“Sudah.”

Dia benar-benar terlihat terkejut.

Mungkin selama ini dia mengira saya akan menangis.

Mengancam.

Lalu memaafkan.

Seperti berkali-kali sebelumnya.

Bu Mira mendekati saya.

“Nisa, pikirkan anakmu.”

Saya menatapnya.

“Justru karena saya memikirkan anak saya.”

“Anak butuh ayah.”

“Anak juga butuh contoh bahwa ibunya bukan keset.”

Wajah Bu Mira merah.

“Kamu jangan kurang ajar.”

Saya berdiri.

“Kurang ajar itu ketika Ibu duduk satu rumah dengan menantu yang hamil sambil membantu anak Ibu merencanakan kehamilan dengan perempuan lain.”

Rania terisak.

“Saya tidak pernah bermaksud menyakiti Mbak.”

Saya memandangnya lama.

“Kalau begitu, seharusnya kamu berhenti ketika tahu dia menikah.”

Dimas langsung membela,

“Jangan salahkan dia sendirian.”

“Saya tidak.”

Saya menatap suami saya.

“Orang yang paling saya salahkan ada di depan saya.”

Saya mengambil map.

Dimas menangkap pergelangan tangan saya.

“Mau ke mana?”

“Pulang.”

“Ini rumahmu.”

Saya melihat sekeliling.

Rumah tempat saya diminta diam.

Rumah tempat kehamilan saya dianggap alat.

Rumah tempat mantan suami saya—bahkan saya mulai menyebutnya begitu dalam hati—merencanakan masa depan dengan perempuan lain.

“Tidak lagi.”

Dia mempererat genggaman.

“Jangan dramatis.”

Saya menarik tangan.

“Besok surat dari pengacara saya sampai.”

Dimas membeku.

“Surat apa?”

Saya menatapnya.

“Permintaan audit internal.”

Lalu saya menambahkan,

“Dan gugatan cerai.”

Bu Mira langsung berteriak,

“Kamu gila! Kamu sedang hamil!”

Saya berjalan menuju pintu.

Tetapi sebelum tangan saya menyentuh gagang, Rania tiba-tiba bersuara dari belakang.

“Nisa.”

Saya berhenti.

Dia menghapus air mata.

“Kalau kamu memang mau pergi… ada satu hal yang seharusnya kamu tahu.”

Dimas langsung menoleh tajam.

“Rania, diam.”

Rania berdiri.

Wajahnya gemetar.

“Tidak. Aku capek disuruh diam.”

Bu Mira ikut berdiri.

“Rania!”

Perempuan itu menatap saya.

Lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat saya kembali membeku di depan pintu.

“Dimas menikahimu bukan karena dia sudah selesai denganku.”

Dia menarik napas.

“Dia menikahimu karena ibunya bilang keluargamu punya uang untuk menyelamatkan perusahaannya.”