“Biarkan Aku Memilikinya, Aku Hamil!” Adikku Berjalan ke Pelaminan dengan Gaun Pengantin yang Sama dan Meminta Calon Suamiku di Depan Semua Tamu

Avatar penulis
Cerita 04
17 menit baca 1,104 tayangan
“Biarkan Aku Memilikinya, Aku Hamil!” Adikku Berjalan ke Pelaminan dengan Gaun Pengantin yang Sama dan Meminta Calon Suamiku di Depan Semua Tamu
Indeks

“Biarkan Aku Memilikinya, Aku Hamil!” Adikku Berjalan ke Pelaminan dengan Gaun Pengantin yang Sama dan Meminta Calon Suamiku di Depan Semua Tamu

“Biarkan aku memilikinya. Aku hamil!”

Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut adikku ketika dia sampai di depan pelaminan.

Lalu, di hadapan hampir dua ratus tamu undangan, dia meletakkan kedua tangannya di atas perutnya yang sedikit membuncit.

Yang membuat semuanya terasa jauh lebih kejam adalah gaun yang dikenakannya.

Gaun pengantin berwarna ivory.

“Biarkan Aku Memilikinya, Aku Hamil!” Adikku Berjalan ke Pelaminan dengan Gaun Pengantin yang Sama dan Meminta Calon Suamiku di Depan Semua Tamu

Persis seperti gaunku.

Model lehernya sama.

Sulaman mutiaranya sama.

Bahkan deretan kancing kecil di bagian belakang dibuat menyerupai desain yang kupilih bersama almarhumah nenekku.

Seisi ballroom hotel mewah di kawasan Sudirman, Jakarta, mendadak sunyi.

Aku bisa mendengar suara napasku sendiri.

Di sampingku, calon suamiku, Raka Pratama, berubah pucat.

Aku menatap Raka.

Lalu menatap adikku, Dinda Maheswari.

Terakhir, pandanganku jatuh kepada Mama yang duduk di barisan paling depan.

Mama tidak terlihat terkejut.

Dia terlihat takut.

Dan saat itulah aku tahu.

Mereka sudah mengetahuinya.

Mungkin sejak berminggu-minggu lalu.

Mungkin bahkan berbulan-bulan.

Hanya aku yang sengaja dibiarkan menjadi orang terakhir yang tahu.

Dinda berjalan semakin dekat. Ujung gaunnya bergesekan lembut dengan lantai marmer.

“Jangan bikin semuanya jadi lebih memalukan, Kak Nadira,” katanya.

Suaranya tenang.

Terlalu tenang untuk seorang perempuan yang baru saja menghancurkan pernikahan kakaknya sendiri.

“Raka mencintaiku. Dan anak ini berhak punya ayah.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

Aku tidak menjawab.

Mataku masih tertuju pada gaun yang dikenakannya.

Dinda tidak sekadar datang untuk mengaku hamil.

Dia ingin mempermalukanku.

Karena gaun itu bukan kebetulan.

Gaunku dibuat khusus oleh seorang desainer di Jakarta hampir lima bulan sebelumnya.

Aku sendiri yang memilih kainnya.

Aku sendiri yang memilih detail mutiaranya.

Dan desain kancing di bagian belakang adalah penghormatan kecil untuk nenekku, perempuan yang membesarkanku ketika Papa dan Mama terlalu sibuk mengurus perusahaan.

Dinda tahu betapa berarti gaun itu bagiku.

Karena dia ikut ketika aku melakukan fitting pertama.

Artinya, dia sengaja menirunya.

Dia ingin masuk ke ruangan ini sebagai pengantin yang seharusnya.

Dan menjadikanku perempuan yang tersingkir dari pernikahannya sendiri.

Raka akhirnya membuka mulut.

“Nadira…”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku sebenarnya mau memberitahumu.”

Aku hampir tersenyum.

“Kapan?”

Dia diam.

“Sebelum atau setelah bulan madu kita ke Bali?”

Wajahnya menegang.

Beberapa orang menahan napas.

Dinda justru tertawa kecil.

“Kak, kamu memang selalu seperti ini.”

Aku menatapnya.

“Seperti apa?”

“Dingin.”

Dia mengucapkannya dengan senyum tipis.

“Kamu terlalu serius. Terlalu sibuk dengan perusahaan. Semua hal harus sesuai keinginanmu.”

Kemudian Dinda melirik Raka seolah mereka sedang berbagi sebuah rahasia.

“Makanya akhirnya dia memilih aku.”

Nah.

Itu dia.

Kalimat yang mungkin sudah berkali-kali dia latih di depan cermin.

Dan lucunya, aku pernah mendengar versi berbeda dari kalimat itu hampir sepanjang hidupku.

Sejak kecil, Dinda selalu disebut lebih hangat.

Lebih cantik.

Lebih mudah disukai.

Lebih pandai membuat orang merasa nyaman.

Sedangkan aku?

Aku adalah anak perempuan yang “terlalu mirip Papa.”

Terlalu keras kepala.

Terlalu serius.

Terlalu banyak berpikir.

Ketika Papa meninggal dan sebagian tanggung jawab perusahaan jatuh ke pundakku, keluarga bahkan mulai bercanda bahwa aku lebih cocok tinggal di ruang rapat daripada membangun rumah tangga.

Aku bekerja.

Dinda menikmati hidup.

Aku menyelesaikan masalah.

Dinda membuat semua orang tertawa.

Dan sekarang dia berdiri di pernikahanku mengenakan salinan gaunku, membawa anak dari calon suamiku, sambil menatapku seolah akhirnya dia memenangkan perlombaan yang bahkan tidak pernah kusadari sedang kami jalani.

Semua orang menungguku menangis.

Atau berteriak.

Mungkin menampar Raka.

Mungkin menarik gaun Dinda.

Aku tidak melakukan semua itu.

Aku justru tertawa.

Hanya sekali.

Pelan.

Tetapi cukup untuk membuat ekspresi Dinda berubah.

Raka mengernyit.

“Nadira?”

Aku tidak memandangnya lagi.

Aku berbalik.

Di belakang kami berdiri seorang pria dengan buku prosesi pernikahan masih berada di tangannya.

Namanya Armand Wijaya.

Salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.

Pemilik Wijaya Nusantara Group, sebuah konglomerasi yang bergerak di bidang properti, logistik, teknologi, dan investasi.

Namanya sering muncul di berita bisnis.

Orang-orang mengenalnya sebagai pria yang hampir tidak pernah memberikan wawancara dan jarang terlihat menghadiri acara pribadi.

Tetapi bagiku, Armand bukan sekadar seorang miliarder.

Dia adalah orang kepercayaan mendiang Papa.

Bertahun-tahun lalu, ketika bisnis Papa hampir runtuh karena krisis, Armand adalah orang yang berdiri di sisinya.

Setelah Papa meninggal, dia tetap menjaga jarak tetapi selalu muncul ketika aku benar-benar membutuhkan nasihat.

Hari itu, karena alasan pribadi keluarga dan legalitas prosesi yang telah dipersiapkan sebelumnya, Armand berdiri di sana sebagai orang yang memimpin bagian seremonial pernikahanku.

Dia sudah menyaksikan semuanya.

Namun ekspresinya nyaris tidak berubah.

Hanya satu alisnya yang sedikit terangkat ketika aku menatapnya.

Aku tersenyum.

“Baiklah,” kataku.

Lalu aku mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ballroom seperti meledak.

“Kalau begitu, aku menikah denganmu saja.”

Suara gaduh langsung memenuhi ruangan.

Mama berdiri dari kursinya.

“Nadira!”

Dinda membuka mulut tetapi tidak ada suara yang keluar.

Sementara Raka justru tertawa keras.

“Kamu sudah gila?”

Aku tetap menatap Armand.

Yang mengejutkan semua orang…

dia tidak tertawa.

Armand menutup buku di tangannya.

Kemudian dia menatapku lurus-lurus.

“Nadira,” katanya tenang, “kamu mengatakan itu karena sedang dipermalukan…”

Dia berhenti.

“…atau karena kamu benar-benar menginginkannya?”

Ballroom kembali sunyi.

Aku menatap mata pria itu.

Lalu tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah dia katakan kepadaku setelah Papa meninggal.

Jangan pernah membuat keputusan permanen karena rasa sakit yang sementara.

Aku menarik napas.

“Bertahun-tahun lalu,” kataku, “Om Armand pernah bilang kepadaku supaya tidak mengambil keputusan permanen ketika sedang terluka.”

Tatapannya sedikit melunak.

Aku menggeleng.

“Jadi tidak.”

Senyum kemenangan perlahan kembali ke wajah Dinda.

Raka mengembuskan napas lega.

Mereka mengira aku akhirnya sadar.

Mereka salah.

“Aku tidak meminta Om Armand menikah denganku hari ini.”

Aku berbalik menghadap Dinda.

Senyumnya masih ada.

Tetapi hanya beberapa detik.

“Yang aku minta,” lanjutku, “adalah Om Armand berdiri di sampingku saat aku membatalkan pernikahan ini…”

Aku memandang Raka.

“…membongkar dua pencuri…”

Lalu mataku kembali kepada Dinda.

“…dan mengambil kembali sesuatu yang kalian kira aku terlalu bodoh untuk melindunginya.”

Senyum Dinda lenyap.

Raka membeku.

Mama mencengkeram sandaran kursinya.

Armand bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir.

“Dengan senang hati.”

Aku melihat wajah Raka.

Dan untuk pertama kalinya sejak adikku berjalan memasuki ballroom dengan gaun pengantin yang sama denganku…

dia tidak terlihat malu.

Dia tidak terlihat marah.

Dia terlihat takut.

Karena Raka akhirnya menyadari satu hal.

Aku tidak hanya mengetahui perselingkuhannya.

Aku mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar.

Sesuatu tentang perusahaan Papa.

Tentang tanda tangan yang mereka pikir tidak pernah kuperiksa.

Dan tentang dokumen yang Raka sembunyikan hanya beberapa meter dari tempat kami berdiri.

Dokumen yang, jika dibuka di depan dua ratus tamu itu, bisa menghancurkan bukan hanya pernikahan kami—tetapi seluruh rencana yang telah mereka susun selama berbulan-bulan.

LANJUTAN

Aku menatap Raka cukup lama untuk melihat ketakutan itu tumbuh di matanya.

Bukan ketakutan seorang pria yang baru ketahuan berselingkuh.

Lebih besar dari itu.

Ketakutan seorang pria yang baru sadar bahwa perempuan yang selama ini dianggapnya terlalu sibuk untuk memperhatikan ternyata sudah melihat hampir semuanya.

“Dokumen apa?” tanya Dinda.

Aku tidak menjawabnya.

Aku menoleh kepada Armand.

“Boleh minta seseorang mengambil tas hitam di ruang pengantin?”

Raka langsung bergerak.

“Nadira, jangan.”

Hanya dua kata.

Namun dua kata itu membuat seluruh ruangan kembali sunyi.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Raka menelan ludah.

“Ini pernikahan kita. Apa pun masalah kita, kita selesaikan secara pribadi.”

Aku hampir kagum.

Beberapa menit sebelumnya, dia membiarkan adikku mengumumkan kehamilannya di depan dua ratus orang.

Sekarang dia menginginkan privasi.

“Sayangnya,” jawabku, “kamu sudah memilih panggungnya.”

Armand memberi isyarat kepada asistennya.

Tak lama kemudian, tas kulit hitam milikku dibawa ke depan.

Aku mengeluarkan sebuah map.

Wajah Mama berubah.

Dan saat melihat perubahan itu, dadaku terasa lebih sakit daripada ketika mendengar Dinda mengaku hamil.

Karena perselingkuhan Raka mungkin baru berlangsung beberapa bulan.

Tetapi pengkhianatan keluargaku ternyata jauh lebih lama.

Aku membuka halaman pertama.

“Enam bulan lalu, Raka meminta aku menandatangani dokumen restrukturisasi Maheswari Sentosa.”

Beberapa tamu yang berasal dari kalangan bisnis langsung memperhatikan.

Maheswari Sentosa adalah perusahaan yang dibangun Papa selama hampir tiga puluh tahun.

Setelah Papa meninggal, aku menjadi direktur utama sementara Mama dan Dinda menerima bagian kepemilikan sesuai warisan.

Raka tidak memiliki satu lembar saham pun.

Setidaknya, seharusnya begitu.

“Raka bilang dokumen ini diperlukan untuk masuknya investor baru.”

Aku mengangkat map tersebut.

“Yang tidak dia katakan adalah ada lampiran tambahan.”

Raka maju satu langkah.

“Itu hanya rancangan.”

“Benarkah?”

Aku membuka halaman berikutnya.

“Rancangan pengalihan hak suara atas sahamku kepada perusahaan investasi bernama Asterra Capital.”

Beberapa orang mulai berbisik.

Dinda mengernyit.

Dia tampak benar-benar bingung.

Aku memperhatikannya.

Untuk pertama kalinya hari itu, muncul sebuah kemungkinan yang belum pernah kupikirkan.

Mungkin Dinda tahu tentang Raka.

Tetapi belum tentu dia tahu tentang semuanya.

Aku melanjutkan.

“Asterra Capital didirikan sebelas bulan lalu. Direktur utamanya memakai nama orang lain. Tapi pemilik manfaat akhirnya…”

Aku menatap Raka.

“…adalah kamu.”

Wajahnya kehilangan warna.

Dinda menoleh cepat.

“Raka?”

“Jangan dengarkan dia.”

“Jadi ini benar?”

“Dinda, nanti aku jelaskan.”

Aku tertawa kecil.

Kalimat favorit pria yang tertangkap basah.

Nanti aku jelaskan.

Aku mengeluarkan dokumen lain.

“Masih ada lagi.”

Mama berdiri.

“Nadira, cukup.”

Aku menatap perempuan yang melahirkanku.

“Kenapa cukup, Ma?”

Air mukanya menegang.

“Ini urusan keluarga.”

“Justru karena ini urusan keluarga, aku ingin mendengar semuanya.”

Mama berjalan mendekat.

Untuk sesaat aku berharap dia akan memelukku.

Meminta maaf.

Mengatakan bahwa dia tidak tahu.

Sebaliknya, dia berbisik,

“Jangan hancurkan masa depan adikmu hanya karena harga dirimu terluka.”

Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada pengakuan kehamilan Dinda.

Aku memandang Mama tanpa bicara.

Ternyata bahkan sekarang…

yang dia khawatirkan tetap Dinda.

“Masa depannya?”

Suaraku hampir pecah.

“Ma, aku berdiri di pernikahanku sendiri. Calon suamiku menghamili adikku. Mereka datang ke sini memakai gaun yang sama denganku. Dan Mama masih meminta aku menjaga masa depannya?”

Mama menunduk.

Lalu Dinda mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Berhenti, Ma.”

Kami semua menatapnya.

Dinda melepas veil dari kepalanya.

Tangannya gemetar.

“Aku tidak pernah bilang Mama harus melakukan semua ini.”

Mama pucat.

“Dinda…”

“Melakukan apa?” tanyaku.

Dinda menatapku.

Kesombongan di wajahnya tadi sudah hilang.

Yang tersisa hanyalah seorang perempuan muda yang mulai menyadari bahwa dirinya mungkin bukan pemenang dalam permainan ini.

“Kak…”

Dia menarik napas.

“Mama yang bilang kamu akan membatalkan pernikahan kalau tahu aku hamil.”

“Itu cukup masuk akal.”

“Mama juga bilang Raka akan menikahiku setelah itu.”

Aku melihat Raka.

Dia tidak berani menatap siapa pun.

Dinda melanjutkan.

“Katanya kalau aku datang hari ini, semuanya akan selesai. Kamu akan marah, pergi, lalu keluarga akan mengumumkan perubahan pengantin.”

Aku hampir tidak percaya.

“Kamu benar-benar berpikir aku akan menyerahkan pernikahanku begitu saja?”

Dinda menatap lantai.

“Seumur hidupku, Kak… Mama selalu bilang kamu tidak benar-benar membutuhkan siapa pun.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Dinda mengusap air mata yang mulai jatuh.

“Katanya kamu punya perusahaan. Punya uang. Punya semuanya. Sedangkan aku…”

Dia menyentuh perutnya.

“…cuma punya Raka.”

Raka segera berkata, “Dinda, jangan membuat ini seolah-olah—”

“Diam!”

Teriakannya menggema di ballroom.

Semua orang membeku.

Dinda menatap Raka.

“Apakah kamu akan menikahiku?”

Raka diam.

“Jawab.”

“Aku…”

Hanya satu suku kata itu yang dibutuhkan.

Aku melihat wajah adikku runtuh.

Untuk pertama kalinya, aku merasa kasihan kepadanya.

Bukan berarti apa yang dia lakukan bisa dimaafkan.

Tetapi tiba-tiba aku mengerti sesuatu.

Raka tidak pernah memilih Dinda.

Dia hanya menggunakan kelemahan kami berdua.

Aku punya perusahaan.

Dinda punya kebutuhan untuk merasa dipilih.

Dan Raka menggunakan keduanya.

Aku mengeluarkan lembar terakhir dari map.

“Raka tidak pernah berencana menikahimu.”

Dinda menatapku.

“Apa?”

“Karena tiga minggu setelah bulan madu yang seharusnya kulakukan bersamanya, dia dijadwalkan menandatangani penjualan Asterra Capital kepada sebuah perusahaan luar negeri.”

Armand akhirnya berbicara.

“Dengan nilai hampir satu koma dua triliun rupiah.”

Suara gaduh memenuhi ruangan.

Raka menatapnya tajam.

“Dari mana Anda tahu?”

Armand tersenyum tipis.

“Itu pertanyaan yang seharusnya tidak kau tanyakan kepada seseorang yang sudah tiga puluh tahun berada di dunia investasi.”

Aku meletakkan dokumen di atas meja.

“Kalau aku menandatangani lampiran itu setelah menikah, hak suaraku bisa dialihkan. Dengan dukungan saham Mama…”

Aku berhenti.

Mama menutup mata.

“…Raka akan memperoleh kendali efektif atas perusahaan Papa.”

Dinda memandang Mama.

“Mama tahu?”

Tidak ada jawaban.

“Mama tahu?!”

Mama akhirnya menangis.

“Aku hanya ingin memastikan keluarga kita aman.”

Aku merasa mual.

“Dengan memberikan perusahaan Papa kepada Raka?”

“Dia bilang dia bisa memperbesar bisnis! Dia bilang kamu terlalu konservatif. Kamu menolak ekspansi, menolak utang besar, menolak investor—”

“Karena investor itu perusahaan milik Raka!”

Mama terdiam.

Kemudian Armand mengucapkan sesuatu yang membuat suasana berubah lagi.

“Bukan hanya itu.”

Aku menoleh kepadanya.

Dia memandangku dengan ekspresi yang sulit kubaca.

“Ada satu dokumen lagi yang perlu kamu lihat, Nadira.”

Aku mengernyit.

“Dokumen apa?”

Armand meminta asistennya membawa sebuah amplop tua berwarna cokelat.

Di sudutnya ada tulisan tangan.

Aku langsung mengenalinya.

Tulisan Papa.

Tanganku mendadak dingin.

“Dari mana Om mendapatkannya?”

“Papamu memberikannya kepadaku empat hari sebelum dia meninggal.”

Aku tidak bergerak.

Armand menyerahkan amplop itu.

Di bagian depan tertulis:

Untuk Nadira, jika suatu hari keluarga kita lupa siapa dirinya.

Aku tidak mampu membuka amplop itu.

Jadi Armand melakukannya.

Di dalamnya terdapat surat dan salinan dokumen notaris.

Armand membaca perlahan.

Papa ternyata sudah mencurigai Mama akan menjual saham keluarga jika suatu hari perusahaan mengalami tekanan.

Karena itu, sebelum meninggal, Papa membuat struktur kepemilikan khusus.

Saham yang selama ini kukira kumiliki secara langsung ternyata hanya sebagian.

Ada tambahan dua puluh satu persen saham yang ditempatkan dalam sebuah trust keluarga dengan syarat tertentu.

Hak pengendaliannya baru berpindah kepadaku ketika terjadi upaya pengambilalihan yang melibatkan anggota keluarga atau pasangan hidupku.

Aku menatap Armand.

“Artinya…”

“Artinya,” jawabnya, “sejak Raka mencoba menggunakan Asterra Capital untuk mengambil kendali, klausul perlindungan itu aktif.”

Ballroom kembali sunyi.

“Berapa total hak suara Nadira sekarang?” tanya salah seorang anggota dewan yang hadir.

Armand menatap Raka.

“Enam puluh satu persen.”

Wajah Raka seperti kehilangan seluruh darah.

Aku bahkan tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Selama berbulan-bulan dia merencanakan mengambil perusahaan dariku.

Tanpa sadar, rencananya sendiri justru membuatku menjadi pemegang kendali mutlak.

Papa sudah melindungiku bahkan setelah dia tidak ada.

Tanganku mulai gemetar.

Aku membuka suratnya.

Tulisan Papa memenuhi satu halaman.

Aku membaca sampai kalimat terakhir.

Dan di sanalah pertahananku runtuh.

Nadira, kamu selalu mengira aku mempercayakan perusahaan kepadamu karena kamu paling kuat. Sebenarnya aku memilihmu karena kamu satu-satunya yang selalu bertanya apakah keputusan yang baik untuk perusahaan juga baik untuk orang-orang di dalamnya. Jangan biarkan siapa pun membuatmu percaya bahwa kelembutan hanya terlihat dari cara seseorang tersenyum. Kadang-kadang orang yang paling lembut adalah orang yang berani mengatakan tidak.

Air mataku jatuh.

Aku tidak malu.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku menangis.

Bukan karena Raka.

Bukan karena Dinda.

Karena aku merindukan Papa.

Armand berdiri di sampingku tanpa menyentuhku.

Hanya berdiri.

Seperti yang kujanjikan kepadanya tadi.

Lalu suara Dinda terdengar.

“Kak…”

Aku menoleh.

Dia sudah melepas veil dan buket bunganya tergeletak di lantai.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Aku tahu meminta maaf tidak akan memperbaiki semuanya.”

“Tidak.”

Dia mengangguk sambil menangis.

“Aku tahu.”

Kemudian dia menoleh kepada Raka.

“Aku tidak akan menikah denganmu.”

Raka tertawa pahit.

“Jangan bodoh. Kamu mengandung anakku.”

Dinda memegang perutnya.

Dan kemudian datang kejutan berikutnya.

“Aku belum tahu.”

Raka membeku.

“Apa maksudmu?”

Dinda menatapnya.

“Kehamilanku benar. Tapi aku tidak pernah melakukan tes DNA.”

Wajah Raka berubah.

Aku menatap adikku.

Dinda menangis semakin keras.

“Sebelum aku bersama Raka, aku masih berhubungan dengan mantan tunanganku, Fajar. Kami bertemu lagi beberapa kali setelah putus.”

Mama terduduk.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

Dinda mengusap wajahnya.

“Raka bilang anak ini pasti anaknya karena waktunya cocok. Dan aku… aku ingin mempercayainya.”

Raka maju.

“Kamu bilang itu anakku!”

“Karena kamu bilang akan menikahiku!”

“Aku tidak pernah—”

“Cukup.”

Kali ini suaraku yang menghentikan mereka.

Aku memandang Raka.

“Pernikahan ini batal.”

Lalu aku menatap salah satu anggota dewan yang duduk di barisan tamu.

“Besok pagi kita adakan rapat luar biasa.”

Dia mengangguk.

“Asterra Capital dan seluruh transaksi terkait Raka akan diaudit.”

Wajah Raka menegang.

“Nadira, jangan lakukan ini.”

“Kenapa?”

“Kita bisa memperbaikinya.”

Aku benar-benar tersenyum sekarang.

“Tidak, Raka.”

Aku melepas cincin pertunangan dari jariku.

Aku meletakkannya di atas meja.

“Yang rusak antara kita tidak perlu diperbaiki.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Cukup dihentikan.”


Beberapa bulan setelah hari itu, hidup kami berubah dengan cara yang tidak pernah kubayangkan.

Audit menemukan serangkaian transaksi yang membuat Raka harus berhadapan dengan penyelidikan hukum.

Mama mengundurkan diri dari seluruh posisi di perusahaan.

Aku tidak mengusirnya dari hidupku.

Tetapi aku juga tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Untuk pertama kalinya, aku belajar bahwa memaafkan seseorang tidak berarti memberinya kembali akses yang sama untuk menyakitimu.

Hubunganku dengan Dinda jauh lebih rumit.

Tes DNA akhirnya dilakukan setelah bayinya lahir.

Anak itu bukan anak Raka.

Ayah biologisnya adalah Fajar.

Namun kejutan terbesar bukan hasil tes itu.

Fajar datang ke rumah sakit.

Dia tidak langsung meminta Dinda kembali.

Dia hanya menggendong putrinya dan menangis.

“Aku ingin bertanggung jawab sebagai ayah,” katanya. “Soal kita, nanti kita pikirkan setelah semuanya tenang.”

Anehnya, itulah mungkin pertama kalinya Dinda dicintai tanpa drama.

Tanpa perebutan.

Tanpa seseorang menjanjikan dunia kepadanya.

Mereka tidak langsung menikah.

Dinda mulai bekerja.

Mulai menjalani konseling.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup kami, dia berhenti mencoba menjadi anak perempuan yang paling disukai Mama.

Suatu sore, dia datang ke kantorku membawa bayi kecilnya.

“Kak?”

“Hmm?”

“Kenapa kamu masih mau bertemu denganku?”

Aku menatap keponakanku yang tertidur.

“Karena marah kepadamu dan berhenti mencintaimu ternyata dua hal yang berbeda.”

Dinda menangis.

Aku juga.

Kami tidak berpelukan seperti dalam film.

Belum.

Ada luka yang membutuhkan waktu.

Tetapi ketika dia pergi, dia meninggalkan foto kecil bayinya di mejaku.

Aku menyimpannya.


Setahun setelah pernikahan yang gagal itu, Maheswari Sentosa mencatat tahun terbaik dalam sejarah perusahaan.

Aku menolak rencana ekspansi agresif Raka.

Sebagai gantinya, kami memperluas bisnis perlahan tanpa mempertaruhkan ribuan pekerjaan.

Pada peringatan satu tahun kematian Papa, aku pergi ke makamnya.

Armand sudah berada di sana.

“Kebiasaan buruk,” kataku.

Dia menoleh.

“Apa?”

“Datang lebih dulu ke tempat yang ingin kudatangi.”

Dia tersenyum.

“Kompetisi membutuhkan persiapan.”

Kami berdiri dalam diam.

Setelah beberapa menit, aku bertanya,

“Kenapa Om tidak pernah memberikan surat Papa sebelumnya?”

“Karena dia memintaku menunggu sampai kamu benar-benar membutuhkannya.”

“Dan kalau Raka tidak pernah mengkhianatiku?”

“Surat itu tetap akan kuberikan ketika kamu berusia empat puluh.”

Aku tertawa.

Kemudian aku memandangnya.

“Ada sesuatu yang masih membuatku penasaran.”

“Apa?”

“Di hari pernikahanku, ketika aku bercanda mengajak Om menikah…”

Armand mengangkat alis.

“Itu bercanda?”

Aku terdiam.

Dia tersenyum.

Untuk pertama kalinya, aku melihat pria yang selama ini kukenal sebagai pengusaha dingin terlihat hampir gugup.

“Nadira, ada satu bagian dari permintaanmu hari itu yang sebenarnya membuatku kecewa.”

“Bagian mana?”

“Ketika kamu bilang kamu tidak benar-benar meminta aku menikahimu.”

Aku menatapnya.

Jantungku berdetak aneh.

“Om…”

“Jangan panggil aku Om kalau mau melanjutkan percakapan ini.”

Aku tertawa sampai air mataku keluar.

Armand ikut tertawa.

Tidak ada lamaran.

Tidak ada cincin.

Tidak ada musik.

Hanya dua orang berdiri di depan makam seorang pria yang pernah sangat kami cintai.

Enam bulan kemudian, Armand mengajakku makan malam.

Bukan sebagai wali keluarga.

Bukan sebagai mentor.

Sebagai seorang pria yang ingin mengenal seorang perempuan.

Aku mengatakan ya.

Kami menjalani semuanya perlahan.

Sangat perlahan.

Hampir dua tahun setelah pernikahanku dengan Raka gagal, aku kembali berdiri mengenakan gaun putih.

Tetapi kali ini tidak ada ballroom dengan dua ratus tamu.

Tidak ada kamera media.

Tidak ada pengusaha besar.

Hanya tiga puluh orang di sebuah taman kecil di Bogor.

Dinda berdiri di sampingku sambil menggendong putrinya.

Mama duduk beberapa kursi darinya.

Hubungan kami belum sempurna.

Mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Tetapi kali ini tidak ada kebohongan.

Dan di ujung taman, Armand menungguku.

Ketika aku sampai di depannya, dia berbisik,

“Masih yakin?”

Aku tersenyum.

“Sekarang aku bertanya karena aku memang menginginkannya.”

Dia tertawa.

Kemudian seseorang di belakang kami berseru,

“Jangan sampai ada yang datang pakai gaun yang sama lagi!”

Semua orang tertawa.

Termasuk Dinda.

Aku menoleh kepadanya.

Dia menghapus air mata sambil tersenyum.

Dan saat itulah aku memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun, aku mengira kemenangan berarti mempertahankan apa yang menjadi milikku.

Perusahaan.

Nama keluarga.

Pria yang kupilih.

Ternyata aku salah.

Kadang kemenangan terbesar adalah memiliki keberanian untuk melepaskan sesuatu yang sejak awal tidak pernah pantas dipertahankan.

Raka mengira dia mengambil calon suamiku dariku.

Dinda mengira dia mengambil hari pernikahanku.

Mama mengira aku akan kehilangan keluarga jika menolak mengalah.

Tetapi hari ketika semuanya direnggut dariku justru menjadi hari ketika aku mendapatkan kembali hidupku.

Aku mendapatkan perusahaan Papa.

Aku mendapatkan kembali adikku—bukan sebagai saingan, tetapi sebagai manusia yang sama-sama terluka dan sedang belajar menjadi lebih baik.

Aku belajar mencintai Mama tanpa lagi menyerahkan batas-batasku kepadanya.

Dan akhirnya, aku menemukan seorang pria yang tidak mencintaiku karena menganggapku lemah.

Tidak juga karena membutuhkan apa yang kumiliki.

Armand mencintaiku karena dia tahu persis seberapa kuat aku…

dan tidak pernah merasa perlu membuatku lebih kecil agar dirinya terlihat lebih besar.

Sebelum prosesi dimulai, dia menggenggam tanganku.

“Siap, Nadira?”

Aku memandang Dinda.

Keponakanku.

Mama.

Kemudian langit cerah di atas taman.

Entah kenapa, aku merasa Papa pasti sedang tertawa melihat semuanya.

Aku menggenggam tangan Armand lebih erat.

“Sekarang,” kataku, “aku siap.”

Dan kali ini…

tidak ada seorang pun yang datang untuk merebut pengantin pria.

Karena akhirnya aku memilih seseorang yang juga memilihku.

TAMAT.