Di Bulan Madu Raja Ampat, Aku Mendengar Suami dan Mertuaku Merencanakan Kematian Palsuku, Lalu Aku Menukar Obat Mereka dan Membiarkan Kamera Kapal Merekam Semuanya Saat Laut Gelap Menutup Semua Jalan Pulang

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 34 tayangan
AKU MEMBIARKAN SUAMIKU MENCURI SURAT SAHAM DAN KALUNG IBUKU UNTUK KABUR BERSAMA SELINGKUHANNYA, TANPA DIA TAHU SEMUA DOKUMEN ITU SUDAH KUSIAPKAN SEBAGAI JEBAKAN YANG AKAN MENGHANCURKAN RENCANANYA PAGI ITU
Indeks

Di Bulan Madu Raja Ampat, Aku Mendengar Suami dan Mertuaku Merencanakan Kematian Palsuku, Lalu Aku Menukar Obat Mereka dan Membiarkan Kamera Kapal Merekam Semuanya Saat Laut Gelap Menutup Semua Jalan Pulang

Bagian 1 — Empat Malam Aku Dibius, Sampai Sebuah Percakapan di Pantry Kapal Membongkar Rencana Suamiku Menenggelamkanku Sebelum Fajar dan Menguasai Saham Keluargaku

Pada malam kelima bulan maduku di Raja Ampat, aku terbangun karena mendengar suamiku berkata kepada ibunya,

“Jam tiga lewat sepuluh. Jangan terlalu cepat. Tunggu sampai kru malam pindah ke ruang mesin. Setelah itu aku bawa Nabila ke buritan.”

Lalu suara perempuan yang selama enam bulan terakhir kupanggil Ibu menjawab datar,

“Pastikan kamera belakang sudah mati. Kalau dia jatuh ke laut dalam keadaan setengah sadar, semua orang akan mengira dia kehilangan keseimbangan.”

Tubuhku membeku.

Aku berdiri hanya beberapa meter dari mereka, di balik pintu pantry kapal phinisi yang tidak tertutup sempurna.

Tanganku masih memegang botol air mineral.

Dari celah pintu, aku bisa melihat suamiku, Reza Mahendra, duduk bersama ibunya, Ibu Marni, dan kakak laki-lakinya, Farhan.

Mereka tidak tahu aku berada di sana.

Mereka juga tidak tahu sejak dua menit sebelumnya, ponselku sudah merekam.

Namaku Nabila Wardhani.

Usiaku tiga puluh tahun.

Aku bukan selebritas, bukan anak pejabat, dan bukan perempuan yang hidupnya selalu dipenuhi pesta mewah.

Ayahku membangun perusahaan distribusi bahan bangunan dari sebuah gudang kecil di Bekasi sampai menjadi perusahaan dengan cabang di tujuh kota.

Setelah Ibu meninggal karena stroke enam tahun lalu, Ayah mengalihkan sebagian besar kepemilikan saham perusahaan kepadaku.

Nilainya besar.

Tetapi jauh lebih penting daripada uang itu adalah kenyataan bahwa perusahaan tersebut dibangun Ayah sejak aku masih tidur di atas tumpukan kardus di kantor kecilnya.

Reza tahu semuanya.

Kami berkenalan dua tahun lalu dalam acara pemasok di Surabaya.

Dia tampak sederhana.

Tidak banyak bicara.

Tidak pernah meminta hadiah.

Bahkan ketika aku menawarkan membantunya membuka usaha konsultasi sendiri, dia menolak.

“Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri,” katanya.

Kalimat itulah yang membuatku percaya.

Enam bulan sebelum menikah, Reza bahkan menyarankan kami membuat perjanjian pra-nikah.

Aku semakin yakin aku memilih laki-laki yang tepat.

Sekarang aku sadar, perjanjian itu hanya bagian dari pertunjukan agar seluruh keluargaku menurunkan kewaspadaan.

Empat hari sejak kapal kami meninggalkan Sorong, kondisi tubuhku memburuk.

Setiap malam setelah makan malam, Reza memberiku kapsul berwarna biru-putih.

“Obat mabuk laut dari dokter langganan Mama,” katanya.

Setelah meminumnya, kepalaku terasa sangat berat.

Tanganku lemas.

Aku pernah tertidur hampir empat belas jam.

Ketika bangun, Reza tertawa dan berkata aku pasti kelelahan setelah pesta pernikahan.

Aku mempercayainya.

Sampai malam itu.

“Apa dokumennya sudah ditandatangani?” tanya Ibu Marni.

Farhan membuka sebuah map cokelat.

“Sudah. Reza membuat Nabila tanda tangan beberapa lembar saat dia setengah sadar kemarin. Dia pikir itu formulir operator kapal.”

Aku hampir menjatuhkan botol di tanganku.

Reza tertawa pendek.

“Yang penting sudah ada tanda tangan asli. Sisanya tinggal dibereskan.”

“Lalu setelah polisi menyatakan dia hilang?”

“Kita tunggu dulu. Jangan serakah,” kata Reza. “Aku tampil sebagai suami berduka. Setelah beberapa bulan, baru dokumen pengalihan saham itu digunakan.”

Ibu Marni terdengar puas.

“Anak itu terlalu percaya.”

Dadaku seperti ditusuk.

Perempuan itu pernah menyuapiku bubur ketika aku demam menjelang akad.

Dia memeluk Ayah sambil berkata, “Pak Harun tidak perlu khawatir. Nabila sekarang juga anak saya.”

Ternyata sejak saat itu mereka hanya melihatku sebagai jalan menuju uang.

Kemudian Farhan bertanya sesuatu yang membuat lututku hampir kehilangan tenaga.

“Bagaimana bapaknya?”

Reza diam beberapa detik.

Lalu ia berkata,

“Senin depan orang kita akan bertemu Pak Harun di gudang Cikarang. Kalau rencana pertama berhasil, kita tekan dia supaya menandatangani restrukturisasi saham.”

“Kalau dia menolak?” tanya ibunya.

Suamiku menjawab begitu tenang seolah sedang membicarakan jadwal makan malam.

“Farhan sudah punya cara.”

Aku tidak mendengar jawabannya.

Aku mundur perlahan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Lalu aku kembali ke kabin.

Begitu pintu terkunci, tubuhku langsung jatuh di lantai.

Aku ingin menangis.

Aku ingin berteriak.

Aku ingin membuka pintu dan menampar Reza sampai tanganku mati rasa.

Tetapi satu kesalahan bisa membuatku benar-benar tidak pernah pulang.

Aku memaksa diriku berpikir.

Di dalam koper, di bawah lapisan pakaian, ada sebuah ponsel kedua.

Bukan pemberian Ayah.

Bukan pula sesuatu yang dramatis.

Ponsel itu kubawa karena aku menggunakan dua nomor untuk urusan kantor.

Reza tahu aku punya dua ponsel, tetapi mengira satu ponsel tertinggal di Jakarta karena aku sengaja mengatakan demikian sebelum berangkat.

Aku menyalakannya.

Sinyal hanya satu garis.

Aku mengirim pesan kepada satu orang.

Dimas Santoso, kepala legal perusahaan Ayah dan teman masa kecil kakakku yang sudah meninggal.

“Mas, jangan telepon. Aku dalam bahaya. Reza merencanakan sesuatu terhadapku dan Ayah. Hubungi polisi. Pastikan Ayah tidak pergi sendirian Senin. Aku kirim lokasi kapal.”

Tanda terkirim muncul.

Aku menunggu.

Satu menit terasa seperti satu jam.

Akhirnya balasan masuk.

“Sudah kubaca. Jangan konfrontasi. Kirim bukti apa pun. Aku akan menghubungi pihak berwenang dan operator kapal.”

Aku langsung mengirim rekaman percakapan yang kudapat.

Lalu aku membuka aplikasi kapal yang diberikan operator kepada semua tamu saat naik.

Di sana tercantum nama perusahaan charter, data kru, jalur perjalanan, dan nomor darurat.

Untuk pertama kalinya, sesuatu menarik perhatianku.

Kapal ini memiliki CCTV di beberapa area bersama.

Termasuk lorong menuju buritan.

Kalau Reza ingin membunuhku di sana, dia harus mematikan kameranya.

Dan tadi dia mengatakan kamera belakang harus mati.

Artinya ada kemungkinan mereka akan melibatkan seseorang dari kru.

Atau setidaknya mencoba.

Aku mengirim informasi itu kepada Dimas.

Balasannya muncul beberapa menit kemudian.

“Operator kapal sedang dihubungi. Jangan ubah perilakumu. Kita perlu memastikan siapa saja yang terlibat.”

Aku belum selesai membaca ketika terdengar ketukan.

“Nabila?”

Suara Reza.

Aku buru-buru menyimpan ponsel kedua di dalam sarung bantal.

Pintu terbuka.

Reza masuk membawa teh hangat dan satu kapsul.

Wajahnya penuh perhatian.

“Kenapa keluar kamar? Aku mencarimu.”

“Aku haus,” jawabku pelan.

Dia duduk di sampingku.

Tangannya mengusap rambutku.

Sentuhan yang dulu membuatku merasa aman kini membuat seluruh kulitku merinding.

“Kepalamu masih pusing?”

Aku mengangguk.

Reza mengambil kapsul.

“Minum ini.”

Aku menerima kapsul tersebut.

Lalu menatap matanya.

Untuk sesaat aku bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa menatap perempuan yang ingin dibunuhnya dengan wajah selembut itu.

Aku memasukkan kapsul ke mulut.

Minum.

Menelan.

Setidaknya begitulah yang dilihatnya.

Sebenarnya kapsul kuselipkan di bawah lidah.

Reza menunggu beberapa detik.

“Bagus.”

Dia mencium keningku.

“Tidurlah. Nanti sekitar jam tiga aku bangunkan. Ada plankton bercahaya di sekitar teluk. Cantik sekali. Sayang kalau dilewatkan.”

Jantungku berhenti sesaat.

Jam tiga.

Buritan.

Persis seperti percakapan mereka.

Aku tersenyum lemah.

“Bangunkan aku, ya.”

“Tentu.”

Begitu pintu tertutup, aku meludahkannya ke tisu.

Kumasukkan kapsul itu ke kantong plastik kecil bersama tiga kapsul lain yang diam-diam kusimpan sejak kemarin.

Aku mengirim foto kepada Dimas.

Pukul 01.16, pesannya masuk.

“Ayahmu sudah diamankan. Pertemuan Senin dibatalkan. Polisi juga sedang mengecek orang yang disebut Farhan.”

Aku menangis tanpa suara.

Ayah aman.

Setidaknya satu beban terangkat.

Lalu pesan berikutnya muncul.

“Operator memastikan kapten dan kru inti tidak terlibat. Polisi meminta sistem CCTV tetap aktif. Jangan memberi tahu Reza.”

Aku menatap jam.

01.22.

Kurang dari dua jam.

Aku mematikan lampu, lalu berbaring.

Sekitar pukul 02.45 aku mendengar suara orang berjalan di lorong.

Pintu kabin terbuka perlahan.

Reza masuk.

Di belakangnya berdiri Ibu Marni.

Aneh.

Untuk melihat plankton, kenapa ibu mertuaku ikut?

Reza duduk di tepi kasur.

“Nab?”

Aku tidak bergerak.

Dia menepuk pipiku.

“Nabila?”

Aku membuka mata setengah.

“Ngantuk…”

Reza tersenyum.

“Sebentar saja. Ada sesuatu yang indah ingin kutunjukkan.”

Ibu Marni berdiri di belakangnya sambil membawa cardigan putih milikku.

“Ayo, Nak. Pakai ini. Anginnya dingin.”

Nak.

Dia masih berani memanggilku Nak.

Aku membiarkan mereka membantuku berdiri.

Kakiku kubuat sedikit limbung.

Reza memegang pinggangku.

Kami berjalan melalui lorong.

Satu kamera CCTV berada tepat di atas pintu menuju buritan.

Ketika kami melewatinya, Reza menatap kamera itu.

Lalu wajahnya berubah.

Lampu indikator merahnya masih menyala.

Dia berhenti.

“Aneh.”

Ibu Marni ikut menoleh.

“Kok masih hidup?”

Reza langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

Tidak ada jawaban.

Sekali.

Dua kali.

Tetap tidak ada.

Kemudian pintu dari arah dek belakang terbuka.

Farhan muncul dengan wajah pucat.

“Za…”

“Apa?”

Farhan mendekat dan berbisik, tetapi aku mendengar jelas karena jarak kami hanya satu meter.

“Ada kapal tanpa lampu berhenti cukup jauh di belakang kita sejak dua puluh menit lalu.”

Reza menatapnya tajam.

“Nelayan?”

Farhan menggeleng.

“Bukan.”

Tiba-tiba seluruh ekspresi lembut suamiku lenyap.

Tangannya mencengkeram lenganku begitu keras sampai kukuku hampir menusuk telapak sendiri.

Dia menatapku.

Lama.

Lalu bertanya dengan suara sangat pelan,

“Nabila… sebenarnya sejak kapan kamu tidak minum obat yang kuberikan?”

#DramaKeluarga #KisahPengkhianatan #CeritaIndonesia #RahasiaPernikahan #KarmaItuNyata

Bagian 2 — Aku Pura-Pura Lemah dan Mengikuti Mereka ke Dek Belakang, Tanpa Mereka Tahu Setiap Ancaman Sudah Direkam Polisi dari Kapal Lain

Aku tidak langsung menjawab.

Mata Reza menelusuri wajahku seolah sedang mencari satu gerakan kecil yang bisa membuktikan kecurigaannya.

Aku membiarkan tubuhku bersandar pada dinding.

“Apa maksudmu?”

Farhan mulai panik.

“Reza, jangan lama-lama.”

Ibu Marni mendesis, “Bawa saja dia ke belakang.”

Reza menggenggam pergelangan tanganku.

Kali ini tidak ada lagi pura-pura lembut.

“Kita lihat laut.”

Dia menyeretku melewati pintu.

Angin malam menghantam wajahku.

Langit gelap.

Laut di sekitar pulau-pulau karst tampak seperti hamparan tinta.

Di kejauhan memang terlihat satu siluet kapal.

Tanpa lampu utama.

Aku tidak tahu apakah itu kapal polisi.

Aku hanya tahu aku harus bertahan.

Farhan berjalan menuju panel listrik kecil di sudut dek.

“Aku putus manual saja kameranya.”

Reza langsung membentaknya.

“Jangan! Kalau mati sekarang justru kelihatan disengaja.”

Aku hampir tersenyum.

Mereka mulai panik.

Itulah yang kubutuhkan.

Ibu Marni mengambil sandal dari tangannya lalu meletakkannya dekat pagar.

Sandal milikku.

Dia sudah menyiapkannya.

“Kalau nanti ada pemeriksaan,” katanya cepat, “bilang Nabila keluar sendiri karena mual.”

Aku melihat sandal itu.

Bukti.

Semua terjadi di depan kamera.

Reza menarikku mendekati pagar buritan.

“Nabila.”

Aku menatapnya.

Dia akhirnya berhenti berpura-pura.

“Aku cuma mau tahu satu hal. Kamu dengar apa?”

Aku menggeleng.

“Aku tidak mengerti.”

“Jangan bohong!”

Bentakannya membuat Ibu Marni terkejut.

Farhan menoleh ke lorong, takut kru mendengar.

Reza menurunkan suara.

“Kamu tadi ada di dekat pantry?”

Aku diam.

Rahangnya mengeras.

Kemudian tangannya masuk ke saku cardigan yang dikenakan kepadaku.

Aku langsung sadar kesalahan terbesarku.

Ponsel kedua.

Untungnya tidak ada di sana.

Sebelum keluar kabin, aku sudah menyelipkannya ke dalam lapisan pinggang celana tidur.

Tetapi Reza belum selesai.

Dia meraba sisi tubuhku.

Aku mundur.

“Kenapa?”

Saat itulah Ibu Marni berkata,

“Tidak usah cari-cari lagi. Sudah telanjur. Selesaikan sekarang.”

Kalimat itu membuat suasana berubah total.

Tidak ada lagi sandiwara.

Reza menatap ibunya.

Farhan terlihat semakin takut.

“Ma, kita belum tahu kapal itu siapa.”

“Kalau dia hidup, kita semua habis!”

Ibu Marni berbalik kepadaku.

Wajah keibuannya hilang sepenuhnya.

“Kamu seharusnya tidak perlu mengalami ini kalau keluargamu tidak serakah menyimpan semuanya sendiri.”

Aku hampir tidak percaya dengan kalimat itu.

“Keluargaku serakah?”

Untuk pertama kalinya aku berhenti berpura-pura mengantuk.

Aku berdiri tegak.

Ketiganya terdiam.

Reza membelalak.

“Nab…”

“Aku sadar sepenuhnya.”

Wajah Ibu Marni pucat.

Farhan mundur selangkah.

Aku menatap suamiku.

“Dan aku mendengar semuanya.”

Reza langsung mencengkeram bahuku.

“Kamu menghubungi siapa?”

Aku tidak menjawab.

Tangannya semakin kuat.

“SIAPA?”

Farhan menarik lengannya.

“Za, berhenti! Kamera!”

Tetapi Reza sudah kehilangan kendali.

“Kalau kamu sudah cerita ke orang lain, ponselnya di mana?”

Dia mencoba menggeledahku.

Aku melawan.

Bukan untuk mengalahkannya.

Hanya untuk mempertahankan waktu.

“Kamu benar-benar mau membunuh istrimu demi saham perusahaan?”

“Jangan bicara seolah kamu suci!” bentak Reza.

“Dua tahun aku hidup seperti orang miskin di sampingmu! Setiap kali kita pergi, semua orang kenal kamu sebagai anak Harun Wardhani. Aku apa? Suaminya Nabila!”

Aku menatapnya tidak percaya.

Jadi inilah alasan yang ia bangun dalam kepalanya.

Iri.

Harga diri.

Dan keserakahan.

“Karena itu kamu membiusku?”

Dia diam.

Aku sengaja melanjutkan.

“Karena itu kamu menyuruh Farhan mengurus Ayahku?”

“Diam!”

“Karena itu kalian membuat surat pengalihan saham palsu?”

“DIAM!”

Reza menamparku.

Kepalaku terlempar ke samping.

Ibu Marni bahkan tidak bergerak menolong.

Farhan justru berkata,

“Kita pergi saja. Batalkan semuanya.”

Ibunya membentak, “Bodoh! Kalau dia turun dari kapal, kita masuk penjara!”

“Kalau kita teruskan, kita juga masuk penjara!”

Mereka mulai bertengkar.

Dan untuk pertama kali aku melihat keluarga yang selama ini tampak sangat kompak mulai saling menyalahkan.

Lalu terdengar suara mesin dari kejauhan.

Semakin dekat.

Reza menoleh ke laut.

Dua cahaya kecil muncul.

Kemudian tiga.

Farhan memucat.

“Itu bukan nelayan.”

Ibu Marni menarik tanganku.

“Reza!”

Semuanya terjadi cepat.

Reza mendorongku ke arah pagar.

Aku menangkap besi pembatas.

Tubuhku membentur keras.

“Nabila!” teriak Farhan.

Reza mencoba mengangkat kakiku.

Aku menendang.

Ibu Marni memegang tanganku.

Di tengah angin dan suara mesin kapal yang semakin mendekat, seseorang tiba-tiba meneriakkan sesuatu dari pengeras suara.

“SEMUA ORANG DI DEK BELAKANG, JANGAN BERGERAK!”

Reza membeku.

Lampu sorot putih menyapu permukaan laut.

Kemudian langsung menerangi kami.

Aku melihat tulisan POLAIRUD pada kapal yang mendekat.

Tangisku hampir pecah karena lega.

Tetapi detik berikutnya Reza melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia melepaskanku.

Lalu berlari ke meja luar, mengambil map cokelat berisi dokumen palsu, menyiramnya dengan cairan dari botol kecil dan menyalakan korek.

Api menyambar.

“Reza!” teriak ibunya.

Dia menatap kami dengan wajah liar.

“Kalau bukti hilang, mereka tidak bisa membuktikan apa-apa!”

Namun dari pintu lorong belakang terdengar suara kapten kapal.

“Bukti apa yang mau Anda hilangkan, Pak Reza?”

Semua menoleh.

Kapten berdiri bersama dua kru.

Di tangannya ada tablet.

Di layar terlihat rekaman CCTV.

Dan seseorang yang paling tidak kami duga berdiri di belakang mereka.

Seorang laki-laki yang selama lima hari terakhir diperkenalkan sebagai teknisi mesin kapal.

Dia membuka jaketnya.

Lalu menunjukkan identitas kepolisian.

Wajah Farhan langsung kehilangan seluruh warnanya.

Sementara Reza akhirnya sadar bahwa jebakan malam itu bukan lagi miliknya.

Bagian 3 — Saat Reza Mendorongku ke Pagar, Sirene Menyala dari Kegelapan, dan Satu Pengkhianatan Terakhir Membuat Seluruh Keluarganya Saling Menjatuhkan di Depan Polisi

Polisi itu bernama AKP Arman.

Belakangan aku baru mengetahui operator kapal menghubungi pihak berwenang setelah menerima informasi dari Dimas.

Karena posisi kami cukup jauh dari Sorong dan polisi tidak ingin membuat para pelaku curiga, seorang petugas yang kebetulan berada di kapal pendamping wisata terdekat dipindahkan lebih dahulu menggunakan perahu cepat.

Itulah sebabnya Reza tidak menyadari apa pun.

“Jauhkan tangan dari api,” perintah AKP Arman.

Reza masih memegang map yang terbakar.

Dia menjatuhkannya.

Seorang kru segera memadamkan api.

Sebagian dokumen hangus.

Tetapi polisi tidak terlihat khawatir.

AKP Arman menatap Reza.

“Salinannya sudah diamankan.”

Reza menoleh cepat.

“Apa?”

Kapten mengangkat tabletnya.

“Mesin pemindai di ruang administrasi otomatis menyimpan file ketika Bapak meminta kru memindai dokumen kemarin.”

Aku hampir tertawa karena ironinya.

Reza sendiri yang menciptakan bukti cadangan.

Ibu Marni langsung menunjuk Farhan.

“Semua ini idenya dia!”

Farhan menatap ibunya tidak percaya.

“Apa?!”

“Kamu yang mengurus dokumen!”

“Yang menyuruh aku siapa?”

Dalam hitungan detik keluarga yang berbulan-bulan menyusun rencana bersama itu mulai saling menjatuhkan.

Farhan menunjuk Reza.

“Dia yang kasih obat ke Nabila! Saya cuma disuruh urus berkas!”

Reza menerjang kakaknya.

“Pengecut!”

Polisi segera memisahkan mereka.

Aku berdiri beberapa meter dari mereka dengan pipi masih terasa panas akibat tamparan.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Aku hanya memandangi laki-laki yang tujuh hari lalu berdiri di depan penghulu dan berjanji melindungiku.

Sekarang tangannya diborgol.

Ibu Marni masih berteriak.

“Nabila! Kamu salah paham! Ibu cuma ikut karena takut sama Reza!”

Aku akhirnya menatapnya.

“Waktu Ibu memegang tanganku supaya Reza bisa menjatuhkanku ke laut, Ibu juga takut?”

Dia terdiam.

Tidak ada jawaban yang bisa menyelamatkannya.

Pemeriksaan berlanjut sampai pagi.

Kapsul yang kusimpan diserahkan kepada penyidik untuk diuji.

Rekaman suara dari pantry diamankan.

CCTV memperlihatkan Ibu Marni meletakkan sandalku dekat pagar, Reza menyeretku ke buritan, serta usaha mereka membuangku ke laut.

Ponsel Farhan juga disita.

Dan justru dari sanalah penyidik menemukan bagian lain yang jauh lebih besar.

Ada percakapan tentang pemalsuan dokumen.

Transfer uang kepada seseorang yang diminta mengikuti jadwal Ayah.

Foto kendaraan Ayah.

Bahkan rekaman contoh tanda tanganku yang dikirim Reza berbulan-bulan sebelum pernikahan.

Artinya rencana itu tidak lahir saat bulan madu.

Pernikahan kami sejak awal memang sudah digunakan sebagai pintu masuk.

Aku merasa mual ketika mengetahui hal itu.

Tetapi setidaknya kali ini bukan karena obat.

Tiga hari kemudian aku bertemu Ayah di Sorong.

Begitu melihatku keluar dari ruang pemeriksaan, Ayah berjalan cepat lalu memelukku.

Tidak ada pidato panjang.

Tidak ada pertanyaan soal perusahaan.

Dia hanya berkata,

“Yang penting kamu pulang.”

Aku menangis di dadanya seperti anak kecil.

Untuk pertama kalinya sejak malam di kapal, aku membiarkan diriku benar-benar merasa takut.

Kasus itu kemudian berkembang.

Orang yang diminta Farhan membuntuti Ayah ditangkap dan memberikan keterangan kepada penyidik.

Notaris yang namanya dicatut dalam salah satu dokumen menyatakan tidak pernah membuat akta tersebut.

Pemeriksaan laboratorium juga menemukan kandungan obat penenang dalam kapsul yang diberikan kepadaku.

Reza mencoba berkilah bahwa obat itu hanya untuk mabuk laut.

Namun percakapannya sendiri di ponsel mematahkan alasan tersebut.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum berjalan terhadap ketiganya dengan sejumlah dugaan tindak pidana yang ditangani sesuai hasil penyidikan.

Aku mengajukan perceraian.

Reza sempat meminta bertemu.

Aku menolak.

Kemudian dia mengirim surat melalui pengacaranya.

Isinya tiga halaman.

Dia menulis bahwa dirinya “tertekan oleh keluarga”.

Bahwa semua bermula dari ibunya.

Bahwa dia sebenarnya masih mencintaiku.

Aku membaca sampai kalimat itu.

Kemudian berhenti.

Sebab seseorang yang mencintaimu mungkin bisa marah.

Bisa mengecewakanmu.

Bisa melakukan kesalahan.

Tetapi dia tidak akan mengukur tinggi pagar kapal sebelum memutuskan dari sisi mana tubuhmu paling mudah dijatuhkan.

Aku tidak pernah membalas surat itu.

Ayah juga melakukan perubahan besar.

Bukan karena takut hartanya direbut, tetapi karena kejadian tersebut menyadarkan kami bahwa perusahaan terlalu bergantung pada satu keluarga.

Kami membangun sistem tata kelola baru.

Kewenangan pengalihan saham diperketat.

Dokumen penting membutuhkan persetujuan beberapa pihak.

Tidak ada lagi tanda tangan kosong.

Tidak ada lagi akses finansial hanya karena hubungan keluarga.

Dan untuk pertama kalinya, Ayah menunjuk beberapa profesional nonkeluarga ke posisi strategis.

Enam belas bulan setelah malam di Raja Ampat itu, aku kembali ke Papua Barat Daya.

Bukan untuk bulan madu.

Aku datang bersama Ayah dan beberapa karyawan perusahaan untuk program pembangunan perpustakaan kecil di sebuah kampung pesisir yang selama bertahun-tahun menjadi mitra distribusi kami.

Pada sore terakhir, aku duduk di dermaga.

Lautnya sama.

Anginnya hampir sama.

Tetapi aku bukan perempuan yang sama.

Dimas duduk beberapa meter dariku sambil meminum kopi.

Dia bertanya,

“Kamu masih takut naik kapal?”

Aku melihat perahu-perahu kecil di kejauhan.

“Masih.”

“Lalu kenapa datang?”

Aku tersenyum.

“Karena aku tidak mau Reza mengambil tempat ini juga dariku.”

Aku pernah mengira kemenangan berarti melihat orang-orang yang menyakitiku kehilangan segalanya.

Ternyata bukan.

Kemenangan sebenarnya adalah ketika ketakutan mereka tidak lagi menentukan cara kita menjalani hidup.

Saat matahari turun di balik pulau, Ayah memanggilku untuk pulang.

Aku berdiri.

Tidak ada lagi suami yang menggenggam tanganku.

Tidak ada keluarga mertua yang memanggilku anak.

Tidak ada pernikahan yang harus kuselamatkan.

Anehnya, aku justru merasa hidupku jauh lebih utuh.

Karena malam ketika mereka mencoba membuatku menghilang di tengah laut, mereka memang berhasil mengakhiri sesuatu.

Bukan hidupku.

Melainkan perempuan yang selalu mengira cinta berarti harus mempercayai seseorang tanpa batas.

Perempuan itu tidak pernah kembali dari Raja Ampat.

Yang pulang adalah seorang Nabila yang tahu bahwa kasih sayang tidak membutuhkan kebutaan, keluarga tidak dibuktikan lewat kata-kata, dan kesempatan kedua paling penting terkadang bukan diberikan kepada orang lain.

Melainkan kepada diri sendiri.