Dokumen Terakhir Ayah Membongkar Rencana Suamiku, tetapi Pesan Rahasia Putriku Membuatku Menyadari Bahwa Anak-Anakku Sedang Dalam Bahaya

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 58 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 – Dokumen Terakhir Ayah Membongkar Rencana Suamiku, tetapi Pesan Rahasia Putriku Membuatku Menyadari Bahwa Anak-Anakku Sedang Dalam Bahaya

Aku menatap dokumen yang diangkat Ayah ke depan kamera.

Pada sudut kanan atas terdapat dua nama.

Nama putriku.

Dan nama putraku.

Di bawahnya tertulis sesuatu yang membuat darahku seakan berhenti mengalir.

Perjanjian Pengelolaan Dana Perwalian.

Aku memperbesar gambar.

Video itu direkam bertahun-tahun lalu, jauh sebelum kedua anakku lahir. Namun Ayah rupanya sudah menyiapkan sebuah dana perwalian untuk keturunanku kelak.

Suara Ayah terdengar lagi.

“Sebagian besar aset Ayah tidak diwariskan langsung kepadamu.”

Aku menahan napas.

“Karena Ayah tahu selama kamu masih mencintai seseorang, kamu akan memberikan terlalu banyak.”

“Tetapi cucu-cucu Ayah berbeda.”

“Jika suatu hari kamu mempunyai anak, hak manfaat atas sebagian aset ini akan otomatis berpindah kepada mereka.”

Tanganku mulai gemetar.

Jadi selama ini suamiku salah memahami warisan Ayah.

Dia mengira akulah pewaris utama.

Padahal sebagian aset terbesar justru disiapkan untuk anak-anakku.

Ayah melanjutkan:

“Selama mereka belum dewasa, ibu kandung mereka menjadi wali utama.”

“Tidak seorang pun, termasuk ayah mereka, dapat mengambil alih pengelolaan tanpa persetujuanmu, kecuali secara hukum kamu dinyatakan tidak mampu menjalankan tanggung jawab sebagai wali.”

Aku tiba-tiba memahami semuanya.

Koper putriku.

Kamera di lorong.

Kunci yang mereka cari.

Dan kalimat suamiku:

Kita perlu membicarakan kedua anak kita.

Mereka tidak sedang mengejar anak-anak karena kasih sayang.

Mereka membutuhkan posisi hukum atas mereka.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor putriku.

Hanya tiga kata.

Mama, jangan pulang.

Kemudian sebuah foto terkirim.

Aku membukanya.

Putriku rupanya memotret dari balik pintu.

Di ruang keluarga, suamiku sedang berbicara dengan adik perempuanku.

Koper anak-anak berada di lantai.

Di sampingnya berdiri seorang pria asing.

Aku segera menelepon pengacara keluarga yang pernah membantu Ayah.

Untungnya nomor kantor yang tertulis dalam dokumen masih aktif.

Setelah mendengar namaku, seorang pengacara senior langsung berkata:

—Jangan kembali sendirian.

Aku terdiam.

Dia melanjutkan:

—Ayah Anda sudah meninggalkan instruksi untuk situasi seperti ini.

Dua puluh menit kemudian, aku berada di kantor keamanan fasilitas penyimpanan.

Pengacara itu datang bersama dua stafnya.

Aku memperlihatkan video kamera rumah, pesan putriku, serta rekaman wanita itu menggeledah kamarku.

Dia melihat semuanya tanpa memotong.

Kemudian bertanya:

—Apakah suami Anda tahu Anda sudah memahami isi perwalian?

—Sepertinya belum.

—Bagus. Jangan beri tahu.

Aku memandangnya.

—Anak-anak saya ada di rumah.

—Kita akan memastikan mereka aman lebih dulu.

Kami menghubungi pihak berwenang untuk meminta pendampingan berdasarkan situasi yang terjadi di rumah dan kekhawatiranku terhadap anak-anak.

Aku juga meminta seorang tetangga yang sangat kupercaya untuk memperhatikan rumah dari luar.

Beberapa menit kemudian, dia mengirim pesan.

Mobil suamimu masih di depan. Anak-anak belum dibawa pergi.

Aku baru bisa bernapas sedikit lega.

Namun kemudian pesan kedua masuk.

Ada mobil lain baru datang.

Aku segera membuka kamera.

Pria asing tadi sedang membawa dua tas menuju pintu depan.

Aku tidak mau menunggu lagi.

Ketika akhirnya aku tiba di rumah bersama pendamping dan pengacara, pintu depan terbuka.

Suamiku berdiri di ruang keluarga.

Wajahnya berubah begitu melihat orang-orang di belakangku.

—Untuk apa membawa mereka?

Aku tidak menjawab.

Mataku langsung mencari kedua anakku.

—Di mana anak-anak?

—Di atas.

Aku hendak naik, tetapi dia menghalangi.

—Kita bicara dulu.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku menatapnya tanpa berusaha menjaga perasaannya.

—Minggir.

Dia terdiam.

Mungkin baru saat itu dia menyadari perempuan yang berdiri di hadapannya bukan lagi istri yang selalu memilih diam demi mempertahankan rumah tangga.

Aku naik.

Pintu kamar anak terkunci.

—Sayang, ini Mama.

Beberapa detik kemudian terdengar suara tangis.

—Mama?

Pintu terbuka.

Putriku langsung memeluk pinggangku.

Putraku yang lebih kecil keluar dari balik tempat tidur dan berlari ke arahku.

Aku berlutut, memeluk keduanya.

—Tidak apa-apa. Mama sudah di sini.

Putriku berbisik:

—Papa bilang kami akan pergi beberapa hari.

Aku menatap wajahnya.

—Kalian tidak akan pergi ke mana pun tanpa Mama.

Setelah memastikan mereka aman bersama pendamping, aku kembali turun.

Suamiku sudah duduk di ruang keluarga.

Adik perempuanku berdiri dekat jendela.

Aku meletakkan salinan dokumen perwalian di meja.

Wajah suamiku langsung berubah.

Aku bertanya:

—Ini yang kalian cari?

Tidak ada jawaban.

Aku menoleh kepada wanita itu.

—Atau kamu mencari sesuatu yang lain, Adikku?

Dia tersentak.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumahku, topeng tenangnya pecah.

—Kamu sudah tahu?

—Ayah memberitahuku.

Matanya memerah.

—Dia tidak pernah mengakuiku secara terbuka.

—Jadi kamu memilih bekerja sama dengan suamiku?

Dia menggigit bibir.

Suamiku langsung memotong:

—Jangan membuat semuanya terdengar buruk. Kami cuma ingin menyelesaikan urusan lama.

Aku tertawa kecil.

—Dengan menggeledah kamarku?

Dia diam.

—Dengan mempersiapkan koper anak-anak?

Wajahnya menegang.

—Aku ayah mereka.

—Dan aku ibu mereka.

Aku menunjuk dokumen.

—Sekarang aku juga tahu kenapa tiba-tiba kamu sangat tertarik membawa mereka pergi.

Dia bangkit.

—Jangan sok pintar. Tanpa aku, kamu pikir kamu bisa mengurus semua aset itu?

Akhirnya.

Kalimat yang selama ini dia sembunyikan keluar juga.

Aku memandang pria yang sudah delapan tahun kupanggil suami.

Ternyata Ayah benar.

Yang dia inginkan bukan aku.

Bahkan bukan pernikahan kami.

Dia menginginkan akses.

Aku berkata pelan:

—Kamu sudah tahu tentang dana ini sejak kapan?

Dia tidak menjawab.

Namun seseorang menjawab untuknya.

—Sembilan tahun.

Kami semua menoleh.

Adik perempuanku berdiri dengan wajah pucat.

Suamiku membentak:

—Diam!

Tetapi dia justru mundur menjauh darinya.

—Tidak. Aku sudah muak.

Kemudian dia menatapku.

—Dia mengetahui perwalian itu bahkan sebelum menikahimu.

Ruangan mendadak sunyi.

Dia melanjutkan:

—Dia mendekatimu karena itu.

Suamiku berdiri.

—Jangan percaya dia!

Namun wanita itu mengeluarkan ponsel.

—Aku punya rekamannya.

Dia meletakkan ponsel di meja.

Sebuah audio diputar.

Suara suamiku terdengar jelas.

“Begitu anak-anak menjadi penerima manfaat, kita hanya perlu membuat wali mereka berubah.”

Lalu suara lain bertanya:

“Kalau istrinya tidak setuju?”

Suamiku tertawa.

“Kita buat dia terlihat tidak mampu mengurus mereka.”

Aku merasa dingin dari kepala sampai kaki.

Namun rekaman belum selesai.

Suara suamiku kembali terdengar.

“Setelah itu, semuanya akan jauh lebih mudah.”

Aku menatapnya.

Kali ini dia benar-benar kehilangan warna wajah.

Dan tepat ketika kupikir semua rahasia sudah terbongkar, adik perempuanku berkata:

—Masih ada satu hal lagi.

Dia menatap kedua anakku yang berdiri di tangga bersama pendamping.

Kemudian menoleh kepadaku.

—Alasan Ayah menyembunyikan keberadaanku bukan karena dia malu memiliki anak kedua.

Suaranya bergetar.

—Dia menyembunyikanku karena bertahun-tahun lalu, seseorang pernah mencoba menggunakan aku untuk mengambil aset keluarga.

Aku membeku.

Dia menunjuk suamiku.

—Dan orang yang mengatur semuanya…

—adalah keluarganya.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)