Dua Belas Hari Setelah Melahirkan, Suamiku Menyuruhku Tanda Tangan Cerai Saat Diam-Diam Menjual Rumah untuk Putri Kami

Avatar penulis
Cerita 01
24 menit baca 150 tayangan
Dua Belas Hari Setelah Melahirkan, Suamiku Menyuruhku Tanda Tangan Cerai Saat Diam-Diam Menjual Rumah untuk Putri Kami
Indeks

Dua Belas Hari Setelah Melahirkan, Suamiku Menyuruhku Tanda Tangan Cerai Saat Diam-Diam Menjual Rumah untuk Putri Kami

Bagian 1

Dinda Prasetya masuk ke ruang mediasi pengadilan sambil menggendong putrinya yang baru berusia dua belas hari. Ia belum sempat duduk ketika perempuan di sebelah suaminya menatap bayi itu dan senyumnya langsung hilang.

“Itu bayi siapa?”

Raka Adinata mengatupkan rahang.

“Bukan waktunya membahas itu, Maya.”

Dinda tidak menjawab perempuan itu terlebih dahulu. Ia menarik sedikit selimut krem yang menutupi tubuh Livia, memastikan wajah putrinya tidak terkena udara pendingin ruangan.

Dinda mengenakan blus longgar dan celana hitam. Tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya setelah melahirkan. Malam sebelumnya ia hanya tidur dalam potongan-potongan pendek karena Livia beberapa kali terbangun.

Dua Belas Hari Setelah Melahirkan, Suamiku Menyuruhku Tanda Tangan Cerai Saat Diam-Diam Menjual Rumah untuk Putri Kami

Namun ia datang bukan untuk membuat siapa pun merasa kasihan.

Ia datang karena ada sebuah rumah yang sedang berusaha dihilangkan suaminya dari hidup mereka.

“Namanya Livia,” kata Dinda akhirnya. “Dia lahir dua belas hari lalu. Saat Raka bilang sedang menutup transaksi proyek di Surabaya.”

Wajah Maya berubah.

“Dua belas hari?”

Raka menggeser kursinya.

“Maya, cukup.”

“Kamu bilang kalian sudah berpisah lebih dari setahun.”

“Dinda sudah keluar dari rumah.”

Dinda menatapnya.

“Aku pergi setelah ibumu datang ke rumah sakit membawa draf kesepakatan dan bilang jaminan biaya perawatanku dari perusahaan keluarga bisa dihentikan kalau aku tidak menandatanganinya.”

Kuasa hukum Dinda, Arif Wibowo, menghentikan gerakan tangannya di atas berkas.

Maya menoleh cepat kepada Raka.

“Kamu bilang proses cerainya sudah hampir selesai.”

“Memang hampir.”

“Dan kamu tidak pernah bilang istrimu sedang hamil?”

“Ini urusan rumah tangga saya,” jawab Raka dingin.

Kalimat itu membuat Maya diam, tetapi bukan karena menerima penjelasannya.

Dinda duduk di seberang Raka.

Tujuh tahun ia menjalani hidup bersama laki-laki itu. Raka dikenal sebagai salah satu pengembang properti yang cukup disegani di Bandung. Namanya beberapa kali muncul dalam acara bisnis lokal. Di depan wartawan ia suka membicarakan integritas, rumah sebagai tempat keluarga bertumbuh, dan tanggung jawab pengusaha terhadap masyarakat.

Ketika kontraksi Dinda mulai teratur dua minggu sebelumnya, Raka bahkan tidak datang ke rumah sakit.

Ia hanya mengirim pesan bahwa urusan proyek tidak bisa ditinggalkan.

Dinda baru mengetahui beberapa hari kemudian bahwa “urusan proyek” itu bukan satu-satunya alasan.

Maya juga berada di Surabaya bersamanya.

Arif membuka map.

“Posisi klien saya tetap sama. Kami meminta pengasuhan utama anak berada pada Ibu Dinda, kewajiban nafkah anak ditentukan dengan jelas, dan seluruh aset yang relevan diperiksa sebelum ada kesepakatan mengenai pembagian harta.”

Raka tertawa kecil.

“Bukan itu yang kita sepakati.”

“Kita belum menyepakati apa pun,” kata Dinda.

“Kamu sudah setuju keluar dari rumah dan menerima kompensasi.”

“Aku setuju membaca proposalmu. Aku tidak pernah setuju menyerahkan apa yang seharusnya dilindungi untuk anakku.”

Raka merapatkan kedua tangannya di atas meja.

“Dinda, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang diperlukan.”

Livia bergerak kecil dalam gendongannya.

Dinda mengusap punggung bayi itu perlahan.

Raka melanjutkan, “Tanda tangani dokumennya. Ambil uang yang sudah saya tawarkan. Setelah itu pergi dan jangan ikut campur dalam bisnis saya lagi.”

Arif menatap Raka.

“Klien saya bukan sedang meminta saham perusahaan Anda.”

“Semua ini tetap berhubungan dengan perusahaan saya.”

“Rumah di Cendana Residence tidak.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk, Raka tidak langsung menjawab.

Maya mengerutkan kening.

“Rumah apa?”

Dinda membuka tasnya.

Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan meletakkannya di tengah meja.

“Sebelum ada tanda tangan,” katanya, “sebaiknya seseorang menjelaskan ini dulu.”

Pengacara Raka mengambil amplop tersebut setelah menerima anggukan dari kliennya.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen pengecekan hak atas tanah, korespondensi dari kantor PPAT yang menangani transaksi, dokumen perusahaan, serta beberapa bukti transfer yang sudah disusun berdasarkan tanggal.

Makin lama pengacara itu membaca, makin pelan tangannya bergerak.

Ia mengangkat kepala.

“Ibu mendapatkan salinan ini dari mana?”

“Sebagian dari dokumen yang memang ada di arsip keluarga kami. Sisanya diperoleh melalui pemeriksaan resmi yang dilakukan kuasa hukum saya setelah kami menemukan nomor sertifikatnya.”

Arif menarik satu lembar ke depan.

“Rumah di Cendana Residence sedang dalam proses dialihkan ke PT Langit Selaras.”

Maya menoleh kepada Raka.

“Langit Selaras?”

Dinda tidak mengalihkan pandangan dari suaminya.

“Perusahaan itu baru berdiri empat bulan.”

Arif menunjuk akta perusahaan.

“Direkturnya Ratna Adinata.”

Maya masih kebingungan.

“Siapa Ratna?”

“Ibu Raka,” jawab Dinda.

Raka langsung membantah.

“Ibu saya tidak ada hubungannya dengan perceraian ini.”

“Kalau begitu akan mudah menjelaskan kenapa tiga kali ada aliran dana dari perusahaan konstruksimu ke rekening operasional PT Langit Selaras,” kata Dinda.

Wajah Raka menegang.

“Jangan membawa masalah perusahaan ke sini kalau kamu tidak mengerti apa yang kamu baca.”

Dinda sebenarnya sudah mendengar kalimat serupa berkali-kali selama pernikahan mereka.

Saat ia bertanya tentang rekening rumah tangga, Raka mengatakan ia tidak mengerti bisnis.

Saat ia mempertanyakan pengeluaran besar, Raka mengatakan bagian keuangan yang mengurusnya.

Saat ia menemukan draft dokumen di ruang kerja mereka, Raka menyuruhnya fokus pada kehamilan.

Selama beberapa bulan terakhir Dinda hampir percaya bahwa dirinya memang terlalu lelah untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Sampai ia melihat rumah itu tidak dicantumkan dalam daftar aset yang disodorkan kepadanya.

Rumah di Cendana Residence dibeli ketika mereka sudah menikah. Raka sendiri yang memilih desain kamar anak.

Di salah satu kunjungan mereka, ketika kehamilan Dinda baru memasuki bulan kelima, Raka berdiri di kamar kosong di lantai dua dan mengatakan, “Nanti kamar ini buat anak kita.”

Sekarang aset itu seolah tidak pernah ada.

“Apa sebenarnya rumah itu?” tanya Maya.

Dinda menjawab tanpa memandangnya.

“Rumah yang katanya akan menjadi tempat Livia tumbuh.”

Maya menarik napas pelan.

Dinda melanjutkan, “Raka menghilangkannya dari daftar aset yang diberikan kepada pengacara. Ketika aku masih dirawat setelah melahirkan, proses penjualannya justru dipercepat.”

“Itu tuduhan,” kata Raka.

Arif mendorong satu dokumen ke arah pengacara Raka.

“Ini pemberitahuan transaksi yang kami peroleh dari pihak yang berwenang menangani prosesnya. Silakan diperiksa sendiri.”

Raka menatap Dinda.

“Jangan keterlaluan.”

Dinda tetap diam.

“Tidak tahu diri kamu sedang melawan siapa?”

Kali ini Arif hendak menjawab, tetapi Dinda lebih dahulu berkata, “Aku tahu. Aku sedang berhadapan dengan orang yang mengira perempuan yang baru melahirkan pasti terlalu lelah untuk memeriksa dokumen.”

Raka menghantamkan telapak tangannya ke meja.

Livia terkejut dan mulai merengek.

Dinda berdiri sedikit dari kursinya, mendekap putrinya sampai tangis kecil itu berhenti.

Pengacara Raka berkata pelan, “Pak Raka, sebaiknya kita menjaga nada bicara.”

Ponselnya bergetar.

Ia membaca nama penelepon, lalu meminta izin keluar beberapa langkah dari meja.

Tidak sampai satu menit kemudian ia kembali dengan wajah yang jauh lebih tegang.

“Pak Raka.”

Raka tidak menoleh.

“Apakah Bapak mengotorisasi transaksi pagi ini?”

Raka tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian ponsel Arif juga berdering.

Arif mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali berkata, “Baik,” lalu mencatat sesuatu.

Setelah sambungan terputus, ia menutup mapnya perlahan.

“PPAT yang menangani transaksi baru saja mengonfirmasi ada upaya untuk menyelesaikan tahapan penjualan rumah Cendana Residence dengan nilai sekitar Rp13,8 miliar. Calon pembeli juga sudah menyerahkan uang muka.”

Maya memandang Raka seolah baru pertama kali melihat laki-laki di sampingnya.

“Kamu menjual rumah itu?”

Raka menyandarkan tubuhnya.

“Saya menjual aset yang memang bisa saya jual.”

“Tanpa memberi tahu istrimu?”

“Rumah itu tidak pernah menjadi milik Dinda.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dinda memandang amplop cokelat pertama.

Kemudian ia melihat Livia.

Terakhir, matanya berhenti pada laki-laki yang sudah mengisi tujuh tahun hidupnya.

“Kamu benar,” katanya pelan.

Dinda memasukkan tangannya kembali ke dalam tas dan mengeluarkan amplop kedua.

“Begitu amplop ini dibuka, semua orang di ruangan ini akan tahu siapa yang sebenarnya berhak atas rumah itu.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Arif tidak langsung membuka amplop kedua.

Ia meletakkannya di meja dan bertanya kepada Raka, “Sebelum kami lanjut, apakah Bapak tetap menyatakan rumah Cendana Residence bukan milik Ibu Dinda?”

Raka tertawa pendek.

“Jelas bukan.”

Dinda melihat sesuatu yang sudah terlalu lama tidak ia sadari.

Raka bukan orang yang yakin karena memiliki bukti.

Ia yakin karena selama bertahun-tahun tidak ada seorang pun di rumah mereka yang berani memaksanya menjelaskan.

Arif membuka amplop.

Di dalamnya terdapat akta perjanjian perkawinan mereka, dokumen penjualan sebidang tanah milik Dinda sebelum menikah, jejak transfer pembayaran rumah, dan surat pernyataan yang pernah ditandatangani Raka sendiri di hadapan notaris enam tahun sebelumnya.

Rumah itu memang dibeli setelah pernikahan.

Namun uang pembeliannya berasal dari hasil penjualan tanah yang sudah dimiliki Dinda sebelum menikah.

Dalam perjanjian perkawinan mereka, aset pengganti yang dibeli menggunakan harta pribadi tetap dipisahkan sepanjang asal dananya dapat dibuktikan.

Yang paling membuat Raka berhenti bergerak adalah lembar terakhir.

Tanda tangannya sendiri berada di sana.

Enam tahun lalu, ketika hubungan mereka masih baik, Raka pernah menyatakan tidak memiliki klaim kepemilikan atas pembelian tersebut.

Saat itu ia tidak keberatan karena rumah itu dianggap sebagai investasi keluarga Dinda.

Baru setelah nilainya meningkat tajam, ceritanya berubah.

Maya membaca salinan dokumen yang didorong Arif ke tengah meja.

“Jadi rumah itu memang milik Dinda?”

“Status akhirnya tetap harus diperiksa secara resmi dalam proses yang tepat,” jawab Arif. “Tapi dokumen ini menunjukkan dasar yang sangat kuat bahwa Pak Raka tidak bisa memperlakukan rumah tersebut sebagai aset pribadinya dan menjualnya sepihak.”

Raka menatap Dinda.

“Kamu sudah merencanakan ini.”

“Tidak.”

Dinda mengusap kepala Livia.

“Aku baru memeriksa semua dokumen setelah melihat rumah itu hilang dari daftar asetmu.”

“Siapa yang membantumu?”

“Tidak penting.”

“Pasti ayahmu pernah menyimpan salinan.”

“Ayahku sudah meninggal tiga tahun lalu.”

Raka terdiam.

Dinda melanjutkan, “Untungnya dia selalu bilang dokumen tidak punya ingatan pendek seperti manusia.”

Maya berdiri.

Raka memegang lengannya.

“Mau ke mana?”

Maya menarik tangannya.

“Kamu bilang Dinda cuma mengejar uangmu.”

“Itu benar.”

“Dia baru melahirkan anakmu dua belas hari lalu.”

“Maya.”

“Kamu bilang kalian sudah selesai sejak tahun lalu.”

Raka menurunkan suara.

“Kita bicara di luar.”

“Tidak perlu.”

Maya mengambil tasnya.

Dinda tidak merasakan kemenangan melihatnya pergi.

Perempuan itu bukan alasan Raka mencoba menjual rumah.

Maya hanya salah satu kebohongan yang akhirnya bertabrakan dengan kebohongan lainnya.

Setelah pintu tertutup, Raka menoleh kepada pengacaranya.

“Hentikan transaksi sementara.”

Pengacaranya menjawab, “Saya justru menyarankan Bapak tidak melakukan apa pun lagi terhadap aset tersebut sebelum statusnya diperiksa.”

Raka menatapnya tajam.

“Siapa yang membayar Anda?”

“Bapak. Dan karena itu saya berkewajiban memberi nasihat yang tidak memperburuk posisi Bapak.”

Dinda hampir tidak pernah mendengar orang dalam lingkaran Raka berbicara kepadanya seperti itu.

Raka kemudian menatap Dinda.

“Kamu mau apa?”

“Untuk hari ini?”

Dinda menyandarkan Livia lebih nyaman.

“Transaksi dihentikan. Tidak ada perubahan dokumen, tidak ada pengalihan baru, dan semua aset yang terkait perkawinan dimasukkan ke daftar pemeriksaan.”

“Kamu mau menghancurkan perusahaan saya?”

“Aku bahkan belum meminta laporan perusahaanmu.”

“Kalau rumah itu tidak jadi dijual, ada kewajiban yang harus saya bayar.”

Dinda menatapnya.

Kalimat itu terasa berbeda.

“Utang apa?”

Raka membuang pandangan.

Arif langsung menangkap perubahan itu.

“Pak Raka, apakah penjualan rumah tersebut berkaitan dengan kewajiban perusahaan?”

“Bukan urusan kalian.”

Dinda tidak mengejar jawabannya saat itu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak perlu menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu ruangan.

Ia hanya perlu mencegah Raka membuat keputusan berikutnya atas namanya.

“Aku tidak akan tanda tangan apa pun hari ini,” katanya.

Raka merendahkan suara.

“Kamu akan menyesal.”

Dinda memasukkan kedua amplop kembali ke tas.

“Mungkin.”

Ia berdiri.

“Tapi kalau aku menyesal nanti, setidaknya itu karena keputusan yang kubuat sendiri.”

Ketika Dinda dan Arif hampir sampai ke pintu, pengacara Raka memanggil mereka.

“Pak Arif.”

Arif menoleh.

Laki-laki itu memegang selembar dokumen yang baru saja diteruskan kepadanya melalui surel.

“Calon pembeli mengirimkan salinan instruksi pembayaran uang muka.”

Ia memandang Raka sebelum melanjutkan.

“Uang muka penjualan rumah ternyata tidak masuk ke rekening PT Langit Selaras.”

Dinda berhenti.

“Masuk ke mana?”

Pengacara itu membaca nama rekening yang tercantum.

“Rekening pribadi atas nama Ratna Adinata.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Raka berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser keras.

“Itu tidak mungkin.”

Pengacaranya menyerahkan ponsel.

“Silakan lihat sendiri.”

Raka membaca dokumen itu beberapa detik.

“Ini hanya rekening penampungan sementara.”

Arif bertanya, “Rekening pribadi ibu Anda?”

“Transaksi belum selesai.”

“Justru karena belum selesai,” kata Arif, “masih ada kesempatan untuk menghentikan semuanya sebelum masalahnya jauh lebih besar.”

Dinda memperhatikan wajah suaminya.

Beberapa tahun sebelumnya, ketika mereka baru menikah, Raka selalu tahu apa yang harus dikatakan.

Jika ada masalah proyek, ia punya penjelasan.

Jika keluarganya berselisih, ia punya jalan keluar.

Jika Ratna mengkritik Dinda, Raka selalu mengatakan ibunya hanya terlalu khawatir terhadap anak-anaknya.

Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, Raka tampak seperti orang yang tidak mengetahui seluruh bagian dari rencananya sendiri.

“Apakah ibumu tahu uang itu masuk ke rekeningnya?” tanya Dinda.

Raka tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Arif kemudian meminta agar semua pembicaraan tentang penyelesaian perceraian dihentikan sementara sampai informasi terkait aset diperiksa.

Tidak ada keputusan dramatis hari itu.

Tidak ada hakim yang langsung menyatakan rumah milik siapa.

Tidak ada orang yang diborgol.

Yang terjadi jauh lebih sederhana dan justru lebih berarti bagi Dinda.

Ia keluar dari gedung tanpa menandatangani satu lembar pun.

Di dalam mobil, Livia mulai menangis.

Dinda duduk di kursi belakang dan menyusuinya sebelum mereka berangkat.

Tangannya masih sedikit gemetar.

Arif menunggu di depan tanpa mengajak bicara sampai tangis bayi itu mereda.

Setelah beberapa menit, Dinda berkata, “Saya kira setelah dokumen rumah ditemukan, saya akan merasa lega.”

“Tidak?”

“Tidak.”

Ia memandang kepala kecil Livia.

“Saya malah mulai berpikir ada berapa hal lagi yang tidak saya tahu.”

Arif tidak menjawab dengan janji kosong.

“Kalau begitu jangan cari semuanya sekaligus. Mulai dari yang bisa Ibu akses secara sah. Rekening milik Ibu, dokumen rumah, arsip pembayaran, dan komunikasi yang memang dikirim kepada Ibu.”

Dinda mengangguk.

Sebelum pulang, mereka singgah di bank tempat Dinda memiliki rekening pribadi dan rekening yang selama ini dipakai untuk kebutuhan rumah tangga.

Ia mengganti PIN mobile banking, memperbarui kata sandi, dan memastikan nomor telepon untuk notifikasi hanya miliknya.

Rekening bersama tidak dapat ia kosongkan sesuka hati, dan ia tidak mencoba melakukannya.

Ia hanya meminta catatan transaksi yang memang berhak ia dapatkan sebagai pemilik rekening.

Malam itu, setelah Livia tertidur, Dinda duduk di meja makan apartemen sementara yang disewanya setelah keluar dari rumah utama.

Selama berbulan-bulan ia selalu berhenti memeriksa dokumen ketika mulai merasa lelah.

Kali ini tidak.

Ia tidak mencari skandal.

Ia mencari pola.

Dan pola pertama muncul dari pembayaran rumah sakit.

Dua minggu sebelum persalinan, ada tagihan deposit yang seharusnya ditanggung program fasilitas kesehatan perusahaan Raka.

Statusnya tiba-tiba berubah menjadi “menunggu persetujuan”.

Sehari kemudian Ratna menghubungi Dinda dan membicarakan kesepakatan perceraian.

Dinda masih mengingat percakapan itu.

“Kamu tidak perlu membuat masalah, Din,” kata Ratna saat itu.

“Raka sudah menentukan apa yang akan dia berikan. Ambil saja.”

“Saya sedang hamil sembilan bulan, Bu.”

“Justru karena itu jangan keras kepala. Kamu perlu biaya rumah sakit.”

Dinda dulu mengira Ratna sekadar menakut-nakutinya.

Sekarang ia menyimpan tangkapan layar status tagihan dan surel terkait jaminan perusahaan ke folder khusus.

Ia tidak menelepon Ratna.

Belum.

Pagi berikutnya Raka menelepon enam kali.

Dinda tidak menjawab sampai setelah ia selesai memandikan Livia.

Begitu panggilan tersambung, Raka langsung berkata, “Kita harus bertemu.”

“Untuk apa?”

“Jangan bertingkah seolah kita orang asing.”

Dinda memandang bayi di tempat tidur.

“Raka, kamu datang ke ruang mediasi bersama perempuan yang kamu bilang sudah kamu kenal setelah kita berpisah, padahal anak kita baru berusia dua belas hari.”

Hening.

“Aku akan jelaskan Maya nanti.”

“Bukan itu yang aku tanyakan.”

“Jadi apa?”

“Kenapa uang muka rumah masuk ke rekening ibumu?”

Raka menghela napas panjang.

“Ibu cuma membantu.”

“Membantu apa?”

“Menjaga transaksi tetap cepat.”

“Kenapa transaksi harus cepat?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Dinda tidak mengisi keheningan itu.

Akhirnya Raka berkata, “Ada kebutuhan likuiditas.”

“Untuk perusahaan?”

“Ya.”

“Berapa?”

“Tidak ada hubungannya dengan kamu.”

“Kalau caramu menutupnya adalah menjual rumahku, itu berhubungan denganku.”

“Rumah itu tidak menghasilkan apa-apa.”

Dinda menutup mata sebentar.

Kalimat itu lebih menjelaskan Raka daripada semua dokumen yang sudah dibacanya.

Baginya, sesuatu yang tidak menghasilkan uang bisa dipakai untuk menutup sesuatu yang lain.

Termasuk rumah yang bukan miliknya.

Termasuk tabungan.

Termasuk hubungan.

“Asal dana rumah itu jelas,” kata Dinda. “Kamu sendiri menandatangani pernyataannya.”

“Aku menandatangani banyak dokumen enam tahun lalu.”

“Itu bukan alasan dokumennya berhenti berlaku.”

Raka menaikkan suaranya.

“Perusahaan ini yang membiayai hidup kita bertahun-tahun.”

Dinda menjawab tenang, “Dan aku tidak pernah mengambil aset perusahaanmu diam-diam untuk membayar masalahku.”

Raka terdiam.

Dinda kemudian berkata, “Mulai sekarang, semua komunikasi soal rumah, perceraian, dan nafkah Livia lewat pengacara kalau berkaitan dengan dokumen. Kalau kamu mau menanyakan kondisi anakmu, kamu boleh hubungi aku secara langsung.”

“Aku ayahnya.”

“Benar.”

“Jangan gunakan anak untuk menghukumku.”

“Aku tidak melarangmu bertanya tentang dia.”

Dinda menatap kalender kecil di meja.

“Tapi aku juga tidak akan membawa bayi dua minggu ke tempat mana pun hanya karena kamu baru ingat ingin melihatnya. Kita atur dengan wajar.”

Raka memutus sambungan tanpa menjawab.

Siang harinya Ratna datang.

Dinda mengetahuinya dari petugas keamanan apartemen yang menelepon interkom.

“Ibu Ratna Adinata mengatakan beliau ibu mertua Ibu.”

Dinda melihat Livia yang baru tertidur.

“Mohon bilang saya tidak menerima tamu.”

Lima menit kemudian teleponnya bergetar.

Pesan Ratna masuk.

Kita keluarga. Jangan mempermalukan Raka di depan orang luar.

Dinda membacanya dua kali.

Kemudian mengetik:

Saya tidak akan membahas perceraian di lobi apartemen. Kalau Ibu ingin membicarakan uang muka rumah yang masuk ke rekening Ibu, silakan melalui pengacara.

Ratna langsung menelepon.

Dinda membiarkannya berhenti sendiri.

Dua hari berikutnya tidak ada kejadian besar.

Justru pada hari ketiga sesuatu yang kecil mengubah arah persoalan.

Arif menghubungi Dinda setelah mendapat salinan resmi beberapa dokumen yang mereka minta dari pihak yang menangani transaksi.

“Bu Dinda, nama PT Langit Selaras memang muncul dalam rangkaian transaksi. Tapi ada satu hal yang perlu Ibu lihat.”

Mereka bertemu di kantornya sore itu.

Di atas meja terdapat beberapa lembar dokumen perusahaan.

Ratna tercantum sebagai direktur.

Namun pihak yang menyetor modal awal terbesar bukan Raka.

Dana itu berasal dari PT Adinata Konstruksi.

Perusahaan utama Raka.

“Jadi dia mengambil uang perusahaan?” tanya Dinda.

“Kita belum bisa menyimpulkan begitu. Bisa saja ada transaksi resmi antarperusahaan. Yang perlu diperiksa adalah dasar transaksinya.”

Arif menunjuk tiga tanggal.

“Tapi waktunya berdekatan dengan masalah proyek yang disebut Pak Raka kemarin.”

Dinda teringat kata “likuiditas”.

“Ada utang?”

“Mungkin.”

“Mungkin berapa besar?”

“Saya tidak mau menebak.”

Jawaban itu justru membuat Dinda lebih tenang.

Selama hidup bersama Raka, hampir semua orang di sekitar laki-laki itu suka berbicara seolah mereka sudah tahu segalanya.

Arif tidak.

Dinda berkata, “Kalau masalah perusahaan bukan bagian saya, saya tidak mau ikut campur.”

“Itu keputusan yang masuk akal.”

“Tapi kalau dia mencoba mengambil rumah saya untuk menutupnya, saya perlu tahu kenapa.”

“Kita hanya perlu tahu sejauh yang relevan dengan rumah dan proses perceraian.”

Seminggu kemudian jawabannya datang bukan dari seorang saksi rahasia atau rekaman tersembunyi.

Jawabannya muncul melalui dokumen yang Raka sendiri akhirnya terpaksa ajukan dalam proses mediasi berikutnya.

Salah satu proyek perumahan perusahaannya mengalami keterlambatan serius.

Ada kewajiban pembayaran kepada beberapa kontraktor dan pemasok.

Tidak membuat Raka bangkrut.

Tidak menghancurkan perusahaannya.

Namun cukup untuk menekan arus kas.

Raka membutuhkan dana cepat.

Ia tidak ingin menjual aset perusahaan karena penjualan besar pada saat itu akan menarik perhatian mitra dan bank.

Rumah Cendana Residence terlihat seperti pilihan yang mudah.

Nilainya sudah naik tajam.

Dinda sedang hamil tua.

Ia sudah meninggalkan rumah utama setelah pertengkaran mereka.

Raka tampaknya mengira ia bisa menyelesaikan perceraian lebih dulu, memberinya kompensasi yang jauh lebih kecil, lalu menjual rumah sebelum Dinda sempat mempertanyakan daftar aset.

PT Langit Selaras menjadi lapisan tambahan agar transaksi terlihat terpisah dari dirinya.

Dan Ratna membantu.

Saat pertemuan berikutnya, Ratna datang bersama Raka.

Bukan sebagai pihak dalam perceraian, melainkan karena namanya muncul dalam aliran dana dan dokumen perusahaan.

Dinda tidak membawa Livia kali itu.

Putrinya tinggal beberapa jam bersama ibunya sendiri.

Ratna duduk tegak di ujung meja.

Begitu pembicaraan dimulai, ia langsung berkata, “Saya hanya membantu anak saya.”

Arif menjawab, “Tidak ada yang melarang seorang ibu membantu anaknya. Yang sedang dibahas adalah bentuk bantuan tersebut.”

Ratna menatap Dinda.

“Kamu tahu perusahaan Raka mempekerjakan banyak orang.”

Dinda tidak menjawab.

“Kalau satu proyek terganggu, bukan cuma Raka yang terkena.”

“Lalu rumah saya harus dijual?” tanya Dinda.

“Rumah itu kosong.”

“Bukan itu pertanyaannya.”

Ratna menghela napas.

“Dinda, kamu punya tempat tinggal.”

“Dan karena saya punya tempat tinggal lain, berarti Ibu boleh menerima uang muka dari penjualan rumah saya?”

“Jangan bicara seolah saya mencuri.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Ratna menatap Raka.

Raka tidak membantunya.

Akhirnya perempuan itu berkata, “Raka bilang semuanya akan dibereskan dalam perceraian.”

“Dibereskan bagaimana?”

“Kamu akan menerima uang.”

“Berapa?”

Ratna diam.

Raka menyela.

“Ini tidak produktif.”

Dinda menoleh kepadanya.

“Aku ditawari Rp1,5 miliar untuk keluar, tidak mempertanyakan aset, dan menyelesaikan perceraian cepat.”

Ratna tidak terlihat terkejut.

Itu jawaban yang Dinda perlukan.

“Kalian tahu rumah itu sedang dipasarkan hampir sembilan kali lipat dari jumlah yang ditawarkan kepadaku.”

“Nilai pasar bukan berarti keuntungan bersih,” kata Raka.

“Bukan soal keuntungan.”

Dinda menarik satu lembar dokumen.

“Yang ingin aku tahu sederhana. Kapan kalian memutuskan aku tidak perlu tahu?”

Ratna menggeleng.

“Kamu sedang hamil. Kami tidak mau membuatmu stres.”

Dinda menatapnya beberapa detik.

“Ibu mengancam menghentikan jaminan biaya rumah sakit kalau saya tidak menandatangani kesepakatan.”

“Saya tidak mengancam.”

“Pesannya masih ada.”

Ratna langsung diam.

Dinda tidak membacakan pesannya keras-keras.

Tidak perlu.

Ia sudah menyerahkan salinannya kepada Arif.

Raka mengusap wajah.

“Ibu seharusnya tidak membawa masalah rumah sakit.”

Ratna berbalik tajam.

“Kamu yang bilang Dinda tidak mau menandatangani!”

Ruangan mendadak sunyi.

Raka menatap ibunya.

Ratna baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Dinda tidak merasa puas.

Ia hanya merasa sesuatu yang selama ini kabur akhirnya menjadi sederhana.

Raka tahu.

Ratna tahu.

Mereka tidak sedang mencoba melindunginya dari stres.

Mereka mencoba membuatnya cukup takut dan cukup lelah untuk menerima kesepakatan tanpa memeriksa.

Arif meminta agar pembicaraan kembali ke dokumen.

Pada akhir pertemuan, Raka setuju melalui pengacaranya untuk menghentikan seluruh langkah penjualan rumah sampai status dan hak para pihak diselesaikan secara formal.

Uang muka calon pembeli juga harus dikembalikan sesuai mekanisme transaksi, dan calon pembeli diberi tahu bahwa proses tidak dapat dilanjutkan.

Masalah dengan PT Langit Selaras belum selesai.

Masalah arus kas perusahaan Raka juga bukan urusan yang dapat dibereskan Dinda.

Dan Dinda tidak mencoba menyelamatkannya.

Dua minggu kemudian, ia memindahkan semua dokumen asli miliknya dari rumah lama ke tempat penyimpanan yang hanya bisa diakses olehnya.

Ia juga memisahkan pembayaran kebutuhan pribadinya dari rekening rumah tangga.

Nafkah Livia mulai dibahas secara resmi berdasarkan kebutuhan anak dan kemampuan Raka, bukan berdasarkan angka yang dikeluarkan keluarganya dalam percakapan informal.

Raka mulai meminta bertemu Livia.

Dinda tidak menolaknya.

Pertemuan pertama dilakukan di rumah ibu Dinda selama satu jam.

Raka datang sendiri.

Ia berdiri lama di depan tempat tidur bayi.

“Dia mirip kamu,” katanya.

Dinda sedang menyusun botol susu di meja.

“Kadang mirip kamu kalau sedang mengernyit.”

Raka tersenyum tipis.

Itulah percakapan pertama mereka dalam berminggu-minggu yang tidak terasa seperti negosiasi.

Namun Dinda tidak mengartikan satu momen lembut sebagai perubahan besar.

Ketika waktunya selesai, Raka mengangkat kepala.

“Aku boleh datang lagi?”

“Kita atur.”

“Kenapa semua harus diatur sekarang?”

Dinda menatapnya.

“Karena sebelumnya terlalu banyak hal yang tidak diatur, lalu kamu memutuskan semuanya sendiri.”

Raka tidak membalas.

Sebulan setelah mediasi pertama, Maya mengirim satu pesan kepada Dinda.

Bukan permintaan maaf panjang.

Hanya beberapa kalimat.

Ia mengatakan sudah mengakhiri hubungannya dengan Raka setelah mengetahui timeline sebenarnya.

Ia juga meminta maaf karena datang ke proses perceraian dengan sikap seolah Dinda adalah perempuan yang menghalangi kebahagiaannya.

Dinda membaca pesan itu.

Kemudian menyimpannya.

Ia tidak menjawab.

Tidak semua penyesalan membutuhkan hubungan baru.

Pada masa yang sama, Raka berhenti meminta Dinda menerima “kompensasi” lama.

Melalui pengacaranya, ia menyampaikan proposal baru yang mengakui rumah Cendana Residence sebagai objek yang tidak boleh ia jual atau jaminkan tanpa penyelesaian status yang sah.

Dinda tidak langsung menyetujui seluruh proposal.

Beberapa bagiannya masuk akal.

Beberapa lainnya masih terlalu menguntungkan Raka.

Arif membantu menjelaskan perbedaannya.

“Jadi kita tolak?” tanya Dinda.

“Bukan begitu cara kerjanya,” kata Arif. “Kita balas bagian yang tidak sesuai. Yang wajar tidak perlu ditolak hanya karena datang dari pihak sana.”

Dinda tersenyum kecil.

Ia mulai menyukai kalimat-kalimat yang tidak berisi perang.

Sebelumnya ia mengira mempertahankan diri berarti selalu berkata tidak.

Ternyata kadang mempertahankan diri berarti cukup sabar membaca satu halaman sampai selesai sebelum menjawab.

Dua bulan kemudian, perkara perceraian mereka masih berjalan.

Tidak ada penyelesaian kilat.

Tidak ada satu sidang yang mengubah seluruh hidup.

Namun beberapa hal sudah jelas.

Rumah Cendana Residence tidak dijual.

Upaya pengalihannya melalui PT Langit Selaras dihentikan.

Dokumen yang dibuka dalam proses menunjukkan bahwa sumber dana pembelian berasal dari harta pribadi Dinda yang terlindungi dalam perjanjian perkawinan mereka.

Raka tidak bisa lagi memperlakukannya sebagai dana cadangan perusahaan.

Ratna mengembalikan uang muka yang sempat masuk ke rekeningnya melalui proses yang disepakati pihak transaksi.

Ia tidak pernah meminta maaf secara langsung kepada Dinda.

Yang ia lakukan justru berhenti menghubunginya.

Bagi Dinda, itu cukup untuk sementara.

Hubungan Raka dengan ibunya juga berubah.

Dinda tidak tahu seluruh detailnya dan tidak mencari tahu.

Ia hanya mendengar dari pengacara bahwa nama Ratna tidak lagi dipakai dalam pengelolaan transaksi yang berkaitan dengan aset pribadi Raka.

Perusahaan Raka tidak runtuh.

Ia menjual satu unit komersial milik perusahaan dan menegosiasikan ulang jadwal pembayaran dengan beberapa kontraktor.

Itu membuat Dinda semakin yakin rumahnya sebenarnya tidak pernah menjadi satu-satunya jalan keluar.

Hanya jalan keluar yang paling mudah karena Raka mengira ia bisa mengambilnya.

Suatu sore, setelah mengunjungi Livia, Raka berdiri di dekat pintu apartemen.

Usia Livia hampir tiga bulan.

“Aku mau tanya sesuatu,” katanya.

Dinda menunggu.

“Kalau aku tidak menjual rumah itu, apa kita masih akan bercerai?”

Pertanyaannya membuat Dinda diam cukup lama.

Beberapa bulan sebelumnya ia mungkin akan menjawab dari luka.

Sekarang ia mencoba menjawab dari apa yang benar-benar terjadi.

“Aku belum tahu.”

Raka mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu perselingkuhanmu merusak pernikahan kita.”

Raka menunduk.

“Tapi kalau hanya itu, mungkin aku masih akan butuh waktu untuk memutuskan.”

Dinda memegang gagang pintu.

“Yang mengubah semuanya adalah kamu melihat aku di rumah sakit, tahu aku sebentar lagi melahirkan, lalu tetap memilih menggunakan keadaan itu supaya aku menyerahkan hakku.”

Raka mengangkat wajah.

“Aku panik karena perusahaan.”

“Aku percaya kamu panik.”

“Jadi kamu mengerti?”

“Mengerti bukan berarti menyetujui.”

Raka tidak mengatakan apa-apa.

Dinda melanjutkan, “Kamu punya pilihan menjual aset perusahaan. Kamu punya pilihan bicara dengan bank. Kamu punya pilihan bernegosiasi dengan kontraktor. Kamu bahkan punya pilihan datang kepadaku dan bilang perusahaanmu sedang kesulitan.”

“Aku malu.”

“Itu juga aku percaya.”

“Tapi aku tidak bermaksud mengambil semuanya darimu.”

“Kamu menawarkan Rp1,5 miliar supaya aku pergi, saat kamu mencoba menjual rumah hampir Rp14 miliar tanpa memberitahuku.”

Raka menarik napas.

“Aku pikir nanti setelah perusahaan stabil aku bisa mengganti.”

“Itulah masalahnya.”

Dinda membuka pintu sedikit.

“Kamu berpikir kamu bisa mengambil dulu, menjelaskan nanti.”

Raka berdiri tanpa bergerak.

“Aku mau memperbaikinya.”

“Kamu harus memperbaiki banyak hal.”

“Pernikahan kita?”

Dinda menggeleng.

“Mulai dari hubunganmu dengan anakmu. Tanggung jawabmu. Cara kamu mengelola masalah tanpa menjadikan orang lain sebagai jalan keluar.”

“Dan kita?”

“Proses cerai tetap berjalan.”

Raka menutup mata sesaat.

Ketika membukanya lagi, tidak ada ancaman.

Tidak ada kalimat tentang siapa yang sedang Dinda lawan.

Hanya seorang laki-laki yang akhirnya tidak bisa memaksa jawaban yang ia inginkan.

“Baik,” katanya.

Itu bukan rekonsiliasi.

Tapi itu pertama kalinya Raka menerima batas tanpa mencoba menawar batas tersebut pada detik yang sama.

Enam bulan setelah Livia lahir, keputusan utama tentang pengasuhan dan kewajiban nafkah sudah memiliki kerangka yang jauh lebih jelas.

Proses pembagian beberapa urusan keuangan masih berjalan.

Dinda tetap tinggal di apartemen karena rumah Cendana Residence membutuhkan perawatan sebelum nyaman ditempati bersama bayi.

Ia tidak buru-buru pindah.

Selama beberapa bulan rumah itu kosong dan hanya sesekali diperiksa.

Pada suatu Sabtu pagi, Dinda membawa Livia ke sana.

Kamar di lantai dua masih seperti ketika terakhir kali mereka datang sebelum kelahiran.

Dindingnya putih.

Tirai belum terpasang.

Di sudut ruangan masih ada katalog warna cat yang pernah mereka tinggalkan.

Dinda membuka jendela.

Udara masuk bersama suara kendaraan dari jalan kompleks.

Livia, yang berada dalam gendongan, menatap ke arah cahaya.

Dinda tidak tahu apakah rumah itu akan mereka tempati bertahun-tahun.

Ia tidak tahu apakah suatu hari akan dijual dengan keputusannya sendiri untuk biaya pendidikan Livia atau untuk sesuatu yang belum bisa ia bayangkan.

Yang ia tahu hanya satu.

Tidak ada lagi orang yang bisa menjualnya diam-diam saat ia sedang terlalu lelah untuk bertanya.

Sebelum pulang, Dinda memeriksa pintu depan.

Dulu kunci cadangan rumah itu disimpan Raka di laci kantornya.

Sekarang kunci tersebut sudah dikembalikan melalui pengacara.

Dinda memasukkan satu kunci ke tasnya.

Satu lagi ia simpan di tempat yang aman bersama dokumen kepemilikan.

Livia mulai mengantuk ketika Dinda mematikan lampu.

Ia keluar, menarik pintu sampai tertutup, lalu memutarnya sekali dengan tangannya sendiri untuk memastikan rumah itu benar-benar terkunci.

Menurutmu, setelah Raka mencoba menjual rumah saat Dinda baru melahirkan, apakah ia masih pantas mendapat kesempatan memperbaiki pernikahan?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.