HARI KETIKA AKU MEMBAWA PUTRI REKAN KERJAKU KE RUMAH SAKIT, DOKTER ITU MELIHAT GELANG DI TANGANNYA LALU TIBA-TIBA MENGUNCI PINTU: “DARI MANA KAMU MENDAPATKAN ANAK INI?”
Aku tidak pernah membayangkan bahwa acara makan malam biasa bersama rekan-rekan kantor akan membongkar sebuah rahasia yang telah terkubur selama enam tahun.
Namaku Nadira, umurku tiga puluh tahun, dan aku bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah perusahaan distribusi makanan.
Hari itu hari Jumat.
Perusahaan baru saja mencapai target kuartal, jadi kepala divisi mengadakan acara makan malam kecil di sebuah restoran dekat kantor.
Semua karyawan diperbolehkan membawa anggota keluarga.

Rekan kerja yang duduk di sebelahku, Sari, membawa putrinya yang berusia enam tahun, Alya.
Alya anak yang sangat penurut. Rambutnya hitam panjang, matanya besar, dan di pergelangan tangan kirinya selalu terpasang sebuah gelang perak tua.
Aku pernah bertanya kepada Sari:
— Gelangnya cantik. Kamu membelinya di mana?
Sari langsung menarik lengan baju putrinya untuk menutupi gelang itu.
— Barang lama saja. Peninggalan ibuku.
Aku tidak terlalu memikirkannya.
Sampai malam itu.
Sekitar pukul delapan, ketika para orang dewasa sedang mengobrol, Alya bermain bersama beberapa anak lain di lorong restoran.
Tiba-tiba terdengar teriakan.
Aku berlari keluar dan melihat Alya tergeletak di bawah tangga.
Dia masih sadar, tetapi wajahnya pucat dan kedua tangannya memegangi perut.
Sari panik sampai kakinya hampir tidak mampu berdiri.
Aku segera memanggil kendaraan dan menemani mereka ke rumah sakit terdekat.
Setelah pemeriksaan awal, dokter mengatakan Alya tidak mengalami cedera serius. Namun, karena dia terus mengeluh sakit perut, dokter meminta pemeriksaan tambahan.
Sari keluar untuk mengurus administrasi.
Aku duduk di samping tempat tidur Alya.
Anak itu takut jarum suntik dan terus menggenggam tanganku.
Ketika perawat menggulung lengan bajunya, gelang perak itu kembali terlihat.
Seorang dokter paruh baya yang baru masuk ke ruangan tiba-tiba berhenti.
Dia menatap pergelangan tangan Alya.
Tiga detik.
Lima detik.
Kemudian ekspresi wajahnya berubah total.
— Gelang ini milik siapa?
Aku terkejut.
— Milik anak ini.
— Maksud saya, siapa yang memberikannya?
— Ibunya.
Dokter itu langsung menoleh kepada perawat.
— Tolong keluar sebentar.
Pintu ditutup.
Aku mulai merasa tidak nyaman.
Dokter itu mendekati Alya dan dengan hati-hati membalik bagian dalam gelang tersebut.
Di sana terdapat sebuah simbol sangat kecil yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan.
Bunga dengan enam kelopak.
Tangan dokter itu gemetar.
Kemudian dia menatap lurus ke arahku.
— Dari mana kamu mendapatkan anak ini?
Bulu kudukku langsung berdiri.
— Dokter, apa maksud Anda? Dia putri rekan kerja saya.
— Siapa nama ibunya?
— Sari.
Dokter itu menggeleng.
— Tidak mungkin.
Saat itu juga pintu terbuka.
Sari berdiri di luar.
Begitu melihat dokter sedang memegang pergelangan tangan Alya, wajahnya langsung kehilangan warna.
Tas di tangannya jatuh ke lantai.
Dokumen berserakan.
Sebelum aku sempat bertanya, Sari berlari masuk dan menarik Alya dari tempat tidur.
— Kita pulang!
Dokter menghalangi pintu.
— Anda tidak boleh membawa anak ini pergi.
— Minggir!
— Enam tahun lalu, rumah sakit ini menerima seorang ibu yang melahirkan dalam kondisi kritis. Bayi perempuan yang baru dilahirkannya menghilang pada malam yang sama.
Sari membeku.
Aku juga.
Dokter menunjuk gelang itu.
— Sebelum bayi tersebut menghilang, saya sendiri yang memasangkan gelang ini di tangannya.
Suasana ruangan seketika terasa membeku.
Aku menatap Sari.
— Bukankah kamu bilang gelang ini peninggalan ibumu?
Sari tidak menjawab.
Dia hanya memeluk Alya semakin erat.
Dokter melanjutkan:
— Gelang seperti ini tidak dijual bebas. Saat itu rumah sakit membuat beberapa gelang khusus untuk menandai bayi yang membutuhkan pemantauan khusus. Simbol bunga enam kelopak ini adalah kode untuk kasus persalinan malam itu.
Kepalaku terasa berputar.
— Jadi maksud Dokter, Alya mungkin…
— Saya tidak bisa memastikan sebelum melakukan tes DNA.
— Tidak perlu tes!
Sari tiba-tiba berteriak.
Alya terkejut dan mulai menangis.
Sari langsung terdiam.
Namun, reaksinya justru membuatku sadar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang disembunyikan.
Dokter menatapnya tajam.
— Apa yang Anda ketahui?
Sari menggigit bibir.
Tepat pada saat itu, ponselnya bergetar.
Layar menyala.
Sebuah pesan muncul.
Aku hanya sempat membaca beberapa kata:
“Bawa anak itu keluar dari rumah sakit sekarang.”
Sari segera mematikan layar.
Namun sudah terlambat.
Aku telah melihat nama pengirimnya.
Dan yang membuatku terkejut bukan hanya isi pesan itu.
Pengirimnya adalah Pak Hadi, direktur keuangan perusahaan kami.
Seorang pria berusia hampir enam puluh tahun.
Seseorang yang hampir tidak pernah terlihat berbicara secara pribadi dengan Sari di kantor.
— Kenapa Pak Hadi mengirimimu pesan?
Sari mundur satu langkah.
— Nadira, ini tidak ada hubungannya denganmu.
— Bagaimana dia tahu Alya sedang berada di sini?
Dia tidak menjawab.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Dua bulan sebelumnya, perusahaan menjalani audit internal.
Ketika memeriksa catatan pembayaran lama, aku menemukan sebuah transaksi aneh yang dikirim secara rutin setiap tahun ke rekening pribadi yang sama.
Jumlahnya tidak cukup besar untuk langsung menimbulkan kecurigaan.
Tetapi pembayaran itu sudah berlangsung selama tepat enam tahun.
Orang yang menyetujuinya adalah Pak Hadi.
Aku pernah menanyakannya.
Dia hanya mengatakan bahwa uang tersebut adalah “dana bantuan untuk keluarga mantan karyawan”.
Tak lama kemudian, catatan transaksi itu menghilang dari sistem.
Saat itu aku tidak terlalu memikirkannya.
Namun sekarang…
Enam tahun.
Alya juga berusia enam tahun.
Aku menatap Sari.
— Uang yang Pak Hadi kirim setiap tahun itu… diberikan kepadamu, bukan?
Mata Sari memerah.
Dokter langsung bertanya:
— Siapa pria itu?
Sari belum sempat menjawab ketika ponselku bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Hanya ada satu foto.
Aku membukanya.
Seluruh tubuhku seketika terasa dingin.
Itu foto diriku yang sedang berdiri di lorong rumah sakit.
Foto tersebut diambil kurang dari satu menit yang lalu.
Di bawahnya terdapat satu kalimat:
“Nadira, kamu hanya seorang staf akuntansi. Jangan membuat dirimu menjadi orang berikutnya yang harus menghilang.”
Aku langsung mengangkat kepala dan melihat ke balik kaca pintu.
Di ujung lorong, seorang pria mengenakan kemeja gelap baru saja membalikkan badan dan masuk ke lift.
Sari melihatnya.
Tubuhnya tiba-tiba gemetar hebat.
— Tidak… bagaimana dia bisa datang secepat ini?
— Siapa dia?
Sari memeluk Alya erat. Air matanya akhirnya jatuh.
— Nadira, dengarkan aku. Kalau sesuatu terjadi padaku malam ini, pergilah ke kantor. Buka laci paling bawah di mejaku. Kata sandinya adalah tanggal lahir Alya.
— Apa yang ada di sana?
Dia menatapku dengan bibir gemetar.
— Bukti tentang apa yang sebenarnya terjadi enam tahun lalu.
Tepat saat itu, seluruh lampu di lorong rumah sakit mendadak padam.
Teriakan terdengar dari luar.
Lampu darurat berwarna merah menyala.
Dokter segera mengunci pintu.
Namun beberapa detik kemudian—
Tok. Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu.
Tiga ketukan.
Sangat pelan.
Sari langsung menutup mulut Alya agar anak itu tidak bersuara.
Aku melihat melalui kaca kecil di pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Lalu sebuah amplop cokelat perlahan diselipkan melalui celah bawah pintu.
Di bagian depannya hanya tertulis namaku.
NADIRA.
Aku membungkuk dan mengambilnya.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang warnanya sudah memudar.
Seorang perempuan sedang menggendong bayi yang baru lahir.
Di sampingnya berdiri Pak Hadi, terlihat jauh lebih muda daripada sekarang.
Namun bukan Pak Hadi yang membuat kedua kakiku hampir kehilangan tenaga.
Melainkan perempuan dalam foto tersebut.
Aku mengenal wajah itu.
Aku telah melihat wajah yang sama sepanjang tiga puluh tahun hidupku.
Dia adalah ibuku.
Dengan tangan gemetar, aku membalik foto itu.
Di bagian belakang terdapat sebuah kalimat tulisan tangan:
“Kalau Nadira mengetahui bahwa bayi malam itu masih hidup, kita semua akan tamat.”
Aku bahkan belum sempat memahami arti kalimat tersebut ketika Sari melihat foto di tanganku.
Dia tiba-tiba menangis.
— Akhirnya kamu melihatnya juga.
Aku menoleh tajam.
— Kamu mengenal ibuku?
Sari memejamkan mata.
— Nadira… Alya bukan satu-satunya anak yang dibawa keluar dari rumah sakit enam tahun lalu.
Aku membeku.
— Apa maksudmu?
Sari perlahan menatap lurus ke mataku.
— Orang yang sebenarnya mereka cari selama enam tahun ini… bukan pernah Alya.
Di luar pintu, suara langkah kaki tiba-tiba berhenti.
Gagang pintu perlahan bergerak turun.
Sari menarik tubuhku mendekat dan membisikkan satu kalimat yang membuat darah di seluruh tubuhku seakan membeku.
— Orang yang mereka cari adalah putri kandungmu.
BAGIAN 2
— Orang yang mereka cari adalah putri kandungmu.
Aku menatap Sari seolah baru saja mendengar kalimat dalam bahasa yang tidak kupahami.
— Putri kandungku? Sari, aku bahkan tidak pernah punya anak.
Sari menggeleng sambil menangis.
— Itulah yang mereka ingin kamu percaya.
Gagang pintu kembali bergerak.
Dokter memberi isyarat agar kami diam, lalu menarik sebuah lemari kecil untuk mengganjal pintu.
Aku memegang foto lama itu begitu erat sampai ujungnya terlipat.
— Jelaskan sekarang.
Sari menatap Alya sebelum akhirnya berkata pelan.
— Enam tahun lalu kamu pernah dirawat di rumah sakit ini.
Jantungku seperti berhenti.
Aku memang pernah dirawat enam tahun lalu setelah kecelakaan dalam perjalanan pulang dari acara perusahaan tempat kerjaku sebelumnya. Aku kehilangan banyak darah dan tidak sadar selama beberapa hari.
Setidaknya itulah yang selalu diceritakan ibuku.
— Itu kecelakaan.
— Bukan hanya kecelakaan.
Sari menarik napas panjang.
— Saat dibawa ke rumah sakit, kamu sedang hamil hampir delapan bulan.
Aku mundur satu langkah.
— Bohong.
— Kamu melahirkan malam itu.
Kepalaku berdengung.
Aku mencoba mengingat bulan-bulan sebelum kecelakaan itu, tetapi kenanganku memang memiliki lubang besar. Setelah sadar, dokter mengatakan trauma kepala membuat sebagian ingatanku sebelum kejadian menjadi kabur.
— Lalu siapa ayahnya?
Sari belum sempat menjawab.
BRAK!
Seseorang menghantam pintu dari luar.
Alya menjerit.
Dokter segera menekan tombol panggilan darurat di dinding.
Untungnya suara langkah beberapa petugas keamanan mulai terdengar dari ujung lorong.
Orang di luar pintu langsung pergi.
Beberapa menit kemudian keamanan rumah sakit datang. Kami dipindahkan ke ruangan lain yang lebih aman, dan dokter menghubungi polisi.
Namun aku tidak mau menunggu lagi.
— Sari, selesaikan ceritamu.
Sari akhirnya mengaku bahwa enam tahun lalu dia bekerja sebagai petugas administrasi kontrak di rumah sakit ini.
Pada malam aku melahirkan, seorang bayi perempuan lahir prematur tetapi selamat.
Ibuku datang beberapa jam kemudian bersama Pak Hadi.
Saat itu Pak Hadi ternyata bukan sekadar kenalan keluarga. Dia adalah orang kepercayaan pemilik perusahaan tempatku bekerja dahulu.
Mereka memerintahkan agar seluruh catatan tentang kehamilan dan persalinanku dihapus.
— Kenapa?
Sari menggeleng.
— Aku tidak tahu semuanya. Aku hanya tahu mereka mengatakan bayi itu tidak boleh tercatat sebagai anakmu.
— Lalu Alya?
Wajah Sari runtuh.
— Alya bukan anakmu.
Dia menjelaskan bahwa pada malam yang sama ada bayi perempuan lain yang ibunya meninggal setelah melahirkan. Tidak ada keluarga yang segera datang.
Karena kekacauan administrasi dan campur tangan seseorang, gelang identifikasi bayi tertukar.
Sari kemudian mengasuh bayi itu.
Bayi itu adalah Alya.
— Jadi gelang Alya…
— Seharusnya milik putrimu. Aku menyimpannya karena aku takut suatu hari seseorang akan menghapus semua bukti.
Air mataku mulai jatuh tanpa kusadari.
— Di mana anakku?
Sari menggeleng.
— Itu yang selama enam tahun coba kucari.
Ponselku kembali bergetar.
Kali ini bukan pesan ancaman.
Nomor tak dikenal mengirim sebuah foto.
Seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun berdiri di depan sekolah, mengenakan seragam dan membawa tas merah muda.
Di bawah foto hanya ada alamat sebuah kompleks perumahan.
Sari langsung pucat.
— Jangan pergi. Bisa jadi jebakan.
Tetapi dokter memperbesar foto itu.
— Tunggu.
Dia menunjuk telinga kiri anak tersebut.
Ada tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit.
Dokter menatapku.
— Bayi yang hilang malam itu memiliki tanda lahir seperti itu. Saya mencatatnya sendiri.
Dunia di sekelilingku seakan berhenti.
Aku langsung menunjukkan foto tersebut kepada polisi.
Polisi meminta kami tidak bertindak sendiri.
Malam itu juga, mereka mendatangi alamat tersebut.
Aku ikut sampai gerbang kompleks, tetapi dilarang masuk sebelum keadaan dipastikan aman.
Dua puluh menit terasa seperti dua puluh tahun.
Akhirnya seorang petugas keluar.
— Kami menemukan anak perempuan yang sesuai dengan foto.
Kakiku hampir lemas.
— Siapa yang tinggal bersamanya?
Petugas menatapku dengan ekspresi aneh.
— Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun.
Dadaku langsung sesak.
— Siapa namanya?
Sebelum dia menjawab, pintu rumah terbuka.
Seorang perempuan keluar sambil menggandeng anak kecil.
Aku mengenali perempuan itu bahkan dari kejauhan.
Ibuku.
Anak perempuan di sampingnya menatapku dengan mata besar.
Entah mengapa, saat pandangan kami bertemu, dadaku terasa sakit seperti ada sesuatu yang selama enam tahun tertidur tiba-tiba terbangun.
Ibuku berhenti.
Wajahnya berubah pucat.
— Nadira…
Aku berjalan mendekat.
— Siapa anak itu, Bu?
Ibuku memeluk bahu anak tersebut.
— Kita bicara di rumah.
— Tidak.
Aku menunjukkan foto lama yang kutemukan.
— Kita bicara sekarang.
Anak perempuan itu memandang kami dengan bingung.
Aku menahan air mata.
— Siapa namanya?
Ibuku tidak menjawab.
Namun anak itu sendiri berkata pelan:
— Namaku Lila.
Aku berlutut di depannya.
Tanganku gemetar ketika melihat tanda lahir kecil di belakang telinga kirinya.
Saat itulah ibuku akhirnya menangis.
— Maafkan Ibu, Nadira.
Aku menatapnya.
— Lila anakku?
Ibuku menutup wajahnya.
Dan satu kata yang keluar dari mulutnya menghancurkan seluruh kebohongan selama enam tahun.
— Ya.
BAGIAN 3
Aku tidak ingat bagaimana aku kembali berdiri.
Aku hanya ingat Lila menatapku dengan wajah bingung sementara polisi meminta ibuku masuk ke rumah untuk memberikan keterangan.
Aku ingin memeluk anak itu.
Namun aku menahan diri.
Bagiku dia mungkin anak yang hilang selama enam tahun.
Tetapi bagi Lila, aku hanyalah perempuan asing yang datang tengah malam bersama polisi.
— Kamu tidak perlu takut.
Aku tersenyum meski air mataku terus mengalir.
— Aku tidak akan membawamu ke mana-mana malam ini.
Lila mengangguk kecil.
Keesokan harinya, tes DNA dilakukan.
Dua hari kemudian hasilnya keluar.
Probabilitas hubungan biologis ibu dan anak: 99,99%.
Lila benar-benar putriku.
Namun kebenaran yang muncul setelahnya jauh lebih rumit.
Ibuku akhirnya mengakui semuanya.
Enam tahun lalu, aku menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Raka, auditor muda di perusahaan tempatku bekerja.
Kami berencana menikah.
Ketika aku hamil, Raka menemukan manipulasi laporan keuangan besar yang melibatkan beberapa pejabat perusahaan, termasuk atasan Pak Hadi.
Raka berniat menyerahkan bukti kepada pihak berwenang.
Sebelum sempat melakukannya, dia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
Beberapa minggu kemudian, aku juga mengalami kecelakaan.
Ibuku ketakutan.
Pak Hadi mendatanginya dan mengatakan bahwa selama bayi itu tercatat sebagai anakku, orang-orang yang ingin menghapus bukti peninggalan Raka mungkin akan mengejarnya suatu hari nanti.
Karena takut kehilangan aku dan cucunya sekaligus, ibuku membuat keputusan terburuk dalam hidupnya.
Dia menyembunyikan kelahiran Lila.
Setelah aku sadar dengan ingatan yang kacau, dia mengatakan aku hanya mengalami kecelakaan.
Lila kemudian diasuh secara diam-diam sebagai anak kerabat jauh.
— Kenapa Ibu tidak pernah mengatakan kebenarannya setelah keadaan aman?
Aku bertanya dengan suara gemetar.
Ibuku menangis.
— Awalnya Ibu takut. Setelah satu tahun, Ibu malu. Setelah dua tahun, Ibu tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Semakin lama Ibu diam, semakin besar kebohongan itu.
Aku tidak langsung memaafkannya.
Kasih sayang tidak menghapus kesalahan.
Ketakutan juga tidak membenarkan seseorang merampas enam tahun kehidupan seorang ibu bersama anaknya.
Tetapi setidaknya aku akhirnya memahami alasan di balik semuanya.
Lalu bagaimana dengan Pak Hadi?
Ternyata keadaan juga tidak sesederhana yang kukira.
Uang yang dikirimnya kepada Sari bukan bayaran agar Sari diam.
Justru sebaliknya.
Pak Hadi diam-diam membiayai Sari untuk menyimpan salinan dokumen lama dan mencari keberadaan Lila.
Pesan yang menyuruh Sari membawa Alya keluar dari rumah sakit juga dikirim karena dia mengetahui ada orang dari perusahaan lama yang mulai mengikuti mereka.
Ancaman yang kuterima bukan berasal darinya.
Bukti dari laci Sari akhirnya membuka semuanya.
Ada salinan catatan rumah sakit, transaksi lama, surel internal, serta sebuah penyimpanan data milik Raka yang selama bertahun-tahun dicari banyak orang.
Pak Hadi menyerahkan diri sebagai saksi dan memberikan dokumen tambahan.
Penyelidikan resmi pun dimulai.
Beberapa orang yang terlibat dalam manipulasi keuangan dan penghilangan dokumen ditahan untuk diperiksa, sementara kasus kecelakaan Raka dibuka kembali.
Aku menyerahkan semuanya kepada hukum.
Aku tidak ingin hidupku dan Lila selamanya berputar di sekitar balas dendam.
Bagian tersulit justru dimulai setelah semuanya selesai.
Menjadi ibu bagi anak berusia enam tahun yang bahkan belum terbiasa memanggilku “Mama”.
Aku tidak memaksanya.
Aku mulai dari hal-hal kecil.
Mengantarnya ke sekolah.
Menyiapkan sarapan.
Membacakan cerita sebelum tidur.
Mendengarkan ketika dia bercerita tentang teman-temannya.
Kadang dia masih tidur bersama neneknya.
Aku membiarkannya.
Kadang dia memanggilku “Kak Nadira”.
Aku juga tidak memperbaikinya.
Sampai suatu sore, tiga bulan setelah hasil DNA keluar.
Aku sedang memasak ketika Lila berlari dari kamar membawa kertas gambar.
Di atasnya ada empat orang bergandengan tangan.
Aku, Lila, Sari, dan Alya.
Di sudut kertas terdapat seorang perempuan tua.
Ibuku.
— Ini keluarga kita?
Aku bertanya.
Lila mengangguk.
Lalu dia menunjuk gambar diriku.
Di atas kepalaku tertulis satu kata dengan huruf besar yang sedikit miring:
MAMA.
Aku menatapnya.
— Ini siapa?
Lila memutar mata.
— Masa tidak tahu?
Aku tertawa sambil menangis.
Dia lalu memeluk pinggangku.
— Mama jangan menangis.
Itu pertama kalinya dia memanggilku Mama.
Aku berlutut dan memeluknya erat.
Enam tahun yang hilang tidak mungkin kembali.
Tetapi kami masih memiliki puluhan tahun di depan.
Sari dan Alya juga tetap menjadi bagian dari hidup kami.
Setelah penyelidikan selesai, Sari pindah ke lingkungan yang lebih dekat. Alya dan Lila masuk sekolah yang sama dan menjadi seperti saudara.
Sedangkan hubunganku dengan ibu membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Aku tidak melupakan apa yang dilakukannya.
Namun perlahan, aku belajar bahwa memaafkan bukan berarti menganggap luka itu tidak pernah ada.
Memaafkan berarti aku tidak membiarkan luka tersebut menentukan seluruh masa depanku.
Setahun kemudian, pada hari ulang tahun Lila yang ketujuh, kami mengadakan pesta kecil di rumah.
Tidak ada hotel mewah.
Tidak ada pesta besar.
Hanya nasi kuning, ayam goreng, kue sederhana, balon, dan orang-orang yang benar-benar kami sayangi.
Sebelum meniup lilin, Lila tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari kotak kecil.
Gelang perak dengan simbol bunga enam kelopak.
Gelang yang dahulu dipakai Alya.
Sari telah menyerahkannya kepada Lila setelah semua kebenaran terungkap.
Lila memandang gelang itu sebentar, lalu menyerahkannya kepadaku.
— Mama simpan saja.
— Kenapa?
Dia tersenyum.
— Karena aku sudah tidak membutuhkan gelang untuk membuktikan siapa keluargaku.
Aku tidak mampu menjawab.
Aku hanya memeluknya.
Alya berteriak dari belakang:
— Cepat tiup lilinnya! Aku mau kue!
Semua orang tertawa.
Lila menutup mata dan membuat permohonan.
Setelah meniup tujuh lilin, aku bertanya:
— Kamu minta apa?
Dia menggeleng.
— Rahasia.
— Bahkan Mama tidak boleh tahu?
Lila berpikir sebentar, lalu mendekat ke telingaku.
— Aku minta tahun depan semua orang masih ada di sini.
Dadaku terasa hangat.
Aku mencium keningnya.
— Mama akan berusaha keras supaya permintaan itu terkabul.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, aku berdiri di depan kamar Lila.
Dia sudah tertidur sambil memeluk boneka kesayangannya.
Aku melihat gelang perak di telapak tanganku.
Dulu gelang itu adalah bukti sebuah kebohongan.
Kemudian menjadi petunjuk sebuah kejahatan.
Namun sekarang, bagiku benda itu memiliki arti yang berbeda.
Ia adalah jalan pulang.
Aku memasukkannya ke dalam sebuah kotak bersama foto Raka dan gambar keluarga buatan Lila.
Kemudian aku menutup kotak tersebut.
Tidak untuk melupakan masa lalu.
Tetapi karena akhirnya aku tidak perlu hidup di dalamnya lagi.
Aku mematikan lampu kamar.
Saat hendak menutup pintu, suara kecil terdengar dari tempat tidur.
— Mama?
Aku berhenti.
— Ya?
Lila masih memejamkan mata.
— Besok jangan lupa bangunkan aku pagi-pagi. Mama janji mau antar aku dan Alya ke sekolah.
Aku tersenyum.
— Mama janji.
Aku menutup pintu perlahan.
Enam tahun lalu, seseorang mengambil satu bagian dari hidupku dan membuatku percaya bahwa bagian itu tidak pernah ada.
Enam tahun kemudian, aku mendapatkannya kembali.
Bukan dalam bentuk bayi yang bisa kugendong di satu tangan.
Melainkan seorang gadis kecil yang cerewet, suka nasi goreng, takut suara petir, dan selalu meminta lima menit tambahan sebelum tidur.
Aku tidak bisa mengubah enam tahun yang telah hilang.
Tetapi aku bisa memilih bagaimana menjalani tahun-tahun berikutnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam di rumah sakit itu, aku tidak lagi bertanya siapa yang telah merampas masa laluku.
Aku hanya memikirkan satu hal.
Besok pagi, putriku akan bangun dan memanggilku Mama lagi.
Dan kali ini, aku akan berada di sana untuk menjawabnya.
