Ibuku Menendang Mertua di Depan Anakku, Lalu Mengusir Mereka dari Rumah—Aku Membawa Istri Pergi, Tiga Hari Kemudian Dia Menangis Memohon Aku Pulang
Bagian 1 — Saat Ibuku Mengusir Istri dan Mertuaku dari Rumah, Aku Justru Membantu Mereka Berkemas Tanpa Membela Sepatah Kata Pun
Aku masih ingat suara mangkuk pecah itu.
Bukan karena suaranya keras.
Tapi karena ketika aku membuka pintu rumah sore itu, mangkuk tersebut pecah tepat di samping kaki Bu Sri—ibu mertuaku—sementara tubuhnya sudah terjatuh di lantai.
Namaku Ardi Pratama, 34 tahun. Aku bekerja sebagai supervisor logistik di sebuah perusahaan distribusi di Surabaya.
Hari itu aku pulang lebih awal karena anakku, Naya, sudah tiga kali menelepon sejak siang.
“Ayah pulang cepat, ya. Nenek Sri masak rawon kesukaan Ayah.”
Aku bahkan sempat mampir membeli martabak.
Aku membayangkan makan malam biasa.
Aku tidak pernah menyangka ketika pintu terbuka, yang kulihat justru istriku, Maya, berlutut di lantai sambil memeluk Naya yang menangis ketakutan.
Di depan mereka berdiri ibuku sendiri, Bu Ratna.
Wajahnya merah.
Satu tangannya berkacak pinggang.
“Sudah numpang hidup di rumah anak saya, masih berani melawan saya?”
Bu Sri mencoba bangkit.
Usianya 63 tahun. Lutut kirinya sudah lama bermasalah karena pernah jatuh dari sepeda motor. Maya segera memegang lengannya.
“Bu, pelan-pelan.”
Ibuku menunjuk mereka.
“Tidak usah pura-pura sakit!”
Aku menatap lantai.
Kuah rawon berceceran di dekat meja makan.
Pecahan mangkuk berserakan.
Lengan Bu Sri terkena kuah panas dan memerah.
“Nenek jatuh karena didorong Nenek Ratna!”
Naya tiba-tiba berteriak.
Rumah langsung hening.
Wajah ibuku berubah.
“Anak kecil jangan ikut campur urusan orang tua!”
Naya semakin menangis.
Aku meletakkan kantong martabak di meja tanpa berkata apa-apa.
Maya menatapku.
Tatapan yang sampai hari ini masih kuingat.
Bukan sekadar meminta pertolongan.
Ada lelah di sana.
Ada rasa malu.
Ada pertanyaan yang selama empat tahun pernikahan kami mungkin sudah terlalu sering ia telan:
Kali ini kamu akan membela siapa?
Aku tahu semuanya tidak dimulai hari itu.
Ibuku pindah ke rumah kami delapan bulan sebelumnya setelah kontrakan yang ia tinggali berakhir.
Awalnya hanya dua bulan.
Lalu tiga bulan.
Kemudian ia mulai mengatakan kamar tamu terlalu kecil.
Bu Sri, yang kebetulan tinggal bersama kami karena membantu menjaga Naya sepulang sekolah, akhirnya mengalah.
Ia pindah tidur ke sofa bed di ruang belakang.
Ibuku mengambil kamar.
Setelah itu, pelan-pelan sikapnya berubah.
Masakan Maya selalu salah.
Cara Maya mencuci pakaian salah.
Cara Bu Sri menyapu salah.
Bahkan jumlah susu yang diminum Naya pernah dipermasalahkan.
Yang paling menyakitkan, ibuku selalu memperlakukan rumah itu seolah-olah miliknya.
Padahal apartemen tiga kamar di daerah Rungkut tersebut kami beli setelah menikah.
Aku membayar cicilan selama dua tahun pertama.
Maya menambahkan tabungan hasil bisnis kateringnya.
Ketika uang renovasi kurang, Bu Sri menjual sebidang kebun warisan di Sidoarjo dan memberikan Rp180 juta kepada kami.
Ia tidak pernah meminta uang itu kembali.
“Anggap saja bekal untuk cucu Ibu.”
Itu kalimatnya.
Namun ibuku tidak pernah tahu seluruh detail tersebut.
Atau lebih tepatnya, ia memilih tidak mau tahu.
Karena sertifikat hak milik memang pernah menggunakan namaku sebagai pihak utama dalam dokumen awal kredit.
Itulah yang membuatnya selalu berkata kepada semua orang,
“Rumah Ardi itu rumah keluarga kami.”
Hari itu rupanya pertengkaran bermula dari sesuatu yang sangat sepele.
Bu Sri memasak rawon.
Ibuku mencicipi satu sendok, lalu mengatakan kuahnya terlalu asin.
Bu Sri meminta maaf.
Maya hendak mengambilkan makanan lain.
Tapi ibuku terus bicara.
“Orang kampung memang begitu. Dikasih tempat tinggal gratis malah merasa punya rumah.”
Bu Sri masih diam.
Sampai ibuku berkata,
“Kalau anak perempuanmu tidak menikah dengan Ardi, kalian berdua mungkin masih tinggal di rumah sempit dekat sawah.”
Untuk pertama kalinya Bu Sri menjawab.
“Maaf, Bu Ratna. Saya tinggal di sini karena Ardi dan Maya yang meminta. Bukan karena saya tidak punya tempat tinggal.”
Kalimat itu membuat ibuku marah.
Ia menyapu mangkuk dari meja.
Bu Sri mundur.
Lalu terjadi dorongan itu.
Sekarang semua mata melihat kepadaku.
Aku berjalan mendekat.
Maya tampak berharap aku mengatakan sesuatu.
Namun yang keluar dari mulutku justru membuat wajahnya pucat.
“Maya.”
Dia menatapku.
“Masuk kamar.”
“Ardi…”
“Masukkan pakaianmu, pakaian Naya, dan barang-barang Ibu ke koper.”
Air mata Maya langsung jatuh.
Bu Sri menggenggam tangannya.
“Tidak usah, Nak. Ibu bisa pulang sendiri.”
Aku memotong.
“Semuanya pergi malam ini.”
Maya membeku.
Ibuku justru tersenyum tipis.
Aku tahu senyum itu.
Senyum kemenangan.
“Nah, begitu!” katanya. “Laki-laki harus tegas. Jangan sampai istri menguasai rumah.”
Maya berdiri.
Tidak berteriak.
Tidak memaki.
Ia hanya menatapku beberapa detik sebelum masuk ke kamar bersama ibunya dan Naya.
Pintu tertutup.
Aku mendengar suara lemari dibuka.
Aku mengikuti beberapa menit kemudian.
Maya sedang memasukkan pakaian tanpa dilipat.
Tangannya gemetar.
Air matanya jatuh ke dalam koper.
“Empat tahun, Mas.”
Suaranya nyaris berbisik.
“Empat tahun aku diam setiap ibumu menghina aku.”
Aku mengunci pintu kamar.
Lalu mengambil ponsel dan menunjukkan layar kepadanya.
Di sana ada pesan yang baru saja kukirim kepada temanku, Dimas.
Tolong jemput Maya, Naya, dan Bu Sri. Bawa mereka ke rumahmu malam ini. Jangan kasih tahu siapa pun.
Maya menatapku.
Aku mendekat dan berbisik,
“Dengar aku baik-baik.”
Ia masih menangis.
“Bawa Ibu dan Naya pergi. Jangan kembali sampai aku yang menjemput.”
“Mas mau apa?”
“Aku mau menyelesaikan sesuatu yang seharusnya kuselesaikan sejak lama.”
Maya menggeleng.
“Jangan lakukan hal bodoh.”
“Aku tidak akan menyentuh siapa pun.”
Aku memegang kedua pundaknya.
“Tapi mulai malam ini, Ibu tidak akan menggunakan kamu, ibumu, atau anak kita sebagai tempat melampiaskan hidupnya lagi.”
Maya menarik napas panjang.
“Kalau kamu berubah pikiran?”
Aku membuka dompet.
Kuberikan kartu ATM kedua kami.
Lalu kubuka aplikasi mobile banking.
“Rekening tabungan keluarga ada di tanganmu. Bawa semuanya yang penting.”
Tatapannya berubah.
Ia akhirnya mengerti.
Aku tidak sedang mengusirnya.
Aku sedang mengeluarkannya dari medan perang.
Empat puluh menit kemudian Dimas datang dengan mobil.
Aku membawa koper ke bawah.
Hujan mengguyur Surabaya sejak sore.
Bu Sri sempat menghentikanku di dekat lift.
“Ardi.”
Aku menoleh.
“Jangan bertengkar dengan ibumu gara-gara Ibu.”
Aku menatap luka merah di lengannya.
Entah kenapa, kalimat itu membuat dadaku semakin sesak.
Orang yang baru saja didorong masih memikirkan hubungan anak dan ibu orang lain.
Sedangkan ibu kandungku bahkan tidak bertanya apakah dia terluka.
Aku menundukkan kepala.
“Maaf, Bu.”
Bu Sri hanya menepuk lenganku.
Aku memasukkan koper ke bagasi.
Sebelum pintu mobil ditutup, Naya memanggilku.
“Ayah nggak ikut?”
Aku mencium keningnya.
“Ayah ada urusan sebentar.”
“Ayah jangan marah-marah.”
Aku tersenyum.
“Ayah janji.”
Mobil pergi.
Aku berdiri sampai lampu belakangnya hilang.
Ketika kembali ke atas, ibuku sudah duduk di sofa sambil menelepon seseorang.
“Iya, Mbak. Sudah aku usir. Perempuan kalau tidak dididik memang naik kepala.”
Aku melepas jam tangan.
Dia menutup telepon.
“Nah, bagus kamu sudah balik.”
Ia menunjuk lantai.
“Bersihkan itu dulu.”
Aku tetap berdiri.
“Besok pagi panggil tukang ganti kunci. Jangan sampai mereka masuk lagi.”
Aku tidak menjawab.
“Terus mulai bulan depan, gajimu transfer saja ke rekening Ibu. Sekarang kamu sendirian, lebih gampang Ibu yang atur.”
Aku berjalan menuju meja makan.
Mengambil sebuah map hitam dari dalam laci.
Lalu duduk tepat di hadapannya.
Ibuku mengernyit.
“Apa itu?”
Aku mengeluarkan satu lembar fotokopi dokumen.
“Bu.”
“Apa?”
“Ibu bilang ini rumah Ibu?”
“Ya rumah anak Ibu berarti rumah Ibu juga.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Aku meletakkan dokumen itu di meja.
“Kalau begitu mulai malam ini Ibu urus semuanya sendiri.”
Ibuku tertawa mengejek.
“Maksudmu?”
“Masak sendiri.”
Aku menunjuk dapur.
“Bersihkan rumah sendiri.”
Aku menunjuk pecahan mangkuk.
“Bayar kebutuhan sendiri.”
Wajahnya mulai berubah.
Aku melanjutkan.
“Mulai hari ini aku tidak akan memberikan uang bulanan Rp6 juta lagi.”
Dia langsung berdiri.
“Apa?!”
“BPJS tambahan, cicilan motormu, tagihan kartu belanja, uang arisan, semuanya berhenti.”
“Kamu berani?”
“Aku baru mulai.”
Dia menatapku seolah tidak mengenal anaknya sendiri.
Kemudian matanya jatuh pada dokumen di meja.
“Apa itu?”
Aku mendorongnya perlahan ke arah ibuku.
Di bagian atas tertulis sebuah nama.
Bukan namaku.
Bukan nama ibuku.
Maya Kusumawardani.
Dan ketika ibuku membaca baris di bawahnya, tangannya mendadak berhenti bergerak.
Karena untuk pertama kalinya ia mengetahui siapa pemilik sah rumah yang baru saja ia klaim sebagai miliknya.
Bersambung ke Bagian 2.
#DramaKeluarga #CeritaKehidupan #KisahRumahTangga #CeritaIndonesia #PelajaranHidup
Bagian 2 — Ibuku Baru Mengetahui Rumah Itu Milik Maya, Tetapi Telepon dari Bank Membongkar Masalah yang Jauh Lebih Besar
Ibuku membaca dokumen itu dua kali.
“Maya?”
Ia mengangkat wajah.
“Kenapa namanya Maya?”
“Karena rumah ini milik Maya.”
“Bohong.”
“Tidak.”
Aku menjelaskan sesuatu yang selama ini tidak pernah dianggap penting olehnya.
Dua tahun lalu, ketika kredit apartemen dilunasi lebih cepat menggunakan hasil penjualan usaha katering Maya ditambah uang yang diberikan Bu Sri, dokumen kepemilikan diperbarui.
Aku sendiri yang menyetujui agar hak kepemilikan dicatat atas nama Maya.
Alasannya sederhana.
Saat itu aku baru memulai bisnis sampingan dengan teman dan tidak mau rumah keluarga ikut terkena risiko jika usaha bermasalah.
Ibuku tertawa pendek.
“Kalau istrimu punya rumah, memangnya kenapa? Dia istrimu. Suruh balik.”
“Tidak.”
“Ardi!”
“Setelah yang Ibu lakukan hari ini, dia tidak akan kembali selama Ibu masih tinggal di sini.”
Wajah ibuku merah.
“Jadi kamu mau mengusir ibu kandungmu?”
Aku menggeleng.
“Tidak malam ini.”
Ia tampak sedikit lega.
“Tapi Ibu punya tiga hari.”
“Untuk apa?”
“Mencari tempat tinggal.”
Mulutnya terbuka.
Sebelum ia sempat berteriak, ponselku berbunyi.
Dari Maya.
Aku mengangkatnya.
“Mas.”
“Ada apa?”
“Ibu kesakitan. Lengannya melepuh. Kami ke klinik.”
Aku berdiri.
“Parah?”
“Dokter bilang luka bakar ringan sampai sedang. Tapi lutut Ibu bengkak karena jatuh.”
Aku menutup mata.
“Foto semuanya. Simpan hasil pemeriksaan dan kuitansi.”
Ibuku mendengarnya.
“Untuk apa pakai foto-foto segala?”
Aku menutup telepon.
“Bukti.”
“Bukti apa?”
Aku menatapnya.
“Bahwa Ibu mendorong seorang perempuan 63 tahun sampai jatuh dan terluka.”
Dia langsung panik.
“Jangan fitnah! Dia sendiri yang kehilangan keseimbangan!”
“Naya melihat.”
“Anak kecil bisa salah lihat.”
“Kamera ruang makan juga melihat.”
Ibuku terdiam.
Ia lupa.
Enam bulan sebelumnya aku memasang kamera indoor setelah rumah kami dua kali kehilangan paket belanja.
Kamera itu menghadap langsung ke area meja makan.
Aku membuka aplikasinya.
Rekamannya masih ada.
Wajah ibuku kehilangan warna.
“Ardi…”
Untuk pertama kalinya suaranya melemah.
“Apa kamu mau melaporkan ibu sendiri ke polisi?”
“Aku ingin Ibu memahami bahwa setiap tindakan ada akibatnya.”
Aku tidak melapor malam itu.
Bu Sri sendiri kemudian meminta agar masalah tidak dibawa ke polisi selama ibuku tidak mengganggu mereka lagi.
Namun aku menyimpan rekaman tersebut.
Bukan untuk balas dendam.
Untuk memastikan ancaman berhenti.
Malam pertama setelah mereka pergi, ibuku tetap bersikap keras.
Ia memesan makanan lewat aplikasi.
Besok paginya meminta aku membayar.
Aku menolak.
Siangnya paket belanja datang.
Aku tidak membayar.
Sore harinya ia menelepon kakakku, Rina.
Tidak sampai satu jam, teleponku berbunyi.
“Kamu tega sekali sama Ibu?”
Aku menjawab tenang.
“Kak tahu kenapa Maya pergi?”
“Ibu bilang Maya kurang ajar.”
Aku mengirim rekaman CCTV.
Lima belas menit tidak ada jawaban.
Lalu Rina menelepon lagi.
Suaranya berbeda.
“Ardi… itu benar Ibu menendang Bu Sri?”
“Lihat sendiri.”
“Ya Allah…”
“Kakak mau Ibu tinggal sama Kakak?”
Telepon mendadak sunyi.
Rina tinggal di Malang bersama suami dan dua anaknya.
Selama bertahun-tahun ia paling keras mengatakan aku harus berbakti kepada Ibu.
Tapi ketika harus menerima Ibu tinggal di rumahnya, jawabannya berubah.
“Rumahku sempit, Di.”
Aku tertawa hambar.
“Rumah Maya juga tidak besar.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Aku mengerti.”
Hari kedua, ibuku mulai membuka lemari dapur.
Baru saat itu ia sadar hampir semua kebutuhan rumah selama ini diurus Maya dan Bu Sri.
Beras.
Gas.
Sayur.
Obat.
Laundry.
Bahkan vitamin yang diminumnya setiap pagi dibelikan Bu Sri.
Siang itu ia meminta uang.
Aku menaruh Rp300 ribu di meja.
“Ini untuk tiga hari.”
“Hanya segini?”
“Untuk makan cukup.”
“Biasanya kamu kasih Ibu enam juta!”
“Itu dulu.”
Dia membanting uang tersebut.
“Kamu berubah sejak menikah!”
Aku memandangnya lama.
“Tidak, Bu.”
“Aku baru berhenti pura-pura tidak melihat.”
Malam kedua, masalah yang tidak kuduga muncul.
Ponsel ibuku terus berbunyi.
Ia tampak gelisah.
Aku tidak bertanya.
Sampai seseorang menelepon nomor rumah.
Aku mengangkat.
“Selamat malam, apakah benar dengan keluarga Ibu Ratna Wulandari?”
“Benar.”
“Kami ingin mengingatkan kewajiban pembayaran sebesar Rp37,8 juta yang telah melewati jatuh tempo.”
Aku mengerutkan kening.
“Pembayaran apa?”
Orang di seberang menyebut nama sebuah perusahaan pembiayaan.
Aku menoleh ke arah ibuku.
Wajahnya langsung pucat.
Setelah telepon ditutup, aku bertanya,
“Ibu punya utang?”
“Bukan urusanmu.”
“Kalau begitu benar.”
Dia diam.
Aku mulai menyusun potongan-potongan kecil yang selama ini kuabaikan.
Tas baru.
Ponsel baru.
Arisan.
Transfer yang berkali-kali ia minta.
Alasan biaya berobat yang tidak pernah bisa menunjukkan kuitansi.
“Berapa utang Ibu sebenarnya?”
“Sedikit.”
“Berapa?”
Dia membentak,
“Ibu bilang bukan urusanmu!”
Aku tidak mengejar.
Sampai pagi hari ketiga.
Dua orang datang ke lobi apartemen mencari ibuku.
Bukan debt collector kasar.
Mereka membawa surat resmi penagihan.
Ternyata total kewajibannya sudah lebih dari Rp96 juta dari beberapa pinjaman konsumtif.
Dan yang membuatku benar-benar marah bukan jumlah uangnya.
Aku menemukan satu lembar formulir lama di dalam tas dokumennya.
Di kolom kontak darurat tertulis namaku.
Di kolom alamat tempat tinggal tertulis alamat apartemen Maya.
Dan pada catatan pengajuan, ada kalimat:
Tempat tinggal milik keluarga sendiri, tanpa biaya sewa.
Ibuku rupanya menggunakan rumah Maya untuk terlihat mampu secara finansial.
Belum selesai.
Saat memeriksa pesan yang ia tunjukkan kepadaku karena meminta bantuan membayar utang, aku melihat percakapan dengan seseorang bernama Tante Yuni.
Pesan terakhir dikirim dua minggu sebelumnya.
Kalau Ardi sudah resmi pisah dengan istrinya, apartemen pasti jatuh ke dia. Nanti sebagian bisa dijual untuk lunasi semuanya.
Aku membaca kalimat itu sekali.
Dua kali.
Lalu membuka pesan sebelumnya.
Ternyata selama berbulan-bulan, ibuku tidak sekadar tidak menyukai Maya.
Ia memang sengaja membuat rumah kami kacau.
Ia yakin kalau aku bercerai, apartemen itu akan menjadi milikku.
Dan setelah itu, ia sudah punya rencana sendiri untuk uang hasil penjualannya.
Aku mengangkat kepala.
Ibuku berdiri di depan kamar.
Wajahnya kaku.
“Ardi…”
Aku menunjukkan layar ponselnya.
“Jadi selama ini Ibu memang ingin rumah tanggaku hancur?”
Dia tidak menjawab.
“Aku tanya sekali lagi.”
Suaraku bergetar.
“Apakah Ibu sengaja membuat Maya pergi supaya Ibu bisa menguasai rumah ini?”
Dan jawaban ibuku malam itu menghancurkan sisa rasa hormat yang selama ini masih kupertahankan.
Bagian 3 — Setelah Rencana Menguasai Rumah Terbongkar, Ibuku Kehilangan Tempat Bergantung dan Akhirnya Meminta Maaf kepada Orang yang Ia Hinakan
Ibuku tidak membantah.
Ia justru menangis.
Tapi bukan karena merasa bersalah.
“Semua Ibu lakukan demi kamu!”
Aku sampai tertawa karena tidak percaya.
“Demi aku?”
“Maya itu terlalu menguasaimu! Sejak menikah kamu lebih mendengarkan dia.”
“Karena dia istriku.”
“Ibu melahirkan kamu!”
“Dan karena itu selama bertahun-tahun aku membiarkan Ibu menyakiti keluargaku.”
Dia menunjuk dadaku.
“Nanti kalau kalian cerai, rumah ini tetap bisa jadi milikmu!”
“Tidak.”
Ibuku terdiam.
“Rumah ini milik Maya sebelum perceraian apa pun terjadi. Dan aku tidak berniat menceraikannya.”
“Tapi kamu laki-laki!”
Aku mengambil napas panjang.
Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa perdebatan itu tidak akan pernah selesai jika aku terus mencoba membuat ibuku mengerti.
Maka aku berhenti berdebat.
Aku mengambil koper besar dari gudang.
Meletakkannya di depan kamar ibuku.
“Besok siang Kak Rina datang menjemput.”
“Apa?”
“Aku sudah bicara dengannya.”
Ternyata setelah melihat rekaman CCTV dan pesan-pesan ibuku, Rina akhirnya setuju menerima Ibu sementara selama dua minggu.
Setelah itu kami akan mencarikan rumah kontrakan kecil.
Aku tetap bersedia membayar kebutuhan dasar ibuku setiap bulan.
Tapi jumlahnya jelas.
Tidak ada uang tunai tanpa tujuan.
Tidak ada cicilan konsumtif.
Tidak ada kartu belanja.
Dan terutama, tidak ada lagi hak untuk mengatur pernikahanku.
Ibuku menangis.
Memaki.
Mengancam akan menelepon saudara.
Aku mengangguk.
“Silakan.”
Ia benar-benar melakukannya.
Dalam dua jam, tiga paman dan satu bibi meneleponku.
Aku tidak menjelaskan panjang.
Aku hanya mengirim rekaman CCTV serta foto luka Bu Sri.
Tidak ada lagi yang memarahiku.
Keesokan harinya, Rina datang.
Ibuku berjalan keluar membawa dua koper.
Sebelum masuk lift, dia menoleh.
“Kamu benar-benar memilih istrimu daripada ibumu?”
Aku menjawab,
“Aku memilih menghentikan ketidakadilan.”
Dia menangis selama perjalanan ke Malang.
Aku tahu dari Rina.
Tapi aku tidak berubah pikiran.
Sore itu aku langsung pergi ke rumah Dimas.
Ketika pintu dibuka, Naya yang pertama berlari memelukku.
“Ayah!”
Aku mengangkatnya.
Maya berdiri beberapa meter di belakang.
Bu Sri duduk di sofa dengan lengan diperban.
Aku berjalan ke arah beliau.
Tanpa banyak bicara, aku berlutut.
“Bu, maaf.”
Bu Sri langsung panik.
“Ardi, jangan begitu.”
Aku tidak berdiri.
“Saya terlambat melindungi Ibu.”
“Sudah.”
“Saya tahu Ibu bisa memaafkan. Tapi bukan berarti yang terjadi boleh dianggap tidak pernah ada.”
Mata Bu Sri berkaca-kaca.
Ia mengusap kepalaku seperti seorang ibu kepada anaknya sendiri.
Barulah aku menatap Maya.
Dia tidak tersenyum.
Aku juga tidak berharap semuanya langsung kembali normal.
“Aku sudah menyuruh Ibu pergi.”
Maya diam.
“Aku juga sudah mengetahui alasan sebenarnya kenapa selama ini dia terus memancing konflik.”
Aku menceritakan semuanya.
Tentang utang.
Tentang pesan kepada Tante Yuni.
Tentang rencana menjual apartemen.
Maya terlihat terpukul.
“Aku kira Ibumu cuma tidak suka padaku.”
“Aku juga.”
Aku menelan ludah.
“Ternyata aku terlalu lama membiarkan masalah karena takut disebut anak durhaka.”
Maya akhirnya berbicara.
“Aku mau pulang dengan satu syarat.”
“Apa pun.”
“Rumah kita tidak boleh lagi jadi tempat siapa pun merendahkan orang lain.”
Aku mengangguk.
“Setuju.”
“Termasuk keluargaku.”
“Setuju.”
“Kalau ibumu suatu hari datang…”
“Dia boleh datang sebagai tamu kalau kamu siap menerimanya. Bukan sebagai penguasa rumah.”
Untuk pertama kalinya, Maya tersenyum kecil.
Kami pulang malam itu.
Seminggu kemudian aku mengganti kunci apartemen.
Bukan karena takut ibuku masuk diam-diam.
Aku ingin menandai bahwa rumah kami memulai babak baru.
Dua bulan berlalu.
Ibuku tinggal di kontrakan sederhana dekat rumah Rina.
Aku tetap mengirim uang kebutuhan bulanan, tetapi langsung membayar sewa dan asuransi kesehatannya.
Utangnya ia restrukturisasi dengan bantuan Rina dan aku.
Sebagian barang bermerek yang dibelinya dengan utang dijual.
Tidak mudah.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia harus hidup sesuai kemampuan.
Lalu suatu Minggu pagi, ibuku menelepon.
Bukan kepadaku.
Kepada Maya.
Aku tahu karena Maya menunjukkan layar ponselnya.
Dia tidak langsung mengangkat.
Aku berkata,
“Keputusanmu.”
Akhirnya Maya menjawab.
Tidak sampai lima menit.
Setelah telepon selesai, matanya basah.
“Ibumu mau ketemu Ibuku.”
Kami pergi ke sebuah rumah makan sederhana di Sidoarjo.
Ibuku datang bersama Rina.
Bu Sri datang bersama kami.
Tidak ada pelukan dramatis.
Tidak ada musik.
Tidak ada keajaiban.
Hanya empat orang dewasa yang duduk mengelilingi meja.
Ibuku melihat perban tipis yang masih membungkus pergelangan Bu Sri.
Wajahnya berubah.
Kemudian ia berdiri.
“Bu Sri.”
Bu Sri menatapnya.
Ibuku menundukkan kepala.
“Saya salah.”
Tidak ada alasan.
Tidak ada kalimat saya emosi karena…
Tidak ada tapi.
“Saya mendorong Ibu. Saya menghina Ibu. Saya juga membuat Maya tidak nyaman di rumahnya sendiri.”
Suaranya mulai bergetar.
“Saya minta maaf.”
Bu Sri diam cukup lama.
Lalu berkata,
“Saya maafkan.”
Ibuku menangis.
Tetapi Bu Sri menambahkan,
“Memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”
Ibuku mengangguk.
“Saya mengerti.”
Itu justru jawaban yang paling penting.
Karena perubahan tidak dimulai ketika orang menangis.
Perubahan dimulai ketika seseorang menerima bahwa maaf tidak otomatis menghapus akibat dari perbuatannya.
Enam bulan kemudian hubungan kami jauh lebih tenang.
Ibuku sesekali datang menemui Naya.
Ia selalu mengabari sebelumnya.
Tidak pernah menginap tanpa izin.
Tidak pernah lagi mengomentari keuangan rumah tangga kami.
Bu Sri memilih kembali tinggal di rumahnya di Sidoarjo, tetapi datang dua atau tiga kali seminggu.
Usaha katering Maya berkembang.
Kami bahkan mengembalikan Rp180 juta yang dulu diberikan Bu Sri.
Awalnya beliau menolak.
Maya akhirnya membuka deposito pendidikan atas nama Naya dengan uang tersebut.
Suatu malam kami makan rawon bersama.
Maya memasak.
Bu Sri membawa kerupuk udang.
Naya sibuk bercerita tentang sekolah.
Aku duduk memandangi mereka.
Enam bulan sebelumnya, semangkuk rawon pernah pecah di lantai dan hampir memecahkan seluruh keluargaku.
Sekarang ada mangkuk baru di meja.
Tidak ada yang berteriak.
Tidak ada yang takut salah bicara.
Aku baru memahami sesuatu pada usia 34 tahun.
Berbakti kepada orang tua tidak berarti menyerahkan hidup kita untuk mereka kendalikan.
Menghormati ibu tidak berarti membiarkan istri dihina.
Dan menjadi suami bukan sekadar membayar cicilan atau membawa uang pulang.
Kadang-kadang tugas seorang suami adalah berdiri di antara keluarganya dan orang yang menyakiti mereka—bahkan ketika orang itu adalah darah dagingnya sendiri.
Malam itu Naya menyendok rawon dan berkata polos,
“Ayah, sekarang rumah kita enak.”
Aku tertawa.
“Kenapa?”
“Karena nggak ada orang marah-marah lagi.”
Maya menatapku.
Bu Sri tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa benar-benar pulang.
Bukan karena apartemen itu milik siapa.
Bukan karena nama siapa yang tertulis di sertifikat.
Tapi karena akhirnya, orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak lagi harus takut untuk menjadi keluarga.
#DramaKeluarga #KisahKehidupan #CeritaIndonesia #KonflikKeluarga #PelajaranHidup

