ISI FLASHDISK MEMBUKA JARINGAN PENIPUAN SELAMA TIGA TAHUN, NAMUN SATU NAMA DI DALAMNYA MEMBUAT SEMUA ORANG TERDIAM

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 284 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — ISI FLASHDISK MEMBUKA JARINGAN PENIPUAN SELAMA TIGA TAHUN, NAMUN SATU NAMA DI DALAMNYA MEMBUAT SEMUA ORANG TERDIAM

Kepala divisi menerjang ke arah rekan kerjaku yang memegang flashdisk.

Namun dia belum sempat meraihnya.

Dua pria yang berdiri di dekat manajer senior langsung menahannya.

—Lepaskan saya!

Dia meronta.

—Kalian tidak berhak menahan saya!

Manajer senior berdiri tanpa bergerak.

—Kalau memang tidak ada sesuatu yang ingin Anda sembunyikan, kenapa begitu takut flashdisk itu dibuka?

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

Rekan kerjaku berjalan menuju meja dan menyerahkan flashdisk tersebut.

—Nama saya tidak penting. Yang penting, saya sudah menyimpan semua ini hampir delapan bulan.

Tangannya gemetar.

—Saya tidak pernah berani menyerahkannya karena saya tahu apa yang terjadi pada orang-orang sebelum saya.

Manajer senior memasukkan flashdisk ke laptop.

Beberapa folder muncul.

“INVENTARIS.”

“PEGAWAI BARU.”

“PEMBAYARAN.”

Dan satu folder terakhir bernama:

“TARGET.”

Ruangan langsung sunyi.

Folder pertama berisi foto berbagai peralatan perusahaan.

Kamera, laptop, proyektor, mikrofon nirkabel, tablet, bahkan beberapa perangkat pencahayaan.

Di samping setiap foto terdapat tiga keterangan.

Nilai aset.

Harga jual.

Nama pegawai yang akan diminta mengganti kerugian.

Dadaku terasa sesak.

Jadi semuanya memang direncanakan.

Mereka memilih peralatan lama yang masih memiliki nilai tinggi dalam pembukuan, menjualnya diam-diam, lalu melaporkannya sebagai barang hilang.

Setelah itu, seorang pegawai baru dijadikan kambing hitam.

Perusahaan mencatat kerugian.

Pegawai dipaksa mengganti.

Sementara mereka mendapatkan uang dari dua arah.

Manajer senior membuka folder kedua.

Di dalamnya terdapat salinan percakapan antara kepala divisi dan staf HR.

Salah satu pesan membuat tanganku dingin.

“Cari yang masih masa percobaan. Jangan pilih pegawai lama.”

Pesan berikutnya berbunyi:

“Yang dari luar kota lebih mudah. Biasanya butuh pekerjaan dan tidak berani melawan.”

Aku menutup mulut.

Itu aku.

Aku berasal dari daerah lain.

Aku tinggal sendiri.

Aku membutuhkan pekerjaan.

Mereka tidak memilihku secara kebetulan.

Sejak awal aku memang target.

Staf HR yang tadi mencoba melarikan diri tiba-tiba berkata,

—Itu bukan saya! Percakapan itu bisa dipalsukan!

Rekan kerjaku tertawa pahit.

—Kalau begitu kita buka rekaman suaranya.

Wajah perempuan itu langsung pucat.

Ada puluhan rekaman.

Dalam salah satunya terdengar suara kepala divisi.

“Kalau dia menolak membayar, tahan gajinya.”

Kemudian suara staf HR menjawab,

“Kalau dia lapor?”

“Ancam saja tidak lulus masa percobaan.”

Aku mengepalkan tangan.

Setiap kata yang mereka ucapkan kepadaku ternyata bukan spontan.

Itu adalah pola yang sudah mereka gunakan berkali-kali.

Manajer senior membuka folder pembayaran.

Ada catatan transaksi, foto kuitansi, daftar rekening, serta tabel pembagian uang.

Tetapi kemudian dia berhenti.

—Tunggu.

Dia memperbesar sebuah kolom.

Di sana terdapat inisial seseorang.

Inisial yang sama muncul hampir di setiap transaksi.

Kepala divisi mendapat bagian.

Staf HR mendapat bagian.

Orang luar yang membeli peralatan mendapat bagian.

Namun jumlah terbesar selalu masuk ke seseorang dengan inisial yang sama.

Manajer senior menatap layar lama sekali.

Kemudian dia berdiri.

—Panggil direktur operasional.

Beberapa pegawai saling memandang.

Aku sendiri terkejut.

Direktur operasional?

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluhan masuk.

Dia terlihat tenang.

—Ada masalah apa sampai saya harus turun langsung?

Manajer senior memutar laptop ke arahnya.

—Kami ingin Bapak menjelaskan transaksi ini.

Senyum pria itu menghilang.

Hanya sesaat.

Kemudian dia tertawa kecil.

—Kalian percaya file dari flashdisk yang tidak jelas asal-usulnya?

Dia menatapku.

—Dan semua masalah ini bermula dari pegawai percobaan?

Aku merasa tatapannya seperti pisau.

—Perusahaan sebesar ini tidak boleh kacau hanya karena tuduhan seorang anak baru.

Kalimat itu membuatku hampir mundur.

Tetapi tiba-tiba seseorang berbicara dari belakang.

—Bukan hanya dia.

Petugas gudang yang sebelumnya membantuku berdiri di pintu.

Tangannya membawa sebuah buku catatan tua.

—Saya juga bersaksi.

Kepala divisi langsung berteriak,

—Diam!

Namun pria tua itu berjalan maju.

—Tiga tahun saya disuruh menghapus nomor inventaris. Tiga tahun saya diam karena takut kehilangan pekerjaan.

Dia meletakkan buku tersebut di atas meja.

—Tapi saya tidak pernah benar-benar menghapus catatannya.

Di dalam buku itu ada nomor seri seluruh peralatan yang dikatakan hilang.

Tanggal keluar.

Siapa yang mengambil.

Bahkan nomor kendaraan yang membawanya.

Direktur operasional mulai berkeringat.

Manajer senior menatapnya.

—Nomor kendaraan ini milik perusahaan yang terdaftar atas nama saudara Anda.

Ruangan kembali hening.

Pria itu akhirnya kehilangan ketenangannya.

—Kalian tidak punya hak menyelidiki keluarga saya!

Manajer senior menjawab tenang,

—Audit internal mungkin tidak.

—Tapi pihak berwenang punya.

Untuk pertama kalinya, direktur operasional benar-benar panik.

Dia meraih ponselnya.

Namun salah satu pria yang sejak tadi berdiri di belakang langsung menunjukkan identitas.

Ternyata mereka bukan pegawai perusahaan.

Mereka adalah petugas yang diminta hadir setelah manajemen menerima laporan awal tentang dugaan penggelapan aset.

Direktur operasional menjatuhkan ponselnya.

Kepala divisi terduduk.

Staf HR menangis.

Aku sendiri hanya berdiri diam.

Aku seharusnya merasa lega.

Namun anehnya, yang kurasakan justru sedih.

Berapa banyak orang sebelum aku yang pernah berdiri sendirian seperti ini?

Berapa banyak yang pulang membawa utang?

Berapa banyak yang dianggap pencuri oleh teman-temannya sendiri?

Manajer senior seolah memahami pikiranku.

Dia membuka folder terakhir.

“TARGET.”

Daftarnya lebih panjang daripada yang kulihat sebelumnya.

Ada tiga puluh dua nama.

Beberapa sudah keluar bertahun-tahun lalu.

Di sebelah nama mereka terdapat catatan seperti:

“Tidak melawan.”

“Membayar penuh.”

“Keluar sendiri.”

“Takut dilaporkan.”

Kemudian aku melihat satu nama dengan tulisan merah.

“Menolak membayar. Harus dibuat tidak bisa bekerja di industri ini lagi.”

Rekan kerja yang membawa flashdisk berdiri di sampingku.

Dia menunjuk nama tersebut.

—Dia kakak saya.

Aku menoleh kaget.

Matanya memerah.

—Tiga tahun lalu, kakak saya bekerja di sini.

—Dia dituduh menghilangkan dua laptop dan dipaksa mengganti hampir dua puluh juta rupiah.

—Dia menolak.

—Setelah itu, setiap kali melamar pekerjaan, entah bagaimana perusahaan baru selalu menerima informasi bahwa dia pernah mencuri aset kantor.

Suaranya mulai bergetar.

—Dia akhirnya pulang kampung dan membuka bengkel kecil.

—Saya masuk ke perusahaan ini bukan karena kebetulan.

Semua orang menatapnya.

—Saya masuk karena ingin mencari bukti untuk membersihkan nama kakak saya.

Aku akhirnya mengerti kenapa dia berani mengirim pesan kepadaku.

Kenapa dia menyimpan flashdisk.

Kenapa dia dipecat begitu cepat.

Manajer senior menutup laptop.

—Mulai hari ini, audit diperluas ke seluruh transaksi tiga tahun terakhir.

Dia memandang para pegawai.

—Semua mantan karyawan yang pernah diminta membayar kehilangan aset akan kami hubungi kembali.

Kemudian dia menoleh kepadaku.

—Termasuk kasus Anda.

Aku menarik napas.

—Lalu surat pemecatan saya?

Dia mengambil surat di atas mejaku.

Merobeknya menjadi dua.

—Tidak berlaku.

Kepala divisi mendadak berteriak,

—Kalian pikir selesai sampai di sini?

Semua orang menoleh.

Dia tertawa aneh.

—Kalau kalian membuka semua transaksi, perusahaan ini sendiri yang akan hancur!

Manajer senior tidak menjawab.

Kepala divisi menunjuk ke laptop.

—Kalian belum melihat folder tersembunyi.

Wajah rekan kerjaku berubah.

—Folder apa?

Kepala divisi tersenyum.

—Kalian pikir dua miliar itu jumlah terbesar?

Dia menatap direktur operasional yang kini pucat pasi.

—Tanyakan kepadanya tentang proyek fiktif.

Dan saat itulah direktur operasional tiba-tiba bangkit.

—Tutup laptop itu!

Namun sudah terlambat.

Di sudut layar muncul sebuah folder yang sebelumnya tersembunyi.

Namanya hanya satu kata.

“PROYEK.”

Manajer senior mengkliknya.

Dan angka pertama yang muncul membuat seluruh ruangan membeku.

Rp14.700.000.000.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)