Istri Saya Meninggalkan Saya dan Enam Putri Kami Demi Pria Kaya—15 Tahun Kemudian, Ia Muncul di Pernikahan Putri Sulung Kami. Namun, Apa yang Dilakukan Putri Saya di Depan 150 Tamu Membuat Semua Orang Terkejut
BAGIAN 1
“Aku akan datang ke pernikahan putri kita. Apa kata keluarga BARUku kalau aku melewatkan momen sepenting itu? Jadi, aku pasti hadir!”
Saat membaca pesan dari mantan istri saya, Rania, cangkir kopi di tangan saya hampir jatuh.
Lima belas tahun lalu, saya berdiri di apartemen kecil kami di Jakarta Timur sambil menggendong putri kami yang baru berusia sembilan bulan. Di depan saya, Rania memasukkan pakaian-pakaian bermereknya ke dalam dua koper besar.
Waktu itu, ia menatap saya dengan jijik.
“Kamu tidak bisa memberiku hidup yang aku mau, Ardi. Tapi Reza bisa,” katanya dingin. “Dia membelikanku mobil baru dan mengajakku liburan ke Bali minggu lalu. Kamu mengerti, kan, kehidupan seperti apa yang bisa dia berikan? Kehidupan yang memang pantas untukku. Sedangkan kamu tidak mampu memberikannya.”

Reza adalah atasannya di kantor—pria kaya yang diam-diam telah menjalin hubungan dengannya selama berbulan-bulan di belakang saya.
Lalu Rania membanting pintu dan pergi.
Ia benar-benar menghilang dari hidup kami.
Tidak ada telepon saat ulang tahun anak-anak. Tidak ada uang nafkah. Tidak ada kartu Lebaran. Tidak ada satu pesan pun.
Selama lima belas tahun, yang tersisa hanya keheningan.
Saya membesarkan enam putri kami seorang diri. Saya mengambil lembur di perusahaan logistik, pulang dalam keadaan lelah, belajar mengepang rambut, belajar membedakan berbagai warna merah muda, dan mengatur jadwal sekolah enam anak sekaligus.
Saya tidak pernah melewatkan satu pun pentas tari, pertandingan olahraga, rapor sekolah, atau malam ketika salah satu dari mereka demam. Saya selalu ada.
Kini putri sulung saya, Naya, sudah berusia dua puluh empat tahun. Ia akan menikah dengan seorang pemuda baik bernama Fikri.
Dengan gugup, saya menunjukkan pesan dari Rania kepada Naya. Saya kira ia akan menangis atau menolak membiarkan ibunya datang.
Namun Naya hanya tersenyum tipis. Senyumnya tenang, tetapi ada sesuatu yang dingin di balik matanya.
“Papa, bilang saja dia boleh datang,” ucapnya pelan. “Aku bahkan akan menyiapkan sambutan khusus untuknya.”
Saya sebenarnya tidak ingin Rania berada di dekat keluarga kami lagi. Namun jika itu yang Naya butuhkan untuk menutup luka yang selama ini ia pendam, saya tidak akan menghalanginya.
Hari pernikahan pun tiba.
Acara itu digelar di sebuah gedung pernikahan indah di kawasan Jakarta Selatan. Seratus lima puluh tamu sudah berkumpul di area resepsi ketika Rania akhirnya muncul.
Ia datang dengan gaun payet yang mencolok, kacamata hitam besar, dan tas bermerek yang sengaja digenggam tinggi-tinggi. Jelas sekali, ia ingin semua orang melihat kemewahan hidup yang dulu ia pilih daripada keluarganya sendiri.
Ia langsung menuju ruang rias pengantin, tempat Naya sedang bersama para pengiring pengantin.
Begitu melihat putrinya, Rania memeluk Naya dengan dramatis lalu berkata cukup keras agar semua orang mendengarnya.
“Sayang, anak Mama yang cantik… akhirnya kita bersama lagi. Kamu harus mengerti, ya. Dulu Mama pergi bukan karena Mama mau. Itu semua salah PAPAmu. Dia miskin, malas, dan tidak bisa memberi Mama kehidupan yang layak. Perempuan seperti Mama tidak punya pilihan.”
Naya tidak melepaskan pelukan itu.
Ia hanya tersenyum lembut dan menjawab, “Mama, tentu aku mengerti. Justru karena itu, aku sudah menyiapkan sesuatu untuk Mama. Hadiah yang sangat spesial untuk kedatangan Mama.”
Wajah Rania langsung berbinar. Ia tampak bangga, seolah-olah dirinya memang pantas disambut seperti tamu kehormatan.
“Aduh, Sayang… kamu tidak perlu repot-repot,” katanya sambil membetulkan rambutnya.
Beberapa menit kemudian, tepat sebelum makan malam resepsi dimulai, Naya menggandeng Rania ke tengah aula.
Dua staf gedung mendorong sebuah peti kayu besar yang dibungkus pita perak mengilap. Peti itu diletakkan tepat di depan meja utama, ketika seluruh tamu undangan memandang ke arah mereka.
“Silakan, Ma,” kata Naya melalui mikrofon. Suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan. “Buka hadiahnya.”
Rania melangkah maju sambil tersenyum lebar ke arah kamera-kamera tamu. Ia mengangkat tutup peti itu perlahan.
Begitu melihat isi di dalamnya, suasana aula langsung sunyi.
Para tamu di barisan depan terkejut. Beberapa orang bahkan menutup mulut mereka.
Wajah Rania mendadak pucat. Ia mundur beberapa langkah, menabrak meja, lalu berteriak sekeras-kerasnya:
BAGIAN 2
Isi peti itu bukan sesuatu yang mengerikan.
Tidak ada benda tajam, tidak ada foto yang memalukan, tidak ada apa pun yang bisa membahayakan siapa pun.
Justru itulah yang membuat semua orang di aula mendadak kehilangan kata-kata.
Di dalam peti kayu besar itu, tersusun enam kotak kecil berwarna putih. Masing-masing diberi pita sederhana dan sebuah nama.
Naya. Kirana. Dinda. Salsa. Rere. Mila.
Di atas setiap kotak ada foto masa kecil kami.
Foto-foto yang tidak pernah dilihat Rania.
Naya saat pertama kali belajar berjalan di ruang tamu apartemen kami yang sempit.
Kirana memakai seragam TK dengan rambut dikepang miring karena saya belum pandai membuatnya rapi.
Dinda berdiri di samping sepeda kecil berwarna ungu, tertawa dengan dua gigi depannya yang tanggal.
Salsa menangis di samping saya di ruang IGD ketika demamnya tidak turun.
Rere memegang piala lomba menggambar.
Dan Mila, si bungsu, tertidur di dada saya saat acara kelulusan kakaknya.
Di bagian paling atas peti, ada sebuah papan kayu kecil bertuliskan:
“15 TAHUN YANG MAMA LEWATKAN.”
Rania menatap tulisan itu cukup lama.
Lalu ia tertawa pendek, meski suaranya gemetar.
“Ini maksudnya apa?” tanyanya. “Kalian sengaja mempermalukan Mama di depan semua orang?”
Naya masih berdiri dengan mikrofon di tangan. Gaun putihnya sederhana, wajahnya cantik, dan suaranya tetap tenang.
“Tidak, Ma. Aku tidak mau mempermalukan Mama.”
“Lalu untuk apa semua ini?”
“Supaya Mama melihat apa yang selama ini Mama pilih untuk tidak lihat.”
Rania menoleh kepada para tamu. Ada beberapa orang dari keluarga Fikri yang tampak bingung. Teman-teman lama Naya saling berbisik. Saya sendiri berdiri tidak jauh dari meja utama dengan dada yang terasa sesak.
Saya ingin menghentikan semuanya.
Saya ingin menarik Naya ke pelukan saya dan berkata bahwa ia tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Tetapi Naya mengangkat tangannya sedikit ke arah saya.
Tatapannya seolah berkata, Papa, biarkan aku menyelesaikannya.
Dua staf gedung membuka sisi peti yang lain. Ternyata di dalamnya bukan hanya enam kotak.
Ada sebuah layar kecil.
Lampu aula diredupkan.
Video mulai diputar.
Layar pertama menunjukkan rekaman lama dari ponsel saya. Kualitasnya buruk dan gambarnya bergoyang-goyang. Naya kecil duduk di lantai, memegang krayon warna merah.
“Papa,” katanya dalam video, “Mama pulang kapan?”
Suara saya terdengar dari belakang kamera.
“Nanti kalau Mama sudah siap, Sayang.”
Naya kecil mengangguk, lalu melanjutkan menggambar keluarga kami. Ada tujuh anak perempuan kecil dan satu laki-laki yang berdiri di tengah. Tetapi tidak ada sosok ibu.
Video berikutnya memperlihatkan Kirana saat ulang tahunnya yang keenam. Anak-anak lain bernyanyi sambil bertepuk tangan. Di depan Kirana ada kue kecil buatan saya sendiri yang bentuknya miring.
Kirana meniup lilin, lalu bertanya, “Kalau Mama tidak datang, boleh enggak aku simpan satu potong kue buat Mama?”
Saya masih ingat malam itu.
Saya mengatakan tentu saja boleh.
Kirana menyimpan sepotong kue di dalam kotak makan kecil. Keesokan paginya, kue itu sudah keras dan tidak bisa dimakan. Namun ia tetap meminta saya membungkusnya rapi.
“Kalau Mama pulang, kasih ke Mama ya, Pa.”
Layar berpindah lagi.
Salsa yang berusia tujuh tahun sedang memakai kostum kupu-kupu untuk pentas sekolah. Ia tersenyum, tetapi sebelum naik ke panggung, ia bertanya kepada saya, “Papa yakin Mama tidak datang diam-diam?”
Saya tidak bisa menjawab.
Di layar berikutnya, Rere sedang duduk di samping jendela saat hujan deras. Ia tidak sadar sedang direkam. Tangannya memegang sebuah surat lusuh.
Surat itu ditujukan kepada Rania.
Tulisan tangan Rere masih besar-besar dan tidak rapi.
Untuk Mama, aku dapat nilai seratus di matematika. Papa bilang Mama pasti bangga. Aku kangen Mama. Dari Rere.
Saya mengenali surat itu.
Kami pernah mengirimkannya ke alamat lama Rania. Surat itu dikembalikan oleh kantor pos beberapa minggu kemudian dengan cap merah: alamat tidak dikenal.
Video terakhir menunjukkan Mila, yang saat itu baru berusia lima tahun. Ia duduk di pangkuan saya setelah melihat teman sekelasnya dijemput ibunya.
“Papa,” katanya pelan, “aku punya Mama enggak?”
Saya menutup wajah dengan kedua tangan ketika rekaman itu diputar.
Saya tidak sanggup melihatnya lagi.
Namun Naya melanjutkan.
“Semua video ini ada karena Papa takut suatu hari kami lupa bahwa kami pernah bertanya tentang Mama,” katanya. “Papa tidak pernah mengajari kami membenci Mama. Bahkan saat kami marah, Papa selalu bilang, ‘Jangan bicara buruk tentang ibu kalian. Kalian berhak punya perasaan sendiri, tapi jangan biarkan luka membuat kalian menjadi orang yang kejam.’”
Aula hening.
Benar-benar hening.
Saya melihat bahu Rania mulai bergetar. Untuk pertama kalinya sejak datang, wajah angkuhnya menghilang. Namun ketika ia bicara, suaranya masih berusaha keras terdengar keras.
“Kalian tidak tahu apa yang terjadi waktu itu,” katanya. “Mama juga menderita.”
Naya menatapnya tanpa marah.
“Mungkin. Tapi kami juga menderita, Ma.”
Rania membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Naya berjalan ke kotak pertama dan mengambil sebuah album foto kecil.
“Ini foto ulang tahunku yang kesepuluh,” katanya. “Aku meminta Papa membelikan ponsel bekas supaya Mama bisa meneleponku kalau suatu hari Mama mau. Aku menunggu sampai tengah malam. Tidak ada telepon.”
Ia mengembalikan album itu.
Lalu ia mengambil sepasang sepatu balet kecil dari kotak Kirana.
“Kirana menangis karena sepatu ini kekecilan, tapi dia tidak mau membuangnya. Dia bilang, ‘Kalau Mama pulang, Mama harus tahu aku pernah menari.’”
Dari kotak Dinda, Naya mengeluarkan medali lomba lari.
Dari kotak Salsa, sebuah kartu rawat inap rumah sakit.
Dari kotak Rere, surat yang sudah menguning.
Dan dari kotak Mila, sebuah boneka kelinci kecil yang telinganya sudah dijahit berkali-kali.
“Mila tidur dengan boneka ini selama bertahun-tahun,” kata Naya. “Karena dia bilang, kalau Mama pulang malam-malam dan tidak mengenalinya, Mama bisa melihat boneka ini lalu tahu dia adalah anak Mama.”
Rania menutup mulutnya.
Air mata mulai mengalir di pipinya.
Namun saya tidak tahu apakah itu air mata penyesalan atau hanya rasa malu karena 150 orang sedang menyaksikannya.
Lalu Naya berkata, “Mama datang hari ini bukan karena kangen kami.”
“Itu tidak benar,” Rania langsung membantah.
“Kalau Mama kangen, Mama punya lima belas tahun untuk mencari kami.”
“Keadaan Mama rumit…”
“Tidak serumit mengetik satu pesan,” potong Naya, masih tenang. “Tidak serumit mengirim satu kartu ulang tahun. Tidak serumit menanyakan apakah keenam anak Mama masih hidup.”
Kata-kata itu jatuh begitu saja ke tengah aula.
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Tidak ada yang bersorak.
Yang terdengar hanya isak pelan dari beberapa tamu.
Kemudian Fikri berjalan mendekat dan berdiri di sisi Naya. Ia tidak mengambil alih, hanya menggenggam tangan calon istrinya.
Naya menatap Rania sekali lagi.
“Kemarin, aku bertanya kepada Papa apakah kami harus mengundang Mama,” katanya. “Papa bilang keputusan itu ada di tangan kami. Jadi aku mengundang Mama. Bukan untuk membalas dendam.”
“Lalu untuk apa?” suara Rania pecah.
“Untuk menutup pintu yang selama ini Mama biarkan terbuka.”
Naya memberi isyarat kepada staf gedung. Seorang perempuan paruh baya maju membawa map cokelat.
Saya mengenal perempuan itu. Bu Ratih, notaris yang sudah membantu kami beberapa bulan terakhir.
Rania memandang map itu dengan takut.
“Ini apa?”
“Surat pernyataan,” jawab Naya. “Bukan tuntutan. Bukan jebakan. Tidak ada yang meminta uang Mama.”
Rania menatap saya cepat, seolah baru menyadari bahwa saya mungkin telah menyiapkan sesuatu di belakangnya.
Saya menggeleng pelan.
Ini bukan rencana saya.
Ini rencana anak-anak saya.
Naya melanjutkan, “Surat itu menyatakan bahwa Mama tidak akan memakai nama kami untuk apa pun tanpa izin. Tidak untuk meminta uang, tidak untuk mengaku dekat dengan kami di depan keluarga baru Mama, dan tidak untuk datang ke hidup kami hanya saat Mama butuh sesuatu.”
Wajah Rania langsung berubah.
“Apa maksudmu, ‘saat Mama butuh sesuatu’?”
Naya menatapnya dalam-dalam.
“Bukankah itu alasan Mama datang?”
Rania terdiam.
Saya melihat tangan Rania mencengkeram tas mahalnya. Ia mencoba tersenyum, mencoba lagi memakai wajah anggunnya, tetapi kali ini tidak berhasil.
Akhirnya ia berbisik, “Mama cuma ingin melihat kalian.”
“Tidak,” kata Naya.
Suaranya tidak keras. Tapi seluruh ruangan mendengarnya.
“Dua minggu lalu, seorang perempuan bernama Mira menelepon Papa. Dia mantan asisten pribadi Reza.”
Rania mengangkat wajahnya mendadak.
“Mira?”
“Dia bilang Reza meninggal delapan bulan lalu.”
Semua orang kembali hening.
Naya melanjutkan, “Dia juga bilang, setelah Reza meninggal, Mama tahu bahwa sebagian besar asetnya bukan atas nama Mama. Rumah tempat Mama tinggal dijual. Mobil Mama ditarik. Dan keluarga Reza tidak mau Mama tinggal bersama mereka.”
Rania mulai bernapas tidak teratur.
“Itu urusan pribadi Mama,” katanya lirih.
“Benar,” jawab Naya. “Seharusnya itu urusan pribadi Mama. Tapi kemudian Mira memberi tahu kami bahwa Mama sudah beberapa kali mencoba menghubungi keluarga dari pihak Reza, sambil mengatakan Mama ingin membangun citra sebagai ‘ibu yang kembali demi anak-anaknya.’”
Rania memejamkan mata.
Naya tidak perlu mengatakan sisanya.
Semua orang di ruangan itu sudah mengerti.
Rania tidak datang karena tiba-tiba teringat bahwa ia memiliki enam putri.
Ia datang karena kehidupan mewah yang dulu ia pilih sudah runtuh. Dan ia membutuhkan cerita baru agar terlihat baik di hadapan orang lain.
“Mama salah,” katanya akhirnya. Tangisnya pecah. “Mama tahu Mama salah. Tapi Mama juga manusia. Mama takut. Mama tidak tahu harus mulai dari mana.”
Selama beberapa detik, saya hampir melangkah maju.
Lima belas tahun adalah waktu yang panjang, tetapi melihat seseorang menangis tetap tidak mudah bagi saya. Terlebih lagi, perempuan itu pernah menjadi istri saya. Pernah menjadi ibu dari anak-anak saya.
Namun sebelum saya bergerak, Mila—putri bungsu saya—bangkit dari kursinya.
Kini ia berusia enam belas tahun. Ia mengenakan gaun biru muda dan selama acara hanya diam, duduk di antara kakak-kakaknya.
Ia berjalan mendekati Rania.
Semua orang menahan napas.
Rania mengulurkan tangan dengan ragu.
“Mila…” bisiknya. “Kamu sudah besar sekali.”
Mila berdiri satu langkah dari ibunya.
Lalu ia berkata, “Aku tidak ingat wajah Mama waktu Mama pergi.”
Rania menangis semakin keras.
“Tapi aku ingat Papa menangis di dapur malam itu,” lanjut Mila. “Aku kecil sekali, tapi aku ingat. Aku juga ingat kak Naya memeluk kami dan bilang semuanya akan baik-baik saja.”
Rania mencoba menyentuh tangan Mila, tetapi Mila mundur sedikit.
“Aku tidak benci Mama,” kata Mila. “Aku cuma tidak bisa memanggil Mama seperti orang yang mengenalku.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada teriakan.
Rania perlahan menjatuhkan tangannya.
Naya mengulurkan map cokelat itu sekali lagi.
“Mama boleh menandatangani surat ini atau tidak. Kami tidak akan memaksa. Tapi setelah hari ini, kami tidak akan lagi menunggu sesuatu yang tidak pernah Mama ingin berikan.”
Rania menerima map tersebut dengan tangan gemetar.
Ia membaca setiap halaman. Air matanya jatuh membasahi kertas.
Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia menandatanganinya.
Bu Ratih menerima kembali map itu.
Rania menatap keenam putrinya. Untuk sesaat, saya melihat penyesalan yang tampak nyata di wajahnya. Bukan penyesalan karena kehilangan uang, rumah, atau status.
Melainkan penyesalan karena baru menyadari bahwa ada enam kehidupan yang telah tumbuh tanpa dirinya.
“Aku minta maaf,” katanya. “Aku tahu kata itu tidak cukup.”
Naya mengangguk perlahan.
“Memang tidak cukup, Ma.”
Rania mengusap pipinya.
“Tapi kalau suatu hari kalian mau bicara…”
“Kami akan yang menentukan,” jawab Naya. “Bukan Mama.”
Rania mengangguk lagi.
Kali ini, ia tidak membantah.
Ia berbalik dan berjalan keluar dari aula tanpa tasnya diangkat tinggi-tinggi, tanpa senyum palsu, tanpa mencoba menarik perhatian siapa pun.
Di dekat pintu, ia berhenti sebentar.
Ia menoleh ke arah saya.
“Ardi,” katanya pelan.
Saya menatapnya.
“Terima kasih karena membesarkan mereka.”
Saya tidak menjawab.
Bukan karena ingin menghukumnya.
Tetapi karena tidak ada jawaban yang bisa memperbaiki lima belas tahun yang telah hilang.
Setelah Rania pergi, aula tetap sunyi beberapa saat.
Lalu Naya menghela napas panjang, seperti baru meletakkan beban yang dipikulnya sejak kecil.
Saya menghampirinya.
“Papa minta maaf,” kata saya sambil memeluknya. “Papa tidak bisa memberi kalian seorang ibu yang seharusnya kalian punya.”
Naya memeluk saya lebih erat.
“Papa memberi kami lebih dari cukup,” bisiknya. “Papa memberi kami rumah.”
Kirana, Dinda, Salsa, Rere, dan Mila ikut memeluk kami.
Enam anak perempuan saya.
Enam alasan saya tetap berdiri setiap hari, bahkan ketika hidup terasa terlalu berat.
Para tamu perlahan mulai bertepuk tangan. Bukan tepuk tangan meriah untuk sebuah pertunjukan, melainkan tepuk tangan pelan, hangat, dan penuh hormat.
Fikri lalu mengambil mikrofon.
“Sebelum kita melanjutkan makan malam,” katanya, “saya ingin mengatakan sesuatu.”
Ia memandang saya.
“Pak Ardi, saya tahu saya tidak bisa menggantikan semua perjuangan Bapak. Tapi saya berjanji, mulai hari ini Naya tidak akan pernah menghadapi hidup sendirian lagi.”
Saya menatap pemuda itu, lalu mengangguk sambil menahan air mata.
Beberapa menit kemudian, musik kembali dimainkan.
Naya dan Fikri berdansa untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri. Kelima adiknya berdiri di sekitar mereka, tertawa dan menangis sekaligus.
Di sudut aula, peti kayu itu masih terbuka.
Bukan sebagai simbol balas dendam.
Tetapi sebagai pengingat bahwa seorang ibu bukanlah seseorang yang hanya melahirkan.
Seorang ibu adalah seseorang yang hadir.
Yang bertahan saat anak sakit.
Yang datang saat anak takut.
Yang mengingat ulang tahun.
Yang memilih keluarga, bahkan ketika hidup tidak mudah.
Dan malam itu, di tengah 150 tamu, keenam putri saya akhirnya berhenti menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar ingin pulang.
Mereka sudah memiliki keluarga.
Mereka sudah memiliki rumah.
Dan mereka selalu memiliki satu sama lain.
