Bagian 2
Javier langsung berkata, “Mereka serius?”
Aku tidak tahu.
Di lintasan tadi tidak ada sesuatu yang tampak aneh. Tidak ada senggolan. Tidak ada pelari keluar jalur secara jelas.
Tetapi lomba 400 meter memiliki aturan ketat.
Satu pijakan terlalu jauh ke bagian dalam tikungan bisa mengubah segalanya.
Valeria sendiri tidak memprotes.
Dia berdiri di belakang pembatas, masih memegang sepatunya.
Seorang reporter bertanya, “Apakah kamu yakin tidak menginjak garis?”
Valeria menggeleng pelan.

“Saya berlari. Saya tidak menghitung setiap injakan.”
“Kalau didiskualifikasi?”
Dia terdiam sebentar.
“Kalau saya memang melanggar aturan, saya terima.”
Reporter itu tampak sedikit kecewa, mungkin karena mengharapkan kalimat yang lebih panas.
Valeria melanjutkan,
“Tapi tolong lihat rekamannya dulu.”
Itu saja.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada “mereka takut kalah”.
Tidak ada serangan pada tim Jepang.
Petugas meminta para atlet menunggu karena rekaman lomba akan diperiksa.
Aiko duduk di kursi paling ujung.
Pelatihnya berbicara cepat dengan seorang ofisial sambil menunjuk ke arah tikungan pada monitor kecil.
Dari tempat kami berdiri, kami tidak bisa melihat detailnya.
Javier berkali-kali membuka ponsel.
Berita mulai muncul.
“Juara Jepang protes kemenangan Meksiko.”
“Drama setelah kejutan 400 meter.”
“Apakah kemenangan Cruz akan dibatalkan?”
Belum sampai lima belas menit, satu perlombaan sudah berubah menjadi puluhan judul.
Aku berkata, “Jangan baca semuanya.”
“Tapi kalau didiskualifikasi?”
“Kita akan tahu dari pengumuman.”
Beberapa menit kemudian Aiko berdiri dan mendekati monitor.
Dia menonton rekaman.
Sekali.
Lalu meminta diputar lagi.
Pelatihnya berbicara kepadanya.
Aiko menggeleng.
Pelatih itu menunjuk layar.
Aiko melihat lebih dekat.
Pada pemutaran berikutnya, salah seorang reporter berhasil memotret layar dari jauh. Kami hanya melihat gambar buram seorang pelari di tikungan.
Setelah hampir dua puluh menit, ofisial keluar.
Protes pertama ditolak.
Suara orang-orang Meksiko di sekitar kami langsung pecah.
Javier hampir melompat.
“Sudah!”
Belum.
Pelatih Jepang tidak bergerak dari meja.
Dia mengambil formulir lain.
Seseorang dari timnya memberi tahu wartawan bahwa mereka mempertimbangkan banding resmi.
Waktu pengajuannya terbatas.
Valeria memejamkan mata sebentar.
Seorang staf Meksiko berkata pelan kepadanya, “Kita tunggu.”
Aiko masih berdiri di dekat monitor.
Kali ini wajahnya tidak lagi seperti perempuan yang kalah lomba.
Dia terlihat kesal.
Bukan kepada Valeria.
Kepada orang-orang di sekitarnya.
Pelatihnya menyodorkan formulir.
Aiko membaca bagian atasnya.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak kami dengar.
Pelatihnya menjawab.
Suara mereka naik sedikit.
Reporter langsung bergerak lebih dekat.
Aiko menunjuk monitor.
Pelatihnya menjawab dengan telapak tangan terbuka, seperti orang yang sedang menjelaskan bahwa keputusan itu normal.
Kemudian Aiko menatap Valeria.
Valeria membalas tatapannya.
Mereka tidak mengatakan apa-apa.
Kurang dari satu jam sebelumnya, satu dari mereka mengatakan tidak ada perempuan Meksiko yang bisa mengalahkannya.
Sekarang pelari yang dikalahkannya sedang menunggu apakah kemenangan itu akan tetap sah.
Akhirnya Aiko mengambil pulpen.
Javier berbisik, “Dia bakal tanda tangan.”
Aku juga berpikir begitu.
Aiko menunduk ke formulir.
Pulpen menyentuh kertas.
Tetapi bukan tanda tangan yang dia buat.
Dia menarik satu garis panjang di bagian persetujuan atlet.
Lalu meletakkan pulpen di meja.
Pelatihnya menatapnya.
Aiko berkata sesuatu.
Kali ini cukup keras hingga reporter terdekat mendengarnya.
Terjemahannya langsung menyebar dari mulut ke mulut.
“Saya tidak melihat pelanggaran.”
Pelatihnya mencoba menjawab.
Aiko menggeleng.
“Kalau ada bukti, ajukan. Kalau tidak ada, saya tidak akan mendukung banding hanya karena saya kalah.”
Javier menatapku.
Aku tidak berkata apa-apa.
Aiko lalu berjalan menuju Valeria.
Semua kamera berpindah mengikuti langkahnya.
Dia berhenti sekitar satu meter di depan gadis 19 tahun itu.
Valeria mengangkat kepala.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya berdiri di sana.
Lalu Aiko mengulurkan tangan.
Valeria melihat tangan itu.
Kemudian menjabatnya.
Aiko berkata dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan oleh wartawan,
“Kamu lebih cepat hari ini.”
Valeria menjawab,
“Hari ini.”
Untuk pertama kalinya sejak finis, Aiko tersenyum sedikit.
“Bagus. Berarti kita perlu lomba berikutnya.”
Beberapa orang tertawa.
Tetapi suasana belum benar-benar ringan.
Aiko belum selesai.
Dia berbalik ke arah kamera.
“Ada satu hal lagi.”
Reporter mendekat.
Aiko menarik napas.
“Kemarin saya mengatakan tidak ada pelari Meksiko yang bisa mengalahkan saya.”
Dia menatap Valeria sebentar.
“Ternyata saya salah.”
Tidak ada alasan.
Tidak ada cerita bahwa kata-katanya disalahartikan.
Tidak ada tuduhan media memelintir ucapannya.
Dia hanya mengaku salah.
Valeria tidak tersenyum lebar.
Dia hanya mengangguk.
Lalu salah seorang ofisial datang membawa keputusan.
Protes dinyatakan selesai.
Tidak ada pelanggaran jalur.
Waktu Valeria sah.
Dia resmi menang dengan selisih kurang dari setengah detik.
Semua orang di sekitar kami mulai bersorak.
Namun tepat sebelum Valeria dibawa menuju upacara penghargaan, seorang wartawan bertanya sesuatu yang membuatnya berhenti.
“Sekarang semua orang mengenal namamu. Apa yang akan kamu lakukan dengan perhatian sebesar ini?”
Valeria memandang kamera.
Kemudian ke sepatu lusuh di tangannya.
Jawabannya jauh lebih pelan daripada sorakan di belakang kami.
“Besok saya latihan lagi.”
Saat itu aku mengira ceritanya selesai.
Ternyata kemenangan itu justru membuat hidup Valeria lebih rumit daripada sebelumnya.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Dalam dua hari, wajah Valeria ada di mana-mana.
Aku tahu karena Javier mengirimiku setiap artikel yang dia temukan.
Pagi-pagi sekali ponselku berbunyi.
“Lihat ini.”
Siang hari.
“Yang ini juga.”
Malam.
“Mereka undang dia ke tiga acara televisi.”
Aku akhirnya menulis, “Kamu ini penggemar atletik atau humasnya?”
Dia menjawab, “Dua-duanya.”
Banyak berita membingkai cerita dengan cara yang sama.
Juara Jepang yang sombong.
Gadis Meksiko yang tidak dianggap.
Balasan di lintasan.
Kemenangan mengejutkan.
Permintaan maaf.
Selesai.
Tetapi semakin banyak wawancara Valeria yang kutonton, semakin jelas bahwa dia sendiri tidak ingin hidupnya berubah menjadi satu kalimat dari Aiko.
Dalam salah satu wawancara, pembawa acara bertanya, “Apakah ucapan Aiko membuatmu lebih bersemangat?”
Valeria berpikir sebentar.
“Tentu saya mendengarnya.”
“Marah?”
“Sedikit.”
Penonton tertawa.
Valeria ikut tersenyum.
“Tapi kalau saya butuh orang menghina saya dulu supaya bisa berlari cepat, itu masalah.”
Pembawa acara terdiam sepersekian detik sebelum tertawa.
Valeria melanjutkan,
“Saya sudah latihan berbulan-bulan sebelum dia bicara. Jadi saya tidak mau seluruh kerja itu dianggap lahir dari satu kalimat.”
Itu pertama kalinya aku memahami sesuatu yang luput dari kami di stadion.
Bagi penonton, semuanya dimulai dari konferensi pers.
Bagi Valeria, perlombaan itu sudah dimulai jauh sebelumnya.
Dia tidak banyak membicarakan keluarganya atau kehidupan pribadinya.
Dia juga tidak menjual cerita sedih.
Ketika reporter bertanya tentang sepatu lusuh yang dibawanya seusai lomba, dia hanya menjawab bahwa itu sepatu latihan yang sudah lama dipakai dan dia merasa nyaman dengannya.
“Tidak ada cerita besar,” katanya.
Internet tentu tidak puas.
Orang-orang mulai membuat cerita sendiri.
Ada yang menulis seolah Valeria berlatih tanpa fasilitas apa pun.
Ada yang mengklaim dia datang dari keluarga yang tidak mampu.
Ada pula yang mengatakan sepatu itu pemberian mendiang seseorang.
Tidak satu pun dikonfirmasi.
Valeria akhirnya menulis singkat di akun resminya bahwa dia memiliki pelatih, mendapatkan akses lintasan, dan tidak ingin orang mengarang kesulitan yang tidak pernah dia ceritakan.
Aku suka itu.
Dia tidak mencoba terlihat lebih menderita agar kemenangannya terasa lebih hebat.
Namun perhatian membawa masalah lain.
Jadwal wawancaranya padat.
Orang-orang meminta foto ketika dia baru selesai latihan.
Ada perusahaan yang ingin menjadikannya wajah iklan.
Ada acara televisi yang ingin mempertemukannya dengan Aiko secepat mungkin.
Bahkan muncul usulan membuat “duel balas dendam” seolah atletik adalah pertandingan tinju.
Pelatih Valeria, seorang perempuan bernama Elena Rojas yang kemudian beberapa kali muncul di media, memotong sebagian besar permintaan itu.
“Kami tidak akan mengejar popularitas tiga minggu lalu kehilangan kecepatan tiga tahun,” katanya kepada wartawan.
Kalimat itu menjadi bahan perdebatan.
Sebagian menganggap Elena terlalu keras.
Sebagian lain memujinya.
Valeria sendiri kembali berlatih.
Dan enam minggu setelah kemenangan tersebut, namanya dan Aiko kembali muncul di daftar peserta lomba invitasi internasional lain.
Kali ini di California.
Javier meneleponku begitu pengumuman keluar.
“Kita harus nonton.”
“Tiket pesawatnya kamu yang bayar?”
“Streaming.”
“Itu baru masuk akal.”
Kali ini keadaan terbalik.
Semua kamera menyorot dua orang.
Valeria tidak lagi menjadi gadis di ujung meja yang dilupakan wartawan.
Dia ditanya tentang strategi.
Tentang tekanan.
Tentang apakah dia akan mengalahkan Aiko lagi.
Aiko juga ditanya pertanyaan yang hampir sama sepuluh kali.
“Apakah ini balas dendam?”
Dia menjawab, “Tidak.”
“Apakah kamu ingin membuktikan kekalahan kemarin hanya kebetulan?”
“Tidak.”
“Lalu apa?”
Aiko terlihat sedikit lelah.
“Saya ingin berlari cepat.”
Jawaban itu tidak menarik untuk judul berita.
Tapi justru terdengar paling masuk akal.
Malam sebelum lomba, Javier mengirimiku foto layar.
Ada iklan pertandingan dengan wajah Aiko di satu sisi dan Valeria di sisi lain.
Tulisan besar di tengah:
REMATCH.
Aku membalas, “Sepertinya mereka lupa ada enam pelari lain.”
Javier mengirim emoji tertawa.
Keesokan harinya kami menonton dari rumahnya.
Istrinya sempat bertanya mengapa dua laki-laki dewasa berteriak pada televisi untuk lomba yang selesai kurang dari satu menit.
Kami tidak menjawab.
Saat start, Valeria kali ini keluar jauh lebih agresif.
Seratus meter pertama dia hampir sejajar dengan Aiko.
Javier berkata, “Bagus.”
Aku tidak yakin.
Dua ratus meter, Valeria masih menekan.
Di tikungan terakhir, langkahnya mulai sedikit pendek.
Aiko justru bertahan.
Seratus meter terakhir, mereka berdampingan.
Valeria mencoba akselerasi yang sama seperti perlombaan sebelumnya.
Tidak datang.
Aiko melewati garis finis lebih dulu.
Selisihnya hanya delapan seperseratus detik.
Javier bersandar ke sofa.
“Waduh.”
Aku tertawa.
“Kamu kecewa?”
“Sedikit.”
“Bagus.”
“Bagus apanya?”
“Sekarang kamu ingat dia manusia.”
Beberapa menit kemudian kamera menunjukkan Aiko mendekati Valeria.
Dia mengangkat dua jari.
Valeria mengangkat satu.
Mereka tertawa.
Satu kemenangan untuk Valeria.
Satu untuk Aiko.
Bukan cerita yang bagus untuk orang-orang yang ingin satu tokoh menjadi pahlawan dan satu tokoh menjadi penjahat.
Tapi justru karena itu aku mulai mengikuti keduanya.
Setelah lomba, Valeria tidak mencari alasan.
Dia mengaku membuka lomba terlalu cepat.
“Saya ingin membuktikan terlalu banyak hal sekaligus,” katanya.
Seorang wartawan bertanya, “Membuktikan kepada Aiko?”
Valeria menggeleng.
“Kepada semua orang.”
Dia berhenti.
“Mungkin juga kepada diri sendiri.”
Itu kalimat yang tidak terdengar heroik.
Tetapi bagiku, itu jauh lebih menarik daripada kemenangan pertamanya.
Karena pertama kali dia berlari ketika tidak ada yang mengharapkannya menang.
Sekarang dia berlari ketika ribuan orang menganggap kemenangan sebagai kewajiban.
Tekanannya berbeda.
Beberapa hari kemudian Elena, pelatihnya, menjelaskan bahwa masalah terbesar setelah kemenangan pertama bukan latihan fisik.
Valeria mulai membaca terlalu banyak komentar.
Orang menyebutnya masa depan atletik Meksiko.
Ada yang sudah membandingkan catatan waktunya dengan atlet yang jauh lebih berpengalaman.
Ada pula yang menulis bahwa jika dia kalah lagi, kemenangan pertamanya berarti keberuntungan.
Elena akhirnya meminta Valeria menghapus beberapa aplikasi dari ponselnya selama masa kompetisi.
“Bukan karena kritik berbahaya,” katanya dalam wawancara.
“Tapi karena seorang atlet tidak bisa membuat strategi dari pendapat sepuluh ribu orang yang tidak berdiri di lintasan.”
Valeria mengikuti saran itu.
Dia kembali ke jadwal biasa.
Latihan pagi.
Pemulihan.
Latihan kekuatan.
Pertemuan dengan pelatih.
Tidur.
Beberapa kegiatan media, tapi jauh lebih sedikit.
Aiko, di sisi lain, harus menghadapi konsekuensi dari kalimatnya sendiri.
Di Jepang, sebagian media memujinya karena menolak mendukung banding tanpa bukti.
Sebagian lain mengkritik ucapannya di konferensi pers.
Seorang mantan atlet bahkan menyebut sikapnya sebelum lomba “tidak perlu dan tidak cerdas”.
Aiko tidak membalas satu per satu.
Dalam satu wawancara panjang, dia akhirnya menjelaskan,
“Saya terlalu yakin.”
Reporter bertanya, “Karena rekormu?”
“Karena saya mulai menganggap pengalaman sebagai jaminan.”
“Apakah kekalahan itu mengubahmu?”
Aiko berpikir.
“Tidak dalam satu hari.”
Dia tersenyum tipis.
“Kalau perubahan semudah itu, semua orang akan menjadi bijak setelah satu kesalahan.”
Aku ingat kalimat itu.
Karena cerita olahraga sering ditulis seolah manusia langsung berubah setelah satu momen besar.
Padahal orang tidak bekerja seperti itu.
Aiko masih percaya diri.
Valeria tetap ambisius.
Mereka masih ingin saling mengalahkan.
Bedanya, rasa hormat mulai tumbuh di antara keinginan itu.
Tiga bulan kemudian mereka kembali bertemu di sebuah kejuaraan internasional.
Kali ini tekanannya bahkan lebih besar.
Valeria bukan lagi kejutan.
Nama Aiko masih menjadi salah satu favorit.
Javier kembali mengajakku menonton bersama.
Aku datang membawa makanan.
Dia sudah menyiapkan daftar waktu terbaik musim itu.
“Kamu serius sekali.”
“Ini penting.”
“Bagi siapa?”
“Bagiku.”
Aku menyerah.
Babak semifinal berjalan tanpa drama besar.
Aiko lolos.
Valeria lolos.
Final dijadwalkan keesokan malam.
Dalam konferensi pers singkat, seorang reporter kembali mengungkit kalimat lama.
“Setelah semua yang terjadi, kalau boleh mengulang, apa yang akan kamu katakan sebelum lomba pertama itu?”
Aiko menjawab cepat.
“Saya akan bilang saya berniat menang.”
“Bukan ‘tak ada perempuan Meksiko yang bisa mengalahkanmu’?”
Aiko menggeleng.
“Satu bicara tentang keyakinan pada diri sendiri. Yang lain bicara tentang meremehkan orang lain.”
Kemudian reporter menoleh kepada Valeria.
“Kalau Aiko tidak mengatakan itu, apakah kemenangan pertamamu akan terasa sama?”
Valeria tertawa kecil.
“Waktunya tetap tercatat sama.”
Semua orang tertawa.
Lalu dia menambahkan,
“Saya tidak mau karier saya bergantung pada kalimat orang lain. Dia bisa mengatakan apa pun. Saya tetap harus lari empat ratus meter.”
Keesokan malam, sebelum final, kamera menyorot para atlet di jalur.
Aku melihat sesuatu yang membuatku tersenyum.
Valeria membungkuk.
Mengencangkan tali sepatu kiri.
Kanan.
Kemudian kiri lagi.
Javier melihatnya juga.
“Dia masih melakukan itu.”
“Ritual rupanya.”
Sepatunya kali ini baru.
Tapi kebiasaannya sama.
Pistol start berbunyi.
Kali ini Valeria tidak mengejar Aiko sejak awal.
Dia berlari lebih terkendali.
Seratus meter pertama, Aiko sedikit di depan.
Dua ratus meter, jaraknya tidak banyak berubah.
Di televisi, komentator mulai menaikkan suara.
Memasuki tikungan terakhir, Aiko mempercepat.
Valeria tidak bereaksi langsung.
Javier berkata, “Sekarang.”
Seolah Valeria bisa mendengarnya dari ribuan kilometer.
Tiga ratus meter.
Dia mulai mendekat.
Bukan ledakan.
Bukan keajaiban.
Hanya ritme yang terjaga.
Aiko masih di depan ketika mereka memasuki seratus meter terakhir.
Valeria menambah panjang langkah.
Lima puluh meter.
Mereka hampir sejajar.
Dua puluh.
Aku dan Javier sudah berdiri.
Pada sepuluh meter terakhir, pelari di jalur luar ikut mendekat sehingga tiga orang melintasi garis hampir bersamaan.
Tidak ada yang langsung tahu pemenangnya.
Javier menatap layar.
“Siapa?”
“Aku juga tidak tahu.”
Para atlet menunggu.
Papan waktu belum menampilkan urutan.
Valeria berjalan memutar dengan kedua tangan di pinggang.
Aiko menatap layar besar.
Beberapa detik terasa lama.
Kemudian hasil muncul.
Pelari dari Jamaika menang.
Valeria kedua.
Aiko ketiga.
Kami terdiam.
Lalu Javier tertawa.
“Plot twist.”
Aku ikut tertawa.
“Bagus juga.”
“Kenapa?”
“Karena dunia ternyata tidak cuma berisi mereka berdua.”
Beberapa orang mungkin menganggap itu akhir yang kurang dramatis.
Tidak ada duel terakhir yang menentukan siapa lebih hebat selamanya.
Tidak ada kemenangan sempurna.
Tidak ada satu perempuan yang berdiri sendirian di atas semuanya.
Tetapi justru itulah yang terjadi dalam olahraga sungguhan.
Ada pelari lain.
Ada hari baik.
Ada hari buruk.
Ada strategi yang tepat.
Ada strategi yang gagal.
Ada orang yang berkembang.
Ada orang yang belajar.
Dan tidak semua cerita harus berakhir dengan seseorang menghancurkan lawannya.
Setelah lomba, Valeria mendapat catatan waktu terbaik pribadinya.
Aiko juga mencatat salah satu waktu terbaik musim itu.
Wartawan kembali mengerubungi mereka.
Reporter pertama bertanya kepada Valeria, “Kecewa tidak menang?”
“Tentu.”
“Sedikit saja?”
“Tidak. Banyak.”
Semua tertawa.
Valeria juga tertawa.
“Tapi saya lari lebih cepat dari sebelumnya. Besok saya masih bisa memperbaiki banyak hal.”
Aiko ditanya tentang finis ketiga.
Dia menunjuk ke arah pemenang.
“Kenapa tidak tanya dia? Dia yang mengalahkan kami.”
Kalimat itu sederhana, tetapi banyak media mengutipnya.
Untuk sekali itu, perempuan yang menang benar-benar mendapat perhatian yang pantas.
Beberapa minggu kemudian musim kompetisi mereka berakhir.
Valeria pulang dan mengambil jeda pendek sebelum kembali berlatih.
Aiko kembali ke Jepang.
Mereka tidak menjadi sahabat yang setiap hari berkirim pesan.
Setidaknya tidak ada cerita seperti itu.
Mereka tetap rival.
Kadang saling memberi selamat.
Kadang berdiri di lintasan yang sama.
Kadang salah satu menang.
Kadang tidak.
Dan menurutku itu lebih masuk akal.
Aku sendiri tidak pernah bertemu Valeria setelah malam pertama itu.
Aku juga tidak pernah berbicara dengan Aiko.
Sebagian besar yang kutahu kemudian berasal dari lomba yang kami tonton, wawancara mereka, dan pernyataan yang mereka buat secara terbuka.
Tetapi aku masih ingat satu malam di stadion itu dengan sangat jelas.
Bukan hanya karena seorang gadis 19 tahun menyalip juara yang dianggap tidak terkejar.
Yang paling melekat justru apa yang terjadi setelahnya.
Valeria bisa saja menggunakan komentar Aiko untuk mempermalukannya.
Dia tidak melakukannya.
Aiko bisa saja mendukung banding teknis meski dirinya sendiri tidak melihat pelanggaran.
Dia tidak melakukannya.
Mereka berdua memiliki kesempatan untuk membuat cerita itu lebih buruk.
Keduanya memilih tidak mengambilnya.
Beberapa bulan setelah perlombaan pertama, Javier mengajakku menonton sesi latihan Valeria yang disiarkan singkat dalam sebuah program olahraga.
Dia sedang bersiap menjalani seri kompetisi baru.
Tidak ada stadion penuh.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada Aiko.
Hanya lintasan latihan, beberapa atlet, pelatih, dan suara sepatu menyentuh permukaan sintetis.
Valeria berjalan menuju garis start.
Dia berhenti.
Membungkuk.
Menarik tali sepatu kirinya.
Sekali.
Lalu kanan.
Kemudian kiri lagi.
Javier tersenyum.
“Masih tiga kali.”
Aku mengangguk.
Beberapa detik kemudian dia berdiri, menatap lintasan kosong di depannya, dan mulai berlari.
Menurutmu, mana yang lebih penting dalam rivalitas olahraga: kemenangan, kerendahan hati setelah kalah, atau keberanian mengakui kesalahan?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
