Kakakku Mengantar Bapak ke Apartemenku dengan Satu Tas Belanja dan Berkata, “Sekarang Giliranmu.” Baru Malam Itu Aku Tahu Kenapa Bapak Mendadak Tak Punya Tempat di Rumahnya

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 2,940 tayangan
Kakakku Mengantar Bapak ke Apartemenku dengan Satu Tas Belanja dan Berkata, “Sekarang Giliranmu.” Baru Malam Itu Aku Tahu Kenapa Bapak Mendadak Tak Punya Tempat di Rumahnya
Indeks

BAGIAN 2

Mbak Sari menaruh kantong es teh di meja kasir.

“Tari, jangan langsung berpikir macam-macam.”

“Aku belum berpikir apa-apa. Aku cuma bertanya, Bapak belum selesai apa?”

Bapak menyentuh lenganku.

“Pulang saja.”

Aku tidak bergerak.

Sari menarik napas.

“Bapak memang kadang bantu lipat.”

“Kadang?”

“Kalau sedang ramai.”

Kakakku Mengantar Bapak ke Apartemenku dengan Satu Tas Belanja dan Berkata, “Sekarang Giliranmu.” Baru Malam Itu Aku Tahu Kenapa Bapak Mendadak Tak Punya Tempat di Rumahnya

Aku melihat tumpukan undangan.

“Pegawai tadi bilang kalau Bapak tidak datang, mereka lembur.”

“Itu cuma cara ngomong.”

“Sudah berapa lama?”

Sari mulai kehilangan kesabaran.

“Memangnya salah kalau orang tua masih mau aktif?”

Bapak memotong,

“Sudah.”

Aku menoleh kepadanya.

“Pak, kenapa bohong sama aku?”

“Aku tidak bohong.”

“Bapak bilang ketemu teman.”

Bapak merapikan kardus yang bahkan tidak perlu dirapikan.

“Kalau Bapak bilang ke sini, kamu pasti ribut.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Bukan karena salah.

Karena benar.

Aku memang akan ribut.

Pertanyaannya: kenapa Bapak begitu takut aku ribut?

Dimas datang setengah jam kemudian.

Ia masuk dengan helm masih di tangan.

Begitu melihatku, ia langsung menghela napas panjang.

“Apa lagi ini?”

Aku hampir tertawa.

“Apa lagi?”

“Bapak telepon bilang kamu datang marah-marah.”

“Aku belum marah.”

“Wajahmu begitu.”

Aku menatap kakakku.

“Bapak kerja di sini?”

“Bantu.”

“Dibayar?”

Dimas meletakkan helm.

“Tari, jangan bikin semuanya seperti hubungan majikan dan pegawai. Ini usaha keluarga.”

“Usaha keluarga siapa?”

“Ya keluargalah.”

“Nama usahanya atas siapa?”

Dimas diam.

Aku melanjutkan,

“Ruko ini kamu sewa. Mesin milik kamu. Uang masuk rekening kamu. Kalau rugi, kamu bilang usahamu rugi. Kalau Bapak kerja gratis, mendadak jadi usaha keluarga?”

Sari bersedekap.

“Bapak tinggal sama kami tujuh tahun.”

Aku melihatnya.

“Dan kami bertiga mengirim uang tiap bulan.”

“Uang segitu menurutmu cukup?”

“Kalau tidak cukup, kenapa tidak pernah kasih rincian?”

Dimas menepuk meja.

“Sudahlah. Jangan hitung-hitungan sama keluarga.”

Aku merasakan sesuatu yang pahit naik ke tenggorokan.

Kalimat itulah yang paling sering dipakai keluarga kami setiap kali seseorang meminta uang.

Jangan hitung-hitungan.

Biasanya kalimat itu keluar dari orang yang tidak pernah diminta menjelaskan hitungannya.

Aku membawa Bapak pulang.

Sepanjang jalan ia diam.

Malamnya, aku tidak mengirim Rp1,6 juta.

Aku hanya menulis di grup keluarga:

Mulai bulan ini, selama Bapak tinggal bersamaku, biaya harian Bapak aku tanggung langsung. Jadi transfer bulanan ke Mas Dimas aku hentikan dulu. Kalau ada pengeluaran lama yang belum selesai, tolong kirim rinciannya.

Dimas membalas kurang dari satu menit.

Kamu pikir selama ini aku pelihara Bapak gratis?

Lila membaca.

Tidak membalas.

Aku mengetik:

Makanya kirim rincian.

Dimas keluar dari grup.

Tiga menit kemudian Lila meneleponku.

Suara adikku pelan.

“Mbak, akhirnya kamu tanya juga.”

Aku berdiri dari sofa.

“Maksudmu?”

“Aku pernah tanya dua tahun lalu.”

“Terus?”

“Mas Dimas marah. Katanya kalau tidak percaya, aku saja yang bawa Bapak ke Balikpapan.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Lila diam cukup lama.

“Karena Bapak telepon aku malam itu. Minta aku jangan memperpanjang.”

Aku menatap pintu kamar Bapak.

“Transfermu selama ini?”

“Rp800 ribu tiap bulan.”

“Selalu?”

“Kadang satu juta kalau Mas bilang obat naik.”

Aku menghitung cepat.

Dari aku Rp1,6 juta.

Dari Lila minimal Rp800 ribu.

Rp2,4 juta per bulan.

Belum pensiun Bapak.

Belum tenaga Bapak di toko.

“Lila, kamu tahu pensiun Bapak sekarang berapa?”

“Bukannya sekitar lima juta?”

“Katanya disimpan?”

“Aku juga pikir begitu.”

Malam itu Bapak duduk di meja makan sambil mengupas jeruk.

Aku duduk di depannya.

“Pak, pensiun Bapak masuk berapa sekarang?”

Pisau kecil di tangannya berhenti.

“Kenapa tanya uang terus?”

“Karena ternyata semua orang mengira hal yang berbeda.”

Ia kembali mengupas.

“Cukup.”

“Berapa yang masuk ke rekening?”

“Sekitar tiga setengah.”

Aku mengernyit.

“Kenapa tiga setengah?”

Bapak tidak menjawab.

Aku teringat nama di layar ponselnya.

Bu Nanik Kredit Pensiun.

“Bapak punya cicilan?”

Pisau itu diletakkan.

Saat itulah aku tahu jawabannya.

“Berapa?”

“Sedikit lagi.”

“Pak.”

“Setahun lebih.”

“Pinjaman untuk apa?”

Ia memijat kening.

Aku menunggu.

Akhirnya ia membuka tas kain abu-abu yang sejak datang selalu disimpan di samping lemari.

Dari dasar tas, ia mengeluarkan buku catatan kecil.

Bukan buku rekening.

Bukan dokumen rahasia.

Hanya buku bergaris dengan sampul gambar masjid yang warnanya hampir hilang.

Di dalamnya ada tanggal-tanggal.

Angka.

Nama barang.

Servis mesin potong.

Toner.

Gaji Bowo.

Listrik ruko.

Angsuran mesin cetak.

Di beberapa halaman ada tulisan:

Dari Bapak.

Aku membalik halaman lebih cepat.

Rp1 juta.

Rp750 ribu.

Rp1,5 juta.

Rp900 ribu.

Bulan demi bulan.

“Toko Dimas?”

Bapak mengangguk.

“Kenapa Bapak bayar semua ini?”

“Tidak semua.”

“Kenapa Bapak bayar?”

“Waktu pandemi, usaha mereka hampir tutup.”

“Itu empat tahun lalu.”

“Mereka belum benar-benar pulih.”

Aku menunjuk halaman.

“Pinjaman pensiun?”

Bapak menutup buku itu dengan telapak tangannya.

“Yang pertama Rp65 juta.”

Aku merasa leherku panas.

“Yang pertama?”

Bapak tidak melihatku.

“Dimas minta Bapak ambil pinjaman lagi minggu lalu.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

“Berapa?”

“Rp90 juta.”

“Untuk apa?”

“Katanya ganti mesin digital. Mesin yang sekarang sering rusak.”

“Bapak setuju?”

Ia menggeleng.

Pelan.

Dan tiba-tiba semua bagian yang tidak cocok selama dua hari terakhir mulai mendekat satu sama lain.

Telepon dari petugas kredit.

Dimas yang tidak mematikan mesin mobil.

Sari yang hanya memberi daftar obat.

Tas kecil.

Pesan supaya aku tetap transfer.

Aku menatap Bapak.

“Mas Dimas mengantar Bapak ke sini karena Bapak menolak pinjaman?”

Bapak menekan ujung buku catatannya dengan jari.

Lama sekali ia tidak menjawab.

Lalu ia berkata,

“Dia bilang kalau Bapak sudah tidak percaya pada usahanya, mungkin lebih baik Bapak tinggal dengan anak yang lebih percaya.”

Aku bersandar.

Untuk beberapa detik, suara AC menjadi satu-satunya bunyi di ruangan.

Bukan karena Bapak terlalu tua.

Bukan karena rumah mereka sedang direnovasi.

Bukan karena Dimas tidak sanggup merawatnya.

Bapak kehilangan tempat tinggal karena, setelah bertahun-tahun berkata iya, akhirnya ia mengatakan tidak.

Dan yang lebih menyakitkan, Bapak masih berusaha melindungi orang yang mengusirnya.

Kalau orang tua sendiri masih membela anak yang memanfaatkannya, batas itu harus dibuat oleh siapa?

BAGIAN 3

“Kenapa Bapak tidak bilang dari awal?”

Pertanyaanku keluar lebih keras daripada yang kumaksud.

Bapak menunduk.

Nisa sudah masuk kamar sejak tadi karena melihat wajah kami.

Ia cukup besar untuk tahu kapan orang dewasa sedang membicarakan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan ikut duduk.

“Karena bukan urusanmu,” kata Bapak.

Aku menatapnya.

“Bapak tinggal di rumahku karena Mas Dimas mengusir Bapak setelah Bapak menolak pinjaman Rp90 juta, dan Bapak bilang itu bukan urusanku?”

“Dia tidak mengusir.”

“Lalu apa namanya?”

“Dia marah.”

“Terus menyuruh Bapak pergi.”

“Bapak juga sedang emosi.”

Aku hampir memotong, tapi berhenti.

Begitulah Bapak.

Kalau seseorang menyakitinya, ia akan mencari kalimat yang membuat orang itu terdengar sedikit lebih baik.

Dulu ketika Ibu masih hidup, kalau Dimas tidak pulang dua hari karena bertengkar dengan istrinya, Bapak bilang, “Dia sedang banyak pikiran.”

Kalau Lila tidak bisa pulang Lebaran karena tiket mahal, Bapak bilang kepada tetangga, “Kerjanya tidak bisa ditinggal.”

Kalau aku bercerai, Bapak tidak pernah sekali pun menjelekkan mantan suamiku.

Ia hanya berkata, “Kadang dua orang bisa sama-sama baik tapi sudah tidak bisa satu rumah.”

Kebaikan itu membuat kami merasa aman ketika kecil.

Sekarang aku melihat sisi lainnya.

Bapak terlalu pandai memaafkan sebelum orang lain sempat bertanggung jawab.

“Pak,” kataku lebih pelan, “aku tidak mau memaksa Bapak membenci Mas Dimas. Aku cuma perlu tahu semuanya.”

“Untuk apa?”

“Supaya aku tidak ikut mempertahankan sistem yang bikin Bapak begini.”

Ia menatapku.

“Begini bagaimana?”

Aku melihat kemejanya.

Buku kecilnya.

Cara ia selalu mematikan lampu kamar mandi meski hanya keluar untuk mengambil handuk.

Cara ia membagi sepotong ayam menjadi empat.

“Takut memakai sesuatu di rumah anak sendiri.”

Wajah Bapak berubah.

Aku tahu aku mengenai bagian yang selama ini ia sembunyikan.

“Bapak tidak takut.”

“Kalau tidak takut, kenapa Bapak minta maaf kemarin karena Nisa menyalakan AC?”

“Itu beda.”

“Kenapa kalau mau ambil buah di kulkas Bapak tanya dulu?”

“Bapak cuma sopan.”

“Kenapa tadi pagi Bapak mau mengembalikan uang Rp20 ribu karena aku titip beli telur dan sisanya dipakai beli kopi sachet?”

Ia diam.

Aku menarik napas.

“Aku tidak sedang menghina Bapak. Aku mau tahu siapa yang membuat Bapak merasa setiap rupiah yang Bapak pakai adalah beban.”

Bapak memalingkan wajah ke jendela.

Di bawah, lampu jalan kompleks menyala satu per satu.

Akhirnya ia berkata,

“Tidak ada yang membuat.”

“Pak.”

“Bapak sendiri yang tahu diri.”

Kalimat itu lebih membuatku sakit daripada jika ia berkata Dimas memakinya setiap hari.

Tahu diri.

Aku pernah mendengar kalimat itu sepanjang masa kecil.

Kalau Bapak ingin membeli sepatu baru tetapi uang sekolah kami belum lunas, ia bilang harus tahu diri.

Kalau Ibu ingin berobat ke rumah sakit swasta karena antrean panjang, ia bilang harus tahu diri.

Kalau Dimas ingin kuliah tetapi keluarga tidak punya biaya, ia berhenti sekolah setahun dan bekerja.

Tahu diri.

Keluarga kami membangun terlalu banyak keputusan buruk dengan dua kata itu.

Aku membuka buku catatan Bapak lagi.

“Cerita dari awal.”

Bapak menghela napas.

“Tidak ada yang perlu diceritakan panjang.”

“Aku punya waktu.”

Ia menatap jam.

“Besok kamu kerja.”

“Kalau aku bisa begadang tiga jam mengurus laporan BPJS klinik, aku bisa begadang dengar cerita Bapak.”

Sudut mulutnya bergerak sedikit.

Lalu ia mulai.

Empat tahun lalu, saat pesanan percetakan turun tajam, Dimas punya tiga pegawai.

Ia menjual satu motor untuk membayar gaji.

Menunggak sewa ruko dua bulan.

Mesin digital utamanya rusak.

Bapak yang tinggal bersamanya melihat semuanya.

“Aku yang menawarkan pinjaman pertama,” kata Bapak.

Aku berhenti.

“Bukan Mas Dimas yang minta?”

“Awalnya tidak.”

“Lalu?”

“Dia menolak. Katanya takut cicilan memotong pensiun Bapak.”

Ini bagian pertama yang tidak sesuai dengan gambaran yang sudah telanjur terbentuk di kepalaku.

Bapak melanjutkan.

“Bapak bilang, daripada tokonya tutup. Dia punya pegawai. Ada keluarga mereka juga.”

Pinjaman itu Rp65 juta.

Sebagian dipakai memperbaiki mesin.

Sebagian menutup tunggakan sewa dan bahan.

Dimas berjanji membayar cicilannya kepada Bapak setiap bulan.

Enam bulan pertama, ia memang membayar.

Kemudian pesanan kembali turun.

Pembayaran berhenti.

“Bapak diam?”

“Dia lagi susah.”

“Setahun?”

“Ya.”

“Dua tahun?”

Bapak tidak menjawab.

Aku membuka halaman buku.

“Ini tiga tahun.”

Ia menatap tangannya.

“Lama-lama Bapak pikir, toh Bapak tinggal di sana.”

Aku akhirnya memahami satu lapisan yang lebih buruk.

Bukan penipuan sekali.

Bukan pencurian yang mudah ditunjuk.

Semuanya terjadi melalui ribuan kompromi kecil yang masing-masing terlihat masuk akal ketika berdiri sendiri.

Cicilan berhenti dibayar karena toko sepi.

Bapak ikut membayar listrik karena tinggal di sana.

Bapak membantu melipat karena pegawai kewalahan.

Bapak memakai sebagian pensiun untuk toner karena pesanan besar harus selesai.

Aku dan Lila mengirim uang karena mengira kami sedang membantu biaya hidup Bapak.

Uang itu membuat pengeluaran rumah tangga Dimas sedikit lebih ringan.

Selisihnya membuat toko bisa terus bernapas.

Tidak ada satu hari ketika seseorang berdiri dan berkata, “Mulai sekarang hidup Bapak milik usaha ini.”

Sistem itu tumbuh sedikit demi sedikit.

Dan setiap kali seharusnya ada yang berkata cukup, Bapak memilih diam.

Aku juga.

Lila juga.

“Kenapa pinjaman kedua?”

“Mesin digital sudah sering rusak. Kata Dimas, kalau beli yang lebih baru, order bisa naik.”

“Dengan utang Bapak?”

“Karena bank lebih mudah memberi pinjaman pensiun.”

“Bapak hampir tujuh puluh empat.”

“Masih bisa sampai batas tertentu.”

Aku menggeleng.

“Apa Bapak mau?”

“Tidak.”

“Kenapa baru sekarang tidak?”

Bapak mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya malam itu aku melihat sesuatu yang bukan rasa malu.

Takut.

“Dokter bilang mata kanan Bapak kemungkinan perlu operasi katarak.”

Aku langsung duduk lebih tegak.

“Kapan?”

“Bulan lalu.”

“Kenapa aku tidak tahu?”

“Belum parah.”

“Bapak kontrol di mana?”

“Puskesmas dulu.”

Aku bekerja di klinik mata.

Dua belas tahun.

Dan ayahku sendiri menyembunyikan masalah matanya.

“Pak…”

“Bapak tahu kamu akan repot.”

Aku menutup mata sebentar.

“Jadi Bapak menolak pinjaman karena takut sisa pensiun tidak cukup?”

“Bukan cuma itu.”

Ia mengusap wajah.

“Bapak capek.”

Dua kata.

Kecil sekali.

Aku menunggu.

“Dulu melipat dua ratus undangan tidak masalah. Sekarang lima puluh saja jari kaku.”

Ia mengangkat tangan.

“Kadang jam sebelas malam masih ada pesanan yang harus dikemas. Kalau Bapak masuk kamar lebih dulu, Sari tidak pernah melarang. Tapi besok paginya kelihatan dari mukanya kalau pekerjaan belum selesai.”

“Dia ngomel?”

“Tidak selalu.”

“Apa katanya?”

Bapak tertawa kecil, pahit.

“Tidak perlu ngomel kalau orang sudah tahu dirinya bikin repot.”

Aku menelan sesuatu di tenggorokan.

“Contohnya?”

“Ya… ‘Bapak istirahat saja, biar kami yang kerja sampai malam.’”

Sekilas kalimat itu terdengar baik.

Tapi aku mendengar nadanya di kepalaku.

Bapak melanjutkan,

“Atau kalau Bapak mau tambah lauk, Sari suka bilang, ‘Ayamnya sisakan untuk anak-anak ya, Pak, besok belum tentu sempat masak.’”

“Terus Bapak tidak ambil.”

“Ya kalau memang buat anak-anak.”

“Atau memang dibuat supaya Bapak tidak ambil?”

Ia tidak menjawab.

Aku berdiri dan mengambil air.

Tanganku butuh kegiatan agar aku tidak menelepon Dimas malam itu juga.

Ketika kembali, aku bertanya,

“Kenapa Bapak begitu membela Mas Dimas?”

Bapak menatap buku kecilnya.

“Itu bukan soal membela.”

“Lalu?”

Ia mengusap sampul buku dengan ibu jari.

“Waktu kamu kuliah, siapa yang bayar kosmu saat Bapak belum gajian?”

Aku terdiam.

“Mas Dimas.”

“Waktu Ibumu operasi, siapa yang jual motor?”

“Mas.”

“Waktu Lila masuk kerja pertama kali dan butuh biaya ke Balikpapan?”

Aku tahu jawabannya.

Dimas.

“Dia anak sulung,” kata Bapak. “Banyak bagian hidupnya habis buat kita.”

Aku duduk lagi.

“Jadi Bapak merasa berutang.”

“Bukan cuma Bapak.”

Kalimat itu menamparku tanpa suara.

Aku tahu apa yang ia maksud.

Aku juga merasa berutang.

Itulah sebabnya selama bertahun-tahun aku mentransfer uang tanpa bertanya.

Dimas tidak pernah menulis tagihan masa lalu.

Tidak perlu.

Kami semua sudah menyimpannya sendiri.

“Pak,” kataku, “orang membantu keluarga dua puluh tahun lalu tidak berarti dia boleh menagih hidup seluruh keluarga selamanya.”

Bapak mengernyit.

“Kamu jangan bicara seolah kakakmu jahat.”

“Aku tidak bilang dia jahat.”

Aku menunjuk buku.

“Aku bilang ini sudah tidak sehat.”


Keesokan paginya aku mengambil cuti setengah hari.

Bukan untuk mencari pengacara.

Bukan untuk membuat laporan.

Aku mengajak Bapak ke bank tempat pensiunnya masuk.

Aku hanya ingin memastikan satu hal sederhana: berapa cicilan yang masih berjalan dan apakah ada pengajuan baru yang sudah diproses.

Karena aku tahu kalau aku datang tanpa fakta, Dimas akan membuat percakapan berubah menjadi soal perasaan.

Di bank, petugas menjelaskan bahwa pinjaman lama masih berjalan sekitar empat belas bulan.

Potongannya sedikit di atas Rp1,3 juta per bulan.

Tidak ada pinjaman baru aktif.

Ada proses penawaran, tetapi belum ada akad apa pun.

Aku baru bernapas lebih lega setelah mendengar itu.

“Kalau ada yang telepon lagi soal pinjaman baru,” kataku di luar bank, “Bapak jawab tidak.”

Bapak mendengus.

“Memangnya Bapak anak kecil?”

“Tidak. Tapi Bapak anak sulungnya rasa bersalah.”

Ia melirikku.

Aku tertawa kecil.

Akhirnya Bapak ikut tersenyum.

Itu pertama kalinya sejak datang ke rumahku wajahnya terlihat ringan.

Siang hari, aku menelepon Lila.

Kami bertiga bicara melalui video call.

Aku menjelaskan apa yang kutahu.

Lila menangis.

Bukan tangisan keras.

Ia menutup mulut sambil berkali-kali berkata,

“Aku kira uangku benar-benar buat Bapak.”

Bapak langsung berkata,

“Ya memang buat Bapak juga.”

Aku memotong,

“Pak, jangan dilunakkan.”

Lila mengusap matanya.

“Mbak, aku pernah transfer tambahan Rp6 juta dua tahun lalu.”

Aku menatap layar.

“Untuk apa?”

“Mas Dimas bilang Bapak harus ganti gigi palsu.”

Aku menoleh pada Bapak.

Ia masih memakai gigi palsu yang sama sejak sebelum Ibu meninggal.

Lila melihat ekspresiku.

“Mbak?”

“Bapak tidak pernah ganti.”

Wajah Lila berubah.

Bapak langsung berkata,

“Mungkin uangnya kepakai buat lain.”

Aku hampir membenturkan kepala ke meja.

“Pak.”

“Apa?”

“Untuk lima menit saja, bisa tidak Bapak berhenti menjadi humas Mas Dimas?”

Nisa yang sedang makan biskuit di ruang tengah tertawa sebelum buru-buru menutup mulut.

Bahkan Bapak akhirnya menyerah dan tersenyum malu.

Tapi uang Rp6 juta itu mengubah sesuatu.

Bukan karena jumlahnya besar.

Karena Dimas menggunakan nama kebutuhan Bapak untuk meminta uang yang ternyata tidak pernah digunakan untuk kebutuhan itu.

Itu bukan lagi sekadar keluarga saling bantu tanpa pembukuan.

Itu kebohongan.

Aku mengirim pesan ke Dimas.

Besok malam setelah toko tutup, aku datang sama Bapak. Lila ikut video call. Kita bicara soal biaya Bapak, pinjaman lama, dan uang yang kami kirim. Tidak di grup. Tidak pakai sindiran. Kita hitung yang bisa dihitung.

Ia membalas:

Kamu mau audit kakak sendiri?

Aku mengetik:

Tidak. Aku mau menghentikan semua orang memakai kata “keluarga” supaya tidak perlu menjelaskan apa-apa.

Ia tidak membalas lagi.


Besok malam pukul delapan lewat, pintu rolling Sinar Baru Printing ditutup.

Dua pegawai sudah pulang.

Hanya ada aku, Bapak, Dimas, dan Sari.

Lila ada di layar tablet yang kutaruh di meja kasir.

Aku sengaja tidak membawa Nisa.

Ini bukan tontonan.

Dimas berdiri sambil bersandar ke mesin fotokopi.

“Ayo. Mau mulai dari mana?”

Nada suaranya sudah defensif.

Aku meletakkan buku catatan Bapak di meja.

“Dari sini.”

Wajah Dimas berubah sedikit.

“Kamu ambil catatan Bapak?”

“Bapak kasih.”

Dimas menatap ayah kami.

“Pak?”

Bapak tidak menjawab.

Aku berkata,

“Aku tidak mau membahas setiap rupiah dari tujuh tahun terakhir. Tidak mungkin. Aku juga tidak mau berpura-pura semuanya bisa dibuat bersih dengan satu malam.”

“Bagus.”

“Tapi mulai sekarang harus berubah.”

Dimas tertawa pendek.

“Nah. Jadi memang kamu datang untuk mengatur.”

“Bukan. Aku datang karena selama ini aku ikut membiarkan.”

Ia mengangkat alis.

Aku menatap langsung.

“Aku kirim Rp1,6 juta setiap bulan tanpa pernah tanya. Lila kirim Rp800 ribu. Kadang lebih. Bapak masih memberikan uang pensiunnya ke rumahmu. Bapak bekerja di toko. Pinjaman pensiun Rp65 juta dipakai menyelamatkan usahamu. Sekarang kamu minta Bapak ambil Rp90 juta lagi.”

“Aku tidak memaksa.”

Bapak bergerak kecil di kursi.

Aku melihatnya.

Dimas langsung berkata,

“Aku cuma menawarkan.”

“Terus ketika Bapak menolak?”

“Aku marah. Salah?”

“Lalu kamu antar dia ke rumahku.”

“Karena dia bilang sudah tidak betah!”

Bapak mengangkat kepala.

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

Dimas terdiam.

Sari menatap suaminya.

“Mas…”

“Apa?”

“Jangan diputar.”

Dimas menoleh tajam.

Aku tidak menyangka kalimat itu datang dari Sari.

Ia duduk.

“Bapak memang tidak bilang tidak betah.”

Dimas menatapnya beberapa detik.

Sari melanjutkan,

“Kamu yang bilang kalau Bapak sudah curiga terus, lebih baik tinggal di Tari.”

“Aku lagi marah.”

“Ya.”

“Aku benar-benar mau mengantar balik malam itu juga.”

“Tapi tidak kamu lakukan,” kataku.

Dimas menunjukku.

“Kamu enak bicara. Kamu tidak pernah tinggal satu rumah dengan orang tua tujuh tahun.”

Aku diam.

Ia melanjutkan dengan suara meninggi,

“Kalau Bapak demam siapa yang bangun? Aku. Kalau tekanan darah naik siapa yang antar? Aku. Kalau ada rapat RT dan Bapak tidak bisa datang, siapa yang urus? Aku. Waktu Covid siapa yang takut setengah mati kalau pegawai bawa virus masuk rumah?”

Aku tidak memotong.

Karena itu semua mungkin benar.

“Setiap orang cuma tahu kirim uang,” katanya. “Terus merasa sudah jadi anak baik.”

Lila di layar berkata,

“Aku tidak pernah bilang begitu, Mas.”

“Kamu jauh.”

“Karena pekerjaanku di sana.”

“Ya. Semua punya alasan.”

Aku melihat sesuatu yang selama ini tidak ingin kuakui.

Dimas marah bukan hanya karena ketahuan.

Ia benar-benar merasa ditinggalkan.

Bertahun-tahun menjadi anak yang dianggap paling bisa diandalkan telah berubah menjadi hak untuk mengatur.

Dan ketika kami membantu dengan uang, mungkin itu justru membuatnya semakin yakin seluruh beban berada di pundaknya.

Aku berkata,

“Mas, aku tidak menyangkal kamu paling banyak merawat Bapak.”

Ia terdiam.

“Tapi merawat seseorang tidak membuat semua keputusanmu otomatis benar.”

Wajahnya keras lagi.

“Jadi sekarang aku penjahat?”

“Kenapa setiap kali aku minta penjelasan, pilihannya harus antara pahlawan atau penjahat?”

Tidak ada yang bicara.

Aku melanjutkan,

“Aku tahu dulu Mas bantu aku kuliah.”

Dimas memandangku.

“Aku ingat.”

“Kalau tidak ada Mas, mungkin aku putus semester empat.”

Wajahnya sedikit turun.

“Aku juga tahu Mas jual motor waktu Ibu operasi.”

Sari mengusap jari.

“Dan mungkin karena itu selama ini aku takut bertanya. Aku merasa kalau tanya soal uang, artinya aku tidak tahu terima kasih.”

Dimas menelan ludah.

“Tapi Mas, rasa terima kasih bukan cek kosong.”

Ia memalingkan wajah.

Aku membuka halaman yang ditandai.

“Dua tahun lalu Lila kirim Rp6 juta karena Mas bilang gigi palsu Bapak harus diganti.”

Dimas tidak langsung menjawab.

Aku menunggu.

Sari menutup mata.

Itu cukup.

“Untuk apa uangnya?”

Dimas mengambil napas.

“Waktu itu supplier kertas mau menghentikan barang.”

“Jadi kamu bohong.”

“Aku berniat ganti bulan depannya.”

“Diganti?”

Dimas diam.

Lila berkata dari layar,

“Mas, kalau waktu itu kamu bilang toko butuh enam juta, aku mungkin tetap bantu.”

Dimas menatap tablet.

“Belum tentu.”

“Mas tidak pernah memberi aku kesempatan memilih.”

Kalimat Lila membuat ruangan mendadak berbeda.

Itulah inti masalahnya.

Bukan sekadar berapa banyak uang yang keluar.

Kami tidak diberi kesempatan memilih.

Bapak tidak diberi kesempatan istirahat tanpa merasa bersalah.

Aku dan Lila tidak diberi kesempatan menentukan bantuan kami digunakan untuk apa.

Dimas mengambil keputusan atas nama semua orang karena ia merasa paling tahu apa yang dibutuhkan keluarga.

Sari akhirnya bicara.

“Waktu itu aku juga bilang jangan pakai alasan gigi Bapak.”

Dimas menoleh.

“Kamu setuju uangnya dipakai.”

“Aku setuju karena kita butuh. Bukan berarti caranya benar.”

“Sekarang semua lempar ke aku?”

“Tidak.”

Sari menggeleng.

“Aku juga salah.”

Ia menatap Bapak.

“Pak… soal kerja di belakang…”

Bapak langsung berkata,

“Sudah.”

Sari berhenti.

Aku berkata,

“Biarkan Mbak Sari bicara.”

Bapak menatapku kesal.

“Ini bukan sidang.”

“Bukan. Justru selama ini tidak pernah ada pembicaraan.”

Sari memegang ujung meja.

“Awalnya Bapak cuma bantu kalau ramai.”

Ia menarik napas.

“Lama-lama kami terbiasa.”

Bapak melihat ke lantai.

Sari meneruskan,

“Kalau pegawai tidak masuk, aku pikir, ya sudah, Bapak bisa bantu. Kalau pesanan malam banyak, aku pikir Bapak toh masih bangun. Aku… tidak sadar kapan itu berubah jadi kewajiban.”

“Tidak sadar?” tanyaku.

Ia menerima tatapanku.

“Mungkin aku sadar. Tapi tidak mau mengaku.”

Dimas mengembuskan napas keras.

Sari menoleh kepadanya.

“Kita sedang susah, Mas.”

“Aku tahu.”

“Aku takut toko tutup.”

“Aku tahu!”

“Aku takut kalau pegawai kita pecat, orang bilang usaha kita habis.”

Dimas menatapnya.

Untuk pertama kalinya aku melihat rasa malu di balik kemarahan mereka.

Bukan hanya soal uang.

Gengsi.

Sinar Baru Printing sudah buka hampir lima belas tahun.

Dimas dikenal keluarga besar sebagai anak yang “paling berhasil”.

Setiap Lebaran, orang bertanya berapa pegawainya.

Berapa cabang.

Berapa mesin.

Ia lebih rela menguras pensiun Bapak daripada mengakui usahanya harus mengecil.

Aku berkata,

“Mas, mesin baru Rp90 juta tidak akan menyelesaikan masalah kalau yang sebenarnya kamu takutkan adalah mengurangi ukuran usaha.”

Dimas tertawa hambar.

“Kamu kerja gajian. Kamu tidak tahu rasanya punya usaha.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak tahu.”

Jawabanku membuatnya kehilangan kalimat berikutnya.

“Tapi aku tahu satu hal. Usaha yang hanya bisa bertahan kalau seorang laki-laki tujuh puluh tiga tahun harus berutang dan melipat undangan sampai malam, itu sudah tidak sehat.”

Bapak tiba-tiba berkata,

“Tujuh puluh empat bulan depan.”

Aku menoleh.

“Pak, bukan itu poinnya.”

Lila tertawa kecil dari layar.

Tegangnya ruangan pecah sesaat.

Lalu Dimas duduk.

Akhirnya.

Seperti orang yang sudah terlalu lama berdiri menjaga sesuatu yang sebenarnya sudah retak.

“Aku harus bagaimana?” tanyanya.

Tidak ada kesombongan dalam nada itu.

Hanya lelah.

Aku tidak langsung menjawab.

Karena aku tidak ingin menggantikan kontrol Dimas dengan kontrolku sendiri.

Aku melihat Bapak.

“Bapak dulu.”

Ia mengerutkan kening.

“Apa?”

“Bapak maunya apa?”

“Tidak usah macam-macam.”

“Itu bukan jawaban.”

Ia menatap kami satu per satu.

Aku.

Dimas.

Sari.

Lila di layar.

Lalu matanya berhenti pada buku kecil.

“Aku tidak mau pinjaman lagi.”

Dimas mengangguk pelan.

“Ya.”

“Aku juga tidak mau kerja rutin di sini.”

Dimas mengangkat wajah.

Bapak melanjutkan sebelum ia sempat bicara.

“Kalau sesekali mau bantu, aku bantu. Kalau aku ingin. Bukan karena orang menunggu.”

Sari menunduk.

“Ya, Pak.”

Bapak meremas lututnya.

“Dan jangan bawa-bawa namaku kalau minta uang ke adik-adikmu.”

Dimas membuka mulut.

Menutup lagi.

“Ya.”

Aku merasa dada seperti dilonggarkan sedikit.

Bapak belum selesai.

“Pinjaman yang lama…”

Ia berhenti.

Aku menyangka ia akan membebaskan Dimas.

Aku hampir memotong.

Tapi Bapak menatap anak sulungnya.

“Kamu dulu bilang mau mengganti cicilannya.”

Dimas menelan ludah.

“Ya.”

“Empat belas bulan lagi.”

“Ya.”

“Bayar semampumu tiap bulan. Jangan janji besar.”

Aku menatap Bapak.

Kalimat itu sederhana.

Tapi baginya, itu mungkin salah satu kalimat tersulit yang pernah ia ucapkan.

Dimas mengangguk.

“Kalau cuma satu juta dulu?”

Bapak berpikir.

“Mulai bulan depan.”

“Ya.”

Aku ikut bicara.

“Aku dan Lila berhenti transfer ke Mas untuk biaya Bapak.”

Dimas memandangku.

“Semua?”

“Semua.”

“Kalau nanti Bapak tinggal lagi di sini?”

Bapak menjawab sendiri.

“Aku tidak akan tinggal lagi di sini.”

Ruangan hening.

Dimas tampak seperti baru benar-benar memahami konsekuensinya.

“Pak…”

“Aku sayang kamu.”

Suara Bapak tenang.

“Tapi aku tidak nyaman lagi tinggal di rumahmu.”

Sari menutup mulut.

Dimas menunduk.

Bapak melanjutkan,

“Mungkin itu juga salahku. Aku terlalu lama bilang tidak apa-apa.”

Aku merasakan tenggorokanku mengencang.

“Kalau lauk sedikit, aku bilang tidak lapar. Kalau toko ramai, aku bilang belum ngantuk. Kalau uang pensiun dipakai, aku bilang toh aku tidak butuh apa-apa.”

Ia menatap Dimas.

“Lama-lama kalian percaya.”

Dimas mengusap wajah dengan kedua tangan.

Bapak tersenyum tipis.

“Padahal kadang aku juga ingin beli martabak tanpa menghitung siapa yang belum makan.”

Tidak ada yang tertawa.

Justru kalimat itulah yang membuat Sari menangis.

Bukan terisak.

Air mata jatuh begitu saja ketika ia menatap meja.

“Aku minta maaf, Pak.”

Bapak tidak langsung menjawab.

Ia tidak berkata “tidak apa-apa”.

Aku bersyukur.

Akhirnya, setelah beberapa detik, ia berkata,

“Aku dengar.”

Hanya itu.

Bukan pengampunan instan.

Bukan penolakan.

Sebuah permintaan maaf diletakkan di meja.

Bapak belum memutuskan akan diapakan.


Toko tidak berubah dalam semalam.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada investor datang.

Tidak ada pesanan besar tiba-tiba menyelamatkan semuanya.

Dimas tetap punya utang supplier.

Mesin digitalnya tetap bermasalah.

Dua minggu setelah pertemuan itu, ia mengambil keputusan yang selama ini paling ia hindari.

Ia mengembalikan satu mesin finishing yang selama beberapa bulan lebih banyak diam daripada menghasilkan uang.

Sewa ruko sebelah tidak diperpanjang.

Sinar Baru Printing kembali menjadi satu pintu seperti sembilan tahun lalu.

Satu pegawai memilih pindah ke percetakan lain.

Dimas malu.

Aku tahu karena selama tiga minggu ia tidak datang ke acara keluarga mana pun.

Ketika Pakde Roni bertanya di grup kenapa papan ruko sebelah dilepas, Dimas hanya menjawab:

Lagi dirapikan usahanya. Biar sehat.

Tidak ada cerita panjang.

Tidak ada alasan palsu.

Anehnya, dunia tidak runtuh.

Orang-orang mengirim emoji jempol.

Besoknya mereka membicarakan hal lain.

Kadang kita menghabiskan bertahun-tahun menjaga gengsi yang ternyata hanya hidup di kepala sendiri.

Bulan berikutnya, Dimas mentransfer Rp1 juta ke rekening Bapak.

Keterangan transfernya hanya:

Cicilan bulan 1.

Bapak menunjukkan kepadaku.

“Masuk.”

Aku melihat.

“Bagus.”

Ia menyimpan ponsel.

Tidak ada senyum kemenangan.

Aku juga tidak merasa menang.

Kami semua terlambat bertahun-tahun untuk melakukan sesuatu yang seharusnya sederhana.

Tiga bulan kemudian, jumlahnya masih sama.

Rp1 juta.

Lalu Rp800 ribu pada bulan keempat karena pesanan sedang sepi.

Dimas menelepon Bapak lebih dulu.

“Pak, bulan ini kurang dua ratus. Bulan depan aku tambah kalau bisa.”

Bapak menjawab,

“Ya.”

Setelah telepon ditutup, ia tidak mengeluh.

Tapi aku melihat sesuatu di wajahnya.

Bukan uangnya.

Perbedaannya adalah Dimas sekarang meminta.

Bukan mengambil keputusan lalu berharap semua orang memaklumi.


Aku dan Lila juga berubah.

Kami tidak berhenti membantu Bapak.

Kami berhenti menggunakan uang sebagai cara tercepat menghilangkan rasa bersalah.

Lila menelepon setiap Minggu pagi.

Kadang cuma sepuluh menit.

Kadang satu jam kalau Bapak sedang ingin bercerita soal tetangga lamanya.

Aku mengurus kontrol matanya.

Karena aku bekerja di klinik mata, aku bisa membantu memahami jadwal dan pilihan layanan, tapi aku tidak berpura-pura bisa mempercepat semua proses.

Bapak tetap mengikuti jalur yang sesuai.

Beberapa bulan kemudian, operasi katarak mata kanannya dilakukan.

Malam sebelum tindakan, ia lebih takut pada biaya parkir daripada operasinya.

“Besok parkir berapa jam?”

“Pak.”

“Apa?”

“Kalau Bapak tanya biaya parkir sekali lagi, aku suruh Nisa yang jaga.”

Ia langsung diam.

Nisa tertawa.

Setelah operasinya pulih, Bapak mulai lebih sering berjalan pagi.

Ia mengenal penjaga minimarket.

Mengenal tukang bubur.

Mengenal seorang pensiunan guru bernama Pak Yanto yang tinggal dua blok dari apartemen.

Kadang mereka bermain catur di pos keamanan.

Yang paling sulit justru membuatnya menerima bahwa ia boleh tinggal bersamaku tanpa “membayar”.

Pada bulan kedua, ia menyelipkan Rp700 ribu di bawah tempat gula.

Aku menemukannya.

“Ini apa?”

“Uang belanja.”

Aku mengembalikan ke kamarnya.

Besoknya uang itu kembali ke dapur.

Aku mengembalikan lagi.

Hari ketiga, uang itu muncul di dalam dompetku.

Aku menyerah.

Kami duduk bernegosiasi seperti dua pedagang pasar.

Akhirnya sepakat Bapak boleh ikut Rp400 ribu untuk belanja rumah tiap bulan jika memang ia mau.

Tidak lebih.

“Listrik?”

“Tidak.”

“Air?”

“Tidak.”

“Gas?”

“Termasuk belanja.”

“Internet?”

“Bapak pakai WhatsApp cuma buat kirim gambar selamat pagi. Tidak ada tagihan internet khusus.”

Ia tersinggung.

“Kadang YouTube.”

“Ya sudah. YouTube gratis untuk Bapak.”

Begitulah boundary baru kami.

Bukan berarti Bapak menjadi orang yang berbeda.

Ia masih mematikan lampu.

Masih menyimpan kantong plastik.

Masih mengambil nasi terlalu sedikit.

Tapi sekarang ketika Nisa menaruh ayam di piringnya, kadang ia tidak mengembalikan.

Itu kemajuan.


Hubunganku dengan Dimas tidak kembali seperti semula.

Aku juga tidak mengharapkannya.

Selama beberapa bulan kami hanya bicara seperlunya.

Kalau ada urusan Bapak, kami bicara.

Kalau ada acara keluarga, kami saling menyapa.

Tidak ada perang.

Tidak ada keakraban palsu.

Pada ulang tahun Bapak yang ke-74, Dimas datang membawa martabak telur dan satu kotak kecil.

Bapak membuka kotaknya.

Sandal kulit.

Bukan barang mahal.

Bukan hadiah dramatis.

Dimas berkata,

“Yang lama sudah miring.”

Bapak melihat sandal rumahnya yang memang hampir habis bagian tumit.

“Masih bisa.”

Dimas tertawa kecil.

“Ya, kalau tunggu Bapak bilang tidak bisa, kita beli saat telapak kaki sudah menyentuh aspal.”

Aku tidak ikut campur.

Bapak memakai sandal baru itu.

Sedikit kebesaran.

Dimas jongkok dan mengencangkan talinya.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada musik.

Tidak ada pidato permintaan maaf.

Setelah makan, mereka duduk di balkon membicarakan harga kertas.

Itu cukup.

Sari tidak ikut karena katanya ada pesanan yang harus dikirim.

Tapi ia mengirim satu wadah semur jengkol kesukaan Bapak.

Di tutupnya ada kertas kecil:

Pak, tidak perlu disisakan buat siapa-siapa.

Aku membaca.

Lalu meletakkannya kembali tanpa komentar.

Bapak membaca beberapa menit kemudian.

Ia juga tidak berkata apa-apa.

Tapi malam itu wadahnya kosong.


Enam bulan setelah hari ketika Dimas menurunkan Bapak di apartemenku, aku pulang kerja dan melihat tas belanja kain abu-abu itu tergantung di dekat pintu.

Aku sempat berhenti.

Tas yang sama.

Tas yang dulu membawa hampir seluruh barang yang Bapak pilih saat merasa harus pergi dari rumah anaknya sendiri.

Sekarang tas itu menggembung.

Aku membuka.

Ada bayam.

Tomat.

Cabai.

Dua buah pir.

Dan sebungkus martabak mini yang minyaknya sudah membuat sudut kain sedikit basah.

“Pak!” panggilku.

Bapak menjawab dari balkon,

“Apa?”

“Kenapa belanja banyak?”

“Diskon sore.”

“Pirnya dua?”

“Satu buat Nisa.”

“Satunya?”

“Ya buat Bapak.”

Aku tersenyum.

Enam bulan lalu, Bapak akan membeli satu buah lalu membaginya tiga.

Aku menaruh tas itu kembali di gantungan.

Untuk pertama kalinya, benda itu tidak terlihat seperti koper seseorang yang tidak punya rumah.

Hanya tas belanja milik seorang lelaki tua yang pulang membawa makanan ke rumah tempat ia tidak perlu meminta izin untuk merasa cukup.

Terima kasih sudah mengikuti kisah Tari dan Pak Harun sampai akhir. Menurut kalian, bagian tersulit dalam keluarga seperti ini apa: mengatakan “tidak”, berhenti merasa berutang, atau menerima bahwa orang yang kita sayangi tetap harus bertanggung jawab atas pilihannya? Semoga keluarga kita diberi kesehatan, rezeki yang cukup, dan keberanian untuk saling menjaga tanpa saling menghabiskan.