“KAMU CUMA BUKAN SIAPA-SIAPA!” DIA MENGEJEKNYA—SAMPAI BOS MAFIA ITU MENCIUM TANGANNYA DI DEPAN SEMUA ORANG

Avatar penulis
Cerita 04
27 menit baca 74 tayangan
“KAMU CUMA BUKAN SIAPA-SIAPA!” DIA MENGEJEKNYA—SAMPAI BOS MAFIA ITU MENCIUM TANGANNYA DI DEPAN SEMUA ORANG
Indeks

“KAMU CUMA BUKAN SIAPA-SIAPA!” DIA MENGEJEKNYA—SAMPAI BOS MAFIA ITU MENCIUM TANGANNYA DI DEPAN SEMUA ORANG

Telapak kaki Nadira Prameswari terasa seperti akan pecah.

Ia memindahkan tumpuan tubuh dari kaki kiri ke kaki kanan sambil bersandar sebentar pada panel kayu gelap di dinding ballroom.

Seragam yang diberikan oleh perusahaan katering tempatnya bekerja terasa seperti siksaan.

“KAMU CUMA BUKAN SIAPA-SIAPA!” DIA MENGEJEKNYA—SAMPAI BOS MAFIA ITU MENCIUM TANGANNYA DI DEPAN SEMUA ORANG

Kemeja putih berbahan poliester itu kaku dan panas. Kerahnya terus menggesek leher, sementara kainnya masih menyisakan aroma samar pemutih pakaian bercampur keringat dari entah siapa yang pernah memakainya sebelumnya.

Nadira tidak peduli.

Malam itu bayarannya dua kali lipat karena ia mengambil shift tambahan di akhir pekan.

Uang itu cukup untuk membayar sebagian besar kontrakan kecilnya di Tebet sekaligus memastikan ia masih bisa membeli kebutuhan dapur sampai akhir bulan.

Di hadapannya, ballroom megah Hotel Arunika Jakarta dipenuhi suara percakapan para tamu kelas atas.

Para pengusaha berdiri dalam kelompok-kelompok kecil mengenakan jas mahal yang mungkin harganya lebih besar daripada penghasilan Nadira selama berbulan-bulan.

Beberapa memegang gelas kristal berisi minuman mahal.

Para perempuan mengenakan gaun rancangan desainer, tas bermerek, serta perhiasan yang berkilauan di bawah tiga lampu kristal besar di langit-langit.

Semuanya tampak sempurna.

Mewah.

Dan dingin.

Bagi orang-orang seperti mereka, Nadira bukanlah seseorang yang perlu diperhatikan.

Ia hanya pelayan.

Seseorang yang membawa nampan.

Seseorang yang keberadaannya hanya disadari ketika gelas mereka kosong.

Nadira justru menyukainya.

Menjadi tidak terlihat terasa lebih aman.

Tak ada yang bertanya tentang kehidupannya.

Tak ada yang memperhatikan lingkaran hitam di bawah matanya atau telapak tangannya yang kasar karena terlalu banyak bekerja.

“Jangan diam saja, Nadira.”

Suara seorang pria terdengar tajam dari sampingnya.

Itu Dimas, supervisor acara malam itu.

Tubuhnya kurus, jas hitamnya sedikit terlalu sempit, dan dahinya sudah penuh keringat meski pendingin ruangan ballroom terasa menusuk kulit.

Dimas terlihat seperti orang yang akan terkena serangan jantung jika salah satu tamu menemukan satu noda kecil di taplak meja.

“Nampannya terus dibawa berkeliling,” desisnya.

“Iya, Mas.”

Nadira menjauh dari dinding.

Lututnya terasa nyeri saat ia mulai berjalan.

Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia menyelinap melewati para tamu.

Ia tahu kapan harus berhenti.

Kapan harus memutar tubuh.

Kapan harus menghindari tangan seseorang yang sedang terlalu bersemangat menceritakan liburannya ke Eropa.

Ia seperti bayangan di tengah pesta yang tidak pernah mengundangnya.

Lalu ia mendengar tawa itu.

Tawa bernada tinggi.

Tajam.

Dibuat-buat.

Langkah Nadira melambat.

Perutnya seperti diremas.

Sudah hampir enam tahun ia tidak mendengar suara itu.

Namun tubuhnya mengenalinya bahkan sebelum pikirannya sempat mengingat siapa pemiliknya.

Perlahan Nadira melirik melewati nampan perak di tangannya.

Di dekat dekorasi bunga putih besar berdiri seorang perempuan.

Vanessa Halim.

Nadira langsung mengenalinya.

Vanessa hampir tidak berubah.

Kalau pun ada, ia hanya terlihat semakin mahal.

Rambut hitam kecokelatannya ditata sempurna. Seragam SMA yang dulu selalu ia modifikasi agar terlihat berbeda dari siswi lain kini telah berganti menjadi gaun merah panjang yang membentuk tubuhnya.

Di sampingnya berdiri seorang pria jauh lebih tua bernama Hartono Wijaya, seorang pengusaha yang wajahnya cukup sering muncul di majalah bisnis.

Vanessa menggandeng lengannya dengan mesra.

Enam tahun lalu, Vanessa adalah alasan Nadira membenci datang ke sekolah.

Nadira masuk ke SMA swasta itu lewat beasiswa.

Sepatunya murah.

Tasnya dibeli dari pasar.

Buku-bukunya sebagian besar bekas.

Sementara Vanessa adalah anak dari keluarga kaya yang selalu datang dengan mobil baru dan uang saku yang bagi Nadira terasa seperti kekayaan.

Vanessa tidak sekadar mengejek Nadira.

Ia membuat orang lain ikut menjauhinya.

Menyembunyikan sepatunya.

Menertawakan bekalnya.

Menyebarkan cerita bohong.

Dan memastikan Nadira menghabiskan sebagian besar masa SMA dengan makan sendirian.

Terus jalan.

Nadira berkata dalam hati.

Belok di dekat pilar.

Masuk dapur.

Jangan lihat lagi.

Ia berbalik.

Pintu ganda menuju dapur hanya beberapa meter lagi.

Sepuluh langkah.

Tujuh.

Lima.

Lalu suara itu terdengar.

“Wah, wah…”

Nadira berhenti.

“Lihat siapa yang ada di sini.”

Suara Vanessa cukup keras hingga beberapa orang di sekitarnya menoleh.

“Si anak beasiswa.”

Nadira menutup mata sepersekian detik.

Ia menarik napas pendek.

Udara dingin bercampur parfum mahal memenuhi paru-parunya.

Kemudian ia berbalik.

Vanessa sudah meninggalkan sisi Hartono.

Di tangannya terdapat sebuah gelas tinggi.

Kuku merah mengilapnya mengetuk-ngetuk permukaan gelas perlahan.

Senyum kecil muncul di bibirnya.

Senyum yang sama seperti enam tahun lalu.

“Vanessa.”

Suara Nadira datar.

Ia terlalu lelah untuk menghidupkan kembali drama masa sekolah.

Hari itu ia sudah bekerja sejak subuh.

“Aku tahu itu kamu.”

Vanessa menatap Nadira dari kepala sampai kaki.

Tatapannya berhenti cukup lama pada sepatu hitam murah yang sudah mulai lecet.

“Aku hampir tidak mengenalimu.”

Ia terkekeh.

“Walaupun, kalau dipikir-pikir… penampilanmu memang tidak banyak berubah.”

Beberapa orang mulai memperhatikan.

Percakapan di sekitar mereka melambat.

Orang-orang yang beberapa menit sebelumnya membicarakan saham, properti, dan bisnis tiba-tiba menemukan hiburan baru.

“Aku sedang bekerja,” kata Nadira.

“Permisi.”

Ia mencoba berjalan melewati Vanessa.

Vanessa bergeser dan menghalangi jalannya.

“Jangan buru-buru.”

Ia tersenyum.

“Kita kan teman lama.”

Nadira menatapnya tanpa ekspresi.

Vanessa menunjuk Hartono.

“Aku tadi baru cerita kepada Pak Hartono tentang masa sekolah kita.”

Hartono hanya tersenyum tipis.

Vanessa melanjutkan.

“Aku cerita bagaimana dulu kamu selalu mengambil seragam bekas dari kakak kelas.”

Beberapa tamu tersenyum.

Vanessa semakin menikmati perhatian itu.

“Dan sepatu olahraga yang kamu pakai sampai solnya hampir lepas.”

Ia tertawa kecil.

“Masih suka barang bekas, Nadira?”

Nadira menggenggam nampan lebih erat.

“Kalau Ibu butuh minuman baru, bar ada di sebelah sana.”

Senyum Vanessa menghilang sedikit.

“Aku tidak butuh minuman baru.”

Nada suaranya berubah.

Lebih rendah.

Lebih tajam.

“Aku cuma penasaran.”

Ia mendekat satu langkah.

“Setelah enam tahun… apakah akhirnya kamu punya sesuatu yang bisa dibanggakan?”

Nadira tidak menjawab.

Vanessa menatap seragamnya.

“Kamu kerja jadi pelayan sekarang?”

“Ini pekerjaan.”

“Oh.”

Vanessa mengangguk perlahan.

“Pekerjaan.”

Kemudian sudut bibirnya terangkat.

“Atau pekerjaan ketigamu?”

Nadira mencoba melewatinya sekali lagi.

Namun tangan Vanessa bergerak.

Hanya sedikit.

Gerakannya sangat cepat.

Tapi Nadira melihatnya.

Itu bukan kecelakaan.

Pergelangan tangan Vanessa sengaja dimiringkan.

Gelas di tangannya terbalik.

Cairan dingin tumpah tepat ke bagian depan kemeja putih Nadira.

Nadira tersentak.

Kain tipis itu langsung basah dan menempel pada tubuhnya.

Gelas kemudian terlepas dari tangan Vanessa.

KRAK!

Gelas jatuh ke lantai marmer.

Tidak pecah menjadi serpihan kecil.

Hanya tiga bagian besar dengan tepian tajam.

Namun suara benturannya cukup keras untuk membuat percakapan di sekeliling mereka berhenti.

Ballroom mendadak hening.

Nadira menunduk.

Cairan dingin menetes dari kemejanya.

Sebuah buah zaitun kecil menggelinding dan berhenti tepat di depan sepatu hitamnya.

Vanessa menutup mulut dengan tangan.

“Oh, Tuhan.”

Nada suaranya penuh kepura-puraan.

“Aku ceroboh sekali.”

Lalu ia menambahkan dengan suara lebih keras,

“Lihat apa yang kamu buat.”

Rahang Nadira mengeras.

Ia menatap pecahan gelas di lantai.

Puluhan mata tertuju padanya.

Orang-orang kaya yang bosan kini berdiri menonton seolah-olah sedang menyaksikan sebuah pertunjukan.

Tak seorang pun maju.

Tak seorang pun menawarkan tisu.

Tak seorang pun bertanya apakah Nadira baik-baik saja.

Vanessa menunjuk lantai.

“Bersihkan.”

Nadira tetap berdiri.

Jari-jarinya menggenggam pinggir nampan sampai memutih.

“Aku bilang bersihkan.”

Vanessa mendekat.

“Itu memang pekerjaanmu, kan?”

Nadira menatapnya.

Vanessa tersenyum.

“Kamu membersihkan kekacauan orang lain.”

Ia memiringkan kepala.

“Dulu juga begitu.”

“Sekarang juga begitu.”

“Sepertinya tidak ada yang berubah.”

“Aku akan panggil petugas kebersihan,” jawab Nadira pelan.

Suaranya tegang, tetapi tetap terkendali.

“Tidak.”

Vanessa menunjuk pecahan gelas.

“Kamu sendiri yang ambil.”

Ia melihat sekeliling dan sengaja meninggikan suara.

“Sebelum ada orang penting yang menginjaknya.”

Saat itulah Dimas menerobos kerumunan.

Ia melihat Vanessa.

Melihat gaunnya.

Melihat Hartono.

Melihat para tamu VIP yang memperhatikan.

Kemudian melihat seragam Nadira yang basah.

Hanya butuh beberapa detik baginya untuk memilih pihak.

“Ada masalah, Bu Vanessa?”

Nada suara Dimas berubah begitu sopan.

Vanessa menghela napas.

“Pelayan kalian ini benar-benar tidak profesional.”

Ia menunjuk Nadira.

“Dia menabrakku.”

Nadira menatapnya tak percaya.

Vanessa melanjutkan dengan santai.

“Minumanku jatuh, lalu sekarang dia menolak membersihkannya.”

Dimas langsung menoleh kepada Nadira.

Wajahnya merah.

“Nadira.”

“Aku tidak—”

“Bersihkan.”

“Mas Dimas, dia sengaja menjatuhkan—”

“Berlutut.”

Suasana di sekeliling mereka semakin senyap.

Nadira menatap Dimas.

“Apa?”

“Ambil pecahan gelasnya.”

Dimas mendekat dan menurunkan suara.

“Sekarang.”

Nadira membeku.

“Mas, dia yang menjatuhkannya.”

“Aku tidak peduli siapa yang menjatuhkan.”

Dimas berbisik tajam.

“Kamu pungut sekarang.”

“Kalau tidak?”

Tatapan Dimas mengeras.

“Kamu pulang.”

Nadira tidak berkata apa-apa.

“Dan bukan cuma dari acara ini.”

Dimas mendekat ke telinganya.

“Aku akan telepon kantor pusat.”

“Aku pastikan namamu masuk daftar hitam.”

“Tidak ada lagi shift hotel.”

“Tidak ada lagi acara pernikahan.”

“Tidak ada lagi katering perusahaan.”

“Coba pikirkan baik-baik.”

Ancaman itu nyata.

Pekerjaan dari agensi tersebut adalah penyambung hidup Nadira.

Tanpanya, ia tidak tahu bagaimana membayar kontrakan bulan depan.

Ia bahkan masih memiliki tagihan listrik dan cicilan motor yang belum lunas.

Nadira menatap Vanessa.

Perempuan itu tersenyum.

Senyum kecil penuh kemenangan.

Ini cuma harga diri, kata Nadira dalam hati.

Harga diri tidak membayar kontrakan.

Harga diri tidak membeli beras.

Harga diri tidak membayar listrik.

Perlahan…

Nadira menurunkan tubuhnya.

Kedua lututnya menyentuh lantai marmer yang dingin.

Beberapa orang mengalihkan pandangan.

Yang lain justru terus menonton.

Nadira meletakkan nampan di samping tubuhnya.

Tangannya bergetar ketika meraih pecahan gelas pertama.

“Nah.”

Suara Vanessa terdengar di atas kepalanya.

“Begitu.”

Nadira menahan napas.

Vanessa tertawa kecil.

“Di situlah tempatmu.”

Beberapa orang menatap tidak nyaman.

Namun tidak ada yang menghentikannya.

“Kamu selalu sok kuat sejak sekolah.”

Vanessa melanjutkan.

“Padahal akhirnya apa?”

Ia menunjuk Nadira yang berlutut.

“Kamu cuma bukan siapa-siapa.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang ingin Nadira akui.

Jarinya menggenggam pecahan gelas.

Tepiannya menusuk kulit.

Rasa perih muncul di ujung jarinya.

Tapi itu tidak seberapa dibandingkan rasa malu yang menekan dadanya.

Nadira tetap menundukkan kepala.

Ia menunggu air mata keluar.

Tidak ada.

Ia terlalu lelah untuk menangis.

Yang tersisa hanya rasa kosong.

Tangannya bergerak ke pecahan kedua.

Lalu…

Suasana ballroom berubah.

Bukan sekadar lebih tenang.

Semua suara seolah-olah mati sekaligus.

Percakapan berhenti.

Orang-orang yang tadi berbisik langsung diam.

Bahkan kelompok musik di sudut ruangan perlahan menghentikan permainan mereka.

Nadira tidak mengangkat kepala.

Ia masih fokus mengambil pecahan terakhir.

Kemudian terdengar langkah kaki.

Berat.

Tenang.

Terukur.

Bukan langkah tergesa-gesa seorang pelayan.

Bukan suara sepatu tamu yang sibuk berjalan ke sana kemari.

Setiap langkah terdengar seperti milik seseorang yang tidak pernah perlu terburu-buru.

Karena semua oranglah yang akan menunggunya.

Langkah itu semakin dekat.

Lalu berhenti tepat di depan Nadira.

Dari posisinya yang berlutut, Nadira hanya bisa melihat celana hitam berpotongan sempurna dan sepasang sepatu kulit mahal.

Kemudian sebuah suara terdengar.

Rendah.

Serak.

Tidak keras.

Namun seluruh ballroom mendengarnya.

“Jangan sentuh itu.”

Tubuh Nadira membeku.

Jantungnya berhenti sesaat.

Ia mengenal suara itu.

Delapan bulan sebelumnya.

Saat hujan deras mengguyur Jakarta hampir sepanjang malam.

Sekitar pukul tiga pagi, Nadira sedang menjalani shift di sebuah kedai makan 24 jam di kawasan Mangga Besar.

Saat membuang sampah melalui pintu belakang, ia menemukan seorang pria bersandar pada dinding gang sempit.

Kemejanya basah.

Ada luka panjang di sisi tubuhnya.

Darah merembes melalui kain.

Nadira seharusnya berteriak.

Seharusnya memanggil orang.

Namun pria itu hampir roboh.

Jadi ia menyeretnya masuk melalui pintu belakang.

Membawanya ke ruang penyimpanan.

Mengunci pintu.

Dengan perlengkapan P3K seadanya dan tangan yang terus bergetar, Nadira membersihkan lukanya dan membantu menghentikan pendarahan.

Pria itu hampir tidak bicara sepanjang malam.

Ia hanya duduk diam.

Menatap Nadira dengan mata tajam yang membuat siapa pun mungkin memilih menjauh.

Namun Nadira tetap menolongnya.

Ketika luka itu akhirnya tertutup dan pendarahannya berhenti, pria tersebut berdiri.

Ia meletakkan setumpuk uang di atas meja.

Nadira langsung mendorongnya kembali.

“Aku tidak butuh uangmu.”

Pria itu menatapnya lama.

Seolah tak terbiasa mendengar seseorang menolak uang darinya.

Sebelum pergi, ia hanya mengatakan satu hal.

Namanya.

Raka Adinata.

Nadira tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi.

Sampai malam ini.

Perlahan…

Nadira mengangkat wajah.

Dan saat ia melihat siapa yang berdiri di depannya, napasnya tercekat.

Pria itu memang Raka.

Namun bukan Raka yang ia ingat dari gang sempit delapan bulan lalu.

Malam ini ia mengenakan setelan hitam sempurna.

Di belakangnya berdiri beberapa pria berwajah serius.

Dan yang paling mengejutkan—

para pengusaha yang tadi begitu angkuh kini menundukkan kepala.

Bahkan Hartono Wijaya terlihat pucat.

Vanessa yang beberapa detik lalu masih tersenyum kini tidak mengeluarkan suara.

Raka tidak melihat siapa pun.

Tatapannya hanya tertuju pada Nadira.

Kemudian, di depan seluruh ballroom…

ia mengulurkan tangannya kepada perempuan yang baru saja dipaksa berlutut.

Dan apa yang dilakukannya berikutnya membuat wajah Vanessa kehilangan seluruh warnanya.

PART 2 — SAAT BOS MAFIA ITU MENCIUM TANGANNYA, SEMUA RAHASIA MULAI TERBUKA

Raka Adinata mengulurkan tangannya.

Bukan untuk menarik Nadira dengan kasar.

Bukan juga untuk sekadar membantunya berdiri.

Ia menunggu.

Diam.

Sampai akhirnya Nadira meletakkan tangannya yang sedikit terluka ke telapak tangan pria itu.

Raka menariknya berdiri perlahan.

Seluruh ballroom masih sunyi.

Vanessa menatap mereka seperti sedang menyaksikan sesuatu yang tidak masuk akal.

Hartono Wijaya bahkan tidak bergerak.

Wajahnya yang tadi penuh kepercayaan diri kini pucat.

Dimas, supervisor yang baru saja menyuruh Nadira berlutut, berdiri dengan bibir gemetar.

Raka melihat tangan Nadira.

Ada garis merah tipis di ujung jarinya akibat pecahan gelas.

Alisnya langsung mengeras.

“Siapa yang membuatmu melakukan ini?”

Nadira menarik tangannya perlahan.

“Tidak apa-apa.”

Raka menatapnya.

Tatapan itu sama seperti delapan bulan lalu.

Tenang.

Tajam.

Namun malam ini ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.

Kemarahan.

“Aku bertanya,” katanya pelan, “siapa?”

Nadira menoleh ke Vanessa.

Itu saja.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada penjelasan.

Raka mengikuti arah pandangannya.

Vanessa menelan ludah.

Lalu ia memaksakan senyum.

“Pak Raka, sepertinya ada salah paham.”

Raka tidak menjawab.

Vanessa melanjutkan lebih cepat.

“Pelayan ini menabrak saya. Gelas saya jatuh, lalu—”

“Pelayan ini?”

Suara Raka memotongnya.

Vanessa terdiam.

Raka menatapnya beberapa detik.

Kemudian kembali melihat Nadira.

Dan tanpa peringatan, ia mengangkat tangan Nadira.

Membungkukkan tubuh sedikit.

Lalu mencium punggung tangannya.

Tidak romantis.

Tidak berlebihan.

Namun penuh penghormatan.

Ballroom seolah kehilangan udara.

Seseorang di belakang bahkan menjatuhkan sendok kecil ke atas piring.

Nadira membeku.

“Pak Raka…”

Raka berdiri tegak.

“Delapan bulan lalu,” katanya cukup keras agar orang-orang di sekeliling mendengar, “perempuan ini menyelamatkan hidup saya.”

Beberapa tamu saling pandang.

Vanessa tersenyum kaku.

“Pasti… berlebihan.”

Raka menoleh kepadanya.

“Kamu tahu berapa banyak orang yang meninggalkan seseorang ketika melihat darah?”

Vanessa tidak menjawab.

“Berapa banyak orang yang memilih menelepon orang lain lalu pergi?”

Raka melanjutkan.

“Dia tidak.”

Ia menunjuk Nadira.

“Dia bahkan tidak tahu siapa saya.”

Nadira menunduk sedikit.

Raka mengingat malam itu dengan jelas.

Hujan.

Gang sempit.

Darah di kemejanya.

Nadira yang ketakutan namun terus menekan luka di sisinya.

Ia masih ingat perempuan itu memarahinya ketika ia hampir kehilangan kesadaran.

“Jangan tidur!”

“Kalau mau pingsan, nanti saja setelah pendarahannya berhenti!”

Raka bahkan hampir tertawa saat mengingatnya.

Tapi malam itu ia tidak punya tenaga.

Yang paling ia ingat adalah satu hal.

Ketika ia meninggalkan uang.

Nadira menolaknya.

“Kalau saya ambil uang ini, berarti pertolongan saya punya harga.”

Itulah kalimat Nadira.

Dan selama hidupnya, hampir tidak pernah ada orang yang melakukan sesuatu untuk Raka tanpa menginginkan imbalan.

Raka mengalihkan perhatian kepada Dimas.

“Kamu.”

Dimas terkesiap.

“Sa-saya, Pak?”

“Kamu yang menyuruh dia berlutut?”

Dimas langsung berkeringat.

“Pak Raka, saya cuma menjalankan standar pelayanan. Tamu mengeluh dan saya—”

“Siapa pemilik perusahaan kateringmu?”

Dimas diam.

Raka menoleh ke salah satu pria di belakangnya.

“Bimo.”

Seorang pria berkacamata maju satu langkah.

“Ya, Pak.”

“Cari.”

Bimo mengeluarkan ponselnya.

Hanya beberapa detik.

“Elite Prima Hospitality, Pak. Pemegang saham mayoritas…”

Ia berhenti.

Lalu menatap Raka.

“Arunika Group.”

Raka mengangguk.

“Dan siapa pemilik Arunika Group?”

Bimo menjawab tenang.

“Anda.”

Dimas hampir kehilangan keseimbangan.

Nadira menatap Raka.

“Kamu pemilik hotel ini?”

Raka menatapnya balik.

“Sebagian besar.”

Itulah pertama kalinya Nadira benar-benar menyadari sejauh apa jarak hidup mereka.

Raka bukan sekadar pria kaya.

Nama Adinata beredar di Jakarta dalam berbagai cerita.

Ada yang mengatakan ia pemilik bisnis logistik.

Ada yang mengatakan ia punya jaringan keamanan swasta.

Ada pula gosip yang jauh lebih gelap.

Orang-orang jarang berani membicarakannya terlalu lama.

Dimas langsung membungkuk.

“Pak, saya tidak tahu…”

“Justru itu masalahnya.”

Raka memotong.

“Kamu pikir seseorang harus punya nama besar dulu sebelum diperlakukan seperti manusia?”

Dimas diam.

“Kalau dia bukan orang yang pernah menyelamatkan saya, apakah mempermalukannya boleh?”

Pertanyaan itu membuat Dimas tidak bisa menjawab.

Raka tidak menaikkan suara.

“Mulai malam ini, kamu tidak bekerja di bawah perusahaan saya lagi.”

Dimas memucat.

“Pak, saya punya keluarga…”

Nadira langsung menoleh.

Untuk sesaat, wajahnya berubah.

Ia melihat rasa takut yang tadi ia sendiri rasakan.

Takut kehilangan pendapatan.

Takut tidak bisa membayar kebutuhan rumah.

Nadira tiba-tiba berkata,

“Jangan.”

Semua orang menatapnya.

Bahkan Raka terlihat sedikit terkejut.

Nadira menarik napas.

“Jangan pecat dia.”

Dimas menatap Nadira seolah tidak percaya.

“Dia salah,” kata Nadira.

“Tapi kalau dia benar-benar punya keluarga yang bergantung padanya, jangan hukum mereka karena kesalahannya.”

Raka mengamati Nadira cukup lama.

“Kamu yakin?”

Nadira mengangguk.

“Tegur dia. Turunkan jabatannya kalau perlu. Tapi jangan bikin anaknya lapar.”

Dimas menunduk.

Mata pria itu mulai merah.

Raka akhirnya berkata,

“Kamu dengar sendiri.”

Dimas mengangguk cepat.

“Terima kasih.”

Namun Nadira tidak menatapnya.

Ia menoleh ke Vanessa.

Vanessa terlihat jauh lebih gelisah sekarang.

“Kalau sudah selesai,” kata Vanessa cepat, “saya pikir kami sebaiknya kembali ke meja.”

Ia meraih lengan Hartono.

Tetapi Hartono justru menarik lengannya menjauh.

“Jangan sentuh saya.”

Vanessa terkejut.

“Pak Hartono?”

Hartono tidak memandangnya.

Ia menatap Raka.

“Pak Raka…”

Raka tersenyum kecil.

“Lama tidak bertemu.”

Nada suara itu membuat wajah Hartono semakin pucat.

Vanessa memandang keduanya.

“Kalian saling kenal?”

Hartono tidak menjawab.

Raka memasukkan satu tangan ke saku.

“Tentu.”

Ia memandang Hartono dengan dingin.

“Pak Hartono bekerja cukup lama dengan ayah saya.”

Vanessa berkedip.

“Ayah Anda?”

Hartono tiba-tiba berkata,

“Pak Raka, malam ini bukan tempat yang tepat.”

“Justru malam ini sangat tepat.”

Suasana berubah.

Nadira bisa merasakannya.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada penghinaan Vanessa.

Raka memandang Hartono.

“Bukankah Anda tadi datang karena undangan gala yayasan?”

Hartono diam.

“Yayasan Karya Harapan.”

Raka melanjutkan.

Vanessa tertawa kecil, mencoba meredakan suasana.

“Ya, kami memang datang sebagai donatur.”

Namun ketika mendengar nama yayasan itu, Nadira membeku.

Yayasan Karya Harapan.

Nama itu sangat familiar.

Terlalu familiar.

Itu yayasan yang membayar beasiswa SMA-nya dulu.

Nadira menatap Raka.

Raka menyadarinya.

“Kamu ingat nama itu?”

Nadira mengangguk perlahan.

“Itu yang membiayai sekolahku.”

Raka menarik napas pendek.

“Ada sesuatu yang selama ini tidak kamu tahu.”

Vanessa langsung memotong.

“Pak Raka, apa hubungannya dengan dia?”

Raka menatap Vanessa.

“Hubungannya jauh lebih banyak daripada yang kamu bayangkan.”

Hartono tiba-tiba bergerak.

“Raka.”

Untuk pertama kalinya ia memanggil tanpa sebutan “Pak”.

“Cukup.”

Raka tersenyum dingin.

“Kenapa?”

“Karena ini urusan keluarga.”

Kalimat itu membuat Nadira menoleh cepat.

“Keluarga?”

Raka diam beberapa detik.

Lalu mengeluarkan ponselnya.

Ia membuka sebuah foto lama.

Kemudian menyerahkannya kepada Nadira.

Nadira menerima ponsel itu.

Di layar terlihat seorang pria muda berdiri di samping perempuan berambut panjang.

Foto itu mungkin diambil lebih dari dua puluh tahun lalu.

Nadira menatap wajah perempuan tersebut.

Napasnya langsung tertahan.

“Ibu…”

Itu ibunya.

Lebih muda.

Tersenyum.

Nadira hampir tidak pernah melihat ibunya tersenyum seperti itu.

Di sebelahnya berdiri seorang pria.

Nadira belum pernah melihat pria itu.

Tapi bentuk matanya…

Rahangnya…

Ada sesuatu yang membuat jantung Nadira berdetak tidak nyaman.

“Siapa dia?”

Raka tidak langsung menjawab.

Hartono malah memalingkan wajah.

Nadira menatapnya.

Lalu kembali melihat foto.

Pria muda dalam foto itu…

Memiliki wajah yang sangat mirip dengan Hartono.

Hanya lebih muda.

Tangan Nadira gemetar.

“Pak Hartono?”

Semua suara di ruangan terasa jauh.

Hartono menutup mata sejenak.

Vanessa tertawa gugup.

“Ini pasti kebetulan.”

Raka menatapnya.

“Bukan.”

Kemudian ia berkata,

“Pria dalam foto itu adalah Hartono Wijaya.”

Nadira hampir menjatuhkan ponsel.

Ia melihat Hartono.

“Kenapa Anda punya foto bersama ibu saya?”

Hartono tidak menjawab.

“Kenapa?”

Suara Nadira mulai pecah.

Raka ingin mendekat, tetapi Nadira mengangkat tangan.

Ia ingin mendengar jawaban langsung dari Hartono.

Akhirnya pria itu berkata,

“Karena dulu saya mengenalnya.”

“Mengenalnya?”

Nadira menatap foto.

“Seperti apa?”

Hartono menelan ludah.

“Kami pernah dekat.”

Vanessa mengerutkan dahi.

“Dekat?”

Raka berkata dingin,

“Dia kekasih ibumu.”

Nadira menatapnya tajam.

“Apa?”

Hartono langsung berkata,

“Raka!”

Namun sudah terlambat.

Nadira merasa lututnya kembali lemas.

Ibunya meninggal ketika Nadira berusia sebelas tahun.

Sepanjang hidupnya, ibunya hanya mengatakan satu hal tentang ayah Nadira.

Bahwa ayahnya meninggal sebelum Nadira lahir.

Nadira percaya.

Ia tidak pernah mencari.

Tidak pernah bertanya lagi.

Karena setiap kali topik itu muncul, ibunya selalu terlihat sedih.

Nadira menatap Hartono.

“Apakah…”

Kata-katanya tidak bisa keluar.

Hartono akhirnya mengangkat kepala.

Matanya berkaca-kaca.

Dan Nadira langsung tahu.

Bahkan sebelum ia mengatakannya.

“Nadira…”

Pria itu menarik napas panjang.

“Saya ayahmu.”

Ballroom mendadak terasa berputar.

Vanessa mundur satu langkah.

“Apa?”

Nadira tidak bergerak.

Ia hanya menatap Hartono.

Kemudian tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena tubuhnya tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

“Tidak.”

“Nadira…”

“Tidak.”

Ia menggeleng.

“Ayah saya meninggal.”

Hartono menunduk.

“Itu yang ibumu pilih untuk katakan.”

“Kenapa?”

Hartono tidak bisa menjawab.

Nadira maju satu langkah.

“Kenapa ibu saya mengatakan Anda meninggal?”

Air mata mulai memenuhi mata Hartono.

“Karena saya pengecut.”

Kalimat itu keluar sangat pelan.

Vanessa menatap Hartono dengan wajah tidak percaya.

Raka tetap diam.

Hartono melanjutkan.

“Orang tua saya menolak ibumu.”

“Dia bukan dari keluarga berada.”

“Mereka bilang kalau saya menikahinya, saya akan dikeluarkan dari bisnis keluarga.”

Nadira tertawa pahit.

“Jadi Anda memilih bisnis.”

Hartono menutup mata.

“Ya.”

Satu kata.

Tapi cukup untuk menghancurkan sesuatu di dalam dada Nadira.

“Ketika ibumu hamil, saya tahu.”

Nadira mundur.

“Jadi Anda tahu saya ada.”

“Saya tahu.”

“Dan Anda meninggalkan kami?”

Hartono menunduk.

Vanessa tampak semakin tidak nyaman.

“Tapi yayasan…”

Nadira tiba-tiba teringat.

“Beasiswa.”

Ia menatap Raka.

“Yayasan Karya Harapan.”

Raka mengangguk.

Hartono berkata,

“Saya yang membiayainya.”

Nadira menatapnya tajam.

“Diam-diam?”

“Saya tidak punya keberanian untuk datang langsung.”

Air mata Nadira akhirnya jatuh.

Satu.

Kemudian satu lagi.

“Jadi selama ini Anda merasa membayar sekolah saya cukup?”

“Tidak.”

Hartono menggeleng.

“Tidak pernah cukup.”

Ia menatap Nadira.

“Saya mengikuti hidupmu dari jauh.”

“Saya tahu kapan ibumu meninggal.”

“Saya tahu kamu pindah dari rumah kontrakan.”

“Saya tahu kamu masuk SMA lewat beasiswa.”

“Saya bahkan tahu kamu kuliah satu tahun lalu berhenti.”

Nadira tersentak.

“Kenapa Anda tahu?”

“Karena saya terus meminta orang mencari kabarmu.”

“Kenapa tidak datang?”

Hartono tidak menjawab.

Nadira berteriak untuk pertama kalinya.

“KENAPA TIDAK DATANG?”

Beberapa orang di ballroom menundukkan kepala.

Hartono menangis.

Pria kaya yang beberapa menit lalu tampak begitu berkuasa sekarang terlihat seperti lelaki tua yang membawa penyesalan terlalu lama.

“Karena semakin lama saya menunggu, semakin takut saya.”

Nadira menangis.

“Takut apa?”

“Kamu membenci saya.”

Nadira tertawa sambil menangis.

“Dan sekarang?”

Hartono tidak mampu menjawab.

Vanessa tiba-tiba berkata,

“Pak Hartono…”

Semua orang menoleh.

Vanessa terlihat panik.

“Ini tidak mungkin.”

Hartono memandangnya.

Vanessa menunjuk Nadira.

“Dia hanya pelayan.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Mungkin karena gugup.

Mungkin karena kebiasaan.

Namun tepat setelah mengucapkannya, Vanessa sadar bahwa ia baru saja membuat kesalahan besar.

Hartono menatapnya lama.

Kemudian berkata,

“Dia anak saya.”

Vanessa pucat.

“Pak…”

“Dan malam ini,” Hartono melanjutkan, “kamu memaksanya berlutut di depan saya.”

Vanessa kehilangan kata-kata.

Nadira menutup wajah.

Ia tidak peduli lagi pada Vanessa.

Semua penghinaan beberapa menit lalu sekarang terasa kecil dibandingkan pengkhianatan yang baru saja ia temukan.

Nadira menatap Raka.

“Kenapa kamu tahu semua ini?”

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.

Ada perubahan kecil di wajahnya.

Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat ragu.

Raka menghela napas.

“Karena ayah saya juga terlibat.”

Hartono langsung mengangkat kepala.

“Raka…”

Raka tidak berhenti.

“Ayah saya sahabat dekat Hartono waktu muda.”

Ia menatap Nadira.

“Ketika Hartono meninggalkan ibumu, ayah saya mencoba membantu.”

“Yayasan itu?”

“Awalnya dibentuk oleh ayah saya.”

Nadira mulai memahami.

“Lalu Hartono menyumbang melalui yayasan.”

Raka mengangguk.

“Tapi ada satu hal lagi.”

Hartono berkata,

“Tidak perlu.”

Raka menjawab,

“Dia berhak tahu.”

Nadira menatap keduanya.

“Apa?”

Raka menarik napas.

“Delapan bulan lalu, ketika aku berada di gang belakang tempatmu bekerja…”

Ia berhenti.

“Itu bukan kebetulan.”

Nadira membeku.

“Apa maksudmu?”

“Aku sedang mencari seseorang.”

“Siapa?”

Raka menatapnya.

“Kamu.”

Nadira mundur.

Semua rasa hangat yang tadi sempat muncul langsung hilang.

“Kamu sudah tahu siapa aku malam itu?”

“Tidak sepenuhnya.”

Raka menjelaskan.

“Ayahku meninggal dan meninggalkan beberapa dokumen lama. Salah satunya tentang ibumu dan Hartono.”

“Aku tahu Hartono punya seorang anak perempuan.”

“Tapi aku tidak tahu di mana.”

“Setelah mencari berbulan-bulan, aku menemukan namamu.”

Nadira menatapnya dengan mata basah.

“Jadi luka itu?”

“Nyata.”

Raka tersenyum getir.

“Aku memang diserang malam itu.”

“Tapi aku kebetulan berada di daerah itu karena sedang mencari alamatmu.”

“Dan kamu menolongku sebelum aku sempat memastikan siapa dirimu.”

Nadira terdiam.

Raka melanjutkan.

“Setelah malam itu, aku yakin.”

“Cara ibumu digambarkan dalam surat ayahku…”

“Mirip sekali denganmu.”

Nadira menatapnya.

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena aku pikir itu bukan hakku.”

Raka menoleh ke Hartono.

“Orang yang seharusnya datang adalah dia.”

Hartono menunduk.

“Dan dia tidak datang.”

Raka berkata,

“Tidak.”

“Jadi aku menunggu.”

Nadira menghapus air matanya.

“Dan malam ini?”

“Ketika aku melihat kamu berlutut…”

Raka menatap pecahan gelas di lantai.

“Aku tidak bisa menunggu lagi.”

Tidak ada yang berbicara cukup lama.

Lalu Nadira menatap Hartono.

“Apakah Anda punya anak lain?”

Hartono terdiam.

Pertanyaan sederhana.

Tapi jawabannya mengubah wajah Vanessa.

Nadira menyadarinya.

Ia menatap Vanessa.

Lalu Hartono.

“Jangan bilang…”

Hartono berkata pelan,

“Vanessa bukan anak saya.”

Vanessa langsung menoleh.

“Apa?”

Hartono terlihat lelah.

“Ibumu mengenalkanku padanya dua tahun lalu.”

Vanessa membeku.

Nadira mengerutkan dahi.

Jadi Vanessa bukan anak Hartono.

Hanya pasangan mudanya.

Vanessa semakin panik.

“Pak Hartono, apa maksud semua ini?”

Hartono mengabaikannya.

Ia hanya menatap Nadira.

“Saya mengundang Raka malam ini karena saya berniat mengumumkan sesuatu.”

“Apa?”

“Bahwa saya akan pensiun.”

Nadira tidak berkata apa-apa.

Hartono melanjutkan.

“Dan sebagian besar kepemilikan pribadi saya akan dipindahkan ke yayasan.”

Nadira menggeleng.

“Saya tidak mau uang Anda.”

“Saya tahu.”

“Saya serius.”

“Saya tahu.”

Hartono tersenyum sedih.

“Karena itu bukan untukmu.”

Nadira terkejut.

“Lalu?”

“Untuk anak-anak seperti kamu dulu.”

Nadira menatapnya.

“Anak-anak yang pintar.”

“Yang tidak punya uang.”

“Yang mungkin terpaksa berhenti sekolah.”

Hartono menghela napas.

“Saya tidak bisa memperbaiki apa yang saya lakukan terhadap ibumu.”

“Saya juga tidak bisa mengembalikan masa kecilmu.”

“Tapi saya ingin setidaknya berhenti menjadi orang yang hanya menyesal tanpa melakukan apa-apa.”

Nadira diam.

Ia ingin membencinya.

Sebagian dirinya memang membenci.

Namun di depan dirinya berdiri seorang pria yang tidak meminta dimaafkan.

Hanya mengakui bahwa ia salah.

Itu justru membuat semuanya lebih menyakitkan.

“Apakah ibu pernah memaafkan Anda?”

Hartono menatap lantai.

“Tidak.”

Nadira mengangguk pelan.

“Bagus.”

Hartono menutup mata.

Nadira melanjutkan.

“Karena saya juga belum bisa.”

Hartono mengangguk.

“Saya mengerti.”

“Tapi…”

Nadira menarik napas.

“Saya juga tidak ingin menghabiskan hidup saya membenci seseorang yang sudah tua dan terlambat menyadari kesalahannya.”

Hartono mengangkat kepala.

Nadira berkata,

“Saya tidak bisa memanggil Anda Ayah malam ini.”

Hartono mulai menangis lagi.

“Tapi kalau Anda benar-benar ingin mengenal saya…”

Nadira berhenti.

“Kita bisa mulai dari nama.”

Hartono tersenyum di antara air matanya.

“Hartono.”

Nadira mengangguk.

“Nadira.”

Keduanya tertawa kecil.

Canggung.

Namun nyata.

Lalu seseorang bertepuk tangan.

Bukan keras.

Seorang perempuan tua di sudut ballroom.

Kemudian orang lain ikut.

Sampai akhirnya tepuk tangan memenuhi ruangan.

Nadira merasa malu.

“Kenapa mereka tepuk tangan?”

Raka tersenyum.

“Mungkin karena untuk pertama kalinya malam ini, orang-orang kaya itu melihat sesuatu yang tidak bisa dibeli.”

Nadira menatapnya.

“Apa?”

“Keberanian.”

Beberapa minggu kemudian, hidup Nadira tidak berubah seperti dongeng.

Ia tidak pindah ke rumah mewah.

Tidak berhenti bekerja begitu saja.

Tidak memakai mobil mahal.

Bahkan ketika Hartono menawarkan apartemen, Nadira menolak.

Namun ia menerima satu hal.

Kesempatan untuk kembali kuliah.

Bukan sebagai hadiah pribadi dari Hartono.

Nadira meminta biaya kuliahnya dimasukkan melalui program resmi Yayasan Karya Harapan.

“Kalau saya menerima,” katanya, “saya mau melalui jalur yang sama seperti penerima lain.”

Hartono tertawa.

“Kamu keras kepala seperti ibumu.”

“Itu pujian?”

“Pujian terbesar.”

Dimas tidak dipecat.

Ia diturunkan dari posisi supervisor selama enam bulan dan diwajibkan mengikuti pelatihan manajemen serta perlindungan pekerja.

Suatu sore, ia menemui Nadira.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Nadira mengangguk.

Ia tidak langsung memaafkan.

Tapi ia menerima bahwa manusia bisa berubah.

Vanessa?

Hubungannya dengan Hartono berakhir malam itu juga.

Bukan karena Nadira meminta.

Nadira bahkan tidak pernah membicarakannya.

Hartono hanya menyadari bahwa seseorang yang memperlakukan pelayan seperti sampah juga akan memperlakukan siapa pun seperti sampah ketika merasa punya kuasa.

Namun kejutan terakhir datang hampir satu tahun kemudian.

Nadira sedang berdiri di depan gedung kampus setelah menyelesaikan ujian akhir semester.

Raka menunggunya di dekat mobil.

Tidak dengan rombongan.

Tidak dengan jas hitam.

Hanya kemeja putih sederhana.

“Aku punya sesuatu.”

Ia menyerahkan sebuah amplop tua.

Nadira membukanya.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.

Nama ibunya ada di bagian bawah.

Nadira menatap Raka.

“Dari mana?”

“Di antara dokumen ayahku.”

Nadira membaca.

Surat itu ditulis ibunya sebelum meninggal.

Isinya tidak panjang.

Tetapi satu bagian membuat Nadira menangis.

Ibunya menulis:

Jika suatu hari Nadira menemukan siapa ayahnya, jangan ajari dia membenci.

Benci hanya membuat orang lain tinggal gratis di dalam hatimu.

Kalau Hartono datang, biarkan dia menjelaskan.

Kalau dia tidak datang, biarkan hidup yang menjelaskan.

Dan jika suatu hari Nadira bertemu seseorang yang menghargainya saat dia sedang tidak memiliki apa-apa, jangan lihat seberapa kaya orang itu.

Lihat bagaimana dia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan.

Nadira berhenti membaca.

Air matanya jatuh ke kertas.

Raka berdiri diam.

Tidak mencoba memeluk.

Tidak mengatakan apa-apa.

Nadira menatapnya.

“Raka.”

“Hm?”

“Waktu pertama kali aku menolongmu…”

“Ya?”

“Aku benar-benar tidak tahu siapa kamu.”

“Aku tahu.”

“Dan sekarang aku tahu.”

Raka tersenyum kecil.

“Kecewa?”

Nadira tertawa di antara air matanya.

“Sedikit.”

Raka ikut tertawa.

Kemudian Nadira menatap surat ibunya lagi.

Ada satu baris paling bawah.

Tulisan itu nyaris pudar.

Nadira membacanya perlahan.

Orang baik tidak selalu datang dengan wajah yang terlihat baik. Kadang mereka datang terluka, kotor, dan membutuhkan pertolonganmu terlebih dahulu.

Nadira menatap Raka.

Lalu ia tertawa.

“Sepertinya Ibu sudah memperingatkanku tentangmu.”

“Kalau begitu saya tersinggung.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nadira tertawa tanpa memikirkan tagihan.

Tanpa mengingat ejekan masa sekolah.

Tanpa merasa menjadi orang kecil di ruangan besar.

Beberapa tahun setelah malam di Hotel Arunika, sebuah papan sederhana dipasang di depan gedung baru Yayasan Karya Harapan.

Bukan nama Hartono.

Bukan nama Raka.

Nama yang tertulis di sana adalah:

PROGRAM BEASISWA SARI PRAMESWARI

Nama ibu Nadira.

Program itu setiap tahun membiayai ratusan anak dari keluarga sederhana untuk melanjutkan pendidikan.

Dan ada satu aturan khusus yang Nadira sendiri minta dimasukkan ke dalam sistem penerimaan.

Tidak ada foto rumah.

Tidak ada kewajiban bagi penerima beasiswa untuk berdiri di panggung menceritakan kemiskinan mereka.

Tidak ada acara yang menjadikan penderitaan mereka sebagai hiburan para donatur.

Karena Nadira tahu rasanya ketika martabat seseorang dipaksa berlutut demi uang.

Pada malam peresmian program itu, Hartono berdiri di belakang kerumunan.

Ia sudah jauh lebih kurus.

Nadira melihatnya.

Mereka saling tersenyum.

Hubungan mereka tidak pernah menjadi sempurna.

Tidak ada keajaiban yang mampu mengganti puluhan tahun kehilangan.

Namun perlahan, mereka belajar menjadi ayah dan anak.

Bukan dengan uang.

Bukan dengan warisan.

Dengan waktu.

Dengan makan siang sederhana.

Dengan percakapan canggung.

Dengan permintaan maaf yang tidak pernah berhenti hanya pada kata-kata.

Raka berdiri di samping Nadira.

Ia menggenggam tangannya.

Kali ini Nadira tidak menariknya.

Hartono melihat keduanya dan tersenyum.

“Jadi akhirnya?”

Nadira pura-pura tidak mengerti.

“Akhirnya apa?”

Hartono menunjuk tangan mereka.

Raka menjawab santai,

“Saya masih menunggu persetujuan.”

Nadira mendelik.

“Jangan mulai.”

Semua orang tertawa.

Namun sebelum pergi, Nadira sempat menatap gedung yayasan.

Ia teringat ballroom.

Seragam basah.

Pecahan gelas.

Lututnya di lantai.

Dan suara Vanessa:

Kamu cuma bukan siapa-siapa.

Nadira tersenyum.

Ternyata Vanessa benar tentang satu hal.

Malam itu Nadira memang bukan siapa-siapa bagi orang-orang di ballroom.

Dan justru itulah pelajaran terbesarnya.

Karena nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh siapa yang mengenalnya.

Bukan oleh rekening bank.

Bukan oleh pekerjaan.

Bukan oleh nama keluarga.

Bukan pula oleh siapa yang bersedia mencium tangannya di depan orang banyak.

Nilai Nadira sudah ada bahkan ketika ia masih membawa nampan.

Bahkan ketika sepatunya lecet.

Bahkan ketika ia berlutut di atas lantai marmer.

Raka tidak membuat Nadira menjadi berharga malam itu.

Hartono juga tidak.

Mereka hanya membuat orang lain akhirnya melihat sesuatu yang sebenarnya sudah ada sejak awal.

Seorang perempuan yang, ketika ia sendiri hampir tidak punya apa-apa, masih memilih menolong seseorang.

Seorang perempuan yang bahkan saat memiliki kesempatan menghancurkan orang yang merendahkannya, justru meminta agar keluarga orang itu tidak ikut menderita.

Seorang perempuan yang bisa menerima kebenaran tanpa membiarkan luka mengubahnya menjadi kejam.

Dan itulah sebabnya beberapa tahun kemudian, ketika seorang penerima beasiswa berusia tujuh belas tahun bertanya kepada Nadira,

“Bu, apa yang harus saya lakukan supaya suatu hari bisa menjadi seseorang?”

Nadira tersenyum.

Ia teringat dirinya sendiri.

Kemudian menjawab,

“Kamu tidak perlu menunggu menjadi seseorang.”

Anak itu terlihat bingung.

Nadira melanjutkan,

“Belajarlah.”

“Bekerjalah.”

“Berjuanglah.”

“Tapi jangan lakukan semua itu untuk membuktikan bahwa kamu lebih berharga daripada orang lain.”

Ia menyentuh bahu anak tersebut.

“Karena bahkan ketika dunia belum mengenal namamu…”

“kamu sudah berharga.”

Dan untuk pertama kalinya, Nadira akhirnya benar-benar percaya pada kalimat itu untuk dirinya sendiri.

TAMAT.