BAGIAN 2 — Kartu Hitam di Tangan Ayah Membuka Rahasia Lama, Sementara Nadira Harus Memilih Siapa yang Benar-Benar Bisa Dipercaya
Aku menatap kartu hitam di tangan Ayah.
—Ayah… kenapa kartu itu ada di tangan Ayah?
Tidak ada jawaban.
Di seberang telepon, napas Arman terdengar semakin berat.
—Nadira, ambil kembali kartu itu. Sekarang.
Nada suaranya membuatku sadar bahwa ini bukan permainan.
Aku melangkah mendekati Ayah.
Namun pria tua yang datang bersama rombongan SUV tiba-tiba bergerak.
Dua pria berjas di belakangnya ikut maju.
Ayah langsung mengangkat tangan.
—Jangan ada yang bergerak!
Anehnya, mereka berhenti.
Faris yang sejak tadi kebingungan akhirnya berteriak.
—Sebenarnya apa yang terjadi?!
Ayah tidak menjawabnya. Tatapannya hanya tertuju kepadaku.
Kemudian dia menyerahkan kartu hitam itu.
—Simpan.
Aku menerimanya dengan tangan gemetar.
Pria tua itu menyipitkan mata.
—Don’t make this difficult, Pak.
Jantungku berdegup keras.
Ayah ternyata tidak sedang mengambil kartu itu dariku.
Dia melindunginya.
—Siapa kalian sebenarnya? tanyaku.
Pria tua tersebut tersenyum tipis.
—Kami datang untuk membawa Anda kepada suami Anda.
Dari telepon terdengar suara Arman.
—Bohong!
Semua orang terdiam.
—Nadira, orang-orang itu bukan timku. Jangan ikut mereka.
Pria tua itu langsung menatap ponsel Ayah.
—Pak Arman sedang terluka. Kemungkinan dia tidak berpikir jernih.
—Kalau begitu sebutkan nama lengkapmu, kata Arman dari telepon.
Wajah pria itu berubah.
Arman melanjutkan.
—Sebutkan kode keamanan tim pribadiku.
Tidak ada jawaban.
Ayah segera menarik tanganku.
—Masuk ke ruang kerja.
Kami baru bergerak dua langkah ketika suara sirene terdengar dari kejauhan.
Pria tua itu mengumpat pelan.
Rombongannya langsung berbalik dan bergegas keluar.
Beberapa detik kemudian, kelima SUV meninggalkan halaman.
Aku berdiri membeku.
—Ayah memanggil polisi?
Ayah menggeleng.
—Tim keamanan perusahaan kita. Sejak mereka masuk, petugas di gerbang sudah mengirim peringatan.
Aku kembali memegang ponsel.
—Arman, kamu di mana?
Hening.
—Arman?
—Aku aman untuk sementara.
—Kamu terluka?
Dia tidak menjawab.
Aku hampir menangis.
—Tiga hari kamu menghilang. Aku bahkan tidak tahu siapa suamiku sebenarnya. Sekarang ada orang asing datang ke rumahku. Tolong berhenti menyembunyikan semuanya dariku!
Beberapa detik kemudian, Arman akhirnya berbicara.
—Kartu hitam itu adalah kunci akses darurat ke sistem kepemilikan grupku.
Aku memandang benda kecil di tanganku.
—Maksudmu?
—Tanpa kartu itu, mereka tidak bisa menyelesaikan pengambilalihan internal yang sudah direncanakan berbulan-bulan.
Aku semakin bingung.
Arman kemudian mengungkapkan semuanya.
Tiga tahun lalu, dia menemukan indikasi bahwa beberapa direktur senior menggunakan anak perusahaan logistik untuk memindahkan dana secara ilegal dan memalsukan kontrak pengiriman.
Arman sengaja mundur dari kehidupan publik.
Dia menggunakan identitas sederhana untuk mengamati jaringan tersebut dari bawah.
Itulah sebabnya dia bekerja di gudang.
Dan di sanalah dia bertemu denganku.
—Jadi sejak awal pertemuan kita juga bagian dari penyelidikanmu?
Pertanyaan itu keluar dengan suara gemetar.
Arman segera menjawab.
—Tidak. Kamu satu-satunya hal yang tidak pernah kurencanakan.
Dadaku terasa sesak.
—Lalu Ayah?
Aku menatapnya.
Ayah menunduk.
—Aku mengetahui identitas Arman dua minggu sebelum pernikahan kalian.
Aku terpukul.
—Jadi Ayah juga membohongiku?
—Aku meminta Arman meninggalkanmu.
Aku menatapnya tak percaya.
Ayah melanjutkan.
—Aku pikir dia mendekatimu karena perusahaan kita memiliki kontrak besar dengan grupnya. Tetapi dia menolak menjelaskan identitasnya karena penyelidikan belum selesai. Karena itu aku memberikan syarat enam bulan tanpa fasilitas keluarga.
—Untuk menghukumku?
Ayah menggeleng.
—Untuk memastikan kalian berdua tetap ingin menikah ketika uang tidak menjadi alasan.
Mataku panas.
Ternyata begitu banyak orang mengambil keputusan tentang hidupku tanpa memberitahuku.
—Kalian semua menganggap kalian melindungiku, tetapi tidak seorang pun bertanya apakah aku ingin dilindungi dengan kebohongan.
Tidak ada yang mampu menjawab.
Tiba-tiba suara Arman terdengar.
—Kamu benar.
Aku terdiam.
—Aku salah, Nadira. Kalau aku berhasil pulang, aku akan menceritakan semuanya. Setelah itu, kalau kamu ingin meninggalkanku, aku tidak akan menahanmu.
Untuk pertama kalinya, aku mendengar ketakutan dalam suaranya.
Bukan ketakutan kehilangan perusahaan.
Melainkan kehilangan diriku.
—Jangan bicara seolah-olah kamu tidak akan pulang.
—Aku akan berusaha.
Lalu sambungan terputus.
—Arman!
Tidak ada jawaban.
Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidupku.
Menjelang pukul tiga pagi, kami menerima informasi bahwa kendaraan yang diduga membawa Arman ditemukan kosong.
Ada bercak darah di kursi belakang.
Tetapi Arman tidak ditemukan.
Dua hari berlalu.
Tidak ada kabar.
Aku tidak tidur dengan benar.
Pada hari ketiga, aku akhirnya mengambil keputusan.
Aku tidak mau hanya duduk menunggu.
Aku meminta tim keamanan memeriksa kembali semua rekaman kamera di sekitar lokasi kendaraan ditemukan.
Salah satu rekaman memperlihatkan sesuatu yang terlewat.
Seorang pria dengan jaket gelap keluar dari mobil sekitar satu kilometer sebelum kendaraan ditemukan.
Cara berjalannya pincang.
Aku langsung mengenalinya.
—Itu Arman.
Kami mengikuti arah perjalanannya.
Jejak tersebut berakhir di sebuah klinik kecil.
Seorang perawat mengatakan bahwa seorang pria terluka datang malam itu, tetapi pergi setelah lukanya dibersihkan.
—Dia meninggalkan sesuatu, kata perawat itu.
Sebuah amplop.
Di bagian depan tertulis namaku.
NADIRA.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya hanya ada secarik kertas dengan tulisan tangan Arman.
“Jika kamu membaca ini, berarti aku belum berhasil pulang. Jangan cari aku. Bawa kartu itu ke tempat pertama kita bertemu. Percayalah pada perempuan yang memakai bros berbentuk melati.”
Aku langsung tahu tempat yang dimaksud.
Gedung komunitas tempat kami pertama kali bertemu dalam kegiatan sosial.
Sore itu aku pergi ke sana ditemani dua petugas keamanan.
Seorang perempuan paruh baya sudah menunggu.
Di kerudungnya terpasang bros kecil berbentuk bunga melati.
Dia menatapku.
—Nadira?
Aku mengangguk.
Perempuan itu menyerahkan sebuah flash drive.
—Arman meminta saya memberikan ini hanya jika Anda datang membawa kartu hitam.
—Di mana dia?
Perempuan itu menggeleng.
—Saya tidak tahu.
Aku memasukkan kartu hitam ke perangkat kecil yang dibawanya.
Flash drive terbuka.
Ratusan dokumen muncul.
Daftar transaksi.
Rekaman rapat.
Nama-nama direktur.
Dan kemudian aku melihat satu nama yang membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Faris.
Adikku sendiri.
Ada puluhan transaksi antara perusahaan kecil milik Faris dan salah satu direktur yang sedang berusaha merebut grup Arman.
Aku hampir menjatuhkan laptop.
Tidak mungkin.
Namun tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari belakang.
Aku menoleh.
Faris berdiri di pintu.
Sendirian.
Wajahnya tidak lagi terlihat seperti adik yang selama ini kukenal.
—Akhirnya, Kak, katanya pelan. —Kamu menemukan semuanya.
Aku mundur.
—Faris…
Dia tersenyum.
—Sekarang berikan kartu itu kepadaku.
Dan saat itulah aku sadar bahwa dua petugas keamanan yang datang bersamaku…
sudah tidak berada di depan pintu.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
