Kebenaran Tentang Kematian Ayah Akhirnya Terungkap, Sementara Pilihan Raka Membawa Dua Keluarga Menuju Kehidupan Baru yang Tak Terduga

Avatar penulis
Cerita 05
8 menit baca 116 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Kebenaran Tentang Kematian Ayah Akhirnya Terungkap, Sementara Pilihan Raka Membawa Dua Keluarga Menuju Kehidupan Baru yang Tak Terduga

Hendra segera mematikan lampu gudang.

Pemilik laundry menarik Nisa menjauh dari pintu.

Sementara aku menggenggam kartu memori itu erat-erat.

—Kita harus menelepon polisi.

Hendra mengangguk.

—Sudah.

Ternyata sebelum aku datang, ia telah menghubungi seorang kenalan yang dulu membantunya mengumpulkan informasi mengenai kasus tersebut.

Kami hanya perlu bertahan.

Hantaman kembali terdengar.

Raka mendekatiku.

—Bu, berikan kartu itu kepadaku.

—Tidak.

—Percayalah.

Sebelum aku sempat menghentikannya, ia mengambil sebuah kartu memori lain dari ranselnya.

Kosong.

Ia memasukkannya ke dalam amplop.

Kemudian berteriak ke arah pintu:

—Kami akan memberikannya!

Aku menatapnya tak percaya.

Raka berbisik:

—Yang asli tetap sama Ibu.

Untuk anak berusia empat belas tahun, keberaniannya membuatku bangga sekaligus takut.

Hendra membuka pintu sedikit dan melempar amplop ke luar.

Kami mendengar langkah kaki menjauh.

Beberapa saat kemudian sebuah kendaraan melaju pergi.

Tidak lama setelah itu, suara kendaraan lain datang.

Kali ini disertai petugas.

Malam itu menjadi awal dari berakhirnya sebuah rahasia yang telah disimpan selama bertahun-tahun.

Kartu memori peninggalan suamiku tidak hanya berisi catatan transaksi.

Ada salinan daftar penerima santunan, rekaman percakapan, catatan pemindahan uang, serta rekaman suara suamiku sendiri yang menjelaskan bagaimana ia memperoleh semuanya.

Yang paling penting, terdapat rekaman dari sebuah kamera kendaraan.

Rekaman itu tidak memperlihatkan kecelakaan secara sempurna.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa beberapa menit sebelum kendaraan suamiku kehilangan kendali, ada kendaraan lain yang sengaja mengikuti dan memaksanya keluar dari jalur.

Penyelidikan lama akhirnya dibuka kembali.

Aku tidak langsung mendapatkan semua jawaban.

Prosesnya berlangsung berbulan-bulan.

Beberapa mantan pegawai dipanggil untuk diperiksa.

Dokumen-dokumen lama dibandingkan kembali.

Hendra menyerahkan semua informasi yang masih ia simpan dan memberikan kesaksian tentang apa yang terjadi sebelum kematian suamiku.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lari.

Suatu sore setelah memberikan kesaksian, Hendra mendatangiku.

—Saya berutang permintaan maaf kepada keluarga kalian.

Aku menatapnya lama.

Dulu mungkin aku akan membencinya.

Tetapi empat tahun kehilangan mengajariku bahwa kemarahan tidak selalu memberikan kembali apa yang telah dirampas.

—Anda memang meninggalkan suami saya ketika dia membutuhkan bantuan.

Hendra menunduk.

—Saya tahu.

—Tapi sekarang Anda punya kesempatan untuk melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan empat tahun lalu.

Ia mengangguk.

Dan ia melakukannya.

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan menemukan cukup bukti untuk menindak orang-orang yang terlibat dalam penggelapan dana.

Kematian suamiku juga tidak lagi dicatat sebagai kecelakaan biasa.

Aku menangis ketika menerima kabar itu.

Bukan karena semuanya tiba-tiba menjadi baik.

Suamiku tetap tidak akan pulang.

Empat tahun kehidupan kami tetap tidak dapat dikembalikan.

Tetapi setidaknya nama dan perjuangannya tidak lagi terkubur bersama sebuah kebohongan.

Ada satu hal lagi yang lebih penting bagiku.

Nisa.

Setelah semua keributan malam itu, kami mengetahui kehidupan yang dilaluinya selama bertahun-tahun.

Ibunya telah meninggal.

Perempuan tua yang merawatnya juga sudah tiada.

Kerabat yang menampungnya sebenarnya tidak mampu merawatnya dalam jangka panjang.

Suatu malam, Nisa makan malam di rumah kami.

Ia duduk di seberang Raka.

Keduanya bertengkar hanya karena potongan ayam terakhir.

—Aku yang lihat duluan! kata Raka.

—Tapi aku yang ambil duluan! jawab Nisa.

Aku memandangi mereka.

Entah mengapa, aku tertawa.

Sudah bertahun-tahun rumah itu terlalu sunyi.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak suamiku meninggal, meja makan kami terasa hidup lagi.

Setelah makan, Nisa membantuku mencuci piring.

Tiba-tiba ia bertanya:

—Tante Maya…

—Ya?

—Apakah saya harus pergi lagi?

Tanganku berhenti.

—Pergi ke mana?

Ia menunduk.

—Entahlah. Orang dewasa selalu bilang saya akan dipindahkan kalau sudah ada tempat.

Aku melihat anak itu.

Lalu melihat Raka yang berdiri diam di ambang pintu.

Aku tidak memberikan janji yang belum bisa kutepati.

Aku hanya memegang tangan Nisa.

—Apa pun yang terjadi, kali ini kamu tidak akan menghadapinya sendirian.

Beberapa bulan berikutnya kami menjalani proses yang panjang bersama pihak yang berwenang dan keluarga yang masih dapat dihubungi.

Pada akhirnya, dengan pengaturan pengasuhan yang sah dan persetujuan pihak terkait, Nisa bisa tinggal bersama kami.

Raka berpura-pura kesal ketika mendengarnya.

—Berarti kamar mandi sekarang tambah ramai?

Nisa langsung memukul lengannya dengan bantal.

—Aku juga tidak mau punya kakak cerewet!

Tetapi malam itu aku melihat Raka diam-diam memasang lampu kecil di meja belajar Nisa karena ia tahu gadis itu takut tidur dalam gelap.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Setahun berlalu.

Raka masih bekerja di laundry.

Namun sekarang hanya beberapa jam pada akhir pekan.

Dan kali ini, ia benar-benar menerima gajinya.

Suatu Sabtu sore, aku sedang memasak ketika mendengar suara bel dari depan rumah.

Aku keluar.

Raka berdiri di halaman sambil tersenyum lebar.

Di sampingnya ada sebuah sepeda.

Bukan laptop.

Aku mengernyit.

—Bukankah dulu kamu ingin membeli laptop?

Ia menggaruk kepala.

—Sudah berubah pikiran.

—Kenapa sepeda?

Nisa muncul dari belakangnya dengan sepeda bekas yang lebih kecil.

Barulah aku mengerti.

Raka membeli dua sepeda sederhana agar mereka bisa pergi ke sekolah dan perpustakaan bersama.

—Laptopnya bagaimana?

Raka tersenyum.

—Bisa nabung lagi.

Aku menahan air mata.

Dulu aku mengira anakku bekerja karena menginginkan sebuah barang.

Ternyata selama berbulan-bulan, yang ia cari bukan barang.

Ia mencari jawaban.

Ia mencari seseorang yang pernah coba dilindungi ayahnya.

Dan tanpa kusadari, ia sedang menyelesaikan sesuatu yang tidak sempat diselesaikan ayahnya.

Beberapa minggu kemudian, aku memutuskan melakukan sesuatu.

Aku mengambil sebagian uang yang akhirnya dikembalikan kepada keluarga korban setelah kasus itu selesai.

Bukan untuk membeli barang mewah.

Aku bekerja sama dengan pemilik laundry membuka sebuah program kecil bagi anak-anak dari keluarga pekerja berpenghasilan rendah.

Mereka bisa datang sepulang sekolah.

Ada buku.

Beberapa komputer bekas.

Makanan ringan.

Dan bantuan belajar gratis dari relawan.

Kami menamainya “Rumah Kedua”.

Di dinding tidak ada foto besar suamiku.

Aku tahu ia tidak akan menyukai itu.

Hanya ada sebuah kalimat sederhana:

“Kebaikan yang tidak sempat diselesaikan seseorang dapat dilanjutkan oleh orang lain.”

Pada hari pembukaan, Hendra datang.

Ia berdiri cukup jauh dari kami.

Raka menghampirinya.

—Om tidak masuk?

Hendra tersenyum canggung.

—Saya tidak tahu apakah saya pantas.

Raka terdiam beberapa detik.

Kemudian berkata:

—Ayah pasti marah kalau Om cuma berdiri di luar.

Hendra tertawa kecil.

Matanya basah.

Akhirnya ia masuk.

Aku menyadari sesuatu hari itu.

Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak pernah terjadi.

Memaafkan adalah memilih agar kesalahan itu tidak menentukan seluruh masa depan kami.

Dua tahun kemudian, Raka akhirnya membeli laptop yang dulu diinginkannya.

Laptop bekas.

Tidak mahal.

Ia membelinya dengan uangnya sendiri.

Saat membawanya pulang, aku bercanda:

—Butuh waktu hampir tiga tahun untuk membeli laptop ini.

Raka tertawa.

—Aku sibuk, Bu.

—Sibuk apa?

Nisa yang kini sudah menganggap dirinya adik kandungnya langsung menjawab:

—Sibuk jadi detektif!

Raka melempar bantal ke arahnya.

Rumah kami kembali penuh suara.

Aku tertawa bersama mereka.

Malam itu, setelah keduanya tidur, aku membuka kotak lama milik suamiku.

Di dalamnya masih ada foto kami bertiga ketika Raka masih kecil.

Aku menyentuh wajah suamiku dalam foto.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak bertanya mengapa ia meninggalkanku terlalu cepat.

Aku berkata pelan:

—Raka menyelesaikannya.

Aku tersenyum.

—Anak kita menyelesaikan apa yang tidak sempat kamu selesaikan.

Angin malam bergerak lembut dari jendela.

Dari kamar sebelah terdengar Nisa memprotes karena Raka mengambil charger laptopnya lagi.

Aku tertawa sambil menghapus air mata.

Dulu rumah ini hanya memiliki dua orang yang sama-sama mencoba bertahan setelah kehilangan seseorang.

Sekarang kami memiliki keluarga lagi.

Tidak sama seperti dahulu.

Tidak sempurna.

Tetapi hangat.

Dan cukup.

Keesokan paginya, aku melihat Raka dan Nisa mengayuh sepeda menuju sekolah.

Sebelum berbelok di ujung jalan, Raka menoleh dan melambaikan tangan kepadaku.

Pada saat itulah aku akhirnya memahami alasan suamiku mempertaruhkan begitu banyak hal untuk membantu seorang anak yang bahkan bukan keluarganya.

Karena keluarga tidak selalu dimulai dari darah.

Kadang keluarga dimulai ketika seseorang melihat orang lain sendirian dan memutuskan untuk tidak meninggalkannya.

Empat tahun lalu, suamiku membuat keputusan itu untuk Nisa.

Empat tahun kemudian, Raka menyelesaikannya.

Dan dari semua peninggalan yang diberikan ayahnya kepada anak kami, ternyata yang paling berharga bukan kartu memori, bukti, uang, atau sebuah rahasia.

Melainkan keberanian untuk melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Aku berdiri di depan rumah sampai kedua sepeda itu menghilang di ujung jalan.

Lalu aku menatap langit pagi dan tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak kematian suamiku, aku tidak merasa sedang mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Aku merasa sedang mengatakan:

—Lihatlah mereka. Mereka baik-baik saja.

Dan jauh di dalam hatiku, aku tahu perjalanan kami tidak lagi tentang kehilangan.

Ini tentang kehidupan yang berhasil tumbuh dari sesuatu yang pernah hampir menghancurkan kami.

Tentang seorang anak laki-laki yang berbohong soal gajinya bukan untuk membeli sesuatu bagi dirinya sendiri, tetapi untuk menyelesaikan janji ayahnya.

Tentang seorang anak perempuan yang akhirnya menemukan rumah.

Tentang seorang ibu yang akhirnya mengetahui kebenaran.

Dan tentang seorang ayah yang telah pergi, tetapi kebaikannya masih menemukan jalan untuk pulang.