Ketika Seluruh CCTV Mendadak Mati, Satu Rekaman Tersembunyi Membongkar Orang Dalam yang Sengaja Menjebak Adikku demi Menutupi Rahasia Hotel

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 438 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Ketika Seluruh CCTV Mendadak Mati, Satu Rekaman Tersembunyi Membongkar Orang Dalam yang Sengaja Menjebak Adikku demi Menutupi Rahasia Hotel

Semua monitor CCTV di belakang meja resepsionis mati secara bersamaan.

Layar demi layar berubah menjadi hitam.

Seluruh lobi mendadak sunyi.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku memasuki hotel itu, aku menyadari bahwa hilangnya cincin berlian mungkin bukan masalah sebenarnya.

Seseorang sedang berusaha menutupi sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku langsung menggenggam tangan adikku.

“Jangan hapus video apa pun.”

Direktur Operasional yang sejak tadi berdiri di dekat wanita pemilik cincin akhirnya bergerak.

“Semua orang tetap tenang. Mungkin hanya gangguan sistem.”

Aku menatapnya.

“Gangguan sistem yang terjadi tepat setelah kami menemukan rekaman yang hilang?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon satu nomor.

“Aktifkan prosedur pengamanan internal. Tutup akses keluar khusus karyawan dan manajemen. Jangan biarkan data server dihapus.”

Wajah Kepala Housekeeping berubah.

“Siapa sebenarnya Anda?”

Aku belum sempat menjawab ketika Direktur Operasional berkata dingin,

“Anda tidak memiliki wewenang untuk menutup hotel.”

Aku menatapnya.

“Benarkah?”

Kemudian aku mengirim satu pesan.

Tidak sampai dua menit, lift kembali terbuka.

Kali ini empat orang keluar.

Kepala audit internal, direktur hukum perusahaan, kepala keamanan pusat, dan sekretaris ayahku.

Begitu melihatku, mereka berhenti.

“Selamat datang kembali, Bu.”

Wajah orang-orang di lobi berubah seketika.

Adikku berdiri diam di sampingku.

Aku menatap semua orang yang tadi memperlakukannya seperti pencuri.

“Perkenalkan. Saya putri sulung pemegang saham pengendali jaringan hotel ini.”

Aku menunjuk adikku.

“Dan karyawan yang kalian geledah tanpa bukti itu adalah adik saya.”

Kepala Housekeeping langsung kehilangan warna di wajahnya.

Wanita pemilik cincin mundur setengah langkah.

Namun Direktur Operasional justru mengepalkan tangan.

Aku tidak memberinya kesempatan bicara.

“Kunci akses sistem keamanan. Salin semua log sebelum ada yang mengubahnya.”

Kepala keamanan pusat mengangguk.

“Sudah kami lakukan.”

Ternyata sistem CCTV hotel memiliki cadangan otomatis yang terpisah dari server lokal. Orang di hotel bisa menghapus tampilan utama, tetapi tidak bisa langsung menghapus cadangan tanpa otorisasi kantor pusat.

Kami pindah ke ruang keamanan.

Setelah hampir dua puluh menit, rekaman pukul 14.00 hingga 15.00 berhasil dipulihkan.

Semua orang berdiri mengelilingi layar.

Pukul 14.06, adikku masuk ke kamar VIP bersama seorang staf housekeeping senior.

Mereka membawa handuk dan air mineral.

Empat menit kemudian, keduanya keluar.

Pukul 14.13, koridor kosong.

Lalu pukul 14.16, pintu akses khusus staf terbuka.

Seorang pria bertopi muncul.

Dia menggunakan gelang akses hitam.

Pria itu masuk ke kamar VIP menggunakan kartu cadangan.

Tiga menit kemudian dia keluar.

Kepala keamanan memperbesar gambar.

Ketika pria itu menoleh, wajahnya terlihat.

Kepala Housekeeping tiba-tiba mundur.

“Itu… bukan saya.”

Tak seorang pun bertanya kepadanya.

Aku perlahan menoleh.

“Menarik. Tidak ada yang mengatakan itu Anda.”

Keringat muncul di dahinya.

Adikku menggenggam lenganku.

“Kak…”

Kepala keamanan memeriksa nomor gelang akses.

Kemudian dia berkata,

“Gelang itu terdaftar atas nama Kepala Housekeeping.”

Ruangan langsung sunyi.

Pria itu panik.

“Gelang saya hilang dua hari lalu!”

“Apakah Anda melaporkannya?” tanyaku.

Dia terdiam.

“Tidak.”

Kami melanjutkan rekaman.

Pukul 14.27, orang yang sama masuk ke tangga darurat.

Kamera di sana menangkap wajahnya lebih jelas.

Bukan Kepala Housekeeping.

Melainkan asisten pribadi Direktur Operasional.

Semua pandangan langsung beralih.

Direktur Operasional membentak,

“Jangan menatap saya! Saya tidak tahu apa yang dilakukan orang itu!”

Wanita pemilik cincin mulai gelisah.

“Aku mau pergi.”

Aku menghalanginya.

“Cincin Anda belum ditemukan.”

“Aku tidak peduli lagi!”

“Tadi Anda mengatakan nilainya hampir dua miliar rupiah.”

Wajahnya menegang.

Aku meminta petugas keamanan memutar rekaman kamera lain.

Pukul 13.48, sebelum adikku masuk ke kamar, kamera lift merekam wanita itu berbicara dengan asisten Direktur Operasional.

Kemudian dia menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya.

Kotak perhiasan.

Adikku menutup mulut.

Aku akhirnya memahami semuanya.

Tidak pernah ada pencurian.

Cincin itu sengaja dikeluarkan dari kamar sebelum adikku masuk.

Tetapi pertanyaannya adalah: mengapa?

Aku menatap Direktur Operasional.

“Menjebak seorang staf biasa dengan tuduhan mencuri cincin dua miliar rupiah hanya untuk memecatnya?”

“Bukankah itu terlalu rumit?”

Tidak ada jawaban.

Saat itulah adikku berkata pelan,

“Mungkin bukan karena cincin.”

Dia membuka ponselnya.

“Seminggu lalu aku menemukan sesuatu.”

Ternyata ketika membantu bagian administrasi menyusun tagihan vendor, dia menemukan pembayaran rutin kepada tiga perusahaan pemasok.

Jumlahnya tidak terlalu besar jika dilihat satu per satu.

Namun pembayaran dilakukan hampir setiap bulan selama dua tahun.

Masalahnya, ketiga perusahaan memiliki alamat kantor yang sama.

Adikku curiga.

Dia kemudian membandingkan faktur dengan barang yang benar-benar masuk ke hotel.

Ada selisih besar.

Sabun, perlengkapan kamar, linen, makanan, hingga biaya perawatan tercatat dibeli dalam jumlah jauh lebih banyak daripada yang benar-benar diterima.

Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.

“Aku belum sempat melapor,” kata adikku.

“Tapi tiga hari lalu seseorang masuk ke lokerku.”

Aku menatap Direktur Operasional.

Kini wajahnya benar-benar pucat.

Kepala audit internal langsung meminta data vendor.

Lima belas menit kemudian, dia menemukan sesuatu.

Salah satu perusahaan pemasok terdaftar atas nama saudara Kepala Housekeeping.

Perusahaan kedua terhubung dengan asisten Direktur Operasional.

Sedangkan perusahaan ketiga…

Kepala audit berhenti bicara.

Aku bertanya,

“Milik siapa?”

Dia memutar laptop ke arahku.

Nama pemilik manfaat akhirnya terlihat.

Wanita yang sejak tadi mengaku kehilangan cincin.

Ruangan seketika membeku.

Wanita itu langsung berkata,

“Aku tidak tahu apa-apa!”

Namun kali ini Direktur Operasional justru menatapnya tajam.

“Kamu bilang perusahaan itu sudah ditutup!”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dia langsung menyadari kesalahannya.

Terlambat.

Aku tersenyum tipis.

“Jadi Anda memang tahu.”

Dia mencoba berjalan menuju pintu.

Kepala keamanan menghalanginya.

“Mohon tetap di ruangan.”

Direktur Operasional membentak,

“Kalian tidak bisa menahan saya!”

Aku menjawab tenang,

“Kami tidak perlu menahan Anda.”

Aku menunjukkan ponselku.

“Polisi sudah dalam perjalanan.”

Wanita itu tiba-tiba menangis.

“Aku hanya diminta membantu!”

Dia menunjuk Direktur Operasional.

“Semua ini idenya!”

Direktur Operasional langsung membalas,

“Jangan bohong! Kamu yang bilang gadis itu harus disingkirkan sebelum audit!”

Kepala Housekeeping ikut panik.

“Saya cuma meminjamkan gelang! Saya tidak tahu mereka akan menuduhnya mencuri!”

Dalam hitungan detik, mereka mulai saling menyalahkan.

Namun di tengah kekacauan itu, adikku tiba-tiba menarik tanganku.

“Kak, tunggu.”

Dia menatap rekaman di layar.

“Orang yang masuk kamar itu keluar membawa kotak cincin.”

“Kalau begitu… sekarang cincin tersebut berada di mana?”

Kepala keamanan segera memeriksa rekaman berikutnya.

Kami mengikuti pergerakan asisten Direktur Operasional dari kamera ke kamera.

Koridor.

Tangga darurat.

Area kantor.

Gudang.

Kemudian parkiran bawah tanah.

Pukul 14.39, dia terlihat membuka bagasi sebuah mobil hitam dan memasukkan sesuatu ke dalamnya.

Kepala keamanan memperbesar nomor kendaraan.

Wajahnya berubah.

Aku bertanya,

“Mobil siapa?”

Dia menatapku beberapa detik sebelum menjawab.

“Mobil itu terdaftar sebagai kendaraan operasional kantor pusat.”

Aku mengernyit.

“Siapa yang menggunakannya?”

Kepala keamanan menelan ludah.

“Sekretaris pribadi ayah Anda.”

Aku perlahan menoleh.

Sekretaris ayahku yang sejak tadi berdiri di belakang kami sudah tidak ada di ruangan.

Pintu darurat terbuka.

Dan alarm dari parkiran bawah tanah tiba-tiba berbunyi.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)