BAGIAN 2 — Kunci Lama Membuka Rahasia Lantai Terlarang, Saat Arman Menyadari Pengkhianatan Terbesar Justru Datang dari Orang yang Paling Dipercayainya
Arman masih menatap kunci kuningan kecil di telapak tangan Kirana ketika suara lift berhenti di lantai 52.
Ding!
Suara itu terdengar begitu pelan, tetapi bagi Arman, rasanya seperti dentang peringatan yang membangunkan masa lalu yang selama delapan tahun berusaha ia kubur.
—Pak Arman, jangan naik sendirian, kata kepala keamanan yang baru berlari menghampiri.
Arman tidak menjawab. Ia mengambil kunci dari tangan Kirana, lalu menatap Sari.
—Bawa putrimu ke ruangan yang aman. Jangan keluar sebelum aku kembali.
Namun Kirana tiba-tiba menarik ujung jasnya.
—Om, tunggu.
Arman menoleh.
—Ada satu hal lagi.
—Apa?
Kirana mengerutkan kening seolah sedang mengingat sesuatu.
—Waktu aku menemukan alat perekam, aku mendengar seseorang berkata, “Jangan biarkan Arman membuka brankas sebelum pukul sembilan.”
Jantung Arman berdegup keras.
Besok pukul sembilan adalah waktu penandatanganan kontrak.
Berarti apa pun yang tersimpan di lantai 52 berkaitan langsung dengan perjanjian itu.
Arman segera memerintahkan dua petugas keamanan mengawasi Sari dan Kirana. Lalu bersama kepala keamanan, ia masuk ke lift lain dan menekan angka 52.
Selama lift bergerak naik, kenangan tentang ayahnya kembali memenuhi pikirannya.
Delapan tahun lalu, beberapa minggu sebelum meninggal, ayahnya pernah mengatakan sesuatu yang tidak dipahami Arman.
“Perusahaan besar tidak selalu runtuh karena pesaing. Kadang-kadang ia runtuh karena seseorang di meja makanmu sendiri.”
Saat itu Arman menganggap ayahnya hanya sedang sakit dan terlalu curiga.
Sekarang kalimat tersebut terdengar seperti peringatan.
Pintu lift terbuka.
Lantai 52 gelap dan sunyi.
Debu menutupi koridor yang bertahun-tahun tidak digunakan. Namun ada sesuatu yang aneh.
Jejak sepatu baru terlihat di lantai.
Seseorang memang baru saja lewat.
Arman mengikuti jejak itu sampai ke sebuah pintu kayu besar.
Pintu terbuka sedikit.
Ia mendorongnya.
Di dalam ruangan, seorang pria berdiri membelakanginya.
Raka.
Adik laki-lakinya.
Di hadapan Raka terdapat sebuah brankas tua yang tertanam di dinding.
—Berbalik, Raka.
Pria itu perlahan menoleh.
Anehnya, tidak ada kepanikan di wajahnya.
Ia justru tersenyum.
—Akhirnya Kakak datang juga.
Arman mengepalkan tangan.
—Kembalikan ponsel Sari.
Raka meletakkan ponsel itu di atas meja.
—Kakak masih memikirkan ponsel seorang pegawai saat seluruh perusahaan kita sedang dipertaruhkan?
—Apa yang kau lakukan?
Raka tertawa pendek.
—Pertanyaan itu seharusnya Kakak tanyakan delapan tahun lalu.
Arman menatapnya tajam.
Raka menunjuk brankas.
—Kakak tahu kenapa Ayah mengunci lantai ini?
—Karena ada sesuatu di dalam brankas.
—Benar. Sesuatu yang bisa mengubah siapa pemilik sebenarnya perusahaan ini.
Arman terdiam.
Raka melangkah mendekat.
Selama bertahun-tahun, Raka selalu menjadi orang yang paling dipercaya Arman. Ketika Arman memperluas bisnis keluarga, Raka menangani urusan internal. Ia memiliki akses terhadap kontrak, sistem keamanan, bahkan rapat rahasia.
—Kakak selalu mendapatkan semuanya, kata Raka. —Kursi direktur utama. Rumah keluarga. Kepercayaan Ayah. Bahkan ketika aku bekerja dua kali lebih keras, aku tetap hanya disebut “adik Arman”.
—Jadi kau memalsukan transaksi perusahaan?
Raka tersenyum tipis.
—Lebih besar daripada itu.
Ia menjelaskan bahwa selama hampir dua tahun, dirinya bersama manajer hotel dan beberapa orang di bagian administrasi diam-diam mengubah sejumlah data perusahaan. Kontrak yang akan ditandatangani besok dirancang sedemikian rupa sehingga setelah pengalihan saham dilakukan, kendali perusahaan perlahan akan berpindah ke perusahaan investasi yang ternyata terhubung dengannya melalui beberapa perusahaan perantara.
Arman merasa darahnya mendidih.
—Kau akan menghancurkan perusahaan yang dibangun Ayah?
—Aku akan mengambil bagian yang seharusnya menjadi milikku.
—Dengan mencuri?
Wajah Raka mengeras.
—Jangan bicara seolah Kakak selalu lebih pantas!
Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari koridor.
Manajer yang tadi menghilang muncul di ambang pintu.
Di tangannya ada alat perekam.
—Pak Raka, kita harus pergi. Polisi mungkin segera datang.
Arman menoleh kepada kepala keamanan.
Namun sebelum siapa pun bergerak, Raka mengangkat tangan.
—Tidak perlu membuat keributan. Kakak tidak punya bukti lengkap.
Ia menunjuk alat perekam.
—Dan sebentar lagi benda itu juga akan hilang.
Manajer mengangkat alat tersebut, bersiap menghancurkannya.
Tetapi sebuah suara kecil tiba-tiba terdengar dari belakang.
—Kalau dihancurkan juga tidak apa-apa.
Semua orang menoleh.
Kirana berdiri di koridor bersama Sari dan dua petugas keamanan.
—Kirana! seru Sari.
Gadis kecil itu mengangkat sebuah buku cerita.
—Aku sudah menyimpan suaranya.
Semua orang membeku.
Ternyata ketika pertama kali menemukan alat perekam, Kirana sempat menekan beberapa tombol karena mengira benda itu pemutar musik. Alat tersebut terhubung otomatis melalui Bluetooth ke tablet lama milik Sari yang berada di dalam tas Kirana. Sebagian rekaman telah tersalin sebelum perangkat terputus.
Wajah manajer langsung kehilangan warna.
Raka menatap Kirana dengan tidak percaya.
Namun Arman justru melihat sesuatu yang lain.
Kirana sedang menatap brankas.
—Om Arman, katanya pelan. —Gambar di kunci itu sama dengan gambar di sana.
Ia menunjuk sebuah ukiran kecil pada sisi brankas.
Arman mendekat.
Benar.
Ada lubang kunci tersembunyi di balik ornamen logam.
Tangannya gemetar ketika memasukkan kunci kuningan peninggalan ayahnya.
Klik.
Brankas terbuka.
Di dalamnya tidak ada uang.
Tidak ada emas.
Hanya sebuah kotak kayu, beberapa buku catatan lama, sebuah penyimpanan data kecil, dan sebuah amplop tebal bertuliskan:
“Untuk kedua putraku.”
Raka terdiam.
Arman membuka surat itu.
Tulisan tangan ayah mereka masih jelas.
“Jika kalian membaca surat ini bersama-sama, berarti ketakutanku menjadi kenyataan. Salah satu dari kalian mungkin telah membiarkan rasa iri menghancurkan persaudaraan.”
Arman melanjutkan membaca.
Ayah mereka ternyata telah mengetahui sejak lama bahwa Raka merasa diperlakukan tidak adil.
Namun kalimat berikutnya membuat keduanya terpaku.
“Aku tidak mewariskan perusahaan hanya kepada Arman.”
Raka mengangkat kepala.
Arman membaca lebih cepat.
Sang ayah sebenarnya telah menyiapkan kepemilikan terpisah untuk Raka: beberapa aset dan saham yang nilainya sangat besar. Namun warisan itu ditahan karena sang ayah menemukan bukti bahwa seseorang mulai memengaruhi Raka untuk mengambil kendali perusahaan melalui cara ilegal.
Nama orang tersebut tersimpan dalam penyimpanan data di dalam kotak.
Arman memasukkannya ke laptop lama di ruangan itu.
Sebuah video muncul.
Ayah mereka terlihat duduk di ruang kerja.
“Arman, Raka, jika kalian melihat ini, jangan saling menghancurkan sebelum mengetahui siapa yang sejak awal mengadu domba kalian.”
Kemudian sebuah nama muncul di layar.
Arman membeku.
Raka mundur dua langkah.
Karena orang yang selama bertahun-tahun meyakinkan Raka bahwa Arman telah mencuri seluruh warisannya ternyata bukan orang asing.
Ia adalah pengacara keluarga mereka sendiri.
Dan kontrak yang akan ditandatangani besok pukul sembilan…
juga disusun oleh pengacara yang sama.
Namun sebelum video selesai diputar, terdengar bunyi keras dari belakang.
Manajer hotel tiba-tiba mendorong salah satu petugas keamanan dan berlari menuju tangga darurat.
Sambil berlari, ia berteriak:
—Kalian terlambat! Dokumen aslinya sudah tidak ada di gedung ini!
Arman mengejarnya sampai pintu tangga.
Tetapi Raka tiba-tiba berkata:
—Kak, jangan!
Arman berhenti.
Raka berdiri pucat di depan laptop.
—Aku tahu dokumen itu dibawa ke mana.
Arman menatap adiknya.
Raka menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya malam itu, kesombongan di wajahnya menghilang.
—Dan kalau kita tidak mendapatkannya sebelum pukul sembilan besok pagi, bukan hanya perusahaan yang akan hilang.
Ia menatap Kirana dan Sari.
—Semua orang yang mengetahui rahasia ini juga akan berada dalam bahaya.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
