Malam Sebelum Ujian Masuk Kuliah, Ayah Tiriku Menyuruhku Kabur dengan Rp2,5 Miliar lalu Mengatakan Ibuku Bukan Ibu Kandungku

Avatar penulis
Cerita 01
28 menit baca 844 tayangan
Malam Sebelum Ujian Masuk Kuliah, Ayah Tiriku Menyuruhku Kabur dengan Rp2,5 Miliar lalu Mengatakan Ibuku Bukan Ibu Kandungku
Indeks

Malam Sebelum Ujian Masuk Kuliah, Ayah Tiriku Menyuruhku Kabur dengan Rp2,5 Miliar lalu Mengatakan Ibuku Bukan Ibu Kandungku

Bagian 1

Malam sebelum ujian masuk perguruan tinggi, Dimas memanggilku ke ruang kerjanya. Selama lima tahun menjadi ayah tiriku, biasanya ia hanya memanggil namaku kalau ada sesuatu yang salah.

Karena itu ketika ia berkata, “Nara, masuk sebentar,” tubuhku langsung menegang.

Aku berdiri di depan meja, menunggu bentakan atau telapak tangannya mengenai meja seperti yang sudah berkali-kali terjadi. Selama lima tahun aku belajar membaca suasana rumah dari bunyi langkahnya, cara pintu dibuka, bahkan dari seberapa keras ia meletakkan kunci mobil.

Malam itu berbeda.

Lampu utama tidak dinyalakan. Dimas hanya duduk di bawah cahaya lampu meja, dengan wajah yang tampak jauh lebih tua daripada biasanya.

Di depannya ada kartu ATM dan tiket kereta menuju Surabaya.

“Di rekening itu ada Rp2,5 miliar,” katanya.

Aku mengira salah dengar.

Malam Sebelum Ujian Masuk Kuliah, Ayah Tiriku Menyuruhku Kabur dengan Rp2,5 Miliar lalu Mengatakan Ibuku Bukan Ibu Kandungku

Dimas mendorong kartu itu ke arahku.

“Kereta berangkat besok jam tujuh pagi. Kamu pergi. Jangan kembali ke rumah ini.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Aneh, tetapi kalimat itu tidak membuatku sedih.

Yang kurasakan justru lega.

Lima tahun terakhir aku berkali-kali membayangkan bagaimana rasanya keluar dari rumah itu tanpa harus kembali. Dimas mudah marah, sering memperlakukanku seolah keberadaanku adalah beban, dan beberapa kali kekasarannya meninggalkan ketakutan yang tidak hilang hanya karena pagi sudah datang.

Aku mengambil kartu dan tiket itu.

“Baik.”

“Masih ada satu hal.”

Tanganku berhenti.

Dimas menatapku. Untuk pertama kalinya, tidak ada kemarahan di matanya.

Yang ada justru sesuatu yang hampir tidak pernah kulihat dari dirinya.

Rasa bersalah.

“Mira bukan ibu kandungmu.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

Mira adalah perempuan yang kupanggil Mama sejak aku bisa bicara. Ia yang mengurus sekolahku, menghadiri pembagian rapor, memilih pakaian untuk ulang tahunku, dan marah kalau aku pulang terlambat.

“Apa?”

“Perempuan yang selama ini kamu panggil Mama bukan ibu yang melahirkanmu.”

Aku memegang ujung meja.

Dimas menarik napas.

“Dan satu lagi. Sebagian besar yang kamu lihat selama lima tahun terakhir, cara aku memperlakukanmu di depan Mira, sengaja kulakukan supaya dia percaya aku tidak peduli padamu.”

Dadaku mendadak sesak.

Aku menatapnya.

“Jadi semua itu sandiwara?”

Wajahnya berubah.

“Tidak sesederhana itu.”

“Tapi Bapak bilang tadi sengaja.”

“Aku bilang sebagian besar dilakukan supaya dia percaya.” Suaranya rendah. “Aku tidak bilang apa yang kulakukan menjadi benar.”

Kalimat itu justru membuatku semakin bingung.

“Kenapa?”

Dimas berdiri.

“Ibu kandungmu masih hidup.”

Ruangan seolah mengecil.

Aku tidak mampu menjawab.

Dimas melanjutkan, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

“Kalau besok kamu masih berada di rumah ini, dia berada dalam bahaya serius. Aku tidak sedang menakut-nakutimu, Nara.”

Aku menelan ludah.

“Bahaya seperti apa?”

“Jangan tanya sekarang.”

“Bapak baru bilang seluruh hidupku bohong, lalu menyuruhku jangan tanya?”

“Aku tahu.”

“Siapa nama ibu kandungku?”

Dimas menutup mata sebentar.

“Aku belum bisa mengatakannya.”

Aku tertawa pendek, bukan karena lucu.

“Kenapa? Karena nanti aku akan tahu kalau semua ini bohong juga?”

Ia tidak membalas.

Sebaliknya, Dimas mengambil tiket dan kartu ATM tadi, memasukkannya ke dalam tanganku, lalu menggenggam tanganku sampai aku terpaksa memegang keduanya.

“Besok pagi keluar sebelum Mira bangun. Jangan bawa barang yang tidak perlu. Jangan memberi tahu teman, guru, atau siapa pun tujuanmu.”

“Ujianku?”

“Lupakan untuk sementara.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Aku belajar hampir setahun untuk ujian itu. Aku bahkan menempel jadwal belajar di belakang pintu kamar.

“Bapak tahu ujian itu penting buatku.”

“Aku tahu.”

“Lalu sekarang saya harus membuang semuanya karena satu kalimat Bapak?”

“Nara.”

Dimas menatapku lurus.

“Kalau pilihan kita cuma antara ujian dan membuatmu tetap hidup serta memberi kesempatan ibu kandungmu keluar dari masalah ini, ujian bisa diambil lagi tahun depan.”

Kata-kata itu membuat tengkukku dingin.

Aku memasukkan tiket dan kartu ke saku.

“Kalau Mira tanya?”

“Katakan kamu muak tinggal denganku dan memutuskan pergi.”

“Dia akan percaya?”

“Setelah lima tahun ini, iya.”

Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang membuatku ingin muntah.

Selama ini Dimas memang selalu memperlakukanku paling buruk ketika Mira berada di dekat kami.

Aku pernah menganggapnya kebetulan.

Sekarang aku tidak tahu harus menganggapnya apa.

“Aku mau tahu nama ibu kandungku.”

“Nanti.”

“Bapak selalu bilang nanti.”

“Kalau besok kamu sudah berada di tempat aman, aku akan mencari cara menjelaskan semuanya.”

Aku kembali ke kamar dengan kepala berdenyut.

Aku tidak berkemas banyak.

Dua kaus, satu celana panjang, pakaian dalam, charger, dompet, dan map kecil berisi fotokopi dokumen sekolah kumasukkan ke dalam ransel.

Barang-barang lain kutinggalkan.

Aku duduk di tepi tempat tidur sampai lewat tengah malam.

Mira tidur di kamar ujung lorong. Tidak terdengar apa pun dari sana.

Aku memandang pintu kamar dan mengingat delapan belas tahun hidup bersamanya.

Kalau Dimas berkata benar, berarti aku bahkan tidak tahu siapa perempuan yang selama ini memelukku saat kecil.

Lebih buruk lagi, aku tidak tahu kenapa ibu kandungku harus berada dalam bahaya hanya karena aku masih tinggal di rumah ini.

Pukul lima pagi aku keluar.

Dimas ternyata belum tidur.

Ia duduk di sofa ruang keluarga dengan secangkir kopi yang sudah dingin.

Ketika melihatku, ia mengambil sebuah ponsel lama dari meja.

“Pakai ini.”

“Nomor siapa?”

“Kartu baru.”

Aku menerimanya.

“Aku tidak akan menghubungimu dari nomor biasa.”

Aku mengangguk.

Saat tanganku sudah menyentuh gagang pintu, aku berhenti.

“Pak.”

Dimas menoleh.

“Nama ibu saya.”

Ia diam cukup lama sampai aku mengira ia tetap tidak akan menjawab.

Namun akhirnya ia berkata, “Begitu kamu aman, kamu akan tahu.”

Jawaban itu membuatku kesal, tetapi aku tidak punya waktu berdebat.

Aku keluar.

Udara Bandung masih dingin, jalan kompleks belum ramai. Aku berjalan beberapa ratus meter sebelum memesan kendaraan dari depan minimarket supaya tidak ada pengemudi yang mengambilku langsung dari rumah.

Sekitar pukul enam aku sudah berada di stasiun.

Barulah saat duduk di ruang tunggu aku menyalakan ponsel lama pemberian Dimas.

Ada satu pesan dari nomor yang tidak kusimpan.

“Begitu kereta bergerak, periksa lapisan dalam ranselmu.”

Aku langsung membuka tas.

Di balik jahitan kecil pada lapisan bagian belakang, jariku menemukan benda keras.

Sebuah flashdisk.

Aku memandang benda itu lama.

Sebelum sempat memeriksa isinya, panggilan naik kereta diumumkan.

Aku masuk, menemukan kursiku, lalu duduk di dekat jendela.

Kereta mulai bergerak.

Peron perlahan tertinggal.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa jarak antara diriku dan rumah itu benar-benar bertambah.

Aku menyandarkan kepala.

Lalu ponsel di tanganku bergetar.

Pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal muncul.

Cuma tiga kata.

“Berani juga kabur.”

Aku langsung duduk tegak.

Tidak ada nama pengirim, tetapi aku tahu siapa yang biasa menggunakan nada seperti itu.

Mira.

Bagaimana dia bisa tahu?

Aku memeriksa ransel, jaket, bahkan sepatu. Tidak ada benda aneh yang kutemukan.

Aku mematikan ponsel beberapa detik, lalu menyalakannya lagi karena panik ingin menghubungi Dimas.

Nomornya tidak aktif.

Aku menggunakan kartu SIM lamaku yang selama ini kusimpan sebagai cadangan dan memasangnya ke ponsel pribadiku.

Puluhan pesan masuk.

Teman sekelasku bertanya apakah aku siap ujian.

Wali kelasku mengirim semangat.

Aku tidak membalas satu pun.

Aku menelepon Dimas.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.”

Aku mencoba lagi.

Tetap sama.

Akhirnya aku mengirim beberapa pesan.

“Mira tahu saya pergi.”

“Dia mengirim ancaman.”

“Saya harus bagaimana?”

“Siapa ibu kandung saya?”

“Dia ada di mana?”

Tidak ada balasan.

Kereta terus melaju.

Aku memandang nama-nama stasiun di aplikasi dan mulai berpikir.

Tiket ini menuju Surabaya.

Kalau Mira benar-benar punya cara mengetahui aku pergi, tujuan akhir di tiket mungkin tidak lagi aman.

Aku teringat sesuatu yang membuat rasa takutku bertambah.

Paman Mira pernah menjadi pejabat di lingkungan kepolisian daerah. Sejak kecil aku mendengar keluarga besar membicarakannya seolah nama itu bisa membuka pintu yang biasanya tertutup.

Entah seberapa besar pengaruhnya sekarang, aku tidak berniat mengujinya.

Aku mencoba menyusun semua yang dikatakan Dimas.

Kalau ia benar-benar berpura-pura membenciku selama bertahun-tahun supaya Mira percaya, berarti ada sesuatu yang ia takutkan dari istrinya sendiri.

Dan kalau Mira memang percaya aku membenci Dimas, kepergianku dari rumah akan terlihat masuk akal.

Mungkin itu sebabnya Dimas membiarkan hubungan kami terlihat buruk begitu lama.

Tapi pikiran itu tidak membuatku memaafkannya.

Sandiwara atau bukan, akulah yang hidup di dalamnya.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor baru.

Dimas.

“Jangan gunakan nomor yang terhubung dengan identitasmu untuk menghubungiku lagi. Tiket Surabaya cuma pengalih perhatian. Turun di stasiun berikutnya. Keluar dari area stasiun, naik bus antarkota dan bayar tunai menuju Purwokerto. Setelah sampai, pergi ke RSUD Tidarwangi dan cari dokter bernama Ratna Lestari. Berikan flashdisk itu kepadanya.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku membaca pesan Dimas tiga kali.

Stasiun berikutnya tinggal sekitar dua puluh menit.

Tanganku dingin ketika memasukkan ponsel ke tas. Aku tidak tahu apakah mengikuti petunjuk Dimas adalah keputusan cerdas atau justru membawaku lebih dalam ke sesuatu yang tidak kupahami.

Namun kembali ke rumah jelas bukan pilihan.

Begitu kereta berhenti, aku turun bersama penumpang lain.

Aku tidak langsung mencari kendaraan. Aku duduk di warung kecil di luar stasiun, membeli air mineral, lalu mengingat kembali pesan Mira.

Barulah aku sadar ponsel lama dari Dimas masih memiliki akun WhatsApp yang sudah aktif sebelum diberikan kepadaku.

SIM-nya boleh baru, tetapi aplikasinya tidak benar-benar baru.

Aku mematikan ponsel itu sepenuhnya.

Perjalanan bus menuju Purwokerto membuat kepalaku penuh pertanyaan.

Aku bahkan tidak membuka kartu ATM berisi Rp2,5 miliar itu melalui mobile banking. Jumlah sebesar itu membuatku takut menyentuhnya. Aku menggunakan uang tunai dari dompetku sendiri untuk tiket bus dan makan.

Menjelang sore aku tiba di Purwokerto.

RSUD Tidarwangi tidak terlalu besar. Di meja informasi aku hanya berkata ingin bertemu dr. Ratna Lestari dan diminta menunggu karena ia masih menangani pasien.

Hampir empat puluh menit kemudian seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan menghampiriku.

“Nara?”

Aku berdiri.

“Dokter Ratna?”

Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke ranselku.

“Dimas bilang kamu membawa sesuatu.”

Aku mengeluarkan flashdisk.

Dokter Ratna tidak mengambilnya di lorong.

Ia membawaku ke ruangan konsultasi kecil, menutup pintu, lalu menyalakan komputer yang tidak terhubung ke jaringan rumah sakit.

“Dimas meminta saya tidak membuka ini sebelum kamu datang.”

“Dokter kenal dia?”

“Tidak lama.”

Jawaban itu membuatku semakin waspada.

“Lalu kenapa saya harus percaya?”

Ratna mengangguk kecil.

“Kamu tidak harus percaya saya sekarang.”

Ia memasukkan flashdisk.

Di dalamnya hanya ada satu folder.

Nama folder itu: NARA.

File pertama adalah hasil pemindaian dokumen lama dari rumah sakit bersalin delapan belas tahun lalu.

Aku memperbesar bagian nama ibu.

Laras Wening Prameswari.

Bukan Mira Larasati.

Aku membaca lagi.

Tanggal lahir bayi sama persis dengan tanggal lahirku.

Jenis kelamin sama.

Berat lahir, lokasi rumah sakit, semuanya ada.

“Apa ini asli?”

“Saya tidak bisa menyatakan dokumen itu asli hanya dari hasil pindai,” kata Ratna. “Tetapi saya sudah melihat salinan arsip yang cocok dengan data di sini.”

Aku menatapnya.

“Jadi Laras Wening itu…”

“Ibu kandungmu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menggenggam ujung kursi.

“Dia hidup?”

Ratna tidak segera menjawab.

Ia membuka file kedua.

Bukan foto dramatis atau rekaman rahasia.

Hanya rangkaian salinan pembayaran ke sebuah rumah tinggal pendampingan di luar kota, dilakukan selama bertahun-tahun dari rekening milik Mira.

Nama penerima manfaat di catatan administrasinya menggunakan nama lain.

Tetapi di kolom kontak keluarga tercantum inisial L.W.P.

“Apa hubungan Mira dengan Laras?”

“Mereka kakak beradik.”

Aku memejamkan mata.

Perempuan yang selama ini kupanggil Mama ternyata kakak dari ibu kandungku sendiri.

“Kenapa Ibu Laras berada di tempat seperti itu?”

“Itu bagian yang sebaiknya kamu dengar dari beliau.”

Aku membuka mata.

“Dia di sini?”

“Tidak di rumah sakit ini.”

“Di mana?”

Ratna kembali diam.

Aku mulai kehilangan kesabaran.

“Semua orang terus bilang nanti. Dimas bilang nanti. Sekarang Dokter juga begitu. Saya sudah meninggalkan ujian, rumah, dan seluruh hidup saya pagi ini. Saya bahkan tidak tahu apakah perempuan yang mengejar saya itu ibu, bibi, atau seseorang yang mau mencelakai saya. Tolong jangan suruh saya menunggu lagi.”

Ratna menatapku beberapa detik.

Lalu ia mengangguk.

“Baik.”

Ia membuka laci dan mengeluarkan amplop.

“Ibu Laras sekarang tinggal di sebuah rumah pendampingan sekitar empat puluh menit dari sini. Beberapa minggu lalu dia meminta bantuan setelah tahu seseorang berencana memindahkannya lagi.”

“Siapa?”

Ratna mengeluarkan fotokopi sebuah surat administrasi.

Ada nama orang yang diberi kewenangan mengurus pemindahan.

Mira Larasati.

Tanggalnya besok.

Pukul sepuluh pagi.

Aku membaca nama itu sampai huruf-hurufnya seperti bergerak di atas kertas.

“Apa yang terjadi kalau dia dipindahkan?”

“Saya tidak tahu,” kata Ratna. “Dan karena itu saya tidak akan mengarang jawaban.”

Ia menunjuk lembar berikutnya.

“Tapi ada hal yang saya tahu. Ibu Laras secara tertulis mencabut persetujuannya untuk dipindahkan. Dia juga meminta agar kamu diberi tahu keberadaannya kalau suatu hari kamu datang.”

Dadaku berdebar.

“Berarti saya bisa menemuinya?”

Ratna mengangguk.

“Kalau kamu siap.”

Aku belum sempat menjawab ketika ponsel pribadiku, yang sejak tadi dalam mode pesawat, kembali kunyalakan untuk melihat jam.

Ada satu pesan masuk sebelum koneksi kututup lagi.

Pesan dari Mira.

“Nara, pulanglah. Kita perlu bicara seperti ibu dan anak sebelum orang lain merusak semuanya.”

Di bawahnya ada pesan kedua.

“Dan jangan percaya Dimas. Tanya dia dari mana Rp2,5 miliar yang dia berikan kepadamu.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku menunjukkan pesan itu kepada Ratna.

Ia membacanya tanpa mengomentari isinya.

“Ada satu hal yang harus saya lakukan dulu,” katanya. “Ponsel yang diberikan Dimas tadi masih bersamamu?”

Aku mengeluarkannya.

Ratna tidak menyentuh perangkat itu.

“Dimas pernah bilang ponsel tersebut dipakai bersama dalam urusan rumah tangga?”

Aku mengingat-ingat.

Ponsel itu memang model lama yang pernah kulihat tergeletak di meja kerja Dimas. Beberapa tahun sebelumnya, Mira juga pernah menggunakannya ketika ponselnya diperbaiki.

Aku mengangguk.

Ratna berkata, “Kalau akun lama masih terhubung ke aplikasi tertentu, mengganti kartu SIM saja belum tentu memutus akses.”

Aku teringat pesan “Berani juga kabur.”

Jadi mungkin Mira tidak perlu mengetahui kartu SIM baruku.

Ia hanya perlu tahu akun apa yang masih aktif di ponsel itu.

Aku mematikan perangkat tersebut lagi dan memasukkannya ke dalam tas.

“Kalau begitu dia mungkin tahu saya di Purwokerto.”

“Jangan langsung berasumsi sejauh itu. Tetapi untuk sementara, jangan gunakan perangkat tersebut.”

Aku menatap amplop di meja.

“Saya ingin bertemu ibu saya.”

Perjalanan menuju rumah pendampingan berlangsung hampir satu jam karena lalu lintas sore.

Tempat itu berada di jalan kecil, jauh dari pusat kota. Bentuknya tidak seperti rumah sakit. Hanya rumah dua lantai dengan halaman, beberapa kursi panjang, dan papan nama sederhana.

Ratna berbicara terlebih dahulu dengan staf.

Aku menunggu di teras.

Selama beberapa menit aku bahkan tidak tahu apa yang ingin kukatakan kalau Laras benar-benar muncul.

Apakah aku harus memanggilnya Ibu?

Apakah ia mengenal wajahku?

Apakah aku harus marah karena selama delapan belas tahun ia tidak datang mencariku?

Lalu pintu terbuka.

Seorang perempuan keluar bersama staf.

Usianya mungkin awal empat puluhan. Tubuhnya lebih kurus daripada Mira, rambutnya dipotong sebahu, dan ia mengenakan blus sederhana.

Ia berhenti tiga langkah dariku.

Tatapannya jatuh pada wajahku.

Tidak ada musik. Tidak ada pelukan tiba-tiba.

Perempuan itu hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Matanya langsung basah.

“Nara?”

Aku tidak bisa bergerak.

Ada sesuatu pada bentuk matanya yang terasa aneh karena kukenal.

Bukan karena aku pernah melihatnya.

Karena aku melihat bentuk yang sama setiap pagi di cermin.

Aku duduk.

Ia duduk di kursi seberang.

Ratna dan staf memberi kami ruang, tetapi tetap berada tidak jauh dari teras.

Laras mengusap air matanya.

“Aku tidak tahu harus memulai dari mana.”

Aku menjawab, “Mulai dari kenapa saya dibesarkan kakak Ibu.”

Ia terdiam.

Aku bahkan tidak sadar aku menggunakan kata Ibu sampai kalimat itu selesai.

Laras tidak tersenyum.

“Karena waktu kamu masih bayi, aku membuat keputusan yang kupikir hanya sementara.”

Ia menjelaskan pelan-pelan.

Mira memang kakak kandungnya.

Keluarga mereka dulu memiliki usaha percetakan dan satu ruko kecil yang dikelola bersama setelah orang tua mereka pensiun. Mira mengurus keuangan. Laras menangani produksi dan pelanggan.

Ketika aku lahir, Laras masih harus bekerja.

Ia menitipkanku pada Mira lebih sering daripada yang seharusnya.

“Awalnya cuma siang,” katanya. “Lalu beberapa malam. Setelah itu semuanya jadi rumit.”

Ada utang usaha.

Ada dokumen yang ditandatangani tanpa penjelasan cukup.

Ada uang dari penjualan satu aset keluarga yang menurut Laras tidak pernah dibagi sesuai kesepakatan.

Mereka bertengkar besar.

Keluarga besar memilih meredakan masalah daripada benar-benar menyelesaikannya.

Mira punya satu senjata yang paling efektif.

Aku.

“Dia bilang kamu sudah nyaman tinggal dengannya,” kata Laras. “Dia bilang kalau aku membawa masalah hukum ke keluarga, kamu yang akan paling menderita.”

“Kenapa Ibu tidak datang saja mengambil saya?”

“Aku mencoba.”

Jawaban itu cepat.

“Dua kali.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Pertama kali keluarga kita sendiri yang menyuruhku pulang. Mereka bilang jangan bikin keributan di depan anak kecil. Kedua kalinya Mira sudah punya dokumen pengasuhan yang membuat semuanya jauh lebih sulit.”

Laras tidak mengklaim dirinya tidak pernah salah.

Justru itu yang membuat ceritanya terasa lebih nyata.

“Aku takut, Nara. Aku tidak punya uang. Aku tidak punya rumah tetap waktu itu. Dan aku percaya waktu Mira bilang kamu akan lebih baik bersamanya.”

Aku mengepalkan tangan.

“Delapan belas tahun?”

Ia menunduk.

“Tidak ada alasan yang bisa mengembalikan waktu itu.”

Aku tidak tahu jawaban apa yang kuinginkan, tetapi bukan pembelaan panjang.

Laras tidak memberikannya.

Ia hanya berkata, “Aku terlambat melawan.”

Aku bertanya tentang rumah pendampingan itu.

Laras menjelaskan bahwa beberapa tahun lalu, setelah kembali mempersoalkan aset keluarga dan dokumen lama, hubungannya dengan Mira kembali memburuk.

Ia sempat berpindah tempat tinggal beberapa kali.

Rumah pendampingan itu awalnya bukan penjara. Laras masuk secara sukarela setelah kondisi hidupnya berantakan dan ia membutuhkan tempat sementara.

Masalahnya muncul ketika Mira perlahan mengambil alih urusan administratif.

“Karena aku pernah bergantung padanya, orang-orang menganggap lebih mudah kalau Mira yang mengurus semuanya,” kata Laras. “Setiap kali aku mencoba keluar, dia datang membawa alasan baru. Biaya, tempat tinggal, keluarga, dokumen.”

“Dia menahan Ibu?”

“Tidak dengan rantai.”

Laras menatapku.

“Tapi jangan salah. Orang tidak selalu harus dikunci supaya merasa tidak punya jalan keluar.”

Kalimat itu membuatku teringat hidupku sendiri di rumah.

Pintu rumah kami tidak pernah dikunci dari luar.

Tetapi selama bertahun-tahun aku tetap merasa tidak bisa pergi.

“Lalu Dimas?”

Laras menarik napas.

“Dia menghubungiku pertama kali sekitar delapan bulan lalu.”

Aku terkejut.

“Bukan lima tahun lalu?”

Laras menggeleng.

Artinya ketika Dimas mulai memperlakukanku buruk lima tahun sebelumnya, ia belum mengenal Laras.

Ada lubang besar dalam cerita yang ia berikan kepadaku.

Aku langsung mengambil ponsel.

“Aku harus bicara dengan dia.”

Ratna meminjamkan telepon kantornya setelah aku menjelaskan.

Dimas tidak menjawab pada panggilan pertama.

Panggilan kedua tersambung.

“Nara?”

Aku tidak menjawab sapaan itu.

“Saya bersama Laras.”

Hening.

“Bagus.”

“Jangan bilang bagus.”

Dimas terdiam.

“Bapak bilang selama lima tahun semua perlakuan Bapak cuma sandiwara untuk Mira. Ibu Laras bilang Bapak baru menghubunginya delapan bulan lalu.”

Di ujung sana tidak terdengar apa pun selama beberapa detik.

“Aku memang baru mengenal Laras delapan bulan lalu.”

“Jadi Bapak bohong.”

“Iya.”

Satu kata itu jauh lebih menyakitkan daripada penjelasan panjang.

Aku menahan napas.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku mengatakan semuanya tadi malam, kamu tidak akan berangkat.”

“Coba.”

“Nara…”

“Coba bilang yang sebenarnya.”

Dimas menghela napas.

“Lima tahun lalu ketika aku menikahi Mira, aku tidak tahu apa pun tentang Laras. Aku bahkan percaya kamu anak kandung Mira.”

Aku mendengarkan.

“Hubungan kita buruk sejak awal. Aku tidak tahu bagaimana menjadi ayah tiri. Mira terus bilang kamu anak yang sulit, suka melawan, dan harus diperlakukan keras supaya tidak semakin menjadi-jadi.”

Aku menutup mata.

“Dan Bapak percaya?”

“Awalnya, iya.”

Aku merasa sesuatu di dalam dadaku mengeras.

Jadi bukan semuanya sandiwara.

Sebagian memang nyata.

Dimas melanjutkan, suaranya pelan.

“Aku marah terlalu mudah. Aku membentakmu. Beberapa kali aku memperlakukanmu dengan cara yang tidak pantas dilakukan orang dewasa kepada anak. Itu bukan bagian dari rencana. Itu kesalahanku.”

Laras menatap lantai.

“Aku baru mulai curiga pada Mira dua tahun lalu,” katanya. “Karena setiap kali hubungan kita mulai membaik, Mira selalu membuat persoalan baru. Dia seperti tidak ingin aku dekat denganmu.”

Dimas mulai memperhatikan.

Mira menyimpan semua dokumen keluarga sendiri.

Ia tidak suka Dimas menyentuh laci tertentu.

Ada transfer rutin ke luar kota.

Ada panggilan yang selalu dihentikan ketika Dimas masuk ruangan.

Delapan bulan lalu ia menemukan nama Laras di satu kuitansi.

Dimas menelusurinya bukan dengan meretas atau membayar orang.

Ia menemukan nomor administrasi tempat tinggal Laras dari berkas pembayaran yang secara sah bisa ia lihat karena uang keluar dari rekening rumah tangga yang ia ikut isi.

Dari situlah ia akhirnya berbicara dengan Laras.

“Setelah tahu siapa dia,” Dimas berkata, “aku mulai berpura-pura di depan Mira bahwa hubunganku denganmu jauh lebih buruk daripada sebenarnya.”

Aku langsung memotong.

“Jauh lebih buruk daripada sebenarnya?”

Aku tertawa hambar.

“Pak, hubungan kita memang buruk.”

“Iya.”

Tidak ada pembelaan.

“Aku salah memilih cara. Aku pikir kalau Mira percaya kamu membenciku, dia tidak akan curiga saat aku mulai menyiapkan jalan supaya kamu bisa keluar. Aku pikir menjaga posisiku di rumah lebih penting.”

“Lebih penting daripada apa?”

“Daripada bagaimana semua itu terasa bagimu.”

Jawaban itu begitu telanjang sampai aku tidak punya kalimat balasan.

Dimas menambahkan, “Aku tidak meminta kamu memaafkanku.”

Aku memandang halaman.

Setidaknya ia tidak mengatakan bahwa semua kekasarannya selama lima tahun adalah tindakan heroik.

“Apa yang membuat semuanya mendadak harus dilakukan sekarang?”

Dimas menjawab, “Tiga hari lalu Mira tahu Laras sudah mencoba mencabut kewenangan lama untuk mengurus pemindahannya.”

Aku menoleh ke Laras.

Ia mengangguk.

“Lalu aku melihat satu pesan di laptop rumah yang biasa kami gunakan untuk pekerjaan. Mira sedang bicara dengan salah satu kerabatnya. Dia bilang besok setelah kamu berangkat ujian, dia akan membereskan dua urusan sekaligus.”

“Dua?”

“Kamu dan Laras.”

Dimas mengatakan Mira sudah menyiapkan beberapa dokumen.

Satu terkait pengalihan hak pengelolaan atas bagian lama usaha keluarga yang seharusnya masih dipersoalkan oleh Laras.

Satu lagi surat kuasa yang ingin disodorkan kepadaku sebagai bagian dari “administrasi biaya kuliah”.

Aku belum pernah mendengar apa pun tentang itu.

“Kenapa saya?”

“Karena ada aset lama keluarga yang sekarang tidak bisa dibereskan hanya dengan tanda tangan Mira. Posisi kamu sebagai anak yang selama ini diasuhnya dipakai untuk memperkuat narasi keluarganya.”

Aku mulai memahami.

Ini bukan tentang warisan miliaran yang tiba-tiba menjadikanku kaya.

Ini tentang dokumen kusut, utang lama, kepemilikan yang diperdebatkan, dan orang-orang yang selama bertahun-tahun memilih cara termudah daripada cara yang benar.

“Kalau saya tidak pergi pagi ini?”

“Mira berniat membawamu setelah ujian ke kantor seorang kenalan untuk menandatangani dokumen. Laras akan dipindahkan pada hari yang sama.”

“Dan soal Ibu Laras akan mati?”

Hening lagi.

Dimas menjawab, “Aku menggunakan kalimat paling keras yang bisa membuatmu pergi.”

Aku langsung marah.

“Jadi itu juga bohong?”

“Bukan sepenuhnya.”

“Jangan bermain kata.”

“Aku percaya Laras benar-benar berada dalam bahaya. Ada ancaman tertulis yang cukup serius. Tetapi aku tidak bisa membuktikan dia pasti akan dibunuh besok.”

Aku berdiri.

“Bapak membuat saya percaya seseorang akan mati kalau saya tidak lari!”

“Aku tahu.”

“Itu bukan cara melindungi orang!”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, dua kata itu tidak membuatku lebih tenang.

Aku memutus panggilan.

Laras tidak mencoba menenangkan atau membela Dimas.

Ratna juga tidak.

Aku duduk di teras hampir sepuluh menit tanpa berbicara.

Kemudian aku melakukan hal pertama yang benar-benar merupakan keputusanku sendiri sejak malam sebelumnya.

Aku tidak menelepon Dimas lagi.

Aku tidak membalas Mira.

Aku meminta Ratna menunjukkan siapa yang bisa membantu kami memahami dokumen tanpa membuat janji bahwa semua masalah akan selesai dalam satu hari.

Ratna memberi nomor sebuah lembaga bantuan hukum yang beberapa kali mendampingi pasien rumah sakit.

Sore itu juga kami bertemu seorang advokat bernama Raka di kantornya yang kecil dekat pusat kota.

Ia tidak mengatakan, “Tenang, saya akan bereskan semuanya.”

Justru kalimat pertamanya adalah, “Kita pisahkan dulu mana yang bisa dibuktikan dan mana yang baru dugaan.”

Aku menyukai cara itu.

Flashdisk menjadi titik awal.

Raka membuat daftar singkat.

Dokumen kelahiran harus diverifikasi melalui jalur administrasi.

Status pengasuhan lama harus diperiksa.

Surat pemindahan Laras harus dipastikan dasar persetujuannya.

Ancaman dari Mira perlu disimpan dalam bentuk asli, bukan hanya screenshot yang berpindah-pindah.

Masalah aset keluarga harus diperlakukan terpisah dari hubungan ibu-anak.

“Jangan mencampur semuanya menjadi satu cerita besar,” katanya. “Kalau semuanya dicampur, justru akan sulit membuktikan bagian yang penting.”

Aku menyerahkan kartu ATM dari Dimas.

“Ini bagaimana?”

Raka tidak menyentuhnya.

“Atas nama siapa rekeningnya?”

“Saya belum tahu.”

“Jangan gunakan uang itu dulu.”

Aku mengangguk.

Itu keputusan yang mudah.

Rp2,5 miliar terdengar seperti jalan keluar ketika Dimas meletakkannya di meja.

Sekarang jumlah itu terasa seperti pintu lain yang belum kuketahui ke mana arahnya.

Raka meminta aku menghubungi bank melalui kanal resmi untuk memastikan status rekening.

Keesokan paginya, dengan ditemani staf kantor, aku melakukannya.

Ternyata rekening itu memang atas namaku.

Dibuka beberapa tahun sebelumnya sebagai rekening simpanan untuk anak, tetapi baru bisa kukendalikan penuh setelah memenuhi usia administrasi yang ditentukan dan memperbarui data.

Saldo besarnya berasal dari deposito yang dibentuk bertahap.

Sebagian berasal dari transfer Dimas.

Sebagian lagi berasal dari dana lama yang selama ini dikelola Mira.

Aku menatap mutasi yang bisa kuakses secara sah setelah identitasku diverifikasi.

Ada sesuatu yang lebih penting daripada jumlah total.

Dua minggu sebelumnya, ada percobaan pemindahan dana dalam jumlah besar yang gagal karena rekening membutuhkan pembaruan data pemilik.

Jadi Mira bukan hanya ingin aku menandatangani urusan aset keluarga.

Ia juga mungkin ingin akses ke rekening ini.

Aku meminta bank menonaktifkan akses lama, mengganti PIN, password, dan nomor telepon yang tercatat.

Untuk pertama kali sejak pergi dari rumah, aku merasa melakukan sesuatu yang konkret.

Bukan kabur.

Bukan mengikuti perintah Dimas.

Aku sedang menutup satu pintu yang selama ini bisa dibuka orang lain.

Siang harinya, Mira menelepon melalui nomor kantor Raka.

Aku sebenarnya tidak ingin bicara.

Tetapi Raka bertanya, “Kamu mau menjawab?”

Aku berpikir beberapa detik.

“Mau.”

Aku tidak menggunakan pengeras suara.

“Nara.”

Suara Mira terdengar sama seperti biasanya.

Bukan suara penjahat dalam film.

Suara perempuan yang selama delapan belas tahun memanggilku bangun sekolah.

“Kamu di mana?”

“Aman.”

“Pulang dulu.”

“Tidak.”

“Nara, jangan keras kepala. Dimas sudah memasukkan macam-macam ke kepalamu.”

“Laras Wening ada bersama saya.”

Hening.

Panjang sekali.

Kemudian Mira berkata, “Jadi dia akhirnya berhasil.”

Bukan “siapa Laras?”

Bukan “kamu salah.”

Tidak ada penyangkalan.

Kalimat itu memberiku lebih banyak jawaban daripada teriakan.

“Dia adik Mama?”

“Jangan panggil aku begitu kalau nada bicaramu seperti itu.”

Aku memejamkan mata.

Kebiasaan delapan belas tahun membuat kata Mama keluar otomatis.

“Kenapa sejak kecil saya tidak pernah diberi tahu?”

“Karena kamu tidak tahu bagaimana keadaan Laras waktu itu.”

“Jelaskan.”

Mira mulai bicara.

Sebagian ceritanya mirip dengan Laras.

Dan itu justru membuatnya lebih mengganggu.

Laras memang pernah kesulitan mengurusku.

Ia memang pernah tidak punya rumah stabil.

Mira memang membayar banyak kebutuhanku.

Ia menyekolahkanku.

Ia mengurusku ketika sakit.

Ia duduk di luar kelas saat aku tampil pertama kali di sekolah dasar.

Semua itu benar.

“Tiba-tiba sekarang dia datang sebagai ibu?” kata Mira. “Enak sekali. Delapan belas tahun aku yang menanggung semuanya.”

Aku menggenggam ponsel.

“Membesarkan saya tidak membuat Mama boleh berbohong tentang siapa ibu kandung saya.”

“Aku melakukan yang perlu dilakukan.”

“Menurut siapa?”

“Menurut keadaan.”

“Dokumen pemindahan Laras juga karena keadaan?”

Nada Mira berubah.

“Kamu tidak mengerti masalah orang dewasa.”

“Saya delapan belas tahun.”

“Justru itu. Kamu masih anak-anak.”

Aku hampir tertawa.

Kemarin ia ingin aku cukup dewasa menghadapi ujian masuk universitas.

Hari ini ketika aku bertanya tentang dokumen, aku kembali menjadi anak kecil.

“Rekening atas nama saya juga bagian masalah orang dewasa?”

Mira diam.

“Ada percobaan memindahkan uang dua minggu lalu.”

“Kamu pikir uang itu muncul sendiri? Bertahun-tahun aku yang mengelola.”

“Tapi rekeningnya atas nama saya.”

“Aku tidak pernah berniat mengambilnya.”

“Kalau begitu kenapa perlu akses?”

“Untuk biaya kuliah, hidupmu, semua kebutuhanmu.”

“Saya bisa mengurusnya sendiri sekarang.”

Mira menarik napas.

“Nara, dengarkan. Keluarga tidak berjalan dengan cara seperti ini. Kamu tidak bisa tiba-tiba memperlakukan orang yang membesarkanmu seperti orang asing hanya karena beberapa kertas.”

Aku melihat Laras duduk di ujung ruangan.

Ia tidak bisa mendengar Mira.

Aku menjawab, “Saya juga tidak bisa pura-pura beberapa kertas itu tidak ada hanya karena kita keluarga.”

Itu bukan kalimat kemenangan.

Suaraku bahkan gemetar.

Tetapi aku mengatakannya.

Mira mencoba pendekatan lain.

“Pulang satu malam saja. Kita bicara bertiga. Kamu, aku, Dimas.”

“Tidak.”

“Aku ini ibumu.”

Aku berhenti beberapa detik.

“Bukan.”

Suara di ujung telepon terputus-putus karena Mira menarik napas.

Aku melanjutkan sebelum keberanianku habis.

“Mama membesarkan saya. Itu benar. Saya tidak akan bilang semua delapan belas tahun itu palsu. Tapi Mama bukan ibu kandung saya, dan Mama menyembunyikannya.”

Mira tidak menjawab.

“Untuk sementara jangan hubungi saya langsung. Kalau ada urusan dokumen, lewat kantor bantuan hukum.”

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Kamu memilih Laras setelah baru bertemu satu hari?”

Pertanyaan itu nyaris membuatku goyah.

Aku memandang Laras.

Aku belum mengenalnya.

Aku bahkan masih marah kepadanya karena terlambat melawan.

“Aku belum memilih siapa-siapa,” kataku. “Aku cuma memilih berhenti menandatangani atau mempercayai sesuatu yang tidak dijelaskan kepadaku.”

Lalu aku menutup telepon.

Tanganku gemetar lama setelahnya.

Dua hari kemudian, kami mengetahui sesuatu tentang ponsel lama Dimas.

Bukan alat pelacak rahasia.

Tidak ada spyware canggih.

Jauh lebih sederhana.

Ponsel itu masih terhubung dengan akun keluarga yang pernah digunakan Mira. Lokasi perangkat pernah diaktifkan dan aplikasi WhatsApp lama belum benar-benar dikeluarkan dari semua sesi.

Dimas ceroboh.

Mira memanfaatkan celah itu.

Itulah bagaimana ia mengetahui aku pergi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan Dimas.

Aku meminta semua akun yang berhubungan denganku diperiksa, mengganti password, mengaktifkan verifikasi tambahan, dan berhenti menggunakan nomor lamaku untuk urusan penting.

Dimas akhirnya datang ke Purwokerto tiga hari kemudian.

Aku bertemu dengannya di kantor Raka, bukan sendirian.

Wajahnya terlihat lelah.

Ia membawa satu tas dokumen, lalu meletakkannya di meja.

Tidak ada pidato.

Tidak ada permintaan supaya aku memahami pengorbanannya.

Ia hanya berkata, “Semua yang aku punya soal rekening, pembayaran rumah pendampingan, dan dokumen Mira ada di sini. Yang asli kubawa kalau memang milikku atau salinannya bisa kuakses secara sah.”

Raka mengambil tas itu.

Dimas menatapku.

“Soal Rp2,5 miliar…”

“Aku sudah tahu rekeningnya.”

Ia mengangguk.

“Sebagian tabunganku memang masuk ke sana. Tapi sebagian besar bukan uangku.”

“Kenapa Bapak tidak bilang dari awal?”

“Karena aku ingin memastikan kamu punya dana yang tidak bisa langsung disentuh Mira kalau kamu pergi.”

“Jadi Bapak tetap memutuskan semuanya sendiri.”

Dimas menunduk.

“Iya.”

Aku menunggu.

Ia berkata, “Itu juga salah.”

Untuk pertama kali sejak mengenalnya, Dimas tidak mencoba membungkus keputusan buruk sebagai kebaikan.

Aku tidak memaafkannya hari itu.

Aku juga tidak mengusirnya.

Kami membicarakan kejadian lima tahun terakhir satu per satu, bukan semuanya, hanya yang masih perlu kuucapkan.

Aku mengatakan kepadanya aku tidak peduli apakah delapan bulan terakhir sebagian kemarahannya dibuat-buat.

Aku tetap yang harus tidur sambil bertanya apa kesalahanku.

Dimas tidak mengatakan, “Aku melakukannya demi kamu.”

Ia berkata, “Aku membuatmu membayar harga untuk strategi yang kupilih sendiri.”

Itu lebih dekat pada permintaan maaf yang bisa kudengar.

Proses setelah itu tidak selesai cepat.

Laras membatalkan pemindahannya secara tertulis dengan pendampingan yang sesuai.

Ia keluar dari rumah pendampingan beberapa minggu kemudian dan menyewa kamar kecil dekat tempat kerjanya yang baru.

Ia tidak langsung tinggal bersamaku.

Aku tidak menginginkan itu.

Kami belum menjadi ibu dan anak hanya karena satu dokumen membuktikan hubungan darah.

Kami bertemu dua atau tiga kali seminggu.

Kadang makan siang.

Kadang hanya duduk sambil menyusun berkas.

Kadang bertengkar kecil karena ia terlalu banyak bertanya ke mana aku pergi.

Suatu kali aku berkata, “Kita baru kenal lagi. Jangan langsung bertindak seperti Mama yang lain.”

Laras terdiam.

Lalu ia berkata, “Baik. Aku belajar.”

Aneh, tetapi justru jawaban sederhana itu membuatku mulai percaya bahwa hubungan bisa dibangun tanpa harus langsung sempurna.

Mira tidak kehilangan segalanya.

Usahanya tidak tiba-tiba bangkrut.

Ia tidak dipenjara keesokan harinya.

Tidak ada keluarga besar yang berkumpul lalu mencaci makinya.

Kenyataannya jauh lebih lambat.

Beberapa dokumen lama masih diperiksa.

Perselisihan aset antara Mira dan Laras diarahkan ke proses terpisah.

Soal dugaan ancaman dan penggunaan dokumen tanpa persetujuan dilaporkan melalui jalur yang disarankan pendamping hukum, dan pemeriksaannya berjalan.

Paman Mira yang selama ini kutakuti ternyata sudah pensiun dan tidak muncul untuk menyelamatkan siapa pun.

Sebagian ketakutanku selama ini lebih besar daripada kenyataan.

Sebagian lagi memang beralasan.

Keluarga besar mulai menelepon.

Ada yang meminta aku pulang.

Ada yang berkata urusan kakak-adik seharusnya tidak dibawa keluar keluarga.

Ada yang mengingatkan berapa banyak uang Mira habiskan untuk membesarkanku.

Aku tidak berdebat panjang.

Aku hanya menjawab, “Kalau ada yang mau membicarakan dokumen atau uang, silakan lewat pendamping saya.”

Setelah beberapa kali mendapat jawaban yang sama, telepon mulai berkurang.

Aku juga akhirnya mengetahui bahwa ujian masuk perguruan tinggi bukan satu-satunya pintu.

Aku kehilangan kesempatan tahun itu.

Awalnya aku menangis ketika menerima kenyataan tersebut.

Tidak ada cara mengubahnya menjadi sesuatu yang indah.

Aku sudah belajar keras dan tetap kehilangan kesempatan karena kekacauan keluarga yang bukan kubuat.

Dimas menawarkan membayar kursus persiapan satu tahun.

Aku tidak langsung menerima.

Kami membuat kesepakatan tertulis sederhana tentang biaya pendidikan supaya tidak ada lagi uang yang diberikan dengan syarat yang tidak kuketahui.

Beberapa bulan kemudian aku mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah percetakan kecil.

Bukan milik keluarga.

Aku sengaja memilih tempat yang tidak punya hubungan dengan Mira maupun Laras.

Setiap bulan aku tetap menggunakan sebagian uang rekening untuk kebutuhan yang memang menjadi hakku, tetapi tidak pernah lagi membiarkan orang lain memegang aksesnya.

Hubunganku dengan Dimas berubah paling lambat.

Ia pindah dari rumah Mira tidak lama setelah aku pergi.

Mereka tidak langsung bercerai.

Aku tidak bertanya detailnya.

Itu urusan mereka.

Sesekali Dimas mengirim pesan.

Bukan pesan panjang.

“Sudah makan?”

“Atap kos bocor tidak?”

“Ada surat kampus, perlu kubawakan?”

Kadang aku jawab.

Kadang tidak.

Ia tidak pernah lagi menuntut jawaban.

Hampir setahun setelah malam ketika ia menyuruhku kabur, aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi lagi.

Pagi itu Laras ingin mengantarku.

Dimas juga menawarkan.

Aku menolak keduanya.

Aku naik kendaraan umum sendiri.

Sebelum keluar dari kamar kontrakan, aku membuka laci meja.

Di dalamnya ada kartu ATM, beberapa salinan dokumen penting, dan flashdisk yang dulu disembunyikan Dimas di ranselku.

Flashdisk itu sekarang bukan satu-satunya tempat penyimpanan.

Semua berkas sudah disalin dan disimpan dengan aman.

Aku menutup laci lalu menguncinya.

Tidak ada kunci cadangan di tangan orang lain.

Di halte, ponselku bergetar.

Pesan dari Laras.

“Semoga lancar. Nanti kalau sudah selesai, kabari kalau kamu mau.”

Beberapa detik kemudian masuk pesan dari Dimas.

“Semoga berhasil. Tidak perlu balas sekarang.”

Tidak ada pesan dari Mira.

Aku tidak tahu apakah suatu hari aku akan sanggup berbicara dengannya tanpa marah.

Aku juga tidak tahu apakah hubungan kami bisa memiliki bentuk baru setelah semua proses selesai.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menentukan jawabannya hari itu.

Bus datang.

Aku naik, duduk dekat jendela, lalu mematikan layar ponsel.

Setahun sebelumnya aku meninggalkan stasiun karena diperintahkan seseorang untuk lari.

Pagi itu aku pergi menuju ujian karena keputusan itu benar-benar milikku sendiri.

Menurutmu, apakah Nara masih seharusnya membuka peluang berdamai dengan Mira setelah semua kebohongan dan pengendalian yang dilakukan selama bertahun-tahun?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.