Empat Tahun Setelah Aku Pergi Tanpa Kabar, Aku Kembali Menemui Mantanku karena Putra Kami Tak Punya Tempat Lain
Bagian 1
Tujuh bulan setelah aku meninggalkan Raka Pradana tanpa satu kata penjelasan, aku melahirkan seorang anak laki-laki.
Aku menamainya Bima.
Tiga tahun lebih aku bertahan dengan pekerjaan apa saja yang bisa kulakukan sambil membesarkannya sendirian. Lalu, pada suatu siang di rumah sakit pemerintah Surabaya, dokter hematologi menaruh hasil pemeriksaanku di atas meja dan mengatakan aku menderita leukemia akut berisiko tinggi.
Aku tidak langsung menangis.
Yang pertama kali terpikir justru siapa yang akan menjemput Bima dari penitipan anak kalau suatu hari aku tidak bisa pulang.
Malam itu, setelah Bima tidur, aku membuka kotak plastik berisi dokumen lama. Di antara kuitansi kontrakan dan akta kelahiran Bima, ada selembar pengumuman pencarian yang sudah kusimpan hampir empat tahun.
Foto wajahku tercetak di tengah.

Di bawahnya ada tulisan yang pernah membuatku menangis berhari-hari.
Laras Wening, pulanglah. Aku mohon.
Nama Raka tercetak di bawah kalimat itu.
Aku memeluk Bima yang tertidur sambil menggenggam ujung bajuku.
“Bima,” bisikku, “Mama akan membawamu menemui ayahmu.”
Beberapa hari kemudian aku duduk di barisan paling belakang sebuah ruang kuliah arsitektur di Surabaya. Masker menutupi separuh wajahku, sementara jaket yang kupakai terlalu besar untuk tubuh yang semakin kurus.
Di depan, Raka sedang menjelaskan bagaimana tata ruang tradisional Indonesia tidak sekadar dibentuk oleh iklim, tetapi juga oleh struktur sosial, kebiasaan keluarga, dan cara manusia memahami ruang privat serta ruang bersama.
Suara itu masih sama.
Tenang, jelas, dan membuat orang mendengarkan.
Empat tahun lalu aku mengenal setiap perubahan kecil dalam suaranya. Sekarang aku hanya salah satu orang asing yang duduk di ruangan itu.
Raka mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya lebih pendek. Bahunya lebih tegap. Ada sesuatu yang berbeda pada cara ia berdiri di depan puluhan mahasiswa.
Ia sudah tumbuh menjadi laki-laki yang dulu selalu ia katakan ingin menjadi dirinya sendiri.
Sedangkan aku merasa tertinggal bertahun-tahun di belakang.
Setelah kuliah berakhir, beberapa mahasiswa mengerumuninya untuk bertanya. Aku tetap duduk sampai orang terakhir keluar.
Raka memasukkan laptop ke tas dan mengumpulkan beberapa lembar tugas.
Ia masih belum melihatku.
Ketika ia hendak berjalan menuju pintu, aku berdiri.
“Raka.”
Langkahnya berhenti.
Ia menoleh.
“Ya?”
Tatapannya masih belum mengenaliku.
Aku berjalan mendekat. Tanganku dingin ketika menarik masker ke bawah.
“Ini aku.”
Dahinya mengernyit.
“Laras.”
Aku mengangguk.
Selama dua atau tiga detik, ekspresi wajahnya berubah. Bukan bahagia. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang tiba-tiba berhadapan dengan bagian hidup yang sudah lama ia kunci.
Ia melirik koridor di luar, lalu menarik salah satu kursi.
“Duduk saja.”
Aku sudah bersiap jika ia menyuruhku pergi.
Justru sikap tenangnya membuatku lebih sulit bernapas.
Jarak di antara kursi kami tidak sampai satu meter, tetapi empat tahun terasa ada di sana.
“Apa kabar?” tanyaku.
“Baik.”
Ia menyandarkan punggung.
“Setelah menyelesaikan studi, aku lanjut S2. Sekarang mengajar di sini. Pekerjaan juga cukup lancar.”
Ia berhenti sebentar.
“Hanya pernah ada satu masa bodoh ketika aku mencari seseorang yang rupanya memang tidak ingin ditemukan.”
Aku menunduk.
“Maaf.”
Satu kata itu terdengar menyedihkan setelah empat tahun.
“Aku waktu itu takut,” lanjutku. “Aku merasa hidup kita terlalu jauh berbeda. Keluargamu, keluargaku, semua terasa…”
“Tidak seimbang?”
Aku mengangguk.
Itu benar, tetapi bukan seluruhnya.
Beberapa minggu sebelum aku menghilang, ibuku diam-diam menemui Ibu Ratna, ibu Raka. Ia meminta Rp1,5 miliar sebagai bagian dari persiapan pernikahan, lalu meminta satu rumah untuk Dimas, adik laki-lakiku, dengan alasan keluarga Raka “tidak akan merasa kehilangan apa-apa”.
Ibu Ratna kemudian menemuiku.
Ia tidak membentak.
Justru itulah yang membuatnya lebih menyakitkan.
“Bukan kamu yang Ibu benci, Laras,” katanya waktu itu. “Tapi kalau kalian menikah, keluargamu akan terus meminta. Hari ini rumah untuk adikmu. Tahun depan apa lagi?”
Tatapan iba bercampur ketidakpercayaan di matanya tidak pernah kulupakan.
Aku terlalu malu untuk menceritakannya kepada Raka.
Aku terlalu terbiasa membereskan masalah keluargaku sendiri sampai tidak tahu bagaimana meminta seseorang berdiri di sampingku.
Jadi aku pergi.
Dan beberapa minggu kemudian aku mengetahui aku hamil.
Raka menatapku cukup lama.
“Jadi sekarang kamu datang karena merasa perbedaan itu sudah hilang?”
Aku menggigit bagian dalam bibir.
“Bukan.”
Aku ingin mengatakan tentang Bima.
Aku sudah mengulang kalimat itu puluhan kali sebelum datang.
Aku punya anakmu.
Tapi lidahku terasa berat.
“Aku cuma ingin tahu…” Aku berhenti. “Selama beberapa tahun ini, apa kamu sudah punya seseorang?”
“Laras.”
Aku menatapnya.
Nada suaranya tidak keras.
“Aku tahu apa yang kamu tanyakan.”
Ia mengambil napas.
“Aku akan menikah.”
Kata-kata itu sederhana.
Tetapi seluruh keberanian yang kukumpulkan sejak rumah sakit terasa runtuh sekaligus.
Aku menatap tanganku sendiri.
Tentu saja.
Empat tahun bukan empat minggu. Aku tidak berhak mengharapkan hidupnya menungguku.
“Selamat,” kataku akhirnya.
Aku bahkan berhasil tersenyum sedikit.
“Terima kasih.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Aku sedang mencoba mencari cara berpamitan ketika Raka berkata, “Nomor rekeningmu masih yang lama?”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Masih atau tidak?”
“Sudah tidak aktif.”
Ia mengeluarkan ponselnya.
“Berikan yang sekarang.”
Aku hampir menolak, tapi ekspresinya mengatakan ia tidak ingin berdebat. Aku menyebutkan nomor rekening.
Beberapa saat kemudian ponselku bergetar.
Notifikasi bank masuk.
Rp600.000.000.
Aku membaca angka itu dua kali.
“Raka…”
“Anggap saja penyelesaian dari hubungan kita dulu.”
Suaranya tetap tenang.
“Kamu kelihatan sedang tidak baik-baik saja. Gunakan untuk hidupmu. Setelah ini, aku harap kamu tidak datang lagi dan mengganggu kehidupan yang sedang kubangun.”
Empat tahun sebelumnya, Ibu Ratna juga pernah menawarkan uang agar aku menjauh.
Waktu itu kutolak.
Hari ini aku menerimanya.
Aku tidak merasa bangga.
Tapi hasil pemeriksaan rumah sakit masih ada di tasku, dan Bima belum genap empat tahun.
Harga diri ternyata terdengar jauh lebih kecil ketika seseorang tahu waktunya mungkin tidak panjang.
“Baik,” jawabku.
Raka berdiri dan pergi.
Aku tetap duduk sampai suara langkahnya hilang.
Beberapa detik kemudian sesuatu yang hangat jatuh ke punggung tanganku.
Darah dari hidungku.
Aku buru-buru mengambil tisu dan menekan hidung sambil menunduk.
Entah karena sakit atau malu, air mataku ikut jatuh.
Malam itu ketika pulang ke kontrakan kecil kami, Bima sudah tertidur. Ia meringkuk di sisi kasur sambil memeluk kausku yang tadi pagi belum sempat kulipat.
Di meja ada gambar menggunakan krayon.
Tiga orang berdiri di bawah satu atap.
Yang paling kecil adalah Bima.
Di sebelahnya aku.
Satu lagi seorang laki-laki tinggi dengan dua lengan panjang yang digambar seperti payung.
Bima tidak pernah bertemu ayahnya.
Tetapi setiap kali menggambar keluarga, ia selalu menyediakan satu tempat kosong yang tidak benar-benar kosong.
Wajah Bima semakin hari semakin mirip Raka. Bentuk matanya, garis hidung, bahkan kebiasaan mengerutkan dahi ketika sedang berpikir.
Aku duduk di sampingnya.
Ketika mengetahui kehamilan dulu, dokter menjelaskan bahwa kondisi dinding rahimku membuat tindakan untuk menghentikan kehamilan berisiko tinggi bagiku. Aku tidak punya keberanian mengambil risiko itu.
Kemudian Bima lahir.
Dan setelah pertama kali mendengar tangisnya, alasan apa pun yang dulu membuatku takut seolah tidak penting lagi.
Aku belajar menjadi ibu sambil terseok-seok.
Sekarang justru ketika Bima mulai besar, tubuhku sendiri yang menyerah.
Besok paginya aku tetap mengantarnya ke penitipan anak.
Aku lalu mendaftar menjadi kurir untuk layanan antar makanan berbasis aplikasi. Selama kondisiku masih memungkinkan mengendarai motor, aku ingin menambah tabungan Bima.
Rp600 juta dari Raka tidak akan kusentuh untuk kebutuhan sehari-hari.
Uang itu akan kusimpan untuk Bima.
Hari pertama berjalan lebih lancar dari yang kuduga. Aku hanya harus beberapa kali berhenti karena pusing.
Menjelang sore aku menyelesaikan pesanan terakhir lalu menuju tempat penitipan anak.
Hujan tipis baru saja turun ketika sebuah Mercedes berbelok ke kanan tanpa memberi tanda.
Aku tidak sempat menghindar.
Motor listrik yang kupakai tersenggol dan aku jatuh ke sisi jalan.
Lutut serta betisku menghantam aspal.
Pengemudi turun dengan wajah kesal.
“Kalau bawa motor lihat jalan, Bu!”
Aku menahan sakit sambil berusaha berdiri.
“Maaf. Saya…”
“Sudah tahu jalan ramai masih saja nyelonong.”
Aku tidak punya tenaga untuk bertengkar.
“Maaf.”
“Tapi Bapak yang berbelok tanpa sein.”
Suara lain terdengar dari belakang.
Aku membeku.
Raka berdiri beberapa langkah dari kami sambil memegang payung.
Ia menatap pengemudi itu.
“Ini jalur kendaraan roda dua. Bapak masuk dengan berbelok mendadak. Kalau mau diselesaikan secara resmi, kita bisa panggil petugas dan lihat siapa yang bertanggung jawab.”
Pengemudi itu menoleh ke arah motorku, lalu ke Raka.
Setelah beberapa keluhan pelan, ia masuk kembali ke mobil dan pergi.
Aku membungkuk mengambil tas.
“Terima kasih.”
Pandangan Raka jatuh ke kakiku yang terluka.
Wajahnya mengeras.
“Rp600 juta masih belum cukup?”
Aku terdiam.
“Kamu harus kerja mengantar makanan sampai begini?”
Aku menahan air mata yang tiba-tiba naik.
“Aku takut nanti terjadi sesuatu.”
“Maksudmu?”
“Aku cuma ingin menabung sebanyak mungkin selama masih bisa.”
Tatapan Raka berubah sedikit.
Saat itulah aku hampir mengatakannya.
Tentang Bima.
Tentang rumah sakit.
Tentang kenapa sebenarnya aku datang.
Tetapi ponselku berdering.
Nama pengasuh Bima muncul di layar.
Aku langsung mengangkatnya.
“Bu Laras?” Suara perempuan di seberang terdengar panik. “Bima tadi mendadak lemas lalu pingsan. Kami sudah bawa dia ke IGD. Ibu bisa segera ke rumah sakit?”
Kakiku terasa kehilangan tenaga.
Aku menatap motor yang sudah tidak mungkin kukendarai.
Raka berbalik menuju mobilnya.
Tanpa berpikir, aku berlari tertatih dan meraih lengannya.
“Raka.”
Ia menoleh.
Aku tidak peduli lagi pada harga diri, empat tahun yang hilang, atau perempuan yang akan dinikahinya.
“Tolong.”
Suaraku pecah.
“Tolong antar aku ke rumah sakit.”
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Raka tidak bertanya apa pun sampai mobilnya keluar dari area kampus.
Aku menyebutkan nama rumah sakit, lalu duduk mencengkeram ponsel dengan kedua tangan. Pengasuh Bima sudah mengirim pesan bahwa ia sadar kembali, tetapi masih lemas dan sedang diperiksa.
“Siapa Bima?” tanya Raka akhirnya.
Aku menatap jalan di depan.
“Anakku.”
Tangan Raka yang memegang setir bergerak sedikit.
“Anakmu?”
“Iya.”
Ia tidak melanjutkan pertanyaan.
Kami sampai kurang dari dua puluh menit kemudian. Aku hampir berlari menuju IGD sampai kakiku yang baru jatuh tadi kembali terasa sakit.
Seorang pengasuh berdiri di depan ruang pemeriksaan.
“Bu Laras.”
“Bima bagaimana?”
“Sudah sadar. Tadi habis bermain dia bilang pusing, terus jatuh. Dokternya bilang kemungkinan kurang cairan, tapi masih diperiksa.”
Aku masuk.
Bima terbaring di tempat tidur dengan selimut tipis sampai pinggang. Begitu melihatku, matanya langsung berkaca-kaca.
“Mama.”
Aku duduk dan memeluknya.
“Maaf Mama terlambat.”
“Aku enggak nangis.”
“Iya. Bima hebat.”
Saat itulah ia melihat Raka yang berdiri di dekat pintu.
Bima berhenti bicara.
Raka pun tidak bergerak.
Anak itu menatapnya lama sekali, dengan kerutan kecil di antara kedua alis yang membuat dadaku terasa sesak.
Kemudian Bima menunjuk.
“Om.”
Raka mendekat satu langkah.
“Ya?”
Bima menoleh kepadaku.
“Om itu mirip orang yang aku gambar.”
Ruangan terasa sangat sunyi.
Raka menatapku.
Aku segera mengalihkan perhatian ke Bima.
“Sudah, kamu istirahat dulu.”
Seorang dokter masuk membawa hasil pemeriksaan dasar. Ia menjelaskan kondisi Bima stabil. Tidak ada tanda cedera serius akibat pingsan, dan dari pemeriksaan awal kemungkinan besar ia kelelahan serta kurang makan dan minum setelah terlalu aktif.
Bima perlu observasi beberapa jam.
Aku baru bisa bernapas sedikit.
Dokter kemudian melihat lututku.
“Ibu juga terluka?”
“Jatuh dari motor. Tidak apa-apa.”
“Kelihatannya perlu dibersihkan.”
“Saya nanti saja.”
Dokter hendak keluar ketika tiba-tiba darah kembali mengalir dari hidungku.
Aku cepat-cepat menutupnya dengan tisu.
Raka melihat.
“Ini sudah kedua kali.”
Aku berdiri.
“Aku cuma capek.”
Baru dua langkah, pandanganku mendadak gelap.
Ketika sadar kembali, aku sudah berada di ranjang pemeriksaan lain.
Bima duduk bersama pengasuh di luar tirai. Raka berdiri di ujung ranjang dengan wajah yang jauh lebih tegang daripada sebelumnya.
Tas tanganku terbuka di kursi.
Beberapa dokumen tergeletak di atasnya.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
“Raka.”
Ia mengangkat satu lembar kertas.
Bukan hasil lengkap pemeriksaan.
Hanya surat rujukan.
Tetapi itu sudah cukup.
“Leukemia akut risiko tinggi?”
Aku memejamkan mata.
“Kapan kamu didiagnosis?”
“Belum lama.”
“Dan kamu masih bekerja jadi kurir?”
“Aku butuh uang.”
“Kamu baru menerima enam ratus juta dariku.”
“Itu untuk Bima.”
Ia memandangku lama.
“Kenapa untuk Bima?”
Aku tidak menjawab.
Raka mengambil napas perlahan, lalu menoleh ke arah tirai tempat anakku berada.
“Umur Bima berapa?”
Aku tahu pertanyaan itu akhirnya datang.
“Tiga tahun lima bulan.”
Raka menghitung tanpa perlu bicara.
Wajahnya berubah.
“Laras.”
Aku menunduk.
“Lihat aku.”
Aku tidak sanggup.
Suara Raka terdengar lebih pelan ketika ia bertanya lagi.
“Bima anak siapa?”
Air mataku jatuh sebelum aku menjawab.
“Anakmu.”
Tidak ada bentakan.
Tidak ada suara kursi bergeser.
Hanya keheningan yang begitu berat sampai suara monitor dari ranjang sebelah terdengar jauh lebih jelas.
Beberapa detik kemudian Raka bertanya, “Kamu datang ke kampus karena penyakit ini?”
Aku mengangguk.
“Untuk memberitahuku soal Bima?”
Aku kembali mengangguk.
“Tapi setelah aku bilang akan menikah, kamu memutuskan tidak memberitahuku?”
Aku menutup wajah dengan tangan.
“Aku pikir hidupmu sudah tenang.”
“Jadi kamu memilih lagi untuk menentukan hidupku tanpa bertanya?”
Aku tidak punya jawaban.
Raka berdiri beberapa saat, lalu mengambil surat rujukan yang tadi ia pegang.
Di bagian bawah tercetak tanggal kontrol yang seharusnya kujalani tiga hari sebelumnya.
Ia menunjuk tanggal itu.
“Kamu melewatkan ini.”
Aku diam.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku mulai dirawat, aku belum tahu Bima akan tinggal dengan siapa.”
Tatapan Raka kembali menuju tirai.
Ketika ia menatapku lagi, kemarahannya belum hilang.
Tapi sekarang ada sesuatu yang lebih berat di belakangnya.
“Besok pagi,” katanya, “kamu kembali ke dokter ini.”
Ia mengetuk surat rujukan.
“Dan malam ini kita bicara tentang anakku.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku menatap Raka.
“Jangan menyebut Bima seperti dia barang yang tiba-tiba ditemukan.”
Raka terdiam.
Aku tahu kalimatku tidak adil. Akulah yang menyembunyikan Bima darinya. Tetapi mendengar “anakku” setelah hampir empat tahun membuat rasa takut yang selama ini kutahan muncul sekaligus.
“Aku tidak akan membawa dia pergi darimu,” katanya akhirnya.
“Kamu bahkan baru tahu dia ada.”
“Benar.”
Nada suaranya turun.
“Dan itu bukan karena aku memilih tidak tahu.”
Aku tidak bisa membantah.
Beberapa menit kemudian pengasuh masuk mengatakan Bima minta aku duduk di sampingnya. Raka tidak memaksa melanjutkan pembicaraan.
Malam itu ia menunggu sampai dokter memperbolehkan Bima pulang.
Ia bahkan tidak mencoba menggendongnya.
Ketika Bima mengantuk dan bersandar di bahuku, Raka hanya membukakan pintu mobil.
Dalam perjalanan menuju kontrakan, Bima beberapa kali menatapnya melalui kaca spion.
“Om namanya siapa?”
“Raka.”
“Aku Bima.”
Raka tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Bima mengerutkan dahi.
“Kok tahu?”
Raka melirikku sebentar.
“Mamamu bilang.”
Setelah sampai, Raka baru melihat tempat kami tinggal.
Kontrakan itu tidak buruk. Hanya kecil. Satu kamar tidur, ruang depan yang juga menjadi tempat makan, dapur sempit, serta kamar mandi di belakang.
Raka berdiri di ambang pintu cukup lama.
Aku tahu apa yang ia lihat.
Sepatu Bima yang sudah beberapa kali dilem.
Rak plastik dengan obat-obatanku.
Motor mainan murah yang kehilangan satu roda.
Serta tumpukan amplop berisi uang sekolah dan biaya hidup yang kutulis berdasarkan bulan.
“Jangan kasihan kepadaku,” kataku.
“Aku tidak sedang kasihan.”
“Tatapanmu begitu.”
“Aku sedang mencoba memahami empat tahun yang sama sekali tidak kuketahui.”
Bima tertidur sebelum pukul sembilan.
Aku menutup pintu kamar, lalu duduk di ruang depan bersama Raka.
Ia tidak berputar-putar.
“Mulai dari awal.”
Aku menghela napas.
“Malam ketika aku pergi?”
“Beberapa minggu sebelum itu.”
Aku akhirnya menceritakan semuanya.
Tentang ibuku yang datang menemui Ibu Ratna tanpa sepengetahuanku. Tentang permintaan Rp1,5 miliar dan rumah untuk Dimas. Tentang bagaimana ibuku berkata keluarga Raka kaya dan seharusnya tidak mempermasalahkan satu rumah.
Tentang pertemuanku dengan Ibu Ratna.
“Apa Ibu memberimu uang?”
“Dia menawarkannya.”
“Kamu ambil?”
“Tidak.”
Raka memandang meja.
“Kamu kenal aku saat itu, Laras. Kenapa tidak cerita?”
“Karena sebagian dari yang dia katakan benar.”
“Apanya?”
“Keluargaku memang seperti itu.”
Aku menatap pintu kamar Bima.
“Sejak ayah meninggal, aku yang sering menanggung listrik, utang Dimas, biaya rumah. Kalau aku menikah denganmu, mereka tidak akan berhenti. Aku malu.”
“Lalu solusimu menghilang?”
“Aku tidak bilang itu benar.”
“Setelah tahu hamil?”
Aku mengusap telapak tangan.
“Aku sudah pindah kota kecil beberapa bulan. Nomor ganti. Aku bekerja di laundry, lalu toko bahan bangunan. Waktu tahu hamil aku sudah terlalu takut untuk kembali.”
“Kamu tahu aku mencari kamu?”
“Baru belakangan.”
“Dan tetap tidak kembali.”
Aku mengangguk.
Raka mengembuskan napas panjang.
“Bima berhak mengenal ayahnya.”
“Aku tahu.”
“Dan aku berhak tahu aku punya anak.”
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya malam itu suaranya meninggi sedikit.
“Jangan cuma bilang tahu.”
Aku menatapnya.
“Lalu aku harus bilang apa? Bahwa setiap ulang tahun Bima aku menyesal? Bahwa setiap dia bertanya kenapa teman-temannya dijemput ayah, aku harus mencari jawaban yang tidak membuatnya merasa ditinggalkan? Aku salah, Raka. Aku tahu itu. Tapi aku tidak bisa mengembalikan empat tahun.”
Raka diam.
Aku juga.
Setelah beberapa lama ia berkata, “Tidak. Kita tidak bisa.”
Itu justru lebih menyakitkan daripada kalau ia berteriak.
“Tapi kita bisa berhenti menambah tahun kelima.”
Pagi berikutnya Raka datang sebelum pukul tujuh.
Ia membawa sarapan untuk Bima dan roti untukku.
Aku menolak makan.
Ia meletakkan roti itu di meja.
“Dokter bilang kamu perlu masuk dengan kondisi sebaik mungkin. Makan.”
“Aku bisa mengurus diriku.”
“Aku tahu. Kamu sudah membuktikannya sampai hampir pingsan.”
Aku menatapnya tajam.
Ia tidak membalas.
Akhirnya aku makan setengah roti.
Raka mengantar Bima ke tempat penitipan, lalu membawaku ke rumah sakit rujukan.
Dokter menjelaskan lagi apa yang sebenarnya sudah kuketahui tetapi selama ini kuhindari. Kondisiku membutuhkan pengobatan segera. Akan ada fase ketika tubuhku terlalu lemah untuk mengurus anak sendirian.
Aku menggenggam ujung map.
“Kalau saya harus rawat inap lama?”
“Kita lihat respons pengobatan dulu,” jawab dokter. “Tapi Ibu perlu menyiapkan pendamping dan pengasuhan anak.”
Aku menoleh kepada Raka.
Ia tidak menjawab untukku.
Aku menghargai itu.
“Saya akan atur,” kataku.
Setelah keluar, kami duduk di kantin rumah sakit.
Raka membuka percakapan.
“Aku ingin Bima tinggal denganku kalau kamu dirawat.”
Aku langsung menegang.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Dia belum mengenalmu.”
“Karena itu aku akan mulai mengenalnya sekarang.”
“Dan keluargamu?”
“Bima bukan keputusan keluarga besarku.”
Aku menatapnya.
“Empat tahun lalu keputusan keluargamu cukup membuat hidup kita berantakan.”
“Karena kamu dan aku membiarkan mereka mengambil tempat yang seharusnya milik kita.”
Kalimat itu membuatku diam.
Raka mencondongkan badan sedikit.
“Aku tidak akan mengambil Bima hari ini. Aku juga tidak mau anak tiga tahun dipindahkan ke rumah orang yang baru ia temui. Tapi kalau kamu masuk rumah sakit dua hari lagi, kita butuh rencana.”
Ia benar.
Dan aku membenci kenyataan bahwa ia benar.
Akhirnya kami sepakat Bima tetap tidur bersamaku sampai hari rawat inap. Setiap sore Raka datang untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Hari pertama mereka hanya menyusun balok.
Hari kedua Raka membacakan buku tentang kereta.
Hari ketiga Bima mulai memanggilnya “Om Raka” tanpa bertanya kepadaku lebih dulu.
Aku melihat semuanya dari kursi dekat dapur.
Raka tidak berusaha membeli kasih sayang Bima.
Ia tidak datang membawa mainan mahal.
Ia membawa pisang, susu, satu buku, dan kesabaran.
Itu justru membuatku semakin takut.
Aku tahu aku akan segera menyerahkan sebagian hidup Bima kepada seseorang yang empat tahun lalu kutinggalkan.
Pada malam sebelum aku dirawat, Raka berkata kami perlu membahas satu hal lagi.
“Secara resmi aku ingin memastikan paternitas.”
Aku sudah menduganya.
“Tes DNA?”
Ia mengangguk.
“Bukan karena aku ingin mencari alasan untuk lari.”
“Aku mengerti.”
“Aku hanya tidak mau nanti ada masalah administrasi atau keluarga mempertanyakan sesuatu.”
Aku mengangguk.
“Aku setuju.”
Tidak ada drama dalam proses itu.
Beberapa hari kemudian hasilnya mengonfirmasi apa yang sebenarnya sudah terlihat setiap kali Raka dan Bima duduk bersebelahan.
Raka adalah ayah biologis Bima.
Ia membaca hasil itu lama sekali.
Kemudian ia melipatnya dan memasukkan ke map.
“Aku kehilangan tiga tahun lima bulan.”
Aku tidak mengatakan maaf lagi.
Ada titik ketika kata maaf berhenti berguna jika tidak diikuti tindakan.
“Apa yang kamu mau aku lakukan?”
“Jangan menghilang lagi.”
Aku menatapnya.
“Kalau marah, bilang. Kalau takut, bilang. Kalau keluargamu datang minta sesuatu, bilang. Jangan putuskan semuanya sendirian.”
Aku mengangguk.
“Kamu juga.”
“Aku juga.”
Dua hari kemudian aku masuk rumah sakit.
Sebelum Bima dibawa pulang oleh Raka, ia memeluk pinggangku erat.
“Mama pulang kapan?”
“Kalau dokter bilang Mama boleh pulang.”
“Besok?”
Aku tersenyum.
“Mungkin tidak secepat itu.”
Ia mulai cemberut.
Raka berjongkok di sampingnya.
“Kita bisa video call Mama setiap malam.”
Bima melihatnya.
“Om Raka tidur di rumah Mama?”
“Tidak.”
“Terus aku tidur sama siapa?”
Raka terdiam sesaat.
“Kalau Bima mau, sama aku.”
Bima melihatku meminta izin.
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak mendapat diagnosis, aku bisa membiarkan ketakutan tentang Bima turun sedikit.
Pengobatan pertama jauh lebih berat daripada yang kubayangkan.
Ada hari ketika aku tidak ingin melihat makanan. Ada hari ketika berjalan ke kamar mandi saja terasa seperti pekerjaan penuh.
Tetapi dokter tidak pernah menjanjikan hal yang tidak pasti, dan aku belajar melakukan hal yang sama kepada Bima.
Aku tidak bilang Mama akan segera sembuh.
Aku bilang Mama sedang berobat.
Raka membawa Bima hampir setiap hari ketika kondisi dan aturan rumah sakit memungkinkan. Kalau tidak bisa masuk, mereka mengirim video.
Suatu malam Bima menunjukkan gambar baru melalui layar.
Ada tiga orang.
Kali ini laki-laki tinggi di sebelahnya diberi nama dengan huruf yang ditulis terbalik.
RAKA.
Aku harus mematikan kamera beberapa detik karena menangis.
Pada minggu kedua, Ibu Ratna datang.
Aku belum pernah melihatnya sejak empat tahun lalu.
Ia berdiri di depan tempat tidurku membawa tas buah yang tidak boleh kumakan sembarangan selama kondisi imun turun.
Kami berdua sama-sama canggung melihat tas itu.
“Raka sudah bilang buahnya nanti dibawa pulang,” katanya.
Aku tersenyum lemah.
“Terima kasih, Bu.”
Ia duduk.
Beberapa menit tidak ada yang bicara.
Akhirnya ia berkata, “Ibu salah dulu.”
Aku menatapnya.
“Ibu memang takut keluargamu akan memanfaatkan Raka. Tapi Ibu tidak seharusnya memperlakukanmu seolah kamu bertanggung jawab atas semua pilihan ibumu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Kalau waktu itu saya cerita kepada Raka, mungkin semuanya berbeda.”
“Mungkin.”
Ia mengangguk.
“Tapi Raka juga bilang Ibu terlalu ikut campur.”
Untuk pertama kalinya aku hampir tertawa.
“Itu memang gaya Raka.”
Ibu Ratna menatap tangannya sendiri.
“Dia marah besar ketika tahu Bima.”
“Kepada saya?”
“Kepada semua orang. Termasuk dirinya sendiri.”
Ia mengangkat wajah.
“Tapi Ibu datang bukan untuk meminta kamu kembali dengan Raka.”
Aku terdiam.
“Dan bukan untuk mengambil Bima.”
Ia melanjutkan, “Ibu hanya ingin bilang, kalau selama kamu dirawat Bima ada di rumah kami, tidak ada seorang pun yang akan mengajarinya membenci ibunya.”
Aku menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokan.
“Terima kasih.”
Hubungan kami tidak mendadak menjadi hangat.
Itu justru membuatnya terasa nyata.
Ia datang dua kali lagi selama aku dirawat. Kadang membawa pakaian Bima yang sudah dicuci. Kadang hanya memberi tahu bahwa cucunya sedang belajar makan sendiri tetapi masih menumpahkan nasi ke meja.
Sementara itu, masalah keluargaku sendiri belum selesai.
Suatu malam ibuku menelepon setelah berbulan-bulan hampir tidak pernah menghubungiku.
Entah dari siapa ia mendengar aku bertemu lagi dengan Raka.
“Katanya kamu dapat uang dari dia?”
Pertanyaan pertama itu membuat semuanya terasa jelas.
“Aku sedang dirawat, Bu.”
“Ibu tahu. Makanya Ibu telepon.”
“Tapi yang Ibu tanyakan uang.”
Di ujung sana hening.
Kemudian ia berkata Dimas punya utang usaha dan sedang dikejar cicilan. Kalau aku benar menerima uang ratusan juta, katanya, seharusnya aku membantu adikku.
Dulu aku mungkin akan diam.
Kemudian mengirim sebagian.
Lalu menyesal.
Malam itu aku melihat selang infus di tanganku dan foto Bima di meja.
“Tidak.”
Ibuku mengira tidak mendengar.
“Apa?”
“Uang itu untuk Bima.”
“Kamu kakaknya Dimas.”
“Aku juga ibunya Bima.”
“Dimas sedang susah.”
“Aku sedang menjalani pengobatan leukemia.”
Suara ibuku mengecil.
“Ibu bukan bermaksud…”
“Aku tidak akan bayar utangnya.”
Ia mulai mengatakan keluarga harus saling membantu.
Aku membiarkannya selesai.
Setelah itu aku berkata, “Aku sudah membantu bertahun-tahun. Kalau Dimas ingin bicara denganku, dia bisa telepon sendiri. Tapi jangan telepon lagi hanya untuk meminta uang.”
Tanganku gemetar ketika memutus sambungan.
Raka kebetulan datang setengah jam kemudian.
Ia melihat wajahku.
“Keluargamu?”
Aku mengangguk.
“Minta uang?”
“Iya.”
“Kamu kirim?”
“Tidak.”
Raka tidak memujiku.
Ia hanya menarik kursi dan duduk.
Itu lebih baik.
Ketika kondisiku mulai stabil, aku memindahkan sebagian besar Rp600 juta itu ke deposito atas namaku sendiri dengan tujuan khusus biaya hidup dan pendidikan Bima. Raka sempat berkata uang itu bebas kugunakan.
Aku menolak.
“Kalau ini benar-benar uang perpisahan, aku tidak mau hidup dari uang perpisahan.”
“Lalu?”
“Anggap bagian yang dipakai Bima sebagai tanggung jawabmu setelah tiga tahun tidak ikut membiayainya.”
Ia mengangguk.
“Itu lebih masuk akal.”
Kami juga mulai mengurus pengakuan Raka sebagai ayah Bima melalui jalur administrasi yang disarankan petugas dan konsultan hukum keluarga. Prosesnya tidak selesai dalam sehari dan aku tidak mengharapkannya.
Yang penting, kali ini tidak ada keputusan yang dibuat diam-diam.
Ada satu masalah yang terus kuhindari.
Nadia.
Perempuan yang akan dinikahi Raka.
Aku akhirnya bertanya ketika sudah hampir sebulan menjalani pengobatan.
“Pernikahanmu kapan?”
Raka menatapku.
“Ditunda.”
Dadaku terasa tidak nyaman.
“Karena aku?”
“Karena aku baru mengetahui punya anak dan hidupku berubah.”
“Nadia tahu?”
“Semua.”
Aku menatapnya tajam.
“Kamu cerita tentang penyakitku?”
“Yang perlu saja. Aku tidak memberikan detail medis.”
“Apa dia marah?”
“Tentu.”
Aku menunduk.
Aku tidak ingin menjadi alasan hidup perempuan lain hancur.
Raka seperti memahami pikiranku.
“Jangan membuat keputusan untuk Nadia juga.”
Aku menatapnya kembali.
“Dia berhak menentukan apa yang bisa dia terima.”
Beberapa minggu kemudian aku mengetahui Nadia dan Raka membatalkan rencana pernikahan mereka.
Bukan karena Nadia datang ke rumah sakit membuat keributan.
Bukan karena ia membenci Bima.
Justru karena ia menolak berpura-pura.
Raka menceritakan percakapan mereka dengan singkat.
Nadia mengatakan ia bisa menerima bahwa Raka punya anak. Yang tidak bisa ia terima adalah menikah dalam waktu dekat dengan laki-laki yang masih menyimpan terlalu banyak luka terhadap mantan pasangannya.
“Dia bilang aku perlu menyelesaikan hidupku dulu sebelum mengajak orang lain masuk ke dalamnya,” kata Raka.
Aku merasa bersalah.
“Dia benar.”
“Aku tahu.”
“Kamu mencintainya?”
Raka berpikir cukup lama.
“Aku menghormatinya. Aku nyaman bersamanya. Aku pikir kami bisa membangun hidup yang baik.”
Jawaban itu bukan jawaban romantis.
Justru karena itu aku mempercayainya.
“Jangan kembali kepadaku cuma karena Bima.”
Raka menatapku.
“Aku belum meminta kembali.”
Pipiku panas.
Ia hampir tersenyum.
“Sekarang tugasku jadi ayahnya. Hubungan kita urusan lain.”
Untuk beberapa bulan berikutnya, memang seperti itu.
Ia menjadi ayah Bima tanpa menjadikan anak itu alat untuk mendekatiku.
Ia belajar jadwal tidur Bima.
Ia tahu Bima tidak suka telur setengah matang.
Ia belajar bahwa Bima akan mengamuk kalau kaus kaki kirinya terasa “lebih tinggi” daripada yang kanan.
Ia pernah datang ke rumah sakit membawa dua pasang kaus kaki karena tidak yakin pasangan mana yang dimaksud Bima.
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Saat itulah aku sadar untuk pertama kalinya bahwa Raka bukan lagi laki-laki dalam pengumuman pencarian empat tahun lalu.
Dan aku juga bukan perempuan yang meninggalkannya.
Kami berdua berubah.
Pengobatanku berlangsung berbulan-bulan.
Setelah fase pertama, hasil pemeriksaan menunjukkan respons yang cukup baik. Dokter menggunakan kata remisi, lalu segera mengingatkanku bahwa itu bukan berarti semuanya selesai.
Aku masih perlu terapi lanjutan dan pemantauan ketat.
Aku tidak keberatan.
Untuk pertama kalinya aku tidak membutuhkan kepastian sempurna agar berani membuat rencana satu minggu ke depan.
Ketika aku akhirnya diperbolehkan kembali ke kontrakan untuk periode yang lebih panjang, Raka mengantar Bima pulang.
Anak itu langsung masuk ke kamar dan menarik keluar tumpukan gambarnya.
“Mama lihat!”
Ada gambar mobil.
Ada gambar rumah.
Ada gambar tiga orang di taman.
Kemudian Bima mengeluarkan gambar paling lama.
Gambar dengan seorang ayah tanpa nama.
Ia mengambil krayon biru dan menulis RAKA dengan huruf besar di bawahnya.
Raka berdiri di belakang kami.
Aku menoleh.
Matanya merah.
Ia pura-pura melihat ke jendela.
Aku tidak mengatakannya.
Beberapa minggu setelah kondisiku membaik, aku mulai bekerja paruh waktu dari rumah untuk sebuah usaha percetakan yang dulu pernah mempekerjakanku. Aku tidak kembali menjadi kurir.
Bukan karena Raka melarang.
Karena aku sendiri tahu tubuhku punya batas.
Aku juga berhenti mengirim uang kepada Dimas.
Dia sempat datang sekali.
Bukan untuk meminta lagi.
Ia datang membawa Rp2 juta.
“Ini belum banyak,” katanya. “Dulu Kakak sering bayarin utangku.”
Aku menatap uang itu.
“Aku enggak butuh kamu langsung ganti semuanya.”
“Aku tahu.”
Ia menggaruk kepala.
“Tapi aku malu setelah Ibu bilang Kakak sakit masih aku minta uang.”
Aku menerima uang itu bukan karena jumlahnya.
Karena untuk pertama kalinya adikku datang sebagai orang dewasa yang mencoba bertanggung jawab.
Hubunganku dengan ibuku tetap sulit.
Kami bicara sesekali.
Aku tidak memutus hubungan, tetapi juga tidak lagi menjawab setiap permintaan dengan transfer.
Itulah perubahan terbesar yang bisa kulakukan saat itu.
Bukan mengalahkan siapa pun.
Hanya berhenti menyerahkan keputusan hidupku kepada rasa bersalah.
Delapan bulan setelah hari di rumah sakit ketika Raka mengetahui tentang Bima, aku duduk di teras kecil kontrakan sambil melihat anak kami bermain mobil-mobilan.
Raka datang membawa dua gelas teh.
Ia duduk di sebelahku.
“Aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu masih suka menghilang?”
Aku mendengus.
“Sudah delapan bulan kamu masih menyindir itu.”
“Pertanyaan serius.”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
Ia mengangguk.
“Bagus.”
“Kenapa?”
Raka menaruh gelasnya.
“Aku enggak mau kembali ke hubungan lama.”
Dadaku menegang.
Ia melanjutkan sebelum aku salah mengerti.
“Hubungan lama kita buruk dalam satu hal. Kita sama-sama membiarkan ketakutan bicara lebih dulu.”
Aku menatap Bima.
“Lalu?”
“Aku mau kenal kamu lagi.”
Aku menoleh.
“Sebagai apa?”
“Sebagai Laras yang sekarang.”
Ia tersenyum kecil.
“Kalau kamu mau.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Aku belum tahu hidupku lima tahun lagi seperti apa.”
“Aku juga enggak.”
“Aku masih kontrol rutin.”
“Aku tahu.”
“Keluargaku tetap merepotkan.”
“Itu juga aku tahu.”
“Aku mungkin akan takut lagi.”
“Katakan kalau takut.”
Aku menatapnya lama.
Kemudian aku berkata, “Kita mulai pelan-pelan.”
Raka mengangguk.
“Pelan-pelan.”
Kami tidak langsung membicarakan pernikahan.
Tidak ada cincin minggu berikutnya.
Tidak ada rumah besar tiba-tiba.
Tidak ada kehidupan sempurna.
Kami makan malam bertiga sekali seminggu.
Kemudian dua kali.
Kadang bertengkar karena Raka terlalu memanjakan Bima.
Kadang aku marah ketika ia terlalu cepat ingin membantu dan lupa bahwa aku masih ingin mengerjakan banyak hal sendiri.
Tetapi sekarang kami bertengkar di ruangan yang sama.
Tidak ada yang menghilang.
Setahun setelah diagnosis, pemeriksaanku masih menunjukkan remisi.
Dokter tetap meminta kontrol berkala.
Aku masih merasa takut setiap kali menunggu hasil laboratorium.
Raka tidak mengatakan semuanya pasti baik.
Ia hanya duduk di sebelahku.
Bima sudah mulai sekolah.
Pada hari pertama, ia berdiri di depan gerbang dengan seragam yang sedikit kebesaran.
Aku memegang tangan kirinya.
Raka memegang tangan kanannya.
Sebelum masuk, Bima menoleh.
“Ayah jemput?”
Itu pertama kali ia memanggil Raka begitu tanpa berlatih.
Raka terlihat seperti lupa cara menjawab.
Bima mengulang.
“Ayah?”
“Iya.”
Suara Raka serak.
“Ayah jemput.”
Bima berlari masuk.
Aku melihat Raka mengusap wajahnya.
“Jangan bilang kamu nangis.”
“Aku kena debu.”
“Di gerbang sekolah?”
“Banyak debu.”
Aku tertawa.
Beberapa bulan kemudian Raka mengajakku makan bersama Ibu Ratna dan Bima.
Bukan acara pertunangan.
Bukan pembicaraan keluarga besar.
Hanya makan malam.
Di tengah meja, Ibu Ratna tiba-tiba berkata, “Kalau kalian suatu hari mau menikah, jangan ada lagi orang tua yang menentukan jumlah uang, rumah, atau siapa harus memberi apa.”
Raka hampir tersedak air.
Aku menatapnya.
Ibu Ratna melanjutkan makan seolah tidak mengatakan apa pun.
Aku tersenyum.
“Setuju, Bu.”
Raka menatap kami bergantian.
“Kalian sekarang satu tim?”
“Jangan terlalu percaya diri,” kataku.
Malamnya setelah mengantar kami pulang, Raka berdiri di depan pintu kontrakan.
Ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.
Aku langsung mengangkat alis.
“Apa itu?”
“Kunci rumahku.”
“Untuk apa?”
“Bima sudah sering menginap. Aku pikir kamu perlu punya satu untuk keadaan darurat.”
Aku tidak langsung mengambilnya.
Empat tahun lalu, aku pergi tanpa meninggalkan apa pun.
Nomor telepon mati.
Alamat tidak ada.
Tidak ada jalan baginya untuk menemukan kami.
Sekarang Raka berdiri menawarkan sebuah kunci.
Bukan untuk memaksaku pindah.
Bukan sebagai janji pernikahan.
Hanya sebuah cara sederhana mengatakan ada pintu yang tidak perlu lagi kutakuti.
Aku mengambilnya.
“Tapi ini bukan berarti aku pindah besok.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan kasih salinan ke ibumu.”
Raka tertawa.
“Ibu juga bilang jangan kasih salinan ke ibumu.”
Aku ikut tertawa.
Dari dalam rumah, Bima memanggil.
“Mama! Ayah! Lihat gambarku!”
Kami masuk.
Di atas meja ada satu gambar baru.
Tiga orang berdiri di depan rumah.
Tidak ada sosok kosong.
Tidak ada orang yang hanya dibayangkan.
Bima memberi Raka krayon biru.
“Ayah warnai pintunya.”
Raka duduk di sebelahnya.
Aku meletakkan kunci yang baru diberikan Raka di atas meja, tepat di samping gambar itu.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus lari sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Aku hanya menarik kursi dan duduk bersama mereka.
Menurutmu, apakah Laras benar karena akhirnya memberi Raka kesempatan kedua setelah empat tahun menyembunyikan Bima darinya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
