Mantan Kekasih Ayah Datang Membawa Anak dan Menyiramku dengan Teh Panas. Pagi Berikutnya Polisi Membawa Ibu Pergi

Avatar penulis
Cerita 01
23 menit baca 538 tayangan
Mantan Kekasih Ayah Datang Membawa Anak dan Menyiramku dengan Teh Panas. Pagi Berikutnya Polisi Membawa Ibu Pergi
Indeks

Mantan Kekasih Ayah Datang Membawa Anak dan Menyiramku dengan Teh Panas. Pagi Berikutnya Polisi Membawa Ibu Pergi

Bagian 1

Saat perempuan itu menyiramkan teh panas ke lenganku, aku baru berumur tujuh tahun. Ia datang ke rumah kami dengan perut yang sudah besar, membawa seorang anak laki-laki seusiaku, lalu mengatakan bahwa ibuku adalah perempuan yang merebut tempatnya.

Sebelum hari itu, aku selalu percaya satu hal sederhana: Ayah mencintai Ibu lebih dari siapa pun.

Nama ayahku Armand Pranoto.

Di Jakarta, orang mengenalnya sebagai pemimpin Grup Pranoto, keluarga bisnis lama yang mempunyai perusahaan dari properti sampai distribusi. Bahkan di antara orang-orang kaya, nama keluarga kami sering membuat percakapan berubah menjadi lebih hati-hati.

Sejak kecil aku mendengar cerita berlebihan tentang Ayah.

Mantan Kekasih Ayah Datang Membawa Anak dan Menyiramku dengan Teh Panas. Pagi Berikutnya Polisi Membawa Ibu Pergi

Ada yang berkata saat aku lahir, transaksi perusahaan-perusahaan besar yang berhubungan dengan keluarga Pranoto dihentikan beberapa menit hanya karena orang-orang penting ingin mengirim ucapan selamat.

Aku tidak pernah tahu bagian mana yang benar dan mana yang sudah berubah menjadi legenda keluarga.

Yang kutahu, Ayah yang ditakuti banyak orang justru memasak bubur untuk Ibu ketika Ibu sakit.

Di punggungnya ada bekas luka lama akibat kebakaran.

Menurut cerita Nenek, bertahun-tahun sebelumnya Ayah masuk ke sebuah rumah yang terbakar untuk mengeluarkan Ibu.

Aku tumbuh dengan cerita itu.

Bagiku, cinta adalah bekas luka di punggung Ayah.

Sampai Maya Lestari datang ke rumah kami.

Pagi itu ia tidak membuat janji.

Satpam sempat mencoba menahannya, tetapi Maya berteriak bahwa ia mengenal Ayah jauh sebelum siapa pun di rumah kami mengenalnya. Anak laki-laki yang datang bersamanya bernama Raka.

Raka lebih tinggi dariku hampir satu kepala.

Maya meletakkan tangannya di bahu anak itu sambil menatapku.

“Panggil dia Kak Raka.”

Aku tidak mau.

Aku bahkan tidak mengenalnya.

Maya tertawa pendek.

“Kamu belum diberi tahu, ya?”

Aku mundur satu langkah.

“Ayahku tidak ada di rumah.”

“Aku tahu.”

Cara ia menjawab membuatku tidak nyaman.

Di meja ruang tamu ada teko teh yang baru dibawa pembantu rumah. Maya mengambil cangkirnya sendiri, tetapi bukannya minum, ia menatapku dari kepala sampai kaki.

“Kamu mirip ibumu.”

Aku tidak tahu apakah itu pujian.

Kemudian ia berkata, “Aku mengenal ayahmu sebelum perempuan itu datang.”

Aku masih ingat kalimat berikutnya karena selama bertahun-tahun aku tidak bisa melupakannya.

“Ibumu cuma datang belakangan lalu bertingkah seolah semuanya miliknya.”

Aku menjawab, “Ini rumah Ibu juga.”

Wajah Maya berubah.

Tangannya bergerak cepat.

Isi cangkir mengenai bahu dan lengan kiriku.

Panasnya membuatku berteriak.

Aku tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Aku hanya tahu kulitku seperti terbakar dan air mata langsung keluar.

Maya tidak terlihat menyesal.

Ia malah menunjuk ke arah tangga.

“Pergi bilang pada ibumu. Bilang Maya Lestari sudah kembali.”

Aku berlari.

Ibu sedang berada di lantai dua, di ruang kaca dekat kamar tidurnya. Di sana ia merawat beberapa tanaman kesayangannya, termasuk mawar berwarna merah sangat gelap yang hampir tampak hitam.

Namanya Sinta Maheswari.

Orang sering mengira Ibu lembut karena ia bicara pelan dan jarang menaikkan suara.

Aku tahu lebih baik.

Aku sudah pernah melihat Ibu membuat orang dewasa berhenti bicara hanya dengan satu tatapan.

Ketika melihat lenganku, gunting kecil yang dipegangnya berhenti.

“Siapa?”

Aku menceritakan semuanya.

Aku mengulangi perkataan Maya sebisaku, termasuk bahwa Maya mengaku mengenal Ayah lebih dulu dan menyebut Ibu perempuan yang merebut tempatnya.

Ibu mendengarkan sampai selesai.

Tidak ada teriakan.

Ia hanya memotong satu tangkai mawar yang sudah rusak, kemudian menjatuhkannya ke wadah pembakaran kecil untuk sampah kebun.

“Begitu, ya,” katanya.

Hanya itu.

Malamnya, rumah kosong di sebelah kompleks kami terbakar hebat.

Rumah itu ternyata baru beberapa hari ditempati Maya dan Raka.

Api terlihat dari jendela kamar kami.

Sirene mobil pemadam datang silih berganti.

Maya dan Raka berhasil keluar, tetapi mereka dibawa ke rumah sakit karena luka yang membutuhkan perawatan.

Aku berdiri di depan jendela bersama Ibu.

Ia memeluk bahuku dari belakang.

“Hangat, Naya?”

Aku menoleh.

Ekspresi Ibu sulit kubaca.

Bertahun-tahun kemudian aku masih tidak tahu apakah pertanyaan itu kemarahan, sindiran, atau sesuatu yang hanya dipahami Ibu sendiri.

Yang jelas, keesokan paginya semuanya berubah.

“AYAH!”

Suara gerbang depan membuatku terbangun.

Aku berlari keluar kamar.

Ayah sudah dua minggu hampir tidak pulang.

Saat itu pakaiannya kusut, ada perban di lengan, dan wajahnya seperti orang yang sudah beberapa malam tidak tidur.

Ia melewatiku tanpa menyapa.

Di belakangnya ada beberapa polisi.

Ayah langsung menuju ruang keluarga.

Ibu sedang membersihkan daun tanaman dengan kain lembut.

Ayah menunjuknya.

“Dia orangnya.”

Suara Ayah serak.

“Dia yang membakar rumah itu. Tolong bawa dia.”

Aku berdiri membeku di pintu.

Ibu mengangkat wajah sebentar, menatap Ayah, lalu kembali pada tanamannya.

Sikap itu justru membuat Ayah semakin marah.

Ia maju dan mengangkat tangan, tetapi seorang polisi segera memegang lengannya.

“Pak, jangan.”

Petugas lain mendekati Ibu.

“Bu Sinta, kami perlu meminta keterangan terkait kebakaran semalam. Ada laporan yang menyebut Ibu sebagai orang yang mungkin berkaitan dengan kejadian itu.”

Ibu meletakkan kainnya.

“Baik.”

Polisi menjelaskan prosedurnya.

Saat Ibu dibawa keluar, aku menangis dan memegang bajunya.

Ayah menarikku menjauh.

“Jangan ikut.”

“Aku mau sama Ibu!”

Aku mencoba meraih Ibu lagi.

Ayah mendorong tanganku terlalu keras.

Tubuhku mundur dan pinggangku menghantam sudut meja.

Aku menjerit.

Ibu yang tadinya berjalan tenang langsung berbalik.

“Armand!”

Ia menghampiri kami.

Polisi sempat mencoba menahannya, tetapi Ibu berjongkok memeriksa pinggangku terlebih dahulu.

Setelah tahu aku masih bisa berdiri, ia menatap Ayah.

“Kalau Naya sampai kenapa-kenapa karena kamu, jangan berharap aku akan diam.”

Ayah membalas dengan tatapan penuh amarah.

“Kamu masih berani mengancam setelah apa yang kamu lakukan pada Maya dan Raka?”

“Buktikan dulu aku melakukannya.”

Aku akhirnya diizinkan ikut ke kantor polisi bersama pengasuh keluarga.

Hampir sepanjang hari Ibu dimintai keterangan.

Ayah duduk di luar.

Ia menghabiskan rokok demi rokok sambil menelepon banyak orang.

Sesekali ia berjalan mendekati pintu ruang pemeriksaan, lalu kembali.

Aku belum pernah melihatnya segelisah itu.

Pagi berikutnya, Ibu keluar.

Tidak ada cukup bukti untuk menahannya.

Polisi mengatakan penyelidikan kebakaran tetap berjalan, tetapi dari pemeriksaan awal mereka belum menemukan dasar untuk menetapkan Ibu sebagai tersangka.

Ibu menggenggam tanganku.

Ia bahkan tidak menatap Ayah.

Kami menuju mobil.

Di belakang kami terdengar benda jatuh keras.

Ketika aku menoleh, ponsel Ayah sudah pecah di lantai dan sebuah tempat sampah terguling.

Kami belum jauh meninggalkan kantor polisi ketika mobil Ayah muncul dari belakang.

Ia memotong jalan.

Mobil kami berhenti mendadak.

Aku terbentur sabuk pengaman.

Ayah turun dan menghampiri sisi pengemudi.

Ia membuka pintu lalu menarik Ibu keluar.

“Sinta!”

Dahi Ibu membentur bingkai pintu.

Ada garis merah tipis muncul di dekat rambutnya.

“Aku tahu ini kamu!”

Ibu menepis tangannya.

“Polisi baru saja mengatakan tidak ada bukti.”

“Aku tidak peduli.”

Ayah mencengkeram kerah kemeja Ibu.

“Raka baru tujuh tahun. Maya sedang mengandung anak laki-lakiku. Kamu masih punya hati atau tidak?”

Aku duduk gemetar di mobil.

Ibu tidak menangis.

Ia menatap Ayah lama sekali.

Lalu sudut bibirnya terangkat.

“Polisi tidak menetapkanku sebagai tersangka. Kamu siapa sampai merasa bisa menjatuhkan vonis sendiri?”

Tamparan Ayah mendarat di pipinya.

Aku berteriak.

Ibu bergeser satu langkah, tetapi tidak jatuh.

Ayah berkata dengan suara rendah, “Kalau sesuatu terjadi pada Maya atau anak-anak itu, jangan kira keluargamu akan bisa melindungimu.”

Ibu menyentuh pipinya sendiri.

“Panik sekali.”

“Apa?”

“Mereka masih hidup.”

Tatapan Ibu menjadi dingin.

“Kalau kamu benar-benar mau melindungi mereka, jaga mereka baik-baik. Jangan biarkan mereka datang ke rumahku lagi dan menyiram anakku dengan teh panas.”

Ayah merogoh bagian dalam jaketnya.

Ia mengeluarkan pisau lipat yang kukenal.

Pisau itu sudah lama ada di rumah kami.

Dulu aku pernah melihat Ayah memakainya untuk memotong tali dan membuka paket, meski orang rumah tahu benda itu lebih tajam daripada pisau biasa.

Ia menahannya dekat leher Ibu.

Aku tidak berpikir.

Aku membuka pintu mobil dan berlari.

“Ayah jahat!”

Aku memukul lengan dan punggungnya dengan kedua tangan.

“Jangan ganggu Ibu!”

Ayah menoleh kepadaku.

Itu hanya satu detik.

Ibu bergerak.

Tangannya menangkap pergelangan Ayah, memutar, dan mengambil pisau tersebut.

Beberapa saat kemudian ujung pisau justru berada dekat leher Ayah.

Ibu tidak menusuknya.

Ia hanya berkata pelan, “Kamu marah sampai lupa siapa yang dulu mengajarimu jangan pernah mengeluarkan senjata kalau tidak siap kehilangan senjata itu.”

Ayah terdiam.

Napasnya berat.

Ibu menutup pisau dan memasukkannya ke saku mantelnya sendiri.

Kemudian ia mengatakan dua kata yang bahkan aku, pada umur tujuh tahun, mengerti akan mengubah hidup kami.

“Kita bercerai.”

Ayah langsung menjawab, “Tidak.”

“Bukan pertanyaan.”

“Aku bilang tidak.”

Ayah mengusap wajah.

Beberapa detik kemudian suaranya turun.

“Maya datang dan memprovokasimu. Aku akan minta maaf atas nama mereka.”

Ibu memandangnya tanpa ekspresi.

Ayah melanjutkan, “Aku akan merawat Maya dan Raka sampai mereka keluar dari rumah sakit. Setelah bayinya lahir, aku akan mengatur supaya mereka tinggal di luar negeri.”

“Kemudian?”

“Aku pulang.”

Ayah menunjuk aku.

“Kita bertiga kembali seperti dulu.”

Ibu tidak menjawab.

Ayah masuk ke mobilnya yang bagian depannya sudah penyok akibat memotong jalan kami.

Ia pergi begitu saja.

Aku meraih tangan Ibu.

Tangannya dingin.

Untuk pertama kalinya aku tidak melihat bekas luka di punggung Ayah sebagai bukti bahwa cinta pasti bertahan selamanya.

Aku menatap jalan tempat mobilnya menghilang dan tiba-tiba mengerti sesuatu yang terlalu besar untuk anak berumur tujuh tahun.

Keluarga kami tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Ibu tidak langsung pulang ke rumah.

Ia membawa aku ke sebuah klinik.

Dokter memeriksa pinggangku, sementara seorang perawat mengoleskan obat pada bekas siraman teh yang mulai memerah di lenganku.

Ibu sendiri harus mendapat beberapa jahitan kecil di dahinya.

Ketika dokter bertanya bagaimana luka itu terjadi, Ibu menjawab singkat.

“Suami saya menarik saya dari mobil.”

Dokter berhenti menulis.

“Apakah Ibu ingin kejadian ini dicatat lengkap?”

“Iya.”

Itulah tindakan pertama Ibu setelah mengatakan ingin bercerai.

Bukan membalas Ayah.

Bukan menelepon keluarga besar.

Mencatat apa yang benar-benar terjadi.

Kami kemudian pergi ke rumah kakek dan nenek dari pihak Ibu di Kebayoran.

Ibu meminta sopir pulang ke rumah kami hanya untuk mengambil pakaian, dokumen pribadinya, akta kelahiranku, dokumen sekolah, obat, dan beberapa barang yang benar-benar kami perlukan.

“Jangan bawa barang Armand,” katanya. “Jangan sentuh ruang kerjanya.”

Malam itu, Ayah menelepon puluhan kali.

Ibu tidak menjawab.

Ia baru mengirim satu pesan setelah aku tidur.

Aku mengetahuinya bertahun-tahun kemudian saat Ibu menunjukkan salinannya kepadaku.

Aku dan Naya aman. Mulai sekarang semua pembicaraan soal anak, tempat tinggal, dan perceraian dilakukan dengan tenang. Jangan datang membawa kemarahan.

Balasan Ayah datang kurang dari satu menit.

Kamu berlebihan. Aku marah karena kamu hampir membunuh mereka.

Ibu menjawab:

Kalau kamu punya bukti, berikan kepada polisi. Soal pernikahan kita berbeda.

Setelah itu ia mematikan notifikasi.

Pagi berikutnya, Ibu melakukan sesuatu yang menurutku waktu itu sangat membosankan.

Ia membuka laptop.

Bukan mencari foto Maya.

Bukan membaca gosip.

Ia memeriksa rekening bersama yang selama ini dipakai untuk pengeluaran rumah tangga.

Ibu dan Ayah sama-sama memiliki akses.

Selama beberapa menit tidak terjadi apa-apa.

Lalu Ibu berhenti menggulir.

Ia kembali ke satu transaksi.

Kemudian transaksi lain.

Aku sedang menggambar di meja makan ketika mendengar Nenek bertanya, “Ada apa?”

Ibu tidak menjawab.

Ia mencatat beberapa tanggal.

Ada transfer rutin ke perusahaan pengelola apartemen.

Ada pembayaran rumah sakit.

Ada biaya sekolah.

Jumlahnya tidak kecil.

Satu transfer Rp85 juta.

Lalu Rp72 juta.

Kemudian Rp90 juta lagi.

Nama penerima berbeda-beda, tetapi catatan transaksi membuat polanya jelas.

Semua berkaitan dengan Maya atau Raka.

Pembayaran itu sudah berlangsung lebih dari setahun.

Padahal Ayah mengatakan Maya baru kembali ke hidup kami.

Ibu menyimpan salinan mutasi rekening.

Ia tidak mengambil uang yang bukan miliknya.

Ia hanya memindahkan dana pribadinya dari rekening terpisah ke rekening yang aksesnya hanya miliknya, kemudian mengganti kata sandi email dan layanan perbankan pribadi.

Siang harinya Ayah akhirnya menelepon dari nomor kantor.

Ibu mengangkat.

“Apa?”

“Kamu memblokir nomorku?”

“Aku mematikan notifikasi.”

“Sinta, berhenti membuat semuanya lebih besar.”

Ibu menatap layar laptop.

“Sudah berapa lama kamu membayar apartemen Maya?”

Di seberang sana langsung sunyi.

Ibu menunggu.

Ayah berkata, “Itu bukan urusanmu.”

“Uangnya keluar dari rekening bersama kita.”

“Aku mengembalikannya.”

“Jadi kamu mengaku.”

“Sinta.”

“Sudah berapa lama?”

Ayah menarik napas.

“Maya mengalami kesulitan. Aku membantunya.”

“Delapan belas bulan?”

Aku melihat tangan Ibu menegang di tepi meja.

Ayah berkata, “Kamu tidak tahu sejarah kami.”

“Aku tahu kamu pulang ke rumah setiap malam dan membiarkan aku percaya tidak ada apa-apa.”

“Tidak ada hubungan seperti yang kamu pikirkan.”

“Dia sedang mengandung anakmu.”

Ayah kembali diam.

Untuk pertama kalinya, suara Ibu terdengar hampir lelah.

“Armand, aku tidak perlu membayangkan apa pun. Kamu sendiri sudah menjelaskan cukup banyak.”

Ayah mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kapan kamu membawa Naya pulang?”

“Dia tinggal denganku.”

“Dia anakku juga.”

“Benar. Karena itu berhentilah membuat dia takut.”

Ayah menutup telepon.

Sore harinya, seorang staf bank mengirimkan dokumen transaksi lengkap yang memang dapat diakses Ibu sebagai pemilik bersama rekening tersebut.

Di antara puluhan halaman itu, ada satu pembayaran yang membuatnya membaca ulang tiga kali.

Bukan biaya rumah sakit.

Bukan uang sekolah.

Sebelas bulan sebelumnya, dari rekening bersama kami telah dibayarkan uang muka untuk sebuah rumah.

Alamatnya hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman kami.

Catatan pembayaran mencantumkan satu nama.

Maya Lestari.

Rp1,35 miliar.

Ibu meletakkan kertas itu di meja.

Kemudian ia berkata kepada Nenek, sangat pelan, “Dia bukan baru kembali.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Malam itu Ibu tidak menelepon Ayah.

Aku tahu karena sepanjang malam ponselnya tergeletak di meja samping tempat tidur.

Beberapa kali layarnya menyala.

Nama Ayah muncul.

Ibu membalik ponselnya hingga layar menghadap ke bawah.

Aku tidur di sebelahnya.

Sekitar tengah malam aku terbangun dan melihat Ibu masih duduk bersandar pada kepala ranjang.

Ia memegang salinan transaksi rumah Maya.

“Ibu tidak tidur?”

Ibu segera melipat kertas itu.

“Tidurlah.”

“Ayah akan datang?”

“Tidak malam ini.”

“Kalau datang?”

Ibu diam sebentar.

“Dia tidak boleh masuk kalau dia datang sambil marah.”

Itu mungkin kalimat pertama yang mengajariku bahwa cinta dan izin masuk ke dalam hidup seseorang bukanlah hal yang sama.

Keesokan harinya seorang advokat bernama Ratna datang ke rumah Kakek.

Ia bukan orang asing yang tiba-tiba mengetahui semua masalah keluarga kami.

Ratna sudah bertahun-tahun membantu keluarga Maheswari mengurus kontrak dan beberapa urusan perdata.

Ibu menyerahkan kepadanya catatan dari klinik, salinan transaksi rekening, dan beberapa pesan Ayah.

Ratna membacanya satu per satu.

“Apa tujuanmu?” tanyanya.

“Pisah.”

“Untuk sementara atau permanen?”

“Permanen.”

Ratna menutup map.

“Kalau begitu jangan lakukan sesuatu hanya karena marah hari ini. Kita urus pelan-pelan.”

Ibu mengangguk.

“Yang paling penting Naya.”

Ratna menatapku yang sedang duduk di ujung ruangan.

“Kalau ada risiko salah satu orang tua bertindak impulsif, pengaturan pertemuan sementara sebaiknya jelas. Tidak perlu menjadikan anak senjata.”

Ibu langsung menjawab, “Aku tidak akan melarang Armand bertemu Naya selamanya.”

Aku melihat Nenek menoleh.

Ibu melanjutkan, “Tapi dia tidak boleh membawa Naya saat sedang seperti kemarin.”

Itu menjadi batas pertama.

Sekolahku diberi tahu bahwa untuk sementara hanya Ibu, Kakek, Nenek, atau pengasuh yang namanya sudah terdaftar boleh menjemputku.

Ayah tetap boleh menghubungi sekolah dan mendapat informasi yang menjadi haknya sebagai orang tua, tetapi ia tidak boleh tiba-tiba membawaku pergi tanpa koordinasi selama situasi kami belum tenang.

Ibu juga meminta staf rumah tidak membuang atau memindahkan barang apa pun milik Ayah.

Ia tidak mau memberi siapa pun alasan mengatakan ia mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Tiga hari kemudian Ayah datang ke rumah Kakek.

Kali ini ia tidak menerobos pintu.

Ia berdiri di ruang tamu.

Wajahnya tampak lebih kurus.

“Aku mau bicara dengan istriku.”

Kakek menjawab, “Sinta akan turun kalau dia mau.”

Ayah menatapnya.

“Saya tidak datang untuk berkelahi.”

“Bagus.”

Ketika Ibu muncul, ia sudah tidak memakai perban di dahi. Bekas jahitan masih terlihat.

Ayah menatap bekas luka itu beberapa detik.

Kemudian pandangannya turun.

“Sinta.”

Ibu duduk.

“Apa?”

“Kita bicara berdua.”

“Tidak.”

Ayah menoleh kepada Kakek dan Ratna yang duduk tidak jauh dari kami.

“Masalah rumah tangga tidak perlu jadi tontonan.”

Ibu menjawab, “Kalau kita bisa bicara berdua tanpa kamu menarikku keluar dari mobil dan menodongkan pisau, mungkin aku akan mempertimbangkannya.”

Ayah terdiam.

Tidak ada orang yang menaikkan suara.

Itulah yang membuat ruangan terasa lebih berat.

Ayah akhirnya duduk.

“Aku salah soal kemarin.”

Ibu menunggu.

“Aku tidak seharusnya menamparmu.”

“Dan?”

Ayah rahangnya mengeras.

“Aku tidak seharusnya mendorong Naya.”

“Dan?”

“Aku tidak akan mengeluarkan pisau lagi.”

Ibu menatapnya.

“Bukan itu yang kutanyakan.”

“Lalu apa?”

Ibu mendorong salinan transaksi melintasi meja.

Ayah tidak menyentuhnya.

“Kenapa kamu membeli rumah untuk Maya sebelas bulan lalu menggunakan uang dari rekening bersama?”

Ayah melihat kertas itu.

Kemudian kepalanya terangkat.

“Kamu memeriksa rekeningku?”

“Rekening kita.”

Ayah tidak punya jawaban untuk itu.

Ibu menunjuk satu baris.

“Uang muka Rp1,35 miliar.”

“Itu sudah kuganti sebagian.”

“Bukan pertanyaanku.”

“Sinta, Maya sedang hamil.”

“Sebelas bulan lalu dia belum hamil sebesar sekarang.”

Ayah mengusap kening.

Ratna tidak ikut bicara.

Kakek juga diam.

Tidak ada yang memberi Ayah jalan keluar.

Akhirnya ia berkata, “Maya menghubungiku hampir dua tahun lalu.”

Itulah pertama kalinya kami mendapat cerita yang utuh.

Dulu, sebelum menikahi Ibu, Ayah pernah berhubungan dengan Maya.

Mereka putus ketika Ayah masih membangun karier.

Setelah itu Maya menikah dengan orang lain dan memiliki Raka.

Pernikahan itu tidak bertahan.

Menurut Ayah, ketika Maya kembali menghubunginya, kondisi keuangannya buruk dan Raka membutuhkan sekolah baru.

“Aku cuma membantu awalnya,” kata Ayah.

Ibu tidak bereaksi.

“Lalu?”

“Aku sewa apartemen untuk mereka.”

“Lalu rumah.”

Ayah menunduk.

“Iya.”

“Lalu kamu tidur dengannya.”

Kali ini Ayah tidak menjawab.

Ibu tidak mengulangi pertanyaannya.

Tidak perlu.

Aku tidak sepenuhnya memahami arti percakapan itu saat berumur tujuh tahun.

Tapi aku mengerti keheningan Ayah.

Beberapa kebenaran tidak membutuhkan pidato.

Ayah akhirnya berkata, “Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu.”

Ibu tertawa sekali.

Tidak keras.

“Justru itu masalahmu.”

Ayah mengerutkan kening.

“Aku serius.”

“Aku tahu.”

Ibu menggeser kertas itu kembali.

“Kamu ingin istri di rumah, perempuan lain di dekat rumah, anak dari perempuan itu tetap kamu urus, lalu semuanya berjalan karena menurutmu kamu mampu membayar.”

“Aku bertanggung jawab.”

“Tidak.”

Suara Ibu tetap pelan.

“Kamu menyembunyikan.”

Ayah mulai kehilangan kesabaran.

“Aku tidak meninggalkan kewajibanku kepadamu atau Naya.”

“Kamu memakai uang rekening bersama untuk hidup yang tidak kuketahui.”

“Aku bisa ganti.”

“Uangnya bisa diganti.”

Ibu menunjuk bekas jahitan di dahinya.

“Yang ini juga?”

Ayah melihatnya.

Ibu melanjutkan, “Maya datang ke rumah kita dan menyiram Naya. Kamu datang membawa polisi menuduhku. Setelah polisi melepaskanku karena tidak ada cukup bukti, kamu mengejar mobilku, menarikku keluar, memukulku, lalu mengeluarkan pisau.”

“Sinta, rumah itu terbakar!”

“Aku tahu.”

“Aku hampir kehilangan mereka.”

“Dan karena kamu takut, kamu merasa boleh melakukan apa pun kepadaku?”

Ayah berdiri.

Kakek ikut berdiri, tetapi Ibu mengangkat satu tangan.

“Biarkan.”

Ayah menatap Ibu lama sekali.

“Apa maumu?”

“Perceraian.”

“Selain itu.”

Ibu berpikir sebentar.

“Naya tidak dibawa bertemu Maya atau Raka tanpa persetujuanku selama masalah ini belum selesai.”

“Mereka bukan musuhnya.”

“Maya menyiram anak tujuh tahun dengan teh panas.”

Ayah terdiam.

“Kalau suatu hari Raka dan Naya ingin saling mengenal dalam keadaan aman, itu urusan lain. Tapi bukan sekarang.”

“Aku tetap ayahnya.”

“Benar. Maka bersikaplah seperti ayahnya.”

Kalimat itu membuat Ayah duduk kembali.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak punya jawaban cepat.

Pertemuan berakhir tanpa tanda tangan apa pun.

Ratna mengatakan dokumen resmi akan dibicarakan kemudian.

Ayah meminta melihatku.

Ibu bertanya kepadaku, “Kamu mau bertemu Ayah?”

Aku bersembunyi di belakang kursinya.

“Kalau Ibu ikut.”

Wajah Ayah berubah.

Ia mungkin baru mengerti bahwa akibat paling besar dari tindakannya bukan ancaman perceraian.

Aku takut sendirian bersamanya.

Ibu duduk di sofa ruang keluarga.

Ayah duduk berjarak beberapa kursi dariku.

Ia membawa boneka kelinci yang dulu pernah kubeli bersamanya.

“Ayah ambil dari kamarmu.”

Aku menerima boneka itu.

“Ayah marah lagi?”

Ayah menggeleng.

“Tidak.”

“Jangan pukul Ibu.”

Ia menatap lantai.

“Ayah tidak akan melakukannya lagi.”

“Jangan dorong aku.”

“Ayah minta maaf.”

Aku tidak memeluknya.

Setelah sekitar dua puluh menit aku kembali ke kamar.

Ayah pulang sendirian.

Hari-hari berikutnya jauh lebih sepi dibanding yang kubayangkan.

Tidak ada pembalasan besar.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada keluarga yang kehilangan seluruh kekayaan dalam semalam.

Ada formulir.

Pertemuan.

Telepon.

Diskusi tentang tempat tinggal, biaya sekolah, rekening, barang-barang di rumah, dan kapan Ayah boleh bertemu denganku.

Hal-hal membosankan ternyata bisa menjadi bagian paling penting dari sebuah keluarga yang sedang pecah.

Ibu membuka rekening baru untuk kebutuhan hariannya.

Bagian uang yang memang menjadi miliknya dipisahkan.

Pengeluaran yang masih menjadi tanggung jawab bersama dicatat.

Ayah mengembalikan dana yang pernah digunakan untuk pembelian rumah Maya ke rekening bersama secara bertahap sesuai kesepakatan yang dibuat melalui perwakilan mereka.

Bukan karena Ibu ingin menghukumnya.

Karena uang itu bukan uang yang boleh dipakai diam-diam untuk keputusan sebesar itu.

Sementara itu penyelidikan kebakaran tetap berjalan.

Aku mendengar orang dewasa bicara pelan tentang instalasi listrik, sisa bahan mudah terbakar, dan beberapa hal yang tidak kupahami.

Tidak pernah ada bukti yang cukup untuk menetapkan Ibu sebagai pelaku.

Ibu juga tidak pernah lagi membicarakan malam kebakaran kepadaku.

Saat aku pernah bertanya, “Ibu yang membakar rumah itu?”

Ia hanya menjawab, “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui tentang perkara hukum, dengarkan hasil penyelidikannya, bukan kemarahan orang.”

Itu bukan jawaban ya.

Bukan juga tidak.

Aku belajar menerima bahwa beberapa bagian dari masa kecilku tidak akan pernah menjadi cerita dengan ujung yang rapi.

Yang jauh lebih jelas adalah keputusan Ayah setelah itu.

Maya keluar dari rumah sakit beberapa minggu kemudian.

Kehamilannya selamat.

Raka juga pulih.

Ayah memindahkan mereka dari rumah dekat kediaman kami ke tempat lain.

Bukan ke luar negeri seperti yang ia katakan dalam kemarahan hari itu.

Ia tetap menanggung kebutuhan anak yang akan lahir karena anak itu memang tanggung jawabnya.

Ibu tidak pernah meminta Ayah meninggalkan bayinya.

“Anak itu tidak memilih lahir dari situasi ini,” katanya ketika Nenek bertanya.

Namun Ibu juga menolak menjadi orang yang harus mengatur kehidupan Maya.

“Itu tanggung jawab Armand sekarang.”

Masalah baru muncul ketika keluarga besar Pranoto mulai menelepon.

Paman Ayah datang pertama.

Ia berbicara sangat sopan.

“Sinta, kami semua paham kamu marah.”

Ibu menuangkan teh untuknya.

“Aku tidak sedang marah.”

Paman itu tampak bingung.

“Maksud saya, keadaan seperti ini memang berat.”

Ibu menunggu.

“Armand melakukan kesalahan. Tapi kalian sudah bertahun-tahun bersama. Ada Naya. Nama keluarga juga akan…”

Ia berhenti.

Ibu membantu menyelesaikan.

“Nama keluarga akan bagaimana?”

Paman itu tersenyum canggung.

“Perceraian selalu membawa pembicaraan.”

“Orang juga bicara ketika seorang suami punya anak dengan perempuan lain.”

Ia tidak bisa membantah.

“Tetap saja, mungkin kalian tidak perlu terburu-buru.”

Ibu meletakkan cangkirnya.

“Aku tidak terburu-buru. Aku baru memutuskan setelah suamiku menyembunyikan perempuan lain hampir dua tahun, menggunakan rekening bersama, membiarkan perempuan itu datang menyerang anakku, lalu memukulku.”

Paman itu menunduk.

Percakapan selesai beberapa menit kemudian.

Ada juga Tante yang menelepon dan mengatakan Ibu sebaiknya memikirkan masa depanku.

Ibu menjawab, “Itulah yang sedang kulakukan.”

Tidak ada pertengkaran.

Setelah beberapa kali mendapat jawaban sama, keluarga besar berhenti mencoba membujuk.

Sekitar dua bulan setelah kami meninggalkan rumah, Ayah datang lagi.

Kali ini ia membawa seorang staf untuk menyerahkan beberapa dokumen yang memang diminta Ratna.

Ia menunggu setelah staf itu pergi.

“Aku mau bicara sebentar.”

Ibu mengizinkan.

Ayah terlihat berbeda.

Bukan karena pakaiannya.

Tetap jas mahal.

Tetap jam tangan yang sama.

Hanya tidak ada lagi keyakinan bahwa semua orang akan mengikuti keputusannya.

“Aku sudah bertemu Ratna,” katanya.

“Bagus.”

“Aku tidak akan menghalangi prosesnya.”

Ibu menatapnya.

“Apa berubah?”

Ayah tertawa hambar.

“Kamu ingin aku mengatakan aku sadar aku salah?”

“Aku tidak minta apa-apa.”

“Aku tahu.”

Ia duduk.

“Naya tidak mau naik mobil denganku.”

Ibu tidak menjawab.

“Minggu lalu ketika aku menjemputnya untuk makan siang, dia bertanya tiga kali apakah kamu tahu dia pergi denganku.”

“Aku tahu.”

“Dia tidak pernah begitu.”

“Dulu kamu juga tidak pernah mendorong dia sampai menghantam meja.”

Ayah menutup mata sebentar.

“Aku kehilangan kendali.”

“Dan dia melihatnya.”

“Aku cuma…”

Ayah berhenti.

Tidak ada alasan yang terdengar cukup baik.

Ia akhirnya berkata, “Aku sudah mulai bicara dengan seseorang.”

Ibu mengangkat alis.

“Konselor.”

Itu mengejutkannya.

Ayah menambahkan cepat, “Bukan karena aku gila.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Aku tidak tahu cara lain membuat Naya percaya lagi.”

Ibu mengangguk pelan.

“Kalau tujuanmu benar-benar itu, lanjutkan.”

Ayah memandangnya.

“Kalau aku berubah?”

Ibu tidak langsung menjawab.

“Aku berharap kamu berubah.”

Ada sedikit harapan di wajah Ayah.

Lalu Ibu menyelesaikan kalimatnya.

“Supaya anak-anakmu punya ayah yang lebih aman.”

Harapan itu hilang.

“Bukan untuk kembali padaku.”

Ayah menunduk.

Ibu tidak menertawakannya.

Ia juga tidak menghiburnya.

Beberapa keputusan memang menyakitkan tanpa harus dibuat kejam.

Proses perceraian berlangsung berbulan-bulan.

Aku tidak tahu detailnya saat itu.

Yang kuingat hanyalah perlahan-lahan rumah Kakek tidak terasa seperti tempat pengungsian lagi.

Buku sekolahku punya rak sendiri.

Pakaian tidak lagi berada di koper.

Ibu memindahkan beberapa tanaman dari rumah lama.

Mawar gelap kesayangannya ikut dibawa.

Ia menaruhnya di teras belakang.

Beberapa bagian tanaman rusak karena perpindahan.

Ibu memangkasnya.

“Sayang dibuang,” kataku.

“Kalau bagian yang rusak dibiarkan, tanaman justru menghabiskan tenaga untuk mempertahankannya.”

Aku mengangguk meskipun tidak benar-benar memahami.

Setelah dewasa, baru aku sadar mengapa aku masih mengingat percakapan itu.

Ayah mulai bertemu denganku secara teratur.

Awalnya selalu di tempat yang sudah disepakati.

Kadang Ibu ada di dekat kami.

Kadang Kakek.

Setelah beberapa bulan, ketika aku tidak lagi tegang setiap Ayah mengambil kunci mobil, pertemuan menjadi lebih biasa.

Ayah tidak pernah lagi menyuruhku memanggil Raka kakak.

Ia bahkan hampir tidak membicarakan Maya.

Satu hari, saat kami makan siang, ia berkata, “Raka bertanya tentangmu.”

Aku memegang sendok.

“Kenapa?”

“Dia merasa kamu membencinya.”

Aku berpikir.

“Aku tidak kenal dia.”

Ayah mengangguk.

“Itu jawaban yang adil.”

“Dia tahu ibunya menyiramku?”

Ayah menatap meja.

“Iya.”

“Terus?”

“Dia marah pada ibunya.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Ayah melanjutkan, “Tapi dia juga anak-anak waktu itu.”

Aku teringat Raka berdiri diam di ruang tamu ketika Maya menyiramku.

Ia tidak tertawa.

Ia juga tidak membantu.

Ia hanya terlihat ketakutan.

Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa mungkin ia sama terjebaknya denganku.

“Aku belum mau bertemu,” kataku.

Ayah menjawab, “Tidak apa-apa.”

Itu penting.

Dulu Ayah akan memutuskan.

Sekarang ia bertanya.

Beberapa bulan kemudian bayi Maya lahir.

Seorang anak laki-laki.

Ayah tidak pernah meminta Ibu menerima anak itu sebagai bagian dari rumah kami.

Ia hanya memberitahu Ibu melalui jalur komunikasi yang sudah mereka sepakati, karena perubahan itu berkaitan dengan jadwal ketika ia bertemu denganku.

Ibu membaca pesan itu.

Kemudian meletakkan ponselnya.

“Ayah punya bayi?”

“Iya.”

“Adikku?”

Ibu memikirkan jawabannya.

“Secara biologis, dia saudaramu.”

“Harus sayang?”

Ibu tersenyum tipis.

“Perasaan tidak bisa disuruh. Yang penting jangan menyalahkan anak untuk keputusan orang dewasa.”

Itu salah satu sedikit hal tentang seluruh kekacauan itu yang Ibu jelaskan kepadaku secara langsung.

Setahun setelah hari Maya datang ke rumah kami, perceraian Ibu dan Ayah akhirnya selesai.

Tidak ada pesta kemenangan.

Ibu tidak mengganti mobil.

Tidak membeli vila.

Tidak tiba-tiba jatuh cinta pada pria kaya lain.

Kami pindah dari rumah Kakek ke sebuah rumah yang lebih kecil beberapa kilometer jauhnya.

Bukan karena Ibu kekurangan uang.

Ia hanya tidak ingin tinggal selamanya di rumah orang tuanya.

Rumah baru kami tidak punya lorong marmer panjang.

Tidak punya empat ruang tamu.

Aku menyukainya.

Dari kamarku aku bisa mendengar Ibu berjalan di dapur.

Suatu sore Ayah mengantarkan beberapa kotak barang dari rumah lama.

Ia tidak masuk sebelum Ibu membuka pintu.

“Boleh?”

Ibu berdiri sebentar.

“Taruh di ruang depan.”

Ayah membawa kardus satu per satu.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada staf.

Ketika selesai, ia melihat halaman belakang.

Mawar gelap milik Ibu sedang berbunga lagi.

“Masih hidup,” katanya.

“Iya.”

Ayah berdiri di sana cukup lama.

Kemudian berkata, “Aku pernah berpikir kalau aku bisa memperbaiki semuanya.”

Ibu menatapnya.

“Kamu masih bisa memperbaiki sebagian.”

“Apa?”

“Hubunganmu dengan anak-anakmu.”

Ayah tersenyum kecil.

“Bukan kita?”

“Bukan.”

Ia mengangguk.

Dulu jawaban seperti itu mungkin membuatnya marah.

Hari itu tidak.

Ia berjalan ke mobil.

Sebelum masuk, ia menoleh kepadaku.

“Minggu depan tetap hari Sabtu?”

Aku melihat Ibu.

Ia tidak menjawab untukku.

Aku berkata, “Tetap.”

Ayah mengangguk.

“Jam sepuluh.”

“Jangan telat.”

“Ayah usahakan.”

Aku mengerutkan hidung.

“Jangan usahakan. Datang.”

Ia tertawa pendek.

“Baik.”

Setelah mobilnya pergi, Ibu menutup pintu.

Tidak membantingnya.

Hanya menutup lalu memutar kunci.

Di rumah lama, kunci sering dibiarkan terpasang karena ada banyak orang keluar masuk.

Di rumah baru, Ibu selalu menguncinya sendiri setiap malam.

Bukan karena ia hidup dalam ketakutan.

Justru sebaliknya.

Itu rumahnya.

Ia tahu siapa yang boleh masuk.

Ia tahu siapa yang harus mengetuk.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku berumur tujuh tahun, aku juga tahu rumah tidak harus menjadi tempat yang paling besar atau paling mewah agar terasa aman.

Menurutmu, apakah Sinta benar memilih bercerai meski Armand akhirnya berusaha berubah demi anak-anaknya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.