Mertuaku Memberiku Rp200 Juta Agar Aku Liburan ke Luar Negeri—Tapi Saat Diam-Diam Pulang, Aku Menemukan Rahasia Mengerikan
Mertuaku tiba-tiba memberiku Rp200 juta dan menyuruhku pergi liburan ke luar negeri agar pikiranku lebih tenang.
Tapi pada hari keberangkatanku, aku diam-diam kembali ke rumah.
Dan malam itu, aku menemukan sebuah kenyataan mengerikan yang membuat seluruh tubuhku gemetar…
—Ambil uang ini. Pergilah sebulan. Ke luar negeri sekalian. Kamu butuh istirahat, Nadzira.

Begitu saja Ibu Ratna, mertuaku, mengatakannya di ruang tamu rumah kami di BSD City, Tangerang Selatan.
Di depanku ada secangkir kopi yang sudah dingin.
Sementara aku sendiri merasa seperti sudah tidak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun.
Beberapa minggu terakhir, kondisiku memang berantakan.
Berat badanku turun.
Aku sulit tidur.
Aku mudah marah hanya karena hal-hal kecil.
Bahkan beberapa kali aku menangis sendirian di dalam mobil saat terjebak macet di Tol Jakarta–Serpong tanpa tahu alasan sebenarnya.
Arga dan aku sudah menikah selama lima tahun.
Pernikahan kami memang tidak sempurna, tetapi selama ini ada satu hal yang selalu kubanggakan kepada teman-temanku.
Aku merasa beruntung memiliki ibu mertua seperti Ibu Ratna.
Dia sopan.
Rajin mengikuti pengajian.
Kalau aku sakit, dia sering datang membawa sup hangat atau bubur.
Dan yang paling penting, selama lima tahun pernikahanku, kupikir dia tidak pernah terlalu ikut campur dalam rumah tangga kami.
Setidaknya…
begitulah yang selama ini kupercaya.
Sore itu, Ibu Ratna meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja.
—Buka.
Aku menatapnya heran.
Ketika kubuka, aku langsung terdiam.
Di dalamnya terdapat beberapa bundel uang pecahan seratus ribu rupiah.
Tanganku spontan berhenti bergerak.
—Bu… ini apa?
—Dua ratus juta.
Aku menatapnya, yakin aku salah dengar.
—Dua ratus juta?
Ibu Ratna mengangguk dengan wajah tenang.
—Pergilah ke Eropa. Sebulan. Belanja kalau kamu mau. Makan yang enak. Jalan-jalan. Jangan pikirkan rumah, pekerjaan, atau Arga. Kamu perlu menyegarkan pikiran.
Aku masih tidak bisa berkata-kata.
Selama lima tahun mengenalnya, hadiah paling mahal yang pernah diberikan Ibu Ratna kepadaku mungkin sebuah tas seharga beberapa juta rupiah saat ulang tahunku.
Sekarang…
dia memberikan Rp200 juta begitu saja.
Aneh.
Tapi saat itu, perasaanku justru lebih banyak tersentuh daripada curiga.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu merasa sendirian, aku merasa ada seseorang yang menyadari bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
—Bu, ini terlalu banyak.
Aku mencoba mengembalikan amplop itu.
Namun dia mendorongnya kembali ke arahku.
—Simpan.
—Tapi…
—Kesehatanmu lebih penting daripada uang, Nadzira.
Aku terdiam.
Lalu dia menggenggam tanganku.
—Pergilah. Pulanglah nanti dengan pikiran yang lebih tenang. Dengan hati yang lebih ringan.
Malam itu aku menceritakan semuanya kepada Arga.
Aku mengira suamiku akan terkejut.
Kupikir dia akan bertanya dari mana ibunya mendapatkan uang sebanyak itu.
Atau setidaknya bertanya kenapa tiba-tiba Ibu Ratna begitu ingin aku pergi selama satu bulan.
Tapi Arga bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari televisi.
Dia sedang menonton pertandingan sepak bola sambil memegang ponselnya.
—Ya sudah, pergi saja.
Aku menatapnya.
—Kamu nggak merasa aneh?
—Aneh apanya?
—Mama kamu tiba-tiba kasih aku dua ratus juta.
Arga mengangkat bahu.
—Mama punya tabungan.
—Tapi kenapa harus sebulan?
Kali ini Arga akhirnya menoleh.
—Bukannya kamu sendiri bilang capek?
Aku tidak menjawab.
Dia kembali melihat layar televisi.
—Pergilah. Bersenang-senanglah. Mama nanti yang jaga rumah.
Aku membeku.
Mama nanti yang jaga rumah.
Entah kenapa, kalimat itu terasa ganjil.
Sangat ganjil.
Menjaga rumah?
Dari apa?
Aku menatap Arga beberapa detik, tetapi ekspresinya biasa saja.
Aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya terlalu lelah dan mulai memikirkan hal-hal yang tidak perlu.
Akhirnya aku membeli tiket.
Jakarta–Singapura–Paris.
Keberangkatanku dijadwalkan hari Selasa dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Aku memesan hotel untuk beberapa malam pertama, memasukkan pakaian ke koper, menyiapkan paspor, dan mencoba mengatakan kepada diriku sendiri bahwa mungkin perjalanan ini memang yang kubutuhkan.
Mungkin sebulan jauh dari rumah akan membuatku bisa bernapas lagi.
Selasa sore, Ibu Ratna bahkan menawarkan diri mengantarku ke bandara.
Sepanjang perjalanan menuju Soekarno-Hatta, dia tidak berhenti memberiku nasihat.
Jangan menyimpan semua uang di satu tempat.
Hati-hati dengan pencopet.
Jangan pulang terlalu malam.
Kabari kalau sudah sampai.
Jangan lupa salat.
Semua terdengar seperti nasihat seorang ibu kepada anaknya sendiri.
Namun ada sesuatu pada caranya bicara yang membuat perutku terasa tidak nyaman.
Aku tidak tahu apa.
Ketika kami sampai di Terminal 3, dia bahkan membantuku menurunkan koper.
Sebelum pergi, Ibu Ratna memelukku cukup lama.
—Nikmati perjalananmu, Nadzira.
—Terima kasih, Bu.
—Jangan pikirkan apa pun di sini.
Aku tersenyum.
Tetapi ketika pelukan itu terlepas, aku melihat sesuatu di wajahnya.
Bukan kesedihan.
Bukan kekhawatiran.
Melainkan…
kelegaan.
Ibu Ratna masuk ke mobil yang sudah menunggunya.
Aku berdiri di depan pintu keberangkatan sambil memegang koper.
Kulihat mobil itu bergerak menjauh sampai akhirnya menghilang.
Dan saat itulah sesuatu dalam kepalaku seperti tersambung.
Dua ratus juta.
Sebulan.
Arga tidak mempertanyakan apa pun.
Mama nanti yang jaga rumah.
Dan ekspresi lega di wajah Ibu Ratna.
Tanganku menjadi dingin.
Aku menatap layar keberangkatan.
Kemudian menatap pasporku.
Tidak.
Aku tidak akan naik pesawat itu.
Aku masuk sebentar ke dalam terminal agar Ibu Ratna yakin aku benar-benar berangkat.
Setelah cukup lama, aku keluar melalui pintu lain dan memesan taksi online.
Sepanjang perjalanan kembali menuju BSD, jantungku berdegup begitu keras sampai aku hampir bisa mendengarnya sendiri.
Aku tidak memberi tahu siapa pun.
Tidak Arga.
Tidak Ibu Ratna.
Tidak juga teman-temanku.
Aku meminta pengemudi menurunkanku beberapa blok dari kompleks rumah.
Aku sengaja tidak ingin mobil berhenti tepat di depan gerbang.
Malam sudah cukup larut ketika aku mulai berjalan sambil menarik koper.
Udara terasa lembap.
Jalan kompleks hampir kosong.
Semakin dekat ke rumah, semakin berat langkahku.
Aku bahkan sempat merasa bodoh.
Bagaimana kalau semua kecurigaanku salah?
Bagaimana kalau aku masuk dan hanya menemukan Arga sedang tidur di sofa?
Bagaimana kalau aku sudah membatalkan perjalanan mahal hanya karena pikiranku terlalu kacau?
Namun ketika rumah kami mulai terlihat dari ujung jalan…
aku berhenti.
Semua lampu menyala.
Lampu ruang tamu.
Lampu ruang makan.
Lampu teras belakang.
Padahal biasanya Arga sangat cerewet soal listrik.
Lalu aku melihat pintu utama.
Terbuka lebar.
Rumah kami berada di kompleks dengan keamanan ketat.
Arga selalu mengunci pintu dua kali setiap malam.
Tidak pernah sekalipun dia membiarkannya terbuka seperti itu.
Aku berdiri membeku di balik pohon dekat rumah tetangga.
Kemudian…
terdengar suara tawa dari dalam.
Aku mengenal suara itu.
Arga.
Suamiku.
Beberapa detik kemudian terdengar tawa lain.
Ibu Ratna.
Darahku terasa turun ke kaki.
Jadi dia sudah kembali.
Aku menggenggam gagang koper semakin erat.
Lalu terdengar suara ketiga.
Suara seorang perempuan.
Lebih muda.
Aku tidak mengenalinya.
Perempuan itu tertawa cukup keras.
Kemudian Arga mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas.
Mereka bertiga kembali tertawa.
Aku meninggalkan koper di balik tembok rendah rumah tetangga dan berjalan perlahan menuju sisi rumahku sendiri.
Jangan sampai mereka melihatku.
Jangan sampai mereka tahu aku sudah kembali.
Aku merunduk di bawah jendela ruang tamu.
Napas kutahan.
Pelan-pelan aku mengangkat kepala.
Dan mengintip melalui celah tirai.
Apa yang kulihat di dalam rumahku sendiri membuat tubuhku langsung kaku.
Tanganku refleks menutup mulut.
Arga berada di ruang tamu.
Ibu Ratna duduk tidak jauh darinya.
Dan di antara mereka ada seorang perempuan muda yang belum pernah kulihat sepanjang hidupku.
Tapi bukan keberadaan perempuan itu yang paling membuatku takut.
Melainkan benda-benda yang sudah mereka keluarkan dan susun di atas meja ruang tamu.
Ada beberapa map dokumen.
Fotokopi KTP.
Sertifikat rumah.
Buku tabungan.
Dan sebuah foto.
Foto pernikahanku dengan Arga.
Wajahku di foto itu telah dicoret menggunakan spidol hitam.
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
Kemudian perempuan muda itu mengangkat sebuah dokumen dan bertanya kepada Ibu Ratna,
—Kalau Nadzira sudah berada di luar negeri, semuanya bisa langsung diproses, kan, Bu?
Jantungku seperti berhenti.
Ibu Ratna tersenyum.
—Makanya Mama kasih dia uang sebanyak itu. Yang penting dia pergi cukup lama dan jangan sampai pulang sebelum urusan kita selesai.
Aku mencengkeram dinding.
Arga mengambil sebuah map dari meja.
Lalu dia mengatakan kalimat yang membuat kedua kakiku benar-benar gemetar.
—Begitu semua ini selesai, rumah itu bukan lagi atas nama Nadzira.
Aku mundur dari jendela.
Dadaku sesak.
Namun beberapa detik kemudian, perempuan muda itu mengatakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Sesuatu yang membuatku sadar bahwa mereka bukan hanya ingin mengambil rumahku.
Mereka sudah merencanakan sesuatu tentang diriku sejak berbulan-bulan lalu.
Aku segera menjauh dari jendela dan mengambil koperku.
Tapi aku tidak pergi.
Aku berjalan perlahan menuju sisi belakang rumah.
Karena ada satu tempat yang mereka lupa.
Sebuah jendela kecil yang tidak pernah bisa dikunci dengan benar.
Dan malam itu…
aku harus mengetahui seluruh rencana mereka sebelum mereka sadar bahwa pesawat menuju Eropa telah berangkat tanpa diriku.
Aku berjalan perlahan menuju sisi belakang rumah.
Karena ada satu tempat yang mereka lupa.
Sebuah jendela kecil di dekat ruang cuci yang tidak pernah bisa dikunci dengan benar.
Dan malam itu, aku harus mengetahui seluruh rencana mereka sebelum mereka sadar bahwa pesawat menuju Eropa telah berangkat tanpa diriku.
Tanganku gemetar ketika mendorong jendela itu.
Sedikit demi sedikit.
Sampai terbuka cukup lebar untuk tubuhku masuk.
Aku meninggalkan koper di luar, melepas sepatu, lalu memanjat masuk.
Kakiku mendarat di lantai ruang cuci.
Suara tawa dari ruang tamu terdengar lebih jelas.
Aku mengeluarkan ponsel dan menyalakan perekam suara.
Lalu aku bersembunyi di balik pintu menuju dapur.
Perempuan muda itu kembali bicara.
—Aku tetap nggak nyaman, Mas. Kalau dia tahu soal tanda tangannya bagaimana?
Tanda tangan?
Aku menahan napas.
Arga menjawab santai.
—Dia nggak akan tahu.
—Tapi dokumennya banyak.
—Makanya semuanya harus selesai selama dia di Eropa.
Aku mengintip dari celah pintu.
Perempuan itu mungkin berusia sekitar tiga puluh tahun. Rambutnya sebahu, mengenakan blus krem, dan di sampingnya terdapat sebuah laptop.
Ibu Ratna mengambil beberapa lembar dokumen.
—Surat kuasa sudah ada. Persetujuan pengalihan aset juga sudah ada. Tinggal beberapa berkas lagi.
Perempuan itu menatap Arga.
—Tanda tangan Nadzira benar-benar mirip.
Arga tertawa kecil.
—Lima tahun menikah dengannya. Masa tanda tangan istri sendiri nggak bisa kupelajari?
Dunia seperti berhenti.
Aku memegang dinding agar tidak jatuh.
Jadi tanda tanganku dipalsukan.
Rumah itu memang dibeli setelah kami menikah, tetapi sebagian besar uang muka berasal dari warisan ayahku.
Ayah meninggal tiga tahun sebelum aku menikah.
Dia meninggalkan sebidang tanah di Bogor yang kemudian kujual.
Uangnya kupakai sebagai uang muka rumah ini.
Sertifikat rumah dibuat atas namaku.
Arga selama ini tidak pernah mempermasalahkannya.
Setidaknya di depanku.
Sekarang aku mengerti kenapa.
Dia tidak pernah berniat mempermasalahkannya.
Dia hanya menunggu kesempatan mengambilnya.
Namun percakapan berikutnya membuat semuanya jauh lebih buruk.
Ibu Ratna bertanya,
—Bagaimana dengan rekening investasinya?
Arga menggeleng.
—Itu lebih sulit. Bank minta verifikasi langsung.
—Jumlahnya berapa?
—Hampir empat miliar sekarang.
Aku menutup mulut.
Itu rekening peninggalan ayah yang selama ini hampir tidak pernah kusentuh.
Bahkan Arga tidak tahu PIN-nya.
Atau setidaknya aku mengira dia tidak tahu banyak tentang rekening tersebut.
Perempuan muda itu tiba-tiba berdiri.
—Aku nggak mau ikut kalau kalian mau ambil uang itu juga.
Ibu Ratna langsung menatap tajam.
—Sekarang kamu mau mundur?
—Kesepakatannya cuma rumah.
—Jangan sok suci, Karin.
Karin.
Akhirnya aku tahu namanya.
Aku langsung berpikir satu hal.
Selingkuhan.
Pasti dia perempuan yang selama ini bersama Arga.
Tapi beberapa detik kemudian Karin berkata,
—Aku membantu karena Mas Arga bilang rumah itu sebenarnya milik keluarga kalian dan Nadzira merebutnya. Kalau ternyata uang muka rumah berasal dari ayah Nadzira, berarti cerita kalian bohong.
Arga berdiri.
—Karin, jangan mulai.
—Aku serius.
Suasana berubah.
Karin tidak terdengar seperti selingkuhan yang sedang merencanakan hidup baru bersama suamiku.
Dia terdengar ketakutan.
Aku semakin bingung.
Lalu mataku tertuju pada foto di atas meja.
Bukan foto pernikahanku.
Ada foto lain di bawah dokumen.
Foto seorang bayi.
Ibu Ratna mengambilnya dan berkata,
—Kamu sudah menerima uang kami. Jangan lupa kenapa kamu datang ke sini.
Karin menunduk.
—Aku datang karena ingin tahu siapa ibu kandungku.
Jantungku seperti dihantam sesuatu.
Ibu kandung?
Arga segera menyambar foto itu dari tangan ibunya.
—Dan kamu sudah tahu jawabannya.
—Belum.
Karin menggeleng.
—Kalian cuma bilang namanya Nadzira.
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
Namaku?
Apa hubunganku dengan perempuan ini?
Aku berusia tiga puluh empat tahun.
Karin jelas tidak mungkin anakku.
Lalu Arga mengucapkan kalimat yang membuatku memahami bahwa kebohongan di rumah ini jauh lebih tua daripada pernikahan kami.
—Bukan Nadzira istriku.
Arga menatap Karin.
—Nadzira yang lain.
Aku membeku.
Ibu Ratna langsung memotong.
—Sudah. Tidak perlu membahas itu sekarang.
Tapi Karin mendesak.
—Siapa dia?
Arga menghela napas.
—Adik Mama.
Aku menatap Ibu Ratna dari balik pintu.
Adiknya?
Selama lima tahun aku tidak pernah mendengar Ibu Ratna punya adik bernama Nadzira.
Karin bertanya lagi.
—Kalau begitu kenapa nama istrimu juga Nadzira?
Tidak ada yang menjawab.
Keheningan berlangsung beberapa detik.
Kemudian Ibu Ratna berkata pelan,
—Karena itulah Arga menikahinya.
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Apa?
Arga menoleh tajam kepada ibunya.
—Ma!
—Cepat atau lambat semuanya akan terbongkar.
Aku tidak mampu bergerak.
Ibu Ratna melanjutkan,
—Ayah Nadzira bukan orang yang dia kira.
Kepalaku mendadak penuh dengan suara.
Kenangan tentang ayah.
Tentang bagaimana beliau membesarkanku seorang diri setelah ibu meninggal ketika aku masih kecil.
Tentang bagaimana beliau selalu menghindari pembicaraan soal keluarga besar.
Tentang sebuah kalimat yang pernah dikatakannya sebelum meninggal.
“Kalau suatu hari ada orang datang karena harta, jangan percaya siapa pun hanya karena mereka memanggilmu keluarga.”
Dulu aku mengira itu nasihat biasa.
Ternyata bukan.
Karin bertanya,
—Jadi sebenarnya siapa ayah Nadzira?
Ibu Ratna menatap Arga.
Lalu menjawab,
—Pak Hendra adalah kakak iparku.
Aku hampir tidak bernapas.
Nama ayahku Hendra Pratama.
Ibu Ratna melanjutkan.
—Dulu adikku, Nadzira, punya hubungan dengan Hendra sebelum Hendra menikah. Adikku hamil.
Karin menatap foto bayi di tangannya.
—Aku?
Ibu Ratna mengangguk.
—Kamu.
Karin mulai menangis.
Sementara aku berdiri di balik pintu dengan dunia yang seperti runtuh.
Kalau cerita itu benar…
Karin adalah anak biologis ayahku.
Saudara tiriku.
Tapi masih ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Kenapa Arga menikahiku?
Seolah membaca pikiranku dari kejauhan, Karin bertanya,
—Lalu apa hubungannya dengan rumah Nadzira?
Ibu Ratna menjawab,
—Bukan cuma rumah.
Arga langsung membentak.
—Cukup, Ma!
—Kamu yang membawa kita sejauh ini!
Ibu Ratna berdiri.
—Hendra meninggalkan hampir seluruh hartanya kepada anak sahnya. Kepada Nadzira. Sementara adikku meninggal tanpa pernah mendapat pengakuan apa pun untuk anaknya.
Karin mundur.
—Jadi kalian cari Nadzira karena warisan?
Tidak ada jawaban.
Itu sudah cukup.
Aku memahami semuanya.
Pertemuanku dengan Arga tujuh tahun lalu ternyata bukan kebetulan.
Dia tidak kebetulan berada di acara teman kantorku.
Dia tidak kebetulan tertarik kepadaku.
Dia tidak kebetulan mengetahui makanan kesukaanku, kebiasaanku, bahkan cerita tentang ayahku.
Mereka sudah mencariku.
Mereka sudah mempelajariku.
Dan laki-laki yang tidur di sampingku selama lima tahun…
mungkin menikahiku karena harta ayahku.
Air mataku jatuh tanpa suara.
Tapi aku tidak keluar.
Aku terus merekam.
Karin menangis sambil menggeleng.
—Aku nggak mau rumahnya.
Ibu Ratna terdiam.
—Itu hakmu.
—Bukan begini caranya!
—Ayahmu meninggalkanmu!
—Dan itu bukan salah Nadzira!
Kalimat Karin menghantamku lebih keras daripada semua yang kudengar malam itu.
Perempuan yang kukira selingkuhan suamiku justru satu-satunya orang di ruang itu yang membelaku.
Arga menghantam meja.
—Kita sudah terlalu jauh. Besok orang dari kantor notaris datang. Setelah rumah dialihkan, kita jual. Karin dapat bagiannya, Mama dapat bagian Mama, selesai.
Karin mengambil tasnya.
—Aku nggak mau.
Arga menghadangnya.
—Kamu sudah tanda tangan.
—Aku akan bilang semuanya ke Nadzira.
Saat itulah aku keluar dari persembunyian.
—Tidak perlu.
Tiga kepala menoleh bersamaan.
Wajah Arga kehilangan warna.
Ibu Ratna menjatuhkan dokumen dari tangannya.
Karin menatapku dengan mata membesar.
Aku berdiri di ambang dapur sambil memegang ponsel.
—Aku sudah dengar semuanya.
Arga terlihat seperti melihat orang mati pulang ke rumah.
—Nadzira?
Aku tersenyum getir.
—Harusnya aku sedang di atas pesawat, kan?
Tak seorang pun menjawab.
—Kejutan.
Arga mendekat.
—Dengar dulu penjelasanku.
Aku mengangkat ponsel.
—Jangan mendekat. Semuanya terekam.
Dia berhenti.
Ibu Ratna tiba-tiba menangis.
—Nadzira, Mama melakukan ini karena—
—Jangan panggil aku begitu.
Suaraku pecah.
—Lima tahun aku memanggil Ibu “Mama”.
Ibu Ratna terdiam.
—Lima tahun saya pikir saya punya keluarga kedua.
Aku menatap Arga.
—Dan kamu…
Aku bahkan sulit mengucapkan kata-kata berikutnya.
—Pernah nggak kamu mencintaiku?
Arga tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
Aku mengangguk perlahan.
Aneh.
Setelah semua yang kudengar, justru diamnya yang paling menyakitkan.
Karin mendekatiku.
—Aku benar-benar nggak tahu.
Arga membentak,
—Diam!
Karin berbalik.
—Kamu yang diam!
Dia mengambil laptop dari meja.
—Semua salinan dokumen ada di sini. Chat, surat kuasa palsu, scan tanda tangan. Aku kasih semuanya ke Nadzira.
Arga mencoba meraih laptop itu.
Aku langsung berteriak.
—Satpam sudah saya hubungi.
Itu bohong.
Tapi Arga berhenti.
Aku segera menelepon keamanan kompleks di depan mereka.
Malam itu aku tidak tidur di rumah.
Aku membawa dokumen asli yang masih bisa kuselamatkan, laptop dari Karin, dan rekaman percakapan.
Aku tinggal di rumah sahabatku.
Keesokan paginya, aku menemui pengacara.
Dalam beberapa hari, kami membuat laporan mengenai dugaan pemalsuan dokumen dan percobaan pengalihan aset tanpa persetujuanku.
Rekening investasiku langsung kubekukan untuk transaksi tertentu.
Aku juga menghubungi kantor pertanahan melalui jalur hukum untuk memastikan tidak ada proses pengalihan hak yang bisa berjalan diam-diam.
Tapi ada satu hal yang lebih penting daripada rumah.
Karin.
Aku meminta tes DNA.
Bukan karena aku ingin membuktikan dia pembohong.
Aku ingin mengetahui kebenaran tentang ayahku.
Beberapa minggu kemudian, hasilnya keluar.
Karin memang saudara tiriku.
Kami memiliki ayah biologis yang sama.
Aku membaca hasil itu berkali-kali.
Aku seharusnya marah kepada ayah.
Dan memang, sebagian diriku marah.
Tapi orang yang bisa menjelaskan semuanya sudah lama meninggal.
Yang tersisa hanya dua anak perempuan yang sama-sama mewarisi kebohongan orang dewasa.
Aku dan Karin duduk berhadapan di sebuah kedai kopi ketika kuberikan salinan hasil tes itu.
Dia menangis.
—Aku nggak butuh uangmu, Mbak.
Itu pertama kalinya dia memanggilku Mbak.
Aku ikut menangis.
—Aku tahu.
—Aku cuma ingin tahu kenapa aku ditinggalkan.
Aku menggenggam tangannya.
—Aku juga ingin tahu kenapa aku dibohongi.
Kami tidak langsung menjadi saudara yang akrab.
Hidup tidak bekerja seperti sinetron.
Butuh waktu.
Ada rasa canggung.
Ada kemarahan.
Ada banyak pertanyaan yang tidak pernah mendapat jawaban.
Namun kami sepakat pada satu hal.
Kami tidak akan membiarkan dosa generasi sebelumnya membuat kami saling menghancurkan.
Proses hukum terhadap Arga dan keterlibatan Ibu Ratna berjalan panjang.
Aku juga mengajukan gugatan cerai.
Pada mediasi terakhir, Arga meminta bicara denganku berdua.
Aku menolak.
Dia bicara di depan pengacara.
—Aku memang mendekatimu karena Mama.
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
—Awalnya aku cuma ingin tahu soal keluarga kalian.
—Lalu?
Arga menunduk.
—Lalu aku benar-benar jatuh cinta.
Aku hampir tertawa.
—Kamu memalsukan tanda tanganku.
—Aku terdesak.
—Kamu mengirimku ke luar negeri supaya bisa mengambil rumahku.
—Mama bilang rumah itu seharusnya—
—Jangan.
Aku memotongnya.
—Kamu sudah tiga puluh tujuh tahun, Arga. Jangan gunakan ibumu untuk menjelaskan keputusanmu sendiri.
Dia terdiam.
Aku melepaskan cincin pernikahanku.
Kutaruh di atas meja.
—Mungkin pernah ada bagian dari dirimu yang mencintaiku. Tapi cinta yang membutuhkan kebohongan selama lima tahun bukan rumah yang ingin kutinggali.
Aku berdiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak merasa kehilangan suami.
Aku merasa sedang mendapatkan diriku kembali.
Beberapa bulan kemudian, rumah di BSD itu kujual.
Banyak orang mengira aku menjualnya karena trauma.
Tidak sepenuhnya.
Aku menjualnya karena rumah itu sudah terlalu penuh dengan suara orang-orang yang berbohong kepadaku.
Dari hasil penjualan, aku tidak memberikan “bagian” kepada Karin.
Sebaliknya, kami menyewa pengacara lain untuk menelusuri dokumen lama ayah.
Dan kami menemukan kejutan terakhir.
Ayah ternyata tidak pernah berniat meninggalkan Karin tanpa apa-apa.
Ada sebuah rekening pendidikan atas nama ibu Karin yang dibuat bertahun-tahun lalu.
Nilainya tidak sebesar warisanku.
Namun ada catatan tulisan tangan ayah yang disimpan bersama dokumen lama oleh mantan notarisnya.
Catatan itu ditujukan kepada anak yang tidak pernah sempat dia akui secara terbuka.
Isinya hanya beberapa baris.
Ayah mengaku pengecut.
Dia menulis bahwa ketakutannya menghancurkan dua keluarga sekaligus.
Dan jika suatu hari kedua putrinya bertemu, dia berharap mereka tidak mewarisi kesalahannya.
Karin membaca surat itu sambil menangis.
Aku duduk di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, aku juga bisa menangisi ayah bukan sebagai anak yang menganggapnya sempurna.
Melainkan sebagai anak yang akhirnya tahu bahwa ayahnya hanyalah manusia.
Manusia yang pernah mencintai.
Pernah takut.
Pernah berbuat salah.
Dan meninggalkan konsekuensi yang harus dibayar orang lain bertahun-tahun kemudian.
Setahun setelah malam ketika aku seharusnya terbang ke Eropa, aku akhirnya melakukan perjalanan itu.
Tapi kali ini bukan untuk melarikan diri.
Dan aku tidak pergi sendirian.
Karin ikut bersamaku.
Kami berdiri di sebuah jalan kecil di Roma ketika dia tiba-tiba tertawa dan bertanya,
—Mbak, sadar nggak sih semua ini dimulai dari Rp200 juta?
Aku ikut tertawa.
—Uang paling mahal yang pernah dikasih orang ke aku.
—Padahal gratis.
Aku menggeleng.
—Nggak gratis.
Aku melihat orang-orang berjalan melewati kami.
—Harganya lima tahun hidupku.
Karin diam sebentar.
Lalu merangkul lenganku.
—Tapi kalau malam itu Mbak benar-benar naik pesawat…
Aku tahu apa yang hendak dia katakan.
Mungkin rumahku sudah berpindah tangan.
Mungkin bukti sudah hilang.
Mungkin aku tidak pernah mengetahui siapa Karin.
Mungkin aku akan pulang sebulan kemudian dan mendapati hidupku sudah dibongkar orang lain.
Aku menatap langit.
Dulu aku mengira firasat hanyalah ketakutan yang tidak punya alasan.
Sekarang aku tahu kadang-kadang tubuh kita menyadari sebuah kebohongan lebih cepat daripada pikiran kita.
Aku kehilangan suami.
Kehilangan seorang perempuan yang selama bertahun-tahun kupanggil Mama.
Kehilangan gambaran sempurna tentang ayahku.
Tapi di balik semua kehilangan itu, aku menemukan seorang saudara perempuan yang bahkan tidak pernah kuketahui keberadaannya.
Dan yang paling penting…
aku menemukan kembali diriku sendiri.
Beberapa hari sebelum kami pulang ke Indonesia, sebuah pesan masuk ke ponselku.
Dari Ibu Ratna.
Sudah berbulan-bulan aku tidak berbicara dengannya.
Pesannya singkat.
“Apa kamu masih membenci Mama?”
Aku membaca kalimat itu lama.
Kemudian mengetik balasan.
“Tidak.”
Tiga titik muncul di layar.
Lalu pesannya masuk.
“Kalau begitu, bisakah kamu memaafkan Mama?”
Aku memandang Karin yang sedang duduk di seberangku.
Kemudian aku menulis:
“Saya sudah memaafkan Ibu. Tapi memaafkan tidak berarti saya harus membuka pintu yang sama agar orang yang sama bisa menyakiti saya lagi.”
Aku menekan kirim.
Lalu memblokir nomor itu.
Bukan karena benci.
Justru karena akhirnya aku mengerti bahwa memaafkan seseorang dan memberikan kembali akses ke hidup kita adalah dua hal yang berbeda.
Karin mengangkat alis.
—Sudah selesai?
Aku memasukkan ponsel ke tas.
—Sudah.
—Sekarang ke mana?
Aku tersenyum.
—Cari makan.
Dia tertawa.
Kami berjalan berdampingan meninggalkan kafe.
Dan saat itulah aku menyadari ironi terbesar dari semuanya.
Ibu Ratna memberiku Rp200 juta karena ingin menyingkirkanku selama sebulan.
Dia berharap perjalanan itu akan membuatku kehilangan rumah.
Tapi rencananya justru membuatku menemukan kebenaran.
Aku menemukan kebohongan suamiku.
Aku menemukan rahasia ayahku.
Aku menemukan saudara perempuan yang selama puluhan tahun tidak kukenal.
Dan akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih berharga daripada rumah, uang, atau warisan apa pun.
Keluarga bukan selalu orang yang datang membawa nama yang sama.
Bukan pula orang yang meminta dipanggil “Mama”, lalu diam-diam merencanakan kehancuranmu.
Kadang keluarga adalah seseorang yang datang sebagai orang asing…
lalu memilih tidak mengambil apa pun darimu ketika dia sebenarnya punya kesempatan.
Pesawat kami mendarat di Jakarta beberapa hari kemudian.
Saat berjalan keluar dari Terminal 3, aku berhenti sebentar.
Tempat itu hampir sama seperti setahun sebelumnya.
Orang-orang berpelukan.
Koper berderet.
Pengemudi menunggu penumpang.
Pengumuman penerbangan terdengar dari pengeras suara.
Tapi aku bukan perempuan yang sama.
Setahun sebelumnya, aku berdiri di terminal ini sambil bertanya-tanya apakah aku gila karena mencurigai keluargaku sendiri.
Sekarang Karin berdiri di sampingku.
—Kenapa berhenti, Mbak?
Aku menatap pintu keluar.
Lalu tersenyum.
—Nggak apa-apa.
Aku menarik koperku.
—Aku cuma baru sadar sesuatu.
—Apa?
Aku melangkah menuju pintu.
—Waktu itu aku pikir aku pulang karena takut kehilangan rumah.
Aku menatapnya.
—Ternyata aku pulang untuk menemukan keluargaku.
Karin tersenyum sambil menahan air mata.
Kami berjalan keluar bersama.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
kata pulang tidak lagi berarti kembali kepada Arga.
Tidak berarti kembali ke rumah besar di BSD.
Pulang adalah pergi ke tempat di mana aku tidak perlu berbohong untuk dicintai.
Dan kali ini, aku tahu persis ke mana aku harus pulang.
TAMAT.
