Orang yang Diam-Diam Menolong Kirana Membongkar Masa Lalu, Hingga Rumah yang Awalnya Asing Akhirnya Menjadi Tempat Pulangnya

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 100 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Orang yang Diam-Diam Menolong Kirana Membongkar Masa Lalu, Hingga Rumah yang Awalnya Asing Akhirnya Menjadi Tempat Pulangnya

Orang itu ternyata bukan orang asing.

—Nenek.

Arman terdiam.

—Nenekmu?

Kirana mengangguk.

Yang dimaksud adalah ibu Arman sendiri.

Selama bertahun-tahun, nenek Kirana tinggal jauh dari mereka. Arman mengira ibunya sudah jarang berhubungan dengan cucunya.

Ternyata ia keliru.

Kirana menjelaskan bahwa neneknya sesekali datang menemuinya diam-diam.

Neneklah yang memberinya alamat rumah kami.

Nenek pula yang berkata:

—Kalau suatu hari kamu merasa tidak punya tempat untuk pulang, cari ayahmu. Jangan percaya kalau ada yang bilang ayahmu sudah melupakanmu.

Keesokan paginya, Arman menelepon ibunya.

Perempuan tua itu terdiam lama sebelum akhirnya mengaku.

Ia sudah mengetahui kondisi Kirana sekitar dua tahun sebelumnya.

Ia pernah mencoba memperingatkan Arman, tetapi ibu Kirana memintanya tidak ikut campur dan mengatakan Kirana akan semakin tertekan jika dua keluarga kembali bertengkar.

Ia memilih membantu cucunya diam-diam.

Keputusan itu ternyata tidak menyelesaikan masalah.

—Seharusnya Ibu memberitahuku.

Suara Arman terdengar kecewa.

Ibunya menangis.

—Ya. Itu kesalahan Ibu. Ibu pikir selama Kirana masih bisa sekolah dan Ibu sesekali melihatnya, semuanya masih bisa ditangani. Ibu tidak tahu keadaannya sampai separah ini.

Untuk pertama kalinya, semua orang berhenti mencari alasan.

Kami mulai mencari jalan keluar.

Dalam beberapa minggu berikutnya, Arman mengurus segala hal yang diperlukan agar tempat tinggal Kirana dapat ditentukan berdasarkan kondisi nyata dan kepentingannya.

Bukti mengenai pengelolaan uang, rekaman percakapan, kondisi sekolah, serta keinginan Kirana ikut diperiksa.

Aku sengaja tidak terlalu banyak ikut campur dalam urusan antara Arman dan mantan istrinya.

Ada satu hal yang lebih penting bagiku.

Memastikan Kirana memahami bahwa rumah kami bukan sekadar tempat persembunyian sementara.

Pada minggu pertama, ia masih bangun paling pagi.

Ia menyapu lantai tanpa diminta.

Mencuci piring sebelum aku sempat menyentuhnya.

Bahkan setiap selesai makan, ia selalu bertanya:

—Ada pekerjaan lain yang bisa kubantu?

Suatu sore aku akhirnya bertanya:

—Kenapa kamu selalu mencari pekerjaan?

Kirana tampak bingung.

—Karena aku tinggal di sini.

—Lalu?

—Aku harus berguna supaya boleh tetap tinggal.

Kalimat itu menghantam hatiku.

Aku meletakkan pakaian bayi yang sedang kulipat.

—Kirana, dengarkan baik-baik. Kamu tinggal di sini bukan karena kami membutuhkan pembantu.

Ia menunduk.

Aku mengangkat dagunya perlahan.

—Kamu tinggal di sini karena kamu keluarga.

Matanya kembali berkaca-kaca.

Beberapa bulan kemudian, keputusan akhirnya dibuat.

Kirana dapat tinggal bersama Arman, sementara hubungan dengan ibunya tetap dibuka dengan pengaturan yang lebih aman dan teratur.

Kami tidak merayakannya seperti sebuah kemenangan.

Karena bagi Kirana, perempuan itu tetap ibunya.

Aku tidak pernah meminta Kirana membenci ibunya.

Arman juga tidak.

Yang kami lakukan hanya memberi Kirana ruang untuk pulih.

Waktu berjalan.

Aku melahirkan seorang bayi laki-laki.

Hal yang paling kutakutkan justru tidak pernah terjadi.

Kirana tidak merasa tersisih.

Sebaliknya, ia menjadi kakak yang luar biasa.

Setiap pulang sekolah, orang pertama yang dicari bukan aku atau Arman.

Melainkan adiknya.

—Adik Kakak di mana?

Ia akan mencuci tangan, mengganti pakaian, lalu duduk di samping tempat tidur bayi sambil bercerita tentang sekolah.

Suatu hari aku bercanda:

—Sepertinya dia lebih suka Kak Kirana daripada Tante.

Kirana tertawa.

Tawa yang dulu hampir tidak pernah kudengar kini memenuhi rumah.

Tahun demi tahun berlalu.

Kirana tumbuh menjadi gadis yang cerdas.

Ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan.

Hari ketika ia harus meninggalkan rumah untuk kuliah, ia berdiri di depan pintu dengan koper besar.

Pemandangan itu membuatku teringat malam pertama ia datang.

Bedanya, kali ini tidak ada hujan.

Tidak ada pakaian basah.

Tidak ada anak ketakutan yang meminta tidur satu malam.

Aku memeluknya.

—Jaga diri.

Kirana memelukku lebih erat.

Lalu untuk pertama kalinya, ia tidak memanggilku “Tante”.

—Ibu juga jaga kesehatan.

Aku membeku.

Kirana pun membeku.

Wajahnya memerah.

—Maaf, aku…

Aku langsung memeluknya lagi.

—Jangan minta maaf.

Air mataku jatuh.

—Tante sudah menunggu bertahun-tahun untuk mendengar itu.

Dari belakang, Arman tertawa sambil mengusap matanya.

Kirana akhirnya pergi kuliah.

Setelah lulus, ia bekerja di bidang teknologi dan kemudian mendirikan usaha bersama beberapa temannya.

Usahanya tidak langsung berhasil.

Ada masa ketika ia hampir menyerah.

Setiap kali itu terjadi, ia pulang.

Kami makan bersama.

Arman memberi nasihat.

Aku menyiapkan makanan kesukaannya.

Adiknya, yang sudah remaja, akan menggodanya sampai ia kesal.

Rumah kami tidak sempurna.

Tetapi rumah itu selalu menjadi tempat Kirana bisa kembali tanpa harus meminta izin.

Dua puluh tahun setelah malam hujan itu, aku sudah tidak muda lagi.

Arman pun mulai beruban.

Suatu pagi, Kirana datang dan meminta kami ikut dengannya.

—Ke mana?

—Ada sesuatu yang mau kutunjukkan.

Ia membawa kami ke sebuah kawasan yang tenang.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman luas dan taman kecil.

Aku menatapnya bingung.

—Rumah siapa ini?

Kirana menyerahkan sebuah kotak kecil kepadaku.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat kunci rumah.

—Untuk Ibu.

Aku langsung menutup kotak itu.

—Tidak. Ini terlalu mahal.

Kirana tertawa.

—Aku sudah tahu Ibu pasti bilang begitu.

—Kirana, Ibu serius.

Ia memegang kedua tanganku.

—Aku juga serius.

Matanya perlahan memerah.

—Dulu aku datang ke rumah Ibu hanya membawa ransel basah dan meminta satu malam.

Aku tidak mampu berkata-kata.

—Ibu memberiku lebih dari satu malam. Ibu memberiku tempat pulang selama dua puluh tahun.

Arman memalingkan wajah, diam-diam mengusap mata.

Kirana melanjutkan:

—Aku tidak membeli rumah ini untuk membayar kebaikan Ibu. Karena aku tahu itu tidak bisa dibayar.

Ia meletakkan kembali kunci di telapak tanganku.

—Aku hanya ingin Ibu dan Ayah punya tempat nyaman untuk menjalani masa tua.

Aku akhirnya memeluknya.

Beberapa waktu kemudian, kabar mengenai rumah itu sampai kepada ibu kandung Kirana.

Hubungan mereka selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.

Ibunya sempat marah dan mempertanyakan mengapa Kirana bisa memberikan rumah besar kepadaku sementara ia adalah ibu kandungnya.

Kirana tidak bertengkar.

Ia hanya menjawab dengan tenang:

—Ibu tetap ibuku. Aku tidak menyangkal itu. Tapi kasih sayang bukan perlombaan yang hadiahnya diberikan kepada orang yang memiliki hubungan darah paling dekat.

Ibunya terdiam.

Kirana melanjutkan:

—Aku akan tetap menghormati Ibu. Kalau Ibu sakit dan membutuhkan bantuan, aku tidak akan berpaling. Tetapi rumah itu kuberikan kepada orang yang membuka pintu ketika aku tidak punya tempat untuk pergi.

Setelah itu Kirana tidak pernah membahasnya lagi.

Beberapa tahun kemudian, hubungan ibu dan anak itu perlahan membaik.

Tidak sempurna.

Tidak seperti dalam dongeng.

Tetapi setidaknya mereka mulai berbicara tanpa saling menyalahkan.

Ibunya akhirnya meminta maaf.

Bukan hanya kepada Kirana, tetapi juga kepada Arman.

Kirana menerimanya.

Namun ia juga belajar bahwa memaafkan seseorang tidak berarti harus kembali hidup seperti masa lalu tidak pernah terjadi.

Suatu malam, kami berkumpul di rumah baru.

Arman memanggang ikan di halaman.

Adik Kirana datang bersama keluarganya.

Kirana duduk di sampingku sambil mengupas buah.

Tiba-tiba hujan turun.

Aku tertawa.

—Kamu ingat malam pertama datang ke rumah kami?

Kirana tersenyum.

—Bagaimana mungkin aku lupa?

—Waktu itu kamu bilang cuma mau tinggal satu malam.

Ia ikut tertawa.

—Untung Ibu tidak benar-benar mengusirku keesokan paginya.

Aku pura-pura berpikir.

—Sebenarnya sempat terpikir.

Kirana langsung menatapku.

Aku tertawa keras.

—Bercanda!

Ia menyandarkan kepala di bahuku.

Beberapa saat kami hanya memandang hujan.

Kemudian Kirana berkata pelan:

—Ibu tahu tidak? Malam itu aku sebenarnya sudah berdiri hampir lima belas menit di depan pintu sebelum berani mengetuk.

Aku menoleh.

—Kenapa?

—Aku takut.

—Takut Ibu tidak membukakan pintu?

Kirana menggeleng.

—Aku takut Ibu membuka pintu, melihat siapa aku, lalu menutupnya lagi.

Dadaku mendadak terasa sesak.

Aku menggenggam tangannya.

—Kalau waktu bisa diputar kembali, Ibu tetap akan membuka pintu itu.

Kirana tersenyum.

—Aku tahu.

Di halaman, Arman memanggil kami karena makanan sudah siap.

Kirana berdiri lalu mengulurkan tangan kepadaku.

Aku menggenggamnya.

Dua puluh tahun lalu, tangan kecil itu pernah gemetar saat meminta izin tinggal satu malam.

Kini tangan yang sama menuntunku menuju meja makan yang dipenuhi orang-orang yang kami cintai.

Saat itulah aku akhirnya mengerti.

Keluarga tidak selalu dimulai dari darah.

Kadang keluarga dimulai dari sebuah pintu yang dibuka pada malam hujan, sepiring nasi hangat, dan keputusan sederhana untuk tidak membiarkan seorang anak pergi sendirian.

Dan Kirana tidak pernah lagi bertanya apakah ia boleh tinggal.

Karena sejak malam itu, sebenarnya ia sudah pulang.