PENGANTINKU MENINGGALKANKU DI DEPAN PELAMINAN, AYAHKU MENUDUHKU PENCURI—MALAM ITU AKU MENIKAH DENGAN PRIA ASING DI KURSI RODA

Avatar penulis
Cerita 04
25 menit baca 124 tayangan
PENGANTINKU MENINGGALKANKU DI DEPAN PELAMINAN, AYAHKU MENUDUHKU PENCURI—MALAM ITU AKU MENIKAH DENGAN PRIA ASING DI KURSI RODA
Indeks

PENGANTINKU MENINGGALKANKU DI DEPAN PELAMINAN, AYAHKU MENUDUHKU PENCURI—MALAM ITU AKU MENIKAH DENGAN PRIA ASING DI KURSI RODA

Calon suamiku meninggalkanku tepat di hari pernikahan. Ayahku sendiri merobek veil dari kepalaku, sementara semua orang menuduhku sebagai pencuri.

Beberapa jam kemudian, aku menikah dengan seorang pria pendiam yang menggunakan kursi roda.

Aku mengira dia hanyalah orang asing yang kebetulan datang ketika hidupku hancur.

PENGANTINKU MENINGGALKANKU DI DEPAN PELAMINAN, AYAHKU MENUDUHKU PENCURI—MALAM ITU AKU MENIKAH DENGAN PRIA ASING DI KURSI RODA

Sampai suatu malam, di acara gala perusahaan terbesar di Jakarta, sang komisaris utama membungkuk hormat di hadapannya dan berkata pelan,

“Selamat datang kembali, Pak Mahendra.”

Saat itulah aku sadar.

Pria yang kunikahi bukanlah orang biasa.

Dan pembalasanku baru saja dimulai.


Namaku Alya Pratama.

Hari itu aku berdiri sendirian di depan pelaminan sebuah ballroom hotel mewah di Jakarta Selatan, sementara hampir dua ratus tamu menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Namun bagian terburuknya bukan karena calon suamiku menghilang.

Bagian terburuk terjadi tiga puluh detik kemudian.

Ketika ayah kandungku sendiri berjalan ke arahku, menarik veil dari rambutku, lalu menyebutku pencuri di depan semua orang.

“Di mana Dimas?” bisikku.

Tak seorang pun menjawab.

Pintu ballroom masih terbuka. Udara dingin dari luar bercampur dengan aroma bunga melati dan mawar putih yang memenuhi ruangan.

Adikku, Citra, duduk di barisan depan mengenakan kebaya modern berwarna perak.

Dia sedang tersenyum.

Senyum kecil yang berusaha disembunyikannya.

Kemudian sahabat Dimas berjalan mendekat.

Wajahnya pucat.

“Alya…”

Aku menatapnya.

“Di mana Dimas?”

Dia menundukkan kepala.

“Dia tidak akan datang.”

Suara bisik-bisik langsung memenuhi ballroom.

Tanganku membeku.

“Apa maksudmu?”

Sebelum dia sempat menjawab, ayahku, Surya Pratama, berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

“Kamu sudah mempermalukan keluarga ini!”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Ayah, aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi.”

“Kamu tahu persis!”

Ayah berjalan cepat ke arahku.

Lalu, di depan keluarga besar kami, rekan bisnisnya, dan hampir dua ratus undangan, tangannya meraih veil di kepalaku.

Dia menariknya.

Keras.

Veil itu terlepas dan jatuh ke lantai.

Beberapa tamu tersentak.

Aku hanya berdiri membeku.

“Ayah…”

“Jangan panggil aku Ayah setelah apa yang kamu lakukan!”

Aku belum sempat bertanya ketika Citra berdiri sambil mengangkat ponselnya.

“Mungkin semua orang perlu tahu kenapa Mas Dimas pergi.”

Dia membuka beberapa tangkapan layar.

Bukti transfer.

Dari rekening perusahaan keluarga kami, Pratama Sentosa Group, menuju sebuah rekening bank yang terdaftar atas namaku.

Jumlah keseluruhannya hampir Rp4,8 miliar.

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Itu bukan rekeningku.”

Ibu Dimas tertawa sinis dari barisan depan.

“Tentu saja bukan.”

“Aku serius. Aku tidak pernah membuka rekening itu.”

Citra mengangkat bahu.

“Tapi menggunakan NIK dan datamu.”

Aku menatap layar ponselnya sekali lagi.

Kemudian sesuatu menarik perhatianku.

Nomor referensi transaksi.

Kode vendor.

Aku mengenalinya.

Tiga bulan sebelumnya, Dimas memintaku menyetujui perusahaan vendor baru untuk salah satu proyek Pratama Sentosa Group.

Perusahaan bernama Nusantara Prima Konsultan.

Aku bekerja hampir enam tahun di bagian compliance dan audit internal perusahaan ayahku.

Citra datang ke acara-acara mewah.

Dimas mendapatkan jabatan direktur hanya karena ayah menyukainya.

Sementara aku?

Aku yang memeriksa kontrak.

Aku yang menemukan transaksi mencurigakan.

Aku yang memastikan perusahaan tidak tersandung masalah hukum.

Dan tiga bulan sebelumnya, aku menolak menyetujui Nusantara Prima Konsultan.

Perusahaan itu tidak memiliki kantor yang jelas.

Struktur kepemilikannya mencurigakan.

Beberapa dokumennya bahkan tampak dibuat terburu-buru.

Dimas marah besar ketika aku menolaknya.

Sekarang miliaran rupiah telah dialihkan melalui perusahaan itu.

Dan rekening penerimanya dibuat menggunakan identitasku.

Saat itulah aku mengerti.

Ini bukan kebetulan.

Aku sedang dijebak.

Aku perlahan menatap Citra.

“Di mana Dimas?”

Senyumnya berubah.

“Sudah pergi.”

“Ke mana?”

“Ke tempat di mana dia bisa bernapas tanpa kamu mengatur hidupnya.”

Aku menatap matanya.

Lalu mengajukan satu pertanyaan.

“Bersamamu?”

Ballroom mendadak sunyi.

Citra tidak menjawab.

Tetapi wajahnya sudah memberikan semua jawaban yang kubutuhkan.

Dimas bukan hanya menjebakku.

Dia juga berselingkuh dengan adikku sendiri.

Aku menatap ayah.

“Ayah tahu?”

“Yang aku tahu,” katanya dingin, “uang perusahaan hilang dan semua bukti mengarah kepadamu.”

“Karena seseorang sengaja membuatnya seperti itu.”

“Cukup!”

Aku menarik cincin pertunangan dari jariku.

Lalu meletakkannya di atas meja dekat pelaminan.

“Kalau begitu, simpan pernikahan kalian.”

Wajah ayah memerah.

“Keluar.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Keluar dari sini.”

“Ayah—”

“Mulai hari ini, kamu bukan bagian dari keluarga ini.”

Aku tidak menangis.

Setidaknya tidak di depan mereka.

Aku berbalik dan berjalan meninggalkan ballroom masih mengenakan gaun pengantin putih.

Di luar hotel, hujan Jakarta turun deras.

Dalam hitungan detik, gaunku basah.

Aku berjalan tanpa tujuan.

Satu blok.

Dua blok.

Kemudian hak sepatuku patah.

Aku hampir jatuh di trotoar.

Saat itulah sebuah sedan hitam berhenti di sampingku.

Kaca belakangnya perlahan turun.

Seorang pria duduk di dalam.

Usianya mungkin sekitar tiga puluh lima tahun.

Wajahnya tenang, tampan, mengenakan setelan gelap sederhana.

Di sampingnya terdapat sebuah kursi roda lipat.

Aku mengenalnya.

Raka Mahendra.

Kami pernah bertemu dua kali dalam kegiatan sebuah yayasan pendidikan tempat aku menjadi relawan.

Raka tidak banyak bicara.

Tetapi dia selalu memperhatikan orang lain.

Dan entah kenapa, setiap kali berbicara denganku, dia tidak pernah menatapku seperti putri Surya Pratama.

Dia menatapku sebagai Alya.

Matanya berpindah dari gaun pengantinku yang basah menuju veil kusut di tanganku.

“Kelihatannya seseorang baru saja menghancurkan pernikahanmu.”

Aku tertawa pahit.

“Hampir benar.”

Raka membuka pintu mobil.

“Masuk.”

“Aku tidak tahu harus pergi ke mana.”

“Kalau begitu, setidaknya jangan berdiri di tengah hujan.”

Aku masuk.

Beberapa menit kami hanya diam.

Kemudian Raka bertanya,

“Apa yang kamu butuhkan sekarang?”

Aku menatap lampu-lampu Jakarta yang kabur di balik kaca mobil.

“Identitas baru mungkin.”

Dia menoleh.

Aku tertawa kecil.

“Aku bercanda.”

Raka tidak tertawa.

Sebaliknya, dia mengatakan sesuatu yang membuatku yakin pria itu sudah kehilangan akal sehat.

“Menikahlah denganku.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Menikah denganku malam ini.”

“Raka, aku baru saja ditinggalkan di hari pernikahanku.”

“Aku tahu.”

“Dan keluargaku menuduhku mencuri miliaran rupiah.”

“Aku juga tahu.”

Aku membeku.

“Apa maksudmu?”

Raka menatapku tenang.

“Aku membutuhkan pasangan sah sebelum tengah malam karena sebuah urusan keluarga yang akan kujelaskan setelahnya.”

Dia berhenti sejenak.

“Dan kamu membutuhkan perlindungan sebelum orang-orang yang menjebakmu sadar bahwa kamu sudah mengetahui terlalu banyak.”

Napas tertahan di tenggorokanku.

“Kamu tahu siapa yang menjebakku?”

“Aku tahu Dimas sudah memindahkan uang perusahaan selama berbulan-bulan.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena Pratama Sentosa bukan satu-satunya perusahaan yang dia tipu.”

Raka menatap lurus ke mataku.

“Dan dia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.”

“Apa?”

“Menjadikanmu kambing hitam.”

Malam itu, hidupku mengambil keputusan yang bahkan tidak pernah muncul dalam mimpi terliarku.

Dengan gaun pengantin yang masih basah dan riasan yang sudah berantakan, aku menikah dengan Raka Mahendra dalam sebuah prosesi sipil sederhana yang dibantu pengacara keluarganya.

Aku tidak tahu apakah aku sedang menyelamatkan hidupku…

atau menghancurkannya untuk kedua kalinya dalam satu hari.

Yang kutahu, ketika jam hampir menunjukkan tengah malam, namaku telah berubah.

Aku bukan lagi Alya Pratama.

Aku adalah Alya Mahendra.

Saat itu aku mengira menikahi pria asing yang menggunakan kursi roda adalah keputusan paling gila yang pernah kubuat.

Aku salah.

Karena beberapa hari kemudian, Raka membawaku menghadiri gala tahunan salah satu grup bisnis terbesar di Jakarta.

Begitu kursi rodanya memasuki ballroom, para direktur yang sedang berbicara tiba-tiba terdiam.

Seorang komisaris senior berusia hampir tujuh puluh tahun berjalan menghampiri kami.

Aku melihat pria itu membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

Kemudian dia berkata,

“Selamat datang kembali, Pak Mahendra.”

Tanganku membeku di pegangan kursi roda Raka.

Aku menatap suamiku.

Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa aku sama sekali tidak tahu siapa pria yang baru saja kunikahi.

Dan di sudut ballroom…

aku melihat ayahku.

Dimas.

Dan Citra.

Ketiganya menatap Raka dengan wajah pucat.

Raka perlahan menoleh kepadaku.

Senyumnya tipis.

“Sekarang,” bisiknya, “kita ambil kembali semua yang mereka curi darimu.”

Aku tidak pernah melupakan wajah ayahku malam itu.

Surya Pratama, pria yang selama hidupku selalu berdiri dengan dada tegak di depan siapa pun, tampak seperti baru saja melihat hantu.

Dimas berdiri dua langkah di belakangnya.

Citra berada di samping Dimas.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal adikku, senyum percaya dirinya benar-benar hilang.

“Raka Mahendra?” bisikku.

Raka tidak langsung menjawab.

Komisaris senior yang tadi membungkuk kepadanya berdiri tegak kembali.

“Seluruh dewan sudah menunggu Anda, Pak.”

Raka mengangguk.

“Lima menit.”

Pria itu kembali membungkuk ringan lalu pergi.

Aku menatap suamiku.

“Siapa kamu sebenarnya?”

Raka menatap ke arah ayahku sebentar.

Kemudian dia menghela napas.

“Namaku tetap Raka Mahendra.”

“Aku tahu namamu.”

“Maksudku, aku tidak berbohong tentang itu.”

“Lalu kenapa semua orang di sini memperlakukanmu seperti pemilik tempat ini?”

Raka terdiam beberapa detik.

“Karena sebagian besar memang milikku.”

Aku merasa tenggorokanku mengering.

Gala itu diselenggarakan oleh Mahendra Raya Group, salah satu konglomerasi properti, logistik, teknologi, dan investasi terbesar di Indonesia.

Perusahaan yang bahkan Pratama Sentosa Group milik ayahku hanya bisa berharap menjadi mitra kecilnya.

Aku menatap Raka.

“Jangan bilang…”

“Aku pemegang saham pengendali.”

Aku hampir tertawa karena terlalu tidak percaya.

“Pemegang saham pengendali?”

“Lima puluh delapan persen.”

Aku menatap kursi rodanya.

Kemudian wajahnya.

Kemudian para direktur yang berdiri di kejauhan menunggu instruksinya.

“Kenapa tidak ada yang tahu?”

“Banyak orang tahu nama keluargaku. Tidak banyak yang tahu wajahku.”

Raka tersenyum tipis.

“Selama enam tahun terakhir aku lebih banyak tinggal di Singapura untuk rehabilitasi dan mengelola investasi keluarga lewat holding.”

“Rehabilitasi?”

Tatapannya turun sebentar ke kedua kakinya.

“Kecelakaan.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan kata itu yang membuatku tahu luka tersebut bukan hanya fisik.

Sebelum aku bisa berkata apa pun lagi, ayahku datang menghampiri kami.

“Alya.”

Nada suaranya berubah total.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada penghinaan.

Yang ada justru keramahan palsu yang membuatku lebih muak.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mengenal Pak Mahendra?”

Aku menatapnya.

“Tiga hari lalu Ayah bilang aku bukan keluarga.”

Wajah ayah menegang.

“Waktu itu keadaan sedang kacau.”

“Dan sekarang tidak?”

“Alya, kita bisa membicarakan semuanya baik-baik.”

Dimas ikut maju.

Dia mengenakan jas hitam mahal dan ekspresi seseorang yang sedang berusaha keras terlihat tenang.

“Alya, tentang hari pernikahan…”

Aku memotongnya.

“Jangan.”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Kamu meninggalkanku di pelaminan.”

“Aku panik.”

“Lalu miliaran rupiah muncul di rekening atas namaku.”

“Aku tidak tahu soal itu.”

Aku menatapnya.

Dia menghindari mataku.

Raka akhirnya berbicara.

“Menarik.”

Dimas menoleh.

“Maaf?”

“Pak Dimas mengatakan tidak tahu soal rekening itu.”

“Memang tidak.”

Raka mengangguk seolah sedang menerima informasi biasa.

“Kalau begitu, Anda pasti tidak keberatan menjelaskan kenapa alamat IP yang membuat rekening digital tersebut berasal dari apartemen Anda di Kuningan.”

Wajah Dimas berubah.

Citra menoleh cepat kepadanya.

“Apa?”

Raka melanjutkan.

“Atau kenapa perangkat yang digunakan untuk mengakses rekening itu beberapa kali terhubung ke Wi-Fi atas nama Anda.”

Ayahku menatap Dimas.

“Dia hanya menggertak,” kata Dimas cepat.

“Benarkah?”

Raka memberi isyarat kecil kepada seorang pria berkacamata di dekat panggung.

Pria itu berjalan mendekat membawa tablet.

“Pak Aditya,” kata Raka, “tolong berikan salinannya.”

Aditya menyerahkan tablet kepadaku.

Di layar terdapat laporan digital forensik.

Aku membaca beberapa baris.

Nomor perangkat.

Riwayat login.

Lokasi.

Rekening yang menggunakan identitasku memang dibuat dari perangkat yang terdaftar atas nama Dimas.

Tanganku gemetar.

Bukan karena terkejut.

Jauh di dalam hati, aku sudah tahu.

Tetapi mengetahui dan melihat bukti adalah dua hal berbeda.

Aku mengangkat wajah.

“Kenapa?”

Dimas menatap sekeliling.

Puluhan tamu mulai memperhatikan kami.

“Alya, jangan bikin keributan di sini.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu meninggalkanku di pelaminan dan menuduhku pencuri di depan dua ratus orang.”

Aku mengangkat tablet.

“Tapi sekarang kamu takut malu?”

Citra meraih lengan Dimas.

“Mas, bilang itu tidak benar.”

Dimas tidak menjawab.

Aku menatap Citra.

“Kamu benar-benar tidak tahu?”

Wajahnya pucat.

Saat itulah aku menyadari sesuatu.

Citra mungkin berselingkuh dengannya.

Tetapi dia tidak tahu semua rencana Dimas.

“Dimas bilang kamu yang mengambil uang itu,” kata Citra perlahan.

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Dia bilang kamu sudah lama memindahkan uang perusahaan.”

Dimas langsung memotong.

“Citra, diam.”

“Dia bilang kamu ingin kabur setelah menikah.”

“Citra!”

Adikku mundur.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat perempuan yang merebut tunanganku.

Aku melihat seseorang yang juga sedang menyadari bahwa dirinya dipakai.

Raka berkata tenang,

“Masalah sebenarnya jauh lebih besar dari Rp4,8 miliar.”

Ayahku menatapnya.

“Apa maksud Anda?”

Raka memberi isyarat lagi.

Layar besar di belakang panggung yang tadinya menampilkan logo gala berubah.

Muncul bagan perusahaan.

Puluhan transaksi.

Nama vendor.

Perusahaan cangkang.

Jumlah transfer.

Aku mengenali beberapa nama.

Nusantara Prima Konsultan.

Bintang Infrastruktur.

Arunika Procurement.

Semua perusahaan yang pernah mencoba masuk sebagai vendor Pratama Sentosa selama dua tahun terakhir.

Semua pernah melewati mejaku.

Beberapa kutolak.

Beberapa disetujui tanpa sepengetahuanku.

Total dana yang keluar:

Rp87,6 miliar.

Ballroom langsung dipenuhi bisik-bisik.

Ayahku menatap layar seperti tidak bisa bernapas.

“Ini fitnah.”

Raka tidak bergerak.

“Dokumen bank, faktur fiktif, log server, dan kontrak asli sudah diberikan kepada auditor independen.”

“Siapa yang memberi Anda hak menyelidiki perusahaan saya?”

Raka menatapnya.

“Saya.”

“Apa?”

“Mahendra Raya Capital memegang dua puluh satu persen saham Pratama Sentosa.”

Ayahku membeku.

Aku pun begitu.

Raka melanjutkan,

“Kepemilikan itu selama ini tercatat melalui tiga perusahaan investasi.”

Ayahku menggeleng.

“Itu tidak mungkin.”

“Bisa Anda periksa besok pagi.”

Raka berhenti.

“Walaupun saya rasa besok Anda akan terlalu sibuk.”

“Dengan apa?”

“Menjawab pertanyaan auditor dan pengacara.”

Aku melihat rahang ayahku mengeras.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Ayah memang marah.

Tetapi dia tidak tampak seperti seseorang yang takut karena tertangkap mencuri.

Dia tampak seperti seseorang yang baru menyadari dirinya kehilangan kendali.

Aku menoleh kepada Raka.

“Kamu bilang Dimas yang mencuri.”

“Benar.”

“Lalu kenapa Ayah…”

Raka tidak menjawab.

Justru Aditya yang memberi sebuah map kepadaku.

“Bu Alya, mungkin sebaiknya Anda melihat halaman terakhir.”

Aku membuka dokumen itu.

Dan dunia seperti berhenti.

Di sana terdapat tanda tangan ayahku.

Surya Pratama.

Persetujuan pembayaran untuk empat perusahaan cangkang.

Aku mengangkat wajah perlahan.

“Ayah?”

Dia tidak menjawab.

“Ayah tahu?”

Diam.

Dimas mundur satu langkah.

Citra menutup mulut.

“Ayah tahu Dimas mengambil uang perusahaan?”

Surya menatapku.

“Aku sedang menyelamatkan perusahaan.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada saat dia merobek veilku.

“Menyelamatkan?”

“Dua tahun lalu kita hampir bangkrut.”

Aku terdiam.

“Tidak mungkin.”

“Kamu bekerja di compliance. Kamu tidak melihat semuanya.”

Ayah menghela napas berat.

“Pratama Sentosa kehilangan tiga proyek besar. Utang bank jatuh tempo. Aku butuh arus kas.”

“Jadi Ayah membuat vendor palsu?”

“Dimas punya rencana untuk memutar dana melalui proyek luar.”

Aku menatap Dimas.

Dia langsung mengalihkan pandangan.

Ayah melanjutkan,

“Awalnya cuma sementara.”

Aku merasakan sesuatu dalam dadaku runtuh.

“Lalu kenapa menjebakku?”

Ayah terdiam.

Aku menunggu.

“Ayah.”

“Aku tidak merencanakan itu.”

Dimas akhirnya bicara.

“Itu ideku.”

Semua mata tertuju kepadanya.

Dimas mengusap wajah.

“Alya mulai terlalu banyak bertanya. Dia menolak vendor. Dia minta audit.”

Aku mengingatnya.

Enam bulan terakhir sebelum pernikahan, aku memang menemukan ketidaksesuaian.

Aku bahkan sempat mengatakan kepada ayah bahwa perusahaan membutuhkan audit forensik.

Dua hari kemudian, ayah menyebutku paranoid.

Dimas mendekat kepadaku.

“Aku cuma perlu membuatmu keluar dari perusahaan.”

“Dengan menghancurkan hidupku?”

“Aku tidak bermaksud sampai sejauh itu.”

Aku tertawa getir.

“Kamu meninggalkanku di pelaminan.”

“Itu karena…”

Dia berhenti.

Citra menatapnya.

“Karena apa?”

Dimas terlihat terjebak.

Aku tiba-tiba mengerti.

“Karena kamu memang ingin bersama Citra.”

Citra perlahan melepaskan tangannya dari lengan Dimas.

Dimas tidak menjawab.

Aku menatap adikku.

Wajahnya hancur.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Raka berkata,

“Sebenarnya, ada satu orang lagi yang perlu kita bicarakan.”

Dia menatap ayahku.

Surya langsung pucat.

Aku melihat perubahan itu.

Kecil.

Tapi jelas.

“Ayah?”

Raka mengeluarkan amplop cokelat tipis.

“Aku tidak ingin memberikannya kepadamu di sini.”

“Apa itu?”

“Alasan sebenarnya aku mendekatimu.”

Jantungku berdegup keras.

Semua kemarahan mendadak berubah menjadi rasa dingin.

Aku menatap Raka.

“Mendekatiku?”

Dia menundukkan kepala.

“Pertemuan kita di yayasan tidak sepenuhnya kebetulan.”

Aku merasa napasku berhenti.

“Kamu menyelidikiku?”

“Aku mencari seseorang.”

“Siapa?”

Raka menyerahkan amplop itu.

Tanganku ragu-ragu ketika membukanya.

Ada foto lama.

Seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.

Wajah perempuan itu membuatku langsung membeku.

Aku pernah melihatnya.

Dalam satu-satunya foto ibuku yang kusimpan sejak kecil.

“Ibu…”

Namanya Maya Lestari.

Aku kehilangan ibu ketika berusia lima tahun.

Ayah selalu berkata ibu meninggal karena kecelakaan saat perjalanan ke Bandung.

Aku membalik foto itu.

Ada tulisan tangan di belakangnya.

Untuk Arman dan Raka. Semoga suatu hari anak-anak kita tidak mewarisi kesalahan kita. — Maya.

Aku menatap Raka.

“Arman siapa?”

Raka memandang ayahku.

“Arman Mahendra adalah ayah saya.”

Aku tidak memahami.

Kemudian semuanya mulai terasa salah.

Sangat salah.

“Kenapa ibuku mengenal ayahmu?”

Ayahku tiba-tiba berkata,

“Cukup.”

Aku menoleh kepadanya.

“Apa yang Ayah sembunyikan?”

“Tidak ada.”

Raka mengeluarkan dokumen lain.

“Dua puluh delapan tahun lalu, Maya Lestari adalah salah satu pendiri perusahaan kecil bernama Mahendra-Pratama Development.”

Aku menatap ayahku.

Raka melanjutkan.

“Perusahaan itu didirikan oleh tiga orang. Ayah saya, ibu Anda, dan Surya Pratama.”

“Aku tidak pernah tahu.”

“Karena setelah ibu Anda meninggal, namanya dihapus dari sejarah perusahaan.”

Ayah berteriak,

“Dia sudah mati! Apa gunanya membicarakan ini sekarang?”

Ballroom menjadi benar-benar sunyi.

Aku menatapnya.

“Kenapa Ayah marah?”

Surya tidak menjawab.

Raka menatapku.

“Alya, ibumu bukan sekadar istri Surya Pratama.”

Dia berhenti.

“Dia pemilik empat puluh persen perusahaan pertama yang kemudian menjadi dasar aset Pratama Sentosa.”

Dunia terasa berputar.

“Empat puluh persen?”

“Dan menurut perjanjian pendirian asli, jika beliau meninggal, saham itu diwariskan kepada anak kandungnya.”

Tanganku dingin.

“Berarti…”

“Secara hukum, sebagian besar aset yang selama ini dikendalikan ayahmu seharusnya sudah menjadi milikmu sejak kamu berusia dua puluh satu tahun.”

Aku menatap Surya.

“Ayah tahu?”

Tidak ada jawaban.

“Ayah tahu?!”

“Aku membesarkanmu!”

Jawabannya datang seperti ledakan.

“Aku membayar sekolahmu! Aku memberimu rumah! Aku memberimu pekerjaan!”

Aku nyaris tidak mengenali pria di depanku.

“Itu bukan jawaban.”

“Apa bedanya?”

“Bedanya adalah Ayah mengambil sesuatu yang ditinggalkan Ibu untukku.”

“Aku yang membangun perusahaan itu!”

“Dengan aset milik Ibu!”

“Aku menyelamatkannya setelah dia pergi!”

Raka memotong dengan suara dingin.

“Maya tidak pergi.”

Ayah membeku.

Aku menatap Raka.

“Apa maksudmu?”

Raka tidak langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya terlihat benar-benar berat.

“Catatan kecelakaan ibumu tidak konsisten.”

Dadaku sesak.

“Jangan.”

“Alya…”

“Jangan bilang Ayah membunuhnya.”

Raka langsung menggeleng.

“Tidak.”

Aku mengembuskan napas yang bahkan tidak kusadari kutahan.

“Lalu?”

“Ibumu memang mengalami kecelakaan.”

Raka menatap foto di tanganku.

“Tapi beliau tidak meninggal hari itu.”

Aku berhenti bernapas.

“Apa?”

Ayah menutup matanya.

Aku menatapnya.

“Ayah?”

Suara yang keluar dari mulutku hampir tidak terdengar.

“Ibu masih hidup?”

Surya duduk perlahan di kursi terdekat.

Untuk pertama kalinya aku melihat ayahku benar-benar tua.

“Dia hidup selama sebelas tahun setelah kecelakaan.”

Kakiku terasa lemas.

“Sebelas… tahun?”

“Alya…”

“Berarti ketika aku berusia enam belas tahun…”

Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimat.

Ayah mengangguk.

Aku merasa seolah seluruh masa kecilku baru saja diretas ulang di depan mataku.

“Kenapa?”

“Kecelakaan itu menyebabkan cedera kepala parah.”

“Kenapa Ayah bilang dia meninggal?”

“Karena setelah operasi, dia kehilangan banyak ingatan. Dia bahkan tidak selalu mengenal orang.”

“Itu tetap ibuku!”

“Aku takut!”

Aku menatapnya.

Ayah mulai menangis.

Aku belum pernah melihatnya menangis.

“Dokter bilang kondisinya tidak pasti. Ayah Raka membawa Maya ke pusat rehabilitasi di Singapura karena fasilitasnya lebih baik. Aku pikir hanya beberapa bulan.”

“Lalu?”

“Lalu dia mulai mengingat.”

Aku menggenggam foto itu.

“Mengingat apa?”

“Perusahaan. Sahamnya. Semua hal yang terjadi antara kami.”

Ayah menunduk.

“Dan dia ingin kembali untukmu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Kenapa dia tidak kembali?”

Ayah tidak menjawab.

Raka menjawab untuknya.

“Karena Surya mengancam akan menghentikan biaya perawatannya jika Maya mencoba mengambil hak sahamnya kembali.”

Aku menatap ayahku.

“Tidak.”

“Alya…”

“Tidak.”

“Aku sedang terdesak.”

“Kamu menjauhkan ibuku dariku demi perusahaan?”

Ayah menutup wajah.

“Aku masih mengirim uang.”

Aku tertawa sambil menangis.

“Kamu mengirim uang?”

Aku mendekatinya.

“Selama sebelas tahun aku tidur sambil memeluk foto Ibu karena percaya dia sudah mati.”

Ayah menangis.

“Maaf.”

“Setiap ulang tahunku aku berharap bisa mengingat suaranya.”

“Alya…”

“Dan dia masih hidup?”

Aku hampir berteriak.

“Dia masih hidup selama sebelas tahun dan Ayah tidak pernah membawaku menemuinya?”

Surya tidak mampu menjawab.

Aku menutup mulut.

Tubuhku gemetar.

Raka meraih tanganku.

Aku menariknya refleks.

“Jangan.”

Dia langsung melepaskannya.

Aku menatapnya.

“Kamu tahu semua ini sejak kapan?”

“Sebagian sejak enam bulan lalu.”

“Enam bulan?”

“Ayahku meninggal tahun lalu. Dalam dokumen pribadinya aku menemukan surat Maya.”

“Jadi kamu mendekatiku karena ibuku?”

“Awalnya, ya.”

Kata itu menghancurkanku dengan cara berbeda.

“Pernikahan kita juga bagian dari rencanamu?”

Raka menatapku lurus.

“Pada malam itu aku memang membutuhkan pasangan sah.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengaktifkan klausul trust keluarga.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi aku juga berguna untukmu.”

Wajahnya berubah.

“Alya…”

“Semua orang ternyata menggunakan aku.”

Aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku.

Raka terlihat terpukul.

Namun dia tidak menghentikanku.

Aku meletakkan cincin itu di tangannya.

“Aku butuh udara.”

Aku meninggalkan ballroom.

Tidak ada yang mengejarku.

Dan untuk pertama kalinya, aku bersyukur.


Tiga hari aku tinggal sendirian di apartemen kecil milik temanku.

Aku mematikan ponsel.

Aku tidak membaca berita.

Aku tidak membuka pesan.

Pada hari keempat, seseorang mengetuk pintu.

Aku mengira Raka.

Ternyata Citra.

Matanya bengkak.

“Aku boleh masuk?”

Aku hampir menutup pintu.

Namun akhirnya kubiarkan.

Dia duduk di sofa tanpa bicara selama beberapa menit.

“Aku sudah putus dengan Dimas.”

Aku tidak menjawab.

“Dia menggunakan aku.”

“Aku tahu.”

“Aku pikir dia mencintaiku.”

Aku menatap adikku.

“Dan kamu pikir itu cukup untuk tidur dengan calon suami kakakmu?”

Citra menunduk.

“Tidak.”

Kami diam.

Kemudian dia berkata,

“Aku minta maaf.”

Aku menatap jendela.

“Aku belum bisa memaafkanmu.”

“Aku tahu.”

“Tapi mungkin suatu hari.”

Citra mulai menangis.

Sebelum pergi, dia memberikan USB kepadaku.

“Apa ini?”

“Rekaman lama dari laptop Ayah.”

Aku menatapnya.

“Aku mencurinya tadi malam.”

“Citra…”

“Ada satu folder tentang Ibu.”

Jantungku berdegup.

“Dan satu video.”

Malam itu aku menonton video tersebut.

Seorang perempuan kurus duduk di kursi dekat jendela sebuah rumah perawatan.

Rambutnya sudah pendek.

Wajahnya lebih tua.

Tetapi aku mengenal matanya.

Ibuku.

Maya.

Video itu direkam ketika aku berusia lima belas tahun.

Dia menatap kamera.

Lalu berkata,

“Kalau Alya suatu hari melihat ini, bilang padanya Ibu tidak pernah meninggalkannya.”

Aku langsung menangis.

“Ibu cuma belum cukup kuat untuk pulang.”

Dia tersenyum.

“Alya dulu suka tidur sambil memegang ujung bajuku. Kalau dia masih melakukannya, bilang Ibu masih ingat.”

Aku menutup mulut.

Aku masih melakukan itu sampai umur dua belas tahun.

Tidak ada yang tahu selain ibu.

Video berlanjut.

“Dan kalau Surya akhirnya jujur, jangan benci dia seumur hidup.”

Aku terdiam.

Ibuku menarik napas panjang.

“Dia lemah. Dia melakukan banyak kesalahan. Tapi kebencian akan mengambil lebih banyak dari Alya daripada yang pernah Surya ambil.”

Aku menangis sampai layar menjadi kabur.

Lalu kalimat terakhir muncul.

“Cari Arman Mahendra. Dia akan menjaga hakmu. Dan kalau suatu hari kamu bertemu anaknya, Raka…”

Ibuku tertawa kecil.

“…anak itu selalu terlalu serius. Ajari dia tertawa.”

Aku menatap layar.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian aku menelepon Raka.


Kami bertemu di taman kecil di belakang pusat rehabilitasi Jakarta.

Raka datang sendiri.

Tanpa jas.

Tanpa pengawal.

Aku duduk di bangku.

Dia berhenti beberapa meter dariku.

“Aku menonton videonya.”

Wajahnya berubah.

“Jadi kamu tahu.”

“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”

“Karena aku tidak tahu bagaimana.”

“Itu bukan alasan.”

“Aku tahu.”

Dia tidak membela diri.

“Aku awalnya mendekatimu karena surat itu. Aku ingin memastikan kamu benar-benar Alya.”

“Lalu?”

“Lalu aku jatuh cinta.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum pahit.

“Bagian itu tidak ada dalam rencana.”

Aku tidak berkata apa pun.

Raka melanjutkan.

“Malam kamu ditinggalkan di pernikahan, aku memang membutuhkan pasangan sah untuk trust. Tapi kalau kamu menolak, aku tidak akan pernah memaksamu.”

“Kenapa aku?”

“Karena klausul trust menyebut pasangan harus seseorang yang tidak memiliki kepentingan finansial sebelumnya dengan keluarga Mahendra.”

Aku mengangkat alis.

“Sekarang aku terdengar semakin berguna.”

Raka tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya.

Aku teringat kata-kata Ibu.

Ajari dia tertawa.

Aku menunduk.

“Dimas bagaimana?”

“Ditahan sementara untuk pemeriksaan. Auditor menemukan bukti tambahan.”

“Ayah?”

“Dia menyerahkan diri untuk proses hukum dan mengundurkan diri dari semua jabatan.”

Aku memandang jauh.

“Aku tidak tahu apakah aku ingin dia dipenjara.”

“Itu bukan keputusanmu seorang.”

“Aku tahu.”

“Dia juga meninggalkan surat untukmu.”

“Aku belum siap.”

“Tidak apa-apa.”

Aku memandang Raka.

“Dan saham Ibu?”

“Sudah dikembalikan ke trust atas namamu.”

“Berapa?”

“Jika digabung dengan aset yang berkembang selama dua puluh tahun…”

Dia menyebut jumlahnya.

Aku menatapnya tidak percaya.

Itu jauh lebih besar daripada seluruh kekayaan yang selama ini ayah banggakan.

Aku tertawa kecil sambil menggeleng.

“Lucu.”

“Apa?”

“Mereka menuduhku mencuri Rp4,8 miliar.”

Aku menatapnya.

“Padahal mereka sedang mencuri ratusan miliar dariku.”

Raka tersenyum.

“Karma kadang punya selera humor buruk.”

Aku melihat cincin pernikahan di tangannya.

Dia masih membawanya.

“Kamu belum membuangnya?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena secara hukum kita masih menikah.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu benar-benar romantis.”

“Aku sedang belajar.”

Aku mengulurkan tangan.

Raka menatapnya.

“Berikan.”

Dia menyerahkan cincin itu.

Aku memegangnya beberapa detik.

Lalu memasangnya kembali.

Wajah Raka benar-benar kehilangan ketenangannya.

“Alya…”

“Jangan salah paham.”

“Baik.”

“Pernikahan pertama kita adalah transaksi.”

Dia mengangguk.

“Kalau kita ingin tetap menikah…”

Aku menatapnya.

“…kamu harus melamarku dengan benar.”

Raka tersenyum.

“Kapan?”

“Bukan sekarang.”

“Baik.”

“Dan jangan di tengah hujan.”

“Baik.”

“Dan jangan setelah aku dituduh mencuri.”

Dia tertawa.

Kali ini benar-benar tertawa.

Aku juga.


Enam bulan kemudian, Pratama Sentosa Group berganti nama.

Aku menjual sebagian saham, melunasi seluruh utang perusahaan, dan membentuk yayasan pendidikan atas nama ibuku.

Yayasan Maya Lestari.

Citra bekerja di sana.

Bukan sebagai direktur.

Bukan sebagai orang penting.

Dia memulai dari bagian administrasi.

Itu pilihannya sendiri.

Hubungan kami belum kembali seperti dulu.

Mungkin tidak akan pernah sama.

Tetapi suatu hari, ketika kami makan siang bersama, dia berkata,

“Kak.”

Aku menatapnya.

Sudah lama dia tidak memanggilku begitu.

“Ya?”

“Aku benar-benar minta maaf.”

Aku hanya mengangguk.

Kadang-kadang pengampunan tidak datang seperti petir.

Kadang datang sedikit demi sedikit.

Dimas akhirnya dijatuhi hukuman setelah mengakui manipulasi dokumen, penggelapan, dan penggunaan identitas tanpa izin.

Ayah mendapat hukuman lebih ringan karena bekerja sama dalam penyidikan dan mengembalikan aset.

Aku mengunjunginya sekali.

Ruang kunjungan itu sederhana.

Ayah terlihat jauh lebih tua.

“Alya.”

Aku duduk di depannya.

Dia tidak berani menatapku lama.

“Aku menonton video Ibu.”

Ayah menutup mata.

“Dia masih membelaku?”

“Sedikit.”

Ayah tertawa kecil sambil menangis.

“Itulah Maya.”

Aku diam.

“Aku tidak datang untuk bilang aku sudah memaafkan Ayah.”

“Aku mengerti.”

“Tapi aku juga tidak ingin menghabiskan hidup membenci Ayah.”

Air mata jatuh dari wajahnya.

Aku berdiri.

Sebelum pergi, dia berkata,

“Alya.”

Aku berhenti.

“Ibumu akan bangga.”

Aku tidak menoleh.

“Semoga suatu hari Ayah juga bisa menjadi orang yang membuatnya bangga.”

Lalu aku pergi.


Setahun setelah pernikahan pertama kami, Raka membawaku ke tempat yang sama sekali tidak kuduga.

Bukan hotel mewah.

Bukan ballroom.

Bukan restoran mahal.

Sebuah taman kecil di halaman yayasan.

Anak-anak sedang bermain di kejauhan.

Raka berhenti di bawah pohon flamboyan.

Dia masih menggunakan kursi roda untuk perjalanan jauh, tetapi setelah rehabilitasi panjang, kini dia sudah mampu berdiri dengan bantuan tongkat untuk waktu singkat.

Hari itu dia melakukan sesuatu yang membuatku langsung menahan napas.

Dia berdiri.

Dengan susah payah.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Melamar.”

“Duduk sebelum jatuh.”

“Sebentar.”

Tangannya gemetar ketika mengambil cincin.

“Alya Pratama.”

Aku mengangkat alis.

“Mahendra.”

Dia tersenyum.

“Alya Mahendra.”

“Lebih baik.”

“Aku tidak bisa berjanji hidup kita akan tenang.”

“Itu jelas.”

“Aku juga tidak bisa berjanji akan selalu tahu jawaban yang benar.”

“Itu lebih jelas lagi.”

Dia tertawa.

Kemudian ekspresinya berubah serius.

“Tapi aku bisa berjanji satu hal.”

“Apa?”

“Mulai sekarang, tidak akan ada rahasia yang sengaja kusimpan darimu.”

Mataku panas.

“Dan kalau ada orang yang mencoba menghancurkanmu lagi…”

Aku menyipitkan mata.

“Jangan bilang kamu akan membalas dendam.”

“Tidak.”

Dia tersenyum.

“Aku akan menyerahkan semuanya pada pengacara. Lebih efisien.”

Aku tertawa sampai menangis.

Raka mengangkat cincin.

“Jadi?”

Aku pura-pura berpikir lama.

“Lumayan.”

“Alya.”

“Ya.”

Wajahnya berubah.

“Ya?”

Aku mengangguk.

“Ya.”

Anak-anak yang entah sejak kapan mengintip dari belakang gedung langsung bersorak.

Aku menoleh.

Citra berdiri di sana.

Di sampingnya ada Aditya dan beberapa staf yayasan.

“Kalian semua tahu?”

Citra tertawa.

“Semua kecuali Kakak.”

Aku menatap Raka.

“Kamu benar-benar belajar berbohong lagi?”

“Ini kejutan. Beda.”

Aku memukul bahunya pelan.

Dia memeluk pinggangku.

Dan untuk pertama kalinya sejak hari ketika veilku direnggut dari kepala di depan dua ratus orang, aku merasa benar-benar utuh.

Dulu aku mengira hidupku berakhir ketika Dimas tidak datang ke pelaminan.

Aku salah.

Hari itu bukan akhir hidupku.

Itu adalah hari ketika hidup yang dibangun dari kebohongan akhirnya runtuh.

Aku kehilangan seorang tunangan.

Kehilangan kepercayaan kepada ayahku.

Kehilangan bayangan keluarga yang selama ini kuanggap nyata.

Tetapi dari reruntuhan itu, aku menemukan kebenaran tentang ibuku.

Aku mendapatkan kembali hak yang pernah dicuri dariku.

Aku perlahan mendapatkan kembali seorang adik yang harus belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Dan aku menemukan seorang pria yang awalnya menikahiku karena sebuah perjanjian…

tetapi kemudian memilihku ketika tidak ada lagi kontrak yang mengharuskannya tinggal.

Beberapa orang mengira balas dendam terbaik adalah melihat musuhmu kehilangan segalanya.

Aku juga pernah berpikir begitu.

Ternyata bukan.

Balas dendam terbaik adalah ketika suatu hari kamu bangun dan sadar bahwa orang-orang yang menghancurkanmu sudah tidak memiliki kuasa apa pun atas kebahagiaanmu.

Aku tidak lagi hidup untuk membuktikan sesuatu kepada Dimas.

Tidak kepada Citra.

Tidak bahkan kepada ayahku.

Aku hidup untuk diriku sendiri.

Dan untuk perempuan dalam video lama yang pernah berkata bahwa kebencian hanya akan mengambil lebih banyak dariku.

Ibuku benar.

Maka aku memilih sesuatu yang lebih sulit daripada balas dendam.

Aku memilih hidup.

Beberapa bulan kemudian, aku dan Raka menikah untuk kedua kalinya.

Kali ini tidak ada dua ratus tamu.

Hanya orang-orang yang benar-benar kami inginkan.

Aku mengenakan gaun sederhana.

Citra membantu memasang veil di kepalaku.

Tangannya gemetar ketika merapikannya.

Sebelum mundur, dia berbisik,

“Kali ini tidak ada yang akan merobeknya.”

Aku menatapnya melalui cermin.

“Kalau ada?”

Dia tersenyum sambil menghapus air mata.

“Aku yang akan menghentikan mereka.”

Kami berdua tertawa.

Ketika aku berjalan menuju Raka, dia berdiri dengan bantuan tongkat.

Aku langsung menggeleng.

“Keras kepala.”

“Hanya hari ini.”

“Kalau jatuh?”

“Kamu tangkap.”

Aku berdiri di depannya.

“Selalu.”

Dan tepat sebelum kami mengucapkan janji pernikahan, Raka berbisik,

“Masih merasa keputusan menikahiku malam itu gila?”

Aku tersenyum.

“Ya.”

Wajahnya jatuh.

Aku mendekat.

“Tapi ternyata itu keputusan gila terbaik dalam hidupku.”

Dan untuk pertama kalinya, ketika seseorang memasangkan veil di kepalaku, tidak ada tangan yang merenggutnya.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada kebohongan.

Hanya pria yang kucintai di depanku.

Dan foto ibuku di kursi barisan pertama.

Seolah-olah dia akhirnya berhasil pulang.