Pukul 01.23, Aku Mengirim Foto Suamiku Tidur di Apartemen Anak Magang ke Grup Kantor—Pagi Harinya, 132 Orang Menunggu Penjelasannya, Sementara Aku Membawa Berkas yang Mengakhiri Semuanya dalam Satu Pagi

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 32 tayangan
Pukul 01.23, Aku Mengirim Foto Suamiku Tidur di Apartemen Anak Magang ke Grup Kantor—Pagi Harinya, 132 Orang Menunggu Penjelasannya, Sementara Aku Membawa Berkas yang Mengakhiri Semuanya dalam Satu Pagi
Indeks

Pukul 01.23, Aku Mengirim Foto Suamiku Tidur di Apartemen Anak Magang ke Grup Kantor—Pagi Harinya, 132 Orang Menunggu Penjelasannya, Sementara Aku Membawa Berkas yang Mengakhiri Semuanya dalam Satu Pagi

Bagian 1 — Aku Tak Menangis Saat Foto Itu Datang, Aku Justru Membuka Grup Kantor dan Membiarkan Semua Orang Melihat Tempat Suamiku “Lembur” Malam Itu

Pukul 01.17 dini hari, lilin kecil di atas nasi kuning sudah padam sendiri.

Aku masih duduk di meja makan.

Di seberangku ada piring yang belum disentuh, dua gelas kosong, dan kotak kue cokelat yang mulai berembun karena terlalu lama dikeluarkan dari kulkas.

Hari itu ulang tahun suamiku yang ke-38.

Namanya Arga Wicaksana.

Salah satu pengacara keluarga yang cukup dikenal di Surabaya, sekaligus salah satu pendiri firma hukum Wicaksana & Prameswari Legal.

Pukul tujuh malam dia menelepon.

“Nad, aku nggak bisa pulang. Ada klien mendadak. Besok pagi harus masuk mediasi.”

Aku hanya menjawab, “Oke.”

Dia bahkan terdengar lega karena aku tidak bertanya lebih jauh.

Padahal sore tadi aku sudah pulang lebih cepat dari kantor.

Aku memesan makanan kesukaannya, membeli kemeja yang beberapa minggu lalu dia lihat di mal, lalu menyiapkan makan malam kecil di rumah.

Bodohnya, aku masih mengira kesibukannya beberapa bulan terakhir memang karena pekerjaan.

Sampai ponselku menyala.

Bukan pesan dari Arga.

Nama yang muncul justru:

Siska Larasati.

Anak magang berusia 24 tahun yang baru enam bulan masuk kantor kami.

Cantik, pintar bicara, cepat belajar.

Dan entah kebetulan atau bukan, hampir selalu ditugaskan mendampingi Arga.

Aku membuka pesannya.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada penjelasan.

Hanya satu foto.

Darahku seperti berhenti mengalir selama beberapa detik.

Arga sedang tertidur di sofa krem sebuah apartemen.

Sepatunya sudah dilepas.

Dasi tergeletak di lantai.

Kemejanya terbuka satu kancing di bagian atas.

Dan di sandaran sofa tergantung jas abu-abu dengan bordiran kecil inisial A.W.

Aku mengenal jas itu.

Aku sendiri yang memesannya untuk ulang tahun Arga dua tahun lalu.

Namun bukan jas tersebut yang membuat tanganku dingin.

Di meja depan sofa ada dua gelas.

Satu botol wine.

Dan sebuah jepit rambut perempuan.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

“Bu Nadira, sepertinya malam ini Ibu tidak perlu menunggu Pak Arga.”

Aku belum menjawab ketika pesan ketiga muncul.

“Beliau terlalu capek. Katanya di tempat saya lebih tenang daripada di rumah.”

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Lalu aku tertawa pelan.

Bukan karena lucu.

Aku hanya baru menyadari betapa jauhnya seseorang bisa menjadi kurang ajar ketika dia merasa sudah menang.

Kalau ini terjadi tiga tahun lalu, mungkin aku sudah menelepon Arga sambil menangis.

Mungkin aku datang ke alamat Siska.

Mungkin aku berteriak di depan pintunya.

Tetapi malam itu aku melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Aku menyimpan foto.

Mengambil tangkapan layar seluruh percakapan.

Menampilkan waktu.

Nomor telepon.

Profil pengirim.

Kemudian semuanya kusimpan ke cloud pribadiku.

Setelah itu aku membuka satu grup WhatsApp.

Namanya:

W&P LEGAL – ALL TEAM.

Ada 132 anggota.

Mulai dari equity partner, associate, staf keuangan, HR, paralegal, administrasi, sampai para anak magang.

Jariku berhenti di tombol kirim.

Aku berpikir sekitar lima detik.

Lalu kukirim foto tersebut.

Tidak kusensor wajah Arga.

Tidak kuhapus nama Siska.

Dua pesan Siska juga kuunggah tepat di bawahnya.

Kemudian kutulis:

“Mohon koreksi agenda malam ini. Berdasarkan informasi terbaru, lokasi ‘meeting klien’ Pak Arga berpindah dari Hotel Majapahit ke apartemen Saudari Siska Larasati.”

Aku menekan kirim.

Sepuluh detik.

Tidak ada balasan.

Dua puluh detik.

Masih sunyi.

Kemudian seseorang mengirim:

“Bu…?”

Pesan kedua muncul.

“Ini Pak Arga?”

Lalu semuanya meledak.

“Ya Tuhan.”

“Bukannya Pak Arga bilang ada mediasi?”

“Yang kirim fotonya Siska sendiri?”

“Apartemen siapa itu?”

“Saya salah buka grup nggak?”

Seorang associate mengirim emoji, lalu buru-buru menghapusnya.

Seseorang menulis panjang, kemudian menarik pesannya.

Beberapa orang langsung berubah menjadi “offline”.

Aku membiarkan mereka.

Siska tidak muncul.

Arga juga tidak.

Aku mematikan notifikasi.

Kemudian mengambil koper dari lemari.

Sembilan tahun aku menikah dengan Arga.

Delapan tahun kami membangun firma itu bersama.

Ketika pertama kali menyewa kantor, ruangan kami hanya cukup untuk empat meja.

AC-nya bocor.

Printer sering macet.

Dan kalau hujan deras, air merembes dari jendela.

Arga menangani perkara.

Aku mengurus sisanya.

Aku mencari staf pertama kami.

Aku membuat sistem pembayaran.

Aku bertemu bank.

Aku mengurus pajak.

Aku menelepon klien ketika Arga terlalu sibuk menghadiri sidang.

Aku menyiapkan proposal ketika kami bahkan belum mampu menggaji desainer.

Semua orang mengenal Arga sebagai wajah firma.

Namun hampir semua orang di sana tahu siapa yang membuat mesin di belakang wajah itu tetap berjalan.

Empat tahun lalu kami mengundang dua partner baru.

Firma berkembang.

Kami pindah ke gedung enam lantai.

Karyawan menjadi lebih dari seratus orang.

Pendapatan yang dahulu kami hitung per bulan sekarang dibicarakan dalam rapat tahunan dengan angka miliaran rupiah.

Dan perlahan, Arga mulai berubah.

Awalnya cuma pulang terlambat.

Kemudian telepon selalu diletakkan terbalik.

Lalu perjalanan kerja semakin sering.

Sampai enam bulan lalu Siska masuk.

Arga menyebutnya “anak pintar yang perlu diarahkan”.

Aneh.

Karena sebelum itu suamiku tidak pernah punya waktu mengarahkan anak magang secara pribadi sampai tengah malam.

Sebulan lalu aku pernah bertanya.

Arga malah tersenyum.

“Jangan jadikan semua perempuan sebagai ancaman hanya karena kamu istriku.”

Kalimat itu membuatku berhenti bertanya.

Bukan karena percaya.

Aku mulai memeriksa sesuatu yang lebih berguna daripada isi ponselnya.

Laporan keuangan kantor.

Aku menemukan beberapa kejanggalan.

Biaya entertainment yang meningkat.

Invoice konsultan yang tidak kukenal.

Pembayaran apartemen dengan kartu korporat.

Transfer dengan deskripsi yang terlalu umum.

Saat itu aku belum memiliki bukti cukup.

Jadi aku diam.

Aku bahkan sudah menyewa sebuah apartemen kecil di daerah Pakuwon satu bulan sebelumnya.

Arga tidak tahu.

Malam itu, koperku akhirnya masuk ke sana.

Pukul 04.06 aku mematikan lampu dan baru menyalakan kembali ponsel.

Ada 31 panggilan tak terjawab.

Semuanya dari Arga.

Pesan pertama:

“NADIRA ANGKAT TELEPON.”

Pesan kedua:

“Kamu keterlaluan.”

Pesan ketiga:

“Foto itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku hampir tertawa.

Kemudian pesan terakhir datang.

“Kamu mempermalukan saya di depan kantor hanya karena salah paham?”

Aku mengetik:

“Besok pukul 08.30. Jelaskan di depan orang-orang yang menurutmu sudah saya libatkan.”

Dia menelepon lagi.

Kutolak.

Pukul tujuh pagi aku menghubungi kepala HR.

“Mbak Rani.”

Suaranya terdengar hati-hati.

“Iya, Bu.”

“Pukul setengah sembilan rapat seluruh tim.”

“Seluruh tim?”

“Seluruhnya.”

“Termasuk anak magang?”

“Termasuk.”

Dia terdiam.

“Siska juga?”

Aku menatap folder di laptopku.

Di dalamnya ada foto tadi malam.

Invoice.

Rekening korporat.

Riwayat transfer.

Dan hasil pemeriksaan internal yang diam-diam kususun selama tiga minggu terakhir.

“Tentu.”

Aku menutup laptop.

“Dia yang membuka pertunjukan ini. Tidak sopan kalau pemeran utamanya tidak hadir saat babak berikutnya dimulai.”

Pukul 08.27 aku masuk ruang konferensi utama.

Hampir semua kursi penuh.

Tidak ada yang berani berbicara keras.

Ketika aku berdiri di depan ruangan, pintu terbuka.

Siska masuk lebih dulu.

Matanya merah.

Namun tiga langkah di belakangnya muncul Arga.

Dan yang membuat ruangan semakin sunyi, tangan Siska masih menggenggam lengan jas suamiku.

Arga berjalan langsung ke depanku.

Wajahnya merah menahan marah.

“Kamu puas?”

Aku tidak menjawab.

Dia menepuk meja.

“Kamu tahu semalam aku mabuk setelah makan dengan klien. Siska cuma menolongku. Tapi kamu sudah menghancurkan reputasi dua orang hanya karena cemburu!”

Aku mengangguk pelan.

“Kalau begitu saya minta maaf.”

Siska langsung mengangkat wajah.

Arga tampak terkejut.

Aku meneruskan.

“Saya akan minta maaf kepada kalian berdua…”

Aku memberi isyarat kepada staf keuangan.

Layar proyektor menyala.

Sebuah transaksi muncul.

Rp286.500.000.

Dari rekening operasional firma.

Ke sebuah perusahaan bernama SL Research & Consulting.

Aku menatap Siska.

“…setelah kalian menjelaskan kenapa perusahaan yang menerima uang itu terdaftar menggunakan alamat rumah kakakmu.”

Wajah Siska langsung pucat.

Aku mengganti slide.

Ada transaksi kedua.

Lalu ketiga.

Aku menatap Arga.

“Dan kenapa seluruh transfer itu disetujui oleh kamu sendiri.”

Tidak seorang pun bergerak.

Arga menatap layar seperti baru melihatnya untuk pertama kali.

Lalu dia berbalik ke arahku.

“Nadira…”

Aku mengangkat tangan.

“Belum selesai.”

#DramaKeluarga #KisahPengkhianatan #WanitaTegas #CeritaViralIndonesia #KarmaItuNyata


Bagian 2 — Di Ruang Rapat, Anak Magang Itu Tersenyum Seolah Menang—Sampai Aku Menyalakan Proyektor dan Menunjukkan Satu Transfer yang Tak Bisa Dijelaskan Suamiku

Aku menekan tombol berikutnya.

Di layar muncul enam invoice.

Totalnya lebih dari Rp430 juta dalam sembilan bulan.

Deskripsinya bermacam-macam.

Riset klien.

Konsultasi eksternal.

Business development.

Hospitality.

Tetapi uangnya berakhir di lingkaran yang sama.

Sebuah perusahaan kecil yang bahkan belum berumur satu tahun.

Alamat kantornya sebuah rumah di Sidoarjo.

Pemiliknya bernama Dimas Larasati.

Kakak kandung Siska.

Ruangan mulai dipenuhi bisikan.

Arga menatapku tajam.

“Kamu menyelidiki saya?”

“Tidak.”

Aku tersenyum kecil.

“Saya menjalankan pekerjaan saya sebagai direktur operasional.”

Kemudian kutampilkan transaksi kartu korporat.

Deposit apartemen.

Tagihan restoran.

Tiket pesawat.

Dua kamar hotel di Jakarta pada akhir pekan ketika Arga mengatakan kepadaku bahwa dia menghadiri konferensi tiga hari.

Nama tamu kamar kedua?

Siska Larasati.

Siska langsung berdiri.

“Itu perjalanan kerja!”

Aku menatapnya.

“Mungkin.”

“Memang perjalanan kerja!”

“Baik.”

Aku mengganti slide lagi.

“Kalau begitu jelaskan mengapa tiket pulangmu hari Minggu dibayar kantor, sementara konferensinya selesai Jumat sore.”

Siska membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Arga berdiri di sampingnya.

“Cukup!”

Suaranya menggelegar.

“Ini masalah keluarga saya. Tidak perlu menyeret urusan kantor.”

Salah satu equity partner, Pak Bram, akhirnya berbicara.

“Kalau menggunakan rekening kantor, Ga, ini bukan lagi cuma masalah keluarga.”

Arga menoleh.

“Bram, jangan ikut campur.”

Pak Bram tidak bergerak.

“Saya partner di sini. Saya harus ikut campur.”

Untuk pertama kali pagi itu, Arga terlihat kehilangan kendali.

Dia menunjukku.

“Semua ini karena dia sakit hati!”

Aku tidak membantah.

“Mungkin saya memang sakit hati.”

Aku berjalan mendekati layar.

“Tapi angka-angka ini tidak punya perasaan.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku menjelaskan bahwa tiga minggu sebelumnya staf finance menemukan ketidaksesuaian vendor.

Aku meminta mereka tidak menghubungi Arga terlebih dahulu.

Kami melakukan pemeriksaan internal.

Nama SL Research berkali-kali muncul.

Tidak ada laporan riset yang lengkap.

Tidak ada kontrak jelas untuk beberapa pembayaran.

Dan beberapa invoice dibuat setelah uang sudah ditransfer.

Aku lalu meletakkan satu map di meja.

“Semua salinan transaksi sudah diamankan. Tim auditor eksternal menerima berkas yang sama pukul tujuh tadi pagi.”

Wajah Arga berubah.

“Kamu membawa auditor?”

“Saya melindungi perusahaan.”

“Perusahaan ini saya bangun!”

Aku menatapnya.

“Dibangun kita.”

Aku sengaja menekankan kata terakhir.

Mungkin itulah kalimat yang paling sulit diterima seorang laki-laki yang terlalu lama terbiasa dianggap sebagai satu-satunya orang penting di ruangan.

Arga menoleh kepada Siska.

“Kamu pulang saja.”

Namun Siska tidak bergerak.

“Pak…”

“Pulang.”

“Tapi Bapak bilang—”

“Siska!”

Suara Arga membuat beberapa orang terkejut.

Dan di situlah kesalahan terbesar Arga pagi itu terjadi.

Siska mulai menangis.

Bukan tangis lembut seperti yang selama ini dia tunjukkan ketika ditegur senior.

Tangannya gemetar hebat.

“Kenapa sekarang semua jadi salah saya?”

Arga mendekatinya.

“Nanti kita bicara.”

“Tidak!”

Dia mundur.

“Bapak bilang perusahaan itu aman!”

Seluruh ruangan membeku.

Aku bahkan tidak perlu bertanya.

Pak Bram berdiri.

“Perusahaan apa?”

Siska menutup mulut.

Terlambat.

Arga meraih pergelangan tangannya.

“Diam.”

Aku berkata pelan, “Lepaskan dia.”

Arga menatapku.

“Ini urusan saya.”

“Tidak lagi.”

Siska menarik tangannya.

Kemudian sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Dia membuka ponselnya.

“Saya memang salah.”

Tangisnya semakin keras.

“Saya tahu Pak Arga sudah menikah. Saya tetap dekat dengannya.”

Dia menatapku sebentar.

“Aku salah soal itu, Bu.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi rekening perusahaan itu bukan ide saya.”

Wajah Arga benar-benar berubah.

“Siska.”

“Bapak yang menyuruh!”

Dia membuka WhatsApp.

“Bapak bilang kalau pakai vendor luar, Bu Nadira tidak akan terlalu cepat curiga.”

Arga maju.

Siska mundur.

Kemudian dia membaca salah satu pesan dengan suara bergetar.

“‘Masukkan invoice riset. Nadira jarang cek transaksi di bawah seratus juta kalau dokumennya lengkap.’”

Beberapa kepala langsung menoleh ke arahku.

Aku justru tersenyum tipis.

Arga rupanya masih mengenalku berdasarkan kebiasaan tiga tahun lalu.

Dia tidak tahu enam bulan terakhir aku sudah meminta finance menandai seluruh transaksi vendor baru.

Siska terus menggulir layar.

“Ini juga.”

Dia menatap Arga.

“Bapak bilang tahun depan saya akan dimasukkan sebagai associate tetap.”

Arga mengatupkan rahang.

“Dan setelah…”

Dia berhenti.

“Setelah apa?” tanyaku.

Air mata Siska jatuh.

“Setelah Bu Nadira keluar.”

Ruangan senyap.

Aku bahkan bisa mendengar dengung pendingin udara.

Siska membuka satu percakapan lain.

“Bapak bilang Ibu akan melepas saham setelah perceraian.”

Kali ini aku benar-benar menatap Arga.

Dia tidak berani membalas tatapanku.

Siska melanjutkan.

“Bapak juga bilang kalau semuanya selesai, saya akan diberi bagian kecil dari perusahaan.”

Pak Bram berdiri sepenuhnya.

“Arga, kamu menjanjikan saham firma kepada anak magang?”

“Itu omong kosong!”

Arga bergerak untuk mengambil ponsel Siska.

Siska cepat-cepat mundur.

Lalu dia berteriak,

“Jangan sentuh saya!”

Semua orang terpaku.

Siska memeluk ponselnya di dada.

Wajahnya basah oleh air mata, tetapi suaranya kini berubah tajam.

“Saya memang bodoh karena percaya Bapak.”

Dia menatap Arga lurus-lurus.

“Tapi jangan jadikan saya satu-satunya orang yang harus hancur.”

Kemudian dia mengangkat ponselnya.

“Saya simpan semua chat.”

Arga membeku.

“Semuanya.”

Siska menarik napas.

“Termasuk rekaman ketika Bapak bilang rekening perusahaan kakak saya harus dipakai supaya Bu Nadira tidak menemukan uang itu.”

Ruangan meledak oleh suara bisikan.

Namun Siska belum selesai.

Dia menekan satu file audio.

Sebelum suara apa pun keluar, Arga menerjang maju dan mencoba meraih ponselnya.

Pak Bram langsung berdiri di antara mereka.

Siska mundur hingga menabrak kursi.

Kemudian dia berkata satu kalimat yang akhirnya membuat wajah suamiku benar-benar kehilangan warna.

“Kalau saya jatuh karena ini, Pak Arga…”

Dia mengangkat ponselnya lebih tinggi.

“…Bapak jangan harap saya jatuh sendirian.”


Bagian 3 — Ketika Semua Kebohongan Terbuka, Suamiku Memintaku Menyelamatkan Namanya—Namun Kali Ini Aku Memilih Menyelamatkan Firma, Karyawanku, dan Hidupku Sendiri Tanpa Dia

Rekaman itu berdurasi dua menit empat puluh detik.

Tidak panjang.

Namun cukup untuk menghancurkan hampir semua alasan yang sejak pagi coba dibangun Arga.

Suara suamiku terdengar jelas.

Dia membahas invoice.

Nominal.

Cara memecah transaksi.

Bahkan mengatakan bahwa aku “terlalu sibuk dengan operasional untuk memeriksa detail kecil”.

Ironis sekali.

Orang yang hidup bersamaku sembilan tahun justru lupa satu hal.

Detail kecil selalu menjadi pekerjaanku.

Setelah rekaman selesai, tidak ada seorang pun bicara.

Aku memandang Siska.

“Kirim salinannya ke HR dan auditor.”

Arga langsung berkata, “Jangan!”

Siska menatapnya beberapa detik.

Lalu menekan tombol kirim.

Selesai.

Pak Bram meminta rapat partner segera dilakukan.

Seluruh staf lain dipersilakan kembali ke divisi masing-masing.

Namun kabar seperti itu tidak mungkin benar-benar dikembalikan ke dalam ruangan tertutup.

Sebelum makan siang, keputusan sementara keluar.

Arga dinonaktifkan dari seluruh kewenangan manajerial sampai pemeriksaan selesai.

Akses ke rekening korporat dibekukan.

Kartu perusahaan ditarik.

Seluruh transaksi yang dia setujui selama satu tahun terakhir diperiksa ulang.

Siska juga dihentikan dari program magang.

Bukan karena dia perempuan ketiga.

Firma tidak mempunyai hak mengatur kehidupan pribadi seseorang.

Tetapi dia ikut membuat invoice untuk transaksi yang tidak sesuai prosedur dan menggunakan hubungan personal dengan atasannya untuk mendapatkan keuntungan profesional.

Sebelum keluar dari gedung, dia datang ke ruanganku.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, tidak ada senyum manis di wajahnya.

“Saya minta maaf, Bu.”

Aku tetap menandatangani dokumen.

Dia berdiri beberapa saat.

“Saya kira Pak Arga benar-benar akan meninggalkan Ibu.”

Tanganku berhenti.

Aku mengangkat wajah.

Siska menunduk.

“Dia bilang pernikahan kalian sudah lama selesai.”

Aku tersenyum kecil.

“Banyak laki-laki mengatakan itu ketika mereka ingin membuat perempuan kedua merasa tidak bersalah.”

Air matanya jatuh.

“Tapi saya tetap salah.”

“Ya.”

Aku tidak menghiburnya.

Dia perlu mendengar itu.

Namun aku juga tidak menghinanya.

“Dan sekarang kamu bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri.”

Dia mengangguk.

Sebelum pergi, dia berkata pelan,

“Rekaman dan chat lengkapnya sudah saya kirim.”

Kemudian dia menutup pintu.

Arga menungguku di ruang rapat kecil sore itu.

Kami hanya berdua.

Laki-laki yang pagi tadi membentak di depan 132 orang kini terlihat sepuluh tahun lebih tua.

“Nad.”

Aku duduk.

“Apa?”

“Kita bicara sebagai suami istri.”

Aku hampir tertawa.

“Kemarin malam ketika kamu tidur di apartemen Siska, status itu masih berlaku juga.”

Dia mengusap wajah.

“Tidak terjadi apa-apa malam itu.”

“Mungkin.”

Aku menyandarkan punggung.

“Tapi ini sudah tidak lagi tentang satu malam.”

Aku mengeluarkan dokumen.

Permohonan perceraian yang sudah disiapkan pengacaraku.

Arga menatapnya lama.

“Kamu serius?”

“Aku menyewa apartemen sebulan lalu.”

Dia terdiam.

“Kamu sudah merencanakan pergi?”

“Aku merencanakan tempat aman kalau firasatku benar.”

Arga menarik napas panjang.

“Nadira, pikirkan reputasi firma.”

Aku tertawa kali ini.

Akhirnya keluar juga alasan sebenarnya.

Bukan pernikahan.

Bukan cintaku.

Bukan sembilan tahun bersama.

Firma.

“Aku sedang memikirkan firma.”

“Kalau kita bercerai sekarang, orang-orang akan bicara.”

“Mereka sudah bicara sejak pukul satu lewat dua puluh tiga menit tadi malam.”

Dia menunduk.

Beberapa saat kemudian suaranya melemah.

“Bantu aku membereskan audit.”

Aku menatapnya.

“Caranya?”

“Kita bilang vendor itu kesalahan administrasi. Saya kembalikan uangnya.”

“Dan rekaman?”

Dia diam.

“Chat?”

Diam lagi.

“Hotel?”

“Nad…”

“Foto?”

Dia menutup mata.

Aku merapikan dokumen di meja.

“Selama bertahun-tahun aku membereskan akibat keputusanmu sebelum orang lain sempat melihat kekacauannya.”

Aku berdiri.

“Itulah sebabnya kamu mulai percaya semua kekacauanmu selalu bisa dibereskan.”

Aku mendorong dokumen perceraian ke arahnya.

“Kali ini tidak.”

Tiga bulan berikutnya tidak mudah.

Audit menemukan beberapa pengeluaran lain yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Arga diwajibkan mengembalikan bagian dana yang terbukti digunakan di luar kepentingan firma.

Setelah perundingan panjang, para partner memutuskan membeli kembali sebagian kepemilikannya.

Arga keluar dari posisi managing partner.

Nama firma juga diubah.

Tulisan besar Wicaksana & Prameswari Legal yang selama bertahun-tahun berada di lobby akhirnya diturunkan.

Seminggu kemudian papan baru dipasang.

PRAMESWARI LEGAL PARTNERS.

Hari aku melihatnya untuk pertama kali, Mbak Rani berdiri di sebelahku.

Dia tersenyum.

“Bagus, Bu.”

Aku menatap papan itu lama.

“Lebih ringan.”

Perceraianku selesai beberapa bulan kemudian.

Tidak ada adegan Arga berlutut di tengah hujan.

Tidak ada keajaiban yang membuatnya berubah menjadi laki-laki sempurna.

Hidup nyata tidak bekerja seperti itu.

Dia beberapa kali meminta kesempatan.

Aku selalu menolak.

Terakhir kali kami bertemu untuk menandatangani dokumen pembagian aset, dia terlihat jauh lebih kurus.

Sebelum pergi dia berkata,

“Kalau malam itu kamu tidak kirim foto ke grup kantor, mungkin semuanya tidak akan separah ini.”

Aku menatapnya.

“Bukan fotonya yang menghancurkan hidupmu, Ga.”

Dia diam.

“Foto itu cuma menyalakan lampu.”

Aku memasukkan pena ke dalam tas.

“Yang terlihat setelah lampu menyala adalah semua hal yang sudah kamu lakukan sendiri.”

Aku meninggalkannya di sana.

Enam bulan kemudian, pada ulang tahunku yang ke-36, aku pulang lebih cepat.

Tidak ada makan malam mewah.

Tidak ada orang yang kutunggu.

Aku membeli nasi goreng dari kedai kecil dekat apartemen, menyalakan sebuah lilin di atas potongan cheesecake, lalu duduk dekat jendela.

Ponselku berbunyi.

Grup kantor ramai mengucapkan selamat ulang tahun.

Mbak Rani mengirim foto lobby baru.

Pak Bram menulis:

“Besok jangan datang terlalu pagi. Sekali-sekali bos boleh libur.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumahku terasa benar-benar sunyi.

Namun sunyi itu tidak menakutkan.

Tidak ada telepon yang kutunggu.

Tidak ada alasan lembur yang harus kupercaya.

Tidak ada perempuan lain yang perlu kutakuti.

Aku meniup lilin.

Dan saat apinya padam, aku akhirnya memahami sesuatu.

Meninggalkan pernikahan itu tidak membuatku kehilangan rumah.

Aku hanya berhenti tinggal di tempat yang terlalu lama membuatku merasa seperti tamu.

Firma masih berdiri.

Orang-orang yang bekerja bersamaku masih memiliki pekerjaan.

Hidupku tetap berjalan.

Dan laki-laki yang pernah mengira aku hanya perempuan di belakang kesuksesannya akhirnya belajar dengan cara paling mahal:

Aku tidak pernah berdiri di belakangnya.

Selama ini, aku berdiri di sampingnya.

Dan ketika aku memilih pergi, barulah semua orang melihat siapa yang selama bertahun-tahun sebenarnya menahan bangunan itu agar tidak runtuh.