RAHASIA DELAPAN BELAS TAHUN TERBONGKAR, NAMUN SATU NAMA DALAM SURAT LAMA MENGUBAH SELURUH KEBENARAN TENTANG ALYA DAN RAKA

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 117 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — RAHASIA DELAPAN BELAS TAHUN TERBONGKAR, NAMUN SATU NAMA DALAM SURAT LAMA MENGUBAH SELURUH KEBENARAN TENTANG ALYA DAN RAKA

—Apa maksudmu Sinta yang memasukkan gelang itu ke koperku?

Suaraku terdengar begitu pelan, tetapi ruangan yang sunyi membuat setiap kata terdengar jelas.

Sinta langsung menggeleng.

—Dia bohong!

Pembantu tua itu menatapnya tanpa mundur sedikit pun.

—Saya melihat Nona Sinta keluar dari kamar Alya beberapa menit sebelum gelang itu dinyatakan hilang.

—Kalau begitu kenapa kamu baru bicara sekarang?

—Karena saya takut.

Sinta tertawa sinis.

—Enak sekali alasannya.

Namun wanita itu kemudian mengeluarkan ponsel lama dari sakunya.

—Tapi kali ini saya tidak hanya mengandalkan perkataan saya.

Wajah Sinta berubah.

Ternyata sore itu pembantu tersebut sedang membersihkan ruang penyimpanan di ujung lorong ketika mendengar suara pintu kamar tamu dibuka. Karena sebelumnya dia sudah merasa ada sesuatu yang aneh, dia merekam beberapa detik dari balik pintu.

Videonya tidak sempurna.

Namun cukup jelas memperlihatkan Sinta keluar dari kamar sambil menoleh ke kanan dan kiri.

Raka menatap kakaknya.

—Kak, jelaskan.

Sinta terdiam.

Bu Ratih tiba-tiba berdiri.

—Sudah! Gelangnya sudah ditemukan. Tidak perlu memperpanjang masalah.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

—Beberapa menit lalu saya dianggap pencuri. Sekarang setelah diketahui siapa yang masuk ke kamar saya, masalahnya tiba-tiba tidak penting?

Bu Ratih tak mampu menjawab.

Aku kemudian mengangkat gelang identitas bayi bertuliskan namaku.

—Dan ini? Apakah ini juga tidak penting?

Tatapannya langsung berubah.

—Alya, ada hal-hal yang tidak kamu mengerti.

—Kalau begitu jelaskan.

Raka maju selangkah.

—Ibu, siapa Alya sebenarnya?

Bu Ratih menutup mata.

Untuk beberapa saat, dia tampak jauh lebih tua.

Akhirnya dia duduk kembali.

—Arif memang mengenal Dewi.

Dadaku sesak.

—Seberapa dekat?

Bu Ratih menatapku.

—Sangat dekat.

Raka langsung memalingkan wajah.

Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Aku juga memikirkan hal yang sama.

Jika Arif adalah ayah kandungku, sedangkan dia juga ayah Raka, maka hubungan kami selama tiga tahun adalah sebuah kesalahan mengerikan yang tidak pernah kami sadari.

Aku melepaskan cincin yang tadi sempat kuletakkan di meja dan menggenggamnya erat.

—Saya ingin kebenaran. Semuanya.

Bu Ratih menghela napas.

Delapan belas tahun lalu, Dewi pernah bekerja membantu sebuah usaha katering yang menjadi mitra keluarga mereka. Saat itu Dewi sedang hamil dan hidup sendirian.

Arif sering membantunya.

Terlalu sering menurut Ratih.

Rumor mulai menyebar.

Ratih yang saat itu sedang mengalami masalah dalam pernikahannya percaya bahwa suaminya berselingkuh.

Kemudian sebuah gelang keluarga hilang.

—Aku menemukannya di tas Dewi, — kata Ratih lirih.

Pembantu tua itu langsung menyela.

—Karena seseorang memasukkannya ke sana.

Ratih menunduk.

—Aku baru mengetahuinya kemudian.

—Siapa?

Ratih tidak menjawab.

Namun matanya perlahan mengarah kepada Sinta.

Aku tercengang.

Sinta mundur.

—Waktu itu aku masih kecil!

—Kamu berumur tiga belas tahun, — kata pembantu itu.

Sinta mulai menangis.

—Aku mendengar Ibu dan Ayah bertengkar setiap malam! Ibu selalu menangis gara-gara perempuan itu. Aku cuma ingin dia pergi!

Ternyata Sinta mengambil gelang neneknya lalu memasukkannya ke tas Dewi.

Ratih menemukan benda itu dan langsung menuduh ibuku.

Dewi diusir.

Beberapa minggu kemudian kebenaran tentang gelang diketahui karena Sinta akhirnya mengaku kepada ibunya.

Namun Ratih memilih diam.

—Kenapa? — tanyaku.

Ratih menangis.

—Karena aku malu. Dan aku terlalu sombong untuk mencari ibumu dan meminta maaf.

Tanganku mengepal.

—Karena kesombongan Anda, ibu saya hidup bertahun-tahun dengan cap sebagai pencuri.

Tidak ada yang berani menyela.

Kemudian aku menunjuk gelang bayi.

—Lalu kenapa tertulis “Putri Arif”?

Ratih menatap benda itu lama.

—Aku juga mengira kamu anak Arif.

Raka terlihat seperti kehilangan tenaga.

Namun pembantu tua itu tiba-tiba berkata:

—Itulah kesalahpahaman terbesar selama delapan belas tahun ini.

Semua orang menoleh kepadanya.

Dia membuka bagian bawah kotak tua tersebut.

Ada lapisan kain yang ternyata dapat diangkat.

Di bawahnya tersimpan sebuah amplop kecokelatan.

—Ini ditinggalkan Tuan Arif sebelum beliau meninggal.

Ratih membeku.

—Aku tidak pernah melihat surat itu.

—Karena Tuan Arif menitipkannya kepada saya. Beliau mengatakan agar saya menyerahkannya kepada Dewi jika suatu hari Dewi kembali. Tapi Dewi tidak pernah kembali.

Tanganku gemetar saat menerima amplop itu.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat.

Tulisan tangan Arif masih terlihat jelas.

Aku membaca bagian pertama dengan napas tertahan.

“Dewi, aku minta maaf karena keluargaku membuatmu pergi dalam keadaan seperti itu. Aku sudah mencoba menjelaskan kepada Ratih bahwa anak yang kau kandung bukan anakku. Aku membantumu karena Bima pernah menyelamatkan hidupku, dan sebelum meninggal dia memintaku menjaga dirimu serta anaknya.”

Aku berhenti membaca.

—Bima?

Pembantu tua itu mengangguk.

—Ayah kandungmu.

Raka langsung menatapku.

Aku melanjutkan membaca.

Bima ternyata sahabat Arif sejak muda. Keduanya pernah membangun usaha kecil bersama sebelum Arif kembali meneruskan bisnis keluarganya.

Ketika Bima meninggal dalam kecelakaan kerja, Dewi sedang mengandungku.

Arif merasa bertanggung jawab menjaga keluarga sahabatnya.

Tulisan “Putri Arif” pada gelang bayi bukan berarti aku anak biologis Arif.

Arif sendiri yang membayar biaya persalinan ibuku. Rumah sakit mencatat namanya sebagai pihak penanggung jawab karena Dewi tidak memiliki keluarga yang bisa dihubungi.

Aku menutup mulut dengan kedua tangan.

Raka mendekat.

—Jadi kita…

—Tidak memiliki hubungan darah, — jawab pembantu itu.

Raka memejamkan mata.

Seolah sebuah batu besar baru saja diangkat dari dadanya.

Namun aku belum bisa merasa lega.

Aku menatap Ratih dan Sinta.

—Kalau semuanya sudah terjadi delapan belas tahun lalu, kenapa Sinta menjebakku malam ini?

Sinta menangis semakin keras.

Ratih memandang putrinya.

—Jawab.

Sinta akhirnya berteriak:

—Karena aku takut!

—Takut apa?

—Takut Alya menemukan semua ini!

Ternyata beberapa hari sebelum pertunangan, Sinta melihat pembantu tua itu memindahkan kotak dari ruang penyimpanan ke lemari ruang ibadah.

Dia mengenali foto Dewi.

Dia tahu suatu hari rahasia lama bisa terbongkar.

Ketika melihat wajahku untuk pertama kali, dia langsung menyadari kemiripanku dengan Dewi.

Karena itulah dia berusaha membuatku pergi sebelum aku menjadi bagian resmi keluarga.

Aku menatapnya dengan kecewa.

—Jadi kamu mengulang hal yang sama seperti delapan belas tahun lalu.

Sinta terdiam.

—Dulu ibuku dijebak dengan perhiasan. Sekarang kamu menjebakku dengan cara yang sama.

Dia menutup wajah dan menangis.

Aku tidak merasakan kemenangan.

Hanya kesedihan.

Satu kebohongan ternyata bisa hidup begitu lama sampai generasi berikutnya mengulang dosa yang sama.

Aku mengambil tas.

Raka segera memegang tanganku.

—Alya, jangan pergi.

Aku menatapnya.

—Aku perlu waktu.

—Aku ikut.

—Tidak.

Wajahnya berubah.

Aku menarik napas.

—Raka, malam ini aku hampir mengetahui bahwa pria yang hendak kunikahi mungkin saudara kandungku. Lalu aku mengetahui ibuku pernah dihancurkan keluargamu karena sebuah kebohongan. Aku tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja hanya karena ternyata kita tidak memiliki hubungan darah.

Dia perlahan melepaskan tanganku.

Aku berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, Bu Ratih memanggilku.

—Alya.

Aku berhenti tanpa menoleh.

—Maaf.

Aku menutup mata.

Itu mungkin kata yang seharusnya didengar ibuku delapan belas tahun lalu.

Sayangnya, ibuku sudah tidak ada untuk menerimanya.

Aku pun pergi.

Kupikir malam itu adalah akhir hubunganku dengan Raka.

Ternyata aku salah.

Karena tiga hari kemudian, ketika membuka toko kue pada pagi hari, aku melihat seseorang duduk di depan pintu sejak entah jam berapa.

Raka.

Namun dia tidak membawa bunga.

Tidak membawa cincin.

Dia hanya membawa sebuah kotak tua milik Arif.

Dan ketika aku membukanya, aku menemukan sesuatu yang membuat air mataku langsung jatuh.

Sebuah foto ayah kandungku.

Bima.

Di belakang foto itu terdapat alamat sebuah desa dan tulisan tangan Arif:

“Di sinilah keluarga Bima tinggal. Jika suatu hari Alya ingin mengetahui dari mana dia berasal, antarkan dia pulang.”

Raka menatapku.

—Aku tidak datang untuk memintamu kembali kepadaku hari ini.

Dia berdiri.

—Aku datang untuk membantumu pulang ke keluarga yang selama ini bahkan tidak kamu tahu masih menunggumu.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam pertunangan itu, aku menangis bukan karena takut.

Melainkan karena menyadari bahwa mungkin, di balik semua kehilangan ini, masih ada sebuah rumah yang belum pernah kutemukan.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)