RAHASIA SEBELAS TAHUN YANG MEMBUAT MANTAN SUAMIKU TAK LAGI BERANI MENATAP MATaku

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 297 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — RAHASIA SEBELAS TAHUN YANG MEMBUAT MANTAN SUAMIKU TAK LAGI BERANI MENATAP MATaku

Aku menatap mantan suamiku melalui pintu kaca.

Wajahnya pucat.

Tangannya yang beberapa menit lalu terus menggedor kini menggantung kaku di sisi tubuhnya.

Aku kembali menatap tablet.

—Laras, dengarkan sampai selesai—suara ibu mertuaku terdengar.—Jangan buka pintu sebelum kamu mengetahui semuanya.

Seolah ia sudah tahu persis apa yang akan terjadi malam ini.

Aku memutar kunci tambahan pada pintu.

Mantan suamiku langsung berteriak.

—Jangan percaya semua yang dikatakan Ibu!

Aku mengabaikannya.

Di layar, ibu mertuaku mengeluarkan sebuah buku kecil dari kotak kayu.

—Sebelas tahun lalu, sebelum kamu menikah dengan putraku, kamu pernah membantu Ibu ketika warung kita hampir tutup.

Ingatan lama tiba-tiba kembali.

Saat itu aku baru mengenal keluarga mereka.

Warung kecil milik ibu mertuaku sepi pembeli dan memiliki banyak utang kepada pemasok.

Aku memang pernah membantu.

Aku membuat racikan sambal baru berdasarkan resep almarhum ibuku, mengubah kemasan makanan, mencatat pesanan pelanggan, dan mengusulkan layanan antar menggunakan sepeda motor.

Aku juga menggunakan sebagian tabunganku untuk membeli bahan baku.

Namun aku tidak pernah menganggapnya investasi.

Aku melakukannya karena saat itu aku mencintai putranya.

Ibu mertuaku melanjutkan.

—Uang yang kamu berikan memang tidak besar. Tapi ide, resep, dan sistem yang kamu bangun mengubah warung itu.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, warung kecil tersebut berkembang.

Lalu cabang kedua dibuka.

Kemudian cabang ketiga.

Setelah menikah, aku terus bekerja di belakang layar.

Aku membuat jadwal produksi.

Mencari pemasok.

Melatih pegawai.

Bahkan sering tidur hanya empat jam ketika pesanan sedang ramai.

Tetapi semua izin usaha dan rekening perusahaan dikelola suamiku dan adiknya.

Aku mempercayai mereka.

Ternyata itulah kesalahan terbesarku.

—Ayah mereka tahu kontribusimu—lanjut ibu mertuaku.—Karena itu, sebelum meninggal, dia meminta agar bagian keuntungan dari tiga cabang pertama dicatat untukmu.

Aku membeku.

Di layar muncul foto sebuah buku besar.

Ada huruf L di banyak halaman.

—L adalah Laras. Sejak awal.

Aku menutup mulut.

Jadi angka-angka dalam koper bukan utang.

Itu bagian keuntungan yang seharusnya menjadi milikku.

Mantan suamiku kembali menggedor.

—Laras! Kita bisa bicara!

Kali ini suaranya berbeda.

Tidak ada ejekan.

Tidak ada kesombongan.

Hanya kepanikan.

Video berlanjut.

—Setelah ayah mereka meninggal, kedua putraku memindahkan sebagian besar pencatatan ke sistem baru. Mereka bilang itu hanya untuk mempermudah administrasi. Belakangan Ibu baru mengetahui namamu perlahan dihapus dari laporan internal.

Dadaku terasa sesak.

—Apakah kamu mendengarnya?—teriakku dari dalam.

Mantan suamiku terdiam.

Adiknya menundukkan kepala.

Hanya manajer lama itu yang berdiri kaku.

Aku akhirnya memahami mengapa mereka begitu takut pada koper tersebut.

Bukan karena uang tunai di dalamnya.

Melainkan karena catatan itu menunjukkan bagaimana bisnis mereka tumbuh.

Ibu mertuaku kembali berbicara.

—Tapi Ibu juga bersalah.

Air mata tampak di matanya.

—Ibu tahu ada sesuatu yang salah jauh sebelum perceraianmu. Ibu terlalu takut kehilangan keluarga, jadi Ibu diam.

Aku menggigit bibir.

—Ketika mereka mulai mendesakmu menandatangani beberapa dokumen pembagian aset sebelum perceraian, Ibu sadar mereka ingin membuatmu melepaskan lebih banyak daripada rumah dan mobil. Karena itu Ibu menyuruhmu pergi tanpa mengambil apa pun. Selama kamu tidak menandatangani dokumen tambahan itu, mereka belum bisa menutup semuanya.

Aku teringat hari tersebut.

Mantan suamiku memang pernah menyodorkan beberapa berkas.

Katanya hanya formalitas.

Aku hampir menandatanganinya.

Tetapi ibu mertuaku masuk dan sengaja menumpahkan teh di atas meja.

Saat itu aku mengira itu kecelakaan.

Ternyata bukan.

Video hampir berakhir.

Ibu mertuaku menatap kamera.

—Sekarang Ibu sudah menyerahkan salinan catatan yang sama kepada seorang penasihat hukum independen. Jadi jangan takut koper ini direbut. Koper itu bukan satu-satunya bukti.

Aku mengembuskan napas panjang.

Untuk pertama kalinya malam itu, rasa takutku berkurang.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

—Dan Laras, jangan habiskan hidupmu untuk membalas mereka. Ambil kembali apa yang memang dapat dibuktikan sebagai hakmu. Setelah itu, bangun sesuatu yang benar-benar menjadi milikmu.

Video berhenti.

Toko menjadi sunyi.

Aku berdiri perlahan.

Kemudian membuka pintu—tetapi hanya sedikit, dengan rantai pengaman masih terpasang.

Mantan suamiku langsung mendekat.

—Laras, dengarkan aku.

—Sejak kapan kamu tahu?

Ia terdiam.

—Sejak kapan?

Akhirnya ia menjawab pelan.

—Sebelum perceraian.

Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada semua ejekannya.

—Jadi ketika aku pergi hanya membawa satu koper, kamu tahu ada bagian usaha yang selama bertahun-tahun dicatat atas kontribusiku?

—Aku takut semuanya akan hancur.

Aku tertawa kecil.

—Semuanya?

Aku menunjuk dirinya.

—Maksudmu hidup nyamanmu.

Ia tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba sebuah mobil lain berhenti di belakang mereka.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun turun bersama dua orang.

Aku mengenalinya sebagai penasihat hukum yang pernah beberapa kali datang ke rumah keluarga.

Ia berjalan ke arahku.

—Bu Laras?

—Ya.

Ia mengangkat sebuah map tipis.

—Saya diminta menemui Anda jika koper itu sudah sampai.

Mantan suamiku langsung memotong.

—Ini urusan keluarga!

Perempuan itu menatapnya tenang.

—Tidak lagi.

Kemudian ia memandangku.

—Ibu mertua Anda aman. Dan beliau menunggu Anda.

Jantungku seperti berhenti.

—Di mana?

Perempuan itu tersenyum tipis.

—Besok Anda akan bertemu dengannya.

Aku menoleh kepada mantan suamiku.

Wajahnya semakin pucat.

Namun kali ini aku tidak merasa puas melihat ketakutannya.

Aku hanya merasa bebas.

Karena untuk pertama kalinya sejak perceraian, aku tahu satu hal.

Aku tidak pernah pergi dengan tangan kosong.

Aku hanya belum mengetahui apa yang sebenarnya kubawa bersamaku.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)