Rekaman Lama Membuka Pengkhianatan yang Terkubur, Namun Pengakuan Alya Membawa Kami Menuju Saksi Terakhir yang Selama Ini Bersembunyi

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 164 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Rekaman Lama Membuka Pengkhianatan yang Terkubur, Namun Pengakuan Alya Membawa Kami Menuju Saksi Terakhir yang Selama Ini Bersembunyi

Aku berdiri terpaku di depan laptop.

Hujan masih menghantam atap toko, sementara pria yang pernah menjadi tunanganku dua belas tahun lalu berdiri beberapa langkah dari pintu.

Namanya Raka.

Dulu, aku pernah membayangkan akan menghabiskan seluruh hidup bersamanya.

Sekarang, melihat wajahnya saja membuat luka lama yang kukira telah sembuh kembali terasa perih.

—Kalau bukan kamu yang membakar gudang, kenapa wajahmu ada di rekaman?

Raka tidak langsung menjawab.

Ia menatap ibunya.

Wanita itu segera berkata,

—Raka, jangan katakan apa pun.

Kalimat itu membuatku semakin curiga.

Aku berdiri di depan Alya sambil menggenggam kartu memori.

—Keluar dari tokoku. Semuanya.

Salah satu pria yang datang bersama ibu Raka bergerak maju, tetapi Raka segera menghadangnya.

—Jangan sentuh dia.

—Kamu lupa siapa yang membayar kami? bentak ibunya.

Raka tersenyum pahit.

—Justru karena selama ini aku terlalu ingat siapa Ibu, semuanya menjadi seperti ini.

Aku menatapnya.

—Jelaskan.

Raka berjalan mendekati laptop.

Ia menunjuk gambar di layar.

—Lihat tanganku.

Aku memperbesar rekaman.

Pria di video memang memiliki wajah Raka. Namun ketika tangannya mengangkat jeriken, terlihat sesuatu yang aneh.

Tidak ada bekas luka di pergelangan tangan kirinya.

Aku spontan menoleh ke tangan Raka.

Sebuah bekas luka panjang melintang di sana.

Aku mengenal luka itu.

Raka mendapatkannya ketika berusia sembilan belas tahun, jauh sebelum kami bertemu.

—Jadi orang ini…

—Bukan aku.

Raka menarik napas panjang.

—Dia adik sepupuku.

Aku terdiam.

Aku pernah mendengar bahwa keluarga Raka memiliki kerabat yang wajahnya sangat mirip dengannya, tetapi aku tidak pernah bertemu pria itu.

—Malam itu aku memang datang ke gudang, lanjut Raka. —Tapi setelah kebakaran dimulai. Aku menerima telepon anonim. Ketika sampai, api sudah membesar.

—Lalu kenapa kamu tidak membelaku?

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Raka menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki toko, ia tampak kehilangan keberanian.

—Karena aku pengecut.

Tidak ada alasan panjang.

Tidak ada pembelaan.

Hanya empat kata.

—Keluargaku menunjukkan bukti bahwa jeriken ditemukan di lokermu. Mereka bilang kalau aku terus membelamu, perusahaan akan hancur. Aku percaya pada keluargaku lebih daripada percaya kepadamu.

Dadaku terasa sesak.

—Dan sekarang kamu berharap aku memaafkanmu?

—Tidak.

Ia menatapku.

—Aku datang bukan untuk meminta maaf agar semuanya selesai. Aku datang karena dua belas tahun sudah terlalu lama untuk membiarkanmu menanggung kesalahan kami.

Tiba-tiba Alya menarik ujung bajuku.

—Bu…

Aku menoleh.

—Ada lagi.

—Apa?

Alya menunjuk tas batiknya.

—Di dalamnya masih ada sesuatu.

Aku segera mengambil tas itu.

Kami memeriksa lapisannya sekali lagi.

Di balik jahitan dekat motif burung, aku menemukan gulungan kain kecil.

Ketika dibuka, di dalamnya terselip sebuah kunci.

Ibu Raka mendadak maju.

—Ambil itu!

Kali ini Raka benar-benar menghalangi ibunya.

—Cukup!

Suara bentakannya menggema.

Alya ketakutan dan bersembunyi di belakangku.

Aku menggenggam kunci tersebut.

—Kunci apa ini?

Alya menggeleng.

Namun setelah berpikir beberapa saat, ia berkata,

—Ibu pernah membawa saya ke sebuah tempat penyimpanan dekat terminal lama.

Aku langsung memandang Raka.

Setengah jam kemudian, kami pergi ke sana.

Aku membawa Alya bersamaku. Raka mengikuti dengan mobilnya, sementara ibunya dan dua pria tadi tertinggal setelah Raka menghubungi seseorang untuk memastikan mereka tidak mengejar kami.

Tempat penyimpanan itu terdiri dari puluhan loker besi.

Kunci tersebut membuka loker nomor 27.

Tanganku gemetar ketika pintunya terbuka.

Di dalamnya tidak ada uang ataupun barang berharga.

Hanya sebuah kotak plastik berisi buku catatan, beberapa foto lama, sampel kain, dan sebuah ponsel tua.

Di atas semuanya terdapat sebuah amplop.

Tertulis satu kalimat:

“Untuk orang yang mengenali burung milik Ibu Ratih.”

Itu nama ibuku.

Aku membuka surat tersebut.

Tulisan tangan di dalamnya milik ibu Alya.

Namanya Sari.

“Aku minta maaf karena membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengatakan kebenaran. Malam kebakaran itu, aku masih bekerja sebagai petugas kebersihan workshop. Aku melihat seseorang masuk membawa cairan pelarut. Aku merekamnya karena curiga. Namun kemudian aku mendengar percakapan yang jauh lebih buruk.”

Aku berhenti membaca.

Raka berdiri di sampingku.

—Teruskan.

Aku membaca bagian berikutnya.

“Pria dalam video memang menyalakan api, tetapi ia melakukannya atas perintah seseorang. Tujuannya bukan sekadar menghancurkan koleksi. Mereka ingin menyingkirkan perempuan muda bernama Laras karena motif batik ciptaan ibunya ternyata sedang menarik perhatian pembeli besar. Jika Laras mendapatkan hak atas desain tersebut, keluarga pemilik workshop akan kehilangan kontrak bernilai sangat besar.”

Tanganku mulai gemetar.

Aku adalah Laras.

Jadi sejak awal, aku bukan korban kebetulan.

Aku memang sengaja dijadikan kambing hitam.

Aku membuka buku catatan.

Di sana terdapat salinan transaksi pembayaran, tanggal pertemuan, nomor rekening, dan nama seseorang yang berulang kali muncul.

Bukan ibu Raka.

Melainkan paman Raka, orang yang saat itu mengelola keuangan workshop.

Raka terlihat pucat.

—Paman…

Namun halaman terakhir membuat semuanya semakin mengerikan.

Ada satu catatan dari Sari.

“Aku ingin bersaksi. Tetapi ketika mereka tahu aku melihat kejadian itu, mereka mengancam keluargaku. Ibu Raka mengetahui sebagian kebenaran, tetapi memilih menutupinya demi nama keluarga. Sejak saat itu aku menyimpan bukti dan pergi.”

Aku menatap Raka.

Jadi ibunya bukan dalang.

Tetapi ia tahu.

Dan ia memilih menghancurkan hidupku demi melindungi keluarganya.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

—Kalian seharusnya tidak membuka loker itu.

Kami berbalik.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di pintu.

Raka langsung membeku.

—Paman?

Pria itu tersenyum.

Di belakangnya berdiri dua orang.

—Serahkan semuanya.

Raka maju melindungi kami.

—Sudah berakhir.

—Belum.

Pamannya menatap Alya.

—Selama anak itu dan bukti tersebut masih ada, belum ada yang berakhir.

Aku merasakan Alya mencengkeram tanganku.

Saat dua pria itu bergerak mendekat, tiba-tiba suara sirene terdengar dari luar.

Paman Raka berubah pucat.

Aku menatap Raka.

Ia mengangkat ponselnya.

—Sebelum datang ke sini, aku mengirim lokasi dan salinan video kepada polisi.

Beberapa petugas masuk.

Namun sebelum mereka membawa pamannya pergi, pria itu menoleh kepadaku dan tertawa dingin.

—Kau pikir dengan ini namamu akan bersih?

Aku menatapnya.

—Setidaknya sekarang kebenaran sudah keluar.

Ia menggeleng.

—Kebenaran?

Tatapannya beralih kepada Alya.

—Kalau begitu tanyakan kepada anak itu siapa ayahnya.

Aku membeku.

Alya memucat.

Raka menatap gadis kecil itu.

Dan pria tersebut mengucapkan kalimat terakhir sebelum dibawa pergi.

—Karena kematian ibunya bukan satu-satunya rahasia yang disembunyikan keluarga itu.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)