Saat bulan madu di atas kapal pesiar pribadi, aku tiba-tiba mabuk laut dan kembali ke kamar untuk mencari obat. Namun tanpa sengaja aku mendengar suamiku berkata, “Malam ini tinggal dorong dia ke laut. Setelah kita pulang, warisan hampir Rp5 triliun itu jadi milik kita. Setelah itu aku bisa hidup tenang bersama perempuan yang benar-benar kucintai.”

Avatar penulis
Cerita 04
22 menit baca 983 tayangan
Saat bulan madu di atas kapal pesiar pribadi, aku tiba-tiba mabuk laut dan kembali ke kamar untuk mencari obat. Namun tanpa sengaja aku mendengar suamiku berkata, “Malam ini tinggal dorong dia ke laut. Setelah kita pulang, warisan hampir Rp5 triliun itu jadi milik kita. Setelah itu aku bisa hidup tenang bersama perempuan yang benar-benar kucintai.”
Indeks

Saat bulan madu di atas kapal pesiar pribadi, aku tiba-tiba mabuk laut dan kembali ke kamar untuk mencari obat. Namun tanpa sengaja aku mendengar suamiku berkata, “Malam ini tinggal dorong dia ke laut. Setelah kita pulang, warisan hampir Rp5 triliun itu jadi milik kita. Setelah itu aku bisa hidup tenang bersama perempuan yang benar-benar kucintai.”

Angin laut di perairan Flores seharusnya terasa seperti awal dari kehidupan yang sempurna.

Namun pada hari ketiga bulan maduku, setiap hembusannya justru terasa seperti tali yang perlahan mengencang di leherku.

Saat bulan madu di atas kapal pesiar pribadi, aku tiba-tiba mabuk laut dan kembali ke kamar untuk mencari obat. Namun tanpa sengaja aku mendengar suamiku berkata, “Malam ini tinggal dorong dia ke laut. Setelah kita pulang, warisan hampir Rp5 triliun itu jadi milik kita. Setelah itu aku bisa hidup tenang bersama perempuan yang benar-benar kucintai.”

Kapal pesiar mewah bernilai puluhan miliar rupiah yang sedang membawa kami dari Labuan Bajo menuju kawasan Kepulauan Komodo itu adalah hadiah pernikahan dari ayahku, Surya Pradana, salah satu pengusaha properti terbesar di Jakarta.

Seharusnya tempat itu menjadi surga kecil untukku dan suami baruku.

Namun sekarang aku sadar…

Aku sedang berada di dalam sangkar terapung.

Namaku Nadira Pradana.

Aku berusia tiga puluh satu tahun dan baru menikah dengan Raka Mahendra, pria yang selama hampir tiga tahun membuatku percaya bahwa cinta sejati benar-benar ada.

Raka tampan, sopan, perhatian, dan selalu tahu bagaimana membuat orang tuaku menyukainya.

Ayah bahkan pernah berkata kepadaku,

“Kalau suatu hari Ayah sudah tidak ada, Ayah tenang karena ada Raka yang menjagamu.”

Kalimat itu sekarang terasa seperti lelucon paling mengerikan yang pernah kudengar.

Selama tiga hari pertama perjalanan, tubuhku terasa semakin aneh.

Aku terus mengantuk.

Kepalaku berat.

Kakiku sering kehilangan tenaga.

Kadang penglihatanku kabur tanpa alasan.

Raka selalu tersenyum sambil mengusap rambutku.

“Cuma mabuk laut, Sayang. Kamu memang belum terbiasa perjalanan panjang.”

Setiap malam, dia memberiku dua tablet kecil berwarna putih.

“Obat anti-mabuk,” katanya.

Dan aku meminumnya tanpa berpikir panjang.

Karena dia suamiku.

Pria yang baru saja berjanji di depan ratusan tamu di sebuah hotel mewah di Nusa Dua bahwa dia akan menjagaku sampai akhir hidupnya.

Aku mempercayainya.

Sampai sore itu.

Entah karena apa, aku terbangun lebih cepat dari biasanya.

Kepalaku masih terasa seperti dipenuhi kabut, tetapi ada sesuatu dalam diriku yang memaksaku bangkit.

Raka tidak berada di kamar.

Aku mencoba berdiri.

Lututku langsung gemetar.

Aku berpegangan pada dinding kayu mengilap di sepanjang lorong kabin dan berjalan perlahan mencari air minum serta obat sakit kepala yang kusimpan di tas kecil dekat ruang lounge.

Namun ketika sampai di tangga menuju dek tengah, tenagaku benar-benar habis.

Aku bersandar pada pagar kuningan.

Dadaku naik turun.

Aku hampir memanggil salah satu kru ketika suara denting gelas terdengar dari dek bawah.

Kemudian suara tawa.

Aku mengenal suara itu.

Pak Hendra.

Ayah Raka.

Aku hendak memanggil mereka.

Lalu aku mendengar pertanyaannya.

“Dosisnya masih aman, kan, Raka?”

Tubuhku membeku.

Beberapa detik kemudian terdengar suara suamiku.

Tenang.

Santai.

Seolah mereka sedang membicarakan jadwal makan malam.

“Tenang saja, Pa. Dua tablet tiap malam. Tadi aku juga tambah sedikit ke sup krimnya.”

Aku mencengkeram pagar.

Apa?

Raka melanjutkan.

“Menjelang tengah malam nanti dia bahkan mungkin tidak kuat membuka mata.”

Jantungku menghantam dadaku.

Aku menahan napas.

Pak Hendra bertanya pelan,

“Jadi kita lakukan malam ini?”

Suara perempuan menjawab sebelum Raka sempat berbicara.

Bu Ratna.

Ibu mertuaku.

Perempuan yang selama ini selalu memelukku dan memanggilku anak perempuan yang tidak pernah dia miliki.

“Lebih cepat lebih baik,” katanya.

Kemudian Raka tertawa kecil.

“Malam ini.”

Darah di tubuhku terasa berubah menjadi es.

Raka melanjutkan,

“Menurut prakiraan cuaca, lewat tengah malam akan ada hujan deras dan angin cukup kuat. Sebagian besar kru pasti masuk ke dalam.”

Pak Hendra berkata,

“Lalu?”

“Aku akan membawa Nadira ke dek belakang. Bilang saja udara segar bisa mengurangi mabuk lautnya.”

Ada jeda.

Lalu suamiku mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah bisa kulupakan.

“Setelah itu… tinggal satu dorongan kecil.”

Aku hampir jatuh.

Raka berkata lagi,

“Dia terlalu lemas untuk berenang. Dengan ombak malam seperti itu, tidak mungkin dia bertahan.”

Bu Ratna tertawa pelan.

“Dan semua orang akan menganggapnya kecelakaan.”

Tanganku mulai gemetar.

Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.

Mereka sedang membicarakan kematianku.

Bukan sebagai kemungkinan.

Bukan sebagai khayalan.

Mereka sudah merencanakannya.

Pak Hendra kemudian bertanya,

“Bagaimana dengan aset keluarga Pradana? Kamu yakin surat yang dia tanda tangani sebelum menikah cukup?”

Raka terkekeh.

“Surat kuasa sudah beres.”

Aku mengernyit.

Surat kuasa?

Kemudian aku teringat.

Seminggu sebelum pernikahan, Raka membawa beberapa dokumen dari pengacara dan mengatakan dokumen itu hanya diperlukan untuk mengurus investasi bersama setelah menikah.

Aku bahkan tidak membacanya sampai selesai.

Aku menandatanganinya.

Karena aku percaya kepadanya.

Sekarang Raka berkata,

“Begitu Nadira dinyatakan hilang dan kemudian dianggap meninggal, aku punya jalur untuk mengendalikan sebagian aset investasinya. Nilainya hampir Rp5 triliun.”

Pak Hendra mengembuskan napas puas.

“Luar biasa.”

Bu Ratna tertawa.

“Anak orang kaya itu benar-benar percaya kamu menikahinya karena cinta.”

Aku menggigit bibir begitu keras sampai terasa sakit.

Air mata memenuhi mataku.

Tapi percakapan mereka belum selesai.

Pak Hendra tiba-tiba bertanya,

“Lalu perempuanmu itu bagaimana?”

Perempuanmu?

Aku merasa dunia berhenti berputar.

Raka tertawa.

Selina sudah menunggu di Jakarta.”

Aku tidak mengenal nama itu.

“Setelah semuanya selesai,” lanjut Raka, “aku tinggal menunggu keadaan sedikit tenang. Enam bulan atau setahun kemudian aku bisa bersama Selina tanpa ada yang curiga.”

Bu Ratna berkata,

“Dia masih sabar?”

“Dia sudah menunggu empat tahun, Ma.”

Empat tahun.

Aku dan Raka baru berpacaran tiga tahun.

Artinya…

Selama mengenalku, dia tidak pernah benar-benar meninggalkan perempuan itu.

Aku bukan perempuan yang dicintainya.

Aku adalah target.

Namun kalimat berikutnya jauh lebih mengerikan.

Pak Hendra merendahkan suara.

“Yang aku khawatirkan orang tuanya. Surya tidak bodoh. Kalau dia curiga—”

“Dia tidak akan sempat curiga.”

Suara Raka berubah dingin.

Sangat dingin.

Aku hampir tidak mengenali pria yang selama ini tidur di sampingku.

“Ayah dan ibunya Nadira akan pergi ke vila keluarga di Puncak minggu depan.”

Jantungku berhenti sesaat.

Benar.

Ayah dan Ibu memang berencana pergi ke vila kami setelah aku pulang dari bulan madu.

Raka melanjutkan,

“Orang yang kusuruh sudah siap.”

Pak Hendra bertanya,

“Yakin?”

“Jalur menuju vila banyak turunan tajam. Hujan juga sedang sering turun.”

Aku mulai memahami maksudnya bahkan sebelum dia menyelesaikan kalimat.

Raka berkata,

“Kalau rem mobil bermasalah di jalan pegunungan, semua orang akan menganggap itu kecelakaan tragis.”

Bu Ratna tertawa kecil.

“Jadi seluruh keluarga Pradana selesai.”

Raka mengangkat gelas.

Aku mendengar denting kristal.

“Untuk kehidupan baru kita.”

Tiga gelas beradu.

Mereka sedang minum sampanye milik ayahku…

di atas kapal milik ayahku…

sambil merayakan rencana untuk membunuh aku dan kedua orang tuaku.

Mual hebat menyerang perutku.

Aku menutup mulut dengan kedua tangan.

Jangan muntah.

Jangan bersuara.

Jangan sampai mereka tahu aku ada di sini.

Tubuhku mulai kehilangan tenaga lagi.

Obat.

Mereka sudah memasukkan sesuatu ke makananku.

Aku harus kembali ke kamar sebelum salah satu dari mereka naik.

Dengan kaki gemetar, aku berbalik.

Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pasir yang bergerak.

Lorong menuju kabinku hanya sekitar dua puluh meter.

Namun sore itu terasa seperti dua kilometer.

Aku hampir jatuh dua kali.

Ketika akhirnya berhasil masuk, aku menutup pintu perlahan.

Klik.

Aku menguncinya.

Kemudian tubuhku meluncur ke lantai.

Untuk beberapa detik aku hanya duduk di sana.

Menatap cincin pernikahan di jariku.

Cincin berlian yang tiga hari lalu membuatku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.

Sekarang benda itu terasa seperti borgol.

Aku ingin menangis.

Aku ingin berteriak.

Aku ingin menelepon ayah.

Tanganku meraih ponsel.

Tidak ada sinyal.

Aku mencoba Wi-Fi kapal.

Tidak tersambung.

Aku menekan tombol telepon internal untuk menghubungi kapten.

Tidak ada jawaban.

Lalu aku teringat sesuatu yang membuat tubuhku semakin dingin.

Kapten kapal, Damar, adalah orang pilihan Raka.

Dua minggu sebelum keberangkatan, Raka mengatakan kapten lama ayahku mendadak sakit sehingga dia mengganti beberapa anggota kru.

Saat itu aku tidak mempermasalahkannya.

Sekarang aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.

Mungkin hanya tiga orang yang ingin membunuhku.

Atau mungkin seluruh kapal sudah dibayar.

Aku melihat jam.

18.47.

Mereka akan melakukannya setelah tengah malam.

Aku punya waktu beberapa jam.

Tetapi tubuhku semakin lemah.

Kelopak mataku terasa sangat berat.

Jika aku tertidur…

aku mungkin tidak akan pernah bangun lagi.

Aku menyeret tubuh ke kamar mandi.

Aku membuka keran.

Kemudian memasukkan dua jari ke tenggorokan.

Beberapa menit kemudian, seluruh isi perutku keluar.

Sup yang tadi diberikan Raka.

Air.

Obat.

Aku muntah sampai tubuhku gemetar.

Setelah itu aku minum air sebanyak mungkin.

Aku tidak tahu zat apa yang mereka berikan kepadaku.

Aku juga tidak tahu apakah memuntahkannya cukup.

Namun aku harus tetap sadar.

Aku membuka lemari kecil di bawah wastafel.

Di sana ada kotak P3K.

Tanganku berhenti.

Ada beberapa kemasan obat.

Salah satunya tampak sama persis dengan tablet putih yang diberikan Raka setiap malam.

Aku mengambil bungkusnya.

Bukan obat mabuk laut.

Itu obat penenang.

Dadaku sesak.

Aku memasukkan kemasan itu ke saku.

Bukti.

Aku membutuhkan bukti.

Karena kalau aku berhasil keluar dari kapal ini hanya dengan cerita bahwa suamiku ingin membunuhku, keluarga Raka bisa mengatakan aku sedang mengalami efek obat atau panik karena mabuk laut.

Aku memandang ponsel.

Kemudian sebuah ide muncul.

Aku mengaktifkan perekam suara.

Memasukkannya ke dalam saku gaun.

Jika mereka berbicara lagi…

aku akan merekam semuanya.

Tiba-tiba—

Tok. Tok. Tok.

Aku membeku.

“Nadira?”

Suara Raka.

Manis.

Lembut.

Suara suami yang seolah sangat mencemaskan istrinya.

“Sayang, kamu sudah bangun?”

Aku menatap pintu.

Tidak menjawab.

Gagang pintu bergerak.

Sekali.

Dua kali.

“Nadira?”

Aku buru-buru naik ke ranjang dan menarik selimut hingga dada.

Aku memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian terdengar bunyi kartu akses.

Pintu terbuka.

Jadi kunci dari dalam pun tidak berarti apa-apa.

Langkah kaki Raka mendekat.

Aku mengatur napas sepelan mungkin.

Kasur turun sedikit ketika dia duduk di sampingku.

Tangannya menyentuh rambutku.

Sentuhan yang dulu membuatku merasa aman.

Sekarang membuat seluruh tubuhku ingin menjerit.

“Kasihan istriku,” bisiknya.

Aku tetap diam.

Kemudian aku merasakan jarinya menyentuh leherku.

Tepat di atas denyut nadi.

Dia sedang memastikan seberapa dalam aku tertidur.

Beberapa detik kemudian, Raka berbisik,

“Tidurlah yang nyenyak, Sayang.”

Dia mencium keningku.

Lalu mengatakan sesuatu yang membuat darahku membeku.

“Ini malam terakhir kamu harus merasa sakit.”

Langkahnya menjauh.

Pintu menutup.

Aku membuka mata.

Air mata mengalir ke bantal.

Tapi aku tidak punya waktu untuk hancur.

Aku menatap jam.

19.26.

Kurang dari lima jam menuju tengah malam.

Aku berada di tengah laut.

Tanpa sinyal.

Tidak tahu kru mana yang bisa dipercaya.

Tubuhku masih dipenuhi obat penenang.

Suamiku dan kedua orang tuanya sedang menunggu badai untuk membuangku ke laut.

Dan lebih buruk lagi…

orang yang mereka kirim untuk mencelakai ayah dan ibuku mungkin sudah bergerak menuju Jakarta.

Saat itulah aku sadar satu hal.

Aku tidak hanya harus menyelamatkan diriku sendiri.

Aku harus tetap hidup cukup lama untuk menghancurkan seluruh rencana mereka.

Dan satu-satunya orang di kapal ini yang mungkin bisa membantuku adalah seseorang yang sejak awal dilarang Raka untuk kudekati.

Pak Arman, kepala teknisi kapal yang sudah bekerja untuk ayahku selama dua puluh dua tahun.

Aku menatap pintu.

Lalu perekam suara di ponselku.

Jika aku salah mempercayai orang…

aku akan mati sebelum tengah malam.

Namun jika aku tidak melakukan apa-apa…

mereka sudah menentukan bagaimana kisah hidupku akan berakhir.

Hilang di laut saat bulan madu.

Aku mengepalkan tangan.

Tidak.

Mereka telah membuat satu kesalahan besar.

Mereka mengira obat itu sudah membuatku tidak berdaya.

Mereka mengira aku masih menjadi Nadira yang mempercayai setiap kata suaminya.

Mereka belum tahu…

aku sudah mendengar semuanya.

Dan malam ini, sebelum salah satu dari kami meninggalkan kapal ini, aku akan mencari tahu siapa sebenarnya yang sedang diburu.

Aku…

atau mereka.

 

Aku menunggu hampir tiga puluh menit setelah Raka meninggalkan kamar.

Tidak ada suara langkah di lorong.

Hanya deru mesin kapal, suara ombak yang mulai lebih keras, dan detak jantungku sendiri yang terasa seperti palu menghantam dada.

Aku turun dari ranjang perlahan.

Kakiku masih lemas, tetapi pikiranku jauh lebih jernih daripada sebelumnya.

Aku mengambil jaket tipis, memasukkan bungkus obat penenang ke saku, lalu menggenggam ponsel yang masih merekam.

Tujuanku cuma satu.

Mencari Pak Arman.

Pria itu sudah bekerja dengan ayahku sejak aku masih kecil. Dia bukan sekadar teknisi kapal. Dia orang yang dulu mengajariku cara memasang pelampung, cara membaca arah angin, bahkan cara membedakan suara mesin yang sehat dan suara mesin yang mulai bermasalah.

Raka pernah bilang Pak Arman terlalu tua, terlalu ikut campur, dan sebaiknya aku tidak terlalu dekat dengannya selama perjalanan.

Sekarang aku tahu kenapa.

Aku keluar lewat pintu samping kabin dan memilih lorong kru, bukan koridor utama.

Lampu-lampu di sana lebih redup.

Kapal mulai bergoyang.

Di kejauhan, langit yang tadi cerah sudah berubah kelabu kehitaman.

Badai benar-benar datang.

Aku hampir sampai ke tangga bawah ketika terdengar suara dua orang dari ujung lorong.

Aku cepat-cepat masuk ke ruang penyimpanan handuk dan menutup pintu tanpa bunyi.

Dua suara itu mendekat.

Salah satunya milik Damar, kapten kapal.

“Pastikan kamera dek belakang mati mulai jam sebelas tiga puluh.”

Suara lain menjawab, “Kalau teknisi tua itu tanya?”

“Bilang sistem rusak karena cuaca.”

Aku menahan napas.

Jadi Damar memang terlibat.

Lalu dia berkata sesuatu yang membuat tengkukku meremang.

“Dan setelah perempuan itu jatuh, jangan ada yang melempar pelampung sebelum Raka kasih perintah.”

Langkah mereka menjauh.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Sekarang aku tahu.

Sebagian kru telah dibeli.

Mungkin sebagian lainnya bahkan tidak tahu apa yang sedang direncanakan.

Aku menunggu sampai lorong kembali sunyi.

Lalu aku berlari kecil menuju ruang mesin.

Pak Arman sedang membungkuk di depan panel ketika aku masuk.

Dia terkejut melihatku.

“Mbak Nadira?”

Aku segera mengangkat telunjuk ke bibir.

“Pak, tolong jangan panggil siapa-siapa.”

Wajahnya langsung berubah.

“Ada apa?”

Aku mengunci pintu dari dalam.

Lalu aku menceritakan semuanya.

Obat.

Rencana di dek belakang.

Surat kuasa.

Rencana terhadap ayah dan ibu.

Damar.

Pak Arman tidak menyela sekali pun.

Namun wajahnya semakin pucat.

Ketika aku selesai, dia hanya bertanya,

“Obatnya ada?”

Aku menyerahkan kemasan kecil dari sakuku.

Dia membaca labelnya.

Matanya membesar.

“Ini bukan obat mabuk laut.”

“Aku tahu.”

“Kalau dosisnya seperti yang Mbak bilang, ini berbahaya sekali.”

“Aku tidak butuh penjelasan sekarang, Pak. Aku butuh cara keluar hidup-hidup.”

Pak Arman menatapku beberapa detik.

Lalu dia berkata,

“Bukan keluar.”

Aku mengernyit.

“Kita harus membuat mereka bicara lebih banyak.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Karena kalau kita cuma kabur, mereka bisa bilang Mbak halusinasi akibat obat. Kita butuh pengakuan yang tidak bisa dibantah.”

Dia berjalan ke lemari logam dan membuka bagian bawahnya.

Dari sana, dia mengambil sebuah perangkat komunikasi satelit tua.

“Ini tidak terhubung ke jaringan kapal.”

Aku menatap benda itu.

“Bisa menghubungi darat?”

“Bisa.”

Tanganku langsung gemetar.

“Hubungi ayah saya.”

Pak Arman menekan beberapa tombol.

Sinyal masuk.

Aku hampir menangis karena lega.

Namun ketika sambungan tersambung, yang menjawab bukan ayahku.

Seorang pria berkata,

“Halo?”

Aku kenal suara itu.

“Pak Bima?”

Bima adalah kepala keamanan keluarga kami.

“Nadira?”

Aku hampir roboh.

“Pak Bima, dengarkan saya baik-baik. Jangan tanya dulu. Ayah dan Ibu di mana?”

“Di rumah Jakarta. Kenapa?”

Aku menutup mata.

Belum berangkat.

Masih aman.

“Batalkan perjalanan ke Puncak. Periksa mobil mereka. Jangan biarkan siapa pun menyentuh kendaraan.”

Hening sesaat.

“Nadira, ada apa?”

“Raka merencanakan pembunuhan.”

Pak Arman memandangku.

Aku melanjutkan,

“Bukan cuma saya. Ayah dan Ibu juga.”

Suara Bima berubah total.

“Di mana Raka sekarang?”

“Di kapal.”

“Kapten?”

“Terlibat.”

Aku mendengar Bima berbicara cepat dengan seseorang di sisinya.

Lalu dia kembali.

“Dengar saya. Kami akan hubungi pihak berwenang. Jangan hadapi mereka sendiri.”

Aku hampir tertawa pahit.

“Pak, saya ada di tengah laut. Mereka mau membunuh saya malam ini.”

Hening.

Lalu suara lain terdengar dari sambungan.

Suara ayahku.

“Nadira.”

Aku membeku.

“Ayah?”

“Nak.”

Itu satu kata saja.

Tapi aku langsung menangis.

Semua keberanian yang sejak tadi kupaksa berdiri seperti runtuh.

“Ayah, maaf.”

“Untuk apa kamu minta maaf?”

“Aku yang bawa dia masuk ke keluarga kita.”

“Nadira.”

Suara ayah tegas.

“Dengar Ayah. Kejahatan orang lain bukan kesalahanmu karena kamu pernah mempercayainya.”

Aku menutup mata.

Air mata mengalir.

“Ayah, mereka mau—”

“Ayah tahu.”

“Aku takut.”

Suara ayah melembut.

“Ayah juga takut.”

Aku tidak menyangka dia akan mengatakan itu.

“Tapi kamu anak Ayah. Kamu tidak sendirian. Bertahan sedikit lagi.”

Pak Arman mengangkat tangan.

Dia menunjuk jam.

21.14.

Waktu terus berjalan.

Aku menarik napas.

“Ayah, ada sesuatu yang harus aku lakukan dulu.”

“Apa?”

“Aku harus membuat Raka mengaku.”

Ayah langsung berkata,

“Jangan.”

“Ayah—”

“Tidak ada uang di dunia ini yang sebanding dengan nyawamu.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Karena sepanjang hidupku orang selalu melihat keluarga kami dari uangnya.

Rp5 triliun.

Perusahaan.

Properti.

Warisan.

Tapi sekarang ayahku bahkan tidak menanyakan satu pun soal aset.

Dia hanya ingin aku pulang.

Pak Arman berbisik,

“Ada cara tanpa Mbak mendekati dek sendirian.”

Kami membuat rencana.

Sederhana.

Berbahaya.

Tapi mungkin satu-satunya kesempatan.

Pak Arman memiliki akses ke sistem komunikasi internal kapal.

Dia bisa menyalakan kembali kamera dek belakang tanpa sepengetahuan Damar.

Lebih dari itu, dia bisa mengalihkan rekaman secara langsung ke server cadangan yang hanya bisa diakses dari kantor keamanan ayahku di Jakarta.

Jadi meski kamera dimatikan dari ruang kapten, rekaman tetap berjalan.

Aku hanya perlu melakukan satu hal.

Berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Dan membiarkan Raka menjalankan rencananya.


Pukul 23.21, Raka masuk ke kamar membawa secangkir teh hangat.

“Sudah bangun?”

Aku berpura-pura setengah sadar.

“Sedikit.”

Dia tersenyum.

“Minum ini.”

Aku menatap cangkir.

“Tidak mau.”

Ekspresinya berubah sepersekian detik.

Aku cepat-cepat menambahkan,

“Mual.”

Dia membelai pipiku.

“Kalau begitu cuma sedikit.”

Aku memegang cangkir, menyesap sangat kecil tanpa benar-benar menelan, lalu pura-pura batuk.

Ketika Raka menoleh mengambil tisu, aku menuangkan sebagian teh ke pot tanaman kecil di samping ranjang.

Setelah itu aku membiarkan tubuhku lemas.

Raka terlihat puas.

“Bagaimana kalau kita cari udara segar?”

Aku mengangguk pelan.

Dia menopang tubuhku keluar kamar.

Di luar, angin sudah menggila.

Hujan mulai turun.

Gelombang menghantam badan kapal.

Langit hampir hitam total.

Kami menuju dek belakang.

Aku melihat Damar berdiri jauh di dekat pintu dalam.

Pak Hendra dan Bu Ratna berada di balik kaca lounge.

Mereka menonton.

Menunggu.

Raka membawaku ke dekat pagar.

“Pegang sini.”

Aku mencengkeram besi basah.

Ombak gelap bergulung di bawah kami.

Raka berdiri di belakangku.

Aku mendengar napasnya.

Kemudian aku berkata pelan,

“Raka.”

“Hm?”

“Kalau aku mati malam ini, kamu benar-benar dapat semuanya?”

Tubuhnya membeku.

Aku berbalik.

Untuk pertama kalinya malam itu, topengnya retak.

“Apa?”

Aku menatap langsung matanya.

“Rp5 triliun.”

Wajahnya berubah putih.

“Kamu ngomong apa?”

“Surat kuasa. Selina. Kecelakaan rem Ayah dan Ibu.”

Angin mencambuk rambutku.

Raka menatapku seolah baru melihat hantu.

“Kamu dengar?”

Aku tersenyum kecil.

“Semuanya.”

Dia mundur satu langkah.

Kemudian ekspresinya berubah.

Tidak ada lagi senyum.

Tidak ada lagi suami penyayang.

Yang berdiri di depanku sekarang adalah pria yang sesungguhnya.

“Harusnya dosis tadi lebih banyak.”

Aku merasa mual mendengarnya.

Namun aku tetap berdiri.

“Kamu tidak pernah mencintaiku?”

Raka tertawa dingin.

“Nadira, kamu hidup di dunia yang terlalu mudah.”

“Jawab.”

“Tidak.”

Satu kata.

Dan meski aku sudah tahu jawabannya, hatiku tetap terasa retak.

“Aku mendekatimu karena nama Pradana. Selina tahu dari awal.”

“Empat tahun?”

“Empat tahun.”

Aku menelan air mata.

“Dan orang tuamu?”

“Mereka juga tahu.”

Aku melirik kaca lounge.

Pak Hendra masih berdiri di sana.

Bu Ratna bahkan memegang segelas minuman.

Aku berkata,

“Jadi semua makan malam keluarga itu… semua pelukan… semua panggilan ‘anak’…”

“Akting.”

Raka melangkah mendekat.

“Aku pikir kamu cukup bodoh untuk mati tanpa pernah tahu.”

Aku mengepalkan tangan.

“Dan orang tuaku?”

“Kecelakaan mereka tetap akan terjadi.”

Aku menatapnya.

“Bahkan setelah kamu membunuhku?”

“Lebih aman begitu.”

Suara Raka terdengar nyaris tanpa emosi.

“Tidak boleh ada orang yang mempertanyakan warisan.”

Aku tahu kamera merekam semuanya.

Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi.

Lalu Raka tiba-tiba tersenyum.

“Tapi kamu membuat satu kesalahan.”

“Apa?”

“Kamu pikir pengakuanku akan berguna kalau kamu tidak hidup untuk menceritakannya.”

Dia meraih bahuku.

Aku mundur.

“Raka.”

“Selamat tinggal, Nadira.”

Tangannya mendorong.

Namun sebelum tubuhku melewati pagar—

sebuah tangan lain menarikku keras ke samping.

Pak Arman.

Raka terkejut.

“Apa-apaan—”

Pak Arman berdiri di depanku.

“Cukup.”

Damar muncul dari sisi dek.

“Arman! Menyingkir!”

Pak Arman tidak bergerak.

Damar mencoba maju.

Lalu tiba-tiba lampu kapal padam.

Gelap.

Beberapa orang berteriak.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu lampu darurat merah menyala.

Dari pengeras suara kapal terdengar suara.

Bukan suara kru.

Suara ayahku.

“Raka Mahendra.”

Semua orang membeku.

Aku sendiri hampir tidak percaya.

Suara ayah terdengar di seluruh kapal.

“Kamu baru saja mengakui rencana pembunuhan terhadap anak saya dan keluarga saya.”

Raka menatap sekeliling seperti orang gila.

“Matikan itu!”

Damar berlari menuju pintu.

Namun sudah terlambat.

Pak Arman tersenyum tipis.

“Semua sistem sudah dikunci dari jarak jauh.”

Suara Bima terdengar berikutnya.

“Rekaman video dan audio sudah kami terima.”

Raka menatapku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di wajahnya.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Dia mencoba lari.

Namun pintu dek terbuka dari sisi lain.

Dua awak kapal yang sejak tadi kukira bagian dari kelompok Damar berdiri di sana.

Ternyata tidak.

Salah satunya, Aditya, berkata,

“Kapten, jangan bergerak.”

Damar berteriak,

“Kalian kerja untuk siapa?”

Aditya menjawab,

“Pemilik kapal.”

Aku menatap Pak Arman.

Dia berbisik,

“Tidak semua orang bisa dibeli.”

Kurang dari empat puluh menit kemudian, sebuah kapal patroli datang mendekat.

Pihak berwenang telah menerima koordinat kami melalui jalur satelit.

Raka, kedua orang tuanya, dan Damar ditahan.

Namun kejutan terbesar baru datang saat kami kembali ke darat.


Tiga hari kemudian, aku duduk di ruang kerja ayah di Jakarta.

Tubuhku masih lemah.

Ibu duduk di sampingku, menggenggam tanganku.

Pak Bima masuk membawa sebuah map.

“Ada hasil pemeriksaan mobil.”

Aku langsung menegang.

Ayah membuka map itu.

Sistem rem mobil yang akan mereka gunakan ke Puncak memang telah dirusak.

Seorang mekanik bayaran juga tertangkap.

Dia mengaku menerima uang dari rekening yang terhubung ke perusahaan milik Pak Hendra.

Aku menutup mata.

Mereka benar-benar akan melakukannya.

Bukan sekadar ancaman.

Ayah kemudian berkata,

“Ada satu hal lagi.”

Aku membuka mata.

Dia mengeluarkan dokumen yang katanya adalah surat kuasa yang pernah kutandatangani.

“Ayah minta tim hukum memeriksa.”

Aku menatapnya.

“Dan?”

“Itu palsu.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

“Tanda tanganmu asli. Tapi isi dokumen telah diganti setelah kamu menandatangani halaman berbeda.”

Dadaku menegang.

“Jadi dia memalsukannya?”

“Ya.”

Pak Bima menambahkan,

“Dan lebih lucu lagi, surat itu sebenarnya tidak pernah bisa memberi Raka hak atas Rp5 triliun.”

Aku menatap mereka bingung.

Ayah tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak kejadian.

“Karena aset itu bukan milikmu.”

Aku benar-benar tidak memahami.

“Ayah… apa maksudnya?”

Ayah berdiri.

Dia berjalan menuju brankas.

Kemudian membawa keluar sebuah kotak kayu kecil.

Dia menaruhnya di depanku.

“Nadira, sejak kamu lahir, Ayah memang menyiapkan kekayaan untukmu.”

Aku diam.

“Tapi setelah beberapa tahun melihat orang mendekati keluarga ini hanya karena uang, Ayah mengubah struktur seluruh aset.”

Dia membuka kotak.

Di dalamnya ada beberapa dokumen legal.

“Rp5 triliun yang mereka incar tidak pernah diwariskan langsung kepadamu.”

“Lalu milik siapa?”

Ayah memandangku.

“Yayasan.”

Aku terdiam.

“Yayasan?”

“Yayasan Pradana.”

Ibu tersenyum sambil menangis.

Ayah melanjutkan,

“Kamu memang penerima manfaat utama. Tapi tidak ada pasangan, ahli waris, atau pemegang surat kuasa yang bisa mengambil uang itu untuk kepentingan pribadi.”

Aku menatap dokumen.

“Jadi kalau aku benar-benar meninggal…”

“Dana itu tidak akan jatuh ke Raka.”

Ayah menggeleng.

“Sebagian besar otomatis dialihkan ke program beasiswa, rumah aman perempuan, dan pengobatan anak dari keluarga tidak mampu.”

Aku menatapnya tanpa kata.

Seluruh rencana mereka…

Semua kebohongan.

Semua upaya membunuhku.

Semua itu demi kekayaan yang bahkan tidak bisa mereka ambil.

Aku mulai tertawa.

Awalnya kecil.

Lalu semakin keras.

Aku tertawa sampai air mataku keluar.

Ibu memelukku.

“Apa yang lucu?”

Aku hampir tidak bisa menjawab.

“Mereka… hampir menghancurkan empat nyawa… demi uang yang tidak pernah bisa mereka miliki.”

Ayah tidak tertawa.

Dia hanya menatapku.

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Ayah ingin kamu tahu satu hal.”

“Apa?”

“Ayah tidak pernah membuat yayasan itu karena tidak percaya kepadamu.”

Aku menatapnya.

“Ayah membuatnya karena Ayah takut dunia membuatmu merasa bahwa kekayaan adalah hal paling penting yang kamu miliki.”

Dia menggenggam tanganku.

“Padahal bukan.”

Aku menangis.

“Lalu apa?”

Ayah tersenyum.

“Kamu.”


Enam bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.

Raka dan keluarganya menghadapi dakwaan serius atas konspirasi, pemalsuan dokumen, pemberian zat tanpa izin, dan percobaan pembunuhan.

Selina juga diperiksa.

Dia mengaku tahu tentang penipuan keuangan, tetapi bersikeras tidak mengetahui rencana pembunuhan.

Aku tidak peduli apakah dia bohong atau tidak.

Aku sudah selesai membiarkan hidupku berputar di sekitar mereka.

Aku menjual cincin pernikahanku.

Bukan karena aku membutuhkan uang.

Aku menyumbangkan seluruh hasilnya ke sebuah rumah aman bagi perempuan yang mencoba keluar dari hubungan berbahaya.

Kemudian aku membuat keputusan lain.

Aku meminta ayah memasukkanku ke pengurus aktif Yayasan Pradana.

Bukan sebagai pewaris.

Sebagai pekerja.

Aku mulai mengunjungi sekolah.

Rumah singgah.

Rumah sakit.

Tempat-tempat yang sebelumnya cuma kulihat dalam laporan tahunan.

Suatu hari, saat berada di sebuah rumah aman di Bogor, seorang perempuan muda mendekatiku.

Dia mungkin berusia dua puluh lima tahun.

Dia membawa seorang anak perempuan kecil.

“Mbak Nadira?”

“Ya?”

Dia tersenyum gugup.

“Saya pernah baca berita tentang kejadian Mbak.”

Aku diam.

“Boleh saya bilang sesuatu?”

“Tentu.”

Dia menggenggam tangan putrinya.

“Saya keluar dari rumah suami saya seminggu setelah baca wawancara Mbak.”

Aku tercekat.

“Kenapa?”

“Karena Mbak bilang… kita tidak harus menunggu sampai seseorang benar-benar membunuh kita untuk percaya bahwa ancaman itu nyata.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Perempuan itu melanjutkan,

“Dulu saya pikir saya lemah karena takut pergi.”

Dia menatap putrinya.

“Ternyata saya cuma butuh tahu ada tempat yang mau menerima kami.”

Aku melihat ke sekeliling.

Bangunan itu dibiayai oleh yayasan.

Oleh uang yang dulu hendak direbut Raka.

Saat itulah untuk pertama kalinya aku merasa memahami arti semua yang terjadi.

Mereka mengira Rp5 triliun adalah hadiah terbesar dalam hidupku.

Mereka salah.

Hadiah terbesar adalah kesempatan kedua.

Kesempatan untuk hidup.

Kesempatan untuk melihat siapa yang benar-benar mencintaiku.

Kesempatan untuk membuat sesuatu yang hampir menghancurkanku berubah menjadi alasan orang lain bisa selamat.

Setahun setelah malam di kapal itu, aku kembali ke Labuan Bajo.

Bukan untuk bulan madu.

Aku datang bersama Ayah, Ibu, dan Pak Arman.

Kami berdiri di dermaga saat matahari turun di balik pulau.

Pak Arman bercanda,

“Mbak Nadira masih takut naik kapal?”

Aku menatap laut.

Dulu aku mengira laut itu akan menjadi kuburanku.

Sekarang permukaannya memantulkan cahaya keemasan.

“Tidak.”

Aku tersenyum.

“Aku cuma lebih pilih-pilih soal siapa yang ikut.”

Kami tertawa.

Ayah merangkul bahuku.

Aku melihat cincin pernikahan sudah tidak ada di jariku.

Bekasnya pun sudah menghilang.

Dan anehnya, aku tidak merasa kehilangan apa pun.

Karena sekarang aku mengerti sesuatu yang baru kupahami setelah hampir kehilangan hidup.

Orang yang salah bisa memberimu cincin, rumah, janji, bahkan nama keluarga…

dan tetap tidak pernah memberimu cinta.

Sedangkan orang yang benar-benar mencintaimu tidak selalu datang membawa janji besar.

Kadang mereka hanya berdiri di ujung sambungan telepon dan berkata,

“Pulanglah. Uang tidak penting. Kami cuma ingin kamu hidup.”

Aku menatap Ayah dan Ibu.

Lalu laut.

Pada malam itu, Raka berencana menjadikanku perempuan yang hilang tanpa jejak.

Ironisnya, justru setelah malam itulah aku akhirnya menemukan diriku sendiri.

Dan tentang Rp5 triliun yang membuat mereka rela membunuh?

Raka tidak mendapatkan satu rupiah pun.

Tapi hari ini, uang itu membantu membangun sekolah, membayar pengobatan anak-anak, memberikan beasiswa, dan menyediakan tempat aman bagi perempuan yang sedang berusaha menyelamatkan hidup mereka.

Mungkin itu balasan terbaik.

Bukan melihat musuhmu kehilangan segalanya.

Melainkan melihat sesuatu yang mereka inginkan karena keserakahan…

berubah menjadi harapan bagi ribuan orang yang bahkan tidak pernah mereka kenal.

Dan setiap kali aku melihat laut sekarang, aku tidak lagi mengingat malam ketika seseorang mencoba membuangku ke dalamnya.

Aku mengingat satu hal lain.

Aku selamat.

Bukan supaya hidupku kembali seperti dulu.

Tetapi supaya aku bisa membangun hidup yang jauh lebih berarti dari sebelumnya.

TAMAT.