Sabtu Sore Aku Pulang dari Dinas, Mertuaku Menyerahkan Bukti Transfer Rp1,45 Miliar—Lalu Suamiku Berbisik: Rumah Pemberian Ayahku Sudah Dijual untuk Pernikahan Adiknya Tanpa Sepengetahuanku, Tanpa Izinku, dan Tanpa Rasa Bersalah

Avatar penulis
Cerita 03
13 menit baca 38 tayangan
Sabtu Sore Aku Pulang dari Dinas, Mertuaku Menyerahkan Bukti Transfer Rp1,45 Miliar—Lalu Suamiku Berbisik: Rumah Pemberian Ayahku Sudah Dijual untuk Pernikahan Adiknya Tanpa Sepengetahuanku, Tanpa Izinku, dan Tanpa Rasa Bersalah
Indeks

Sabtu Sore Aku Pulang dari Dinas, Mertuaku Menyerahkan Bukti Transfer Rp1,45 Miliar—Lalu Suamiku Berbisik: Rumah Pemberian Ayahku Sudah Dijual untuk Pernikahan Adiknya Tanpa Sepengetahuanku, Tanpa Izinku, dan Tanpa Rasa Bersalah

Bagian 1 — Aku Mengira Mereka Menyiapkan Kabar Pernikahan, Sampai Sebuah Bukti Transfer dan Satu Kalimat Suamiku Membuat Rumah Itu Terasa Bukan Milikku Lagi

Sabtu sore, saat kereta yang kutumpangi baru meninggalkan Stasiun Surabaya Gubeng, sebuah pesan dari ibu mertuaku masuk.

“Nabila, jangan pulang terlalu malam. Malam ini makan bersama. Ada kabar bagus.”

Aku tersenyum membaca pesan itu.

Kupikir Bagas, adik Dimas, akhirnya menentukan tanggal pernikahannya dengan Tasya.

Sudah berbulan-bulan keluarga suamiku membicarakan pernikahan mereka.

Masalahnya selalu sama.

Rumah.

Keluarga Tasya ingin setelah menikah mereka tinggal sendiri, sedangkan Bagas baru dua tahun bekerja sebagai sales dan tabungannya bahkan belum cukup untuk uang muka rumah sederhana.

Beberapa kali ayah mertuaku menyindir bahwa kakak harus membantu adik.

Aku selalu diam.

Membantu boleh.

Tapi aku tidak pernah berjanji membelikan rumah.

Pukul tujuh malam aku tiba di rumah kami di Depok.

Rumah dua lantai sederhana itu dibeli ayahku pada 2020, delapan bulan sebelum aku menikah dengan Dimas.

Ayah menjual sebidang kebun kecil di kampung dan menggunakan hampir seluruh tabungannya untuk membayar rumah tersebut.

Sertifikat Hak Milik hanya mencantumkan namaku.

Ayah pernah berkata kepadaku sebelum meninggal,

“Nabila, Ayah tidak tahu seperti apa kehidupan rumah tanggamu nanti. Rumah ini bukan hadiah untuk suamimu. Ini tempat pulangmu kalau suatu hari hidup tidak berjalan seperti yang kamu harapkan.”

Aku selalu menganggap kalimat itu terlalu jauh.

Sampai malam itu.

Ketika pintu kubuka, ruang tamu penuh orang.

Ayah dan ibu mertuaku duduk di sofa.

Bagas duduk bersama Tasya.

Ada dua kotak makanan besar di meja, lengkap dengan minuman dan kue.

Dimas berdiri dekat jendela.

Wajahnya aneh.

Bukannya senang melihatku pulang, dia malah mengalihkan pandangan.

“Wah, yang punya rumah akhirnya datang,” kata ayah mertuaku sambil tertawa.

Saat itu aku belum menangkap makna kalimatnya.

Aku meletakkan koper.

“Memangnya ada acara apa?”

Ibu mertuaku menghampiri dan memegang lenganku.

“Duduk dulu. Jangan langsung kaget.”

Kalimat itu justru membuatku mulai tidak nyaman.

Ayah mertuaku membuka map cokelat.

Dia mengeluarkan selembar kertas lalu mendorongnya ke hadapanku.

Bukti transfer bank.

Rp1.450.000.000.

Pengirimnya seorang pria bernama Arief Pranoto.

Penerimanya adalah rekening ayah mertuaku.

Aku membaca angka itu dua kali.

“Apa ini?”

Ayah mertuaku tersenyum puas.

“Rumah ini sudah laku.”

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

“Dapat harga lumayan. Satu miliar empat ratus lima puluh juta.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kupikir dia sedang bercanda.

Tidak ada satu orang pun yang tertawa.

Bagas malah terlihat menahan senyum.

Ayah mertuaku melanjutkan,

“Uangnya sebagian sudah dipakai untuk uang muka rumah Bagas di Bekasi. Bulan depan akad nikah. Setidaknya sekarang adikmu tidak perlu ngontrak.”

Aku perlahan menoleh ke arah Dimas.

“Rumah siapa yang dijual?”

Suamiku tidak menjawab.

Ayah mertuaku menunjuk lantai.

“Rumah ini.”

Seisi ruangan terasa mengecil.

Aku berdiri.

“Rumah ini atas nama saya.”

“Ya memang.”

“Lalu bagaimana Bapak bisa menjualnya?”

Wajah ayah mertuaku berubah sedikit.

“Semua sudah diurus.”

“Diurus siapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku menatap Dimas.

“Mas.”

Dia akhirnya memandangku.

“Bilang sama aku ini bohong.”

Dimas menarik napas.

“Nab…”

“Bilang.”

Dia menunduk.

“Rumahnya memang sudah dijual.”

Aku merasa dadaku kosong.

Bukan marah.

Belum.

Aku bahkan belum mampu marah.

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Beberapa minggu.”

“Beberapa minggu?”

Aku tertawa kecil karena tidak percaya.

Tiga minggu sebelumnya Dimas masih mengecat pagar rumah itu.

Dua minggu sebelumnya kami masih membahas mengganti atap dapur.

Malam sebelum aku berangkat ke Surabaya, dia bahkan bertanya warna gorden apa yang ingin kubeli bulan depan.

Padahal selama itu dia tahu rumah tersebut sedang dijual.

Aku berjalan mendekati meja.

“Mana sertifikat rumah?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku langsung naik ke kamar.

Di dalam lemari ada kotak kecil tempat aku menyimpan dokumen penting.

Kuncinya biasanya kusimpan di bagian belakang laci meja rias.

Kotak itu masih ada.

Tapi ketika kubuka, sertifikat rumah hilang.

Aku turun membawa kotak kosong itu.

“Siapa yang mengambil sertifikat?”

Ibu mertuaku buru-buru berkata,

“Jangan marah dulu. Dimas cuma ingin membantu keluarganya.”

Aku menatap suamiku.

“Kamu ambil?”

Dimas mengusap wajah.

“Ayah minta.”

“Dan kamu kasih?”

Dia diam.

Aku mendekatinya.

“Aku tanya sekali lagi. Kamu mengambil sertifikat rumahku tanpa izin?”

“Iya.”

Satu kata itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Bagas yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.

“Kak Nabila, jangan dibikin ribut. Nanti kalau keuangan kami sudah bagus, kami cicil uangnya.”

Aku menoleh.

“Kamu cicil?”

“Iya.”

“Berapa gajimu?”

Wajahnya berubah.

“Bukan masalah gaji…”

“Rumah Rp1,45 miliar mau kamu cicil pakai apa?”

Ayah mertuaku membanting telapak tangan ke meja.

“Sudah! Jangan merendahkan adik suamimu.”

Aku menatapnya.

“Bapak menjual rumah saya, lalu sekarang saya yang dianggap merendahkan orang?”

“Ini keluarga!”

“Justru karena keluarga, Bapak seharusnya bertanya.”

Ibu mertuaku mendekat.

“Nabila, kamu dan Dimas masih bisa tinggal sementara di rumah kami di Bogor. Jangan egois. Bagas mau menikah.”

Saat itulah kemarahanku benar-benar muncul.

Rumah yang dibeli ayahku menggunakan tabungan puluhan tahun dijual tanpa izinku.

Uangnya dipakai membeli rumah untuk orang lain.

Lalu aku diminta menumpang.

Aku membuka ponsel.

Dimas langsung mendekat.

“Mau telepon siapa?”

Aku menjauhkan tangannya.

“Polisi.”

Ruangan langsung sunyi.

Ibu mertuaku menjerit.

“Jangan gila!”

Aku menghubungi layanan kepolisian dan menjelaskan bahwa sertifikat rumah atas namaku diambil tanpa izin dan diduga digunakan dalam transaksi dengan dokumen yang tidak pernah kutandatangani.

Ayah mertuaku bangkit.

“Kamu mau mempermalukan keluarga?”

Aku menatapnya.

“Bapak mengambil rumah orang lain. Bapak sendiri yang mempermalukan keluarga.”

Sekitar setengah jam kemudian dua petugas datang.

Aku menunjukkan salinan sertifikat yang tersimpan di email, bukti pembelian rumah dari ayahku, dan KTP asli yang masih berada di dompetku.

Salah satu petugas bertanya,

“Apakah Ibu pernah menandatangani surat kuasa penjualan?”

“Tidak.”

“Pernah datang ke kantor PPAT untuk transaksi rumah ini?”

“Tidak pernah.”

Petugas itu menoleh kepada Dimas.

“Kalau begitu, bagaimana proses penjualannya?”

Wajah suamiku pucat.

Ayah mertuaku menyela.

“Ini cuma urusan keluarga.”

Petugas menjawab tenang,

“Kalau ada dugaan pemalsuan dokumen, ini bukan sekadar urusan keluarga.”

Ibu mertuaku mulai menangis.

Bagas berdiri mondar-mandir.

Tasya yang sejak tadi hanya duduk akhirnya menjauh dari Bagas.

Dimas mendekatiku.

“Nab, aku jelaskan semuanya nanti. Tolong jangan teruskan.”

Aku menatapnya.

“Kamu ikut memalsukan tanda tanganku?”

Dia tidak menjawab.

Salah satu petugas meminta semua dokumen yang berkaitan dengan transaksi dikumpulkan.

Ayah mertuaku akhirnya mengeluarkan map lain dari lemari televisi.

Saat petugas memeriksanya, selembar kertas terjatuh.

Bukan dokumen resmi.

Hanya catatan tulisan tangan.

Di bagian atas tertulis:

PEMBAGIAN UANG RUMAH.

Aku mengambilnya.

Rp900 juta — DP rumah Bagas.

Rp120 juta — biaya nikah.

Rp65 juta — utang Ayah.

Rp40 juta — renovasi rumah orang tua.

Lalu mataku berhenti pada baris berikutnya.

Rp180 juta — DIMAS.

Tanganku mendadak dingin.

Aku mengangkat kertas itu di depan suamiku.

“Tadi kamu bilang kamu melakukan semua ini karena dipaksa ayahmu.”

Dimas membeku.

Aku menunjuk namanya.

“Kalau begitu, Rp180 juta ini apa?”

Tidak ada satu suara pun di ruang tamu.

Suamiku menatap angka itu, lalu menatapku dengan wajah seseorang yang baru sadar bahwa kebohongan terakhirnya sudah terbuka.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku mengerti sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan rumah.

Dimas bukan sekadar suami yang terlalu takut melawan keluarganya.

Dia ternyata ikut mengambil bagian dari hasil penjualan rumahku.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #CeritaIndonesia #KarmaKeluarga

Bagian 2 — Saat Polisi Datang, Mertuaku Menangis dan Adik Iparku Berteriak, tetapi Pengakuan Suamiku Justru Membongkar Kebohongan yang Lebih Besar di Balik Penjualan Itu

Malam itu kami dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan awal.

Aku duduk di ujung bangku.

Dimas duduk beberapa meter dariku.

Tidak sekali pun aku menatapnya.

Rp180 juta.

Angka itu terus berputar di kepalaku.

Setelah hampir dua jam, akhirnya dia mendekat.

“Nab.”

Aku diam.

“Uang itu bukan jatah.”

Aku menoleh.

“Lalu?”

Dimas menelan ludah.

“Aku punya utang.”

Ternyata selama setahun terakhir dia bermain investasi online bersama beberapa temannya.

Awalnya Rp20 juta.

Kemudian rugi.

Dia menambah modal untuk menutup kerugian.

Pinjaman kartu kredit.

Pinjaman aplikasi.

Utang kepada teman.

Totalnya hampir Rp170 juta.

Aku sama sekali tidak tahu.

“Jadi rumahku dijual bukan hanya untuk Bagas.”

Dimas menutup wajah.

“Aku panik.”

Aku tertawa pahit.

“Kamu panik, lalu yang dijual rumahku?”

Dia mencoba memegang tanganku.

Aku menariknya.

“Ayah menawarkan solusi. Katanya sekalian membantu Bagas.”

“Dan kamu setuju.”

Dimas tidak menyangkal.

Keesokan paginya aku bersama ayahku mendatangi kantor pertanahan untuk mengurus pemblokiran sementara berdasarkan laporan yang sudah kubuat.

Aku juga mendatangi kantor PPAT yang namanya tercantum dalam berkas.

Di sanalah semuanya mulai terbuka.

Ada surat kuasa khusus menjual rumah.

Namaku tercantum.

Tanda tangannya mirip.

Tapi bukan milikku.

Ada fotokopi KTP-ku.

Ada fotokopi kartu keluarga.

Ada sertifikat asli.

Dan seluruh dokumen itu diserahkan oleh Dimas.

Pihak kantor menjelaskan bahwa proses transaksi sedang diperiksa karena muncul laporan pemilik.

Aku meminta rekaman CCTV.

Polisi kemudian menindaklanjutinya.

Dalam rekaman, aku melihat Dimas masuk bersama ayahnya dan seorang pria yang belum pernah kulihat.

Pria itu ternyata perantara dokumen bernama Reza.

Nama yang sebelumnya tidak pernah disebut oleh siapa pun.

Dari pemeriksaan ponsel dan percakapan yang ditemukan, kebohongan berikutnya terbuka.

Bukan ayah mertua yang pertama kali mencari cara menjual rumah.

Dimas.

Dia yang mengirim foto sertifikat.

Dia yang menanyakan apakah rumah atas nama istri bisa dijual menggunakan surat kuasa.

Dia juga yang mengirim contoh tanda tanganku.

Contoh itu diambil dari dokumen pengajuan kredit kendaraan kami tiga tahun sebelumnya.

Aku membaca percakapan itu dengan tangan gemetar.

Pesan Dimas berbunyi:

“Yang penting istri saya tidak perlu datang. Dia sering dinas keluar kota.”

Pesan berikutnya lebih parah.

“Kalau tanda tangan harus sama, nanti saya kirim contohnya.”

Aku memejamkan mata.

Selama ini dia terus berkata,

“Ayah menyuruhku.”

Padahal dia sendiri yang membuka pintunya.

Tiga hari setelah laporan dibuat, keluarga Dimas datang ke rumah orang tuaku.

Ibu mertua menangis di teras.

Bagas ikut datang.

Dimas berdiri paling belakang.

“Cabut laporanmu,” kata ibu mertua. “Keluarga kita bisa hancur.”

Ayahku menjawab sebelum aku sempat bicara.

“Yang menghancurkan keluarga bukan anak saya.”

Bagas langsung emosi.

“Kalau laporan ini lanjut, rumah yang kami pesan bisa batal!”

Aku menatapnya.

“Itu masalahmu.”

“Pernikahanku tinggal tiga minggu!”

“Rumahku dibeli ayahku selama puluhan tahun bekerja.”

Bagas menunjukku.

“Memangnya Kak Nabila tidak bisa beli rumah lagi?”

Ayahku bangkit dari kursinya.

Aku segera menahan lengannya.

Aku tidak ingin ada pertengkaran fisik.

Saat itulah Tasya datang bersama orang tuanya.

Bagas terkejut.

“Kamu ngapain ke sini?”

Tasya tidak menjawabnya.

Dia berjalan mendekatiku lalu meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.

Di dalamnya ada gelang emas yang diberikan keluarga Bagas saat lamaran.

“Saya baru tahu uang rumah itu berasal dari rumah Mbak.”

Dia menatap Bagas.

“Pernikahannya saya batalkan.”

Wajah Bagas berubah.

“Tasya!”

“Aku tidak mau memulai rumah tangga dari barang milik orang lain.”

Ibu mertua langsung memeluk lengannya.

“Tasya, jangan begitu. Ini hanya salah paham keluarga.”

Tasya melepaskan tangannya.

“Kalau cuma salah paham, kenapa ada laporan polisi?”

Dia pergi bersama orang tuanya.

Bagas mengejarnya sampai ke halaman.

Tapi Tasya tidak kembali.

Kupikir itu sudah puncaknya.

Ternyata belum.

Sore harinya penyidik meneleponku.

Ada perkembangan baru.

Aku diminta datang.

Ketika aku tiba, seorang petugas meletakkan beberapa hasil cetak percakapan di depan meja.

“Bu Nabila, kami perlu memastikan satu hal.”

Aku membacanya.

Percakapan antara Dimas dan Reza.

Tanggalnya dua bulan sebelum ayah mertuaku mengaku mempunyai rencana membantu Bagas.

Petugas menunjuk pesan paling awal.

Dimas menulis:

“Saya butuh uang sekitar dua ratus juta. Rumah istri saya mungkin bisa dijual. Sertifikat ada di rumah.”

Aku tidak sanggup langsung membaca pesan setelahnya.

Petugas itu kemudian berkata pelan,

“Dari bukti sementara, ayah mertua Ibu memang ikut terlibat. Tetapi ide awal, pencarian perantara, pengiriman dokumen, sampai contoh tanda tangan justru dilakukan suami Ibu.”

Aku menatap layar ponselku yang gelap.

Selama berhari-hari aku membenci keluarga mertuaku karena merasa mereka telah menyeret Dimas.

Ternyata orang yang pertama kali menawarkan rumahku kepada mereka adalah suamiku sendiri.

Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Akan Menyerah Demi Nama Baik Keluarga, Sampai Satu Surat dari BPN Membalikkan Semuanya di Depan Mereka Sendiri

Setelah hari itu, aku berhenti menunggu penjelasan Dimas.

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

Aku menunjuk pengacara untuk mendampingiku.

Hal pertama yang kami perjuangkan adalah menghentikan proses perubahan nama sertifikat.

Untungnya, laporan dan permohonan pemblokiran masuk sebelum seluruh proses administrasi selesai.

Pembeli rumah, Pak Arief, awalnya marah besar.

Dia merasa sudah membayar.

Tetapi setelah melihat bukti bahwa aku tidak pernah menjual rumah tersebut, kemarahannya berpindah kepada Dimas dan ayah mertuaku.

Pak Arief juga membuat laporan dan menuntut uangnya dikembalikan.

Keluarga Dimas mendadak kacau.

Rp900 juta sudah masuk sebagai uang muka rumah Bagas.

Sebagian biaya pernikahan sudah dibayarkan.

Utang Dimas sudah dilunasi menggunakan Rp180 juta.

Utang ayah mertua juga sudah dibayar.

Mereka tidak punya uang tunai untuk mengembalikan semuanya.

Rumah yang hendak dibeli Bagas akhirnya dibatalkan.

Developer mengembalikan sebagian dana setelah memotong biaya pembatalan.

Mobil ayah mertua dijual.

Tabungan keluarga dikuras.

Bagas terpaksa mengembalikan beberapa barang yang dibeli untuk pernikahannya.

Dimas menjual motor dan laptopnya.

Untuk pertama kalinya mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu karena keputusan orang lain.

Dua bulan kemudian aku menerima surat dari kantor pertanahan.

Permohonan balik nama atas rumah tersebut dihentikan dan tidak dapat dilanjutkan selama sengketa serta pemeriksaan dokumen berlangsung.

Beberapa minggu sesudahnya, melalui proses hukum dan pembatalan transaksi, sertifikat rumah akhirnya kembali berada dalam penguasaanku.

Hari aku mengambilnya, ayah ikut bersamaku.

Ketika map berisi sertifikat itu diberikan kepadaku, ayah tidak berkata apa-apa.

Dia hanya menepuk pundakku.

Aku teringat almarhum kakek, tabungan ayah, dan alasan rumah itu dahulu dibeli.

Bukan supaya aku menjadi kaya.

Supaya aku tidak kehilangan tempat berdiri.

Sementara itu, perkara Dimas tidak berhenti.

Perantara yang membantu mengurus dokumen memberikan keterangan.

Bukti percakapan diperiksa.

Tanda tangan dibandingkan.

Aliran uang ditelusuri.

Dimas dan ayahnya akhirnya diproses atas keterlibatan mereka dalam penggunaan dokumen palsu dan transaksi yang dilakukan tanpa persetujuanku.

Aku tidak pernah datang untuk mengejek mereka.

Aku juga tidak mencabut laporan hanya karena ibu mertua berkali-kali mengirim pesan.

Pesan terakhirnya berbunyi:

“Kalau kamu masih menganggap kami keluarga, selamatkan Dimas.”

Aku membalas satu kali.

“Kalau Dimas masih menganggap saya istrinya, dia tidak akan menjual rumah saya untuk membayar utangnya.”

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Aku juga mengajukan perceraian.

Pada sidang mediasi, Dimas menangis.

Dia terlihat jauh lebih kurus.

“Aku masih sayang kamu.”

Aku memandangnya lama.

Mungkin dia memang pernah menyayangiku.

Tetapi cinta tanpa rasa aman tidak cukup.

“Aku tidak bercerai karena uang,” kataku.

Dia mengangkat kepala.

“Aku bercerai karena kamu melihat satu-satunya tempat aman milikku sebagai aset yang bisa kamu jual ketika kamu membutuhkan uang.”

Dimas tidak mampu menjawab.

Perceraian kami akhirnya selesai beberapa bulan kemudian.

Bagas tidak jadi menikah dengan Tasya.

Belakangan aku mendengar Tasya menikah dengan orang lain.

Bagas pindah kerja ke luar kota.

Ayah mertuaku tidak pernah lagi menghubungiku.

Setelah semua proses selesai, aku tidak menjual rumah itu.

Aku merenovasi lantai bawah dan mengubah satu kamar menjadi ruang kerja.

Ibuku menanam melati di halaman.

Ayah memperbaiki pagar sendiri meskipun aku sudah menawarkan memanggil tukang.

Suatu sore aku duduk di teras bersama mereka.

Ayah menunjuk sertifikat yang kusimpan di dalam map baru.

“Sekarang simpan yang benar.”

Aku tertawa.

“Iya.”

Dia lalu berkata,

“Dulu Ayah kasih rumah ini supaya kamu punya tempat pulang.”

Aku menggeleng.

“Sekarang aku paham.”

“Paham apa?”

Aku melihat rumah itu.

Rumah yang hampir diambil orang-orang yang menganggap hubungan keluarga memberi mereka hak atas sesuatu yang bukan milik mereka.

“Tempat pulang bukan cuma bangunan, Yah.”

Ayah menatapku.

“Terus?”

“Tempat pulang adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang meminta kita kehilangan diri sendiri demi disebut keluarga.”

Ayah tersenyum.

Malam itu aku tidur di kamar sendiri tanpa Dimas untuk pertama kalinya sejak menikah.

Aneh sekali.

Rumahnya sama.

Dindingnya sama.

Suara kendaraan dari jalan juga sama.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tidak merasa sedang kehilangan sesuatu.

Aku justru merasa baru mendapatkan hidupku kembali.

Dan orang-orang yang dulu berkata, “Ini cuma rumah, jangan hancurkan keluarga karena sebuah rumah,” akhirnya memahami satu hal yang terlambat mereka sadari:

Yang menghancurkan keluarga bukan laporanku.

Yang menghancurkannya adalah saat mereka bersama-sama memutuskan bahwa hakku boleh diambil hanya karena mereka yakin aku akan diam.