SELAMA TIGA TAHUN, NENEK ITU SELALU MENJERIT SAAT PENGASUH MENCOBA MEMANDIKANNYA—SAMPAI RAHASIA DI PUNGGUNGNYA TERBONGKAR

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 465 tayangan
SELAMA TIGA TAHUN, NENEK ITU SELALU MENJERIT SAAT PENGASUH MENCOBA MEMANDIKANNYA—SAMPAI RAHASIA DI PUNGGUNGNYA TERBONGKAR
Indeks

SELAMA TIGA TAHUN, NENEK ITU SELALU MENJERIT SAAT PENGASUH MENCOBA MEMANDIKANNYA—SAMPAI RAHASIA DI PUNGGUNGNYA TERBONGKAR

Selama tiga tahun, perempuan lanjut usia itu selalu menjerit setiap kali seorang pengasuh mencoba memandikannya.

“Jangan sentuh punggung saya!”

Putranya bersikeras bahwa ibunya sudah kehilangan kewarasan. Ia bahkan terus mendesak agar sang ibu dipindahkan ke bangsal psikiatri.

Namun ketika hanya tersisa 72 jam sebelum perempuan tua itu dibawa pergi, seorang pengasuh muda akhirnya berhasil mendapatkan kepercayaannya.

Lalu, saat perempuan itu akhirnya mengizinkannya membersihkan punggungnya dengan lembut, sang pengasuh mendadak membeku.

Di balik bekas luka yang telah disembunyikan selama hampir empat puluh tahun, tersimpan sebuah rahasia yang begitu mengejutkan—hingga kelak membuat seorang pengacara korporasi berpengaruh berlutut di hadapannya.

SELAMA TIGA TAHUN, NENEK ITU SELALU MENJERIT SAAT PENGASUH MENCOBA MEMANDIKANNYA—SAMPAI RAHASIA DI PUNGGUNGNYA TERBONGKAR

“Jangan berani-berani menyentuh punggung saya! Lepaskan tanganmu! Kalau tidak, saya akan berteriak sampai polisi datang!”

Jeritan Ibu Sri Wahyuni menggema di sepanjang lorong bersih Panti Lansia Kasih Bunda di Bandung, Jawa Barat, membuat beberapa penghuni lain menoleh dari ruang makan.

Semua orang di sana mengenal suara itu.

Sri sudah tinggal di panti tersebut selama hampir tiga tahun.

Usianya tujuh puluh enam tahun, tetapi tubuh dan pikirannya masih jauh lebih sehat daripada yang dibayangkan orang.

Ia masih mampu berjalan tanpa tongkat.

Ia bisa menyelesaikan teka-teki silang koran Minggu tanpa memakai kacamata baca.

Bahkan, ia sanggup berdebat selama setengah jam tentang mengapa kopi tubruk yang baru diseduh jauh lebih nikmat daripada kopi instan.

Namun ada satu hal yang selama tiga tahun tidak pernah berhasil dilakukan siapa pun di panti itu.

Memandikan punggung Sri.

Sri masih mau membersihkan wajahnya sendiri.

Ia mencuci tangan, menyisir rambut, bahkan mandi sendiri selama seseorang membantunya menyiapkan air dan handuk.

Namun begitu seorang pengasuh mencoba mendekati bagian belakang bahunya, sikapnya berubah total.

Ia menjerit.

Menepis tangan orang.

Kadang mengunci diri di kamar mandi.

Pernah seorang perawat senior mencoba membujuknya selama hampir satu jam.

Hasilnya, Sri menangis sambil duduk di lantai kamar mandi dan menolak berbicara selama dua hari.

Awalnya para pegawai menganggap itu sekadar kebiasaan aneh seorang lansia.

Sampai putra Sri mulai menggunakan perilaku tersebut sebagai bukti bahwa ibunya mengalami gangguan mental.

Namanya Rendra Mahardika.

Usianya empat puluh delapan tahun.

Ia selalu datang dengan kemeja mahal, sepatu kulit mengilap, dan mobil hitam yang berhenti tepat di depan lobi.

Di depan pegawai panti, Rendra selalu berbicara lembut.

“Ibu saya sudah tua. Saya hanya ingin yang terbaik untuk beliau.”

Namun Nadia, pengasuh baru berusia dua puluh empat tahun, perlahan mulai merasa ada sesuatu yang salah.

Nadia sebenarnya pernah kuliah di sekolah keperawatan, tetapi terpaksa berhenti karena masalah keuangan keluarganya. Ia kemudian menerima pekerjaan di Panti Kasih Bunda karena membutuhkan penghasilan.

Pada minggu keduanya bekerja, kepala panti memanggilnya ke kantor.

“Ibu Sri akan dipindahkan hari Kamis,” katanya sambil meletakkan sebuah map di meja.

“Dipindahkan ke mana?”

“Ke fasilitas psikiatri.”

Nadia terdiam.

“Kenapa?”

Direktur itu menghela napas.

“Putranya mengatakan perilaku beliau semakin tidak terkendali. Penolakan mandi, kecurigaan terhadap orang lain, ledakan emosi. Kami membutuhkan evaluasi lebih lanjut.”

Kemudian perempuan itu menatap Nadia.

“Kamu tampaknya cukup dekat dengannya. Kita punya waktu sekitar tujuh puluh dua jam. Cobalah membuat beliau mau menjalani pemeriksaan kebersihan secara lengkap. Kalau tetap menolak, saya akan menandatangani dokumen pemindahan.”

Nadia keluar dari ruangan dengan perasaan tidak nyaman.

Bukan karena tugas tersebut sulit.

Melainkan karena selama beberapa hari merawat Sri, ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa perempuan itu kehilangan kemampuan berpikir.

Sri tahu tanggal.

Tahu nama presiden.

Ingat jadwal obatnya.

Bahkan pernah mengoreksi Nadia ketika pengasuh muda itu salah menghitung uang kembalian dari kantin.

Ada ketakutan di dalam diri Sri.

Tetapi ketakutan bukan berarti kegilaan.

Dugaan Nadia semakin kuat pada sore harinya.

Saat membawa seprai bersih melewati lorong administrasi, ia mendengar suara Rendra dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Rendra sedang berbicara dengan seorang pria berjas rapi yang belum pernah Nadia lihat sebelumnya.

“Penolakan mandi itu justru menguntungkan kita,” kata Rendra pelan.

Nadia berhenti berjalan.

Pria di sebelahnya menjawab sesuatu yang tidak terdengar.

Kemudian Rendra berkata lagi,

“Kalau direktur menandatangani rekomendasi pemindahan ke fasilitas psikiatri besok, akan jauh lebih mudah membuktikan bahwa Ibu tidak lagi mampu mengambil keputusan sendiri.”

Nadia merasakan tengkuknya dingin.

“Setelah itu,” lanjut Rendra, “saya bisa mengurus semuanya.”

“Semuanya?”

“Rekening. Rumah. Saham yang masih atas namanya. Tanah di Lembang. Semua.”

Nadia mundur perlahan sebelum mereka menyadari keberadaannya.

Malam itu, ketika masuk ke kamar Sri, ia menemukan perempuan tua itu duduk sendirian di dekat jendela.

Di luar, gerimis Bandung membasahi kaca.

Sri memegang secangkir kopi hangat sambil menatap lampu-lampu halaman panti.

Nadia tidak menyebut percakapan yang baru saja didengarnya.

Ia juga tidak memaksa Sri mandi.

Sebaliknya, ia mengambil koran dari meja.

“Bu Sri.”

“Hm?”

“Nama ibu kota Norwegia. Empat huruf.”

Sri bahkan tidak menoleh.

“Oslo.”

Nadia pura-pura kesal.

“Ibu curang, ya?”

Sri akhirnya menatapnya.

“Pertanyaannya terlalu gampang.”

“Pamer.”

Untuk pertama kalinya sejak Nadia bekerja di sana, sudut bibir Sri terangkat.

Sebuah senyum kecil.

Sejak malam itu, Nadia mengubah caranya.

Ia berhenti membicarakan soal mandi.

Setiap pagi ia membawa kopi.

Kadang mereka mengerjakan teka-teki silang bersama.

Kadang Sri bercerita mengenai Bandung puluhan tahun lalu, ketika jalanan belum sepadat sekarang.

Hari demi hari berlalu.

Namun batas waktu terus mendekat.

Pada Rabu sore, ketika Nadia membantu Sri mengenakan kardigan bermotif bunga, ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh bagian belakang bahu perempuan tua itu.

Sri langsung berdiri.

Tangannya mencengkeram pergelangan Nadia begitu kuat hingga pengasuh muda itu terkejut.

Nadia menatap wajahnya.

Saat itulah ia menyadari sesuatu.

Yang ada di mata Sri bukan kemarahan.

Bukan kebingungan.

Bukan pula paranoia.

Melainkan ketakutan murni.

Ketakutan seseorang yang sedang kembali ke sebuah kejadian mengerikan di masa lalu.

“Jangan punggung saya,” bisik Sri.

Seluruh tubuhnya gemetar.

“Jangan pernah.”

Nadia segera menarik diri.

“Baik.”

Sri tampak tidak percaya.

Nadia mengulanginya.

“Saya tidak akan menyentuhnya tanpa izin Ibu.”

Mata Sri perlahan berkaca-kaca.

Ia duduk kembali.

Tidak ada percakapan lagi malam itu.

Namun sesuatu di antara mereka telah berubah.


Rabu malam, beberapa jam sebelum dokumen pemindahan dijadwalkan untuk ditandatangani, Nadia sedang membereskan troli obat ketika mendengar suara memanggilnya.

“Nadia.”

Ia menoleh.

Sri berdiri di depan pintu kamarnya.

Wajahnya pucat.

“Masuk.”

Di atas tempat tidur terdapat sebuah koper vinil murah berwarna cokelat.

Sudah terisi pakaian.

Sri tahu mereka akan membawanya pergi keesokan paginya.

Nadia masuk.

“Kunci pintunya,” bisik Sri.

Nadia menurut.

Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

Sri berdiri di tengah kamar.

Tangannya gemetar ketika mulai membuka satu demi satu kancing kardigan bermotif bunga yang dikenakannya.

“Bu…”

“Empat puluh tahun,” kata Sri.

Nadia terdiam.

“Selama empat puluh tahun saya tidak pernah membiarkan orang melihatnya dengan benar.”

Sri menarik napas panjang.

Kemudian ia melepas kardigannya.

Perlahan, ia mengangkat bagian belakang kaus dalamnya.

Lalu membalikkan tubuh.

Spons kecil yang sedang dipegang Nadia langsung terlepas dari tangannya.

Plak.

Jatuh ke lantai.

Nadia tidak bergerak.

Punggung perempuan tua itu, dari bagian bawah kedua tulang belikat hingga hampir mencapai pinggang, dipenuhi jaringan parut tebal dan tidak beraturan.

Sebagian telah memudar.

Sebagian lain membentuk pola panjang yang saling bertumpuk.

Bekas luka itu jelas sudah sangat lama.

Nadia menutup mulut dengan satu tangan.

“Ya Tuhan…”

Sri tidak menoleh.

Nadia mendekatinya perlahan, tetapi tetap menjaga jarak.

“Bu Sri…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Siapa yang melakukan ini kepada Ibu?”

Lama sekali Sri tidak menjawab.

Hanya suara hujan yang terdengar mengetuk jendela.

Akhirnya perempuan tua itu berkata,

“Bukan siapa.”

Nadia mengernyit.

Sri menurunkan kausnya, kemudian berbalik.

Air mata mengalir di wajahnya.

“Pertanyaan yang benar adalah…”

Ia menarik napas.

“…apa yang sebenarnya terjadi malam itu.”

Nadia menatapnya.

Sri berjalan menuju koper di atas tempat tidur.

Dari bagian paling bawah, ia mengeluarkan sebuah amplop tua yang warnanya sudah kekuningan.

Di sudut amplop terdapat nama sebuah perusahaan besar yang masih dikenal hampir semua orang di Bandung hingga hari ini.

Nadia langsung mengenalinya.

Salah satu konglomerasi keluarga paling berpengaruh di Jawa Barat.

Tangannya mulai dingin.

Sri menyerahkan amplop itu kepadanya.

“Kalau besok mereka membawa saya pergi,” katanya, “berikan ini kepada seseorang bernama Adrian Prasetyo.”

Nadia membaca nama itu.

Ia mengenalnya.

Hampir semua orang yang mengikuti berita bisnis mengenalnya.

Adrian Prasetyo adalah salah satu pengacara korporasi paling berpengaruh di Jakarta. Wajahnya beberapa kali muncul di televisi karena menangani sengketa perusahaan bernilai triliunan rupiah.

Nadia semakin bingung.

“Kenapa harus Pak Adrian?”

Sri menatapnya lama.

Lalu menjawab dengan suara yang begitu pelan hingga hampir tenggelam oleh suara hujan.

“Karena…”

Bibir perempuan tua itu bergetar.

“…dia adalah alasan saya membawa bekas luka ini selama empat puluh tahun.”

Nadia membeku.

Sri menggenggam tangannya.

“Dan dia sama sekali tidak tahu siapa saya.”

Di luar kamar, tiba-tiba terdengar langkah kaki berhenti tepat di depan pintu.

Kemudian suara Rendra terdengar.

“Ibu?”

Gagang pintu mulai bergerak.

“Nadia ada di dalam?”

Sri langsung pucat.

Ia menatap amplop di tangan Nadia.

Untuk pertama kalinya malam itu, bukan dirinya yang tampak ketakutan.

Melainkan Nadia.

Karena dari cara Sri memandang amplop tersebut, ia mulai memahami satu hal.

Bekas luka di punggung perempuan itu bukan sekadar bukti tentang masa lalu.

Itu adalah bukti yang selama empat puluh tahun mampu menghancurkan sebuah keluarga besar—dan mungkin alasan sebenarnya mengapa putranya begitu terburu-buru ingin membuatnya dianggap gila.

Gagang pintu bergerak sekali lagi.

“Nadia?” suara Rendra terdengar lebih tajam. “Buka pintunya.”

Sri langsung merebut amplop tua dari tangan Nadia dan menyelipkannya di balik bantal.

“Jangan bilang apa-apa,” bisiknya.

Nadia mengangguk.

Ia menarik napas, lalu membuka pintu.

Rendra berdiri di sana dengan wajah tegang. Di belakangnya, pria berjas yang pernah Nadia lihat di lorong berdiri sambil memegang map hitam.

“Ada apa?” tanya Rendra.

“Tidak ada,” jawab Nadia. “Ibu Sri hanya sedang bersiap tidur.”

Rendra mencoba melihat ke dalam kamar.

“Kenapa dikunci?”

“Beliau meminta privasi.”

Rendra menatap Nadia lama. Senyumnya tetap ada, tetapi matanya dingin.

“Besok pagi dokter dari fasilitas psikiatri datang pukul delapan. Pastikan Ibu sudah siap.”

Dari dalam kamar, Sri berseru,

“Saya tidak pergi ke mana-mana.”

Rendra mendesah seolah menghadapi anak kecil.

“Ibu, kita sudah membicarakan ini.”

“Kamu yang membicarakannya. Saya tidak pernah setuju.”

Pria berjas di belakang Rendra akhirnya bicara.

“Bu Sri, pemindahan ini hanya sementara untuk evaluasi.”

Sri tertawa pendek.

“Siapa Anda?”

“Dimas Santoso. Pengacara keluarga.”

Sri menyipitkan mata.

“Pengacara keluarga?”

Ia menunjuk Rendra.

“Anda pengacaranya. Jangan membawa nama keluarga ke dalamnya.”

Wajah Dimas sempat berubah.

Nadia memperhatikan satu hal.

Sri tidak terdengar seperti orang bingung.

Ia terdengar seperti orang yang sangat tahu apa yang sedang terjadi.

Rendra akhirnya mundur.

“Besok pagi kita selesaikan semuanya.”

Sebelum pergi, ia menatap Nadia.

“Kamu pegawai di sini. Ingat posisi kamu.”

Pintu ditutup kembali.

Begitu langkah mereka menghilang, Sri duduk di tepi tempat tidur.

Nadia menatapnya.

“Bu, kita tidak bisa menunggu sampai besok.”

Sri memandang amplop tua itu.

“Justru saya menunggu empat puluh tahun.”

“Untuk apa?”

“Untuk tahu apakah seseorang akan percaya pada saya tanpa saya harus memohon.”

Nadia tidak langsung mengerti.

Sri menarik amplop itu lagi.

“Duduk.”

Nadia duduk di kursi dekat ranjang.

Sri membuka amplop dengan hati-hati.

Di dalamnya ada tiga benda.

Sebuah foto hitam-putih yang mulai pudar.

Sebuah surat dengan kop sebuah perusahaan tekstil lama bernama Mahardika Jaya.

Dan selembar dokumen rumah sakit.

Nadia mengambil foto terlebih dahulu.

Dalam gambar itu, Sri masih sangat muda, mungkin sekitar tiga puluh lima tahun. Ia berdiri bersama seorang pria dan seorang anak laki-laki kecil.

“Ini siapa?”

Sri menunjuk pria itu.

“Suami saya. Bima.”

Lalu jari tuanya bergerak ke anak kecil.

“Dan itu Rendra.”

Nadia mengangkat kepala.

“Pak Rendra?”

Sri mengangguk.

“Umurnya tujuh tahun saat foto itu diambil.”

Nadia kembali menatap foto.

Ada sesuatu yang aneh.

Di latar belakang terlihat pintu sebuah pabrik.

Tulisan di atas gerbang berbunyi:

MAHARDIKA JAYA.

“Perusahaan keluarga Pak Rendra?”

“Dulu perusahaan suami saya.”

“Dulu?”

Sri menarik napas.

“Sekarang dimiliki keluarga Adrian Prasetyo.”

Nadia membeku.

Sri melanjutkan.

“Empat puluh tahun lalu, perusahaan itu bukan milik mereka.”

Kemudian ia menyerahkan surat yang sudah menguning.

Tulisan di dalamnya diketik dengan mesin tik.

Nadia membaca perlahan.

Surat itu adalah pernyataan pengalihan saham.

Tetapi tanda tangan Bima Mahardika di bagian bawah terlihat ganjil.

Sri berkata,

“Itu palsu.”

Nadia menatapnya.

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Karena suami saya sudah meninggal dua hari sebelum tanggal yang tertulis di situ.”

Nadia merasakan bulu kuduknya berdiri.

Sri mengeluarkan dokumen rumah sakit terakhir.

Itu adalah catatan kematian.

Nama Bima Mahardika.

Tanggal kematian.

Dua hari sebelum surat pengalihan saham.

“Ya Tuhan.”

Sri menutup mata.

“Bima menemukan bahwa direktur keuangannya sedang memindahkan aset perusahaan ke perusahaan cangkang. Dia berniat melapor ke polisi.”

“Siapa direktur keuangannya?”

Sri menatap Nadia.

“Ayah Adrian.”

Kamar mendadak terasa terlalu sempit.

Nadia tidak berkata apa-apa.

Sri melanjutkan,

“Malam sebelum Bima dijadwalkan bertemu penyidik, rumah kami terbakar.”

Nadia otomatis melihat punggung Sri.

Sri mengangguk.

“Saya ada di dalam.”

“Dan Pak Bima?”

“Dia tidak selamat.”

Suara Sri pecah untuk pertama kalinya.

“Orang-orang mengira itu kecelakaan listrik. Saya juga hampir mati.”

Nadia menggenggam tangannya.

“Tapi Ibu percaya itu bukan kecelakaan?”

“Saya tidak percaya. Saya tahu.”

“Bagaimana?”

Sri menatap pintu, memastikan tidak ada siapa-siapa.

“Karena sebelum api membesar, saya melihat seseorang menuangkan cairan di dekat gudang belakang.”

Nadia menahan napas.

“Siapa?”

“Bukan ayah Adrian.”

Sri berhenti.

“Itu seseorang yang sampai hari ini masih hidup.”

Nadia menunggu.

Sri menatapnya.

“Dan orang itu adalah ayah mertua saya sendiri.”

Nadia benar-benar kehilangan kata-kata.

Sri menunduk.

“Ayah Bima memiliki utang besar. Dia diam-diam membuat kesepakatan dengan ayah Adrian. Setelah Bima meninggal, saham perusahaan dipindahkan. Ayah mertua saya menerima uang. Keluarga Adrian mendapat perusahaan.”

“Lalu Ibu?”

“Saya dianggap perempuan trauma yang tidak stabil.”

Sri tersenyum pahit.

“Cukup mudah membungkam seorang janda muda kalau semua pria kaya di ruangan sepakat bahwa dia sedang histeris.”

Nadia merasa marah.

“Kenapa Ibu tidak melawan?”

“Saya mencoba.”

Sri membuka kancing lengannya dan menunjukkan bekas luka kecil di pergelangan.

“Selama tiga bulan saya dirawat. Setelah keluar, semua dokumen asli sudah hilang. Pengacara keluarga berubah pihak. Polisi mengatakan bukti tidak cukup.”

“Bagaimana dengan surat ini?”

“Salinan.”

“Foto?”

“Satu-satunya yang tersisa.”

“Kenapa baru sekarang?”

Sri tidak langsung menjawab.

Kemudian ia berkata,

“Karena tiga minggu lalu Rendra menemukan sebuah kotak di rumah lama saya.”

Nadia langsung paham.

“Dia tahu?”

“Dia tahu ada dokumen.”

“Jadi pemindahan ke psikiatri…”

“Bukan karena saya menolak mandi.”

Sri tertawa pelan.

“Itu hanya alasan yang terdengar rapi.”

Nadia terdiam.

“Pak Rendra ingin Ibu dinyatakan tidak kompeten secara hukum.”

“Ya.”

“Supaya dia bisa mengambil rumah, saham, dan tanah.”

“Dan supaya semua pernyataan saya tentang masa lalu bisa dianggap tidak bisa dipercaya.”

Nadia merasakan perutnya mual.

“Bu, kita harus hubungi polisi.”

Sri menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena yang paling penting bukan surat itu.”

Nadia menatapnya.

Sri merogoh kantong kecil di dalam koper.

Ia mengeluarkan sebuah kaset pita tua.

Nadia tercengang.

“Ini apa?”

“Rekaman.”

“Rekaman siapa?”

Sri menatap kaset itu seolah memegang sesuatu yang sangat berat.

“Ayah Adrian.”

Nadia hampir berbisik.

“Apa isinya?”

“Pengakuan.”


Pukul tujuh pagi keesokan harinya, Panti Kasih Bunda jauh lebih ramai dari biasanya.

Sebuah mobil dari fasilitas psikiatri sudah terparkir di depan.

Dua petugas menunggu di lobi.

Direktur panti, Rendra, dan pengacara Dimas berdiri di ruang administrasi.

Nadia belum tidur semalaman.

Ia masuk ke ruangan sambil membawa map.

Direktur menatapnya.

“Di mana Ibu Sri?”

“Masih di kamarnya.”

“Kita harus mulai proses.”

Rendra menyela.

“Semakin cepat semakin baik.”

Nadia meletakkan map di meja.

“Sebelum itu, saya punya keberatan tertulis.”

Rendra tertawa kecil.

“Kamu?”

“Ya.”

“Kamu bukan dokter.”

“Saya tahu.”

“Bukan pengacara.”

“Saya tahu.”

“Lalu keberatan atas dasar apa?”

Nadia menatap direktur, bukan Rendra.

“Atas dasar bahwa perilaku yang digunakan untuk membuktikan gangguan mental kemungkinan besar merupakan respons trauma.”

Ruangan hening.

Nadia melanjutkan.

“Saya juga punya alasan kuat untuk percaya bahwa anggota keluarga yang meminta pemindahan memiliki kepentingan finansial langsung.”

Rendra langsung berdiri.

“Omong kosong.”

Direktur menatapnya.

“Pak Rendra, duduk dulu.”

“Tidak. Dia pegawai baru. Dia tidak tahu apa-apa.”

Nadia mengeluarkan ponsel.

“Saya tahu cukup banyak.”

Wajah Rendra berubah.

“Apa itu?”

“Rekaman percakapan Anda dengan Pak Dimas dua hari lalu.”

Dimas langsung menatap Rendra.

Nadia menekan tombol putar.

Suara Rendra memenuhi ruangan.

“Setelah itu saya bisa mengurus rekening, rumah, saham, tanah di Lembang. Semua.”

Direktur panti memucat.

Rendra menatap Nadia seolah ingin menerkamnya.

“Kamu merekam saya tanpa izin?”

Nadia tetap tenang.

“Saya merekam dari lorong umum setelah mendengar nama pasien yang saya tangani.”

Dimas menutup mapnya.

“Saya sarankan kita hentikan proses pemindahan sementara.”

Rendra berbalik.

“Kamu kerja untuk saya!”

Dimas menjawab pelan.

“Saya bekerja berdasarkan instruksi hukum, bukan untuk membantu Anda melakukan sesuatu yang bisa terlihat seperti pemaksaan.”

Saat itulah suara Sri terdengar dari pintu.

“Bagus.”

Semua orang menoleh.

Sri berdiri di sana mengenakan blus putih sederhana.

Nadia belum pernah melihatnya setenang itu.

Rendra pucat.

“Ibu, kembali ke kamar.”

Sri berjalan masuk.

“Tidak.”

Ia duduk.

“Sekarang kamu dengarkan saya.”

Rendra menatap semua orang di ruangan.

“Ibu sedang bingung.”

Sri tersenyum.

“Kalau begitu mari kita tes.”

Ia menatap direktur.

“Hari ini Kamis. Tanggal dua belas. Saya tinggal di sini dua tahun, sebelas bulan, delapan belas hari. Tekanan darah saya kemarin sore seratus tiga puluh delapan per delapan puluh dua. Obat pagi saya amlodipine lima miligram dan vitamin D. Nama direktur panti Ibu Ratih.”

Direktur Ratih tak bisa berkata apa-apa.

Sri lalu menatap putranya.

“Nama lengkapmu Rendra Bima Mahardika. Kamu lahir di Bandung pukul dua lewat tiga belas menit dini hari. Kamu alergi udang sejak umur empat tahun. Dan waktu kelas dua SD, kamu menangis tiga hari karena ayam peliharaanmu mati.”

Rendra membeku.

Sri berkata pelan,

“Masih mau bilang saya tidak ingat apa-apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Kemudian pintu depan terbuka.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun masuk bersama seorang perempuan muda membawa tas dokumen.

Wajah Rendra langsung berubah.

Pria itu adalah Adrian Prasetyo.

Pengacara korporasi yang fotonya sering muncul di berita.

Ia menatap Sri.

Untuk beberapa detik, ekspresinya tidak berubah.

Lalu matanya turun ke amplop tua di tangan Nadia.

“Apa ini?”

Sri berdiri.

“Bapak Adrian.”

Adrian menatapnya.

“Kita pernah bertemu?”

Sri menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu kenapa Anda meminta saya datang?”

Nadia menyerahkan amplop.

Adrian membuka surat lama itu.

Begitu membaca nama Bima Mahardika, ia berhenti.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

“Dari mana Anda dapat ini?”

“Itu milik suami saya.”

Adrian menatap Sri.

“Suami Anda…”

“Bima Mahardika.”

Adrian mundur setengah langkah.

Ruangan menjadi sunyi.

“Tidak mungkin.”

Sri tersenyum getir.

“Empat puluh tahun saya juga berharap semua ini tidak nyata.”

Adrian membaca surat itu lagi.

Kemudian catatan kematian.

Tangannya mulai gemetar.

Sri mengeluarkan kaset tua.

“Ayah Anda datang menemui saya sebelas tahun setelah kebakaran.”

Adrian menatap kaset itu.

“Ayah saya?”

“Dia sedang sakit.”

Sri mengangguk.

“Dia bilang ingin mati dengan satu dosa lebih sedikit.”

Adrian hampir tidak bersuara.

“Apa yang dia katakan?”

Sri memandangnya.

“Dia mengakui bahwa ayah mertua saya menawarkan perusahaan sebagai ganti uang. Ayah Anda tahu surat saham itu palsu.”

Adrian menutup mata.

Sri melanjutkan.

“Namun ada satu hal yang bahkan saya baru tahu malam itu.”

Adrian membuka mata lagi.

Sri berkata,

“Ayah Anda tidak memerintahkan kebakaran.”

Rendra menatap ibunya.

Adrian mengerutkan kening.

Sri melanjutkan,

“Dia memang bersalah karena mengambil perusahaan dan menutupi pemalsuan. Tapi kebakaran itu dilakukan ayah mertua saya sendiri karena Bima menolak menjual perusahaan.”

Adrian duduk perlahan.

Seolah lututnya tidak lagi sanggup menyangga tubuh.

Namun Sri belum selesai.

“Dan ayah Anda membuat satu permintaan sebelum meninggal.”

“Apa?”

“Dia meminta saya mencari Anda.”

Adrian menggeleng kecil.

“Kenapa?”

Sri menatapnya dengan mata penuh air.

“Karena selama puluhan tahun dia mengatakan kepada Anda bahwa perusahaan itu dibangun keluarga Anda dari nol.”

Adrian menunduk.

“Itulah yang saya percaya.”

“Dia berbohong.”

Suara Sri bergetar.

“Setengah dari kekayaan keluarga Anda berasal dari perusahaan suami saya.”

Adrian meletakkan kedua tangannya di wajah.

Ruangan benar-benar hening.

Lalu sesuatu yang tidak disangka siapa pun terjadi.

Adrian berdiri.

Ia berjalan ke arah Sri.

Dan pria yang selama puluhan tahun dikenal tak pernah kalah di ruang sidang itu perlahan berlutut di depan seorang perempuan tua.

Rendra terpaku.

Direktur Ratih menutup mulut.

Adrian berkata,

“Saya tidak tahu.”

Sri memandangnya.

“Saya tahu.”

“Saya bersumpah saya tidak tahu.”

“Saya tahu.”

Adrian menangis.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang jatuh tanpa bisa ia tahan.

“Ayah saya meninggalkan perusahaan itu kepada saya.”

Sri mengangguk.

“Saya tahu.”

“Kalau semua ini benar…”

“Benar.”

Adrian menunduk.

“Berapa yang harus saya kembalikan?”

Sri terdiam.

Semua orang mengira ia akan menyebut angka.

Ratusan miliar.

Mungkin triliunan.

Namun Sri berkata,

“Saya tidak memanggil Anda untuk meminta uang.”

Adrian mengangkat kepala.

“Lalu apa?”

Sri menoleh ke arah Rendra.

“Karena seseorang sedang mencoba melakukan kepada saya hal yang sama seperti yang dilakukan para pria empat puluh tahun lalu.”

Rendra mundur satu langkah.

Sri berkata,

“Mereka mencoba membuat saya terlihat gila agar suara saya tidak berarti.”

Adrian berdiri.

Wajahnya berubah total.

Ia kini menatap Rendra bukan sebagai anak seorang lansia.

Melainkan sebagai pengacara.

“Pak Rendra.”

Rendra menelan ludah.

“Ini urusan keluarga.”

“Tidak lagi.”


Dalam dua minggu, semua rencana pemindahan Sri dibatalkan.

Evaluasi independen menyatakan bahwa kemampuan kognitifnya masih baik.

Direktur Ratih juga melaporkan dugaan tekanan finansial terhadap penghuni kepada pihak berwenang.

Adrian sendiri menyerahkan seluruh dokumen keluarga perusahaannya kepada tim audit independen.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Tiga bulan kemudian, Nadia menerima telepon dari Sri.

“Datang ke rumah.”

Sri sudah meninggalkan panti.

Ia tinggal di sebuah rumah kecil dengan taman sederhana di pinggiran Bandung.

Ketika Nadia datang, Adrian juga berada di sana.

Di atas meja terdapat dokumen hukum.

Nadia duduk.

“Ada apa?”

Sri tersenyum.

“Adrian menemukan sesuatu.”

Adrian mendorong sebuah map ke arahnya.

“Dalam struktur perusahaan lama, Bima memiliki polis dan perjanjian pemulihan kepemilikan jika pengalihan saham terbukti palsu.”

Nadia melongo.

“Artinya?”

“Secara hukum, ahli waris Bima masih memiliki klaim besar terhadap perusahaan.”

Nadia langsung melihat Sri.

“Bu…”

Sri mengangguk.

“Tapi ada masalah.”

Adrian menatapnya.

“Ahli warisnya bukan hanya Bu Sri.”

Nadia perlahan memahami.

“Pak Rendra.”

“Ya.”

Sri tertawa kecil.

“Anak yang mencoba mengambil seluruh harta saya justru berhak atas bagian terbesar dari sesuatu yang bahkan tidak dia tahu ada.”

Nadia tidak tahu harus tertawa atau menangis.

“Tapi setelah yang dia lakukan…”

Sri memandang taman.

“Dia tetap anak saya.”

Nadia terdiam.

Sri melanjutkan,

“Saya tidak akan membuatnya kaya.”

Adrian menatapnya.

Sri tersenyum.

“Tapi saya juga tidak akan menghancurkannya.”

Akhirnya dicapai kesepakatan.

Sebagian hak lama dikembalikan melalui kompensasi dan saham.

Sri mendapatkan cukup uang untuk hidup lebih dari nyaman.

Namun hampir seluruh nilai pemulihan dimasukkan ke sebuah yayasan.

Nama yayasan itu:

Yayasan Bima Mahardika.

Tujuannya sederhana.

Memberikan bantuan hukum gratis bagi lansia yang menjadi korban manipulasi keluarga, pemaksaan warisan, dan penyalahgunaan kewenangan.

Rendra tidak mendapatkan kendali atas dana itu.

Ia hanya menerima satu rekening kecil yang tidak bisa disentuh sampai usia enam puluh tahun.

Dengan satu syarat.

Ia harus mengikuti konseling dan mengembalikan setiap rupiah yang pernah diambil dari rekening ibunya tanpa izin.

Rendra marah.

Ia memutus hubungan dengan Sri selama enam bulan.

Kemudian pada suatu Minggu pagi, Nadia sedang minum kopi di rumah Sri ketika sebuah mobil berhenti di depan.

Rendra turun.

Tidak memakai jas mahal.

Tidak membawa pengacara.

Tidak membawa map.

Hanya sebuah pot kecil berisi tanaman melati.

Sri berdiri di ambang pintu.

Ibu dan anak itu saling menatap lama.

Rendra berkata,

“Aku tidak datang minta uang.”

Sri menjawab,

“Bagus.”

“Aku juga tidak datang minta maaf supaya Ibu melupakan semuanya.”

Sri tetap diam.

Rendra menelan ludah.

“Aku cuma…”

Suaranya pecah.

“Aku baru sadar bahwa sepanjang hidupku aku marah pada Ibu karena menganggap Ibu menyembunyikan sesuatu dariku.”

Ia menatap tanah.

“Ternyata Ibu memang menyembunyikan sesuatu.”

Air mata memenuhi matanya.

“Tapi bukan uang.”

Sri tidak bergerak.

Rendra melanjutkan,

“Ibu menyembunyikan rasa sakit supaya aku bisa tumbuh tanpa tahu bahwa kakekku adalah orang yang menyebabkan ayahku mati.”

Sri menutup mata.

Itulah rahasia terakhir yang tidak pernah ia ingin putranya ketahui.

Rendra menangis.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

Sri berkata,

“Karena waktu kamu tujuh tahun, kamu masih mencintai kakekmu.”

Ia menarik napas.

“Dan setelah semua yang hilang malam itu, saya tidak mau mengambil satu orang lagi dari hidupmu.”

Rendra menutup wajahnya.

Untuk pertama kalinya, Sri berjalan menghampiri putranya.

Ia tidak memeluknya.

Belum.

Ia hanya menyentuh bahunya.

“Maaf tidak menghapus akibat perbuatanmu.”

Rendra mengangguk.

“Saya tahu.”

“Tapi penyesalan bisa jadi awal.”

Rendra kembali mengangguk.

Kali ini Sri membiarkannya masuk.


Setahun kemudian, Nadia lulus dari sekolah keperawatan yang dulu terpaksa ia tinggalkan.

Biaya kuliahnya dibayar oleh beasiswa dari Yayasan Bima Mahardika.

Pada hari kelulusannya, Sri duduk di barisan depan.

Di sebelahnya ada Adrian.

Beberapa kursi dari mereka, Rendra juga hadir.

Hubungan mereka belum sempurna.

Mungkin tidak akan pernah.

Tetapi kini tidak ada lagi kebohongan.

Tidak ada lagi surat kuasa tersembunyi.

Tidak ada lagi ancaman psikiatri.

Setelah acara selesai, Nadia mendekati Sri.

“Bu, boleh saya tanya sesuatu?”

“Apa?”

Nadia tersenyum.

“Sekarang masih marah kalau seseorang mau membantu mandi?”

Sri tertawa.

“Kalau kamu yang membantu, mungkin saya pikir-pikir.”

Mereka berdua tertawa.

Kemudian Sri menjadi diam.

Ia memandang Nadia.

“Dulu saya kira bekas luka itu adalah bagian paling buruk dari hidup saya.”

Nadia menunggu.

Sri menyentuh punggungnya sendiri perlahan.

“Ternyata bukan.”

“Lalu apa?”

“Yang paling buruk adalah ketika orang membuat kita percaya bahwa kita harus malu karena selamat.”

Nadia menggenggam tangannya.

Sri tersenyum.

“Sekarang saya tidak malu lagi.”

Di kejauhan, Adrian berdiri berbicara dengan Rendra.

Dua pria yang keluarganya terikat oleh dosa empat puluh tahun lalu.

Dan di antara mereka berdiri seorang perempuan tua yang selama puluhan tahun dianggap lemah.

Sri tidak pernah menghancurkan mereka.

Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit.

Ia memaksa mereka melihat kebenaran.

Lalu membiarkan mereka memilih akan menjadi orang seperti apa setelah mengetahuinya.

Saat mereka keluar dari gedung, udara Bandung terasa dingin setelah hujan.

Sri berhenti sebentar.

Ia mengangkat wajah ke langit.

Empat puluh tahun lalu, api mengambil suaminya, rumahnya, dan hampir mengambil nyawanya.

Empat puluh tahun kemudian, bekas luka dari malam itu justru menyelamatkan hidupnya sekali lagi.

Bukan karena luka itu membuktikan bahwa ia pernah menjadi korban.

Tetapi karena akhirnya, setelah puluhan tahun, seseorang melihatnya dan bertanya:

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

Dan untuk pertama kalinya…

Sri tidak takut menjawab.