SEPULUH MENIT SEBELUM AKU MENIKAHI SEORANG WANITA YANG TIGA PULUH TAHUN LEBIH MUDA DARIKU, CUCULAKI-LAKIKU YANG BARU BERUSIA TIGA TAHUN MENARIK TANGANKU DAN MENGATAKAN SESUATU YANG MENGUBAH HARI PERNIKAHANKU MENJADI MIMPI BURUK.

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 324 tayangan
SEPULUH MENIT SEBELUM AKU MENIKAHI SEORANG WANITA YANG TIGA PULUH TAHUN LEBIH MUDA DARIKU, CUCULAKI-LAKIKU YANG BARU BERUSIA TIGA TAHUN MENARIK TANGANKU DAN MENGATAKAN SESUATU YANG MENGUBAH HARI PERNIKAHANKU MENJADI MIMPI BURUK.
Indeks

SEPULUH MENIT SEBELUM AKU MENIKAHI SEORANG WANITA YANG TIGA PULUH TAHUN LEBIH MUDA DARIKU, CUCULAKI-LAKIKU YANG BARU BERUSIA TIGA TAHUN MENARIK TANGANKU DAN MENGATAKAN SESUATU YANG MENGUBAH HARI PERNIKAHANKU MENJADI MIMPI BURUK.

—Kakek, jangan menikah sama Tante Rania… dia memukul Mama waktu Kakek tidak ada.

Aku merasa lantai hotel bergeser di bawah kakiku.

Kurang dari sepuluh menit lagi aku seharusnya masuk ke ballroom sebuah hotel mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, tempat lebih dari seratus tamu sedang menunggu pernikahanku dengan Rania Maheswari, seorang wanita yang tiga puluh tahun lebih muda dariku.

SEPULUH MENIT SEBELUM AKU MENIKAHI SEORANG WANITA YANG TIGA PULUH TAHUN LEBIH MUDA DARIKU, CUCULAKI-LAKIKU YANG BARU BERUSIA TIGA TAHUN MENARIK TANGANKU DAN MENGATAKAN SESUATU YANG MENGUBAH HARI PERNIKAHANKU MENJADI MIMPI BURUK.

Cucuku, Rafi, yang baru berusia tiga tahun, menggenggam tanganku begitu kuat sampai jari-jari kecilnya terlihat pucat.

Aku berjongkok di depannya.

—Siapa yang memukul Mama, Nak?

Rafi mengangkat wajahnya, lalu menunjuk ke ujung koridor.

Ke arah Rania.

Calon istriku sedang berdiri di depan bridal suite dengan kebaya modern berwarna gading. Ia tertawa bersama beberapa sahabatnya sementara fotografer membenahi ujung veil dan rambutnya.

Selama dua tahun, Rania selalu bersikap lembut kepadaku.

Ia membawakan kopi ke ruang kerjaku.

Ia menemaniku saat aku sempat dirawat karena kelelahan.

Ia berkali-kali mengatakan bahwa jika kami menikah, keluargaku juga akan menjadi keluarganya.

Tetapi putriku, Dinda, tidak pernah benar-benar mempercayainya.

Pagi itu Dinda mengirim pesan bahwa migrainnya kambuh parah dan ia mungkin terlambat datang ke pernikahan.

Ketika membaca pesan itu, Rania hanya menghela napas.

—Putrimu memang belum bisa menerima kalau Papa ingin memulai hidup baru. Jangan marah padanya. Beri dia waktu.

Dan aku mempercayai Rania.

Sampai detik itu.

Aku kembali menatap Rafi.

—Mama sekarang di mana?

—Sama Tante Sari.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Sari adalah adik perempuanku yang tinggal di daerah Tebet.

Padahal menurut cerita yang kuterima pagi tadi, Dinda sedang beristirahat sendirian di apartemennya.

Ada sesuatu yang tidak masuk akal.

—Mama bilang apa lagi sama Rafi?

Rafi menoleh gugup ke arah Rania, lalu memasukkan tangan ke saku celana kecilnya.

Ia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam.

—Mama bilang kalau Mama tidur lama sekali… kasih ini ke Kakek.

Dadaku mendadak terasa dingin.

Aku menerima flashdisk itu.

—Mama bilang begitu kapan?

—Tadi malam.

Pada saat itulah Rania melihat kami.

Senyumnya perlahan menghilang.

Ia berjalan mendekat.

—Pak Surya, sayang, sedang apa di sini? Acara sebentar lagi dimulai.

Namaku Surya Pranoto.

Usiaku enam puluh satu tahun.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Rania, aku melihat sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman.

Aku segera memasukkan flashdisk itu ke saku dalam jas sebelum dia sempat melihatnya.

—Rafi sedang mencari Dinda.

Rania berhenti sebentar.

Tatapannya berubah sangat singkat.

Namun aku melihatnya.

—Aku kan sudah bilang, Dinda sedang sakit. Dia memang selalu membuat sesuatu menjadi rumit saat kita akan bahagia.

Rafi langsung bersembunyi di belakang kakiku.

Rania memperhatikannya.

—Kenapa Rafi?

—Tidak apa-apa.

Aku belum ingin menuduh siapa pun sebelum mengetahui isi flashdisk itu.

Aku menggandeng Rafi menuju sebuah ruang kerja kecil yang dipakai wedding organizer di samping ballroom.

Aku masuk, menutup pintu, lalu mengambil laptop yang berada di atas meja.

Tanganku sedikit gemetar ketika memasukkan flashdisk.

Di dalamnya ada tiga folder.

Folder pertama bertuliskan:

RANIA

Folder kedua:

TRANSFER

Dan folder terakhir diberi nama berdasarkan tanggal tujuh hari sebelumnya.

Aku membuka folder RANIA lebih dulu.

Isinya membuat tengkukku dingin.

Ada puluhan tangkapan layar percakapan.

Beberapa foto.

Rekaman suara.

Dan catatan yang tampaknya dikumpulkan Dinda diam-diam selama berbulan-bulan.

Salah satu percakapan berasal dari Rania dengan seorang pria bernama Fajar.

Rania menulis:

“Setelah menikah semuanya akan lebih mudah. Pak Surya percaya penuh padaku. Dia bahkan sudah bicara soal mengubah surat wasiat.”

Aku menatap layar tanpa bergerak.

Rania tahu aku memiliki rumah keluarga di Pondok Indah, dua ruko di Jakarta Selatan, beberapa deposito, dan tabungan dari hasil membangun usaha selama hampir tiga puluh tahun.

Aku memang bukan konglomerat.

Tetapi apa yang kumiliki cukup untuk membuat anak dan cucuku hidup nyaman setelah aku tiada.

Aku membuka pesan lain.

“Dinda masih ikut campur. Kita harus membuat Pak Surya percaya kalau anaknya cuma mengincar hartanya.”

Dadaku seolah dihantam sesuatu.

Tiba-tiba begitu banyak pertengkaran selama beberapa bulan terakhir terasa berbeda.

Rania pernah mengatakan bahwa Dinda diam-diam menanyakan harga rumahku.

Rania juga mengatakan Dinda menemui notaris tanpa sepengetahuanku.

Bahkan Rania pernah meyakinkanku bahwa Dinda berusaha membatalkan pernikahan karena takut kehilangan warisan.

Dan aku…

Aku mempercayainya.

Aku bahkan pernah mengatakan kepada putriku sendiri bahwa dia egois.

Mengingatnya membuat wajahku terasa panas karena malu.

—Mas Surya…

Aku menoleh.

Sari masuk ke ruangan dengan wajah pucat.

Aku langsung berdiri.

—Dinda di mana?

Sari menutup pintu di belakangnya.

—Di IGD sebuah rumah sakit di kawasan Kuningan.

Aku merasa napasku berhenti.

—Apa yang terjadi?

—Tadi malam dia bertengkar dengan Rania.

Aku menatap laptop.

—Rafi bilang Rania memukul Dinda.

Sari menelan ludah.

—Dinda datang ke rumahku tadi malam sambil menangis. Ada lebam di sisi wajahnya. Aku suruh dia langsung lapor polisi, tapi dia tidak mau.

—Kenapa?

—Dia bilang sebelum melakukan apa pun, dia harus membuktikan kepadamu bahwa Rania sudah berbulan-bulan mengadu domba kalian.

Aku menunjuk laptop.

—Lalu kenapa Dinda sekarang di rumah sakit?

Wajah Sari semakin tegang.

—Tadi pagi dia pingsan.

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.

Pada saat bersamaan, dari balik pintu terdengar alunan musik pembuka prosesi pernikahan.

Para tamu sudah duduk.

Penghulu sudah menunggu.

Keluarga besar sudah berkumpul.

Dan seharusnya beberapa menit lagi aku berjalan menuju tempat akad.

Tetapi pernikahan itu sudah tidak berarti apa-apa.

—Kita pergi ke rumah sakit.

Aku hendak mencabut flashdisk.

Namun mataku menangkap sebuah file video.

Nama file itu membuat tanganku berhenti.

KALAU PAPA MASIH MAU MENIKAHINYA, TONTON INI

Aku membukanya.

Video tersebut tampaknya direkam dari kamera keamanan kecil di apartemen Dinda.

Gambar menunjukkan ruang tamu.

Dinda berdiri di dekat meja.

Rania berada di depannya.

Beberapa detik pertama suaranya kurang jelas.

Kemudian percakapan mereka mulai terdengar.

—Berhenti memanipulasi Papa —kata Dinda.— Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan dengan rekeningnya.

Rania mendekat.

—Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.

Dinda tidak mundur.

—Aku tahu kamu sudah memindahkan uang. Aku juga tahu soal Fajar.

Raut wajah Rania berubah.

Lalu sesuatu terjadi begitu cepat hingga Sari menutup mulutnya dengan tangan.

Rania mendorong Dinda keras.

Tubuh putriku membentur meja.

Rafi kecil muncul berlari dari kamar lain sambil menangis.

Aku mengepalkan tangan.

Tetapi video itu belum selesai.

Rania membungkuk mendekati Dinda yang masih terduduk di lantai.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat darahku terasa membeku.

—Setelah hari Sabtu, ayahmu tidak akan bisa begitu saja menyingkirkanku dari hidupnya, bahkan kalau dia akhirnya tahu semuanya.

Ruangan mendadak sunyi.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

—Pak Surya?

Suara Rania.

—Semua orang sudah menunggu.

Sari menatapku.

Aku menatap tiga folder di layar.

Masih ada satu folder yang belum kubuka.

TRANSFER.

Aku mengkliknya.

Muncul beberapa bukti transaksi bank.

Jumlahnya tidak kecil.

Rp175 juta.

Rp230 juta.

Rp420 juta.

Rp150 juta.

Transfer-transfer itu dilakukan dalam beberapa bulan terakhir ke rekening yang sama.

Aku tidak mengenali nomor rekeningnya.

Sebagian berasal dari rekening yang kugunakan untuk biaya operasional salah satu rukoku.

Ada juga transaksi dari deposito yang seharusnya tidak pernah disentuh tanpa persetujuanku.

—Ini tidak mungkin… —gumamku.

Sari berdiri di sampingku.

—Mas, kamu kenal rekening itu?

Aku menggeleng.

Aku membuka dokumen yang tampaknya berisi identitas pemilik rekening.

Tetapi sebelum file itu terbuka, ponselku berdering.

Nomor rumah sakit.

Aku langsung mengangkatnya.

—Halo?

—Apakah benar dengan Bapak Surya Pranoto?

—Benar.

—Kami dari rumah sakit. Putri Bapak, Ibu Dinda Pranoto, baru saja sadar.

Aku menahan napas.

—Bagaimana kondisinya?

—Saat ini stabil, Pak. Namun beliau terus meminta agar Bapak segera datang.

Aku menutup mata sesaat.

—Saya berangkat sekarang.

Perawat di seberang telepon terdiam sebentar sebelum melanjutkan.

—Pak Surya… ada satu hal lagi.

—Apa?

—Putri Bapak mengatakan bahwa perempuan bernama Rania Maheswari tidak melakukan semua ini sendirian.

Aku menatap laptop.

Tanganku mulai dingin.

—Apa maksud Anda?

—Beliau terus menyebut bahwa ada seseorang yang membantu Rania dari dalam keluarga Bapak sendiri.

Aku tidak menjawab.

Dari luar, Rania kembali mengetuk pintu.

Kali ini lebih keras.

—Pak Surya, buka pintunya.

Aku melihat layar laptop.

Dokumen pemilik rekening akhirnya selesai terbuka.

Namun sebelum aku sempat membaca namanya, terdengar suara Rania dari luar.

Bukan berbicara kepadaku.

Dia sedang berbicara kepada seseorang di lorong.

Suaranya rendah, tetapi jelas terdengar.

—Cari anak itu.

Aku langsung menoleh ke arah Rafi.

Anak itu berdiri memeluk kaki Sari.

Kemudian Rania berkata lagi:

—Jangan sampai dia pergi dari hotel membawa apa pun.

Sari memandangku dengan mata melebar.

Aku segera mengunci pintu.

Lalu pandanganku kembali jatuh ke layar.

Di folder tanggal minggu sebelumnya ternyata ada satu file terakhir yang belum kubuka.

Judulnya hanya terdiri dari dua kata.

SANG KOMPLIS.

Tanganku bergerak ke touchpad.

Dan tepat saat aku hendak membukanya, terdengar langkah beberapa orang berhenti di depan pintu.

Rania mengetuk lagi.

Kali ini tanpa berpura-pura lembut.

—Pak Surya.

Diam sebentar.

Lalu suaranya berubah.

—Buka pintunya. Sekarang.

Aku menatap Rafi.

Menatap Sari.

Kemudian menatap file terakhir yang ditinggalkan putriku.

Saat itulah aku menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kemungkinan menikahi wanita yang hanya menginginkan hartaku.

Jika Dinda benar…

Maka seseorang yang selama ini kuanggap keluarga sedang berdiri di pihak Rania.

Dan mungkin orang itu sudah berada di dalam hotel sejak pagi.

Aku mengklik file itu.

Untuk beberapa detik, layar hanya menampilkan satu foto buram.

Lalu nama di bawahnya membuat seluruh tubuhku kaku.

BIMA PRANOTO.

Adikku sendiri.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Bima adalah satu-satunya adik laki-lakiku.

Selama lebih dari tiga puluh tahun, dia membantuku mengelola beberapa urusan keluarga. Dia yang sering menemaniku menemui notaris, mengurus dokumen ruko, bahkan menjadi orang pertama yang datang ketika istriku meninggal delapan tahun lalu.

Aku pernah mempercayainya lebih daripada siapa pun.

—Tidak mungkin —bisikku.

Sari mendekat.

Begitu membaca nama itu, wajahnya berubah.

—Mas…

Aku membuka file berikutnya.

Ada tangkapan layar percakapan antara Rania dan Bima.

Pesan pertama tertanggal hampir enam bulan sebelumnya.

Bima menulis:

“Surya makin mudah diarahkan sejak Dinda mulai menjaga jarak. Jangan terburu-buru.”

Rania menjawab:

“Kalau dia tetap memasukkan semua aset ke nama anaknya, aku tidak dapat apa-apa.”

Bima:

“Makanya buat dia merasa Dinda hanya mengejar warisan.”

Aku merasa mual.

Semua yang selama ini kudengar dari Rania ternyata bukan kebetulan.

Semua pertengkaranku dengan Dinda.

Semua kecurigaanku.

Semua malam ketika aku pulang dari rumah Dinda dengan perasaan kecewa karena mengira putriku sedang menghitung hartaku.

Ada tangan Bima di belakangnya.

Aku membuka pesan lain.

Kali ini lebih buruk.

Rania:

“Setelah menikah, kapan surat kuasanya bisa dipakai?”

Bima:

“Begitu dia tanda tangan dokumen tambahan, aku bisa mulai memindahkan kepemilikan ruko. Kita jangan sentuh rumah Pondok Indah dulu. Itu terlalu terlihat.”

Aku langsung teringat.

Dua minggu lalu Bima memang membawa setumpuk dokumen ke rumahku.

Dia bilang itu hanya pembaruan administrasi untuk ruko dan rekening usaha.

Aku hampir menandatanganinya.

Aku bahkan sudah memegang pena.

Tetapi Dinda menelepon tepat saat itu.

Kami bertengkar.

Aku kesal dan menunda penandatanganan.

Ironisnya, pertengkaran yang saat itu kubenci mungkin justru menyelamatkanku.

Ketukan keras kembali terdengar.

—Pak Surya! —suara Rania semakin tegang.— Jangan bikin semua orang menunggu.

Lalu suara laki-laki menyusul.

—Mas Surya? Ini aku.

Bima.

Darahku langsung dingin.

Sari menatapku.

Rafi semakin erat memeluk kakinya.

Aku mematikan suara laptop.

Di luar, Bima mencoba terdengar santai.

—Mas, ada masalah apa? Penghulu sudah menunggu. Tamu mulai bertanya-tanya.

Aku berdiri.

Selama beberapa detik aku ingin membuka pintu dan menghantam wajahnya.

Tetapi kemudian aku melihat Rafi.

Anak tiga tahun yang belum mengerti apa pun tentang warisan, uang, pengkhianatan atau surat kuasa.

Dia hanya tahu ibunya terluka.

Aku menarik napas.

—Sari, bawa Rafi lewat pintu belakang.

—Mas?

—Sekarang.

Ruangan kecil itu memiliki akses menuju lorong servis hotel.

Sari mengangguk.

Aku memberikan flashdisk kepadanya.

—Simpan ini. Jangan kasih siapa pun.

—Lalu Mas?

—Aku akan membuat mereka percaya aku belum tahu semuanya.

Sari menatapku beberapa detik.

—Hati-hati.

Aku tersenyum tipis.

—Sudah terlalu lama aku tidak hati-hati.

Mereka keluar melalui pintu servis.

Aku menunggu sekitar satu menit.

Kemudian aku membuka pintu utama.

Rania berdiri paling depan.

Bima di sampingnya.

Wajah Rania langsung berubah menjadi senyum manis.

—Akhirnya. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa.

Aku menatapnya.

Luar biasa.

Beberapa menit sebelumnya aku melihat video wanita ini mendorong putriku.

Sekarang dia berdiri dengan wajah penuh kasih seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Aku menoleh ke Bima.

—Ada telepon dari rumah sakit.

Wajahnya tidak langsung berubah.

Tetapi aku melihat rahangnya menegang.

—Dinda? —tanyanya.

—Iya.

Rania cepat-cepat menyela.

—Nanti saja kita jenguk setelah acara. Jangan biarkan drama Dinda menghancurkan hari ini.

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku benar-benar mati.

Aku tersenyum kecil.

—Kamu benar.

Rania terlihat lega.

Bima juga.

—Mari kita selesaikan akad dulu —kataku.

Rania menggenggam lenganku.

Kami berjalan menuju ballroom.

Saat pintu besar dibuka, lebih dari seratus pasang mata menatap kami.

Orang-orang tersenyum.

Kamera ponsel terangkat.

Musik dimainkan.

Di depan, penghulu duduk bersama saksi.

Semua orang mengira mereka akan menyaksikan pernikahan.

Aku duduk.

Rania duduk di tempatnya.

Bima mengambil posisi tidak jauh dariku.

Aku memandang seluruh ruangan.

Lalu aku melihat seorang pria berjas gelap di dekat pintu samping.

Pak Hendra.

Notarisku.

Aku hampir tertawa.

Bima rupanya mengundangnya sendiri.

Mungkin karena setelah akad mereka ingin langsung menyelesaikan beberapa dokumen.

Kesombongan memang sering membuat orang bodoh.

Sebelum penghulu mulai berbicara, aku mengangkat tangan.

—Maaf. Saya ingin mengatakan sesuatu dulu.

Ruangan langsung sunyi.

Rania menatapku.

—Sekarang?

—Sekarang.

Aku berdiri.

—Terima kasih semua sudah datang. Saya tahu banyak yang mungkin bertanya kenapa saya, seorang pria berusia enam puluh satu tahun, memutuskan menikah lagi.

Beberapa orang tersenyum kecil.

Aku melanjutkan.

—Jawabannya sederhana. Saya pikir saya menemukan seseorang yang mencintai saya bukan karena apa yang saya punya.

Aku menoleh ke Rania.

Senyumnya mulai kaku.

—Tapi sepuluh menit lalu, cucu saya yang berumur tiga tahun mengatakan sesuatu yang membuat saya harus memeriksa kembali keputusan itu.

Wajah Rania memucat.

Bima berdiri.

—Mas Surya, jangan buat keributan di sini.

Aku menatapnya.

—Duduk, Bima.

Nada suaraku membuatnya berhenti.

Aku mengeluarkan ponsel.

Sari sudah mengirimkan salinan video dari flashdisk.

Aku menyerahkannya kepada operator layar ballroom.

—Tolong putar file yang saya kirim.

Rania langsung berdiri.

—Tidak!

Terlambat.

Layar besar di belakang meja akad menyala.

Video dari apartemen Dinda muncul.

Semua orang melihatnya.

Mereka melihat Rania berdiri di depan putriku.

Mereka melihat pertengkaran.

Mereka melihat dorongan itu.

Mereka melihat Dinda jatuh.

Dan mereka mendengar kalimat Rania:

“Setelah hari Sabtu, ayahmu tidak akan bisa begitu saja menyingkirkanku dari hidupnya.”

Ruangan berubah menjadi lautan bisikan.

Rania berdiri gemetar.

—Itu dipotong! Video itu tidak lengkap!

Aku menatapnya.

—Benar. Belum lengkap.

Aku memberi isyarat.

Layar berganti.

Sekarang muncul percakapan Rania dengan Bima.

Satu demi satu.

Tentang warisan.

Tentang membuatku membenci anakku.

Tentang surat kuasa.

Tentang ruko.

Wajah Bima kehilangan warna.

Dia mencoba pergi.

Tetapi dua petugas keamanan hotel sudah berdiri di dekat pintu.

Bukan karena aku meminta mereka.

Pak Hendra, notarisku, yang melakukannya.

Dia berjalan mendekat.

—Pak Surya, tadi pagi Ibu Dinda juga menghubungi kantor saya.

Aku menoleh.

—Apa?

—Dia mengirim salinan dokumen yang diduga dipalsukan atas nama Bapak.

Bima membentak.

—Jangan asal bicara!

Pak Hendra tetap tenang.

—Ada tanda tangan Bapak pada surat kuasa pengalihan aset. Tapi setelah saya periksa, tanda tangan itu bukan tanda tangan asli.

Aku menatap Bima.

Dia tidak lagi berani melihatku.

Rania menangis.

—Ricardo… maksudku, Pak Surya… dengarkan aku. Bima yang merencanakan semuanya. Aku hanya—

Aku tertawa pendek.

—Kamu bahkan hampir memanggilku dengan nama orang lain.

Ruangan semakin riuh.

Rania menutup mulut.

Aku mendekatinya.

—Kamu bilang mencintaiku.

Dia menangis.

—Aku memang mencintaimu.

—Kalau begitu kenapa kamu memukul anakku?

Dia tidak menjawab.

—Kenapa kamu berusaha membuatku membenci satu-satunya anak perempuan yang kupunya?

Diam.

—Kenapa uangku dipindahkan?

Rania menoleh ke Bima.

Dan di situlah semuanya berubah.

—Karena aku juga ditipu!

Bima langsung membentak.

—Diam!

Semua orang terdiam.

Aku menatap Rania.

—Apa maksudmu?

Dia menangis semakin keras.

—Bima bilang semua uang itu akan menjadi bagian milikku setelah kita menikah. Dia bilang dia hanya membantu. Tapi aku baru tahu beberapa minggu lalu dia sudah mengambil jauh lebih banyak daripada yang dia bilang.

Bima mencoba mendekat.

Petugas keamanan menghalanginya.

Aku menatap operator.

—Buka folder transfer.

Dokumen rekening muncul di layar.

Nama pemilik rekening tertera jelas.

Bukan Bima.

Bukan Rania.

Nama itu membuat Sari yang baru masuk ke ballroom bersama Rafi berhenti melangkah.

NADIA PRANOTO.

Anak perempuan Bima.

Keponakanku.

Ruangan kembali bergemuruh.

Aku menatap Bima.

—Kamu kirim uangnya ke rekening Nadia?

Bima akhirnya kehilangan kendali.

—Karena itu hak keluarga kami juga!

Aku tidak percaya mendengar kalimat itu.

—Hak?

—Selama bertahun-tahun aku bekerja di belakangmu! —teriaknya.— Semua orang memanggilmu sukses, Surya yang membangun usaha, Surya yang membeli ruko, Surya yang menyelamatkan keluarga. Aku apa? Selalu adiknya Surya!

Aku menatapnya lama.

—Aku membayarmu.

—Bukan soal gaji!

—Lalu soal apa?

Matanya merah.

—Ayah lebih memilihmu.

Aku terdiam.

Di usia enam puluh satu tahun, ternyata aku sedang mendengar kecemburuan seorang anak kecil keluar dari mulut pria berusia lima puluh delapan tahun.

—Saat Ayah meninggal, kamu dapat modal usaha lebih besar.

—Karena aku yang mengambil alih utang toko Ayah.

—Tetap saja kamu dapat semuanya!

Aku menggeleng.

—Bima, tiga puluh tahun kamu menyimpan ini?

—Aku hanya ingin bagian yang seharusnya jadi milikku.

Pak Hendra menyela.

—Mencuri bukan bagian warisan, Pak.

Bima langsung diam.

Tetapi Rania tiba-tiba tertawa getir.

—Bilang juga padanya tentang Dinda.

Bima menoleh tajam.

—Diam!

Aku menatap Rania.

—Tentang Dinda apa?

Rania menghapus air matanya.

—Kamu pikir Dinda tahu semua ini karena dia pintar menyelidiki?

Dadaku mengencang.

—Apa maksudmu?

—Dia sudah tahu soal Bima jauh sebelum aku memukulnya.

Bima tampak panik.

Aku menatapnya.

—Apa yang dia tahu?

Bima tidak menjawab.

Rania melanjutkan.

—Dinda menemukan sesuatu tentang kematian ibunya.

Aku merasa seluruh suara di ballroom menghilang.

Istriku, Ratih, meninggal delapan tahun lalu karena kecelakaan mobil di tol menuju Bandung.

Aku menatap Bima.

—Apa hubunganmu dengan kecelakaan Ratih?

Bima pucat.

—Tidak ada.

Rania tertawa pahit.

—Bohong.

—Rania, diam!

—Kenapa aku harus diam? Kamu akan melempar semua kesalahan ke aku!

Dia menatapku.

—Dinda menemukan bukti bahwa malam sebelum ibunya meninggal, Bima menggunakan mobil itu.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

—Lalu?

—Ada masalah pada sistem rem.

Bima berteriak.

—Itu kecelakaan!

Pak Hendra mengernyit.

Aku menatap Bima.

—Kamu tahu rem mobil itu bermasalah?

Dia tidak menjawab.

—Kamu tahu?

—Aku… aku merasa ada yang aneh.

Aku berjalan mendekat.

—Dan kamu tidak bilang apa-apa?

—Aku mau bilang!

—Kapan?!

Suara itu keluar dari tenggorokanku seperti ledakan.

Bima mundur.

—Pagi itu Ratih pergi lebih cepat.

Aku merasa lututku lemas.

Delapan tahun.

Delapan tahun aku percaya kematian istriku adalah takdir buruk.

Sekarang ternyata adikku mengetahui mobil itu bermasalah dan membiarkannya dipakai.

Aku menutup mata.

—Apakah kamu sengaja?

Bima langsung menggeleng.

—Tidak. Demi Tuhan, tidak. Aku tidak pernah ingin Ratih mati.

Aku menatapnya lama.

Anehnya, aku percaya bagian itu.

Bukan karena aku ingin memaafkannya.

Tetapi karena wajahnya menunjukkan ketakutan seorang pengecut, bukan kebencian seorang pembunuh.

Dia tidak membunuh istriku.

Dia hanya tahu ada risiko dan memilih diam.

Dan terkadang, diam juga menghancurkan hidup seseorang.

Suara kecil terdengar dari belakang.

—Kakek?

Aku menoleh.

Rafi berdiri bersama Sari.

Aku langsung berjalan kepadanya.

Dia mengangkat tangan.

—Mama?

Aku berjongkok.

Segala amarahku runtuh.

—Kita pergi ke Mama sekarang.

Aku berdiri dan menatap semua tamu.

—Maaf. Tidak ada pernikahan hari ini.

Tidak ada yang berkata apa-apa.

Aku menoleh ke Pak Hendra.

—Tolong serahkan semua bukti ke polisi.

Dia mengangguk.

Bima memanggilku.

—Mas.

Aku berhenti.

—Aku tetap adikmu.

Aku menatapnya.

—Iya.

Matanya sedikit berharap.

Kemudian aku berkata:

—Dan itu alasan pengkhianatanmu terasa jauh lebih sakit.

Aku pergi.


Ketika sampai di rumah sakit, Dinda sedang berbaring dengan wajah pucat.

Ada memar di pipinya.

Begitu melihatku masuk bersama Rafi, matanya langsung berkaca-kaca.

—Papa…

Aku tidak mampu menjawab.

Aku mendekat.

Lalu untuk pertama kalinya sejak dia dewasa, aku memeluk putriku seperti saat dia masih kecil.

—Maafkan Papa.

Dinda menangis.

—Papa tidak perlu—

—Perlu.

Aku mundur sedikit.

—Papa percaya pada orang lain lebih daripada anak sendiri.

Dinda menggenggam tanganku.

—Aku juga salah. Aku menyelidiki semuanya diam-diam. Seharusnya aku bicara lebih jelas.

Aku menggeleng.

—Kamu sudah mencoba. Papa yang tidak mau mendengar.

Rafi memanjat sisi tempat tidur.

—Mama jangan tidur lama lagi.

Dinda menangis sambil tertawa.

—Iya, Sayang.

Aku duduk di kursi.

—Kenapa kamu tidak bilang soal Paman Bima sejak awal?

Dinda menatapku.

—Karena awalnya aku tidak yakin.

Dia lalu menjelaskan.

Beberapa bulan lalu, ia menemukan kejanggalan saat membantu memeriksa pajak salah satu rukoku.

Ada dokumen yang menggunakan tanda tanganku pada hari aku sebenarnya berada di Surabaya.

Dari sana, dia menelusuri transfer.

Kemudian ia menemukan hubungan Bima dengan Rania.

Tetapi satu hal lain membuatnya semakin takut.

—Aku menemukan arsip lama dari bengkel mobil Mama.

Aku menunduk.

—Tentang rem.

Dinda mengangguk.

—Ada catatan bahwa mobil itu sempat dibawa Paman Bima sehari sebelum kecelakaan. Teknisi menulis bahwa ada masalah dan menyarankan mobil tidak dipakai sebelum diperbaiki.

Dadaku kembali sesak.

—Kenapa polisi dulu tidak tahu?

—Karena mobil rusak berat. Dan bengkel itu tutup dua tahun setelah kecelakaan. Arsipnya baru didigitalisasi oleh pemilik baru.

Aku terdiam.

—Jadi Bima…

—Aku tidak punya bukti dia sengaja membuat Mama kecelakaan.

Aku mengangguk.

—Dia bilang dia tahu ada masalah, tapi tidak bilang.

Dinda menutup mata.

—Itu sudah cukup buruk.

Kami diam cukup lama.

Kemudian Dinda berkata:

—Papa, ada satu hal lagi.

Aku menatapnya.

—Apa?

—Rania sebenarnya tidak tahu soal kecelakaan Mama sampai seminggu lalu.

—Bima yang memberitahunya?

—Iya. Karena Rania mulai mengancam keluar dari rencana mereka. Dia merasa Bima mengambil terlalu banyak uang.

Aku menghela napas.

—Mereka akhirnya saling menghancurkan.

Dinda menatapku.

—Bukan.

Aku mengernyit.

—Mereka dihancurkan oleh keserakahan mereka sendiri.

Kalimat itu menempel di kepalaku.


Enam bulan kemudian, kasus mereka mulai berjalan.

Rania dijerat atas penganiayaan, percobaan penipuan, dan keterlibatan dalam pemalsuan dokumen.

Bima menghadapi tuduhan yang lebih berat karena transfer dana dan pemalsuan surat kuasa.

Soal kecelakaan Ratih dibuka kembali untuk pemeriksaan.

Tidak ada bukti bahwa Bima sengaja menyebabkan kecelakaan.

Tetapi pernyataannya tentang mengetahui kerusakan mobil dicatat dalam penyelidikan.

Nadia, putrinya, ternyata tidak tahu rekeningnya digunakan untuk menampung dana.

Bima membuka rekening investasi atas namanya sejak lama dan masih memiliki akses penuh.

Itulah kejutan terakhir.

Nadia bukan bagian dari rencana.

Ketika tahu ayahnya menggunakan namanya, dia sendiri yang memberikan semua rekening kepada penyidik.

Aku sempat mengira pengkhianatan itu menular dalam keluarga.

Ternyata tidak.

Beberapa orang masih memilih benar meski dibesarkan oleh orang yang salah.

Rumah di Pondok Indah akhirnya tidak kujual.

Aku juga tidak mengubah semua aset menjadi milik Dinda seperti yang sempat kurencanakan karena rasa bersalah.

Dinda menolak.

—Papa masih hidup. Jangan bertingkah seperti sudah pergi.

Jadi kami membuat keputusan lain.

Aku membentuk perwalian pendidikan untuk Rafi dan cucu-cucuku kelak.

Sebagian keuntungan dua ruko digunakan untuk yayasan kecil yang membantu perempuan dan anak yang mengalami kekerasan dalam keluarga.

Aku menamainya Yayasan Ratih.

Dinda menangis ketika pertama melihat plakat namanya.

—Mama pasti marah kalau tahu namanya dipasang besar begini.

Aku tersenyum.

—Iya. Dia selalu bilang tidak suka jadi pusat perhatian.

Rafi yang sedang bermain mobil-mobilan di lantai tiba-tiba mengangkat kepala.

—Nenek Ratih tinggal di mana?

Aku terdiam sebentar.

Kemudian duduk di sampingnya.

—Di tempat yang jauh.

—Bisa telepon?

Aku tertawa kecil sambil menahan air mata.

—Tidak bisa.

Rafi berpikir.

—Kalau gitu kita cerita aja.

—Cerita apa?

—Cerita kalau Kakek sekarang nurut sama Mama.

Dinda langsung tertawa.

Aku ikut tertawa.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, ketika mengingat Ratih, aku tidak hanya merasa kehilangan.

Aku merasa dia masih hidup dalam banyak hal kecil.

Dalam cara Dinda memandangku saat marah.

Dalam cara Rafi menggenggam tanganku.

Dalam keputusan untuk tidak lagi menutup mata hanya karena kebenaran terasa menyakitkan.

Beberapa orang bertanya apakah aku kapok menikah lagi.

Aku selalu menjawab hal yang sama.

Aku tidak takut mencintai lagi.

Aku hanya akhirnya mengerti bahwa cinta yang sehat tidak pernah meminta kita menjauh dari orang-orang yang sudah mencintai kita sejak awal.

Dan hal paling aneh dari semua ini adalah orang yang menyelamatkanku bukan notaris.

Bukan polisi.

Bukan kamera keamanan.

Bukan pula dokumen bank.

Orang yang menyelamatkan hidupku adalah anak kecil berusia tiga tahun yang belum tahu apa arti warisan, pengkhianatan, atau manipulasi.

Dia hanya tahu satu hal sederhana.

Seseorang menyakiti ibunya.

Dan kakeknya harus tahu.

Suatu sore, ketika kami bertiga makan di teras rumah, Rafi tiba-tiba memegang tanganku.

Persis seperti hari pernikahan itu.

Aku menatapnya.

—Kenapa?

Dia tersenyum.

—Kakek jangan nikah sama orang jahat lagi.

Dinda hampir tersedak minumannya.

Aku tertawa sampai mataku berair.

Kemudian aku mencium kepala cucuku.

—Janji.

Rafi mengangkat jari kelingking.

—Janji sungguhan.

Aku mengaitkan jari kelingkingku dengannya.

—Janji sungguhan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, rumah itu terasa seperti rumah lagi.