Bagian 2
Keesokan sore, Arif memintaku duduk di ruang tengah.
Siska berada di sebelahnya. Di atas meja ada sebuah map biru yang belum pernah kulihat.
“Ada surat dari Bapak,” katanya.
Aku tidak langsung duduk.
“Surat apa?”
“Pembagian harta.”
Dua hari kemudian, kami bertemu dengan Pak Hendra, orang yang beberapa tahun membantu Bapak mengurus administrasi tanah. Dua paman dari pihak Bapak ikut hadir sebagai saksi keluarga.
Dokumen itu dibuat empat belas bulan sebelum Bapak meninggal.

Isinya sederhana, tetapi setiap kalimat terasa seperti benda berat yang dijatuhkan satu per satu ke atas meja.
Rumah tempat aku tinggal akan diserahkan kepada Arif.
Tanah dekat jalan kabupaten juga untuk Arif.
Sebidang tanah yang disewakan kepada penggarap pun disebut sebagai bagian Arif.
Namaku hanya muncul di bagian terakhir.
Bapak meninggalkan kepadaku barang-barang pribadinya yang berada di kamar.
Pak Hendra berhenti membaca.
Arif menatapku.
“Aku juga baru tahu detailnya,” katanya.
Aku tidak menjawab.
Aku tahu itu bohong.
Aku belum punya bukti, tetapi aku mengenal wajah kakakku ketika ia sedang pura-pura terkejut.
Siska merapikan ujung kerudungnya, kemudian berkata pelan, “Mungkin Bapak berpikir rumah dan tanah lebih gampang kalau satu orang yang pegang.”
Aku menatapnya.
“Dan orang itu harus Arif?”
Ia tidak menjawab lagi.
Pak Hendra buru-buru menjelaskan bahwa masih ada proses administratif yang harus dilakukan. Aku tidak terlalu mendengar bagian selanjutnya.
Di kepalaku hanya ada sepuluh tahun.
Sepuluh tahun membalik tubuh Bapak agar tidak lecet.
Sepuluh tahun memegang ember ketika ia muntah karena obat.
Sepuluh tahun menolak pekerjaan, menunda hidup, dan mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak membutuhkan balasan apa pun.
Ternyata tetap sakit ketika seluruh pengorbananmu diperlakukan seolah tidak pernah ada.
Sebelum pulang, Arif berkata, “Rat, kamu tetap bisa tinggal di rumah untuk sementara.”
Untuk sementara.
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Kata itu lagi.
“Kamu mau aku pergi?”
“Bukan begitu.”
“Kalau bukan begitu, kenapa kamu bilang sementara?”
Arif menarik napas panjang.
“Jangan bikin semuanya susah. Aku belum bilang rumah mau diapakan.”
Aku memandang map biru di tangannya.
“Karena sekarang kamu merasa rumah itu milikmu.”
Ia tidak menjawab.
Malamnya aku masuk ke kamar Bapak untuk pertama kali sejak beliau meninggal.
Lemarinya masih berbau minyak kayu putih dan obat gosok.
Aku mulai memilah pakaian.
Sebagian akan kusumbangkan. Sebagian ingin kusimpan.
Di bagian paling belakang tergantung jaket cokelat tua yang sudah pudar di bahu.
Bapak memakainya bertahun-tahun sebelum stroke. Aku masih ingat bagaimana aku sering mengomel karena ia tidak mau membeli yang baru.
Jaket itu bahkan tercantum secara khusus dalam daftar barang pribadi yang diberikan kepadaku.
Entah kenapa hal itu justru membuatku semakin kesal.
Arif mendapat rumah dan tanah.
Aku mendapat jaket usang.
Aku membawanya ke dapur dengan niat memasukkannya ke kantong pakaian bekas.
Saat tanganku masuk ke saku bagian dalam, jariku menyentuh benda keras.
Aku menariknya keluar.
Sebuah kotak logam kecil, tidak lebih besar dari telapak tanganku.
Di dalamnya ada kunci kuningan pendek dan selembar kertas yang dilipat empat kali.
Tulisan di kertas itu miring dan tidak rapi.
Tulisan tangan kiri Bapak.
Aku membukanya.
Hanya ada beberapa baris.
“Ratri, kalau kamu menemukan ini, jangan tanda tangani dokumen apa pun dari Arif sebelum membuka laci bawah lemari besi kecil. Kuncinya ada di sini. Sertifikat masih atas namaku. Cari Bu Niken. Arif tahu aku sudah mencabut kuasanya.”
Aku membaca kalimat terakhir tiga kali.
Arif tahu aku sudah mencabut kuasanya.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku membawa kunci itu kembali ke kamar Bapak.
Di sudut kamar ada lemari besi kecil setinggi lutut yang sudah berada di sana sejak aku masih sekolah. Aku tahu Bapak menyimpan dokumen di dalamnya, tetapi selama bertahun-tahun aku hanya membuka bagian atas jika beliau meminta buku tabungan atau kuitansi pajak.
Aku bahkan tidak pernah menyadari ada laci sempit di bagian bawahnya.
Kunci dari jaket masuk dengan pas.
Tanganku bergetar ketika memutarnya.
Di dalam laci ada sebuah map cokelat tebal, dibungkus plastik bening.
Tidak ada uang tunai.
Tidak ada perhiasan.
Tidak ada harta rahasia yang tiba-tiba membuatku kaya.
Yang ada justru lebih membuatku sulit bernapas.
Tiga sertifikat tanah asli.
Sebuah salinan surat pencabutan kuasa.
Beberapa kuitansi.
Catatan pembayaran.
Dan sebuah amplop putih dengan namaku.
Ratri.
Tulisan Bapak.
Aku duduk di lantai.
Surat pencabutan kuasa itu bertanggal delapan bulan setelah dokumen pembagian yang dibacakan Pak Hendra.
Dalam surat tersebut tertulis bahwa Bapak mencabut kuasa yang sebelumnya pernah diberikan kepada Arif untuk mengurus beberapa keperluan administratif terkait tanah.
Aku tidak memahami seluruh bahasa hukumnya.
Yang kupahami hanya satu hal.
Kalau dokumen itu benar, Arif sudah tahu Bapak menarik kembali kewenangan yang pernah diberikan kepadanya.
Aku membuka amplop berikutnya.
Surat Bapak lebih panjang.
Tulisan tangan kirinya tidak rapi, beberapa kata harus kubaca dua atau tiga kali.
“Rat, Bapak minta maaf karena terlalu lama diam.”
Aku berhenti.
Lalu membaca lagi.
Bapak menulis bahwa sekitar dua tahun sebelumnya, Arif datang meminta bantuan karena usahanya mengalami masalah arus kas.
Awalnya jumlahnya Rp80 juta.
Kemudian bertambah.
Bapak beberapa kali memberikan uang dari tabungan.
Setelah itu Arif meminta izin mengurus salah satu tanah dekat jalan karena katanya ada calon penyewa yang tertarik menggunakan sebagian lahan sebagai gudang.
Bapak menyetujui kuasa untuk pengurusan tertentu.
Namun beberapa bulan kemudian, beliau mengetahui Arif sudah berbicara tentang kemungkinan menjual tanah itu.
“Bapak marah,” tulisnya. “Arif bilang tanah keluarga suatu hari memang akan jadi bagiannya. Dia bilang kamu tidak mungkin selamanya tinggal di rumah ini karena kamu akan menikah.”
Aku menutup mata.
Kalimat itu terdengar terlalu akrab.
Bukan karena pernah kudengar langsung dari Arif.
Karena aku sudah mendengarnya dari keluarga selama bertahun-tahun.
Perempuan akhirnya pergi.
Anak laki-laki menjaga nama keluarga.
Rumah tetap pada anak laki-laki.
Seolah sepuluh tahun hidupku hanyalah masa menunggu sebelum aku menjadi tanggung jawab laki-laki lain.
Surat Bapak melanjutkan bahwa ia sempat menandatangani sebuah surat pembagian harta yang disiapkan Arif.
Saat itu kondisi Bapak sedang buruk. Arif meyakinkannya bahwa pembagian atas satu nama akan mempermudah pengurusan setelah beliau tidak ada.
Bapak menurut.
Beberapa bulan kemudian, setelah mengetahui rencana penjualan tanah, ia berubah pikiran.
Dengan bantuan seseorang bernama Bu Niken, ia mencabut kuasa Arif dan meminta agar sertifikat tetap disimpan sendiri.
Lalu ada kalimat yang membuatku harus berhenti lagi.
“Bapak belum sempat menyelesaikan semuanya. Bapak juga malu bilang ke kamu karena selama ini kamu sudah terlalu banyak mengurus Bapak.”
Aku menekan kertas itu ke lutut.
Untuk pertama kalinya setelah pemakaman, aku menangis sampai tidak bisa menahan suara.
Bukan karena tanah.
Bukan karena rumah.
Aku menangis karena selama bertahun-tahun Bapak ternyata mengetahui apa yang terjadi.
Ia tahu aku lelah.
Ia tahu Arif jarang pulang.
Ia tahu orang-orang menganggap pengorbananku biasa karena aku anak perempuan yang belum menikah.
Dan ia juga tahu ia sendiri terlalu lama membiarkan keadaan itu.
Di akhir surat, Bapak tidak menulis bahwa seluruh hartanya harus menjadi milikku.
Justru sebaliknya.
“Bapak tidak mau kamu dan Arif bermusuhan karena harta. Tapi Bapak juga tidak mau kamu menandatangani sesuatu karena merasa tidak punya hak bicara.”
Lalu satu kalimat terakhir.
“Jaket itu bukan hadiahmu. Bapak cuma yakin Arif tidak akan pernah repot memeriksa barang tua.”
Di tengah tangis, aku tertawa kecil.
Itu benar-benar cara berpikir Bapak.
Praktis.
Sedikit keras kepala.
Dan entah bagaimana masih sempat menyindir Arif.
Aku hampir tidak tidur malam itu.
Pagi berikutnya Arif datang sekitar pukul sembilan.
Ia langsung bertanya tentang sertifikat.
“Pak Hendra bilang dokumen asli nanti dibutuhkan.”
Aku sedang menyapu teras.
Aku melanjutkan menyapu beberapa detik sebelum menjawab.
“Mas tahu Bapak mencabut kuasa yang pernah diberikan ke Mas?”
Wajahnya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi cukup.
“Kuasa apa?”
Aku meletakkan sapu.
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan bikin aku harus menunjukkan suratnya dulu baru Mas mau jujur.”
Ia menatap pintu rumah.
“Dari mana kamu dapat?”
Pertanyaan itu adalah jawaban.
Aku merasakan sesuatu di dalam diriku menjadi dingin.
Bukan marah.
Justru lebih tenang.
“Jadi Mas memang tahu.”
Arif berjalan masuk tanpa menunggu dipersilakan.
“Rat, dengar dulu.”
Aku mengikutinya ke ruang tengah.
“Kapan Bapak mencabutnya?”
“Kamu sudah tahu tanggalnya, kan?”
“Aku mau dengar dari Mas.”
Ia mengusap wajah.
“Beberapa bulan lalu.”
“Kenapa waktu surat pembagian dibacakan, Mas bilang baru tahu?”
“Aku baru tahu Pak Hendra akan membacakan sedetail itu.”
Aku memandangnya lama.
“Bukan itu yang kutanya.”
Arif mulai tidak nyaman.
“Aku nggak mau berdebat pagi-pagi.”
“Mas datang menanyakan sertifikat.”
“Itu memang diperlukan.”
“Untuk apa?”
“Mengurus peninggalan Bapak.”
“Jangan jawab seperti aku anak kecil.”
Nada suaraku tidak tinggi.
Mungkin justru itu yang membuatnya berhenti.
Selama sepuluh tahun, Arif terbiasa denganku sebagai orang yang mengalah.
Kalau ia tidak sempat pulang, aku yang menyesuaikan.
Kalau kiriman uang terlambat, aku yang menutup kekurangan.
Kalau Bapak kontrol, aku yang mengatur jadwal.
Aku hampir tidak pernah meminta penjelasan.
Hari itu berbeda.
“Aku menemukan surat Bapak,” kataku.
Arif duduk.
Wajahnya berubah pucat.
“Surat apa?”
Aku tidak mengatakan semuanya.
Aku juga tidak menunjukkan tempat sertifikat kusimpan.
“Aku tahu tentang kuasa. Aku tahu Mas pernah minta Bapak mengurus tanah dekat jalan. Aku juga tahu Bapak mencabutnya.”
Arif terdiam.
Kemudian ia berkata, “Bapak waktu itu gampang berubah pikiran.”
Aku menatapnya.
“Maksud Mas?”
“Kondisinya sudah nggak stabil.”
Aku hampir menjawab dengan marah.
Namun aku teringat semua jadwal obat, semua percakapan dokter, semua pagi ketika Bapak bisa menjelaskan dengan jelas apa yang ia mau.
“Bapak memang sakit,” kataku. “Tapi jangan pakai sakitnya untuk membuat semua keputusan yang tidak menguntungkan Mas dianggap tidak sah.”
Arif berdiri.
“Kamu menuduh aku apa?”
“Aku belum menuduh apa-apa. Aku mau tahu kenapa Mas menyembunyikan pencabutan kuasa.”
“Aku tidak menyembunyikan.”
“Mas duduk di sini kemarin waktu surat itu dibacakan.”
“Aku pikir surat pembagian tetap berlaku.”
“Kalau begitu kita cek bersama.”
Ia langsung menatapku.
“Cek ke siapa?”
“Bu Niken.”
Ekspresi wajahnya memberi tahuku bahwa nama itu juga tidak asing baginya.
Arif mengambil kunci mobil dari meja.
“Jangan gegabah, Rat.”
“Aku belum melakukan apa pun.”
“Urusan keluarga jangan langsung dibawa ke orang luar.”
Aku menahan pintu sebelum ia keluar.
“Yang meminta orang luar mengurus surat tanah pertama kali siapa, Mas?”
Ia tidak menjawab.
Hari itu juga aku menelepon nomor Bu Niken yang tertulis di bagian bawah salinan surat.
Kantornya berada sekitar dua puluh menit dari rumah.
Bu Niken seorang notaris dan PPAT berusia sekitar lima puluhan. Ketika kusebut nama Bapak, ia diam beberapa saat.
“Pak Sumarno sudah meninggal?”
“Seminggu lebih sedikit, Bu.”
Ia mengucapkan belasungkawa, lalu memintaku datang dengan dokumen yang kumiliki.
Aku tidak membawa sertifikat asli pada pertemuan pertama.
Hanya salinan.
Bu Niken membaca semuanya perlahan.
Aku menceritakan dokumen pembagian yang dibacakan Pak Hendra.
Ia tidak langsung mengatakan dokumen siapa yang benar dan siapa yang salah.
Sebaliknya, ia bertanya, “Apakah sudah ada proses balik nama terhadap ketiga bidang ini?”
“Setahu saya belum.”
“Dokumen aslinya ada?”
“Ada.”
“Di tangan siapa?”
“Saya.”
Ia mengangguk.
“Jangan serahkan dan jangan menandatangani apa pun sebelum posisi dokumennya jelas.”
Lalu ia menunjukkan surat pencabutan kuasa.
“Ini memang dibuat melalui kantor kami. Ayah Anda datang bersama satu orang saksi keluarga. Kondisinya lemah, tetapi saat itu beliau bisa menjelaskan apa yang beliau inginkan.”
“Beliau bilang apa?”
Bu Niken menutup map.
“Saya tidak bisa menceritakan hal di luar yang relevan dengan dokumen tanpa dasar. Tetapi untuk dokumen ini, beliau secara jelas meminta kuasa sebelumnya dihentikan.”
Aku menghargai jawabannya.
Ia tidak berpura-pura tahu seluruh cerita keluarga kami.
Ia hanya mengatakan apa yang memang ia ketahui.
Aku menunjukkan salinan surat pembagian yang kupotret sebelum Arif membawanya pulang.
Bu Niken membacanya cukup lama.
“Dokumen ini perlu diperiksa lebih jauh,” katanya. “Yang paling penting, jangan menganggap pembacaan di rumah kemarin otomatis membuat semua sertifikat berpindah nama.”
Aku menahan napas.
“Jadi rumah belum menjadi milik Kakak saya?”
“Kalau yang Anda maksud sertifikatnya sudah berubah menjadi nama beliau, dari dokumen yang Anda bawa sekarang saya belum melihat bukti itu.”
Aku pulang dengan perasaan yang aneh.
Aku belum menang.
Arif juga belum kalah.
Tidak ada pintu kantor yang terbuka lalu seseorang berkata bahwa seluruh rumah kini milikku.
Yang berubah hanya satu.
Untuk pertama kalinya, aku tahu aku punya alasan untuk tidak menurut.
Sore itu aku memindahkan sertifikat asli dari rumah.
Aku menyewa kotak penyimpanan di bank yang selama ini kugunakan untuk rekening pribadiku.
Kubuat beberapa salinan.
Satu set kusimpan terpisah bersama surat Bapak.
Kemudian kuganti kata sandi email dan mobile banking yang selama ini kadang kubuka melalui laptop rumah.
Aku tidak tahu sejauh apa masalah ini akan berjalan.
Aku hanya tahu aku tidak ingin lagi memberi siapa pun akses hanya karena orang itu keluarga.
Dua hari kemudian, grup WhatsApp keluarga mulai ramai.
Paman Joko menelepon lebih dulu.
“Rat, Arif bilang kamu menahan sertifikat.”
“Memang ada sama aku.”
“Kenapa tidak diserahkan saja supaya cepat selesai?”
“Karena ada dokumen lain dari Bapak.”
“Dokumen apa?”
“Nanti kalau sudah jelas, aku jelaskan.”
Ia menarik napas panjang.
“Kalian ini saudara kandung. Jangan sampai tanah bikin pecah.”
Aku memandang kursi kosong Bapak.
“Pakde, selama sepuluh tahun waktu aku merawat Bapak, tidak pernah ada yang menelepon bilang jangan sampai urusan merawat orang tua bikin satu anak menanggung semuanya.”
Di seberang sana sunyi.
Aku melanjutkan, lebih pelan.
“Aku juga nggak mau pecah. Makanya aku mau semuanya jelas.”
Pakde tidak membantah lagi.
Namun tekanan tidak berhenti.
Ada yang mengatakan Arif mempunyai dua anak sehingga kebutuhannya lebih besar.
Ada yang bilang aku belum berkeluarga sehingga rumah sebesar itu terlalu luas untukku.
Seorang bibi bahkan menyarankan agar aku menerima uang secukupnya dari Arif dan tidak “memanjangkan urusan”.
Dulu mungkin aku akan diam.
Kali ini aku selalu menjawab hal yang sama.
“Aku tidak meminta rumah diberikan seluruhnya kepadaku. Aku cuma tidak akan menandatangani pembagian yang Bapak sendiri sudah pertanyakan sebelum meninggal.”
Kalimat itu tidak terdengar heroik.
Tidak ada yang terdiam kagum.
Beberapa orang malah menganggapku keras kepala.
Tetapi setiap kali mengucapkannya, aku merasa sedikit lebih ringan.
Seminggu kemudian Arif datang lagi.
Kali ini sendirian.
Wajahnya terlihat lebih lelah.
Ia duduk di teras tanpa masuk.
“Aku mau ngomong.”
Aku duduk di kursi seberangnya.
Ia menyalakan rokok, lalu mematikannya lagi sebelum sempat mengisap.
“Usahaku memang lagi bermasalah.”
Aku menunggu.
“Sudah hampir setahun.”
“Berapa?”
Arif menatap halaman.
“Utang usaha sekitar tiga ratus delapan puluh juta.”
Aku menelan ludah.
“Makanya tanah dekat jalan mau dijual?”
Ia tidak langsung mengangguk.
“Aku pikir kalau satu tanah dilepas, yang lain masih ada.”
“Tanah siapa?”
“Tanah Bapak.”
“Sekarang Mas bisa bilang begitu. Waktu membicarakannya ke calon pembeli, Mas bilang apa?”
Ia terdiam.
Aku teringat surat Bapak.
“Bapak pernah kasih Mas uang juga?”
Arif mengusap tengkuk.
“Pernah.”
“Berapa?”
“Tidak ingat persis.”
Aku bangkit, masuk ke kamar, lalu kembali membawa salinan beberapa kuitansi dari map Bapak.
Ada transfer Rp50 juta.
Rp30 juta.
Rp45 juta.
Beberapa jumlah lebih kecil.
Total yang bisa kutemukan mendekati Rp210 juta.
Aku meletakkannya di meja.
“Ini baru yang dicatat.”
Arif menunduk.
“Itu bantuan dari Bapak.”
“Di catatan beliau tertulis pinjaman modal.”
“Bapak nggak pernah nagih.”
“Karena beliau bahkan susah pergi ke kamar mandi sendiri.”
Arif mendadak membentak, “Jangan seolah-olah aku nggak pernah membantu!”
Aku terdiam.
Ia juga diam.
Beberapa detik kemudian suaranya turun.
“Aku transfer uang.”
“Iya.”
“Aku bayar rumah sakit juga pernah.”
“Iya.”
“Aku bukan anak yang sama sekali nggak peduli.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Terus apa?”
Aku menatapnya.
“Mas datang tiga hari, lalu pulang. Setelah itu Mas bisa kembali ke pekerjaan, istri, anak-anak, tidur malam. Aku tetap di sini.”
Wajahnya menegang.
Aku melanjutkan.
“Aku tidak menyesal merawat Bapak. Tapi jangan samakan transfer sesekali dengan hidup yang kutinggalkan sepuluh tahun.”
Arif memalingkan wajah.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia tidak punya jawaban.
Aku lalu bertanya satu hal yang paling ingin kuketahui.
“Waktu Bapak mencabut kuasa, Mas tahu kenapa?”
Lama sekali ia diam.
Kemudian ia mengangguk.
“Karena beliau tahu aku sudah bicara dengan orang soal tanah.”
“Jadi Bapak memang tidak setuju dijual.”
“Awalnya aku pikir beliau setuju.”
“Setelah dicabut?”
Arif menatapku.
Aku menunggu.
Akhirnya ia berkata, “Tidak.”
Satu kata itu mengubah seluruh percakapan.
Semua alasan lain masih bisa diperdebatkan.
Siapa yang lebih membutuhkan uang.
Siapa anak laki-laki.
Siapa mempunyai anak.
Siapa merawat Bapak.
Tetapi setelah Bapak jelas menarik izinnya, Arif tetap membawa surat lama dan membiarkan keluarga percaya semuanya sudah menjadi haknya.
Itu bukan salah paham.
Itu pilihan.
“Kenapa, Mas?”
Ia menunduk.
“Karena aku panik.”
“Karena utang?”
“Iya.”
“Dan Mas pikir aku akan mengalah.”
Ia tidak menjawab.
Aku tertawa kecil tanpa merasa lucu.
“Jawab.”
Arif mengusap wajah dengan kedua tangan.
“Aku pikir kamu tidak akan mempermasalahkan.”
“Kenapa?”
“Karena selama ini kamu memang nggak pernah mempermasalahkan apa-apa.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada kalau ia memakiku.
Karena benar.
Aku selalu menjadi orang yang dianggap akan mengerti.
Kalau Arif sibuk, aku mengerti.
Kalau uang tidak ada, aku mengerti.
Kalau keluarga menyuruhku menunda hidup, aku mengerti.
Lama-lama semua orang mengira pengertianku adalah izin.
Aku berdiri.
“Sertifikat tetap sama aku.”
Arif mengangkat kepala.
“Rat.”
“Aku akan urus semuanya melalui proses yang jelas. Kalau Mas merasa surat itu sah dan semua memang hak Mas, bawa lewat jalur yang benar.”
“Kamu mau menggugat aku?”
“Aku belum bilang begitu.”
“Terus?”
“Aku berhenti menyerahkan keputusan ke Mas.”
Ia duduk diam.
Sebelum pergi, Arif bertanya, “Kamu benci aku sekarang?”
Aku berpikir cukup lama sebelum menjawab.
“Nggak.”
Ia tampak terkejut.
“Aku cuma sudah nggak percaya.”
Bagiku, itu lebih jujur.
Dua bulan berikutnya melelahkan.
Aku beberapa kali bertemu Bu Niken dan seorang advokat untuk memahami pilihan yang kami miliki. Arif juga berkonsultasi sendiri.
Tidak ada penyelesaian dalam sehari.
Tidak ada satu dokumen ajaib yang langsung menghapus semua masalah.
Yang ada adalah pemeriksaan tanggal, dokumen asli, surat kuasa, surat pencabutan, catatan harta, dan percakapan panjang yang kadang harus dihentikan karena kami sama-sama emosi.
Akhirnya Arif berhenti mempertahankan klaim bahwa seluruh rumah dan tanah otomatis menjadi miliknya.
Bukan karena tiba-tiba ia berubah menjadi orang baik.
Ia tahu posisi dokumen yang dibawanya tidak sesederhana yang ia gambarkan kepada keluarga.
Ia juga tahu aku tidak akan lagi menyerahkan sertifikat hanya karena ia memintanya.
Kami sepakat menyelesaikan pembagian melalui kesepakatan tertulis yang diperiksa secara resmi.
Tidak semua orang di keluarga senang.
Ada yang masih berpendapat aku terlalu keras.
Ada yang menilai Arif seharusnya tetap mendapatkan bagian lebih besar karena ia anak laki-laki.
Aku berhenti berusaha meyakinkan mereka.
Aku tidak membutuhkan seluruh keluarga menyatakan aku benar.
Aku hanya membutuhkan keputusan tentang hidupku tidak lagi dibuat saat aku berdiri diam di sudut ruangan.
Dalam proses itu, kami menemukan catatan pengeluaran Bapak yang lebih lengkap.
Selama bertahun-tahun, beliau rupanya menulis dengan tangan kiri setiap kali aku menggunakan uangku sendiri untuk kebutuhan besar: rawat inap, alat bantu, renovasi kamar mandi agar kursi roda bisa masuk, sampai biaya perawatan ketika tabungannya sempat tidak cukup.
Aku bahkan sudah melupakan sebagian besar jumlahnya.
Di salah satu halaman Bapak menulis:
“Uang Ratri, harus dikembalikan kalau ada.”
Aku menangis lagi ketika membacanya.
Bukan karena berharap dibayar.
Karena ternyata ia memperhatikan.
Pada akhirnya, setelah beberapa kali pertemuan, kami mencapai kesepakatan.
Rumah tempat aku merawat Bapak tetap menjadi bagianku bersama sebidang tanah kecil di belakangnya.
Arif menerima satu bidang tanah lainnya.
Sebagian uang yang pernah ia terima dari Bapak untuk modal usaha diperhitungkan dalam kesepakatan keluarga, berdasarkan catatan yang bisa kami buktikan.
Tidak semua Rp210 juta diperlakukan sebagai utang karena ada beberapa transaksi yang memang tidak jelas maksudnya.
Aku setuju.
Aku tidak ingin membuat angka yang tidak bisa dibuktikan berubah menjadi senjata.
Tanah dekat jalan tidak dijual untuk menutup usaha Arif.
Ia harus menyelesaikan masalah bisnisnya dengan caranya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, ia menjual salah satu kendaraan usahanya dan mengecilkan gudang yang disewa.
Sesekali aku mendengar kabar bahwa cicilannya masih berjalan.
Aku tidak senang melihatnya kesulitan.
Tapi aku juga tidak lagi merasa wajib menyelamatkannya.
Hubunganku dengan Arif tidak langsung pulih.
Selama hampir tiga bulan kami hanya berbicara jika ada urusan dokumen.
Siska pernah datang sendiri membawa makanan.
Ia duduk di dapur sambil membantu memotong buah.
“Aku minta maaf,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kamu tahu?”
“Tidak semuanya.”
Ia menghela napas.
“Arif bilang Bapak sudah setuju tanah akan jadi bagiannya. Aku percaya.”
“Kamu pernah bilang aku tetap bisa tinggal sementara.”
Wajahnya berubah malu.
“Iya.”
“Waktu bilang itu, kamu sudah merasa rumah ini milik kalian?”
Siska tidak membela diri.
“Iya.”
Setidaknya ia menjawab jujur.
Aku menghargai itu.
Kami tidak menjadi dekat setelah percakapan tersebut, tetapi aku tidak lagi menyimpan kemarahan kepadanya sebesar sebelumnya.
Masalah utamanya bukan Siska.
Masalahnya adalah sebuah keyakinan yang terlalu lama dibiarkan tumbuh di keluarga kami.
Bahwa aku akan selalu mengalah.
Enam bulan setelah Bapak meninggal, Arif datang pada suatu Minggu pagi.
Ia tidak membawa map.
Tidak membawa dokumen.
Tidak meminta sertifikat.
Ia hanya membawa dua bungkus makanan untuk sarapan.
Kami duduk di teras.
Anak-anaknya tidak ikut.
Siska juga tidak.
Beberapa menit pertama kami hanya makan.
Kemudian ia berkata, “Aku sering mikir soal satu hal.”
“Apa?”
“Waktu dulu aku bilang kamu tinggal sama Bapak sementara.”
Aku meletakkan sendok.
“Aku ingat.”
“Aku benar-benar mikir cuma sebentar.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Setelah itu tahun berjalan terus. Aku makin sibuk. Tiap kali mau mikir lagi, aku bilang ke diri sendiri kamu baik-baik saja.”
Aku melihat halaman.
“Aku memang baik-baik saja.”
“Iya. Itu yang bikin gampang.”
Aku menoleh.
Arif menatap tangannya.
“Karena kamu nggak pernah telepon sambil marah. Nggak pernah bilang nggak sanggup. Jadi aku pakai itu sebagai alasan buat nggak pulang.”
Aku tidak tahu apakah itu permintaan maaf sempurna.
Mungkin bukan.
Namun setidaknya untuk pertama kalinya ia tidak menyalahkan pekerjaan, istrinya, anaknya, atau Bapak.
“Mas tahu yang paling membuatku marah?” tanyaku.
“Tanah?”
Aku menggeleng.
“Mas tahu Bapak mencabut kuasa, tapi tetap diam waktu surat lama dibacakan.”
Ia menunduk.
“Iya.”
“Kalau aku tidak menemukan jaket itu, Mas akan bilang?”
Arif tidak langsung menjawab.
Akhirnya ia berkata, “Mungkin tidak.”
Jawaban itu sakit.
Tetapi aku lebih memilih jawaban buruk yang jujur daripada alasan yang rapi.
“Kalau begitu jangan minta aku cepat percaya lagi.”
“Aku ngerti.”
Aku hampir mengatakan, “Semoga benar.”
Namun kutahan.
Kepercayaan tidak kembali lewat satu percakapan.
Jadi aku membiarkan waktu yang membuktikan.
Perlahan Arif mulai melakukan hal-hal kecil tanpa banyak bicara.
Ketika harus ada pengukuran ulang batas tanah, ia datang sesuai jadwal.
Ketika ada dokumen yang membutuhkan persetujuanku, ia tidak lagi mencoba meminta tanda tangan lewat orang lain.
Pada peringatan satu tahun kepergian Bapak, ia datang sejak pagi dan membantu membersihkan halaman.
Aku tidak menganggap itu sebagai penebusan sepuluh tahun.
Tidak ada tindakan sederhana yang bisa mengganti waktu.
Tetapi setidaknya ia mulai mengerti bahwa hadir tidak sama dengan mengirim uang.
Aku sendiri juga mulai belajar menjalani hidup yang selama ini selalu kutunda.
Beberapa bulan setelah urusan rumah selesai, aku menerima pekerjaan administrasi tetap di sebuah perusahaan distribusi di Solo dengan sistem kerja sebagian dari rumah.
Gajinya tidak luar biasa.
Aku juga tidak tiba-tiba menjadi perempuan sukses yang hidupnya berubah sempurna.
Aku hanya mempunyai jadwal kerja.
Rekan kerja.
Alasan keluar rumah selain rumah sakit.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bisa membuat rencana tanpa terlebih dahulu menghitung siapa yang akan menjaga Bapak.
Minggu pertama terasa aneh.
Pukul dua siang aku beberapa kali melihat jam dan berpikir harus menyiapkan obat.
Kemudian aku ingat.
Tidak ada obat lagi.
Ada kesedihan yang tidak hilang hanya karena konflik warisan selesai.
Kadang aku masih bangun tengah malam karena merasa mendengar Bapak memanggil.
Kadang aku membeli bubur terlalu banyak karena tanganku otomatis mengambil porsi untuk dua orang.
Rumah itu tetap menyimpan sepuluh tahun hidupku.
Yang baik dan yang melelahkan.
Yang kupilih dan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kuberi kesempatan untuk menolak.
Jaket cokelat Bapak tidak jadi kusumbangkan.
Aku mencucinya pelan-pelan, menjemurnya, lalu menggantungnya kembali di lemari.
Kotak logam kecil kusimpan di laci meja kerjaku.
Di sebelahnya ada kunci kuningan dan salinan surat terakhir Bapak.
Suatu sore, setelah pulang bekerja, aku berdiri di depan pintu rumah sambil memegang kunci baru.
Beberapa bulan sebelumnya aku sudah mengganti kunci rumah, bukan untuk menghukum Arif, tetapi karena selama bertahun-tahun terlalu banyak orang mempunyai duplikatnya.
Aku membuka pintu, masuk, lalu menguncinya kembali dari dalam.
Kunci kecil dari saku jaket Bapak tetap berada di laci.
Kunci rumah berada di tanganku.
Untuk pertama kalinya, keduanya memang seharusnya ada di tempat itu.
Menurutmu, apakah Ratri masih wajib memaafkan Arif setelah ia mengakui bahwa ia sengaja menyembunyikan keputusan terakhir Bapak?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
