Suamiku Diam-Diam Menjual Rumah Pernikahanku Saat Aku Dinas, Lalu Pembeli Datang Membawa Uang Muka—Ia Baru Pucat Ketika Notaris Menanyakan Satu Nama di Sertifikat yang Tidak Pernah Ia Kenal
Bagian 1 — Aku Pulang ke Bekasi dan Mendapati Rumah Mendadak Kosong, Namun Tamu Tak Diundang Membawa Kabar yang Membuat Tanganku Membeku di Depan Suamiku
Dua belas hari aku berada di Surabaya untuk mengurus proyek kantor.
Selama itu, aku hampir tidak pernah menelepon Arga lebih dari lima menit.
Bukan karena sibuk.
Aku sudah lelah.
Enam bulan terakhir, rumah kami di Bekasi lebih mirip rumah singgah keluarga suamiku daripada tempat tinggal pasangan yang sudah menikah empat tahun.
Ibu mertua, Bu Yanti, datang dengan alasan hanya menginap seminggu karena rumahnya di Karawang sedang direnovasi.
Seminggu berubah menjadi sebulan.
Sebulan berubah menjadi setengah tahun.
Adik perempuan Arga, Lilis, ikut pindah dengan alasan tempat kerjanya lebih dekat dari rumah kami.
Lalu ruang tamu penuh kardus dagangan online miliknya.
Kulkasku penuh makanan yang diberi label nama mereka.
Bahkan meja kecil di dekat jendela, tempatku biasa minum kopi sebelum berangkat kerja, berubah menjadi tempat Bu Yanti menaruh toples kerupuk dan obat-obatan.
Aku pernah meminta Arga bicara kepada mereka.
Jawabannya selalu sama.
“Nanti aku cari waktu yang enak.”
Atau:
“Mereka keluargaku, Nab. Masa kita hitung-hitungan tempat tinggal?”
Karena itu, ketika taksi berhenti di depan rumah sore itu dan aku melihat teras kosong, aku sempat mengira salah alamat.
Tidak ada sandal Bu Yanti.
Tidak ada motor Lilis.
Tidak ada jemuran pakaian yang biasanya memenuhi pagar samping.
Aku membuka pintu.
Ruang tamu bersih.
Sofa bed tempat Lilis tidur sudah dilipat dan disimpan.
Tiga kardus besar barang jualannya menghilang.
Rak sepatu yang biasanya sesak bahkan tinggal setengah.
Aku berdiri sambil memegang koper dan menatap sekeliling.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah itu terasa seperti rumahku lagi.
Arga keluar dari dapur membawa segelas teh dingin.
“Kamu sudah pulang?”
Senyumnya terlalu manis.
Aku mengangkat alis.
“Ibu sama Lilis mana?”
“Sudah pulang.”
Aku sampai mengira salah dengar.
“Pulang?”
Arga mengangguk sambil mendekat.
“Aku sudah ngomong tegas. Aku bilang kita butuh privasi. Aku juga sadar selama ini kamu terlalu banyak mengalah.”
Kalimat itu adalah sesuatu yang selama berbulan-bulan ingin kudengar.
Anehnya, ketika akhirnya dia mengucapkannya, aku justru tidak merasa lega sepenuhnya.
Ada sesuatu pada cara Arga tersenyum.
Seperti anak kecil yang baru menyembunyikan pecahan vas di belakang punggung.
Tapi aku terlalu lelah untuk berdebat.
Aku melepas sepatu dan menarik koper masuk.
“Kalau memang begitu, terima kasih.”
Wajah Arga langsung cerah.
“Nah, kan. Aku sebenarnya selalu mikirin kamu.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Lalu bel berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Cepat dan keras.
Arga yang tadi santai mendadak menoleh ke pintu.
Wajahnya berubah.
Hanya sedikit.
Tapi aku mengenal lelaki itu empat tahun.
Aku tahu kapan dia gugup.
“Aku buka,” kataku.
Arga langsung berdiri di depanku.
“Biar aku saja.”
“Kenapa?”
“Mungkin kurir.”
Dia berjalan terlalu cepat.
Pintu dibuka hanya selebar tubuhnya.
Namun suara seorang pria dari luar terdengar jelas.
“Pak Arga, kami datang sesuai janji. Pak Dimas sama Bu Sari mau ukur kamar belakang sekali lagi.”
Tanganku yang sedang membuka resleting koper berhenti.
Ukur kamar belakang?
Arga berbisik sesuatu.
Aku tidak mendengarnya.
Pria di luar malah tertawa kecil.
“Sebentar saja, Pak. Toh uang tanda jadinya sudah masuk. Minggu depan tinggal ketemu PPAT.”
Jantungku berdetak satu kali lebih keras.
Aku berjalan ke pintu.
“Siapa?”
Arga menoleh.
Mukanya pucat.
“Nabila, masuk dulu. Aku jelasin nanti.”
Aku menggeser tubuhnya dan membuka pintu lebar-lebar.
Di depan berdiri seorang pria sekitar tiga puluhan dengan kemeja biru dan tas selempang.
Di belakangnya ada pasangan suami istri berusia sekitar empat puluh tahun.
Perempuan itu memegang meteran laser.
Lelaki di sebelahnya membawa map.
Si pria berkemeja tersenyum profesional.
“Selamat sore, Bu.”
Dia lalu menoleh kepada Arga.
“Ini siapa, Pak?”
Aku menatap Arga.
Dia diam.
Aku menjawab sendiri.
“Saya istrinya.”
Senyum si pria lenyap.
Pasangan di belakangnya saling pandang.
Perempuan itu bertanya, “Istri?”
Aku mengangguk.
“Memangnya ada apa?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Akhirnya lelaki bernama Dimas itu mengangkat map.
“Kami calon pembeli rumah ini.”
Untuk beberapa detik, aku benar-benar tidak mengerti arti kalimat tersebut.
“Pembeli apa?”
“Rumah ini.”
Dia menunjuk lantai tempat kami berdiri.
“Kami sudah bayar tanda jadi Rp300 juta kepada Pak Arga.”
Aku memandang Arga.
Dia langsung menunduk.
Anehnya, aku tidak berteriak.
Aku bahkan tidak menangis.
Tubuhku justru terasa sangat dingin.
Aku bertanya pelan.
“Kamu jual rumah ini?”
“Nab…”
“Jawab.”
Arga menarik napas.
“Aku bisa jelasin.”
“Berapa?”
“Apa?”
“Berapa kamu jual rumah ini?”
Si agen properti terlihat makin tidak nyaman.
Arga akhirnya menjawab.
“Rp2,85 miliar.”
Aku mengangguk perlahan.
Harga pasaran rumah di kompleks kami memang sekitar angka itu.
Jadi rupanya dia sudah melakukan riset.
“Sudah tanda tangan apa saja?”
“Baru kesepakatan awal.”
“Uang Rp300 juta sudah kamu terima?”
Arga kembali mengangguk.
Bu Sari mulai terlihat kesal.
“Pak Arga, kemarin Bapak bilang istri Bapak setuju.”
Agen properti buru-buru menyela.
“Mungkin ada miskomunikasi keluarga.”
Aku menoleh kepadanya.
“Nama Anda siapa?”
“Reno.”
“Pak Reno, Bapak bilang minggu depan mau ke PPAT?”
“Iya, Bu. Rencananya verifikasi dokumen, lalu proses selanjutnya.”
“Dokumen apa yang diberikan suami saya?”
Reno terlihat ragu.
Arga tiba-tiba berkata keras, “Sudahlah! Ini masalah suami istri.”
Aku menatapnya.
“Justru karena aku istrimu, aku bertanya.”
Arga menarik lenganku dan membawaku beberapa langkah menjauh.
“Nab, jangan bikin keributan di depan orang.”
Aku melepaskan tangannya.
“Yang mengundang calon pembeli ke rumah tanpa sepengetahuanku siapa?”
Dia mengecilkan suara.
“Aku melakukan ini buat kita.”
Aku hampir tidak percaya.
“Buat kita?”
“Kita bisa beli rumah lebih kecil di Cibubur. Sisanya buat modal usaha.”
“Usaha siapa?”
Dia terdiam.
Aku sudah mendapatkan jawabannya.
“Lilis?”
Arga mengusap wajah.
“Lilis mau buka katering. Ibu juga punya utang yang harus diselesaikan. Kalau usaha itu jalan, semuanya akan kembali.”
Seketika aku paham kenapa Bu Yanti dan Lilis mendadak angkat kaki.
Bukan karena Arga akhirnya membela istrinya.
Mereka pergi karena rumah harus dikosongkan untuk pembeli.
Kebaikan yang selama sepuluh menit tadi hampir membuatku percaya bahwa pernikahan kami masih bisa diselamatkan ternyata hanya bagian dari transaksi.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena kalau tidak tertawa, mungkin aku akan menamparnya.
Arga justru salah memahami reaksiku.
Dia mendekat.
“Nab, dengar dulu. Kita tetap pegang uang banyak. Kamu tidak rugi.”
Aku memandangnya lurus.
“Kamu yakin rumah ini bisa kamu jual?”
Pertanyaan itu membuatnya berhenti.
Lalu wajahnya kembali percaya diri.
“Ya bisa. Ini kan rumah yang Tante Ratih kasih waktu kita menikah.”
“Benar.”
“Selama ini kita tinggal di sini. Semua orang juga tahu ini rumah kamu.”
Aku hampir tersenyum.
Itulah masalahnya.
Semua orang tahu rumah ini diberikan kepadaku.
Namun hanya beberapa orang yang tahu apa yang tertulis pada sertifikatnya.
Empat tahun lalu, beberapa minggu sebelum pernikahanku, Tante Ratih—adik kandung almarhum ayahku—membeli rumah ini.
Dia tidak punya anak.
Sejak kecil dia memperlakukanku seperti anak sendiri.
Saat menyerahkan kunci, dia berkata:
“Rumah ini kamu pakai. Anggap hadiah pernikahan. Tapi sertifikat tetap Tante pegang.”
Waktu itu aku sempat protes.
Tante Ratih hanya menjawab:
“Bukan karena Tante tidak percaya kamu. Tante belum percaya pada orang yang baru akan hidup bersamamu.”
Aku menganggapnya terlalu berhati-hati.
Sekarang, setelah empat tahun menikah, baru kusadari betapa mahalnya sebuah kehati-hatian.
Arga tahu rumah itu dibeli Tante Ratih.
Namun dia selalu mengira beberapa bulan setelah pernikahan, kepemilikannya sudah dipindahkan kepadaku.
Aku tidak pernah membenarkan.
Aku juga tidak pernah merasa perlu meluruskan.
Sebab sebelumnya, aku tidak pernah membayangkan suamiku sendiri akan mencoba menjualnya.
Aku menoleh kepada calon pembeli.
“Pak Dimas, Bu Sari, mohon maaf. Hari ini saya baru pulang dari perjalanan dinas dan baru mengetahui soal transaksi ini.”
Wajah Dimas langsung menegang.
“Jadi Ibu memang tidak pernah setuju?”
“Tidak pernah.”
Dia menatap Arga.
“Pak, Anda bilang istri Anda yang minta penjualan dipercepat.”
Arga menyela.
“Nabila cuma kaget. Nanti saya urus.”
Aku tidak menjawab.
Aku mengambil koper.
Masuk ke kamar.
Mengunci pintu.
Lalu mengambil ponsel.
Nama Tante Ratih masih tersimpan paling atas di daftar favorit.
Aku menelepon.
Tiga nada sambung.
“Tante?”
“Nabila? Sudah sampai Bekasi?”
Aku menelan ludah.
“Sudah.”
“Ada apa? Suaramu aneh.”
Aku menatap pintu kamar, sementara dari luar terdengar Arga membujuk pembeli agar tidak membatalkan kesepakatan.
“Tante… rumah yang Tante beli untuk aku ternyata sedang dijual Arga.”
Hening.
Beberapa detik kemudian, suara Tante Ratih berubah dingin.
“Dia menjual rumah siapa?”
“Rumah ini.”
“Dia sudah terima uang?”
“Rp300 juta.”
“Dia punya sertifikat asli?”
“Tidak mungkin. Sertifikatnya masih sama Tante, kan?”
“Tentu.”
Aku memejamkan mata.
Lalu Tante bertanya satu hal yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Nabila, besok mereka jadi ke PPAT?”
“Katanya begitu.”
“Bagus.”
Nada suaranya tenang sekali.
Terlalu tenang.
“Jangan beri tahu Arga apa pun malam ini.”
“Tante mau apa?”
Dia berhenti sebentar.
Lalu berkata:
“Biarkan suamimu datang membawa kebohongannya sendiri. Tante akan membawa sertifikat aslinya.”
Dan sebelum menutup telepon, Tante Ratih menambahkan satu kalimat yang membuatku sadar persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar rumah yang hendak dijual.
“Karena kalau dia sudah menandatangani surat atas nama pemilik rumah, besok kita akan tahu… tanda tangan siapa yang dia palsukan.”
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #SuamiBerkhianat #CeritaIndonesia #KarmaKeluarga
Bagian 2 — Satu Telepon ke Tante Ratih Membongkar Kebohongan Arga, Tetapi Uang Muka Pembeli Ternyata Sudah Mengalir ke Keluarganya Sejak Dua Minggu Lalu
Malam itu aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Justru Arga yang gelisah.
Dia mondar-mandir di depan kamar, mengetuk pintu beberapa kali, lalu akhirnya berkata:
“Nab, aku tahu caraku salah. Tapi besok ikut aku ke PPAT. Kita selesaikan baik-baik.”
Aku membuka pintu.
“Kalau aku ikut, kamu akan jujur soal semuanya?”
Wajahnya langsung lega.
“Iya.”
“Baik.”
Arga tersenyum.
Dia mengira aku menyerah.
Keesokan paginya kami menuju kantor PPAT di kawasan Jatiasih.
Pak Dimas, Bu Sari, dan Reno sudah menunggu.
Di atas meja terdapat beberapa dokumen.
Seorang perempuan berhijab bernama Ibu Maya memperkenalkan diri sebagai PPAT yang diminta memeriksa proses transaksi.
“Pak Arga membawa salinan sertifikat dan surat kuasa penjualan?” tanyanya.
Arga mengeluarkan map cokelat.
Tangannya sedikit gemetar.
“Ini.”
Aku duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa.
Ibu Maya membaca beberapa lembar.
Kemudian dahinya berkerut.
“Surat kuasa ini dari Ibu Nabila?”
Arga menjawab cepat.
“Iya.”
Aku hampir tertawa.
Jadi dia benar-benar membuat surat seolah aku memberinya kuasa.
Ibu Maya menoleh kepadaku.
“Ibu pernah menandatangani ini?”
Aku melihat halaman terakhir.
Ada nama lengkapku.
Di atasnya terdapat tanda tangan yang sekilas memang mirip punyaku.
Tapi bukan tanda tanganku.
“Tidak pernah.”
Wajah Arga seketika kosong.
Reno berdiri dari kursinya.
“Pak Arga?”
“Sebentar. Mungkin Nabila lupa.”
Aku menatapnya.
“Menurutmu aku bisa lupa pernah memberi izin menjual rumah senilai hampir tiga miliar?”
Ibu Maya segera menghentikan pembicaraan.
“Kalau pemberi kuasa menyangkal tanda tangan, dokumen ini tidak bisa digunakan.”
Kemudian ia mengambil salinan sertifikat.
“Lagi pula ada persoalan yang lebih mendasar.”
Arga menelan ludah.
“Apa?”
“Nama pemegang hak pada data yang kami periksa bukan Nabila Pradani.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Sari menatap suamiku seperti sedang melihat orang asing.
Ibu Maya melanjutkan.
“Pemilik terdaftar adalah Ratih Prameswari.”
Arga menoleh kepadaku begitu cepat sampai kursinya berdecit.
“Siapa Ratih Prameswari?”
Aku belum sempat menjawab.
Pintu kantor terbuka.
Tante Ratih masuk membawa tas dokumen hitam.
Usianya lima puluh dua tahun, rambutnya pendek sebahu, pakaiannya sederhana.
Namun cara dia berjalan membuat Arga langsung kehilangan suara.
Tante meletakkan sebuah map di meja.
“Ini sertifikat aslinya.”
Ibu Maya memeriksanya.
Sama.
Nama yang tertera jelas.
Ratih Prameswari.
Arga berdiri.
“Tante, ini pasti salah paham.”
Tante Ratih tidak menatapnya.
Dia justru bertanya kepada Pak Dimas.
“Bapak transfer Rp300 juta kepada siapa?”
Dimas membuka aplikasi bank dan menunjukkan bukti.
“Ke rekening pribadi Pak Arga.”
“Kapan?”
“Dua minggu lalu.”
Aku menoleh kepada suamiku.
Dua minggu.
Berarti ketika aku masih di Surabaya, uang itu sudah berada di tangannya.
Tante Ratih akhirnya menatap Arga.
“Uangnya masih ada?”
Tidak ada jawaban.
Aku sudah tahu sebelum dia membuka mulut.
“Arga.”
Aku memanggilnya.
“Uangnya di mana?”
Dia mengusap wajah.
“Sebagian terpakai.”
“Berapa?”
“Sekitar… dua ratus empat puluh juta.”
Bu Sari langsung berdiri.
“Apa?”
Pak Dimas menghantam telapak tangannya ke meja.
“Anda menggunakan uang kami sementara rumah saja bukan milik Anda?”
Arga panik.
“Saya akan kembalikan!”
“Dari mana?”
Dia terdiam.
Pintu kantor kembali terbuka.
Kali ini Bu Yanti dan Lilis masuk.
Aku baru tahu kemudian bahwa Arga diam-diam meminta mereka datang untuk “membantu membujukku”.
Begitu melihat Tante Ratih, Bu Yanti berhenti.
Namun hanya sebentar.
Dia malah berjalan mendekat dan berkata dengan suara tinggi:
“Ini semua bisa dibicarakan secara keluarga!”
Tante Ratih mengangkat alis.
“Keluarga siapa?”
Bu Yanti menunjuk rumah yang bahkan tidak terlihat dari kantor itu seolah bangunannya ada di depan kami.
“Arga suaminya Nabila. Mereka sudah tinggal bertahun-tahun di sana. Masa rumah begitu saja tidak boleh dipakai untuk membantu keluarga?”
Aku benar-benar tidak percaya.
“Dipakai?”
Aku menatapnya.
“Ibu menyebut menjual rumah orang tanpa izin sebagai ‘dipakai’?”
Bu Yanti tidak merasa bersalah.
“Uangnya bukan buat foya-foya! Utang Ibu lunas Rp90 juta. Sisanya untuk usaha Lilis. Kalau kateringnya maju, semuanya juga balik.”
Lilis yang berdiri di belakang ibunya langsung pucat.
“Bu, jangan bilang begitu…”
Aku menatap Arga.
Jadi semuanya memang sudah direncanakan.
Mereka pindah bukan hanya karena rumah akan dijual.
Mereka bahkan sudah membagi uangnya.
Reno memegangi kepalanya.
“Saya diberi informasi bahwa Pak Arga berhak menjual dan istrinya sudah memberi kuasa.”
Tante Ratih menunjuk surat di atas meja.
“Kuasa palsu?”
Arga membentak.
“Jangan bilang palsu dulu! Aku cuma—”
Ibu Maya langsung memotong.
“Pak Arga, hati-hati dengan ucapan Anda. Ibu Nabila sudah menyatakan tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.”
Ruangan semakin panas.
Namun yang paling mengejutkan belum keluar.
Pak Dimas membuka WhatsApp.
“Kalau begitu saya juga mau menunjukkan sesuatu.”
Dia mencari sebuah percakapan.
Lalu meletakkan ponselnya tepat di depan kami.
Itu chat dari Arga.
Aku membacanya perlahan.
Pak Dimas sebelumnya ternyata pernah bertanya kenapa sertifikat asli belum diperlihatkan.
Jawaban Arga tertulis jelas:
“Sertifikat asli dipegang istri saya karena dia sedang ke luar kota. Kalau dibutuhkan, surat kuasa bisa saya siapkan. Yang penting Bapak transfer tanda jadi dulu supaya unit tidak diambil orang.”
Di bawahnya ada pesan lain.
“Tenang saja, tanda tangan istri urusan saya.”
Tanganku mengepal.
Jadi ini bukan keputusan spontan.
Bukan kekhilafan.
Bukan kesalahan karena terdesak.
Suamiku tahu sejak awal dia tidak memiliki dokumen yang dibutuhkan.
Dia hanya percaya semuanya bisa diatur setelah uang masuk.
Arga mencoba merebut ponsel itu.
Pak Dimas menarik tangannya.
“Jangan sentuh.”
Lalu untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Arga menatapku bukan dengan rasa bersalah.
Melainkan dengan kemarahan.
“Kamu sengaja jebak aku, ya?”
Aku sampai terdiam.
“Aku?”
“Kalau dari awal kamu bilang sertifikat bukan atas namamu, semua ini tidak akan terjadi!”
Di situlah sisa rasa kasihan yang masih tersimpan di dalam diriku benar-benar hilang.
Dia memalsukan persetujuanku.
Dia mengambil uang orang.
Dia membagikannya kepada keluarganya.
Dan sekarang…
Dia menyalahkan aku karena tidak memberitahunya bahwa rumah yang ingin dia curi ternyata bukan milikku.
Tante Ratih menutup mapnya.
Kemudian berkata kepada Pak Dimas dengan sangat tenang:
“Bapak tidak perlu berdebat lagi.”
Dia menatap Arga.
“Sekarang pilihannya cuma dua. Uang Rp300 juta dikembalikan, atau semua dokumen ini kita bawa ke pihak berwenang.”
Arga masih hendak bicara.
Namun Pak Dimas mengangkat ponselnya.
“Saya sudah simpan seluruh chat, bukti transfer, dan surat yang katanya ditandatangani istri Anda.”
Lalu dia mengucapkan kalimat yang akhirnya membuat lutut Arga seperti kehilangan tenaga.
“Dan saya tidak datang ke sini hanya membawa bukti.”
“Saya sudah menghubungi pengacara saya.”
Bagian 3 — Di Hadapan Notaris dan Pembeli, Nama Pemilik Asli Membuat Arga Kehilangan Segalanya, Sementara Aku Memilih Hidup yang Baru Tanpa Menoleh Lagi Padanya
Tiga hari berikutnya adalah tiga hari paling kacau selama pernikahanku.
Pak Dimas tidak mau lagi berkomunikasi langsung dengan Arga.
Semua pembicaraan dilakukan melalui pengacaranya.
Reno dan kantor agen tempatnya bekerja juga menyerahkan salinan percakapan serta dokumen transaksi setelah mengetahui informasi yang diberikan Arga tidak sesuai kenyataan.
Tante Ratih melakukan hal yang sangat sederhana.
Dia tidak berteriak.
Tidak mengancam.
Dia hanya menarik seluruh izin Arga dan keluarganya untuk menggunakan rumah miliknya.
“Mulai hari ini,” katanya, “yang boleh tinggal di rumah itu hanya Nabila.”
Bu Yanti hampir meledak.
“Kalau Arga tidak boleh tinggal di sana, dia mau tinggal di mana?”
Tante menjawab:
“Itu pertanyaan yang seharusnya Ibu pikirkan sebelum memakai uang hasil penjualan rumah saya.”
Untuk pertama kalinya Bu Yanti tidak punya jawaban.
Masalah terbesar tetap uang Rp300 juta.
Rp90 juta sudah digunakan untuk melunasi utang Bu Yanti.
Sekitar Rp130 juta masuk ke rekening Lilis untuk menyewa ruko kecil, membeli peralatan dapur, freezer, dan membayar uang muka mobil bekas untuk operasional katering.
Sisanya dipakai Arga untuk komisi awal, membayar beberapa kewajiban pribadinya, dan entah apa lagi.
Tidak ada satu rupiah pun yang digunakan untuk “rumah baru kami”, seperti alasan yang dia berikan kepadaku.
Ketika kenyataan itu terbuka, Arga masih mencoba membujukku.
Malam sebelum batas waktu pengembalian uang, dia menungguku di depan kantor.
“Nab, tolong aku sekali ini.”
Aku berjalan melewatinya.
Dia mengejar.
“Kalau Pak Dimas bawa ini ke proses hukum, hidupku bisa hancur.”
Aku berhenti.
“Waktu kamu membuat tanda tanganku, kamu memikirkan hidupku?”
Dia terdiam.
“Waktu kamu menjual rumah Tante Ratih, kamu memikirkan aku?”
“Niatku cuma mau bantu keluarga.”
“Lalu aku ini apa?”
Arga tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Kamu tidak sedang membantu keluarga, Ga. Kamu mengorbankan satu orang supaya tiga orang lain nyaman. Dan orang yang kamu pilih untuk dikorbankan adalah istrimu sendiri.”
Matanya merah.
Untuk sesaat, bagian diriku yang pernah mencintainya hampir goyah.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang menghapus semuanya.
“Kalau kamu mau pinjamkan uang tabunganmu dulu, semua masalah selesai.”
Aku tertawa.
Ternyata bahkan saat terpojok pun dia masih melihatku sebagai dompet terakhir yang bisa dibuka.
“Tidak.”
Hanya itu jawabanku.
Akhirnya keluarga Arga panik.
Bu Yanti mengembalikan Rp55 juta dari sisa uang yang belum digunakan dan menjual sebagian perhiasannya.
Lilis membatalkan sewa lanjutan rukonya, menjual kembali beberapa peralatan dapur, dan mengembalikan hampir seluruh dana yang masih tersisa.
Arga menjual mobil Honda HR-V miliknya yang selama ini dia banggakan.
Reno mengembalikan bagian komisi yang sudah sempat diterima.
Setelah beberapa hari, uang Rp300 juta akhirnya terkumpul dan dikembalikan kepada Pak Dimas.
Namun pengembalian uang tidak otomatis menghapus apa yang sudah terjadi.
Karena ada dokumen dengan tanda tanganku yang tidak pernah kubuat dan rangkaian informasi palsu dalam transaksi, persoalan itu tetap dibawa ke jalur resmi untuk diperiksa.
Aku tidak ikut campur dalam bagaimana proses tersebut berjalan.
Untuk pertama kalinya, aku berhenti menyelamatkan Arga dari akibat perbuatannya sendiri.
Sebulan kemudian aku mengajukan perceraian.
Bu Yanti menelepon berkali-kali.
Awalnya marah.
Kemudian memohon.
Terakhir menyalahkanku.
“Kamu tega menghancurkan rumah tangga hanya gara-gara uang.”
Aku mendengarkannya sampai selesai.
Lalu menjawab:
“Bukan uang yang menghancurkan rumah tangga saya, Bu.”
“Yang menghancurkannya adalah saat anak Ibu memutuskan bahwa tanda tangan istrinya bisa dipalsukan, rumah orang lain bisa dijual, dan kepercayaan bisa ditukar dengan modal usaha.”
Setelah itu aku memblokir nomornya.
Arga masih mengirim pesan selama berminggu-minggu.
Kadang meminta maaf.
Kadang menyalahkan ibunya.
Kadang menyalahkan keadaan.
Kadang mengatakan dia masih mencintaiku.
Aku tidak lagi membalas.
Proses perceraian memang tidak membuat empat tahun pernikahan hilang dalam semalam.
Ada malam ketika aku masih menangis sendirian.
Ada pagi ketika aku bangun dan secara refleks mencari suara Arga di dapur.
Ada pula saat aku melihat foto lama kami dan bertanya-tanya kapan tepatnya lelaki yang dulu kupilih berubah menjadi orang yang sanggup melakukan semua itu.
Tapi lama-lama aku memahami sesuatu.
Kadang kita terlalu sibuk mencari kapan seseorang berubah sampai lupa mempertanyakan kemungkinan yang lebih sederhana:
Mungkin sifat itu selalu ada.
Kita saja yang terlalu lama memaafkannya.
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Suatu Minggu pagi, Tante Ratih datang membawa dua gelas kopi dan sebuah map.
Aku langsung curiga.
“Jangan bilang Tante bawa dokumen lagi.”
Dia tertawa.
“Trauma?”
“Lumayan.”
Dia duduk di meja tempat aku biasa bekerja.
Kemudian mendorong map itu ke arahku.
Di dalamnya terdapat dokumen untuk proses hibah rumah secara resmi kepadaku.
Aku langsung menutupnya.
“Tante…”
“Dengar dulu.”
“Tapi dulu Tante bilang sertifikat sengaja disimpan atas nama Tante.”
“Benar. Dan keputusan itu menyelamatkanmu sekali.”
Dia menggenggam tanganku.
“Tapi sekarang Tante tidak sedang melindungimu dari Arga. Tante ingin memastikan kamu berdiri dengan namamu sendiri.”
Mataku panas.
“Tante yakin?”
“Yakin.”
Lalu dia tersenyum kecil.
“Cuma satu syarat.”
“Apa?”
“Kalau nanti menikah lagi, jangan pernah merasa bersalah karena punya sesuatu atas namamu sendiri.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Baik.”
Enam bulan setelah hari ketika calon pembeli tiba-tiba masuk ke rumahku, rumah itu benar-benar berubah.
Bukan karena renovasi besar.
Aku hanya mengecat ulang ruang tamu.
Mengeluarkan sofa bed lama.
Membuang rak tambahan milik Lilis.
Dan di dekat jendela, aku mengembalikan meja kecil tempatku minum kopi.
Di balkon, aku menanam rosemary, cabai, dan beberapa pot bunga yang dulu selalu kutunda karena Bu Yanti mengatakan tanaman hanya membuat rumah kotor.
Suatu pagi, aku duduk sendirian di sana.
Tidak ada suara orang bertengkar.
Tidak ada keluarga yang merasa berhak menentukan isi rumahku.
Tidak ada suami yang menghitung berapa harga tempat tinggalku ketika aku sedang bekerja di kota lain.
Hanya ada cahaya pagi, secangkir kopi, dan rumah yang akhirnya benar-benar terasa aman.
Dulu aku mengira kehilangan suami berarti kehilangan keluarga.
Ternyata aku salah.
Hari ketika Arga mencoba menjual rumah yang bukan miliknya memang mengakhiri pernikahanku.
Namun pada hari yang sama, tanpa kusadari, aku juga mendapatkan kembali sesuatu yang selama bertahun-tahun perlahan hilang.
Hak untuk menentukan batas.
Hak untuk mengatakan tidak.
Dan yang paling penting…
Hak untuk menjalani hidup tanpa harus meminta izin kepada siapa pun untuk merasa aman di rumah sendiri.

