Suamiku Membawa Sekretarisnya Pulang Lewat Tengah Malam, Menyerahkan Kamar Kami untuknya—Aku Diam di Sofa, Lalu Satu Telepon kepada Ayah Mertuaku Membuat Seluruh Rumah Mendadak Terjaga dan Rahasia Mereka Terbuka Sebelum Pagi

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 1,112 tayangan
Auto Draft
Indeks

Suamiku Membawa Sekretarisnya Pulang Lewat Tengah Malam, Menyerahkan Kamar Kami untuknya—Aku Diam di Sofa, Lalu Satu Telepon kepada Ayah Mertuaku Membuat Seluruh Rumah Mendadak Terjaga dan Rahasia Mereka Terbuka Sebelum Pagi

Bagian 1 — Malam Itu Aku Menyerahkan Kamar Tanpa Bertengkar, tetapi Satu Panggilan Membuat Suamiku Kehilangan Wajah di Depan Keluarganya Sendiri Dalam Lima Belas Menit

Pukul 00.17, suamiku pulang membawa sekretaris perempuannya.

Bukan sekadar mengantarnya sampai teras.

Bayu membukakan pintu, memegang pinggang perempuan itu agar tidak terjatuh, membawa tasnya masuk, lalu mengatakan sesuatu yang membuatku berdiri membeku dengan rambut masih basah setelah mandi.

“Laras, malam ini Maya tidur di kamar kita. Kamu pakai sofa dulu.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kupikir aku salah dengar.

Ternyata tidak.

Perempuan yang berdiri di samping suamiku bernama Maya Kurnia, sekretaris pribadinya di PT Pratama Logistik, perusahaan distribusi milik keluarga Bayu di Surabaya.

Aku pernah bertemu Maya beberapa kali.

Usianya sekitar tiga puluh tahun, selalu tampil rapi, berbicara lembut, dan tidak pernah lupa memanggilku, “Mbak Laras,” dengan senyum sopan setiap kami bertemu dalam acara kantor.

Tapi malam itu penampilannya berbeda.

Blus kremnya kusut. Rambutnya terurai. Makeup di sekitar matanya sedikit luntur.

Ia bersandar pada lemari sepatu sambil memejamkan mata.

“Aku pusing sekali, Mbak,” katanya lirih. “Maaf merepotkan.”

Aku memandang Bayu.

“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?”

“Dia cuma vertigo setelah acara klien.”

“Kalau begitu antar pulang.”

“Rumahnya jauh.”

“Panggil keluarganya.”

“Tidak ada yang bisa jemput.”

Jawaban Bayu selalu datang sangat cepat, seolah semua pilihan sudah ia tutup sebelum aku sempat menyebutkannya.

Aku menunjuk kamar tamu.

“Dia bisa tidur di sana.”

Bayu mengembuskan napas panjang.

“Kamar tamu penuh sampel produk.”

“Ruang kerja?”

“Banyak dokumen.”

Aku menatap pintu kamar tidur kami.

“Jadi dari seluruh rumah dua lantai ini, satu-satunya tempat perempuan itu bisa tidur adalah ranjang istrinya?”

Wajah Bayu berubah.

“Jangan mulai, Laras.”

Hanya tiga kata.

Tapi tiga kata itu membuat dadaku terasa lebih dingin daripada lantai marmer di bawah kakiku.

Jangan mulai.

Seolah-olah akulah masalahnya.

Bukan suami yang membawa sekretaris perempuan masuk rumah lewat tengah malam.

Bukan suami yang menyuruh istrinya meninggalkan kamar sendiri.

Aku bahkan belum meninggikan suara.

Namun Bayu sudah lebih dulu memperlakukanku seperti perempuan pencemburu yang tidak rasional.

Maya menarik lengan Bayu pelan.

“Pak, saya di sofa saja. Tidak apa-apa.”

Bayu langsung menoleh kepadanya.

“Jangan keras kepala. Kamu hampir jatuh dua kali di mobil.”

Nada suaranya berubah.

Lembut.

Sabar.

Nada yang sudah berbulan-bulan jarang kudengar saat ia bicara kepadaku.

Lalu, tanpa meminta persetujuanku lagi, Bayu membawa Maya menuju kamar utama.

Aku mengikuti mereka dengan mata.

Ia membuka pintu.

Menyalakan lampu.

Menarik selimut yang pagi tadi kurapikan sendiri.

Kemudian membantu Maya duduk di sisi ranjang tempat aku tidur setiap malam selama enam tahun terakhir.

Tas kulit milik Maya diletakkan di meja kecil di sebelah bantal milikku.

Sederhana.

Hanya sebuah tas.

Namun melihat benda milik perempuan lain berada di sisi tempat tidurku membuat sesuatu dalam diriku seperti patah tanpa suara.

Bayu keluar beberapa menit kemudian.

“Sudah. Dia tidur sebentar. Besok pagi aku antar.”

Aku tetap berdiri.

“Kamu tidur di mana?”

“Ruang kerja.”

Aku hampir tertawa.

“Katanya ruang kerja penuh barang.”

Dia menatapku kesal.

“Kalau tidak bisa, aku di sofa. Apa itu membuatmu puas?”

Aku menggeleng.

“Aku tidak sedang mencari kepuasan.”

“Lalu apa?”

“Aku cuma sedang memastikan apakah kamu benar-benar menganggap ini normal.”

Bayu mengusap wajah.

“Laras, aku capek.”

“Kita semua capek.”

“Dia sedang sakit.”

“Dan aku istrimu.”

Bayu diam.

Untuk sesaat, kupikir ia akan memahami apa yang sedang kukatakan.

Ternyata tidak.

Ia malah berkata,

“Kadang-kadang aku benar-benar heran kenapa kamu selalu membuat hal sederhana menjadi rumit.”

Aku menatap laki-laki yang sudah kunikahi selama enam tahun itu.

Mendadak aku tidak mengenalnya.

Aku tidak menangis.

Tidak berteriak.

Tidak melempar tas Maya keluar.

Aku berjalan ke lemari penyimpanan dekat tangga, mengambil selimut tipis bermotif daun yang biasa kami gunakan saat menonton televisi, kemudian membentangkannya di sofa.

Bayu mengikuti dari belakang.

“Kamu serius tidur di sini?”

Aku merapikan bantal.

“Bukankah itu yang kamu minta?”

“Aku cuma minta kamu mengerti situasinya satu malam.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku mengerti.”

Entah kenapa, jawaban itu justru membuatnya semakin kesal.

“Jangan bicara seolah-olah aku melakukan sesuatu yang buruk.”

Aku tidak menjawab.

Dari dalam kamar terdengar suara Maya memanggil pelan.

“Pak Bayu…”

Bayu langsung berbalik.

Ia bahkan tidak menunggu perempuan itu memanggil untuk kedua kali.

Pintu kamar tertutup kembali di depan mataku.

Aku duduk di sofa.

Rumah mendadak sunyi.

Jam dinding berbunyi pelan.

Tik.

Tik.

Tik.

Tanganku meraih ponsel.

Awalnya aku membuka kontak ibuku.

Kutelatap nama itu beberapa detik.

Lalu kututup.

Aku tidak ingin ibuku datang tengah malam dan melihat anak perempuannya diusir dari kamar sendiri.

Setidaknya belum.

Kemudian aku melihat satu nama lain.

“Papa Hendra.”

Ayah Bayu.

Pak Hendra bukan tipe mertua yang mencampuri rumah tangga anaknya.

Selama enam tahun pernikahan kami, ia hampir tidak pernah bertanya soal pertengkaran kami.

Justru karena itulah aku memilih meneleponnya.

Panggilan tersambung setelah tiga dering.

“Laras?”

Suara beliau terdengar berat karena baru bangun.

“Kenapa malam-malam?”

Aku memandang pintu kamar tidur.

“Papa, Bayu pulang membawa Maya.”

Sunyi.

“Maya siapa?”

“Sekretarisnya.”

“Sekarang?”

“Iya.”

“Jam segini?”

“Iya.”

Beliau langsung terdengar lebih sadar.

“Kenapa?”

“Bayu bilang dia pusing setelah minum di acara kantor dan tidak ada yang bisa menjemput.”

Pak Hendra diam beberapa detik.

Kemudian bertanya,

“Maya sekarang di mana?”

Aku menarik selimut lebih rapat ke tubuhku.

“Di kamar utama.”

Sekali lagi sunyi.

“Kalau kamu?”

“Di sofa.”

Aku mendengar suara sesuatu terjatuh di seberang telepon.

Mungkin gelas.

Mungkin remote televisi.

Suara Pak Hendra naik satu tingkat.

“Bayu menyuruh kamu keluar dari kamar?”

“Katanya cuma satu malam.”

“Kasih telepon ke Bayu.”

“Dia sedang di dalam kamar.”

Kali ini suara Pak Hendra benar-benar berubah.

“Bersama Maya?”

“Iya.”

Belum sempat aku menjawab lebih jauh, ponsel Bayu berbunyi dari balik pintu kamar.

Beberapa detik kemudian terdengar suaranya.

“Pa?”

Aku bisa mendengar suara Pak Hendra karena beliau berbicara sangat keras.

“Kamu bawa sekretarismu ke rumah?”

Bayu langsung tahu siapa yang menelepon lebih dulu.

Ia membuka pintu dan memandangku.

Tatapan itu tajam.

“Laras telepon Papa?”

Aku tetap duduk.

Pak Hendra membentak dari telepon.

“Jangan tanya Laras! Jawab Papa!”

Bayu berjalan menjauh.

“Maya sedang sakit.”

“Rumah sakit tutup?”

“Bukan begitu.”

“Hotel habis?”

“Pa…”

“Rumah perempuan itu tidak punya alamat?”

“Tidak ada keluarganya yang bisa dihubungi.”

Tiba-tiba Pak Hendra diam.

Bayu mungkin mengira percakapan selesai.

Ternyata beberapa detik kemudian ayahnya bertanya,

“Acara klien tadi selesai jam berapa?”

Bayu terdiam.

“Sekitar sepuluh.”

“Bohong.”

Wajah Bayu berubah.

Aku ikut menegakkan punggung.

Pak Hendra melanjutkan,

“Pak Yanto baru mengirim laporan acara ke grup direksi. Acara selesai pukul 21.05.”

Bayu menjawab cepat.

“Kami masih membahas kontrak setelah itu.”

“Di mana?”

Tidak ada jawaban.

“Bayu, Papa tanya. Dari jam sembilan sampai lewat tengah malam kalian ke mana?”

Maya muncul di ambang pintu kamar.

Wajahnya sudah tidak sepucat tadi.

“Pak Bayu, ada masalah?”

Pak Hendra mendengar suaranya.

“Maya ada di situ?”

Bayu menekan rahang.

“Pa, besok saja kita bicara.”

“Tidak.”

Suara ayahnya datar.

Justru lebih menakutkan daripada bentakan.

“Papa sedang menuju rumahmu.”

Bayu menoleh padaku.

“Kamu puas sekarang?”

Aku belum sempat menjawab ketika ponsel Pak Hendra berbunyi di saluran telepon.

Beliau berkata sebentar kepada seseorang, lalu kembali bicara kepadaku.

“Laras.”

“Iya, Pa?”

“Papa baru minta bagian HR membuka data kontak darurat Maya.”

Aku melihat Maya mendadak kaku.

Pak Hendra melanjutkan,

“Nomor yang tercatat bukan nomor orang tuanya.”

Bayu tidak bergerak.

“Maya mencantumkan suaminya sebagai kontak darurat.”

Aku menoleh cepat kepada perempuan itu.

Maya benar-benar kehilangan warna wajahnya kali ini.

Pak Hendra berkata pelan,

“Namanya Arman.”

Lalu kalimat berikutnya membuat ruang tamu seperti kehilangan udara.

“Dan Arman baru mengangkat telepon Papa.”

Bayu langsung berkata,

“Pa, jangan libatkan orang lain.”

Tapi Pak Hendra tidak berhenti.

“Dia bilang istrinya meninggalkan rumah pukul tujuh malam dengan membawa pakaian ganti.”

Maya berdiri membeku.

“Katanya malam ini ada audit luar kota.”

Pak Hendra menarik napas panjang.

“Arman sedang menuju ke rumah kalian sekarang.”

Aku menatap Bayu.

Untuk pertama kalinya malam itu, laki-laki yang sejak tadi menyuruhku jangan membuat masalah tidak memiliki satu kalimat pun untuk membela dirinya.

Dan ketika bel rumah berbunyi keras tiga kali berturut-turut tepat pukul 00.43, aku sadar masalah yang sebenarnya bahkan belum dimulai.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #SuamiBerselingkuh #PerempuanBerani #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Ayah Mertuaku Datang Membawa Satu Pertanyaan Sederhana, lalu Kebohongan Sang Sekretaris Pecah Bersamaan dengan Bukti yang Disembunyikan Suamiku Selama Berbulan-bulan

Orang pertama yang tiba bukan Arman.

Pak Hendra datang bersama Mama Ratna.

Ayah mertuaku masuk tanpa melepas sandal rumah yang dipakainya.

Ia bahkan masih mengenakan jaket tipis di atas kaus tidur.

Begitu melihatku duduk dengan selimut di sofa, ekspresinya berubah.

Kemudian pandangannya berpindah ke Maya yang berdiri di dekat kamar utama.

“Keluar dari kamar itu.”

Maya langsung menunduk.

“Maaf, Pak…”

“Bukan soal maaf.”

Pak Hendra menunjuk sofa tunggal di sudut ruang.

“Duduk di sana.”

Bayu maju.

“Pa, jangan perlakukan dia seperti terdakwa.”

Pak Hendra menoleh.

“Kalau begitu kamu yang duduk.”

Bayu membeku.

Mama Ratna mendekatiku.

Tangannya menyentuh rambutku yang masih lembap.

“Kamu sudah makan?”

Pertanyaan sederhana itu hampir membuatku menangis.

Bukan karena lapar.

Tapi karena sejak Bayu masuk rumah, tidak sekali pun ia bertanya apakah aku baik-baik saja.

Bel kembali berbunyi.

Seorang laki-laki tinggi dengan kemeja kotak-kotak masuk begitu Bayu membuka pintu.

Wajahnya tegang.

“Maya.”

Maya berdiri.

“Mas…”

Jadi benar.

Dia memang menikah.

Arman tidak mendekatinya.

Ia hanya menatap Maya, kemudian Bayu, lalu ranjang di balik pintu kamar yang masih terbuka.

“Audit luar kota?”

Maya membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Bayu ikut bicara.

“Mas Arman, jangan salah paham.”

Arman tertawa pendek.

“Aneh. Semua laki-laki yang ketahuan bersama istri orang selalu bilang kalimat itu.”

Bayu memerah.

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kalau begitu gampang.”

Arman mengeluarkan ponselnya.

“Tolong jelaskan ini.”

Di layar terlihat sebuah email reservasi.

Serviced apartment di kawasan Pakuwon.

Nama pemesan: Maya Kurnia.

Metode pembayaran: kartu korporat PT Pratama Logistik.

Tanggal reservasi tersebar dalam beberapa bulan.

Satu malam.

Dua malam.

Kadang tiga malam.

Total empat belas malam.

Ruangan langsung sunyi.

Pak Hendra mengambil ponsel itu.

Bayu mencoba mendekat.

“Pa, itu untuk tamu perusahaan.”

Arman menjawab lebih dulu.

“Kalau untuk tamu perusahaan, kenapa konfirmasi reservasinya masuk ke email pribadi istri saya?”

Bayu tidak menjawab.

Maya menutup wajah.

Pak Hendra bertanya satu pertanyaan.

Sangat sederhana.

“Siapa yang tidur di apartemen itu?”

Bayu menatap lantai.

Maya menangis.

Tidak ada seorang pun yang perlu mendengar jawabannya lagi.

Tetapi malam itu ternyata bukan hanya tentang perselingkuhan.

Pak Hendra menelepon kepala keuangan perusahaan.

Jam hampir satu lewat dua puluh, tetapi setelah mendengar suara pemilik perusahaan, orang itu segera membuka sistem.

Satu demi satu transaksi muncul.

Makan malam klien.

Transportasi proyek.

Penginapan mitra.

Entertainment.

Nilainya tidak terlalu besar jika dilihat satu per satu.

Rp3,8 juta.

Rp5,2 juta.

Rp7,6 juta.

Namun jika disusun berdasarkan tanggal reservasi serviced apartment, polanya terlihat jelas.

Biaya-biaya itu muncul setiap kali Bayu dan Maya menginap.

Mereka menggunakan uang perusahaan untuk membayar pertemuan rahasia mereka.

Pak Hendra meletakkan ponselnya di meja.

“Besok kamu tidak masuk kantor.”

Bayu terkejut.

“Pa.”

“Mulai sekarang semua akses ke rekening operasional dibekukan sampai audit selesai.”

“Aku direktur operasional!”

“Kamu anak saya.”

Pak Hendra menatapnya lurus.

“Tapi perusahaan itu bukan dompet pribadi kamu.”

Bayu tiba-tiba berbalik kepadaku.

“Lihat apa yang kamu lakukan.”

Aku sampai harus memastikan bahwa aku tidak salah mendengar.

“Apa?”

“Kalau kamu tidak menelepon Papa, masalah ini tidak akan jadi seperti ini.”

Ada jeda panjang.

Kemudian sesuatu dalam diriku yang sejak tadi terasa sakit mendadak menjadi sangat tenang.

Aku berdiri dari sofa.

“Bayu.”

Ia menatapku.

“Aku hanya melakukan satu hal malam ini.”

“Aku menelepon ayahmu dan mengatakan sekretarismu tidur di kamar kita.”

Aku menunjuk ponsel Arman.

“Apartemen itu bukan aku yang pesan.”

Aku menunjuk laporan transaksi.

“Tagihan itu bukan aku yang buat.”

Aku menunjuk Maya.

“Pernikahan kalian juga bukan aku yang bohongi.”

Lalu kutatap langsung matanya.

“Jangan letakkan akibat dari pilihanmu di pundakku.”

Untuk pertama kalinya, Bayu tidak bisa menjawab.

Arman meminta Maya ikut pulang.

Maya menggeleng sambil menangis.

“Aku tidak mau pulang.”

“Tenang.”

Arman mengangguk.

“Aku juga tidak datang untuk membawamu pulang.”

Wajah Maya terangkat.

“Aku hanya mau memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi sebelum besok aku mengajukan apa yang memang harus kuajukan.”

Ia lalu pergi.

Maya terduduk lemas.

Aku seharusnya merasa puas.

Anehnya, aku tidak.

Aku hanya lelah.

Aku berjalan menuju kamar tamu untuk mengambil koper kecil.

Bayu langsung mengejarku.

“Kamu mau ke mana?”

“Rumah orang tuaku.”

“Kita bisa bicara.”

“Enam bulan terakhir aku sudah terlalu sering mencoba bicara.”

“Jangan ambil keputusan saat emosi.”

Aku menoleh.

“Aku justru baru bisa berpikir jernih malam ini.”

Aku memasukkan pakaian seperlunya.

Tiba-tiba dari ruang tamu terdengar suara Maya.

“Pak Hendra.”

Suaranya gemetar.

“Kalau saya kehilangan pekerjaan karena ini…”

Pak Hendra tidak menjawab.

Maya menelan ludah.

“…Bayu juga tidak boleh pura-pura seolah semuanya hanya soal apartemen.”

Aku berhenti memasukkan baju.

Bayu bergegas keluar kamar.

“Maya, diam.”

Perempuan itu menatapnya.

Entah karena takut atau marah, wajahnya berubah total.

“Kamu yang bilang semuanya aman.”

“Maya!”

“Kamu yang suruh aku buat vendor itu!”

Pak Hendra berdiri.

“Vendor apa?”

Bayu langsung kehilangan warna wajah.

Maya mengambil napas panjang.

Kemudian mengatakan satu nama yang membuat ayah mertuaku menoleh perlahan kepada putranya.

“CV Bintang Timur.”

Pak Hendra seperti mengenali nama itu.

Maya melanjutkan,

“Enam bulan terakhir, lebih dari empat ratus juta rupiah dipindahkan ke sana sebagai biaya konsultasi.”

Ruangan benar-benar sunyi.

“Perusahaan itu bukan milik konsultan.”

Maya menunjuk Bayu dengan tangan gemetar.

“Pemilik sebenarnya adalah teman kuliahnya.”

Bayu berteriak,

“Cukup!”

Namun sudah terlambat.

Maya menatap Pak Hendra.

“Dan saya punya bukti semua instruksinya.”

Bagian 3 — Saat Suamiku Memintaku Menutup Malu Keluarga, Aku Memilih Pergi dengan Bukti Lengkap dan Membiarkan Mereka Membayar Harga dari Pilihan Sendiri

Pagi itu aku meninggalkan rumah sebelum azan Subuh selesai terdengar dari masjid di ujung kompleks.

Aku membawa satu koper.

Tidak membawa televisi.

Tidak membawa barang mahal.

Bahkan cincin pernikahanku masih tergeletak di meja rias.

Bayu berdiri di depan pintu.

Matanya merah.

“Laras, jangan pergi seperti ini.”

Aku memakai sepatu tanpa menoleh.

“Kamu sendiri yang menyuruhku keluar dari kamar tadi malam.”

“Itu berbeda.”

“Benar.”

Aku akhirnya memandangnya.

“Tadi malam aku keluar dari kamar.”

“Sekarang aku keluar dari hidup yang selama ini membuatku terus mempertanyakan harga diriku sendiri.”

Bayu mencoba memegang tanganku.

Aku menariknya.

“Kasih aku kesempatan.”

“Kesempatan untuk apa?”

“Aku akan bereskan semuanya.”

Aku hampir tersenyum.

“Yang mau kamu bereskan pernikahan kita atau laporan audit?”

Dia diam.

Itulah jawabannya.

Aku pulang ke rumah orang tuaku.

Selama tiga hari pertama, ponselku hampir tidak berhenti berbunyi.

Bayu menelepon.

Mama Ratna menelepon.

Saudara-saudaranya mengirim pesan.

Sebagian meminta maaf.

Sebagian meminta aku mempertimbangkan nama baik keluarga.

Satu tante bahkan berkata,

“Perselingkuhan laki-laki bisa selesai, jangan sampai rumah tangga enam tahun dibuang begitu saja.”

Pesan itu kubaca dua kali.

Lalu kuhapus.

Rumah tangga enam tahun bukan aku yang membuangnya.

Aku hanya berhenti memungut sesuatu yang sudah diinjak orang lain.

Audit perusahaan berlangsung hampir tiga minggu.

Pak Hendra menggunakan auditor eksternal agar tidak ada yang bisa mengatakan ia sengaja menjatuhkan anak sendiri.

Hasilnya lebih buruk dari dugaan awal.

CV Bintang Timur memang menerima pembayaran fiktif.

Total Rp438 juta.

Sebagian uang dipakai Bayu untuk menutup biaya pribadi.

Sebagian lagi masuk ke rekening seseorang bernama Fajar, teman kuliahnya.

Maya tidak mengambil jumlah sebesar Bayu, tetapi ia membantu membuat dokumen pendukung, mengubah deskripsi invoice, dan mengatur administrasi penginapan agar terlihat seperti biaya klien.

Semua jejak tersimpan dalam email kantor.

Tidak ada teriakan yang bisa menghapusnya.

Tidak ada alasan “hanya salah paham” yang bisa menyelamatkannya.

Pak Hendra memberhentikan Bayu dari jabatan direktur.

Bukan menurunkan posisi.

Memberhentikan.

Aksesnya ke perusahaan dicabut.

Saham keluarga yang secara hukum belum menjadi miliknya tetap berada di bawah kendali Pak Hendra.

Bonus tahunan dibatalkan.

Perusahaan menuntut pengembalian dana yang terbukti dipakai secara tidak sah dan melaporkan transaksi fiktif itu sesuai prosedur hukum.

Maya juga diberhentikan.

Arman mengajukan perceraian.

Sedangkan aku menghubungi pengacara.

Ketika Bayu mengetahui itu, ia datang ke rumah orang tuaku.

Ia berdiri di teras hampir satu jam.

Akhirnya aku keluar.

Untuk pertama kalinya sejak malam itu, ia terlihat jauh lebih tua.

“Harus sampai cerai?”

Aku menjawab,

“Aku tahu kamu berharap masalah terbesarnya adalah Maya.”

Bayu diam.

“Bukan.”

Aku melanjutkan,

“Masalah terbesarnya adalah saat kamu membawa perempuan lain masuk rumah, lalu meyakinkanku bahwa akulah yang tidak masuk akal karena keberatan.”

Ia menunduk.

“Aku salah.”

“Ya.”

“Aku menyesal.”

“Aku percaya kamu menyesal.”

Bayu mengangkat kepala, seolah menemukan harapan.

Lalu aku menyelesaikan kalimatku.

“Tapi penyesalanmu tidak mewajibkanku kembali.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku masih sayang kamu.”

“Kalau rasa sayang tidak disertai hormat, orang yang menerimanya hanya akan terus terluka.”

Tidak ada tamparan.

Tidak ada adegan aku melempar barang.

Aku hanya menyerahkan satu amplop.

Di dalamnya ada dokumen dari pengacaraku.

Bayu menatapnya lama.

Kemudian pergi.

Proses perceraian kami tidak selesai dalam sehari.

Ada mediasi.

Ada pembagian aset.

Ada pembicaraan yang melelahkan.

Rumah yang kami beli setelah menikah akhirnya dijual, kemudian bagian kepemilikan dibagi sesuai kesepakatan hukum.

Aku tidak meminta lebih.

Tapi aku juga tidak lagi menyerahkan apa yang menjadi hakku hanya demi disebut perempuan baik.

Enam bulan kemudian, hidupku terasa sangat berbeda.

Aku menyewa sebuah rumah kecil dekat studio interior yang sudah kurintis bahkan sebelum menikah.

Dulu Bayu sering menyebut pekerjaanku “sekadar proyek sampingan”.

Setelah perceraian, aku justru mencurahkan seluruh energiku ke sana.

Dua proyek menjadi lima.

Lima menjadi sembilan.

Aku merekrut dua desainer muda dan seorang admin.

Suatu sore Mama Ratna datang membawa makanan.

Hubunganku dengan keluarga Bayu tidak langsung hilang.

Pak Hendra tetap sesekali menanyakan kabarku.

Ia tidak pernah sekali pun memintaku kembali kepada anaknya.

Hari itu Mama Ratna duduk di ruang tamuku yang sederhana.

“Papa Hendra kadang masih merasa malu kalau ingat malam itu.”

Aku tersenyum.

“Kenapa Papa yang malu?”

“Karena dia merasa gagal mendidik Bayu.”

Aku menuangkan teh.

“Kesalahan orang dewasa adalah tanggung jawab orang dewasa itu sendiri, Ma.”

Mama Ratna mengangguk pelan.

Sebelum pulang, ia memelukku.

“Semoga setelah ini hidupmu lebih tenang.”

Aku mengira kata “tenang” akan terdengar menyedihkan.

Ternyata tidak.

Tenang ternyata sangat mahal.

Dan setelah bertahun-tahun hidup sambil menyesuaikan diri dengan suasana hati orang lain, aku baru sadar betapa berharganya pulang ke rumah tanpa takut dianggap berlebihan ketika mengatakan sesuatu menyakitiku.

Beberapa bulan setelah itu, kabar terakhir tentang Bayu datang melalui pengacaraku.

Ia sudah mengembalikan sebagian besar kerugian perusahaan dengan menjual mobil serta investasinya.

Kasus keuangan perusahaan tetap diproses terpisah sesuai hasil pemeriksaan.

Pak Hendra tidak mengembalikannya ke perusahaan.

Maya pun tidak pernah bekerja di sana lagi.

Aku tidak bertanya apakah hubungan mereka bertahan.

Aku tidak perlu tahu.

Sebab untuk pertama kalinya, hidupku tidak lagi bergerak berdasarkan apa yang dilakukan Bayu.

Pada ulang tahunku yang ketiga puluh lima, tim kecil di studionya—studionya yang dulu disebut Bayu sebagai pekerjaan sampingan—memberiku kue.

Salah satu staf berkata,

“Mbak Laras, bikin permintaan dulu.”

Aku memejamkan mata.

Dulu mungkin aku akan meminta rumah tangga yang damai.

Suami yang setia.

Keluarga yang utuh.

Malam itu aku tidak meminta semua itu.

Aku membuka mata dan meniup lilin.

Karena aku akhirnya memahami sesuatu.

Keluarga yang terlihat utuh dari luar tidak selalu lebih berharga daripada hidup yang jujur.

Dan perempuan tidak kehilangan rumah ketika meninggalkan tempat yang sudah tidak menghormatinya.

Kadang-kadang, justru saat ia berani menutup satu pintu, ia baru menemukan rumah yang sesungguhnya.

Bukan sebuah bangunan.

Bukan sebuah ranjang.

Melainkan hidup di mana ia tidak perlu tidur di sofa agar perempuan lain merasa nyaman.

Dan malam ketika Bayu menyuruhku keluar dari kamar kami ternyata bukan malam ketika hidupku hancur.

Itu malam ketika aku akhirnya bangun.