Suamiku Membelikan Jam Hampir Satu Miliar untuk Mantannya—Aku Hanya Meminta Cerai, tetapi Keesokan Harinya Satu Berkas Rekening Membuat Senyumnya Hilang di Depan Pengacara Kami

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 881 tayangan
Auto Draft
Indeks

Suamiku Membelikan Jam Hampir Satu Miliar untuk Mantannya—Aku Hanya Meminta Cerai, tetapi Keesokan Harinya Satu Berkas Rekening Membuat Senyumnya Hilang di Depan Pengacara Kami

Bagian 1 — Foto Jam di Ponselku Membuka Kebohongan Tujuh Tahun, dan Malam Itu Suamiku Masih Mengira Aku Akan Memohon Kembali

Foto itu masuk ke WhatsApp-ku pukul 21.12.

Aku sedang berdiri di dapur, mematikan api kecil di bawah panci sup iga yang sudah kumasak hampir tiga jam.

Di layar ponsel terlihat sebuah jam tangan pria-wanita edisi terbatas, dial hitam, bingkai rose gold, masih tergeletak di atas kotak beludru toko resmi.

Di sampingnya ada kuitansi.

Rp938.500.000.

Aku memperbesar foto itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Bukan karena angka di sana terlalu kecil.

Aku hanya ingin memastikan bahwa mataku tidak sedang mempermainkanku.

Pengirimnya bernama Keisya Mahendra.

Mantan pacar suamiku.

Pesannya hanya satu kalimat.

“Jangan salah paham, Mbak. Awalnya aku menolak, tetapi Mas Raka bilang dia sudah berjanji dan memaksaku menerimanya.”

Aku membaca kata “memaksaku” berulang-ulang.

Aneh.

Aku tidak marah.

Tanganku bahkan tidak gemetar.

Padahal sore tadi aku sengaja pulang lebih cepat dari kantor karena lambung Raka sedang bermasalah.

Aku membeli iga yang tidak terlalu berlemak, mengeluarkan cabai dari resep, bahkan mengurangi lada karena dokter pernah bilang ia harus menghindari makanan terlalu pedas.

Tujuh tahun menikah membuatku hafal bagaimana ia menyukai makanannya.

Ternyata tujuh tahun belum cukup membuatku tahu kepada siapa ia rela menghabiskan hampir satu miliar rupiah.

Pukul 21.36, pintu rumah terbuka.

Raka masuk sambil melepas dasi.

“Ada makan?”

“Ada.”

Ia tidak melihat wajahku.

Tidak sadar apa pun.

Setelah mandi sebentar, ia duduk di meja makan. Aku menuangkan sup ke mangkuknya, menambahkan nasi, lalu duduk di seberangnya.

Raka makan dua sendok sebelum bertanya, “Kamu nggak makan?”

“Sudah.”

“Kok pucat?”

“Capek.”

Ia mengangguk.

Kemudian ponselnya menyala.

Nama di layar hanya muncul sebentar sebelum ia buru-buru menggeser notifikasi.

Keisya.

Gerakannya cepat sekali.

Terlalu cepat untuk disebut kebetulan.

Aku mengambil gelas.

“Kamu tadi ke Plaza Senayan?”

Sendoknya berhenti di udara.

“Habis ketemu klien. Kenapa?”

“Belanja?”

Ia menatapku.

Ada sepersekian detik ketika wajahnya berubah.

Lalu ia tersenyum.

“Sekarang istriku jadi detektif?”

“Aku tanya kamu belanja atau tidak.”

“Beli sedikit barang.”

“Jam?”

Sunyi.

Aku membuka foto dari Keisya, menaruh ponsel di meja, lalu mendorongnya ke hadapan Raka.

Wajahnya langsung kaku.

Namun kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru membuat sesuatu di dalam diriku benar-benar mati.

“Dia menghubungi kamu?”

Bukan, “Itu bukan milikku.”

Bukan, “Aku bisa menjelaskan.”

Tetapi, “Dia menghubungi kamu?”

Aku mengangguk.

“Jadi benar?”

Raka meletakkan sendok.

“Nadira, jangan langsung bikin kesimpulan.”

“Aku belum menyimpulkan apa-apa. Jelaskan.”

Ia menghela napas seperti akulah masalah yang harus ia selesaikan malam itu.

“Keisya baru dipromosikan jadi regional manager. Tahun lalu ibunya juga sempat sakit. Aku pernah janji kalau kariernya membaik, aku akan kasih hadiah.”

Aku hampir tertawa.

“Hadiah promosi sembilan ratus tiga puluh delapan juta?”

“Jangan fokus ke angkanya.”

“Kalau begitu aku harus fokus ke apa?”

“Hubungan kami sekarang cuma teman.”

“Semua teman perempuanmu dapat hadiah satu miliar kalau naik jabatan?”

Raka mengerutkan kening.

“Nah, kan. Kamu mulai lagi.”

Kalimat itu.

Aku sudah mendengarnya selama bertahun-tahun.

Saat Raka membatalkan makan malam ulang tahunku karena harus mengantar Keisya ke bandara, katanya aku terlalu sensitif.

Saat mereka melihat apartemen bersama karena Keisya ingin pindah dari Kemang, katanya aku suka mencurigai orang.

Saat aku melihat percakapan mereka lewat tengah malam, katanya mereka sedang membahas bisnis.

Setiap kali aku bertanya lebih jauh, Raka selalu punya kalimat pamungkas.

“Kalau kamu memang mau berpikir jelek, aku jelaskan apa pun juga percuma.”

Begitu mudah.

Dengan satu kalimat, orang yang berbohong bisa terlihat lelah.

Dan orang yang bertanya justru dibuat merasa bersalah.

Malam itu aku tidak ingin memainkan permainan itu lagi.

Aku bertanya pelan, “Uangnya dari mana?”

Wajah Raka berubah.

“Apanya?”

“Rp938 juta bukan uang receh.”

Aku membuka aplikasi bank.

“Empat bulan lalu kamu bilang perusahaan kekurangan kas karena dua klien menunda pembayaran.”

“Aku transfer Rp600 juta dari deposito atas namaku supaya gaji karyawanmu tidak terlambat.”

“Bulan lalu kamu juga bilang renovasi rumah kita harus ditunda karena kondisi perusahaan belum stabil.”

“Sekarang kamu punya hampir satu miliar untuk membeli jam mantanmu.”

“Jadi aku cuma ingin tahu. Uangnya dari mana?”

Raka menyandarkan tubuh.

“Bonus direktur.”

“Bonus tahun ini?”

“Iya.”

“Dari perusahaan yang katanya kekurangan kas?”

Rahangnya mengeras.

“Ini uangku.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Uang yang kamu hasilkan selama kita menikah.”

“Apa sekarang semua pengeluaranku harus minta izin?”

“Tidak.”

Aku mengangguk.

“Itulah sebabnya aku tidak akan melarangmu lagi.”

Ia menatapku curiga.

Aku bangkit, mematikan lampu dapur yang masih menyala, lalu kembali duduk.

“Raka.”

“Apa?”

“Kita cerai.”

Ia diam dua detik.

Lalu tertawa.

Benar-benar tertawa.

Seolah aku baru saja mengancam akan pindah ke bulan.

“Hanya gara-gara jam?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Jam itu cuma membuatku berhenti mencari alasan untuk mempertahankan semuanya.”

Ia mengusap wajah.

“Nadira, umurmu tiga puluh empat. Jangan berperilaku seperti anak kuliahan yang mengancam putus.”

“Aku tidak mengancam.”

“Kamu pikir setelah pergi kamu akan senang?”

“Aku belum tahu.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku sudah tahu aku tidak bahagia di sini.”

Raka mendorong kursinya ke belakang.

“Baik.”

Ia berjalan ke ruang kerja.

Sepuluh menit kemudian, ia keluar membawa laptop dan sebuah map.

Dua tahun sebelumnya, ketika kami membeli rumah di Bintaro, pengacara keluarga pernah menyarankan kami membuat daftar asal-usul dana untuk menghindari masalah pajak dan sengketa aset.

Raka membuka berkas itu.

“Mau cerai? Kita bicarakan sekarang.”

“Nggak usah bikin drama.”

“Rumah jual, hasilnya bagi dua.”

“Mobil masing-masing pegang yang biasa dipakai.”

“Saham PT Arunika tetap milikku.”

“Tabungan pribadi masing-masing.”

Ia menatapku seakan sedang menantang.

“Setuju?”

Aku menarik map itu.

“Rumah tidak bisa langsung dibagi dua.”

Raka tertawa pendek.

“Kenapa?”

“Uang muka Rp2,4 miliar berasal dari penjualan ruko warisan ibuku.”

“Sisa cicilan selama lima tahun sebagian besar dibayar dari rekening bersama.”

“Semua mutasi masih ada.”

Wajahnya mulai berbeda.

Aku melanjutkan.

“Modal pertama PT Arunika sebesar Rp1,15 miliar juga berasal dari transfer ayahku tujuh tahun lalu.”

“Itu bantuan.”

“Di bukti transfer tertulis pinjaman modal.”

“Dan ada surat pengakuan utang yang kamu tandatangani sendiri.”

Raka menatapku.

Lama.

“Kamu selama ini menghitung semuanya?”

“Tidak.”

Aku menutup map.

“Aku hanya tidak membuang dokumen.”

Ia tertawa dingin.

“Pantas. Diam-diam ternyata kamu sibuk menyiapkan jalan keluar.”

Aku tidak menjawab.

Karena kalimat itu lucu.

Selama tujuh tahun aku berusaha mencari alasan untuk tetap tinggal.

Sekarang, ketika aku akhirnya memilih pergi, aku justru dituduh sejak awal ingin meninggalkannya.

Kami membahas aset sampai hampir tengah malam.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada piring pecah.

Mungkin karena untuk pertama kalinya aku tidak membawa cinta ke meja perundingan.

Pada pukul 00.18, kami selesai membuat kesepakatan awal mengenai pemisahan aset sambil menunggu proses resmi perceraian melalui Pengadilan Agama.

Rumah tetap padaku dengan perhitungan kompensasi tertentu.

Mobil SUV dan saham perusahaan tetap di tangan Raka.

Pinjaman dari ayahku kepada perusahaan harus diverifikasi sebelum penyelesaian final.

Soal jam Keisya, aku hanya menulis satu kalimat:

“Penggunaan dana bersama maupun dana perusahaan untuk kepentingan pribadi tetap tunduk pada pemeriksaan bukti transaksi.”

Raka membacanya.

“Masih mau mempermasalahkan jam?”

“Kalau uangnya memang uangmu, seharusnya kamu tidak takut diperiksa.”

Ia mengambil pulpen.

Lalu menandatangani.

Cepat.

Bahkan setelah itu ia masih sempat tersenyum.

“Kamu paling tahan dua hari.”

Aku diam.

“Nanti setelah emosi turun, kamu sendiri yang telepon aku.”

Aku memasukkan dokumen ke dalam map.

Raka berjalan menuju kamar sambil berkata tanpa menoleh, “Besok jangan malu kalau berubah pikiran.”

Aku tidak menjawab.

Karena lima belas menit sebelumnya, seorang teman lama yang bekerja sebagai auditor sudah mengirimkan hasil penelusuran transaksi yang kuminta.

Jam Rp938 juta itu ternyata memang bukan masalah terbesar.

Pembayarannya ditarik melalui kartu perusahaan.

Dan tiga minggu sebelumnya, dari rekening operasional PT Arunika keluar Rp2,86 miliar menuju sebuah perusahaan properti.

Di kolom keterangan tertulis:

“DP Unit 17B – K. Mahendra.”

K. Mahendra.

Keisya Mahendra.

Saat itulah aku sadar, selama ini aku bukan sedang mempertahankan pernikahan yang retak.

Aku sedang membiayai kehidupan kedua suamiku tanpa mengetahuinya.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #PerempuanBerani #CeritaViral

Bagian 2 — Keesokan Harinya Aku Membawa Bukti ke Pengacara, tetapi Transfer Apartemen untuk Mantannya Ternyata Menyimpan Kebohongan yang Lebih Besar

Pukul sembilan pagi, aku sudah duduk di kantor pengacara bernama Ratih Prameswari.

Raka mengenalnya.

Ratih pernah membantu kami memeriksa akta rumah.

Bedanya, pagi itu aku datang sebagai klien pribadi.

Aku menyerahkan salinan kesepakatan semalam, mutasi rekening, bukti pinjaman ayahku, dan laporan transaksi PT Arunika.

Ratih membaca semuanya tanpa terburu-buru.

Setelah hampir dua puluh menit, ia menunjuk transfer Rp2,86 miliar.

“Kalau ini benar berasal dari rekening operasional perusahaan, masalahnya bukan cuma perceraian.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

“Apakah kamu pemegang saham?”

“Tidak langsung. Ayahku kreditur perusahaan. Aku pernah menjadi komisaris selama dua tahun, lalu mengundurkan diri.”

Ratih menatapku.

“Berarti jangan ambil langkah sendiri. Kita verifikasi.”

Aku setuju.

Aku tidak ingin menghancurkan perusahaan.

Ada hampir enam puluh karyawan di sana.

Mereka tidak bersalah karena direktur mereka tidak bisa membedakan uang bisnis dengan kehidupan pribadi.

Siang itu Raka menelepon sebelas kali.

Aku tidak mengangkat.

Pukul 13.40, ia mengirim pesan.

“Kamu benar-benar ke pengacara?”

Aku membalas singkat.

“Aku juga sudah mendaftarkan gugatan.”

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Kemudian teleponku berdering.

Kali ini kuangkat.

“Kamu serius?”

“Dari semalam aku sudah serius.”

“Nadira, kita baru bicara beberapa jam!”

“Kita sudah membicarakan masalah yang sama selama bertahun-tahun.”

“Cabut gugatan itu.”

“Tidak.”

Ia terdiam.

Lalu suaranya turun.

“Oke. Kita ketemu. Jangan libatkan perusahaan.”

Aku menatap jendela kantor Ratih.

“Kenapa?”

“Itu urusan kita.”

“Kalau pembayaran jam dan apartemen memakai uang perusahaan, itu bukan cuma urusan kita.”

Untuk pertama kalinya, Raka tidak langsung menjawab.

“Nadira, dengarkan aku.”

“Aku sedang dengar.”

“DP apartemen itu investasi.”

“Atas nama siapa?”

Sunyi.

Aku bertanya lagi.

“Atas nama siapa, Raka?”

Sambungan terputus.

Sore harinya justru Keisya yang menghubungiku.

Ia meminta bertemu di sebuah kafe di Senopati.

Awalnya aku ingin menolak.

Lalu ia menulis satu kalimat.

“Mbak harus tahu apa yang Mas Raka bilang kepada saya selama setahun terakhir.”

Aku datang.

Keisya tidak terlihat seperti perempuan yang baru menang.

Wajahnya pucat.

Jam hampir satu miliar itu bahkan tidak ada di pergelangan tangannya.

Ia mendorong kotak jam ke arahku.

“Aku mau mengembalikan ini.”

“Bukan milikku.”

“Aku juga tidak mau.”

Lalu ia menunjukkan percakapan mereka.

Raka mengatakan kami sudah berpisah kamar hampir setahun.

Bohong.

Raka mengatakan proses perceraian tertunda karena aku meminta bagian perusahaan terlalu besar.

Bohong.

Raka mengatakan apartemen itu investasi bersama yang kelak akan mereka tempati setelah perceraian selesai.

Bohong lagi.

Yang paling membuatku diam adalah tanggal percakapan pertama tentang apartemen.

Hari yang sama ketika aku mentransfer Rp600 juta ke perusahaan karena Raka berkata puluhan karyawannya terancam terlambat gajian.

Ketika aku menyelamatkan arus kas perusahaannya, ia sedang memilih lantai apartemen untuk perempuan lain.

Keisya menunduk.

“Aku memang salah karena tetap dekat dengan suami orang.”

“Tapi aku tidak tahu dia memakai uang perusahaan.”

“Aku juga tidak tahu Mbak belum pernah setuju bercerai.”

Aku tidak memaafkannya.

Tapi aku juga tidak perlu menjadikannya musuh utama.

Orang yang membuat janji kepadaku bukan Keisya.

Melainkan Raka.

Dua hari kemudian, rapat darurat perusahaan dilakukan setelah komisaris utama menerima laporan auditor internal.

Raka datang dengan wajah gelap.

Ayahnya, Pak Hendra, duduk di ujung meja.

Dua pemegang saham lain hadir.

Aku hanya datang sebagai pihak yang memiliki dokumen pinjaman.

Pertanyaan pertama sederhana.

“Kenapa pembayaran apartemen pribadi menggunakan rekening operasional perusahaan?”

Raka menjawab bahwa apartemen itu akan dijadikan aset investasi.

Auditor meminta dokumen persetujuan direksi.

Tidak ada.

Mereka meminta nama perusahaan dalam perjanjian pembelian.

Tidak ada.

Mereka meminta bukti apartemen terdaftar sebagai aset PT Arunika.

Tidak ada.

Nama dalam surat pemesanan hanya satu.

Keisya Mahendra.

Pak Hendra memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya aku melihat ayah Raka kehilangan kata-kata.

Raka menatapku.

“Kamu puas?”

Aku menjawab, “Aku bahkan belum selesai.”

Aku mengeluarkan bukti pinjaman Rp1,15 miliar dari ayahku.

Tanggal jatuh temponya sudah lewat delapan bulan.

Selama ini aku tidak pernah menagih karena menganggap perusahaan Raka adalah bagian dari masa depan keluarga kami.

Sekarang keluarga itu sudah tidak ada.

Ratih meletakkan surat resmi di meja.

“Klien kami meminta penyelesaian kewajiban sesuai perjanjian.”

Raka langsung berdiri.

“Kamu mau membuat perusahaanku bangkrut?”

Aku menatapnya.

“Perusahaanmu tidak bangkrut karena membayar utang.”

“Perusahaanmu bisa bangkrut karena direktur membeli apartemen dan jam mewah untuk mantannya memakai uang operasional.”

Ruangan sunyi.

Pak Hendra memukul meja.

“Cukup!”

Ia menatap putranya.

“Mulai hari ini akses keuanganmu dibekukan sampai audit selesai.”

Raka pucat.

Namun kejutan terbesar datang beberapa menit kemudian.

Auditor membuka transaksi lain.

Selama sebelas bulan terakhir, ada tujuh pembayaran kepada sebuah vendor konsultasi bernama PT Mahardika Kreasi.

Totalnya Rp1,72 miliar.

Alamat perusahaannya sama dengan alamat kantor kecil milik kakak Keisya.

Raka segera berkata, “Itu jasa marketing.”

Auditor membuka satu map lagi.

“Kalau begitu kami hanya perlu kontraknya.”

Tidak ada seorang pun bergerak.

Karena semua orang di ruangan itu mulai memahami hal yang sama.

Jam tangan itu ternyata bukan hadiah pertama.

Apartemen itu bukan transaksi pertama.

Dan kalau tujuh pembayaran tersebut tidak memiliki pekerjaan nyata di belakangnya, maka masalah Raka sudah jauh melampaui perselingkuhan.

Ratih menoleh kepadaku dan berbisik pelan,

“Sekarang jangan tanda tangani penyelesaian apa pun sebelum audit ini selesai.”

Raka mendengarnya.

Wajahnya langsung berubah.

Barulah malam itu ia mengerti mengapa aku begitu tenang ketika meminta cerai.

Aku tidak sedang mencoba menakutinya agar kembali mencintaiku.

Aku benar-benar sedang keluar.

Dan kali ini, seluruh kebohongan yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan ikut keluar bersamaku.

Bagian 3 — Saat Audit Selesai dan Perceraian Diputus, Suamiku Kehilangan Semua yang Ia Anggap Aman, Sedangkan Aku Akhirnya Mendapat Hidupku Kembali

Prosesnya tidak selesai dalam satu malam.

Tidak juga dalam seminggu.

Hidup nyata tidak bekerja seperti itu.

Perceraian kami melalui persidangan, mediasi, pemeriksaan dokumen, dan beberapa pertemuan yang melelahkan selama berbulan-bulan.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak malam ketika aku melihat foto jam itu.

Aku tidak pernah meminta Raka kembali.

Pada minggu ketiga setelah gugatan didaftarkan, audit PT Arunika selesai.

Dua dari tujuh pembayaran vendor terbukti memiliki pekerjaan nyata.

Lima lainnya tidak dapat didukung dokumen pekerjaan yang memadai.

Raka akhirnya mengakui sebagian dana digunakan untuk pengeluaran di luar kepentingan perusahaan.

Ia diberhentikan sementara sebagai direktur.

Kemudian, setelah kesepakatan para pemegang saham, ia harus melepaskan sebagian sahamnya untuk menutup kewajiban dan mengembalikan dana perusahaan.

SUV yang selalu ia banggakan dijual.

Apartemen yang belum lunas dibatalkan pembeliannya.

Sebagian dana dikembalikan setelah dipotong penalti.

Jam tangan Rp938 juta juga dikembalikan Keisya melalui pengacaranya.

Hubungan mereka tidak pernah berlanjut seperti fantasi yang Raka ceritakan kepadanya.

Keisya mengirim satu pesan terakhir kepadaku.

“Aku tidak minta dimaafkan. Aku cuma ingin Mbak tahu aku sudah berhenti berhubungan dengannya.”

Aku tidak membalas.

Ada hal-hal yang tidak membutuhkan pertengkaran maupun pengampunan.

Cukup selesai.

Raka berbeda.

Ia terus menghubungiku.

Mula-mula marah.

Kemudian mengancam.

Setelah itu menyalahkan Keisya.

Lalu menyalahkan ayahnya.

Terakhir, ketika hampir semua alasan habis, barulah ia mengatakan sesuatu yang selama tujuh tahun kutunggu.

“Aku salah.”

Sayangnya, kalimat yang datang setelah semuanya terbongkar tidak memiliki nilai yang sama dengan kejujuran yang diberikan sebelum ketahuan.

Suatu sore ia menungguku di luar kantor Ratih.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Tubuhnya lebih kurus.

Tidak ada lagi jam mahal di tangannya.

“Kita bisa mulai lagi.”

Aku menatapnya.

“Apa yang mau dimulai?”

“Kita.”

“Kamu bilang aku cuma sedang emosi.”

Raka menunduk.

“Aku salah menilaimu.”

“Bukan.”

Aku tersenyum kecil.

“Kamu menilaiku berdasarkan berapa kali dulu aku memaafkanmu.”

Ia terdiam.

Dan itulah sebenarnya kesalahan terbesarnya.

Raka menganggap kesabaranku adalah jaminan.

Ia mengira karena aku pernah bertahan sepuluh kali, maka aku pasti akan bertahan untuk kesebelas.

Ia lupa bahwa setiap manusia memiliki satu hari ketika rasa sakit tidak lagi berubah menjadi tangis.

Ia berubah menjadi keputusan.

Beberapa bulan kemudian, putusan perceraian kami akhirnya keluar.

Pembagian aset mengikuti bukti kontribusi dan kesepakatan penyelesaian yang diperiksa oleh masing-masing kuasa hukum.

Rumah di Bintaro tetap padaku.

Aku membayar bagian yang memang menjadi hak Raka sesuai perhitungan.

Pinjaman ayahku kepada PT Arunika dilunasi bertahap dari restrukturisasi perusahaan.

Aku tidak mengambil saham Raka.

Aku juga tidak menginginkan kantornya.

Aku hanya mengambil apa yang secara sah memang menjadi hakku.

Pada hari aku menerima dokumen akhir dari Ratih, mantan ibu mertuaku datang ke rumah.

Dulu beliau pernah berkata kepadaku agar jangan membesar-besarkan persoalan Keisya.

Kali ini suaranya jauh lebih pelan.

“Nadira, Raka harus keluar dari apartemen sewanya bulan depan.”

Aku menunggu.

“Kami kira rumah ini nanti akan dijual.”

“Tidak.”

“Kalau begitu… apa dia boleh tinggal di sini sementara?”

Aku hampir tidak percaya.

Rumah yang dulu dianggap Raka otomatis setengah miliknya, rumah yang uang mukanya berasal dari peninggalan ibuku, sekarang hendak dijadikan tempat tinggal sementara setelah semua pilihan lain habis.

Aku tidak marah.

Justru sangat tenang.

“Maaf, Bu.”

“Rumah ini bukan tempat tinggal Raka lagi.”

Beliau menunduk.

Untuk pertama kalinya, tidak ada yang menuduhku kejam.

Mungkin karena setelah audit, semua orang akhirnya melihat bahwa masalah kami tidak pernah sekadar jam tangan.

Jam itu hanyalah pintu kecil menuju ruangan penuh kebohongan.

Enam bulan setelah perceraian, aku merenovasi salah satu kamar depan rumah menjadi ruang kerja.

Aku meninggalkan perusahaan lamaku dan membuka jasa konsultasi keuangan bersama dua teman.

Tidak langsung besar.

Tidak langsung sukses.

Tetapi setiap rupiah yang masuk ke rekeningku terasa berbeda.

Aku tahu asalnya.

Aku tahu ke mana perginya.

Dan yang paling penting, tidak ada seorang pun yang membuatku merasa bersalah hanya karena bertanya.

Suatu malam, aku memasak sup iga lagi.

Resep yang sama.

Tanpa cabai.

Sedikit lada.

Ketika hampir selesai, aku berhenti sebentar lalu tertawa sendiri.

Selama bertahun-tahun aku mengira cinta berarti mengingat seluruh hal kecil tentang seseorang.

Makanan kesukaannya.

Obat lambungnya.

Jadwal penerbangannya.

Kemeja yang harus diambil dari laundry.

Ternyata cinta juga seharusnya berarti seseorang mengingat bahwa kepercayaan kita bukan sesuatu yang boleh dipakai sesuka hati.

Aku membawa semangkuk sup ke teras.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Ratih.

“Pelunasan terakhir pinjaman perusahaan sudah masuk. Semua selesai.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu meletakkan ponsel.

Tidak ada perasaan menang.

Tidak ada keinginan melihat Raka menyesal lebih dalam.

Yang kurasakan justru sesuatu yang lebih sederhana.

Lega.

Dulu aku pikir Rp938 juta adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah jam tangan.

Sekarang aku melihatnya berbeda.

Jam itu memang mahal.

Tetapi tanpa foto jam tersebut, mungkin aku masih berada di meja makan yang sama, memasak untuk laki-laki yang terus mengajarkanku meragukan perasaanku sendiri.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mengunci pintu rumah bukan sambil menunggu seseorang pulang.

Aku menguncinya karena semua orang yang seharusnya berada di dalam rumah itu sudah ada.

Diriku sendiri.

Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.