BAGIAN 3 — Surat Terakhir Ibu Mengakhiri Penantianku, Sementara Bengkel Tua Menjadi Awal Kehidupan Baru Bersama Anak-Anakku
Aku menggenggam kunci kecil itu.
Untuk beberapa detik, tak seorang pun bergerak.
Kemudian aku berjalan menuju ruangan tua di belakang bengkel.
Suamiku berusaha mengikuti.
—Jangan buka!
Aku berhenti dan menoleh.
—Kenapa?
Dia tidak bisa menjawab.
Itulah jawaban yang kubutuhkan.
Putra bungsuku berjalan di sampingku, sementara putri sulungku yang baru tiba setelah menerima telepon dari adiknya langsung memeluk lenganku.
Kami membuka pintu ruangan.
Di belakang tumpukan papan tua terdapat sebuah lemari besi kecil.
Kuncinya cocok.
Di dalamnya tidak ada emas.
Tidak ada uang tunai.
Hanya beberapa map, sebuah buku catatan dan amplop cokelat dengan namaku.
Tulisan tangan ibu.
Tanganku bergetar ketika membukanya.
“Anakku, kalau kau membaca surat ini, berarti hari yang paling kutakutkan akhirnya datang.”
Air mataku langsung jatuh.
Ibu menulis bahwa tujuh belas tahun lalu dia menemukan bukti suamiku menggunakan dokumen bengkel untuk mencari pinjaman tanpa sepengetahuan keluarga.
Dia bahkan pernah memalsukan persetujuan ayahnya.
Ibuku menghentikannya sebelum tanah benar-benar hilang.
Namun itu belum semuanya.
Lima tahun kemudian, tepat sebelum suamiku “berangkat bekerja” dan kemudian menghilang, dia kembali mencoba mendapatkan uang dengan menjadikan aset bengkel sebagai jaminan.
Kali ini ibuku sudah meninggal.
Ayah mertua yang menghentikannya.
Itulah sebabnya mereka bertengkar hebat.
Suamiku kemudian pergi.
Bukan karena pekerjaan.
Dia pergi karena utangnya jatuh tempo.
Selama dua belas tahun, dia berpindah-pindah kota, membangun kehidupan bersama perempuan lain sambil menunggu nilai tanah di kampung meningkat.
Ketika harga tanah melonjak, dia pulang.
Bukan untukku.
Bukan untuk anak-anak.
Bukan untuk ayahnya.
Untuk menjual tanah.
Aku melipat surat itu perlahan.
Anehnya, dadaku terasa lebih ringan.
Dua belas tahun aku bertanya-tanya mengapa aku tidak cukup baik untuk membuat suamiku pulang.
Hari itu aku mendapatkan jawabannya.
Masalahnya bukan karena aku tidak cukup baik.
Dia memang tidak pernah berniat pulang kepadaku.
Aku keluar membawa surat tersebut.
Suamiku berdiri di tengah bengkel.
—Berikan padaku.
—Tidak.
—Itu urusan keluargaku!
Aku memandangnya.
—Aku menghabiskan lebih dari separuh hidupku membereskan akibat dari keputusanmu. Jangan bicara kepadaku tentang keluarga.
Perempuan yang datang bersamanya tiba-tiba mengambil tasnya.
—Aku pergi.
Suamiku terkejut.
—Kau mau ke mana?
—Pulang.
—Rumah mana? Rumahmu sudah dijual!
Perempuan itu menatapnya dingin.
—Itulah sebabnya aku akan mencari pengacara.
Dia kemudian memandangku.
Untuk sesaat, aku mengira dia akan menantangku.
Sebaliknya, dia menundukkan kepala.
—Saya tahu dia pernah punya keluarga. Tetapi dia mengatakan hubungan kalian sudah selesai sebelum kami bersama.
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan:
—Saya salah karena percaya begitu saja. Tapi saya juga tidak akan membela kebohongannya lagi.
Pemuda itu ikut berdiri di samping ibunya.
Sebelum pergi, dia memandangku dan kedua anakku.
—Saya minta maaf.
Putra bungsuku tidak menjawab.
Namun putriku berkata pelan:
—Kesalahan ayah kita bukan kesalahanmu.
Pemuda itu menundukkan kepala lalu mengikuti ibunya keluar.
Suamiku kini benar-benar sendirian.
Dia melihat sekeliling.
Ayahnya tidak membelanya.
Perempuan yang hidup bersamanya pergi.
Ketiga anaknya memandangnya seperti orang asing.
Akhirnya dia mendekatiku.
Suaranya berubah lembut.
—Kita tidak perlu seperti ini.
Aku hampir tertawa.
—Lalu harus bagaimana?
—Kita sudah tua. Anak-anak juga sudah besar. Kita bisa melupakan semuanya dan mulai lagi.
Aku memandang wajahnya lama.
Dulu, aku bermimpi mendengar kalimat itu.
Jika dia mengatakannya lima belas tahun lalu, mungkin aku akan menangis bahagia.
Jika dia mengatakannya sepuluh tahun lalu, mungkin aku akan memaafkannya.
Bahkan lima tahun lalu, mungkin masih ada bagian kecil dalam diriku yang mau percaya.
Tetapi sekarang tidak lagi.
—Aku menunggumu dua belas tahun.
—Aku tahu.
—Tidak. Kau tidak tahu.
Aku menunjuk bengkel.
—Aku menunggumu ketika atap bocor dan aku harus naik sendiri memperbaikinya.
—Aku menunggumu ketika ayahmu masuk rumah sakit.
—Aku menunggumu ketika putri kita lulus sekolah dan terus melihat ke pintu berharap ayahnya datang.
—Aku menunggumu ketika putra kita bertanya apakah ayahnya sudah meninggal.
Air matanya mulai muncul.
Namun kali ini air mata itu tidak memiliki kekuatan atas diriku.
—Aku sudah memberikan dua belas tahun untuk menunggu. Aku tidak akan memberikan satu hari lagi.
Aku membuka gerbang.
—Pergilah.
Dia masih berdiri.
Ayah mertua akhirnya berkata:
—Pergi.
Suamiku menoleh.
—Ayah…
—Aku kehilangan dua belas tahun bersama anakku karena terus berharap kau akan berubah.
Lelaki tua itu menarik napas berat.
—Jangan buat aku kehilangan sisa hidupku karena kesalahan yang sama.
Suamiku akhirnya pergi.
Tidak ada yang mengejarnya.
Beberapa bulan berikutnya tidak mudah.
Transaksi penjualan dibatalkan.
Masalah uang muka diselesaikan melalui jalur hukum.
Dokumen kepemilikan tanah diperbarui sepenuhnya.
Bagian yang diwariskan ibuku resmi menjadi milikku.
Sementara bagian lama milik ayah mertua tetap atas namanya.
Suatu sore, dia memanggilku.
—Aku mau menyerahkan bagianku kepadamu.
Aku menggeleng.
—Tidak perlu.
Dia terkejut.
Aku tersenyum.
—Berikan kepada cucu-cucu Ayah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, lelaki tua itu menangis.
Akhirnya kami sepakat membentuk usaha keluarga.
Aku memiliki bagian terbesar berdasarkan tanah dan investasi yang telah kubangun.
Putriku mengurus pemasaran dan keuangan.
Putra bungsuku yang sejak kecil menyukai pekerjaan tangan mengambil pelatihan desain furnitur.
Ayah mertua tetap memiliki bagian kecil.
Katanya dia ingin punya alasan untuk datang ke bengkel setiap pagi dan memarahi pekerja yang datang terlambat.
Kami tertawa.
Bengkel lama pun berubah.
Kami memperbaiki atap.
Membuka ruang pamer kecil di depan.
Kios-kios lama direnovasi menjadi tempat menjual produk kerajinan warga sekitar.
Aku juga mulai mempekerjakan beberapa perempuan yang sebelumnya hanya bekerja dari rumah.
Setahun kemudian, untuk pertama kalinya pesanan kami datang dari luar pulau.
Putriku berlari masuk membawa ponsel.
—Ibu! Mereka memesan seratus dua puluh set kursi!
Aku hampir menjatuhkan cangkir.
—Berapa?
—Seratus dua puluh!
Seluruh bengkel bersorak.
Sore itu kami makan bersama di halaman.
Ayah mertua duduk di kursi roda sambil mengeluh sate terlalu manis, tetapi diam-diam menghabiskan tujuh tusuk.
Aku melihat kedua anakku tertawa.
Tiba-tiba aku teringat diriku dua belas tahun lalu.
Perempuan yang setiap Lebaran berdiri di depan pintu sambil menunggu suara kendaraan.
Aku ingin kembali dan mengatakan kepadanya:
Jangan tunggu.
Hidupmu tidak berhenti hanya karena seseorang memilih pergi.
Dua tahun kemudian, sebuah surat datang.
Dari suamiku.
Dia meminta bertemu.
Katanya dia sakit dan ingin meminta maaf.
Aku membaca surat itu sampai selesai.
Kemudian kusimpan di laci.
Aku tidak membencinya.
Tetapi aku juga tidak menunggunya lagi.
Beberapa hari kemudian, aku mengirim balasan singkat.
“Aku sudah memaafkanmu. Semoga kau juga belajar memaafkan dirimu sendiri. Tetapi hidup kita sudah berjalan ke arah yang berbeda.”
Itu saja.
Pada ulang tahunku yang keenam puluh, anak-anak mengadakan makan malam sederhana di bengkel.
Mereka membawa kue kecil.
Di atasnya hanya ada tulisan:
“Untuk Ibu, pemilik bengkel paling keras kepala.”
Aku tertawa sampai menangis.
Setelah semua orang pulang, aku duduk sendirian di depan bengkel.
Lampu-lampu baru menerangi papan nama yang baru dipasang.
Nama usaha itu bukan nama suamiku.
Bukan nama keluarga ayah mertua.
Anak-anak menggunakan nama ibuku.
Aku memandang papan itu lama sekali.
Ayah mertua menggerakkan kursi rodanya ke sampingku.
—Ibumu pasti senang.
Aku tersenyum.
—Dulu saya pikir Ibu meninggalkan tanah untuk menyelamatkan saya.
—Memang bukan?
Aku menggeleng perlahan.
—Sekarang saya mengerti. Ibu tidak menyelamatkan saya.
Aku memandang kedua tanganku.
Tangan yang pernah menggendong anak, merawat orang sakit, mengangkat papan kayu, menghitung uang receh, dan membuka bengkel setiap pagi selama dua belas tahun.
—Ibu hanya meninggalkan sebuah pintu.
—Saya sendiri yang akhirnya memilih berjalan melewatinya.
Angin malam membawa aroma serbuk kayu keluar dari bengkel.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak sedang menunggu seseorang pulang.
Aku juga tidak takut seseorang akan pergi.
Aku memiliki rumah yang kubangun sendiri.
Usaha yang kubesarkan dengan kedua tanganku.
Anak-anak yang berdiri di sisiku bukan karena kewajiban, melainkan karena cinta.
Dan yang paling penting, aku akhirnya memiliki diriku sendiri.
Dulu aku mengira akhir bahagia adalah ketika orang yang kita tunggu akhirnya kembali.
Sekarang aku tahu aku salah.
Terkadang akhir paling bahagia justru dimulai ketika orang itu kembali…
dan kita akhirnya cukup berani untuk membuka pintu, menatapnya tanpa takut, lalu berkata:
—Aku sudah tidak menunggumu lagi.
