Tetanggaku bersumpah melihat putriku diam-diam pulang ke rumah saat jam sekolah bersama beberapa anak lain. Jadi, aku berpura-pura berangkat kerja, kembali diam-diam, lalu bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian, aku mendengar langkah kaki masuk ke rumah—dan salah satunya jelas bukan langkah seorang anak kecil.

Avatar penulis
Cerita 04
13 menit baca 2,072 tayangan
Tetanggaku bersumpah melihat putriku diam-diam pulang ke rumah saat jam sekolah bersama beberapa anak lain. Jadi, aku berpura-pura berangkat kerja, kembali diam-diam, lalu bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian, aku mendengar langkah kaki masuk ke rumah—dan salah satunya jelas bukan langkah seorang anak kecil.
Indeks

Tetanggaku bersumpah melihat putriku diam-diam pulang ke rumah saat jam sekolah bersama beberapa anak lain. Jadi, aku berpura-pura berangkat kerja, kembali diam-diam, lalu bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian, aku mendengar langkah kaki masuk ke rumah—dan salah satunya jelas bukan langkah seorang anak kecil.

Namanya Nadira. Usianya baru tiga belas tahun.

Selama ini, aku selalu merasa mengenal putriku lebih baik daripada siapa pun.

Namun pagi itu, ketika suara pintu depan terdengar terbuka dari tempat persembunyianku, aku mulai menyadari satu hal yang membuat tengkukku merinding.

Sudah berminggu-minggu Nadira menyembunyikan sesuatu dariku.

Tetanggaku bersumpah melihat putriku diam-diam pulang ke rumah saat jam sekolah bersama beberapa anak lain. Jadi, aku berpura-pura berangkat kerja, kembali diam-diam, lalu bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian, aku mendengar langkah kaki masuk ke rumah—dan salah satunya jelas bukan langkah seorang anak kecil.

Dan mungkin selama ini aku sama sekali tidak mengenal kehidupan yang dijalaninya ketika aku sedang bekerja.

Namaku Rani Prameswari.

Setelah bercerai dari ayah Nadira dua tahun lalu, aku dan putriku tinggal berdua di sebuah rumah sederhana di kawasan Antapani, Bandung.

Lingkungan kami cukup tenang. Rumah-rumah berdiri rapat di sepanjang jalan kecil yang dinaungi pepohonan. Hampir semua tetangga saling mengenal.

Setidaknya, begitulah yang kupikirkan.

Nadira adalah anak yang baik.

Nilainya bagus. Gurunya jarang mengeluh. Dia sopan kepada orang yang lebih tua dan hampir tidak pernah membuat masalah.

Mungkin dia bahkan terlalu pendiam untuk anak seusianya.

Setiap pagi, Nadira keluar rumah mengenakan seragam putih-biru yang sudah kusetrika malam sebelumnya. Tas ransel merah mudanya selalu tergantung di bahu.

Sebelum pergi, dia akan memelukku sebentar.

“Aku berangkat dulu, Bu.”

“Hati-hati di jalan.”

Nadira biasanya tersenyum.

“Sayang Ibu.”

“Ibu lebih sayang.”

Rutinitas itu terjadi setiap hari.

Karena itulah aku tidak pernah curiga.

Sampai suatu Kamis pagi, ketika Bu Yanti, tetangga yang tinggal tepat di seberang rumah kami, memanggilku saat aku hendak berangkat kerja.

“Rani!”

Aku berhenti di samping motor.

Bu Yanti berjalan mendekat sambil membawa kantong belanja.

Wajahnya terlihat ragu.

“Boleh tanya sesuatu?”

“Tentu, Bu.”

Dia menoleh ke kanan dan kiri, lalu merendahkan suaranya.

“Nadira… masih sering bolos sekolah?”

Tanganku yang sedang memasang helm langsung berhenti.

Masih?

Satu kata itu membuat dadaku terasa dingin.

“Maksud Bu Yanti?”

Ekspresinya langsung berubah.

Sepertinya dia baru sadar aku sama sekali tidak tahu.

“Lho… kamu belum tahu?”

Aku menggeleng.

Bu Yanti mendekat.

“Sudah beberapa kali saya lihat Nadira pulang ke rumah sekitar jam sembilan atau sepuluh pagi.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Itu tidak mungkin. Nadira sekolah.”

“Saya juga awalnya berpikir begitu.”

Kemudian Bu Yanti mengatakan sesuatu yang membuat perutku seperti diikat.

Nadira tidak selalu pulang sendirian.

Kadang ada dua atau tiga anak lain bersamanya.

Mereka mengenakan seragam sekolah.

Menurut Bu Yanti, mereka selalu datang terburu-buru, melihat ke kanan dan kiri sebelum masuk, seolah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan.

Lalu pintu rumahku ditutup.

Beberapa jam kemudian, mereka pergi lagi.

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Aku hanya ingin percaya Bu Yanti salah melihat orang.

Nadira seharusnya berada di sekolah.

Aku sendiri melihatnya berangkat setiap pagi.

Aku bahkan memberinya uang untuk ongkos dan makan siang.

“Mungkin anak lain yang mirip Nadira,” kataku.

Bu Yanti tidak membantah.

Dia hanya menatapku beberapa detik.

“Semoga saja saya salah.”

Sepanjang perjalanan menuju kantor, kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Dan semakin kupikirkan, semakin banyak hal kecil yang tiba-tiba terasa aneh.

Beberapa minggu terakhir, nafsu makan Nadira berkurang.

Dia sering hanya mengaduk nasi di piring.

Tidurnya juga tidak nyenyak.

Dua kali aku menemukannya masih terjaga hampir tengah malam sambil menatap ponselnya.

Setiap kali ponselnya berbunyi, tubuhnya seperti tersentak.

Dan ada satu hal lain.

Belakangan ini Nadira sering mencuci seragam sekolahnya sendiri pada malam hari.

Ketika kutanya kenapa, jawabannya selalu sama.

“Kotor kena tanah waktu istirahat, Bu.”

Aku tidak pernah mempertanyakannya.

Sampai sekarang.

Malam itu, saat kami makan bersama, aku mencoba bersikap biasa.

“Nadira.”

“Hm?”

“Kamu kenal Bu Yanti, kan?”

Sendok di tangan putriku berhenti.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

“Kenal.”

“Tadi pagi dia bilang sesuatu yang agak aneh.”

Nadira menatapku.

“Apa?”

“Katanya dia beberapa kali melihat kamu pulang ke rumah saat jam sekolah.”

Keheningan memenuhi ruang makan.

Aku bisa mendengar suara kendaraan dari jalan depan.

Kemudian Nadira tertawa kecil.

Terlalu cepat.

“Bu Yanti mungkin salah lihat.”

“Katanya ada anak-anak lain juga.”

Nadira menunduk kembali ke piringnya.

“Mana mungkin, Bu? Aku kan di sekolah.”

Aku tidak menjawab.

Dia mengangkat wajah dan tersenyum.

Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Aku janji, Bu. Aku sekolah.”

Janji.

Entah kenapa, kata itu terdengar seperti sesuatu yang sudah dia latih sebelumnya.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku berbaring sambil memandangi langit-langit kamar.

Sebagian diriku merasa bersalah.

Bagaimana kalau Bu Yanti memang salah?

Bagaimana kalau aku hanya menjadi ibu yang terlalu curiga setelah perceraian yang berantakan?

Namun bagian lain dalam diriku terus mengingat wajah Nadira saat aku bertanya tentang sekolah.

Sekitar pukul dua dini hari, aku akhirnya membuat keputusan.

Aku harus melihatnya sendiri.

Keesokan paginya aku bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku membuatkan nasi goreng dan telur untuk sarapan.

Menyiapkan seragamnya.

Memberinya uang saku.

Nadira menyampirkan ransel merah mudanya ke bahu.

“Aku berangkat, Bu.”

Aku mencium keningnya.

“Belajar yang rajin.”

Dia tersenyum.

Kemudian pergi.

Aku menunggu beberapa menit sebelum ikut meninggalkan rumah.

Seperti biasa, aku membawa tas kerja dan mengendarai motor keluar dari kompleks.

Namun kali ini aku tidak pergi ke kantor.

Aku memutar lewat jalan belakang, menitipkan motor di dekat minimarket, lalu kembali berjalan kaki menuju rumah.

Aku masuk menggunakan kunci cadangan.

Rumah benar-benar sunyi.

Aku langsung menuju kamar Nadira.

Tempat tidurnya sudah dirapikan.

Meja belajarnya tertata rapi.

Beberapa boneka yang sudah dimilikinya sejak kecil berjajar di rak.

Tidak ada sesuatu pun yang tampak mencurigakan.

Aku hampir merasa konyol.

Tetapi kalau Nadira benar-benar menyembunyikan sesuatu, dia pasti tidak akan pernah membayangkan ibunya melakukan apa yang kulakukan berikutnya.

Aku berlutut.

Lalu merangkak ke bawah tempat tidurnya.

Ruangnya sempit dan berdebu.

Dadaku hampir menempel ke lantai.

Aku mematikan suara ponsel dan menunggu.

Pukul sembilan.

Tidak terjadi apa-apa.

Pukul sembilan lewat dua puluh.

Tetap sunyi.

Kakiku mulai kesemutan.

Debu membuat hidungku gatal.

Aku mulai berpikir bahwa semua ini adalah kesalahan.

Mungkin Bu Yanti memang salah melihat.

Mungkin aku sudah keterlaluan.

Aku hampir merangkak keluar ketika—

Klik.

Suara pintu depan.

Seluruh tubuhku membeku.

Aku menahan napas.

Ada beberapa langkah kaki memasuki rumah dengan cepat.

Kemudian pintu ditutup perlahan.

“Jangan berisik.”

Aku langsung mengenali suara itu.

Nadira.

Sebuah tas jatuh ke lantai ruang depan.

Lalu tas lainnya.

Kemudian terdengar suara seorang anak laki-laki berdeham di lorong.

Sesaat kemudian, terdengar suara isakan tertahan dari seorang anak perempuan yang sepertinya lebih muda.

Jantungku mulai berdegup kencang.

“Cepat,” bisik Nadira dengan suara gemetar. “Masuk dulu sebelum ada yang melihat.”

Langkah-langkah kaki itu semakin dekat.

Menuju kamar.

Menuju tempatku bersembunyi.

Pintu kamar terbuka.

Dari celah sempit di bawah tempat tidur, aku melihat sepatu sekolah Nadira masuk lebih dulu.

Kemudian satu pasang sepatu olahraga yang kotor.

Lalu sepasang sandal.

Dan satu pasang sepatu lain.

Aku menghitung dalam diam.

Ada tiga anak bersama Nadira.

Salah satunya tampak jauh lebih kecil.

Aku ingin keluar saat itu juga.

Namun sebelum sempat bergerak, Nadira menutup pintu kamar.

“Di sini aman,” bisiknya.

Seorang anak perempuan terisak.

Lalu anak laki-laki itu berkata pelan,

“Dia pasti mencari kita.”

Nadira tidak menjawab.

Ruangan mendadak sunyi.

Kemudian terdengar suara lain dari arah ruang depan.

Klik.

Pintu rumahku terbuka untuk kedua kalinya.

Aku membeku.

Anak-anak di kamar juga langsung diam.

Tidak ada seorang pun bergerak.

Lalu terdengar langkah kaki.

Berat.

Pelan.

Teratur.

Bukan langkah seorang anak.

Seseorang yang sudah dewasa baru saja masuk ke rumahku.

Tanpa mengetuk.

Tanpa memanggil namaku.

Dan dari tempatku bersembunyi di bawah ranjang, aku melihat kaki Nadira mundur satu langkah ketika gagang pintu kamarnya perlahan mulai bergerak.

Gagang pintu kamar Nadira bergerak perlahan.

Aku masih terbaring kaku di bawah tempat tidur, jantungku berdetak begitu keras hingga aku yakin semua orang di ruangan itu bisa mendengarnya.

Nadira berdiri di depan pintu.

Tubuhnya gemetar.

Anak laki-laki yang tadi datang bersamanya merapat ke dinding sambil memegang tangan seorang anak perempuan kecil yang terus menahan tangis.

Klik.

Pintu terbuka beberapa sentimeter.

Lalu suara seorang pria terdengar dari luar.

“Nadira?”

Aku langsung mengenali suara itu.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Itu suara mantan suamiku.

Ayah Nadira.

Arman.

Nadira tidak menjawab.

Pria itu kembali berbicara.

“Ayah tahu kamu ada di dalam.”

Anak-anak yang berada di kamar langsung saling menatap.

Ketakutan.

Ketakutan yang terlalu besar untuk anak-anak seusia mereka.

Saat itulah aku sadar.

Ini bukan sekadar bolos sekolah.

Ini sesuatu yang jauh lebih serius.

Arman mencoba membuka pintu lebih lebar.

“Nadira, buka pintunya.”

“Ayah nggak boleh ada di sini,” jawab Nadira dengan suara bergetar.

“Ayah cuma mau bicara.”

“Bohong.”

Aku hampir keluar dari bawah tempat tidur saat itu juga.

Namun aku menahan diri.

Karena ada sesuatu yang tidak masuk akal.

Arman tidak memiliki kunci rumah.

Kami bercerai dua tahun lalu.

Jadi bagaimana dia bisa masuk?

Lalu aku mendengar suara lain.

Seorang perempuan.

“Dia ada di situ?”

Tubuhku langsung menegang.

Aku mengenali suara itu juga.

Dewi.

Pacar Arman.

Perempuan yang menjadi alasan perceraian kami.

Aku merasa mual.

Kenapa mereka datang ke rumahku?

Kenapa mereka mencari Nadira?

Dan kenapa anak-anak di kamar ini tampak begitu takut pada mereka?

Nadira mundur selangkah.

“Ayah pergi.”

“Ayah cuma ingin membantu.”

“Kalian selalu bilang begitu.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi hening.

Selama beberapa detik tak ada yang berbicara.

Lalu aku mendengar suara Dewi yang semakin dekat.

“Kita nggak punya banyak waktu.”

Jantungku berdebar semakin cepat.

Tidak punya banyak waktu untuk apa?

Kemudian anak laki-laki di kamar berbisik.

“Mereka menemukan kita.”

Menemukan.

Bukan menemui.

Menemukan.

Seolah mereka sedang bersembunyi.

Saat itulah aku tidak tahan lagi.

Aku merangkak keluar dari bawah tempat tidur.

“CUKUP!”

Semua orang terkejut.

Nadira menjerit.

Anak-anak lainnya mundur ketakutan.

Sementara wajah Arman berubah pucat ketika melihatku muncul dari bawah ranjang seperti hantu.

“Rani?”

Aku berdiri.

Marah.

Bingung.

Takut.

Semuanya bercampur menjadi satu.

“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Tak ada yang menjawab.

Aku menunjuk Arman.

“Kenapa kamu ada di rumahku?”

Kemudian aku menunjuk anak-anak itu.

“Dan siapa mereka?”

Ruangan kembali sunyi.

Lalu sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Anak perempuan kecil yang sejak tadi menangis tiba-tiba berlari dan memeluk Nadira.

Kencang sekali.

Seolah Nadira adalah satu-satunya orang yang membuatnya merasa aman.

“Tolong jangan biarkan mereka membawa kami.”

Aku membeku.

Membawa?

Arman juga terlihat terkejut.

“Nak, tidak ada yang mau membawa kalian.”

Anak perempuan itu justru menangis lebih keras.

“Aku nggak mau kembali ke sana.”

Aku menatap Nadira.

“Nadira.”

Putriku mulai menangis.

Dan akhirnya semua rahasia itu keluar.


Ternyata semuanya dimulai hampir dua bulan sebelumnya.

Suatu sore setelah pulang sekolah, Nadira melihat seorang anak perempuan duduk sendirian di taman kecil dekat terminal Antapani.

Anak itu tampak kotor.

Kelaparan.

Ketakutan.

Namanya Lala.

Usianya sembilan tahun.

Awalnya Nadira mengira Lala hanya tersesat.

Tetapi setelah berbicara dengannya, ia mengetahui sesuatu yang mengerikan.

Lala kabur dari sebuah rumah penampungan ilegal di pinggiran kota.

Tempat itu mengaku sebagai panti sosial.

Namun kenyataannya jauh berbeda.

Anak-anak dipaksa mengemis.

Sebagian dipukul.

Sebagian lagi dipaksa bekerja.

Banyak yang tidak punya keluarga.

Dan yang punya keluarga sering kali tidak tahu ke mana anak mereka dibawa.

Nadira tidak percaya.

Namun beberapa hari kemudian ia bertemu lagi dengan Lala.

Kali ini bersama dua anak lain.

Rio dan Sinta.

Mereka menceritakan kisah yang sama.

Anak-anak itu ketakutan untuk melapor.

Mereka tidak percaya orang dewasa.

Karena beberapa kali mereka mencoba meminta bantuan, mereka justru dikembalikan ke tempat itu.

Jadi Nadira melakukan sesuatu yang sangat berbahaya.

Dan sangat bodoh.

Dia mulai menyembunyikan mereka.

Di rumahku.

Saat aku bekerja.

Air mataku langsung jatuh.

“Ya Tuhan…”

Selama ini putriku yang berusia tiga belas tahun berusaha melindungi anak-anak lain sendirian.

“Nadira, kenapa kamu nggak cerita sama Ibu?”

Putriku menunduk.

Jawabannya membuat dadaku sesak.

“Aku takut Ibu nggak percaya.”


Namun bagian paling mengejutkan belum datang.

Arman menghela napas panjang.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Aku sudah menyelidiki tempat itu selama tiga bulan.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Ternyata Arman bukan datang untuk mengambil anak-anak itu.

Dia datang karena sedang membantu sebuah organisasi sosial yang bekerja sama dengan kepolisian.

Salah satu rekannya menemukan laporan tentang hilangnya beberapa anak.

Jejaknya mengarah ke rumah penampungan ilegal tersebut.

Masalahnya, mereka belum memiliki bukti yang cukup untuk melakukan penindakan.

Lalu seminggu sebelumnya, Arman mengetahui sesuatu.

Nadira diam-diam menyembunyikan tiga anak yang melarikan diri dari tempat itu.

Dia mencoba menghubungi Nadira.

Namun Nadira menolak bicara karena masih membencinya akibat perceraian kami.

“Aku cuma ingin memastikan mereka aman,” kata Arman.

Aku ingin marah.

Ingin menyalahkannya.

Namun ketika melihat wajahnya, aku tahu dia berkata jujur.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat mantan suamiku bukan sebagai pria yang menghancurkan pernikahan kami.

Tetapi sebagai seorang ayah yang sedang mencoba melakukan hal benar.


Hari itu kami akhirnya pergi ke kantor polisi.

Bersama anak-anak tersebut.

Bersama Arman.

Dan bersama Nadira.

Awalnya anak-anak takut.

Namun perlahan mereka mulai bercerita.

Satu per satu.

Nama.

Alamat.

Orang-orang yang terlibat.

Semua dicatat.

Seminggu kemudian, polisi melakukan penggerebekan.

Dan apa yang ditemukan membuat seluruh kota geger.

Belasan anak ditemukan di sana.

Sebagian telah dilaporkan hilang selama berbulan-bulan.

Beberapa keluarga bahkan sudah putus asa mencari mereka.

Berita itu muncul di televisi.

Di media sosial.

Di mana-mana.

Tetapi tidak ada yang tahu bahwa semuanya bermula dari keberanian seorang anak perempuan berusia tiga belas tahun yang menolak berpaling ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan.


Aku pikir cerita ini akan berakhir di sana.

Aku salah.

Karena kejutan terbesar datang tiga minggu kemudian.

Sore itu seorang perempuan tua datang ke rumah kami.

Rambutnya sudah memutih.

Tangannya gemetar.

Di sampingnya berdiri seorang pria dan seorang wanita yang terus menangis.

Mereka adalah orang tua Lala.

Selama hampir satu tahun mereka mencari putri mereka yang hilang.

Mereka memasang poster.

Melapor ke polisi.

Menghabiskan tabungan keluarga.

Namun tidak pernah menemukan petunjuk.

Sampai akhirnya Lala ditemukan.

Perempuan tua itu menggenggam tangan Nadira.

Lalu berkata dengan suara bergetar,

“Kalau bukan karena kamu, cucu saya mungkin tidak akan pernah pulang.”

Nadira langsung menangis.

Begitu juga aku.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat putriku memahami betapa besar dampak dari keberaniannya.


Malam itu, setelah semua tamu pulang, kami duduk di teras rumah.

Udara Bandung terasa sejuk.

Lampu jalan menyala redup.

Aku memandangi Nadira.

Anak yang selama ini kukira masih kecil.

Anak yang ternyata diam-diam memiliki keberanian yang bahkan tidak dimiliki banyak orang dewasa.

“Aku marah karena kamu menyembunyikan semuanya.”

Nadira tertawa kecil sambil mengusap air mata.

“Aku tahu.”

“Tapi Ibu juga bangga.”

Dia menoleh.

“Benarkah?”

Aku meraih tangannya.

“Sangat bangga.”

Nadira tersenyum.

Lalu bersandar di bahuku seperti saat dia masih kecil.

Untuk beberapa menit kami hanya duduk dalam diam.

Menikmati ketenangan yang akhirnya kembali.

Kemudian Nadira berkata pelan.

“Bu?”

“Hm?”

“Ada satu hal lagi yang belum Ibu tahu.”

Aku langsung menoleh.

“Apalagi?”

Nadira tersenyum malu.

“Lala bukan anak pertama yang pernah aku bantu.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

Putriku menunjuk ke seberang jalan.

Ke arah rumah Bu Yanti.

Aku mengikuti arah jarinya.

Dan melihat sesuatu yang membuatku terdiam.

Di jendela rumah Bu Yanti berdiri seorang remaja laki-laki yang melambai ke arah kami.

“Nadira pernah bantu dia juga,” kata putriku.

“Tahun lalu.”

“Tapi dia minta rahasia.”

Aku menatap Nadira.

Lalu menatap anak laki-laki itu.

Kemudian aku tertawa sambil menangis.

Selama ini aku mengira putriku hidup dalam dunia kecilnya sendiri.

Pendiam.

Pemalu.

Tertutup.

Ternyata aku salah.

Dia tidak diam karena takut pada dunia.

Dia diam karena sibuk membantu orang-orang yang bahkan tidak diketahui siapa pun.

Dan saat itu aku menyadari sesuatu.

Pagi ketika aku bersembunyi di bawah tempat tidurnya, aku memang menemukan rahasia besar.

Tetapi bukan rahasia yang kutakuti.

Aku menemukan kenyataan bahwa putriku telah tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih baik daripada yang pernah kubayangkan.

Dan sebagai seorang ibu, tidak ada penemuan yang lebih mengejutkan—atau lebih membanggakan—daripada itu.