Tiga Hari Setelah Menikah, Mertuaku Menagih Uang Tinggal di Depan Keluarga—Aku Pulang ke Rumahku Sendiri dan Rahasia Suamiku Terbongkar

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 7,010 tayangan
Tiga Hari Setelah Menikah, Mertuaku Menagih Uang Tinggal di Depan Keluarga—Aku Pulang ke Rumahku Sendiri dan Rahasia Suamiku Terbongkar
Indeks

Tiga Hari Setelah Menikah, Mertuaku Menagih Uang Tinggal di Depan Keluarga—Aku Pulang ke Rumahku Sendiri dan Rahasia Suamiku Terbongkar

Bagian 1 — Mertuaku Menagih Rp6,5 Juta untuk Tinggal di Rumah Pengantin, Tetapi Jawaban Suamiku Membuatku Langsung Mengemasi Koper

Tiga hari setelah menikah, bunga melati di kamar kami bahkan belum sepenuhnya layu.

Kotak-kotak suvenir masih menumpuk di sudut ruang tamu. Pita dari hampers pernikahan masih tergantung di sandaran kursi. Di pintu depan, hiasan nama “Reza & Nadira” yang dipasang saat akad belum dicopot.

Aku pikir siang itu hanya makan bersama keluarga.

Ternyata aku salah.

Sejak pukul sembilan pagi, rumah dua lantai milik orang tua Reza di Bekasi sudah ramai.

Ada Om Haris dan istrinya.

Ada dua tante Reza.

Ada kakaknya, Deni, bersama istri dan anak mereka.

Aku membantu menyiapkan teh, memotong buah, menghangatkan lauk, lalu beberapa kali bolak-balik dari dapur ke ruang tamu.

Ibu mertuaku, Bu Marni, duduk di sofa paling tengah.

Beliau mengenakan gamis hijau tua yang kubelikan sebelum akad.

Namun ekspresinya jauh berbeda dari saat pesta.

Ketika kubawakan teh, beliau hanya menunjuk meja.

“Taruh saja, Nadira. Nanti Ibu mau bicara sekalian kalau semua sudah kumpul.”

Aku sempat berhenti.

“Ada apa, Bu?”

“Nanti saja.”

Aku melihat Reza.

Suamiku sedang memainkan ponselnya.

Seolah tidak mendengar.

Menjelang makan siang, semua orang akhirnya duduk.

Aku baru hendak mengambil piring ketika Bu Marni memanggil.

“Nadira, duduk dulu.”

Suasana mendadak berubah.

Bu Marni mengambil sebuah map plastik dari bawah meja.

Kemudian beliau mengeluarkan selembar kertas.

“Ibu sengaja bicara di depan keluarga supaya setelah ini tidak ada salah paham.”

Aku duduk di samping Reza.

Bu Marni mulai bicara.

“Rumah yang kalian tempati sekarang dibeli Bapak dan Ibu dengan tabungan bertahun-tahun. Lokasinya dekat stasiun, sudah direnovasi, perabot juga lengkap.”

Aku mengangguk pelan.

Aku tahu itu.

Sebelum menikah, Reza mengatakan rumah tersebut disediakan orang tuanya agar kami tidak perlu mengontrak.

Karena itulah aku tidak pernah meminta rumah baru.

Aku juga tidak pernah meminta namaku dimasukkan ke sertifikat.

Bagiku sederhana.

Kalau memang itu rumah orang tuanya, hak mereka.

Aku hanya ingin menjalani pernikahan dengan tenang.

Tetapi kalimat berikutnya membuat punggungku menegang.

“Karena rumah itu aset keluarga Reza, mulai bulan depan Nadira perlu memberikan uang tinggal Rp6,5 juta setiap bulan.”

Aku menatap Bu Marni.

Aku sempat mengira salah dengar.

“Uang tinggal?”

“Iya.”

Beliau mengatakannya dengan sangat tenang.

“Kalau rumah seperti itu dikontrakkan, bisa Rp7 sampai Rp8 juta sebulan. Ibu hanya minta Rp6,5 juta. Listrik, air, internet tetap kalian bayar sendiri.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku melihat satu per satu wajah keluarga Reza.

Tidak ada yang tampak terkejut.

Itulah bagian yang paling menusuk.

Seolah pembicaraan ini sebenarnya bukan keputusan spontan.

Mereka sudah tahu.

Hanya aku yang tidak tahu.

Bu Marni menyodorkan kertas itu kepadaku.

Di bagian atas tertulis:

Kontribusi Rumah Tangga Nadira

Di bawahnya terdapat beberapa angka.

Uang tinggal: Rp6.500.000.

Dana perawatan rumah: Rp750.000.

Iuran keluarga besar: Rp500.000.

Total: Rp7.750.000 per bulan.

Aku hampir tertawa.

“Ini apa, Bu?”

“Supaya jelas.”

“Jadi saya harus membayar hampir delapan juta setiap bulan?”

Bu Marni mengangguk.

“Jangan lihat jumlahnya saja. Kamu kan bekerja.”

Aku menarik napas.

Aku bekerja sebagai brand manager di sebuah perusahaan makanan.

Penghasilanku cukup baik.

Tetapi itu bukan persoalannya.

“Kalau saya membayar uang tinggal,” tanyaku, “Reza bayar berapa?”

Bu Marni langsung mengernyit.

“Reza?”

“Iya. Dia juga tinggal di rumah itu.”

Salah satu tante Reza berdeham.

Bu Marni meletakkan cangkirnya.

“Reza anak kami.”

Aku tersenyum tipis.

“Lalu saya?”

“Kamu menantu.”

Hanya dua kata.

Tetapi cukup untuk menjelaskan semuanya.

Aku bukan keluarga.

Setidaknya, bukan ketika menyangkut hak.

Namun aku wajib menjadi keluarga ketika menyangkut kewajiban.

Aku menoleh kepada suamiku.

“Mas?”

Reza akhirnya mengangkat kepala.

“Apa?”

“Kamu tahu soal ini?”

Dia diam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Aku tidak membutuhkan jawaban lagi.

Tetapi dia tetap memberikannya.

“Ibu pernah bahas.”

Dadaku seperti ditekan sesuatu.

“Kapan?”

“Sebelum nikah.”

Aku memandangnya tanpa berkedip.

“Dan kamu tidak bilang kepadaku?”

Reza menghela napas, lalu menurunkan suara.

“Nad, jangan diperbesar. Ini cuma kontribusi.”

“Cuma?”

Aku mengambil kertas tadi.

“Rp7,75 juta setiap bulan, diumumkan tiga hari setelah akad di depan seluruh keluarga, dan kamu menyebutnya cuma?”

Bu Marni langsung menyela.

“Jangan bicara tinggi kepada suamimu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Saya tidak bicara tinggi, Bu. Saya sedang memastikan apakah suami saya sengaja menyembunyikan sesuatu dari saya sebelum menikah.”

Reza mulai terlihat kesal.

“Nadira, sudah. Nanti kita bicara di kamar.”

“Kenapa nanti?”

Aku menunjuk seluruh ruangan.

“Ibumu memilih membicarakan uang saya di depan semua orang. Jadi kenapa jawabanmu harus diberikan diam-diam?”

Tidak ada yang bicara.

Reza mengusap wajah.

“Aku pikir setelah menikah kamu akan mengerti.”

Kalimat itu benar-benar membuatku sadar.

Bukan soal uang.

Mereka menunggu sampai akad selesai.

Menunggu sampai pesta berakhir.

Menunggu sampai aku secara resmi menjadi istri Reza.

Baru setelah itu aturan muncul.

Aku berdiri.

“Baik.”

Bu Marni tampak puas sesaat.

Mungkin beliau mengira aku menyerah.

“Kalau begitu bulan depan—”

“Tidak perlu menunggu bulan depan.”

Aku memotong.

“Apa maksudmu?”

“Saya tidak akan tinggal di rumah itu lagi.”

Wajah Bu Marni berubah.

Aku berjalan ke kamar.

Reza langsung mengejarku.

Begitu pintu tertutup, dia memegang lenganku.

“Kamu mau bikin malu aku?”

Aku melepaskan tangannya.

“Aku?”

Aku membuka lemari dan menarik koper besar.

“Yang membahas tarif tinggal istri sendiri seperti menyewakan kamar kos itu ibumu.”

“Rumah itu memang punya orang tuaku!”

“Benar.”

Aku memasukkan beberapa pakaian.

“Makanya aku keluar.”

Reza berdiri di depanku.

“Keluar ke mana?”

Aku berhenti.

Aku baru sadar selama hampir dua tahun pacaran, Reza hanya dua kali datang ke rumahku di Bintaro.

Rumah itu dibeli ayahku ketika aku masih kuliah dan kemudian dialihkan atas namaku setelah aku mulai bekerja.

Aku tinggal di sana bersama sepupuku selama beberapa tahun.

Enam bulan sebelum menikah, sepupuku pindah.

Rumah itu sekarang kosong.

Aku sengaja memilih tinggal bersama Reza karena kupikir memulai rumah tangga di tempat yang dia anggap rumah akan membuatnya lebih nyaman.

Aku bahkan tidak pernah membanggakan apa yang kumiliki.

“Ke rumahku.”

Reza terdiam.

“Rumah Bintaro?”

“Iya.”

“Itu kan masih ada?”

Aku menatapnya.

“Tentu masih ada.”

Entah kenapa wajahnya justru berubah.

Bukan lega.

Bukan sedih.

Melainkan seperti seseorang yang baru menyadari ada rencana yang tidak berjalan sesuai perhitungan.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuat tanganku berhenti di atas koper.

“Kalau kamu memang mau tinggal di sana, setidaknya jangan langsung keluar sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena keluarga sudah membuat perhitungan.”

Aku mengerutkan kening.

“Perhitungan apa?”

Dia tidak menjawab.

Ponselnya yang diletakkan di kasur tiba-tiba menyala.

Sebuah notifikasi WhatsApp muncul.

Nama pengirimnya:

Mas Deni.

Aku tidak berniat membaca.

Tetapi kalimat pertama terlihat jelas di layar.

“Kalau Nadira jadi bayar bulanan, cicilan uang muka ruko kita aman. Jangan sampai dia berubah pikiran.”

Tanganku membeku.

Aku menatap layar.

Lalu menatap Reza.

Wajahnya seketika pucat.

Aku mengambil ponsel itu lebih cepat daripada dia.

“Jadi ini sebenarnya bukan uang tinggal?”

“Nad, dengar dulu—”

Aku membuka percakapannya.

Dan saat melihat pesan-pesan sebelumnya, rasa sakit di dadaku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

Dua minggu sebelum pernikahan, Reza sendiri menulis:

“Tenang. Setelah nikah Nadira pasti ikut aturan rumah. Dari kontribusinya bisa bantu cicilan ruko. Dia penghasilannya paling besar di antara kita.”

Aku mengangkat kepala.

“Di antara kita?”

Reza tidak berani melihatku.

Saat itulah aku sadar.

Mereka bukan sekadar ingin membuatku membayar untuk tinggal.

Mereka sudah memasukkan penghasilanku ke dalam rencana keuangan keluarga mereka bahkan sebelum aku resmi menjadi bagian dari keluarga itu.

Dan yang paling menyakitkan—

suamiku adalah orang yang meyakinkan mereka bahwa aku akan menurut.

#DramaKeluarga #CeritaRumahTangga #MertuaDanMenantu #KisahPernikahan #CeritaViral


Bagian 2 — Aku Pindah ke Rumahku Sendiri, Tetapi Kedatangan Mertuaku Membongkar Rencana Reza yang Jauh Lebih Berani

Aku tidak berteriak.

Justru itu yang membuat Reza semakin panik.

Aku memotret seluruh percakapan WhatsApp yang terbuka di layar.

Kemudian kukembalikan ponselnya.

“Jelaskan.”

“Nadira, itu cuma obrolan.”

“Obrolan tentang mengambil hampir delapan juta setiap bulan dari penghasilanku untuk membayar ruko kakakmu?”

“Bukan mengambil.”

Dia mulai kehilangan kesabaran.

“Kalau tinggal di rumah keluarga, wajar membantu keluarga.”

Aku menutup koper.

“Bagus.”

Aku menarik pegangan koper.

“Mulai hari ini aku tidak tinggal di rumah keluarga kalian.”

Reza menghalangi pintu.

“Jangan kekanak-kanakan.”

Aku menatapnya lama.

“Orang yang menyusun pengeluaran istrinya sebelum akad tanpa memberi tahu dia seharusnya tidak memakai kata dewasa kepada siapa pun.”

Aku keluar.

Di ruang tamu, seluruh keluarga masih menunggu.

Bu Marni berdiri.

“Mau ke mana?”

“Pulang.”

“Ini rumahmu sekarang.”

Aku tersenyum.

“Barusan Ibu bilang ini aset keluarga Reza dan saya harus bayar kalau mau tinggal. Saya tidak keberatan. Saya memilih tidak menyewa.”

Aku mengambil tas.

“Permisi.”

Malam itu aku tidur di rumahku sendiri.

Rumah dua lantai yang selama ini kosong tiba-tiba terasa jauh lebih hangat daripada rumah pengantin yang dipenuhi dekorasi.

Ibuku menelepon.

Aku tidak menceritakan semuanya.

Hanya berkata kami sedang ada masalah.

Keesokan sorenya, bel rumah berbunyi.

Reza datang.

Bersama Bu Marni.

Dan Mas Deni.

Tiga orang.

Aku hampir tertawa.

Aku membuka pintu, tetapi tidak mempersilakan mereka masuk sebelum bertanya,

“Ada apa?”

Bu Marni terlihat tersinggung.

“Kita keluarga. Masa bicara di depan pintu?”

Aku akhirnya membiarkan mereka masuk ke ruang tamu.

Bu Marni melihat sekeliling rumah.

Matanya berhenti pada tangga kayu, ruang makan, lalu taman belakang.

“Kamu sendirian punya rumah sebesar ini?”

Pertanyaan pertama beliau bukan tentang perasaanku.

Aku sudah tahu arah pembicaraan ini.

Reza duduk.

“Nad, kita selesaikan baik-baik.”

“Silakan.”

Bu Marni mengambil alih.

“Kalau kamu keberatan membayar di rumah kami, ya sudah. Reza bisa tinggal di sini.”

Aku mengangguk.

“Lalu?”

Beliau tampak heran.

“Lalu apa?”

“Mas Deni ikut tinggal juga?”

Deni langsung memasang wajah tidak nyaman.

Bu Marni mendecak.

“Kamu jangan menyindir.”

Aku bersandar.

“Karena sejak kemarin saya mulai sulit membedakan mana pernikahan saya dan mana proyek keluarga kalian.”

Reza menatapku.

“Aku akan tinggal di sini. Kita mulai ulang.”

“Tidak.”

Dia membeku.

“Apa?”

“Aku belum selesai memikirkan apakah pernikahan ini masih layak diteruskan.”

Bu Marni langsung berdiri.

“Baru tiga hari menikah sudah bicara begitu?”

Aku menatapnya.

“Baru tiga hari menikah saya sudah diberi tagihan.”

Beliau terdiam.

Mas Deni kemudian mencoba bicara lebih lembut.

“Nadira, soal ruko itu sebenarnya kesempatan bagus. Lokasinya di Jatibening. Kami sudah bayar tanda jadi.”

“Itu urusan Mas.”

“Kalau jalan, hasilnya juga untuk keluarga.”

“Bukan keluarga saya.”

Wajah Deni mengeras.

Reza tiba-tiba berkata,

“Cukup.”

Kemudian dia menatapku.

“Aku minta maaf soal uang tinggal. Kita batalkan.”

Aku hampir percaya dia datang untuk berdamai.

Sampai dia melanjutkan,

“Tapi ada satu hal yang perlu kamu bantu.”

Aku langsung tahu.

“Apa?”

Dia terdiam sesaat.

“Kamu masih simpan sertifikat rumah ini?”

Ruangan terasa sunyi.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Mas Deni cepat-cepat menyela.

“Bukan apa-apa. Kami cuma perlu fotokopi untuk simulasi pinjaman.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Pinjaman siapa?”

Deni menggosok telapak tangannya.

“Untuk ruko.”

Aku tertawa kecil.

“Kenapa sertifikat rumah saya dipakai untuk simulasi pinjaman ruko Mas?”

Bu Marni terlihat kesal.

“Kan hanya fotokopi.”

Aku menatap Reza.

Dia tidak berkata apa-apa.

Kemudian sesuatu terlintas di kepalaku.

Dua minggu sebelum pernikahan, Reza pernah memintaku mengirim scan sertifikat rumah dengan alasan ingin “mengurus perubahan data domisili untuk administrasi setelah nikah”.

Saat itu aku hanya mengirim halaman depan dan beberapa data pendukung.

Tiba-tiba perutku terasa dingin.

Aku berdiri.

Masuk ke ruang kerja.

Membuka laptop.

Aku mencari email lama.

Kemudian mengetik alamat email Reza yang pernah login di browser rumah ini saat dia menggunakan laptopku beberapa bulan sebelumnya.

Satu akun masih tersimpan.

Aku seharusnya keluar.

Tetapi sebuah subjek email membuatku berhenti.

Dokumen Tambahan Pengajuan Agunan — Ruko Jatibening

Tanganku gemetar.

Aku membukanya.

Ada foto KTP Reza.

KTP Mas Deni.

Draft rencana usaha.

Dan scan sertifikat rumahku.

Di bawahnya ada percakapan dari seorang perantara pembiayaan.

“Pemilik sertifikat wajib hadir dan menandatangani. Kalau Ibu Nadira belum setuju, jangan lanjutkan penilaian.”

Balasan Reza membuat darahku terasa berhenti mengalir.

“Setelah akad saya urus. Dia istri saya, nanti saya yakinkan untuk tanda tangan.”

Aku membaca email berikutnya.

Tanggalnya lima hari sebelum pernikahan.

Reza menulis kepada kakaknya:

“Kalau Nadira tidak mau, bilang saja ini syarat administrasi keluarga. Jangan jelaskan soal agunan dulu sebelum notaris.”

Aku menutup laptop.

Kembali ke ruang tamu.

Kemudian meletakkannya tepat di depan mereka.

“Jadi,” kataku pelan, “siapa yang mau menjelaskan kenapa sertifikat rumah saya sudah dikirim untuk pengajuan agunan sebelum saya menjadi istri Reza?”

Wajah Bu Marni kehilangan warna.

Mas Deni langsung berdiri.

Reza mencoba mengambil laptop.

Aku menariknya kembali.

“Jangan sentuh.”

“Nadira, ini belum jadi apa-apa.”

“Karena saya belum tanda tangan.”

“Itu maksudku.”

Aku menatap suamiku.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku benar-benar melihat siapa lelaki di depanku.

Dia tidak menikahiku hanya dengan cinta.

Dia menikahiku sambil membawa daftar asetku ke meja perencanaan keluarganya.

Lalu Bu Marni mengucapkan kalimat yang membuat seluruh sisa rasa hormatku padanya runtuh.

“Kalau sudah menikah, masa istri masih menghitung mana milikmu mana milik suami?”

Aku tersenyum.

“Baik, Bu.”

Aku membuka ponsel.

“Kalau begitu sekarang kita bicara dengan orang yang paling paham soal milik siapa.”

Aku menelepon notaris yang selama ini menyimpan salinan dokumen propertiku.

Dan tepat sebelum sambungan tersambung, Reza berdiri dengan wajah panik.

“Nadira, jangan libatkan orang luar.”

Aku menatapnya.

“Masalahnya, kalian bertiga sudah melibatkan rumah saya sebelum melibatkan saya.”


Bagian 3 — Reza Memintaku Menyelamatkan Ruko Keluarganya, Tetapi Satu Keputusan Membuat Semua Rencana Mereka Runtuh Sekaligus

Notarisku, Pak Surya, mendengarkan penjelasanku sampai selesai.

Aku mengirimkan email yang kutemukan dan bukti percakapan yang sudah kusimpan.

Jawabannya sederhana.

“Jangan menandatangani dokumen apa pun. Simpan seluruh bukti. Sertifikat asli jangan diberikan kepada siapa pun.”

Aku mengiyakan.

Reza berdiri di seberang meja dengan wajah tegang.

Setelah telepon selesai, dia berkata,

“Kamu berlebihan.”

Aku menatapnya.

“Rumah saya hampir kalian masukkan ke rencana utang tanpa izin, tapi saya berlebihan?”

Mas Deni mulai kehilangan kesabaran.

“Belum ada utang! Kami baru konsultasi.”

“Dengan dokumen saya.”

“Reza suamimu.”

“Bukan pemilik rumah ini.”

Ruangan kembali diam.

Bu Marni akhirnya bicara.

“Kamu mau apa sekarang?”

Aku sudah memikirkan pertanyaan itu sejak semalam.

Anehnya, jawabannya sudah sangat jelas.

“Saya mau kalian pulang.”

“Nadira—”

“Sekarang.”

Reza mendekat.

“Kita suami istri.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

“Jadi jangan mengambil keputusan saat emosi.”

“Aku justru baru bisa mengambil keputusan setelah berhenti menutup mata.”

Aku menunjukkan pesan-pesannya.

“Kamu tahu ibumu akan menagihku sebelum pernikahan.”

Dia diam.

“Kamu tahu uang itu akan dipakai untuk ruko kakakmu.”

Diam.

“Kamu mengambil dokumen rumahku dan membicarakan kemungkinan menjadikannya agunan.”

Dia mengepalkan tangan.

“Aku cuma ingin membantu keluarga!”

“Aku juga keluargamu.”

Kalimat itu membuatnya terdiam.

Aku menatapnya lurus.

“Tapi anehnya, satu-satunya orang yang tidak pernah diajak bicara dalam semua rencana kalian adalah aku.”

Mereka akhirnya pergi.

Dua hari berikutnya penuh telepon.

Bu Marni menelepon ibuku.

Menceritakan bahwa aku “terlalu keras”.

Ibuku hanya bertanya satu hal:

“Kalau anak saya tidak menemukan email itu, kapan kalian berniat memberitahunya soal sertifikat?”

Bu Marni tidak bisa menjawab.

Om, tante, bahkan beberapa sepupu Reza mulai menghubungiku.

Sebagian menyuruhku mengalah.

Sebagian lagi ternyata baru mengetahui cerita sebenarnya.

Lalu masalah terbesar datang dari tempat yang tidak kuduga.

Mas Deni sudah membayar uang tanda jadi ruko sebesar Rp85 juta.

Pembayaran itu dilakukan karena dia yakin pengajuan pembiayaan akan berjalan setelah pernikahanku.

Ketika aku menolak memberikan aset sebagai jaminan, pembiayaan tidak bisa diteruskan melalui skema yang mereka rencanakan.

Penjual memberi batas waktu.

Deni harus mencari dana lain atau kehilangan sebagian besar uang tanda jadi sesuai kesepakatan awal mereka.

Bu Marni kembali menelepon.

Kali ini suaranya tidak lagi tinggi.

“Nadira, bantu sekali ini saja.”

“Dengan apa?”

“Datang ke notaris. Dengarkan dulu.”

“Tidak.”

“Deni bisa rugi puluhan juta.”

Aku menahan napas.

“Bu, uang itu dibayarkan tanpa persetujuan saya.”

“Tapi kalian keluarga.”

Aku hampir tersenyum.

Kalimat yang sama lagi.

Keluarga ketika mereka membutuhkan sesuatu.

Menantu ketika hak harus dibagi.

“Ibu benar,” jawabku. “Keluarga seharusnya saling membantu. Tapi keluarga tidak menyusun utang menggunakan aset anggota lain secara diam-diam.”

Aku menutup telepon.

Deni akhirnya gagal mengambil ruko itu.

Sebagian uang tanda jadi hangus.

Menurut kabar dari salah satu sepupu Reza, Deni marah besar kepada Reza karena sebelumnya Reza terus meyakinkannya bahwa “Nadira pasti mau setelah menikah”.

Untuk pertama kalinya, perhitungan mereka berbalik mengenai diri mereka sendiri.

Tetapi bagiku, persoalannya bukan lagi ruko.

Aku bertemu Reza seminggu kemudian di sebuah kafe.

Dia terlihat jauh lebih kurus.

“Aku salah,” katanya.

Aku diam.

“Aku terlalu ingin menyenangkan Ibu dan Mas Deni.”

“Lalu aku?”

Dia menunduk.

“Aku pikir setelah kita menikah, semuanya bisa dibicarakan.”

“Bukan dibicarakan.”

Aku menatapnya.

“Kamu pikir setelah menikah aku akan lebih sulit mengatakan tidak.”

Dia tidak membantah.

Dan diamnya menjadi jawaban terakhir yang kubutuhkan.

Beberapa minggu kemudian aku mengajukan gugatan cerai.

Reza sempat meminta kami mencoba lagi.

Dia bahkan berjanji pindah jauh dari keluarganya.

Namun aku tidak sanggup membangun rumah tangga dengan orang yang baru jujur setelah rencananya terbongkar.

Beberapa bulan kemudian, proses kami selesai.

Tidak ada pesta.

Tidak ada adegan dramatis di depan pengadilan.

Aku hanya berjalan keluar bersama ibuku, menghirup udara siang, lalu merasa jauh lebih ringan daripada hari ketika aku mengenakan gaun pengantin.

Bu Marni tidak pernah lagi menelepon.

Mas Deni juga tidak.

Sementara Reza, menurut teman lama kami, akhirnya menyewa apartemen kecil dekat kantornya.

Tanpa rumah orang tuanya.

Tanpa rumahku.

Tanpa “kontribusi” bulanan dari istrinya.

Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus menghitung kebutuhan hidup menggunakan uangnya sendiri.

Aku tetap tinggal di rumah Bintaro.

Aku mengganti kunci, memperbarui beberapa dokumen keamanan, lalu merenovasi ruang belakang menjadi ruang kerja.

Enam bulan kemudian aku mendapat promosi.

Pada suatu Minggu pagi, aku duduk di taman bersama ayah dan ibuku.

Ayah tiba-tiba bertanya,

“Menyesal?”

Aku tahu maksudnya.

Aku menggeleng.

“Menyesal pernah percaya, sedikit.”

“Menyesal pergi?”

Aku melihat rumah yang selama ini hampir kujadikan jaminan untuk mimpi orang lain tanpa sepengetahuanku.

Kemudian aku tersenyum.

“Tidak.”

Aku pernah mengira mempertahankan pernikahan berarti terus mengalah agar semua orang nyaman.

Ternyata aku salah.

Pernikahan yang sehat membutuhkan kompromi.

Tetapi kompromi hanya mungkin jika kedua orang berdiri sebagai pasangan yang setara.

Kalau satu orang terus memberi sementara yang lain diam-diam menghitung berapa banyak lagi yang bisa diambil, itu bukan rumah tangga.

Itu transaksi.

Dan hari ketika mertuaku meminta uang tinggal di depan seluruh keluarga memang mempermalukanku.

Namun sekarang aku justru bersyukur.

Karena tagihan Rp7,75 juta itu datang cukup cepat untuk membuatku melihat harga sebenarnya dari pernikahan yang sedang kujalani.

Aku tidak membayarnya.

Aku memilih keluar.

Dan keputusan itulah yang menyelamatkan bukan hanya rumahku—

tetapi juga hidupku.