Tujuh Belas Transaksi Palsu Membuka Rahasia Delapan Tahun, dan Kedatangan Seorang Pria Tua Membuat Raka Kehilangan Segalanya dalam Sekejap

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 397 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Tujuh Belas Transaksi Palsu Membuka Rahasia Delapan Tahun, dan Kedatangan Seorang Pria Tua Membuat Raka Kehilangan Segalanya dalam Sekejap

Aku tiba di depan rumah empat puluh menit kemudian. Bahkan sebelum mobilku berhenti sempurna, aku sudah melihat kerumunan kecil di depan gerbang. Dua kendaraan bank terparkir di pinggir jalan, sementara beberapa petugas keamanan kompleks berdiri menjaga jarak. Raka berada di teras dengan wajah merah padam. Maya berdiri di belakangnya mengenakan kardigan panjang, sedangkan ibu mertuaku duduk di kursi dengan tangan gemetar.

Namun perhatianku hanya tertuju kepada pria tua yang berdiri di dekat mobil keempat.

Namanya Pak Surya.

Delapan tahun lalu, ketika Raka hampir kehilangan toko pertamanya, Pak Surya adalah konsultan keuangan yang membantu ayahku menyusun struktur investasi. Setelah ayah meninggal, Raka mengatakan kepadaku bahwa Pak Surya juga meninggal karena sakit saat berada di luar negeri.

Ternyata itu bohong.

Begitu melihatku, Pak Surya berjalan mendekat.

—Maaf saya baru muncul sekarang.

Aku menatapnya.

—Kenapa Raka mengatakan Bapak sudah meninggal?

Pak Surya belum sempat menjawab ketika Raka berteriak.

—Jangan dengarkan dia! Orang tua itu sedang bekerja sama dengan pengacaramu!

Pengacaraku berdiri di samping Pak Surya dan membuka tasnya.

—Kalau begitu, mari kita bicara berdasarkan bukti.

Raka langsung terdiam.

Kami masuk ke ruang tamu. Tempat yang kemarin dipenuhi tawa Maya kini terasa seperti ruang pemeriksaan. Di atas meja diletakkan beberapa salinan dokumen.

Pengacara menunjuk halaman pertama.

—Delapan tahun lalu, modal awal diberikan melalui perusahaan investasi milik istri Anda. Sebagai jaminan, enam lokasi usaha pertama, gudang pusat, dan hak tertentu atas merek dagang dijadikan agunan sampai modal dikembalikan.

Raka menyela.

—Bisnis itu sudah berkembang berkali-kali lipat!

—Benar. Tetapi kewajiban awal tidak pernah diselesaikan.

Wajah Raka berubah.

Maya mendekat.

—Raka, bukankah kamu bilang semuanya milikmu?

Raka membentaknya.

—Diam!

Pak Surya kemudian meletakkan sebuah map di atas meja.

—Masalahnya bukan hanya itu.

Dia menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya, sebuah lembaga keuangan menghubunginya untuk memverifikasi tanda tangan lama karena namanya tercantum sebagai saksi dalam dokumen tambahan.

Dia curiga.

Tanda tangannya dipindai.

Begitu juga tanda tanganku.

Penyelidikan awal menemukan tujuh belas transaksi mencurigakan: pinjaman usaha, perubahan jaminan, pengalihan hak penggunaan aset, dan beberapa kontrak yang seolah-olah telah kusetujui.

Aku memandang Raka.

—Kamu menggunakan namaku?

—Aku melakukan semuanya demi perusahaan kita.

—Perusahaan kita?

Aku hampir tertawa.

—Kemarin kamu sendiri mengatakan aku tidak punya hubungan apa pun dengan pekerjaanmu.

Dia kehilangan kata-kata.

Perwakilan bank kemudian menjelaskan bahwa pembekuan sementara diberlakukan sampai pemeriksaan selesai. Itu bukan berarti seluruh aset otomatis menjadi milikku, tetapi Raka tidak dapat lagi memindahkan dana tertentu atau menggunakan beberapa aset yang sedang disengketakan.

Maya tiba-tiba berdiri.

—Aku tidak tahu apa-apa tentang ini.

Raka menoleh tajam.

—Apa maksudmu?

—Kamu bilang rumah ini sudah bersih. Kamu bilang toko-toko itu milikmu.

Untuk pertama kalinya aku melihat kepanikan menggantikan kesombongan di wajah Maya.

Kemarin dia menyuruhku pergi dengan koper.

Hari ini dia sendiri melihat sekeliling seperti sedang mencari pintu keluar.

Ibu mertuaku tiba-tiba memegang tanganku.

—Kita ini keluarga. Jangan hancurkan hidup Raka hanya karena masalah rumah tangga.

Aku perlahan menarik tanganku.

—Ketika barang-barangku dimasukkan ke kardus, Ibu mengatakan keluarga membutuhkan keturunan. Ketika aku berdiri sendirian di depan pintu, tidak ada seorang pun yang mengingat bahwa aku keluarga.

Dia menunduk.

Aku tidak berteriak.

Aku tidak membutuhkan kemenangan dengan mempermalukan mereka.

Aku hanya ingin kebenaran.

Lalu aku menanyakan satu hal kepada Pak Surya.

—Kenapa Bapak menghilang?

Dia menghela napas.

Tiga tahun lalu Raka mendatanginya dan meminta bantuan untuk mengubah struktur kepemilikan lama. Pak Surya menolak karena perubahan itu membutuhkan persetujuanku. Setelah itu, Raka memintanya untuk tidak lagi menghubungiku dan mengatakan bahwa pernikahan kami sedang bermasalah.

Pak Surya memilih menjauh.

Itulah kesalahannya.

—Saya seharusnya menghubungi Anda langsung.

Aku mengangguk.

Setidaknya dia datang sekarang.

Pemeriksaan berlangsung hampir tiga jam. Pada akhirnya, bank mengambil salinan beberapa perangkat dan catatan transaksi. Pengacaraku menyarankan agar aku tidak membuat keputusan emosional sampai pemeriksaan selesai.

Aku setuju.

Saat hendak pergi, Raka mengejarku sampai halaman.

—Tunggu.

Aku berhenti.

Pria yang kemarin menyuruhku keluar dari rumah kini berdiri tanpa sedikit pun kesombongan.

—Aku salah.

—Tentang apa?

—Tentang semuanya.

Aku menatapnya beberapa detik.

—Tidak, Raka. Kamu menyesal karena rencanamu terbongkar. Itu berbeda dengan menyesali apa yang kamu lakukan.

Dia menelan ludah.

—Aku bisa meninggalkan Maya.

Aku tersenyum tipis.

—Kamu masih belum mengerti. Ini tidak pernah tentang siapa yang kamu pilih setelah ketahuan. Ini tentang siapa dirimu ketika kamu mengira aku tidak punya kekuatan untuk melawan.

Aku masuk ke mobil dan pergi.

Tiga hari kemudian, Maya meninggalkan rumah.

Bukan karena aku mengusirnya.

Dia pergi setelah mengetahui bahwa sebagian besar gaya hidup mewah yang dijanjikan Raka dibangun di atas utang dan aset yang sedang disengketakan.

Seminggu kemudian, ibu mertuaku pindah ke rumah kerabatnya.

Sedangkan Raka menghadapi audit menyeluruh.

Pengacaraku menelepon suatu sore.

—Kami menemukan sesuatu lagi.

Aku memejamkan mata.

—Apa lagi?

—Dari tujuh belas transaksi itu, setidaknya sebelas menggunakan tanda tangan yang diduga bukan milik Anda. Tetapi ada hal lain. Uang dari beberapa pinjaman tidak semuanya masuk ke perusahaan.

—Ke mana uang itu pergi?

—Sebuah rekening investasi pribadi.

—Atas nama Raka?

—Bukan.

Aku berdiri.

—Maya?

—Bukan juga.

Aku menggenggam ponsel.

—Lalu siapa?

Pengacaraku menarik napas.

—Atas nama seseorang yang sangat dekat dengan keluarga Anda. Seseorang yang selama ini bahkan tidak pernah Anda curigai.

Dan ketika dia menyebutkan nama pemilik rekening itu, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku benar-benar kehilangan kemampuan untuk berbicara.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)