Tujuh Tahun Kami Saling Membenci karena Liburan yang Tak Pernah Ada, Sampai Kami Bertemu di Hotel dan Menyadari Orang Tua Kami Menyembunyikan Sesuatu yang Jauh Lebih Kejam dari Kami Berdua

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 1,209 tayangan
Tujuh Tahun Kami Saling Membenci karena Liburan yang Tak Pernah Ada, Sampai Kami Bertemu di Hotel dan Menyadari Orang Tua Kami Menyembunyikan Sesuatu yang Jauh Lebih Kejam dari Kami Berdua
Indeks

Tujuh Tahun Kami Saling Membenci karena Liburan yang Tak Pernah Ada, Sampai Kami Bertemu di Hotel dan Menyadari Orang Tua Kami Menyembunyikan Sesuatu yang Jauh Lebih Kejam dari Kami Berdua

Bagian 1 — Kami Bertemu Saat Sama-Sama Bekerja, Lalu Foto Liburan Orang Tua Membongkar Kebohongan yang Selama Tujuh Tahun Sengaja Memisahkan dan Mengadu Kami

Setiap libur semester, Ayah dan Ibu selalu menghilang sekitar dua minggu.

Dan setiap tahun, alasannya selalu sama.

“Kakakmu sedang tidak baik-baik saja.”

Kadang Ibu bilang Kak Rani stres karena kuliah.

Kadang katanya dia bertengkar dengan dosen pembimbing.

Pernah juga Ibu mengatakan Kak Rani menangis hampir setiap malam karena merasa hidupnya gagal.

“Jangan iri kalau Ayah sama Ibu mengajaknya jalan-jalan,” kata Ibu kepadaku. “Dia lebih rapuh daripada kamu.”

Aku percaya.

Bahkan terlalu percaya.

Selama bertahun-tahun, aku membenci kakakku karena hal itu.

Saat dia “berlibur” ke Bali, aku bekerja membungkus pesanan di toko oleh-oleh.

Saat dia “menenangkan pikiran” di Lombok, aku menjadi kasir minimarket sampai hampir tengah malam.

Saat dia “diajak melihat Bromo”, aku tidur di kamar karyawan sebuah restoran karena jadwal kerjaku dimulai pukul lima pagi.

Foto-foto selalu dikirim Ibu.

Pantai.

Gunung.

Kolam renang hotel.

Makanan laut di atas meja.

Tapi anehnya, Kak Rani tidak pernah terlihat dalam satu foto pun.

Kalau aku bertanya, Ibu selalu punya jawaban.

“Kakakmu sedang tidak percaya diri difoto.”

Aku menelannya bulat-bulat.

Sampai libur tahun ini.

Namaku Naya. Umurku dua puluh dua tahun dan baru lulus kuliah di Surabaya. Karena masih punya waktu sebelum mulai program magister pada September, aku mengambil pekerjaan sementara sebagai pelayan banquet di sebuah hotel dekat Tunjungan.

Malam itu ada resepsi pernikahan besar.

Hampir enam ratus tamu.

Saat acara selesai, kakiku terasa seperti bukan milikku lagi.

Aku sedang mendorong troli penuh piring kotor menuju lift servis ketika seseorang keluar dari pintu gudang sambil memanggul kardus minuman.

Kami hampir bertabrakan.

“Maaf—”

Perempuan itu berhenti.

Aku juga berhenti.

Kardus di tangannya nyaris jatuh.

“Naya?”

Suara itu langsung kukenal.

“Kak Rani?”

Kami berdiri saling menatap seperti dua orang asing yang kebetulan memiliki wajah mirip.

Rambut Kak Rani diikat asal.

Kaos seragam abu-abunya basah oleh keringat.

Ada bekas debu di pipinya.

Sepatunya bahkan sudah sobek sedikit di bagian depan.

Aku otomatis melihat ke kanan dan kiri.

“Kakak ngapain di sini?”

Dia tertawa pendek.

Pertanyaan yang sama keluar dari mulutnya.

“Kamu sendiri ngapain?”

“Kerja.”

“Ya, aku juga kerja.”

Aku mengernyit.

“Bukannya Kakak lagi di Yogyakarta sama Ayah dan Ibu?”

Wajahnya berubah.

“Apa?”

“Katanya Kakak lagi stres gara-gara tesis. Ibu bilang dokter menyarankan Kakak pergi beberapa hari supaya pikiran lebih tenang.”

Kak Rani perlahan meletakkan kardus di lantai.

Lalu dia menatapku begitu lama sampai tengkukku terasa dingin.

“Naya…”

“Apa?”

“Ibu bilang kamu sedang di Bandung bersama mereka.”

Aku sampai tertawa karena mengira dia bercanda.

“Ngapain aku ke Bandung?”

“Kata Ibu, kamu gagal dapat pekerjaan yang kamu incar. Kamu mengurung diri di kamar hampir dua minggu. Ayah takut kamu depresi.”

Senyumku langsung hilang.

“Aku nggak pernah melamar pekerjaan apa pun.”

“Dan aku nggak pernah konsultasi dokter soal tesis.”

Suasana lorong servis tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Dari dapur masih terdengar suara piring beradu.

Tapi aku seperti tak bisa mendengar apa pun selain detak jantungku sendiri.

Aku bertanya pelan, “Sejak kapan Kakak kerja di sini?”

“Enam hari.”

“Kakak tinggal di mana?”

“Asrama karyawan.”

Jawabannya membuat perutku serasa jatuh.

Aku juga tinggal di asrama karyawan.

Hanya berbeda gedung.

Kak Rani bekerja di bagian logistik. Aku di banquet.

Jadwal kami berlawanan.

Dia masuk pagi dan sering membantu bongkar barang sampai sore.

Aku masuk siang dan pulang lewat tengah malam.

Selama hampir seminggu kami berada di hotel yang sama tanpa pernah bertemu.

Persis seperti tujuh tahun sebelumnya.

Aku menelan ludah.

“Ibu yang kasih Kakak info lowongan ini?”

Kak Rani mengangguk.

Aku langsung mengambil ponsel.

Pesan dari Ibu masih ada.

Naya, daripada sendirian di rumah selama Ayah dan Ibu menemani Kak Rani, lebih baik kamu ambil kerja ini. Ada makan dan tempat tinggal. Lumayan tambah pengalaman.

Kak Rani membuka ponselnya.

Pesan Ibu kepadanya hampir sama.

Daripada kamu sendirian di rumah selama kami menemani Naya, lebih baik ambil kerja sementara ini. Ada mess karyawan, jadi aman.

Tanganku mulai dingin.

Kak Rani duduk di atas kardus.

“Tahun lalu kamu ke mana?”

“Kerja di toko oleh-oleh.”

“Tidur di sana?”

“Di kamar belakang sama tiga pegawai lain.”

Dia mengembuskan napas.

“Aku kerja di kafe dekat kampus. Tinggal di kos pegawai selama dua minggu.”

“Dua tahun lalu?”

“Admin tempat les.”

“Aku jaga booth pameran.”

Kami terus membandingkan.

Dan semakin banyak kami bicara, semakin jelas polanya.

Setiap tahun, tepat sebelum Ayah dan Ibu pergi, mereka mencarikan pekerjaan yang menyediakan tempat tinggal untuk kami.

Setelah itu mereka memberi cerita berbeda kepada masing-masing anak.

Kepadaku, Kak Rani adalah anak kesayangan yang sedang diajak liburan.

Kepada Kak Rani, akulah anak manja yang sedang ditemani Ayah dan Ibu.

Lalu bagian paling kejamnya adalah…

Mereka melarang kami berkomunikasi.

Ibu pernah berkata kepadaku, “Jangan kirim pesan ke Kak Rani dulu. Dia merasa kamu selalu membandingkan hidupmu dengannya.”

Sementara kepada Kak Rani, Ibu berkata, “Naya sedang sensitif. Jangan pamer kehidupanmu dulu. Takutnya dia tambah tertekan.”

Kami sama-sama mengira yang lain tidak ingin diganggu.

Kami sama-sama menjaga jarak.

Dan perlahan…

Kami benar-benar menjadi asing.

“Sebentar.”

Kak Rani tiba-tiba membuka galeri ponselnya.

“Lihat ini.”

Dia menunjukkan foto yang dikirim Ibu musim panas lalu.

Pantai dengan pasir putih.

Dua gelas es kelapa di meja kayu.

Sebuah topi jerami berada di sebelahnya.

Pesannya berbunyi:

Naya akhirnya mau keluar kamar. Hari ini dia sudah tertawa lagi.

Kak Rani berkata, “Katanya itu kamu.”

Aku buru-buru mencari percakapanku dengan Ibu.

Aku menemukan foto yang sama.

Persis.

Tapi pesannya berbeda.

Kak Rani sudah lebih tenang. Hari ini dia mau duduk di pantai hampir dua jam.

Tanganku gemetar.

Kami membuka foto tahun sebelumnya.

Pemandangan matahari terbit di Bromo.

Foto yang sama.

Kepada Kak Rani, Ibu berkata aku yang berada di sana.

Kepadaku, Ibu berkata Kak Rani yang berada di sana.

Foto lain.

Kolam renang hotel di Lombok.

Foto lain.

Kapal wisata.

Foto lain.

Meja makan dengan dua piring ikan bakar.

Tidak pernah ada tiga atau empat piring.

Selalu dua.

Aku menatap Kak Rani.

Dia juga menatapku.

“Tujuh tahun…” bisikku.

“Tujuh tahun kita dibohongi.”

Mataku panas.

Bukan hanya karena Ayah dan Ibu berbohong.

Tapi karena kebohongan itu berhasil.

Aku pernah sengaja tidak datang ke acara wisuda diploma Kak Rani karena kesal.

Dia pernah tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.

Kami berhenti saling bercerita.

Berhenti saling meminjam baju.

Berhenti tertawa sampai tengah malam seperti waktu kecil.

Semua karena kami percaya orang tua kami lebih menyayangi anak yang lain.

Aku duduk di lantai.

“Besok mereka pulang jam berapa?”

Kak Rani membuka grup keluarga.

“Pesawat mendarat pukul delapan lewat sepuluh.”

Aku berdiri.

“Besok kita ke bandara.”

“Njemput?”

Aku menggeleng.

“Bukan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Kak Rani tersenyum kecil.

“Aku juga kepikiran begitu.”

Besok pagi, kami tidak akan memberi tahu bahwa kami sudah bertemu.

Kami hanya ingin melihat satu hal.

Kalau selama ini bukan aku yang ikut…

Dan bukan Kak Rani yang ikut…

Lalu sebenarnya, selama tujuh tahun, Ayah dan Ibu pergi ke mana dengan semua uang yang selalu mereka bilang tidak pernah cukup untuk kami?

#DramaKeluarga #CeritaKeluarga #KisahSaudara #RahasiaKeluarga #CeritaViral

Bagian 2 — Di Bandara Kami Menunggu Kepulangan Mereka, Tetapi Satu Koper, Sebuah Struk Bank, dan Nama Kami Membuka Rahasia yang Jauh Lebih Menyakitkan

Pukul tujuh lewat dua puluh pagi, aku dan Kak Rani sudah duduk di terminal kedatangan Bandara Juanda.

Kami sengaja tidak berganti pakaian.

Aku masih memakai celana hitam seragam banquet.

Kak Rani masih memakai jaket kerja gudang.

Kami ingin Ayah dan Ibu melihat sendiri seperti apa keadaan dua anak yang menurut cerita mereka sedang “berlibur”.

Pukul delapan lewat tiga puluh, pintu kedatangan terbuka.

Ibu keluar lebih dulu.

Kacamata hitam bertengger di kepalanya.

Tangannya membawa tas belanja.

Di belakangnya, Ayah mendorong dua koper besar.

Hanya dua.

Tidak ada koper ketiga.

Tidak ada barang yang mungkin milik Kak Rani.

Tidak ada barang yang mungkin milikku.

Mereka tampak kecokelatan karena matahari.

Ibu tertawa sambil menunjukkan sesuatu di ponselnya kepada Ayah.

Kemudian dia melihat kami.

Wajahnya membeku.

Ayah hampir menabrak koper sendiri.

“Naya?”

Ibu menatap Kak Rani.

“Rani?”

Tak seorang pun bergerak beberapa detik.

Aku berdiri.

“Katanya Kak Rani ada sama Ibu.”

Kak Rani ikut berdiri.

“Katanya Naya ada sama kalian.”

Ibu langsung pucat.

Tapi hanya sebentar.

Dia cepat sekali mendapatkan kembali ekspresinya.

“Oh, kalian salah paham. Ibu sebenarnya—”

“Kami sudah lihat semua fotonya,” potongku.

Ayah mendekat.

“Jangan bikin keributan di bandara.”

Aku hampir tertawa.

Tujuh tahun dibohongi, tapi yang dia khawatirkan adalah orang lain mendengar.

Kak Rani bertanya, “Kalian habis dari mana?”

“Lombok.”

“Berdua?”

Ayah diam.

“Berdua?” ulang Kak Rani.

Ibu menghela napas.

“Iya. Memangnya salah orang tua ingin punya waktu sendiri?”

Kalimat itu membuat dadaku sakit.

Sebenarnya kalau sejak awal mereka berkata ingin berlibur berdua, aku mungkin tidak akan marah sebesar ini.

Kami bukan anak kecil.

Masalahnya bukan mereka pergi.

Masalahnya…

Mereka sengaja membuat kami saling membenci supaya kami tidak bertanya.

“Apa perlu bilang aku gagal kerja?” tanyaku.

Ibu memalingkan muka.

“Perlu bilang aku depresi gara-gara tesis?” tanya Kak Rani.

“Kalian kalau diberi tahu Ibu mau pergi berdua pasti protes,” kata Ayah.

Aku menatapnya.

“Kapan kami pernah protes?”

Ayah tidak menjawab.

Aku menunjuk tas belanja Ibu.

“Dan uangnya dari mana?”

Wajah Ayah berubah.

“Uang kami.”

“Katanya tahun ini uang keluarga lagi sulit. Aku bahkan bayar sendiri biaya daftar magister.”

“Kakak juga bayar uang kos sendiri,” sambung Rani.

Ayah meninggikan suara.

“Kalian sudah dewasa. Memang harus belajar mandiri.”

Saat itulah salah satu koper yang berdiri di samping Ayah miring.

Resleting kantong depannya ternyata belum tertutup sempurna.

Sebuah amplop putih jatuh.

Beberapa lembar kertas meluncur ke lantai.

Aku refleks membantu mengambilnya.

Lalu mataku berhenti pada satu baris.

BUKTI TRANSFER

Rp37.500.000.

Penerima: sebuah agen perjalanan.

Pengirim: rekening yang keterangannya membuat tanganku membeku.

Pengelolaan Sewa Kios — Rani & Naya.

Aku menatap Kak Rani.

Dia merebut kertas itu.

“Apa ini?”

Ayah langsung mencoba mengambilnya.

“Kasih sini!”

Kak Rani mundur.

“Kenapa nama kami ada di rekening ini?”

Ibu mulai panik.

“Itu cuma nama administrasi.”

Tapi Kak Rani tiba-tiba terlihat seperti baru teringat sesuatu.

“Tunggu.”

Dia membuka email di ponselnya.

Beberapa minggu sebelumnya, seorang staf notaris di Sidoarjo pernah mengirim pesan kepadanya.

Saat itu Kak Rani mengira salah alamat.

Subjeknya:

Pembaharuan Kuasa Pengelolaan Dua Unit Kios Warisan Bapak Haryono.

Haryono adalah nama kakek kami.

Kakek meninggal ketika aku masih SMP.

Aku hanya tahu beliau pernah memiliki beberapa properti kecil.

Ibu selalu bilang semuanya sudah dijual untuk membayar utang usaha dan biaya pengobatan.

Kak Rani menunjukkan email itu kepada kami.

Ibu benar-benar kehilangan warna wajah.

“Ayah.”

Suara Kak Rani gemetar.

“Dua kios apa?”

Ayah tidak menjawab.

Aku membaca layar.

Di bagian bawah tercantum nama pemilik manfaat.

Rani Prameswari.

Naya Prameswari.

Namaku.

Nama Kak Rani.

Ada juga catatan bahwa sejak kami masih di bawah umur, pengelolaan diserahkan sementara kepada orang tua.

Kak Rani menatap Ayah.

“Berapa lama kios itu disewakan?”

Ayah berkata pelan, “Ini bukan tempatnya membicarakan masalah keluarga.”

“Berapa lama?”

Ibu akhirnya berkata, “Sudah lama.”

“Uangnya ke mana?”

“Dipakai keluarga.”

Aku mengangkat bukti pembayaran paket wisata di tanganku.

“Ini juga keluarga?”

Tidak ada jawaban.

Kak Rani mulai mencari dokumen lain dari amplop yang jatuh.

Ada kuitansi hotel.

Pembelian tiket kapal.

Dan satu lembar rekap rekening.

Transfer masuk dari penyewa muncul hampir setiap bulan.

Jutaan rupiah.

Bertahun-tahun.

Sementara kami bekerja sampai tengah malam untuk membeli laptop sendiri.

Mengambil shift tambahan untuk bayar buku.

Menunda pulang karena tiket dianggap mahal.

Dan setiap musim liburan, orang tua kami pergi menggunakan uang dari aset yang bahkan tidak pernah kami tahu menjadi hak kami.

Kak Rani mengangkat wajah.

Matanya merah.

“Jadi kalian bukan cuma membuat kami saling membenci supaya bisa liburan dengan tenang.”

Dia menunjukkan rekap itu.

“Kalian membuat kami bekerja supaya kami tidak sadar bahwa selama ini biaya hidup kami sebenarnya sudah tersedia.”

Ayah menatap kami dengan wajah keras.

Kemudian dia mengatakan kalimat yang akhirnya membuatku benar-benar berhenti menganggap semua ini hanya sebagai kebohongan kecil orang tua.

“Jangan sok menghitung hak kalian. Kalau bukan karena Ayah dan Ibu yang membesarkan kalian, kalian bahkan tidak akan punya apa-apa.”

Kak Rani menggenggam tanganku.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku menggenggam balik.

Dan pagi itu kami pulang bukan bersama Ayah dan Ibu.

Kami pergi berdua.

Langsung menuju kantor notaris yang alamatnya tercantum di email.

Karena kalau angka dalam laporan itu benar…

Masalah kami ternyata jauh lebih besar daripada tujuh liburan palsu.

Bagian 3 — Kami Berhenti Menjadi Anak yang Mudah Diadu, Membuka Semua Bukti di Depan Keluarga, dan Membuat Orang Tua Menanggung Akibat Kebohongan Mereka Sendiri

Dua hari kemudian, aku dan Kak Rani duduk di ruang rapat kecil kantor notaris.

Di depan kami ada salinan dokumen hibah dari Kakek.

Ternyata sebelum meninggal, Kakek telah mengalihkan dua kios kecil di Sidoarjo kepada kami.

Satu untuk Kak Rani.

Satu untukku.

Karena saat itu kami masih di bawah umur, Ayah diberi kuasa mengelola sewanya sampai kami cukup dewasa untuk mengambil alih.

“Apakah properti ini pernah dijual?” tanyaku.

Staf notaris menggeleng.

“Tidak. Sampai hari ini masih disewakan.”

Aku menatap Kak Rani.

Semua yang selama ini kami dengar ternyata bohong.

Kami meminta rekap pembayaran dari pengelola.

Setelah menghitung pemasukan, biaya perawatan, pajak, dan beberapa pengeluaran yang memang pernah digunakan untuk sekolah kami, masih ada jumlah besar yang tidak bisa dijelaskan.

Lebih dari Rp280 juta.

Kami tidak langsung pulang.

Kami menghubungi Tante Sari, adik Ibu yang selama ini jarang ikut campur urusan keluarga.

Begitu melihat dokumen itu, wajahnya langsung berubah.

“Jadi kalian benar-benar tidak pernah tahu?”

Kami menggeleng.

Tante Sari menutup mulut.

“Kakek sengaja memberikan kios itu kepada kalian supaya kalian punya biaya kuliah. Dulu beliau takut usaha ayah kalian tidak stabil.”

Dadaku sesak.

Ternyata ada seseorang yang sudah memikirkan masa depan kami sejak lama.

Hanya saja kami tidak pernah diberi tahu.

Malam Minggu berikutnya, kami meminta seluruh keluarga berkumpul di rumah Tante Sari.

Ayah menolak datang.

Kami mengirim satu foto.

Foto dokumen dari notaris.

Dua puluh menit kemudian, Ayah dan Ibu muncul.

Ibu langsung menangis.

“Naya, Rani, kenapa masalah rumah dibawa ke luar?”

Kak Rani menjawab tenang.

“Karena tujuh tahun kami mencoba menyelesaikan masalah yang bahkan kami tidak tahu kalian ciptakan.”

Aku meletakkan dua ponsel di atas meja.

Kami menunjukkan semua foto perjalanan.

Foto pantai yang sama.

Gunung yang sama.

Hotel yang sama.

Dengan dua cerita berbeda.

Lalu kami menunjukkan bukti bahwa setiap kali mereka pergi, mereka sengaja mencarikan pekerjaan yang menyediakan tempat tinggal untuk kami.

Kemudian dokumen kios diletakkan paling akhir.

Ruangan sunyi.

Ibu masih mencoba membela diri.

“Kalian pikir membesarkan anak tidak pakai uang?”

Aku mengangguk.

“Pakai.”

Aku mendorong sebuah map ke depan.

“Makanya kami tidak menuntut semua pemasukan kios dikembalikan. Biaya sekolah yang benar-benar dipakai untuk kami sudah dihitung.”

Ayah menatap map itu.

Wajahnya semakin tegang.

“Tapi uang yang dipakai untuk liburan, uang muka mobil, renovasi kamar, dan belanja pribadi bukan biaya membesarkan anak.”

Tante Sari ikut bicara.

“Kak, mereka bukan mempermasalahkan kalian memakai uang keluarga. Mereka mempermasalahkan kalian menyembunyikan hak mereka sambil membuat dua anak ini saling benci.”

Ibu terdiam.

Aku kira Ayah akan marah.

Ternyata dia justru berkata sesuatu yang lebih buruk.

“Kalau tahu soal kios dari dulu, kalian pasti jadi anak manja.”

Kak Rani tertawa kecil.

Aku belum pernah mendengar tawa sesedih itu.

“Yah, aku pernah kerja sampai jam dua pagi sambil menulis tesis.”

Dia menunjukku.

“Naya pernah demam tapi tetap masuk shift karena takut dipotong gaji.”

Lalu dia menatap Ayah.

“Yang membuat kami sakit bukan disuruh mandiri.”

“Yang membuat kami sakit adalah kalian sengaja membuat kami percaya bahwa saudara sendiri adalah musuh.”

Tak ada lagi yang bisa menjawab itu.

Hari itu kami memberikan dua pilihan.

Pertama, pengelolaan kios langsung dialihkan kepada kami dan seluruh penyewa membayar langsung ke rekening baru.

Kedua, jumlah uang yang terbukti digunakan untuk keperluan pribadi dikembalikan secara bertahap melalui perjanjian tertulis.

Kalau mereka menolak, kami akan menempuh jalur hukum.

Ayah awalnya menolak.

Tiga minggu kemudian dia berubah pikiran setelah berkonsultasi sendiri.

Mobil baru mereka dijual.

Sebagian uang dikembalikan.

Sisanya dicicil setiap bulan.

Untuk pertama kalinya, Ayah tidak lagi memegang satu rupiah pun dari pendapatan kios kami.

Tapi hukuman terbesar bagi mereka bukan uang.

Kami berhenti membiarkan mereka menjadi perantara hubungan kami.

Aku pindah dari rumah.

Kak Rani membantuku mencari kamar kos dekat kampus.

Saat dia sidang tesis, aku duduk di barisan paling depan.

Ketika aku diterima di program magister, orang pertama yang kutelepon bukan Ibu.

Kak Rani.

Kami perlahan membicarakan tujuh tahun yang hilang.

Ternyata dia juga pernah menangis karena mengira aku tidak peduli kepadanya.

Ternyata dia menyimpan hadiah ulang tahunku selama dua tahun karena Ibu berkata aku sedang marah padanya.

Ternyata banyak kebencian kami tidak pernah benar-benar berasal dari kami.

Enam bulan kemudian, kami mengambil cuti tiga hari.

Bukan Bali.

Bukan Lombok.

Bukan hotel mahal.

Kami naik kereta ke Yogyakarta, tidur di penginapan sederhana, makan gudeg di pinggir jalan, berjalan sampai kaki pegal, dan mengambil foto sebanyak mungkin.

Dalam setiap foto, kami berdua ada di dalamnya.

Tidak ada pantai kosong.

Tidak ada dua gelas minuman tanpa wajah.

Tidak ada cerita palsu yang harus dikirim kepada siapa pun.

Malam terakhir, kami duduk di depan penginapan sambil melihat foto-foto lama.

Kak Rani bertanya, “Kamu masih marah sama aku?”

Aku menggeleng.

“Aku marah karena kita kehilangan tujuh tahun.”

Dia tersenyum.

“Kalau begitu jangan kehilangan tujuh tahun berikutnya.”

Aku tertawa.

Sejak hari itu, satu aturan berlaku di antara kami.

Kalau ada masalah, kami bertanya langsung satu sama lain.

Tidak lewat Ayah.

Tidak lewat Ibu.

Tidak lewat siapa pun.

Karena akhirnya kami mengerti satu hal.

Hubungan saudara tidak hancur hanya karena perbedaan.

Kadang hubungan itu hancur karena seseorang terus berdiri di tengah, membisikkan cerita berbeda ke dua telinga.

Dan begitu orang itu tidak lagi diberi tempat untuk berbicara atas nama kami…

Aku mendapatkan kakakku kembali.