Tunangan Saya Menikahi Mantannya demi Anak Lima Tahun, Lalu Meminta Saya Menunggu Sampai Anak Itu Besar
Bagian 1
Aku sedang berdiri bersama Kevin di antrean layanan pencatatan perkawinan ketika seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun tiba-tiba berlari dari arah halaman depan.
Anak itu memeluk kaki Kevin begitu erat sampai Kevin hampir kehilangan keseimbangan.
“Papa!”
Aku menatapnya, lalu menatap Kevin.
Beberapa orang di belakang kami ikut menoleh.

Reaksi pertamaku justru sederhana. Aku mengira anak itu salah orang, atau mungkin sedang disuruh seseorang melakukan lelucon yang tidak lucu.
Namun Kevin tidak mundur.
Wajahnya yang sejak pagi tegang mendadak melunak.
Ia membungkuk, mengangkat anak itu ke dalam pelukannya, lalu mengusap rambutnya dengan gerakan yang terlalu alami untuk disebut kebetulan.
“Nara,” katanya pelan. “Aku baru tahu beberapa hari lalu.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Lima tahun lalu, waktu aku putus dengan Selma, ternyata dia sedang hamil.”
Nama itu kukenal.
Selma adalah perempuan yang pernah berpacaran dengan Kevin sebelum aku masuk ke hidupnya.
Kevin selalu menceritakan hubungan itu sebagai sesuatu yang sudah selesai. Tidak ada urusan tertunda. Tidak ada perasaan tersisa. Tidak ada alasan bagiku untuk khawatir.
Ternyata ada seorang anak.
Aku memandang bocah yang masih melingkarkan tangan di leher Kevin.
“Lalu?”
Kevin menarik napas.
“Selma baru kembali ke Indonesia. Selama ini dia membesarkan Raka sendiri.”
“Dan?”
“Nara, kamu tahu sendiri bagaimana omongan orang. Anak ini sudah lima tahun tidak punya ayah di sisinya. Selma juga selama ini menanggung semuanya sendiri.”
Aku masih belum mengerti ke mana arah kalimat itu.
Sampai seorang perempuan datang mendekat.
Rambutnya panjang, pakaiannya rapi, dan dari caranya berjalan aku langsung tahu siapa dia bahkan sebelum Kevin menyebut namanya.
Selma.
Ia berhenti di samping Kevin.
Kevin menurunkan Raka, lalu tangannya mencari tangan Selma.
Jari mereka bertaut.
Bukan sentuhan canggung dua orang yang baru kembali bertemu setelah lima tahun.
Mereka berdiri seperti keluarga yang sedang mencoba menyesuaikan posisi untuk sebuah foto.
Aku bertanya, “Jadi maksudmu apa?”
Kevin menatapku cukup lama sebelum menjawab.
“Aku harus menikah dengan Selma.”
Suara-suara di sekeliling kami seakan menjauh.
Aku menatap tangan mereka yang masih bergandengan.
“Kalau begitu kita?”
Kevin malah mengerutkan dahi seolah aku sedang membuat persoalan sederhana menjadi rumit.
“Kita jangan berpikir terlalu jauh dulu.”
Ia melirik gedung di belakang kami.
“Karena kita sudah telanjur datang, bagaimana kalau nanti kita foto saja di depan sini?”
Aku mengira aku salah dengar.
Kevin melanjutkan dengan nada lebih ringan.
“Kamu bisa unggah kalau mau. Teman-temanmu juga tidak perlu tahu detailnya sekarang.”
Selma bahkan sudah mengangkat teleponnya.
“Ayo,” katanya sambil tersenyum. “Berdiri saja dekat Kevin. Dari luar orang juga tidak tahu dokumen siapa yang dipegang.”
Aku menatap mereka bergantian.
Kevin mendekat satu langkah.
“Jangan salah paham. Orang yang aku cintai tetap kamu.”
Aku hampir tertawa, tetapi entah bagaimana tidak ada yang lucu.
“Selma cuma keluarga sekarang,” katanya. “Aku hanya ingin bertanggung jawab pada Raka.”
“Hanya?”
“Aku akan menjalani pernikahan ini dulu. Anggap saja aku sedang menjadi suami untuk mereka sementara waktu.”
Aku menatap wajahnya.
Ia benar-benar percaya penjelasan itu masuk akal.
“Anaknya tidak salah apa-apa, Nar. Dia sudah tumbuh tanpa ayah. Aku tidak mau dia besar dengan luka karena merasa ditolak ayah kandungnya sendiri.”
Kevin merendahkan suara.
“Pernikahan kita ditunda sebentar. Nanti setelah situasinya lebih tenang, setelah Raka lebih besar, aku akan memberikan pernikahan yang jauh lebih baik untukmu.”
Aku tidak bertanya berapa lama yang dimaksud dengan “sebentar”.
Lima tahun?
Sepuluh tahun?
Sampai seorang anak cukup dewasa untuk memahami bahwa ayahnya menikahi ibunya sambil mengatakan kepada perempuan lain bahwa cinta sejatinya ada di luar rumah?
Kevin, Selma, dan Raka kemudian masuk bersama untuk melanjutkan urusan mereka.
Aku tetap berdiri di luar.
Beberapa menit kemudian aku mengeluarkan telepon dan mencari satu nama yang selama bertahun-tahun selalu kubiarkan berada terlalu jauh di bawah daftar percakapan.
Arvin Santoso.
Ia mengenalku hampir sepuluh tahun.
Dan selama hampir sepuluh tahun pula, dengan cara yang kadang mengganggu dan kadang terlalu sabar, ia tidak pernah menyembunyikan perasaannya.
Telepon tersambung.
“Halo?”
“Vin.”
“Nara?”
“Aku sedang di kantor pencatatan perkawinan.”
“Kenapa suaramu begitu?”
Aku melihat pintu yang baru saja dilewati Kevin.
“Aku kurang satu orang untuk menikah.”
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu Arvin berkata, “Kamu ini kalau membuat kejutan kenapa selalu ekstrem?”
Aku mendengar suara orang berbicara dalam bahasa Inggris di belakangnya.
“Aku baru sampai Singapura. Ada penandatanganan kerja sama siang ini.”
Aku terdiam.
“Ya sudah,” kataku. “Lupakan saja.”
“Jangan!”
Suaranya tiba-tiba keras.
Beberapa orang di dekatku ikut menoleh.
“Nara, jangan tutup telepon.”
“Kamu sedang kerja.”
“Aku bisa pulang.”
“Vin, aku cuma bicara spontan.”
“Kalau sebelum kantor itu tutup aku belum sampai, baru kamu boleh bilang aku banyak omong.”
Aku menghela napas.
“Tidak usah.”
“Pokoknya tunggu.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang kukenal sejak kami masih kuliah.
“Siapa yang berubah pikiran duluan berarti anjing.”
Aku menutup telepon sambil menggeleng.
Aku baru hendak mencari tempat duduk ketika seseorang memanggil namaku dari belakang.
“Nara Lim!”
Aku menoleh.
Kevin keluar bersama Selma dan Raka.
Di tangan Selma ada map dokumen perkawinan yang baru mereka urus.
Wajah mereka jauh lebih santai daripada setengah jam sebelumnya.
Raka digendong Kevin.
Tangan Selma kembali berada dalam genggamannya.
Kevin mendatangiku.
“Kamu masih di sini?”
“Menunggu orang.”
“Siapa?”
“Orang yang akan menikah denganku.”
Raut wajah Kevin langsung berubah.
“Kamu mulai lagi.”
“Apa?”
“Nyindir.”
“Aku tidak sedang menyindir.”
“Nara, aku sudah menjelaskan semuanya. Aku juga baru tahu Raka anakku. Semua orang punya masa lalu.”
Aku mengangguk.
“Aku mengerti.”
Kevin meraih pergelangan tanganku.
“Kalau mengerti, pulang. Jangan bikin keributan di depan anak.”
Aku melepaskan tangannya.
“Aku benar-benar sedang menunggu seseorang.”
Tatapannya mengeras.
“Nara, aku bilang sekali lagi. Kalau kamu terus bersikap begini, aku akan semakin muak.”
Selma mendekat dengan senyum tipis yang segera berubah menjadi ekspresi prihatin.
“Kamu marah karena hari ini tidak jadi mengurus pernikahan dengan Kevin?”
Ia membuka mapnya dan mengeluarkan salah satu dokumen.
“Begini saja. Kamu dan Kevin foto bersama sambil pegang map ini. Dari luar kan tidak kelihatan nama siapa yang tercantum.”
Aku tidak menyentuhnya.
Kertas itu terlepas dari tangannya dan jatuh.
Selma langsung membungkuk.
Matanya memerah ketika ia berdiri lagi.
“Maaf. Seharusnya aku memang tidak kembali membawa Raka.”
Kevin menatapku tajam.
“Nara, harus sekecil itu hatimu?”
Aku tidak menjawab.
“Kalau kamu tidak bisa menerima Selma dan Raka, kita putus saja.”
“Baik.”
Kevin terdiam.
Mungkin ia mengharapkan tangisan.
Atau setidaknya sebuah pertanyaan.
Selma menyentuh bahu Raka dan mendorongnya pelan ke arahku.
“Raka, panggil Tante Nara. Bilang Tante jangan marah lagi.”
Anak itu justru mundur.
“Nggak mau!”
Ia menunjukku.
“Dia perempuan jahat! Mama bilang dia mau ambil Papa!”
Sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, Raka mendorong pinggangku.
Dorongannya tidak kuat, tetapi cukup membuat beberapa orang di sekitar kami memperhatikan.
“Jangan rebut Papa!”
Seseorang berbisik cukup keras di belakangku.
“Kasihan juga istrinya. Sampai orang ketiga datang ke sini.”
Aku memandang Raka.
“Aku dan papamu sudah putus.”
Anak itu terdiam.
Aku menoleh kepada Selma, lalu Kevin.
“Jadi kamu tidak perlu takut.”
Aku tersenyum tipis.
“Semoga papa dan mamamu hidup baik bersama sampai tua.”
Kevin akhirnya terlihat puas.
“Nah. Begitu lebih baik.”
Ia mengangkat Raka lagi.
“Kalau dari awal kamu bisa berpikir dewasa begini, semuanya lebih mudah.”
Ia menggandeng Selma dan pergi.
Aku memperhatikan punggung mereka sampai menghilang di area parkir.
Kevin salah memahami satu hal.
Aku tidak sedang mengalah.
Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.
Aku berjalan ke sebuah kedai kopi tidak jauh dari kantor itu dan memesan minuman yang akhirnya hampir tidak kusentuh.
Aku masih menunggu Arvin ketika sebuah berita bisnis muncul di layar teleponku.
Direktur muda Santoso Group meninggalkan seremoni penandatanganan kerja sama di Singapura secara mendadak.
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku membuka beritanya.
Video pendek mulai diputar.
Seorang pria tinggi dengan setelan abu-abu berjalan cepat keluar dari sebuah ruangan konferensi sambil berbicara melalui telepon.
Aku mengenali bahunya.
Cara jalannya.
Bahkan gerakan tangannya ketika merasa terburu-buru.
Arvin.
Dalam video itu terdengar samar suaranya.
“Siapa yang berubah pikiran duluan berarti anjing.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Video berlanjut pada wawancara dengan salah satu perwakilan perusahaan mitra, seorang pria tua asal Eropa yang tampaknya sama sekali tidak tersinggung.
Ketika ditanya apakah kepergian Arvin dianggap tidak profesional, lelaki itu hanya tertawa.
“Tidak. Ada hal yang kadang lebih penting daripada seremoni bisnis. Kami akan menyelesaikan prosesnya setelah dia kembali. Kerja sama tidak berubah.”
Aku mematikan video.
Selama hampir sepuluh tahun, Arvin selalu muncul ketika aku membutuhkannya.
Masalahnya, selama hampir sepuluh tahun juga aku menganggap kehadiran itu sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia.
Aku membuka email.
Kuketik namanya di kolom pencarian.
Ratusan pesan lama muncul.
Sebagian kukenal.
Sebagian bahkan tidak pernah kubuka sampai selesai.
Ada ucapan ulang tahun.
Ada cerita tentang kota-kota yang ia kunjungi.
Ada pesan setelah aku sakit saat kuliah.
Ada email panjang yang dulu kubaca dua paragraf lalu kututup karena merasa Arvin terlalu banyak bicara.
Sekarang aku membukanya satu per satu.
Tidak ada janji fantastis.
Tidak ada kalimat bahwa ia akan memberiku dunia.
Ia hanya selalu mengingat hal-hal kecil yang bahkan sering kulupakan tentang diriku sendiri.
Dulu aku menganggapnya berlebihan.
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku memahami apa yang sebenarnya sedang kubaca.
Semua email itu adalah surat cinta.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Hampir pukul empat ketika Arvin akhirnya muncul di depan kedai kopi dengan kemeja yang kusut dan sebuah tas kerja kecil masih menggantung di bahunya.
Ia tidak datang membawa bunga.
Tidak ada cincin.
Tidak ada ekspresi kemenangan karena perempuan yang selama bertahun-tahun menolaknya akhirnya menelepon.
Ia hanya berdiri di depan mejaku sambil menarik napas.
“Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu justru membuatku merasa lebih malu.
“Aku tadi benar-benar meneleponmu untuk menikah.”
“Aku tahu.”
“Setelah baru saja ditinggal tunangan.”
“Aku juga tahu.”
“Dan kamu tetap datang?”
Arvin menarik kursi.
“Aku datang karena kamu menelepon.”
Ia melihat jam tangannya.
“Kalau soal menikah hari ini, kita bahkan belum punya dokumen yang benar. Aku juga tidak akan mengajakmu mencari celah supaya bisa melakukan sesuatu yang nanti kamu sesali.”
Aku menatapnya.
Entah kenapa kalimat itu terasa lebih meyakinkan daripada sepuluh tahun surat cintanya.
“Aku kira kamu akan senang.”
“Aku senang kamu akhirnya memikirkan aku.”
Ia mengambil gelas air dari pelayan.
“Tapi aku tidak mau menang karena Kevin baru saja menyakitimu.”
Aku menunduk.
“Jadi sekarang?”
“Sekarang kita makan. Setelah itu aku antar kamu pulang.”
Sesederhana itu.
Kami belum sempat memesan ketika teleponku bergetar.
Kevin.
Aku membiarkannya.
Lima menit kemudian pesan masuk.
Kamu masih di sana?
Pesan kedua menyusul.
Jangan bikin keputusan bodoh cuma karena marah.
Lalu pesan ketiga.
Aku menikah dengan Selma demi Raka, bukan karena aku memilih dia daripada kamu.
Aku menunjukkan layar kepada Arvin.
Ia membaca sebentar lalu mengembalikan teleponku.
“Dia ingin apa?”
“Kurasa dia ingin aku tetap menunggu.”
“Dan kamu mau?”
Aku memandang pintu kedai.
“Pagi tadi aku masih mau menikah dengannya.”
Arvin mengangguk.
“Makanya jangan menjawab pertanyaan besar hari ini.”
Aku mematikan layar.
Malam itu Arvin mengantarku ke apartemenku.
Ia tidak naik.
Sebelum pergi, ia hanya berkata, “Tidur dulu. Besok, baru urus apa yang memang perlu kamu urus.”
Pagi berikutnya aku mulai dari hal yang paling sederhana.
Bukan cinta.
Bukan balas dendam.
Administrasi.
Aku menghubungi gedung tempat resepsi kami seharusnya diadakan tiga bulan lagi.
Uang muka sebagian besar dibayar dari rekeningku.
Aku membatalkan reservasi.
Setelah itu aku menghubungi vendor dekorasi, fotografer, dan katering.
Beberapa uang muka tidak bisa kembali penuh.
Aku menerimanya.
Lebih baik kehilangan sejumlah uang daripada membiarkan semua orang tetap bekerja untuk pernikahan yang sudah tidak ada.
Menjelang siang Kevin menelepon lagi.
Kali ini aku mengangkat.
“Kamu membatalkan gedung?”
“Ya.”
“Nara, kenapa?”
Aku terdiam sesaat.
“Karena kita batal menikah.”
“Aku bilang ditunda.”
“Kamu yang bilang kita putus.”
“Itu karena kamu keras kepala!”
Aku memindahkan telepon dari telinga ketika suaranya meninggi.
“Dan sekarang kamu sudah menikah dengan Selma.”
Kevin menurunkan suaranya.
“Jangan bicara seolah aku mengkhianatimu. Aku sedang bertanggung jawab.”
“Bagus.”
“Apa maksudmu?”
“Kalau begitu jalani tanggung jawabmu.”
“Nara.”
Aku menunggu.
“Aku tetap mencintaimu.”
“Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan informasi itu.”
Ia diam.
Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun kami bersama, aku tidak merasa harus menyelamatkan percakapan ketika Kevin tidak tahu harus berkata apa.
Sore itu Selma mengirim pesan.
Aku hampir menghapusnya tanpa membuka, tetapi kalimat pertama membuat jariku berhenti.
Tolong jangan salahkan Kevin. Dia melakukan ini karena saya meminta Raka punya keluarga utuh.
Aku membaca sampai akhir.
Di bagian bawah ada satu kalimat lagi.
Kevin bilang hubungan kalian sebenarnya belum benar-benar selesai dan kamu akan menunggu sampai semuanya lebih mudah.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Jadi itu yang Kevin katakan kepada istrinya sehari setelah menikah.
Bukan bahwa aku mantan tunangannya.
Bukan bahwa hubungan kami sudah selesai.
Ia mengatakan aku akan menunggu.
Aku mengambil tangkapan layar, lalu menaruh telepon di atas meja.
Saat itulah aku sadar masalahnya jauh lebih buruk daripada seorang lelaki yang panik karena mendadak mengetahui dirinya punya anak.
Kevin telah menyusun sebuah masa depan di mana dua perempuan diminta menyesuaikan hidup mereka dengan keputusan yang hanya ia buat sendiri.
Dan entah kepada Selma maupun kepadaku, ia tidak pernah benar-benar mengatakan seluruh kebenaran.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak membalas pesan Selma malam itu.
Bukan karena aku ingin membuatnya menunggu.
Aku hanya tidak ingin menulis sesuatu ketika pikiranku masih penuh amarah.
Besok paginya aku membaca pesannya sekali lagi.
Kemudian aku mengetik pendek.
Saya tidak menyalahkan Anda atas keputusan Kevin. Tetapi saya tidak akan menunggu dia. Hubungan kami selesai kemarin.
Aku mengirimnya.
Tiga menit kemudian tanda bahwa Selma sedang mengetik muncul, hilang, muncul lagi.
Akhirnya hanya satu jawaban yang masuk.
Baik. Terima kasih sudah menjelaskan.
Aku tidak tahu apakah ia percaya.
Itu juga bukan lagi tugasku.
Hari itu aku pergi ke kantor seperti biasa.
Aku bekerja di perusahaan desain interior milik keluarga yang sejak dua tahun terakhir sebagian besar kutangani sendiri. Ayahku sudah jarang datang karena ingin mengurangi pekerjaan, sedangkan ibuku lebih suka mengurus bagian administrasi dari rumah.
Kevin mengenal keluargaku dengan baik.
Selama kami bertunangan, ia sering datang ke kantor, makan bersama orang tuaku, bahkan ikut beberapa acara perusahaan.
Karena itulah pada siang hari resepsionis menelepon ke ruanganku.
“Mbak Nara, Pak Kevin di bawah.”
Aku memejamkan mata sebentar.
“Dia ada janji?”
“Tidak.”
“Bilang aku sedang bekerja.”
Beberapa menit kemudian telepon meja berbunyi lagi.
“Dia bilang cuma lima menit.”
Aku hampir menyuruh satpam mengantarnya keluar.
Tetapi kemudian kupikir, mungkin lebih baik menyelesaikan satu hal dengan jelas.
“Suruh ke ruang rapat kecil.”
Kevin sudah duduk ketika aku masuk.
Ia terlihat lelah.
“Kenapa harus di sini?” tanyanya.
“Karena ini kantor.”
“Aku pikir kita bisa bicara di ruanganmu.”
“Tidak perlu.”
Aku duduk di seberangnya.
“Ada apa?”
Kevin menatapku seolah tidak mengenal orang di depannya.
“Kamu serius?”
“Soal apa?”
“Semua ini.”
“Ya.”
Ia mengusap wajah.
“Nara, aku menikah dengan Selma karena Raka.”
“Kamu sudah bilang.”
“Aku tidak memilih dia karena cinta.”
“Aku juga sudah dengar.”
“Lalu kenapa kamu bersikap seperti aku selingkuh?”
Aku menatapnya.
“Kevin, kemarin pagi kita datang untuk mengurus pernikahan kita.”
Ia tidak menjawab.
“Lalu anakmu datang. Beberapa waktu kemudian kamu menggandeng mantanmu dan memutuskan menikah dengannya.”
“Aku baru tahu aku punya anak!”
“Aku tidak menyalahkanmu karena punya anak yang baru kamu ketahui.”
“Nah.”
“Aku menyalahkanmu karena menganggap hidupku bisa ditunda tanpa bertanya.”
Wajahnya berubah.
“Aku tidak punya pilihan.”
“Ada.”
“Apa?”
“Kamu bisa berhenti. Bicara denganku. Bicara dengan Selma. Kenali Raka. Pastikan semua informasi benar. Cari cara menjadi ayah tanpa membuat keputusan pernikahan dalam hitungan jam.”
Kevin membuka mulut, lalu menutupnya.
Aku melanjutkan.
“Tapi kamu memilih membuat keputusan untuk semua orang.”
“Aku ingin Raka punya keluarga.”
“Kalau begitu bangun keluarga itu dengan sungguh-sungguh.”
“Aku tidak mencintai Selma.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Pernah terpikir bahwa kalimat itu juga kejam untuk dia?”
Kevin terdiam lagi.
Aku baru menyadari sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku sering melihat diamnya Kevin sebagai tanda kedewasaan.
Sekarang aku mulai mengerti bahwa kadang-kadang ia diam hanya karena tidak punya jawaban yang membuat dirinya terlihat benar.
Ia akhirnya berkata, “Kamu bicara dengan Arvin?”
“Ya.”
“Jadi benar.”
“Apa?”
“Kamu melakukan semua ini karena dia.”
Aku hampir tidak percaya.
“Tidak.”
“Dia memang menunggumu bertahun-tahun.”
“Kevin.”
“Begitu ada masalah sedikit, kamu langsung menelepon dia. Itu tidak normal.”
Aku bersandar.
“Masalah sedikit?”
Ia mengabaikan pertanyaanku.
“Dia datang kemarin?”
“Datang.”
Rahang Kevin menegang.
“Kalian menikah?”
“Tidak.”
Ekspresinya terlihat sedikit lega.
Aku hampir iba.
Hampir.
“Bagus,” katanya. “Berarti kamu masih berpikir jernih.”
Aku berdiri.
Percakapan itu selesai bagiku.
Kevin ikut berdiri.
“Nara, tunggu.”
“Aku ada pekerjaan.”
“Beri aku waktu beberapa bulan.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Aku akan bereskan semuanya.”
“Apa yang akan kamu bereskan?”
“Selma akan lebih stabil setelah tinggal denganku. Raka juga bisa dekat denganku. Setelah itu kita lihat.”
“Kita?”
Kevin mendekat.
“Aku tahu kamu marah. Tapi tujuh tahun bukan waktu sebentar.”
“Justru karena tujuh tahun bukan waktu sebentar, aku tidak mau membuang tahun kedelapan menunggu seseorang yang sudah menikahi orang lain.”
Ia memegang siku tanganku.
Aku menariknya.
“Jangan.”
Kevin langsung melepaskan.
“Nara…”
“Aku sudah membatalkan semua vendor.”
“Aku tahu.”
“Aku juga akan mengirim barang-barangmu yang masih ada di apartemenku ke rumah orang tuamu.”
Wajah Kevin memucat.
“Kamu serius mau menghapus aku begitu saja?”
“Tidak.”
Aku membuka pintu ruang rapat.
“Aku cuma berhenti menyisakan tempat untuk seseorang yang sudah memilih tinggal di rumah lain.”
Kevin pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Dua hari kemudian ibunya menelepon.
Aku sudah menduga hal itu akan terjadi.
Tante Mira sejak awal menyukaiku. Atau setidaknya, ia menyukai gagasan bahwa aku akan menjadi menantunya.
“Nara, Tante dengar semuanya.”
Aku duduk di sofa ruang tamu sambil melipat beberapa pakaian Kevin yang masih tertinggal.
“Iya, Tante.”
“Kevin ini memang bodoh. Tante sudah marahi.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi Raka itu darah dagingnya.”
“Saya tidak pernah bilang Kevin jangan mengurus anaknya.”
“Tante tahu. Cuma sekarang keadaannya rumit.”
Aku memasukkan sebuah jaket ke kardus.
“Nara, kamu jangan buru-buru mengambil keputusan.”
Aku berhenti.
“Tante ingin saya menunggu?”
“Bukan begitu.”
“Tapi?”
“Kevin dan Selma mungkin hanya butuh waktu untuk mengatur semuanya. Kalau nanti memang mereka tidak cocok…”
Aku memejamkan mata.
Ternyata bukan hanya Kevin yang membayangkan hidupku seperti kursi ruang tunggu.
Seseorang bisa menggunakannya sekarang, lalu aku diminta tetap menjaganya sampai giliran berikutnya.
“Tante,” kataku pelan, “Kevin sudah menikah. Saya menghormati itu.”
“Iya.”
“Karena itu saya juga keluar dari hubungan ini.”
“Tapi kalian sudah tujuh tahun.”
“Saya tahu.”
“Keluarga kita juga sudah dekat.”
“Saya tahu.”
“Nara, jangan buat keputusan karena gengsi.”
Aku menutup kardus.
“Kalau saya tetap menunggu suami orang, justru itu yang membuat saya malu pada diri sendiri.”
Tante Mira tidak langsung menjawab.
Aku tidak berdebat lebih jauh.
Sebelum menutup telepon, aku hanya meminta alamat untuk mengirim barang Kevin.
Malam itu empat kardus berada dekat pintu apartemenku.
Aku melihatnya cukup lama.
Ada sepatu olahraga.
Dua kemeja.
Beberapa buku.
Mesin pencukur.
Barang-barang kecil yang selama bertahun-tahun membuat Kevin seolah tinggal separuh di tempatku.
Aku tidak menangis.
Aku hanya merasa apartemen itu mendadak lebih besar.
Arvin tidak menelepon selama beberapa hari.
Aneh sekali, justru ketidakhadirannya membuatku memperhatikan sesuatu.
Dulu ketika mengejarku, ia hampir selalu menemukan alasan untuk mengirim pesan.
Sekarang, setelah aku memberinya kemungkinan terbesar yang pernah ia dapatkan, ia malah mundur.
Hari kelima aku yang menelepon.
“Kamu sibuk?”
“Lumayan.”
“Masih di Indonesia?”
“Aku kembali ke Singapura besok untuk menyelesaikan penandatanganan yang kemarin kutinggal.”
Aku tertawa kecil.
“Partner-mu tidak memecatmu?”
“Belum. Tapi direktur keuanganku mungkin ingin.”
Aku terdiam.
“Vin.”
“Ya?”
“Kenapa kamu tidak menelepon?”
Ia juga diam beberapa detik.
“Karena kemarin kamu baru kehilangan hubungan tujuh tahun.”
“Jadi?”
“Jadi kalau aku langsung datang setiap malam dengan membawa bunga dan daftar alasan kenapa kamu harus memilih aku, aku tidak berbeda jauh dengan orang yang mengambil keputusan untukmu.”
Aku menatap balkon.
“Mungkin aku memang butuh ditemani.”
“Kalau begitu bilang.”
“Aku sedang bilang.”
“Sore besok aku belum berangkat sampai jam delapan.”
“Minum kopi?”
“Boleh.”
Kami bertemu.
Hanya kopi.
Tidak ada pembicaraan tentang menikah.
Tidak ada kalimat bahwa akhirnya aku “melihat” dirinya.
Arvin bercerita tentang kerjaannya.
Aku bercerita tentang proyek hotel yang sedang ditangani kantorku.
Untuk pertama kalinya sejak lama, aku duduk bersama seorang lelaki tanpa merasa harus memperhitungkan mood-nya sebelum mengatakan sesuatu.
Hubunganku dengan Kevin belum sepenuhnya berhenti mengganggu hidupku.
Dua minggu kemudian, ia menghubungiku lagi karena ada biaya pembatalan vendor yang menurutnya seharusnya tidak kutanggung sendirian.
Itu salah satu dari sedikit hal yang masuk akal darinya.
Kami menghitung pembayaran yang telah kami keluarkan.
Sebagian deposit dibayar olehnya, sebagian olehku.
Beberapa vendor mengembalikan sebagian uang.
Kami menyelesaikan angka-angka itu melalui transfer dan email tanpa harus bertemu.
Ketika semuanya selesai, aku menyimpan bukti transfer dan memindahkan folder rencana pernikahan dari meja kerjaku ke lemari arsip.
Aku tidak membuangnya.
Aku hanya tidak ingin melihatnya setiap pagi.
Sebulan berlalu.
Aku mendengar kabar tentang Kevin dan Selma bukan dari gosip, melainkan dari Kevin sendiri.
Ia menelepon malam-malam.
“Nara, aku cuma ingin bicara.”
“Ada apa?”
“Selma marah karena aku masih menghubungimu.”
Aku berdiri di dapur sambil memotong buah.
“Dia berhak marah.”
“Jangan mulai.”
“Aku serius.”
“Nara, aku tidak melakukan apa-apa.”
“Kamu menelepon mantan tunanganmu malam-malam sementara istrimu tahu kamu pernah bilang masih mencintai mantan tunanganmu.”
Kevin tidak menjawab.
“Aku akan menutup telepon.”
“Tunggu.”
“Apa lagi?”
“Selma bilang dia tidak mau menjalani pernikahan seperti ini.”
Aku meletakkan pisau.
“Lalu?”
“Dia ingin aku benar-benar berhenti menghubungimu.”
“Itu permintaan yang wajar.”
“Tapi aku tidak bisa begitu saja.”
Aku akhirnya memahami pola yang selama ini tidak kulihat.
Kevin selalu menyebut perasaannya seolah perasaan itu membebaskannya dari tanggung jawab.
Ia mencintai aku, maka aku harus menunggu.
Ia kasihan pada Raka, maka Selma harus dinikahi.
Ia ingin menjadi ayah, maka seluruh orang di sekitarnya harus mengatur hidup mereka mengikuti caranya.
“Kevin,” kataku, “jangan hubungi aku lagi kecuali ada urusan yang memang belum selesai secara administratif.”
“Nara.”
“Aku serius.”
“Jadi kamu memilih Arvin?”
Pertanyaan itu membuatku lelah.
“Aku memilih keluar dari masalahmu.”
Aku menutup telepon.
Setelah itu aku memblokir nomornya untuk sementara.
Tiga bulan kemudian, Arvin dan aku mulai berkencan.
Aku yang mengusulkan.
Kami sedang makan malam ketika aku berkata, “Kalau kamu masih mau mencoba, aku ingin mencoba.”
Arvin meletakkan sendok.
“Mencoba apa?”
Aku memelototinya.
Ia tersenyum.
“Aku ingin kamu mengatakannya dengan jelas.”
“Berkencan.”
“Dengan siapa?”
“Arvin.”
“Arvin siapa?”
Aku menendang kakinya di bawah meja.
Ia tertawa.
“Baik. Aku terima.”
Hubungan kami jauh dari cerita romantis yang sempurna.
Justru beberapa minggu pertama terasa canggung.
Aku terbiasa dengan Kevin yang ingin tahu ke mana aku pergi, dengan siapa, jam berapa pulang.
Arvin kadang tidak bertanya sama sekali.
Suatu malam aku bahkan kesal.
“Kamu tidak peduli aku tadi makan malam dengan siapa?”
Ia terlihat bingung.
“Kamu bilang ada makan malam kantor.”
“Iya.”
“Terus?”
Aku baru sadar betapa lama aku menganggap pengawasan sebagai bentuk perhatian.
Kami juga bertengkar.
Arvin bisa keras kepala tentang pekerjaan.
Aku bisa menutup diri kalau sedang takut kecewa.
Pernah suatu kali ia membatalkan makan malam kami karena rapat mendadak, dan reaksiku jauh lebih besar daripada persoalannya.
“Aku tidak suka orang membatalkan rencana sepihak,” kataku.
Arvin terdiam.
Kemudian ia duduk lagi meski sudah hampir terlambat.
“Baik. Aku salah karena cuma mengirim pesan dan menganggap kamu pasti mengerti.”
Aku menatapnya.
Tidak ada pembelaan panjang.
Tidak ada kalimat bahwa pekerjaannya lebih penting.
Ia hanya meminta maaf, menjelaskan, lalu bertanya apakah aku mau menjadwalkan ulang atau makan malam sendiri.
Aku memilih menjadwalkan ulang.
Keesokan harinya ia benar-benar datang.
Hal-hal semacam itu yang perlahan membuatku percaya.
Bukan karena Arvin meninggalkan acara bisnis untuk mengejarku.
Bukan karena ia berasal dari keluarga Santoso.
Bukan karena selama sepuluh tahun ia menungguku.
Justru karena setelah akhirnya mendapat kesempatan, ia tidak memperlakukanku seperti hadiah yang sudah menjadi miliknya.
Sementara itu kabar Kevin hampir tidak pernah kudengar.
Enam bulan setelah hari di kantor pencatatan itu, Selma menghubungiku.
Pesannya singkat.
Boleh bertemu sebentar? Saya ingin memastikan satu hal.
Aku hampir menolak.
Tetapi karena ia menulis bahwa persoalannya berkaitan dengan sesuatu yang pernah Kevin katakan atas namaku, aku setuju bertemu di sebuah kafe ramai.
Selma datang sendirian.
Wajahnya tidak lagi memiliki ekspresi puas seperti hari pertama kami bertemu.
Namun aku juga tidak melihatnya sebagai musuh.
Ia duduk dan langsung berkata, “Saya minta maaf soal hari itu.”
Aku menunggu.
“Raka mengatakan hal yang tidak pantas kepada Anda.”
Aku mengangguk.
“Saya yang salah karena pernah bicara di depannya seolah Anda merebut Kevin.”
Aku tidak mengatakan tidak apa-apa.
Karena memang tidak baik-baik saja.
Selma tampaknya memahami itu.
“Saya tidak datang meminta Anda memaafkan saya.”
“Lalu?”
Ia mengeluarkan telepon.
“Saya cuma ingin memastikan ini benar atau tidak.”
Ia menunjukkan sebuah pesan lama dari Kevin.
Pesan itu dikirim dua hari sebelum kami seharusnya mengurus pernikahan.
Aku tidak membaca seluruh percakapan.
Hanya bagian yang ia tunjuk.
Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Nara. Dia akan mengerti. Yang penting Raka dulu.
Aku menatap tanggalnya.
Dua hari sebelum Kevin mengaku baru menyadari seluruh persoalan itu memaksanya membuat keputusan mendadak.
“Dia sudah tahu sebelum hari itu?”
Selma mengangguk.
“Kurang lebih satu minggu.”
Dadaku terasa dingin.
Bukan karena aku masih mencintainya.
Melainkan karena detail terakhir dari cerita lama itu akhirnya mendapat tempatnya.
Kevin sebenarnya punya waktu.
Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk berbicara kepadaku sebelum membawaku ke kantor pencatatan.
Cukup untuk mengatakan bahwa ia baru mengetahui punya anak.
Cukup untuk meminta kami menunda rencana.
Sebaliknya, ia membiarkanku datang dengan pakaian yang kupilih untuk hari pernikahanku dan berdiri di antrean sampai anak itu berlari memanggilnya Papa.
“Kenapa Anda baru menunjukkan ini?”
Selma menunduk.
“Karena waktu itu saya ingin percaya Kevin memilih kami.”
Aku tidak menjawab.
“Setelah menikah, saya baru tahu dia tetap mengatakan pada Anda bahwa dia mencintai Anda.”
“Iya.”
“Dan kepada saya dia bilang Anda sudah setuju menunggu.”
“Itu tidak benar.”
“Saya tahu sekarang.”
Selma memainkan ujung gelasnya.
“Kami tinggal terpisah sejak bulan lalu.”
Aku mengangkat kepala.
Ia cepat menambahkan, “Saya tidak menceritakan ini supaya Anda menerima dia kembali.”
“Bagus.”
Untuk pertama kalinya ia tersenyum kecil.
“Saya juga tidak mau mengembalikannya kepada siapa-siapa.”
Kalimat itu begitu datar sampai aku ikut tersenyum.
Ia menjelaskan bahwa persoalan mereka bukan hanya tentangku.
Kevin ingin menjalankan peran sebagai ayah dengan baik, tetapi masih menganggap semua keputusan rumah tangga harus mengikuti caranya.
Ia memilih sekolah Raka tanpa membicarakannya.
Ia mengatur tempat tinggal.
Ia menjanjikan bantuan kepada orang tuanya atas nama mereka berdua.
Ketika Selma keberatan, Kevin kembali menggunakan alasan yang sama.
Demi keluarga.
Demi Raka.
Demi masa depan.
“Akhirnya saya sadar,” kata Selma, “kalau seseorang selalu bilang semua yang dia lakukan demi kita, tapi tidak pernah bertanya apa yang kita inginkan, mungkin sebenarnya dia melakukannya demi dirinya sendiri.”
Aku tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh.
Kami berpisah tanpa menjadi teman.
Namun juga tanpa lagi menjadi dua perempuan yang ditempatkan Kevin di sisi berlawanan.
Sebelum pergi, Selma berkata, “Raka sekarang tahu Anda bukan orang ketiga.”
Aku menatapnya.
“Saya tidak menjelaskan masalah orang dewasa secara detail. Saya cuma bilang dulu Mama salah bicara.”
“Itu cukup.”
Aku berjalan ke mobil dengan perasaan yang aneh.
Bukan lega karena rumah tangga Kevin bermasalah.
Tidak ada kebahagiaan melihat orang lain gagal.
Justru aku merasa sedih karena Raka akhirnya kembali berada di tengah persoalan yang sejak awal diklaim semua orang ingin mereka hindarkan darinya.
Aku tidak menghubungi Kevin.
Beberapa minggu kemudian ia datang ke kantorku sekali lagi.
Kali ini ia membuat janji.
Aku setuju bertemu di ruang rapat yang sama.
Kevin tampak lebih kurus.
“Nara.”
“Duduk.”
Ia duduk.
“Aku dan Selma sedang pisah rumah.”
“Aku tahu.”
“Dia menghubungimu?”
“Pernah.”
Kevin mengerutkan kening.
“Dia cerita apa?”
“Cukup untuk membuatku tahu kamu sudah mengetahui soal Raka sebelum hari kita datang ke kantor pencatatan.”
Wajahnya langsung berubah.
“Nara, aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Ia menarik napas.
“Aku takut.”
Aku menunggu.
“Aku tahu kalau aku memberitahumu sebelum hari itu, kamu mungkin akan membatalkan semuanya.”
“Benar.”
“Aku tidak mau kehilanganmu.”
“Tapi kamu tetap menikahi Selma.”
“Aku panik.”
Aku mengangguk.
Akhirnya ada satu penjelasan Kevin yang terdengar jujur.
Bukan baik.
Bukan benar.
Tetapi jujur.
Ia takut kehilangan sesuatu, jadi ia berusaha mempertahankan semuanya.
Anaknya.
Selma sebagai ibu anaknya.
Aku sebagai perempuan yang ia cintai.
Keluarganya.
Rencana masa depannya.
Ia hanya tidak pernah bertanya apakah manusia-manusia di dalam rencana itu bersedia hidup seperti yang ia tentukan.
“Aku pikir setelah kamu tenang, kamu akan mengerti.”
“Aku memang mengerti sekarang.”
Matanya menyala sedikit.
“Tapi memahami alasanmu tidak membuat keputusanmu bisa diterima.”
Harapan itu menghilang lagi.
Ia menunduk.
“Aku salah.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Aku seharusnya bicara denganmu dulu.”
“Iya.”
“Aku juga salah membuat Selma percaya kamu akan menunggu.”
“Iya.”
“Dan aku salah karena menjadikan Raka alasan untuk semua keputusan.”
Aku mengangguk.
Kevin melihatku.
“Kalau aku menyelesaikan pernikahanku…”
“Jangan.”
Ia berhenti.
“Jangan selesaikan atau pertahankan pernikahanmu karena aku.”
“Nara.”
“Kalau kamu dan Selma bisa memperbaiki hubungan demi kalian sendiri, lakukan. Kalau tidak bisa, selesaikan dengan baik dan tetap jadi ayah untuk Raka.”
Aku mengambil napas.
“Tapi jangan masukkan aku ke dalam keputusan itu.”
“Karena Arvin?”
Aku tersenyum tipis.
“Bukan.”
Kevin menatapku.
“Kalaupun Arvin tidak pernah ada, jawabanku tetap sama.”
Itulah pertama kalinya Kevin benar-benar terlihat memahami bahwa ia sudah kehilangan sesuatu.
Bukan karena lelaki lain merebutku.
Bukan karena aku ingin membalas sakit hati.
Ia kehilangan hubungan kami karena apa yang ia lakukan sendiri.
Kami berbicara sekitar dua puluh menit lagi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada permohonan dramatis.
Sebelum keluar, Kevin berhenti di pintu.
“Aku memang mencintaimu.”
Aku mempercayainya.
Mungkin itulah bagian paling menyedihkan.
“Cinta tidak selalu membuat orang mengambil keputusan yang baik, Kev.”
Ia mengangguk.
Lalu pergi.
Setahun setelah hari ketika Raka berlari memanggil Kevin Papa, Arvin mengajakku makan malam bersama kedua orang tuaku.
Aku sudah curiga karena ayahku memakai kemeja terbaiknya padahal kami katanya hanya makan biasa.
Setelah makan, Arvin tidak berlutut.
Tidak ada restoran penuh orang yang bertepuk tangan.
Ia bahkan tidak langsung mengeluarkan cincin.
Kami berjalan ke teras belakang rumah orang tuaku.
Arvin berkata, “Aku punya pertanyaan, tapi kali ini kamu boleh memikirkannya selama yang kamu mau.”
Aku menatapnya.
Ia membuka kotak kecil.
“Kalau kamu ingin menikah denganku, aku ingin menikah denganmu.”
Aku melihat cincin itu.
Kemudian melihat wajahnya.
“Kapan?”
Ia tertawa.
“Nah, itu pertanyaan yang lebih berbahaya.”
“Aku serius.”
“Tidak minggu depan.”
“Bagus.”
“Tidak bulan depan juga kalau kamu belum siap.”
Aku mengambil kotak itu dari tangannya.
“Kamu tahu dulu aku pernah meneleponmu dan meminta menikah dalam satu hari?”
“Trauma pribadi saya.”
Aku tertawa.
Kali ini, saat mengatakan iya, aku tahu aku tidak sedang berlari dari seseorang.
Kami menikah beberapa bulan kemudian setelah seluruh proses dan dokumen kami urus dengan benar.
Pernikahannya kecil.
Tidak ada pemberitaan besar dari keluarga Santoso.
Arvin bahkan meminta bagian komunikasinya tidak mengeluarkan apa pun sampai acara selesai.
Orang tuaku hadir.
Beberapa teman lama hadir.
Ayah Arvin sempat bercanda bahwa anaknya akhirnya berhenti mencari alasan bisnis untuk melewati kota tempatku tinggal.
Setelah menikah, hidup kami juga tidak berubah menjadi sempurna.
Arvin masih bekerja terlalu banyak.
Aku masih kadang terlalu cepat menarik diri ketika kecewa.
Kami masih harus belajar membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan kehidupan rumah.
Tetapi keputusan besar dibicarakan.
Kalau keluarganya meminta sesuatu yang berdampak pada kami berdua, ia bertanya kepadaku dulu.
Kalau keluargaku membutuhkan bantuan, aku melakukan hal yang sama.
Bukan karena setiap keputusan harus mendapat izin.
Melainkan karena tidak seorang pun boleh menyebut sesuatu “demi keluarga” sementara anggota keluarga yang terdampak bahkan tidak diberi kesempatan bicara.
Tentang Kevin, terakhir kali aku mendengar kabarnya, ia dan Selma tidak kembali hidup sebagai pasangan.
Mereka memilih mengurus perpisahan mereka secara tertib sambil tetap membagi tanggung jawab terhadap Raka.
Kevin menjemput Raka pada hari-hari tertentu.
Selma tetap menjadi pengasuh utama.
Keluarga Kevin membantu seperlunya, tetapi keputusan tentang Raka dibicarakan oleh kedua orang tuanya.
Tidak ada akhir yang benar-benar rapi.
Mungkin memang tidak perlu.
Yang penting, setidaknya Raka tidak lagi digunakan sebagai alasan untuk mempertahankan pernikahan yang tidak sehat.
Beberapa bulan setelah menikah dengan Arvin, aku sedang mencari dokumen lama di laptop ketika folder email yang pernah kubuka di kedai kopi itu muncul lagi.
Ratusan surat dari Arvin masih tersimpan.
Aku membuka salah satunya.
Email itu dikirim delapan tahun sebelumnya.
Isinya tidak panjang.
Ia hanya bercerita bahwa ia melewati toko buku, melihat novel yang dulu pernah kucari, lalu membelikannya untukku.
Di bagian akhir ada satu kalimat.
Kalau suatu hari kamu tidak membutuhkanku, aku tetap berharap kamu bersama orang yang selalu memberi ruang untukmu memilih.
Aku membacanya dua kali.
Lalu kututup laptop.
Dari ruang makan terdengar Arvin bertanya apakah aku ingin teh.
“Iya,” jawabku.
“Pakai gula?”
“Sedikit.”
Ia tidak muncul membawa nasihat tentang masa lalu.
Tidak bertanya kenapa aku lama di depan laptop.
Ia hanya meletakkan secangkir teh di sebelahku lalu kembali ke ruang kerjanya.
Aku membuka laci meja.
Di dalamnya ada dokumen perkawinan kami, tersimpan rapi bersama dokumen penting lain.
Aku menutup laci itu kembali dan memutar kuncinya.
Kali ini, tidak ada seorang pun yang memutuskan hidupku sambil mengatakan semuanya dilakukan demi kebaikanku.
Menurutmu, apakah Nara benar menolak Kevin meski Kevin mengaku menikahi Selma demi tanggung jawab kepada anaknya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
