Perusahaan Selalu Menolak Raka Karena Ia Tak Punya Gelar, Sampai Seorang Nenek Menguji Pekerjaannya di Halaman Belakang
Bagian 1
Pada usia dua puluh enam tahun, Raka Pratama sudah terbiasa mendengar kalimat yang sama setiap kali mencoba melamar pekerjaan yang sedikit lebih baik.
“Kemampuanmu bagus, tapi kami butuh orang yang pendidikannya selesai.”
Kadang kalimatnya lebih halus. Kadang lebih menusuk.
Ia pernah membawa foto-foto hasil pekerjaannya ke sebuah perusahaan konstruksi di Bandung. Ia menunjukkan tangga beton yang ikut ia kerjakan, renovasi ruko dua lantai, sampai saluran air yang ia bantu hitung ulang ketika tukang lain salah menentukan kemiringan.
Supervisor yang mewawancarainya bahkan mengangguk beberapa kali.
Lalu laki-laki itu menutup map.

“Kamu kuliah teknik sipil sampai semester berapa?”
“Semester enam, Pak.”
“Tidak selesai?”
Raka menggeleng.
“Belum punya gelar. Sertifikasi profesi juga tidak ada.”
Kata “belum” yang diucapkan Raka sebenarnya menyimpan harapan. Namun bagi perusahaan itu, hasilnya tetap sama.
Ia pulang dengan ongkos angkot pas-pasan dan sebuah map cokelat yang semakin kusut.
Raka pernah kuliah teknik sipil di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Sejak SMA, ia suka memperhatikan bangunan. Bukan gedung mewah yang membuatnya tertarik, melainkan hal-hal kecil yang sering tidak dianggap orang.
Kenapa lantai kamar mandi harus sedikit miring.
Kenapa sebuah anak tangga terasa nyaman sementara tangga lain membuat kaki cepat lelah.
Kenapa rumah sederhana bisa tetap sejuk jika arah bukaan dan atapnya dipikirkan baik-baik.
Ia ingin menjadi insinyur sipil.
Keinginan itu berhenti sementara ketika ayahnya meninggal setelah sakit singkat. Ibunya menyusul kurang dari dua tahun kemudian.
Saat itu Raka masih kuliah tahun ketiga.
Di rumah masih ada tiga adiknya.
Dimas baru masuk SMA. Nisa duduk di kelas dua SMP. Yang paling kecil, Fajar, baru berumur sembilan tahun.
Tidak ada tabungan besar. Rumah kecil peninggalan orang tua mereka memang sudah lunas, tetapi biaya makan, sekolah, listrik, dan kebutuhan sehari-hari tetap berjalan.
Raka menjual motor ayahnya lebih dulu.
Setelah uangnya habis, ia berhenti kuliah.
“Aku cuma cuti,” katanya kepada Dimas waktu itu.
Mereka berdua tahu kata itu dipilih supaya keadaan terasa tidak terlalu menakutkan.
Empat tahun berlalu.
Cuti itu belum berakhir.
Setiap pagi Raka berangkat membawa topi lusuh, botol minum, meteran yang dibelinya sendiri, dan sebuah buku kecil berisi catatan ukuran. Di proyek, statusnya bukan insinyur. Bukan pengawas. Bahkan sering bukan tukang utama.
Ia menjadi kenek, pekerja tambahan, kadang membantu tukang kayu, kadang memasang bekisting, kadang mengangkat semen.
Kalau mandor tahu Raka pernah kuliah teknik sipil, ia sering diminta membantu membaca gambar sederhana.
Tetapi upahnya tetap upah pekerja harian.
Suatu siang, ketika proyek renovasi tempatnya bekerja hampir selesai, seorang tukang bernama Pak Yono menghampirinya.
“Ada kerjaan kecil. Mau?”
Raka langsung bertanya, “Berapa hari?”
“Paling seminggu. Yang punya rumah ibu tua. Pakai kursi roda. Mau dibuatkan ramp sama tempat duduk beratap di samping rumah.”
“Bujetnya?”
Pak Yono menyebut angka.
Tidak besar.
Kalau dipotong biaya bahan dan ongkos, keuntungan Raka bahkan lebih kecil daripada bekerja beberapa hari di proyek besar.
Tetapi pekerjaan proyek berikutnya belum pasti.
“Alamatnya kirim, Pak.”
Sore itu juga ia datang ke sebuah rumah lama di daerah Cimahi. Rumahnya bersih tetapi sederhana, dengan teras lebar dan halaman samping yang berbatasan dengan sebidang tanah kosong.
Seorang perempuan berusia sekitar tujuh puluhan menunggunya di ruang depan.
Namanya Ratna Wibowo.
“Panggil saja Bu Ratna,” katanya.
Kursi roda yang dipakainya tidak membuat suaranya terdengar lemah. Ia berbicara tenang, langsung pada inti persoalan.
Ramp lama di bagian belakang rumah terlalu curam. Permukaannya licin ketika hujan.
Bu Ratna ingin ramp baru yang lebih aman dari teras samping menuju halaman. Di dekatnya, ia juga ingin dibuatkan gazebo kecil dari kayu sebagai tempat duduk.
“Saya tidak punya anggaran besar,” katanya sambil menyerahkan catatan kebutuhan bahan.
Raka membaca daftar itu.
Ia melihat harga kayu.
Jumlah papan.
Plywood.
Paku.
Cat.
“Kalau modelnya sederhana, bisa, Bu.”
“Jangan terlalu bagus. Yang penting bisa dipakai.”
Raka tersenyum kecil.
“Yang penting aman dulu.”
Keesokan paginya ia mulai bekerja.
Masalah muncul sebelum satu papan pun terpasang.
Plywood yang sudah dibeli terlalu tipis untuk bagian tertentu. Paku yang tersedia cukup untuk gazebo ringan, tetapi Raka tidak nyaman menggunakannya pada bagian ramp yang menanggung beban berulang.
Ia mencoba menghitung ulang.
Kalau semuanya dipakai sesuai daftar, pekerjaan tetap bisa selesai.
Secara kasat mata mungkin terlihat bagus.
Namun saat musim hujan datang, kayu bisa lebih cepat berubah bentuk. Sambungan tertentu juga tidak akan sekuat yang ia inginkan.
Raka duduk di tepi halaman sambil memandangi bahan.
Ia bisa saja mengikuti anggaran.
Bu Ratna sendiri sudah mengatakan uangnya terbatas.
Tak seorang pun akan menyalahkan Raka karena memakai bahan yang memang disediakan.
Namun pikirannya terus kembali pada kursi roda di ruang depan.
Akhirnya, ia membuka mobile banking.
Saldo tabungannya tidak banyak.
Sebagian disisihkan untuk daftar ulang sekolah Nisa. Sebagian lagi untuk berjaga-jaga jika tidak mendapat proyek.
Raka menarik napas, lalu pergi ke toko bangunan.
Ia membeli beberapa papan yang lebih tebal, sekrup galvanis untuk sambungan utama, bahan pelapis tambahan, dan cat eksterior yang lebih tahan air.
Penjual bertanya, “Tambahan proyek?”
Raka hanya menjawab, “Ada bagian yang nggak boleh gampang goyang.”
Ia tidak memberi tahu Bu Ratna bahwa uangnya sendiri ikut masuk ke sana.
Hari-hari berikutnya berjalan tenang.
Bu Ratna sering duduk di teras sambil melihat Raka bekerja.
Kadang ia membawa teh dingin. Kadang potongan pepaya. Sesekali ia bertanya mengapa Raka mengukur bagian yang sama dua atau tiga kali.
“Biar kalau salah, salahnya masih di pensil, Bu. Jangan sudah jadi baru dibongkar.”
Bu Ratna tertawa.
Suatu siang ia bertanya, “Kamu belajar beginian dari mana?”
Raka yang sedang mengampelas handrail berhenti sebentar.
“Pernah kuliah teknik sipil.”
“Pernah?”
Raka mengangguk.
Ia menceritakan bagian yang perlu saja.
Tentang orang tuanya.
Tentang ketiga adiknya.
Tentang kuliah yang ditinggalkan karena harus bekerja.
Tentang beberapa perusahaan yang sebenarnya menyukai hasil kerjanya tetapi tak bisa memberinya posisi teknis karena pendidikannya belum selesai dan ia belum memenuhi persyaratan profesional.
Bu Ratna tidak memberi nasihat panjang.
Ia hanya bertanya, “Masih ingin kembali?”
“Kalau keadaan memungkinkan.”
“Kalau tidak?”
Raka memandang ramp yang sedang dibuatnya.
“Ya tetap kerja. Adik saya harus selesai sekolah dulu.”
“Lalu kamu?”
Raka tersenyum tanpa menatapnya.
“Nanti dipikirkan.”
Bu Ratna tidak bertanya lagi.
Namun sejak hari itu, Raka beberapa kali menyadari perempuan itu memperhatikan caranya bekerja.
Ketika sebuah papan memiliki retakan kecil, Raka memisahkannya.
Ketika kemiringan ramp terasa sedikit lebih curam daripada yang ia anggap nyaman, ia membongkar bagian awal dan memasangnya ulang.
Ketika turun hujan menjelang sore, ia menutup kayu dengan terpal meskipun harus pulang lebih malam.
Tidak ada yang menyuruh.
Tidak ada pula pengawas.
Pada hari ketujuh, pekerjaan selesai.
Gazebo kecil itu tidak mewah. Atapnya sederhana, bangkunya kokoh, dan salah satu sisinya terbuka menghadap halaman.
Ramp-nya menjadi bagian yang paling Raka perhatikan.
Permukaannya rata.
Pegangan tangan berada pada posisi yang nyaman.
Sambungannya tidak bergoyang saat diuji.
Raka bahkan beberapa kali menaruh karung bahan di atasnya lalu berjalan naik turun untuk memastikan tidak ada bagian yang terasa lemah.
Setelah membersihkan bekas serbuk kayu, ia memanggil Bu Ratna.
“Sudah selesai, Bu.”
Pintu samping terbuka.
Bu Ratna keluar dengan kursi rodanya.
Namun kali ini ia tidak sendirian.
Dua laki-laki berpakaian rapi berjalan di belakangnya. Di dada salah satu dari mereka terdapat logo perusahaan yang sangat dikenal Raka.
PT Arunika Rekayasa Nusantara.
Salah satu firma rekayasa dan arsitektur besar yang mengerjakan berbagai proyek gedung, fasilitas pendidikan, dan kawasan komersial di Indonesia.
Raka pernah mengirim lamaran ke perusahaan itu setahun sebelumnya.
Tidak sampai tahap wawancara.
Salah seorang pria membawa tabung gambar.
Yang lain membawa map tebal.
Raka spontan menatap gazebo, lalu ramp.
“Bu, ada ukuran yang salah?”
Bu Ratna justru tertawa kecil.
“Tidak ada.”
“Terus, Bapak-bapak ini…”
“Kenalan dulu.”
Pria pertama menjabat tangannya dan memperkenalkan diri sebagai kepala divisi pengembangan proyek sosial perusahaan.
Pria kedua berasal dari bagian sumber daya manusia dan program pendidikan.
Raka semakin tidak mengerti.
Bu Ratna menggerakkan kursi rodanya sampai berhenti di ujung ramp.
Ia memegang handrail yang dibuat Raka, lalu perlahan menuruni ramp itu.
Roda kursinya bergerak stabil.
Sampai bawah, ia berbalik.
“Bagus.”
Raka mengusap telapak tangannya pada celana kerja.
“Syukurlah, Bu.”
Pria yang membawa map menyerahkannya kepada Raka.
“Silakan dibaca.”
Di halaman depan tercetak nama lengkap Raka Pratama.
Ia membaca baris pertama sekali.
Lalu sekali lagi.
Itu bukan tagihan.
Bukan komplain proyek.
Dokumen tersebut berisi penawaran program beasiswa perusahaan untuk membiayai Raka menyelesaikan pendidikan teknik sipilnya, termasuk biaya kuliah dan bantuan kebutuhan studi sesuai ketentuan program.
Di belakangnya terdapat surat penawaran mengikuti program trainee setelah ia kembali menjadi mahasiswa, serta jalur pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan dan memenuhi persyaratan profesi yang dibutuhkan.
Raka mengangkat kepala.
“Apa ini?”
Bu Ratna menatapnya.
“Saya rasa sekarang sudah waktunya saya memperkenalkan diri dengan benar.”
Ia menunjuk logo pada seragam kedua pria itu.
“Perusahaan itu saya dirikan bersama dua rekan saya lebih dari tiga puluh tahun lalu.”
Raka tidak bergerak.
Bu Ratna melanjutkan.
“Saya sudah pensiun dari jabatan CEO beberapa tahun lalu. Sekarang saya lebih banyak mengurus program yayasan.”
Ia lalu menunjuk tanah kosong di sebelah gazebo.
“Lahan ini akan menjadi pusat belajar dan kegiatan untuk anak-anak penyandang disabilitas dan keluarga mereka.”
Raka menatap tanah yang selama seminggu dianggapnya hanya halaman kosong.
Bu Ratna berkata, “Ramp dan gazebo ini memang saya perlukan. Tapi saya juga ingin melihat siapa yang mengerjakannya.”
Raka langsung teringat bahan yang ia ganti.
Sekrup.
Kayu.
Cat.
Bu Ratna seolah membaca wajahnya.
“Saya tahu kamu membeli bahan tambahan dari uangmu sendiri.”
Raka buru-buru berkata, “Tidak banyak, Bu.”
“Itu bukan poinnya.”
Ia menyentuh pegangan ramp.
“Saya bilang anggaran terbatas. Kamu punya pilihan untuk mengikuti bahan yang ada dan tetap menerima bayaran penuh.”
Raka terdiam.
“Tapi kamu melihat risiko. Kamu tidak memanfaatkan ketidaktahuan saya. Kamu juga tidak datang kepada saya untuk membuat pertunjukan tentang betapa baiknya kamu.”
Salah satu pria di samping Bu Ratna membuka blueprint yang dibawanya.
Di sana terlihat rencana sebuah bangunan satu lantai dengan akses kursi roda, ruang belajar, area terapi, taman kecil, dan aula.
Bu Ratna berkata, “Saya tidak akan menempatkanmu sebagai insinyur hanya karena saya menyukai hasil kerja ini. Kamu tetap harus menyelesaikan pendidikanmu, belajar, menjalani proses, dan memenuhi syarat profesimu.”
Kalimat itu justru membuat tawaran tersebut terasa lebih nyata.
“Tapi saya ingin perusahaan membantu kamu kembali ke jalur itu.”
Raka memegang map dengan kedua tangan.
Bu Ratna kemudian menambahkan, “Kalau nanti kamu sudah selesai dan layak memegang tanggung jawab teknis, saya ingin kamu ikut memimpin pembangunan pusat belajar ini.”
Beberapa detik Raka hanya melihat namanya di dokumen.
Yang muncul di kepalanya bukan gedung besar.
Ia melihat Dimas yang sering mengatakan tidak perlu kuliah supaya kakaknya tidak terbebani.
Ia melihat Nisa menyimpan uang saku kalau ada kebutuhan sekolah mendadak.
Ia melihat Fajar tidur di ruang depan sambil menunggu Raka pulang proyek.
Raka menutup map perlahan.
“Bu… saya bahkan tidak tahu harus bilang apa.”
“Jangan bilang apa-apa dulu.”
Bu Ratna tersenyum.
“Baca semuanya. Tanyakan apa yang tidak kamu mengerti. Jangan tanda tangan hanya karena kamu sedang terharu.”
Nasihat itu membuat Raka tertawa kecil di tengah matanya yang mulai basah.
Ia mengangguk berkali-kali.
Seminggu sebelumnya ia datang ke rumah itu hanya untuk mencari uang belanja dan biaya sekolah adik-adiknya.
Hari itu ia berdiri di samping sebuah ramp kecil yang mungkin tidak pernah masuk majalah arsitektur mana pun.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, jalan kembali ke kehidupan yang pernah ia tinggalkan terbuka di depannya.
Bukan karena seseorang mengabaikan kekurangannya.
Bukan pula karena ijazah tiba-tiba dianggap tidak penting.
Kesempatan itu datang karena ketika tak ada mandor, tak ada kamera, dan tak ada janji hadiah, Raka tetap memilih membuat sesuatu yang aman untuk orang yang akan menggunakannya.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan kampus, kata “nanti” terasa memiliki tanggal.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Malam itu Raka tidak langsung memberi tahu adik-adiknya tentang beasiswa tersebut.
Ia duduk di meja makan setelah semuanya tidur, membaca surat penawaran halaman demi halaman.
Ada satu bagian yang membuatnya berhenti cukup lama.
Program itu akan membiayai kuliahnya, tetapi Raka tetap harus kembali sebagai mahasiswa aktif dan menyesuaikan mata kuliah yang bisa diakui kampus. Ia juga diwajibkan mengikuti program trainee terbatas selama masa libur dan mempertahankan nilai minimum.
Tidak ada jabatan besar yang menunggu secara otomatis.
Tidak ada gaji fantastis.
Tidak ada jaminan bahwa semuanya akan mudah.
Anehnya, justru itu yang membuatnya percaya.
Keesokan paginya Dimas menemukan map tersebut.
“Kak, ini apa?”
Raka yang sedang menggoreng telur langsung menoleh.
“Taruh dulu.”
Namun Dimas sudah membaca nama perusahaan di sampul.
“Beasiswa?”
Nisa keluar dari kamar.
“Beasiswa siapa?”
Beberapa menit kemudian mereka bertiga duduk mengelilingi meja, sementara Fajar berdiri di dekat kulkas dengan rambut masih berantakan.
Raka menjelaskan semuanya.
Tidak ada yang bicara beberapa saat.
Lalu Dimas berkata, “Ambil.”
Raka menggeleng kecil. “Bukan sesederhana itu.”
“Kenapa?”
“Kalau aku kuliah lagi, jam kerja berkurang.”
“Aku bisa kerja sambilan.”
“Tidak.”
“Kak.”
“Sekolahmu belum selesai.”
Dimas menahan napas.
“Selama ini Kakak berhenti kuliah karena kami. Sekarang ada orang mau bayarin, tapi Kakak masih mikir soal kami lagi?”
Raka tidak suka cara kalimat itu terdengar.
Seolah-olah tiga adiknya adalah beban.
Padahal selama bertahun-tahun mereka justru alasan ia bisa bangun pagi ketika tubuhnya sakit setelah bekerja.
“Aku cuma mau semuanya dihitung dulu.”
Nisa masuk ke kamar lalu kembali membawa sebuah kotak plastik kecil.
Ia menaruhnya di meja.
Di dalamnya ada uang pecahan sepuluh ribu, dua puluh ribu, dan beberapa lembar lima puluh ribu.
Raka mengernyit.
“Ini apa?”
“Aku nabung.”
“Buat apa?”
“Awalnya buat sepatu.”
“Terus?”
Nisa mengangkat bahu.
“Sepatuku masih bisa dipakai.”
Raka langsung mendorong kotak itu kembali.
“Tidak usah.”
Nisa tidak mengambilnya.
“Kakak juga dulu bilang kuliahnya cuma berhenti sebentar.”
Ucapan itu jauh lebih berat daripada jumlah uang di dalam kotak.
Siang harinya Raka menghubungi nomor yang tercantum dalam dokumen dan meminta pertemuan sebelum menandatangani apa pun.
Bu Ratna ikut hadir.
Raka datang membawa daftar pertanyaan di buku kecilnya.
Tentang biaya hidup.
Tentang status trainee.
Tentang kemungkinan jadwal kuliah.
Tentang apa yang terjadi jika ia membutuhkan waktu lebih lama untuk lulus karena penyesuaian mata kuliah.
Kepala program menjawab satu per satu.
Perusahaan dapat memberikan bantuan bulanan terbatas sebagai bagian program, tetapi Raka tetap harus mengatur pengeluaran keluarga dengan realistis.
Ia diperbolehkan mengambil pekerjaan sampingan selama tidak mengganggu kewajiban akademik.
Program itu juga tidak mengharuskannya menyerahkan ijazah atau terikat utang jika suatu hari ia gagal karena alasan akademik yang wajar. Namun ada aturan jelas mengenai tanggung jawab peserta.
Bu Ratna hampir tidak ikut bicara sampai pertemuan selesai.
Di luar ruangan ia berkata, “Saya senang kamu tidak langsung menandatangani.”
Raka tersenyum canggung.
“Ibu sendiri yang suruh saya baca dulu.”
“Banyak orang tetap tidak membaca.”
Mereka berhenti dekat lift.
Raka menatap map di tangannya.
“Bu, saya masih takut.”
“Takut apa?”
“Takut sudah terlalu lama ketinggalan.”
Bu Ratna tidak buru-buru meyakinkan.
Ia hanya bertanya, “Kalau kamu tidak mencoba karena takut tertinggal, lima tahun lagi kamu mau berdiri di mana?”
Pertanyaan itu dibawa Raka pulang.
Dua hari kemudian ia mengurus pengaktifan kembali status akademiknya.
Prosesnya tidak langsung mulus. Ada mata kuliah yang kurikulumnya berubah. Ada berkas lama yang harus dilengkapi. Ada biaya administrasi yang perlu dijelaskan pihak kampus sebelum program beasiswa memprosesnya.
Namun untuk pertama kalinya, kerumitan itu bukan tembok.
Hanya pekerjaan yang harus diselesaikan satu per satu.
Seminggu kemudian, saat Raka mengira masalah terbesarnya sudah lewat, pihak kampus memberinya daftar mata kuliah yang harus ia ulang atau sesuaikan.
Waktu kelulusannya kemungkinan lebih lama daripada perkiraannya.
Raka membaca daftar itu di koridor kampus.
Kemudian ponselnya berbunyi.
Pesan dari Dimas masuk.
Kak, aku diterima kuliah negeri. Tapi uang daftar ulangnya harus dibayar bulan depan.
Raka menatap angka biaya yang dikirim adiknya.
Di satu tangan ia memegang kesempatan untuk kembali mengejar masa depannya.
Di tangan yang lain, kehidupan yang membuatnya meninggalkan masa depan itu pertama kali belum berhenti membutuhkannya.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Raka tidak membalas pesan Dimas selama hampir lima menit.
Bukan karena ia marah.
Ia sedang menghitung.
Kebiasaan itu sudah melekat padanya. Setiap masalah berubah menjadi angka di kepala.
Sisa tabungan.
Biaya daftar ulang Dimas.
Kebutuhan rumah.
Bantuan bulanan dari program beasiswa.
Penghasilan yang masih mungkin didapat dari pekerjaan kecil akhir pekan.
Jumlahnya tidak langsung cocok.
Sore itu ia pulang lebih awal.
Dimas sudah menunggu di ruang depan.
“Aku bisa tunda setahun,” katanya sebelum Raka sempat duduk.
“Siapa bilang?”
“Aku tahu keadaan.”
“Kamu sudah diterima.”
“Tahun depan bisa tes lagi.”
Raka meletakkan tas di kursi.
Empat tahun sebelumnya, ia pernah mengatakan hampir persis kalimat yang sama.
Tahun depan bisa kuliah lagi.
Ternyata hidup sangat mudah mengubah satu tahun menjadi empat.
Ia tidak ingin membuat keputusan yang sama untuk adiknya hanya karena sekarang giliran dirinya mendapat kesempatan.
“Kasih aku sampai besok buat hitung.”
Dimas menghela napas.
“Kak, jangan jual apa-apa lagi.”
Raka menatapnya.
“Motor sudah nggak ada. Yang bisa dijual tinggal kulkas.”
Dimas tidak tertawa.
Raka akhirnya tersenyum kecil.
“Tenang. Aku nggak akan jual kulkas.”
Malam itu Raka membuka kembali semua catatan keuangan keluarga.
Selama ini ia mengatur uang berdasarkan keadaan darurat.
Bayar yang paling mendesak.
Tunda yang bisa ditunda.
Simpan sedikit kalau masih ada.
Ia tidak pernah benar-benar membuat rencana lebih dari dua atau tiga bulan karena pekerjaan proyek tidak pernah pasti.
Sekarang situasinya berubah.
Beasiswa menutup biaya kuliahnya.
Ada bantuan kebutuhan studi.
Ia juga memperoleh kesempatan trainee berbayar pada periode tertentu.
Yang perlu dicari bukan keajaiban.
Hanya celah.
Keesokan harinya Raka kembali menemui pengelola program.
Ia tidak meminta tambahan uang.
Ia bertanya apakah jadwal trainee bisa diatur pada hari tertentu dan apakah perusahaan memiliki pekerjaan teknis nonprofesional yang legal dilakukan mahasiswa tanpa menyandang posisi insinyur.
Manajer program menjelaskan bahwa beberapa pekerjaan administrasi proyek, pengukuran dasar di bawah supervisi, dokumentasi lapangan, dan pembuatan gambar kerja sederhana dapat diberikan sesuai kemampuan dan statusnya.
Tidak ada perlakuan khusus.
Bayarannya juga mengikuti posisi.
Raka setuju.
Ia lalu berbicara dengan kampus mengenai pembagian mata kuliah agar tidak mengambil terlalu banyak sekaligus.
Hasilnya membuat masa studi mungkin sedikit lebih panjang, tetapi jadwalnya lebih masuk akal.
Akhirnya Dimas bisa membayar daftar ulang tanpa Raka mengorbankan kuliahnya sendiri.
Sebagian uang berasal dari tabungan keluarga.
Sebagian dari pekerjaan renovasi kecil yang Raka ambil selama dua akhir pekan.
Dimas juga mendapat keringanan uang kuliah dari kampusnya berdasarkan kondisi ekonomi keluarga.
Tidak ada satu orang yang menyelesaikan semuanya.
Itu justru membuat Raka merasa lebih tenang.
Ia mulai kuliah lagi pada usia dua puluh enam, di kelas yang sebagian besar mahasiswanya lebih muda.
Hari pertama terasa aneh.
Beberapa mahasiswa memanggilnya “Pak” karena mengira ia asisten dosen.
Raka tertawa lalu memilih kursi di barisan tengah.
Pada mata kuliah struktur, ia menyadari banyak rumus yang dulu pernah ia kuasai tidak langsung kembali.
Tangannya lambat.
Ia mencatat lebih banyak daripada mahasiswa lain.
Malamnya, sepulang kampus, ia membuka buku sampai lewat tengah malam.
Keesokan paginya ia tetap harus membantu pekerjaan dokumentasi proyek trainee.
Bulan pertama tubuhnya seperti menolak ritme baru itu.
Raka pernah tertidur di meja makan dengan pensil masih di tangan.
Pernah juga ia mendapat nilai kuis jauh lebih rendah daripada yang diharapkannya.
Ketika melihat angka itu, ia duduk lama di halte.
Dalam proyek konstruksi, kesalahan kecil bisa dilihat.
Papan miring.
Sambungan longgar.
Ukuran meleset.
Di kampus, kegagalannya terasa lebih pribadi.
Seolah-olah nilai itu membuktikan semua ketakutannya.
Bahwa ia sudah terlalu lama berhenti.
Bahwa mungkin kemampuan tangan tidak sama dengan kemampuan menjadi insinyur.
Malam itu ia hampir mengirim pesan kepada koordinator program untuk mengurangi mata kuliah lagi.
Namun sebelum melakukannya, Fajar datang membawa selembar kertas.
“Kak, lihat.”
Itu tugas sekolah tentang cita-cita.
Di bagian pekerjaan orang yang dikagumi, Fajar menulis:
Kakakku belajar jadi insinyur sambil kerja.
Raka membaca tulisan itu dua kali.
“Kenapa bukan pilot atau pemain bola?”
Fajar menjawab santai, “Karena aku nggak kenal pilot.”
Lalu ia pergi mengambil minum.
Raka tertawa sendirian.
Ia tidak mengirim pesan malam itu.
Sebaliknya, ia menemui dosen pengampu dua hari kemudian dan bertanya bagian mana yang paling lemah.
Dosen itu tidak memuji.
Ia menunjukkan kesalahan perhitungan Raka dan menyuruhnya mengulang beberapa latihan.
Raka pulang membawa tambahan pekerjaan.
Itulah bantuan yang ia perlukan.
Bukan seseorang yang mengatakan ia pasti berhasil.
Melainkan seseorang yang menunjukkan apa yang belum ia kuasai.
Di perusahaan, keadaan juga tidak selalu nyaman.
Sebagian pegawai mengetahui bahwa Raka adalah penerima beasiswa rekomendasi Bu Ratna.
Tidak semuanya memandang positif.
Suatu hari, ketika ia membantu menyusun dokumentasi lapangan, seorang staf senior bernama Anton berkata sambil bercanda kepada rekannya, cukup keras agar terdengar,
“Enak juga ya kalau kenal pendiri perusahaan. Bikin ramp langsung dapat sekolah gratis.”
Raka mendengarnya.
Tangan yang sedang memeriksa nomor foto berhenti sebentar.
Ia ingin menjelaskan.
Ingin mengatakan bahwa ia tidak tahu siapa Bu Ratna ketika menerima pekerjaan itu.
Namun kalimat seperti itu justru terdengar seperti pembelaan.
Raka melanjutkan pekerjaannya.
Sore harinya Anton menemukan satu set dokumentasi yang dikembalikan oleh supervisor karena nomor gambar tidak sesuai.
Raka bisa saja diam.
Dokumen itu bukan tanggung jawabnya.
Tetapi jika dibiarkan, tim lapangan bisa memakai revisi yang salah.
Ia menghampiri Anton.
“Pak, yang lembar tujuh sepertinya pakai revisi lama.”
Anton menatapnya dingin.
“Kamu yang cek?”
“Saya lihat kode tanggalnya beda.”
“Sudah, nanti saya urus.”
Raka mengangguk dan pergi.
Setengah jam kemudian Anton memanggilnya kembali.
“Yang mana?”
Raka menunjukkan perbedaannya.
Ternyata benar.
Tidak ada permintaan maaf.
Anton hanya berkata, “Oke.”
Bagi Raka, itu sudah cukup.
Beberapa minggu kemudian, ketika tim membutuhkan orang untuk mengecek ulang dokumentasi sebelum diserahkan, Anton sendiri yang berkata,
“Kasih ke Raka dulu. Dia teliti.”
Perubahan kecil semacam itu lebih berarti bagi Raka daripada pujian besar.
Sementara itu, pembangunan pusat belajar di tanah sebelah rumah Bu Ratna mulai masuk tahap persiapan.
Raka belum menjadi orang yang memimpin proyek tersebut.
Ia masih mahasiswa.
Perusahaan menunjuk insinyur berpengalaman sebagai penanggung jawab.
Namun Bu Ratna meminta Raka ikut dalam beberapa pertemuan sebagai bagian dari pembelajaran.
Pertemuan pertama membuat Raka sadar bahwa membuat sebuah gazebo kecil dan mengelola fasilitas publik adalah dua dunia berbeda.
Ada konsultan struktur.
Arsitek.
Tim aksesibilitas.
Anggaran.
Perizinan.
Kontraktor.
Jadwal.
Persyaratan keselamatan.
Keputusan yang tampak kecil memengaruhi pekerjaan bagian lain.
Raka lebih banyak diam.
Suatu kali tim membahas jalur dari area parkir menuju pintu utama. Dalam gambar awal terdapat perubahan elevasi yang secara teknis masih dapat ditangani, tetapi Raka teringat pengalaman mendorong kursi roda Bu Ratna di ramp kayu.
Ia mengangkat tangan.
“Boleh tanya?”
Kepala proyek mengangguk.
Raka menunjukkan bagian gambar.
“Kalau pengguna datang sendiri pakai kursi roda manual, jalur ini cukup nyaman nggak setelah hujan?”
Arsitek membuka gambar lebih besar.
Diskusi berlangsung hampir dua puluh menit.
Tidak ada yang menganggap pertanyaan Raka sebagai penemuan luar biasa.
Namun akhirnya desain drainase dan area transisi ditinjau ulang.
Setelah rapat, Bu Ratna bertanya, “Kenapa kamu memperhatikan bagian itu?”
“Karena waktu bikin ramp Ibu, saya baru benar-benar mikir bahwa ukuran yang benar belum tentu nyaman dipakai.”
Bu Ratna tersenyum.
“Bagus. Simpan kebiasaan itu.”
Dua tahun berikutnya tidak berjalan seperti cerita yang meloncat dari kemiskinan menuju kesuksesan dalam beberapa halaman.
Dimas kuliah sambil menjadi tutor matematika.
Nisa masuk SMA dan suatu kali membuat Raka marah karena diam-diam mengambil kerja paruh waktu malam di kedai minuman tanpa memberi tahu.
“Aku cuma mau bantu.”
“Bantu boleh. Tapi sekolah jangan berantakan.”
“Kakak juga kerja waktu kuliah.”
Raka terdiam.
Nisa benar.
Akhirnya mereka membuat kesepakatan. Nisa boleh bekerja beberapa jam di akhir pekan, tetapi tidak setiap malam dan tidak jika nilai sekolahnya turun.
Untuk pertama kalinya, Raka belajar bahwa menjaga keluarga tidak selalu berarti melarang mereka memikul beban.
Kadang berarti membiarkan semua orang mengambil bagian yang sesuai kemampuannya.
Bu Ratna juga tidak selalu muncul sebagai penyelamat.
Setelah program berjalan, ia jarang menemui Raka secara pribadi.
Jika Raka memiliki urusan akademik, ia menghubungi koordinator beasiswa.
Jika ada masalah trainee, ia melapor kepada supervisor.
Suatu ketika Raka mengirim pesan kepada Bu Ratna karena merasa tidak enak nilai salah satu mata kuliahnya turun.
Jawaban Bu Ratna hanya dua kalimat.
Bicarakan dengan dosenmu dan evaluasi jadwalmu. Jangan lapor nilai kepada saya seolah saya kepala sekolah.
Raka tertawa membaca pesan itu.
Namun ia memahami maksudnya.
Kesempatan sudah diberikan.
Hidupnya tidak akan dijalankan oleh orang lain.
Menjelang semester akhir, Raka menghadapi masalah yang jauh lebih berat daripada ujian.
Dimas yang saat itu sudah memasuki tahun kedua kuliah mendapat tawaran berhenti kuliah sementara untuk bekerja penuh waktu pada kenalan teman.
Gajinya lumayan.
Ia ingin membantu biaya keluarga karena atap rumah mereka harus diperbaiki.
Ketika Raka tahu, mereka bertengkar.
“Kenapa kamu bicara dengan orang itu tanpa bilang aku?”
Dimas membalas, “Karena tiap ada masalah, Kakak selalu merasa harus menyelesaikan sendiri!”
“Aku tinggal beberapa bulan lagi selesai.”
“Terus aku harus nunggu Kakak terus?”
Raka berdiri di dapur, kelelahan setelah seharian di kampus.
“Kamu pikir aku kerja selama ini supaya kamu berhenti kuliah?”
Dimas langsung menjawab, “Dan aku harus lihat Kakak melakukan semuanya sendirian?”
Keduanya diam.
Kalimat itu membongkar sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka bicarakan.
Raka selalu menganggap pengorbanannya sebagai kewajiban kakak tertua.
Dimas memandangnya sebagai utang.
Malam itu mereka duduk sampai larut.
Untuk pertama kalinya Raka mengatakan dengan jelas,
“Kamu tidak berutang kuliahku.”
Dimas tertawa pendek.
“Terus Kakak nggak merasa kami berutang karena Kakak berhenti kuliah dulu?”
Pertanyaan itu membuat Raka tidak langsung menjawab.
“Aku memang berhenti karena keadaan kita.”
“Nah.”
“Tapi itu keputusan yang aku ambil.”
“Kami tetap merasa bersalah.”
Raka menatap adiknya.
Ia baru menyadari bahwa selama ini pengorbanan yang tidak pernah dibicarakan bisa berubah menjadi tagihan meskipun orang yang berkorban tidak pernah berniat menagih.
Akhirnya Dimas tidak berhenti kuliah.
Mereka memperbaiki atap rumah secara bertahap.
Bagian yang bocor ditangani lebih dulu. Sisanya menunggu.
Tidak indah.
Tidak instan.
Tetapi untuk pertama kalinya keputusan keluarga tidak didasarkan pada siapa yang paling rela mengorbankan masa depan.
Mereka membuat rencana bersama.
Saat Raka akhirnya menyelesaikan tugas akhirnya, Bu Ratna menghadiri presentasi akhirnya bukan sebagai penguji atau pejabat perusahaan.
Ia duduk di belakang ruangan bersama Dimas, Nisa, dan Fajar.
Raka melihat mereka sebelum presentasi dimulai.
Ia langsung gugup.
Seusai sidang, dosen memintanya menunggu hasil.
Fajar berkali-kali bertanya, “Lulus nggak?”
Raka menjawab, “Kalau kamu tanya terus, hasilnya nggak berubah.”
Beberapa waktu kemudian ia dipanggil masuk.
Ketika keluar lagi, tidak ada sorak besar.
Raka hanya mengangkat jempol.
Nisa langsung menangis.
Dimas menepuk bahunya begitu keras sampai Raka hampir menjatuhkan map.
Bu Ratna datang terakhir.
“Selamat.”
“Terima kasih, Bu.”
“Jangan terima kasih ke saya terus.”
Raka tersenyum.
“Sekali ini boleh.”
“Sekali.”
Raka kemudian menyelesaikan tahapan yang diperlukan sebelum mendapat tanggung jawab profesional lebih besar di perusahaan.
Ia tidak langsung menjadi kepala proyek pusat belajar.
Janji Bu Ratna sejak awal dipahami sebagai tujuan ketika ia sudah memenuhi syarat dan memiliki pengalaman yang cukup.
Selama beberapa waktu, ia bekerja di bawah tim yang lebih senior.
Ia mempelajari rapat koordinasi yang panjang.
Perubahan gambar.
Masalah pemasok.
Kontraktor yang terlambat.
Penghitungan ulang.
Komplain pengguna.
Dan satu hal yang tidak pernah terlihat di foto gedung selesai: keputusan-keputusan kecil yang menentukan apakah bangunan benar-benar nyaman dipakai.
Pusat belajar itu mulai dibangun ketika Raka sudah cukup jauh dalam program pengembangan perusahaan.
Pada tahap tertentu, ia diberi tanggung jawab lebih besar sebagai bagian dari tim pelaksana.
Bukan karena Bu Ratna menunjuknya di depan semua orang.
Rekomendasi awal membuka pintu.
Setelah itu, catatan kerjanya yang menentukan seberapa jauh ia masuk.
Anton, orang yang dulu menyindirnya, berada dalam salah satu tim koordinasi.
Suatu sore terjadi perbedaan antara spesifikasi material yang dikirim pemasok dan dokumen yang disetujui.
Nilainya tidak kecil.
Penggantian akan menunda pekerjaan.
Seorang staf menyarankan material tetap digunakan karena selisihnya dianggap tidak signifikan.
Raka membaca lembar spesifikasi.
Ia teringat pada plywood tipis di rumah Bu Ratna bertahun-tahun sebelumnya.
Situasinya kini jauh lebih kompleks.
Ia tidak bisa hanya membeli bahan pengganti memakai uang sendiri.
Ada kontrak.
Ada proses.
Ada pertanggungjawaban.
Raka meminta pekerjaan pada bagian tersebut ditahan sementara dan membawa masalah itu kepada atasannya.
Seorang rekan mengeluh.
“Kalau ternyata masih boleh dipakai, kita buang waktu.”
Raka menjawab, “Kalau memang boleh, kita lanjut setelah ada konfirmasi. Kalau tidak, kita lebih rugi kalau sudah terpasang.”
Pemeriksaan teknis menunjukkan material itu memang tidak sesuai persyaratan yang disepakati.
Pemasok wajib menggantinya berdasarkan ketentuan kontrak.
Proyek terlambat beberapa hari.
Namun tidak ada bagian yang harus dibongkar setelah terpasang.
Anton menemui Raka di luar ruang rapat.
“Kamu masih sama.”
Raka mengira itu sindiran.
“Sama bagaimana?”
“Dulu kayu ramp. Sekarang begini.”
Raka tersenyum kecil.
“Bedanya dulu uang saya sendiri.”
Anton ikut tertawa.
“Sekarang jangan coba-coba.”
Itu mungkin percakapan paling dekat dengan permintaan maaf yang pernah Raka terima darinya.
Beberapa bulan kemudian pusat belajar itu selesai.
Bangunannya bukan gedung terbesar yang pernah dikerjakan PT Arunika Rekayasa Nusantara.
Tidak pula menjadi proyek dengan nilai kontrak terbesar.
Namun bagi Raka, tempat itu memiliki ukuran berbeda.
Pada hari pembukaan, ia datang lebih awal.
Staf masih menyusun kursi.
Beberapa keluarga mulai tiba.
Seorang anak menggunakan kursi roda masuk bersama ibunya melewati jalur yang dulu sempat diperdebatkan dalam rapat desain.
Raka berdiri di dekat pintu dan memperhatikan roda kursi itu bergerak melewati transisi lantai tanpa tersangkut.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Bu Ratna datang sekitar setengah jam kemudian.
Usianya bertambah. Gerakannya lebih lambat.
Namun ia masih memakai kursi roda yang sama jenisnya seperti ketika Raka pertama kali datang ke rumahnya.
“Jangan berdiri saja,” katanya. “Dorong saya lihat-lihat.”
Raka tertawa.
“Katanya fasilitas ini dibuat supaya Ibu bisa mandiri.”
“Saya bisa mandiri dan tetap menyuruh kamu mendorong.”
Mereka berkeliling.
Bu Ratna melihat ruang belajar, taman kecil, toilet aksesibel, dan aula.
Di sisi luar bangunan terdapat sebuah area duduk beratap.
Desainnya jauh lebih modern daripada gazebo kayu pertama.
Namun bentuk bangkunya sengaja dibuat sederhana.
Bu Ratna menyentuh pegangan di samping jalur masuk.
“Masih ingat ramp di rumah saya?”
Raka mengangguk.
“Masih ada?”
“Masih.”
“Padahal cuma kayu.”
“Karena tukangnya cerewet soal bahan.”
Raka tersenyum.
Mereka berhenti di bawah area duduk.
Bu Ratna berkata, “Dulu saya bilang ingin kamu memimpin pembangunan tempat ini.”
Raka memandang bangunan di depan mereka.
“Saya nggak memimpin sendirian.”
“Bagus.”
Bu Ratna menatapnya.
“Kalau kamu bilang semuanya hasilmu sendiri, berarti pendidikanmu belum selesai.”
Raka tertawa.
Memang banyak orang ikut membangun tempat itu.
Arsitek.
Insinyur struktur.
Pekerja lapangan.
Vendor.
Pengurus yayasan.
Tim aksesibilitas.
Orang tua yang memberikan masukan.
Bahkan beberapa anak mencoba fasilitas sebelum pembukaan resmi agar bagian tertentu bisa diperbaiki.
Raka hanyalah salah satu di antaranya.
Namun ia tahu Bu Ratna tidak sedang berbicara tentang jabatan.
Bertahun-tahun lalu, perempuan itu melihat seorang pekerja harian yang tidak memiliki gelar selesai, tidak memiliki posisi, dan tidak memiliki alasan untuk memberikan lebih daripada yang dibayar.
Apa yang diuji bukan apakah Raka sudah pantas disebut insinyur.
Saat itu ia memang belum pantas.
Yang diuji adalah apa yang ia lakukan ketika kualitas pekerjaannya bergantung pada keputusan yang mungkin tidak diketahui siapa pun.
Setelah acara pembukaan selesai, Raka pulang ke rumah lama mereka.
Dimas sedang mengerjakan tugas kuliah.
Nisa bersiap menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.
Fajar, yang dulu menulis cita-cita kakaknya di tugas sekolah, sekarang sudah cukup besar untuk meminjam sepeda motor Raka dan lupa mengisi bensin.
Hidup mereka belum berubah menjadi hidup tanpa masalah.
Atap rumah baru selesai seluruhnya tahun sebelumnya.
Tabungan Raka belum besar.
Dimas masih sesekali merasa harus membayar kembali pengorbanan kakaknya.
Nisa masih terlalu keras kepala kalau merasa mampu mengurus semuanya sendiri.
Mereka tetap bisa ribut soal listrik, jadwal bersih-bersih, dan siapa yang menghabiskan lauk di kulkas.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Tidak ada lagi satu orang yang diam-diam melepaskan masa depannya agar yang lain bisa berjalan.
Mereka belajar berbicara sebelum mengambil keputusan besar.
Beberapa waktu kemudian, Raka mengunjungi Bu Ratna di rumah lamanya.
Gazebo kayu masih berdiri di samping halaman.
Catnya sudah pernah diperbarui.
Ada beberapa bekas pemakaian pada lantainya.
Raka berjongkok memeriksa salah satu sambungan.
Bu Ratna yang duduk di teras langsung menegur.
“Kamu datang menjenguk saya atau menginspeksi gazebo?”
“Dua-duanya.”
“Sudah bertahun-tahun. Kalau rusak ya diperbaiki.”
Raka menggoyangkan pegangan.
“Masih kuat.”
Ia kemudian melihat ramp.
Kayunya tidak lagi terlihat baru.
Namun kemiringannya tetap nyaman, dan sambungan utamanya masih kokoh.
Bu Ratna berkata dari belakangnya, “Saya dulu sebenarnya siap kalau hasil kerjamu biasa saja.”
Raka menoleh.
“Lalu?”
“Saya tetap akan bayar sesuai kesepakatan.”
“Kalau jelek?”
“Saya panggil tukang lain.”
Raka tertawa.
Bu Ratna menambahkan, “Tes itu tidak dibuat supaya kamu lulus. Saya ingin melihat apa yang benar-benar kamu lakukan.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Selama beberapa tahun terakhir, banyak orang yang mendengar ceritanya menyebutnya beruntung.
Mereka tidak salah.
Raka memang beruntung bertemu Bu Ratna.
Ada banyak pekerja teliti yang tidak pernah bertemu pendiri perusahaan.
Ada banyak orang jujur yang tetap harus berjuang tanpa beasiswa.
Raka memahami itu.
Karena itu ia tidak pernah menganggap hasil hidupnya sebagai rumus sederhana bahwa kebaikan selalu dibayar dengan hadiah besar.
Dunia tidak bekerja serapi itu.
Yang ia percaya jauh lebih sederhana.
Hari ketika ia membeli kayu tambahan tidak menjamin beasiswa.
Ia bahkan tidak tahu sedang diperhatikan.
Keputusan itu hanya memastikan satu hal: seorang perempuan tua akan melewati ramp yang lebih aman.
Hadiah datang kemudian.
Nilai keputusan itu sudah ada sebelum hadiah tersebut muncul.
Beberapa bulan setelah pusat belajar beroperasi, perusahaan membuka program magang lapangan untuk mahasiswa teknik dari keluarga berpenghasilan terbatas.
Raka diminta menjadi salah satu mentor.
Ia tidak memilih peserta berdasarkan siapa yang paling pandai berbicara.
Ia meminta mereka mengerjakan tugas kecil, lalu memperhatikan cara mereka bekerja.
Suatu sore seorang mahasiswa menghadapnya dengan wajah ragu.
“Pak Raka, boleh tanya?”
“Jangan panggil Pak. Saya belum setua itu.”
Mahasiswa itu tertawa.
Ia menunjukkan detail gambar sederhana.
“Kalau ikut dokumen ini sebenarnya selesai. Tapi saya lihat ukuran di lapangan beda sedikit. Mungkin nggak masalah.”
Raka menatap gambar itu.
“Sudah ukur ulang?”
“Sudah sekali.”
“Ukur lagi.”
“Kalau tetap beda?”
“Laporkan.”
“Takut dianggap bikin ribet.”
Raka menutup map.
“Kalau nanti ternyata memang tidak masalah, paling kita kehilangan beberapa menit untuk memastikan.”
Ia menunjuk gambar tersebut.
“Kalau ternyata masalah dan kamu diam hanya karena takut merepotkan orang, akibatnya bisa lebih mahal.”
Mahasiswa itu mengangguk lalu pergi membawa meteran.
Raka melihatnya berjalan menuju lokasi.
Di meja kerjanya terdapat sebuah foto kecil.
Bukan foto wisuda.
Bukan foto pembukaan pusat belajar.
Foto itu memperlihatkan gazebo kayu sederhana di samping rumah Bu Ratna.
Dimas pernah bertanya kenapa foto proyek terkecil justru diletakkan di meja kantor.
Raka menjawab,
“Karena yang besar mulai dari situ.”
Sore itu, sebelum pulang, Raka menutup laptop dan memeriksa jadwal keesokan hari.
Di luar, pekerja terakhir sedang merapikan peralatan.
Ia mengambil kunci, mematikan lampu, lalu berhenti sebentar di depan foto ramp tersebut.
Kayu dalam foto itu terlihat biasa.
Tidak ada plakat.
Tidak ada logo perusahaan.
Tidak ada seorang pun yang bisa melihat dari gambar tersebut bahwa pekerjaan kecil itu pernah mengubah arah hidup seseorang.
Raka tersenyum tipis, memasukkan kunci ke saku, lalu menutup pintu ruang kerjanya.
Besok masih ada gambar yang harus diperiksa.
Dan kali ini, namanya memang tercantum sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab.
Menurutmu, apakah Bu Ratna tepat menilai Raka dari cara ia menjaga keselamatan pada pekerjaan kecil sebelum memberinya kesempatan besar?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
